"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 22, 2013

Looking To You - Chapter 9



Malam itu, sepulang dari pertemuanku dengan Mr. Rubbens dan istrinya, tanganku tanpa sadar telah mengarahkan mobilku ke depan gereja tempat ayah Calley memimpin jemaat. Tempat dimana perayaan itu diselenggarakan.

Dari pintu gereja yang terbuka, aku dapat mendengar alunan musik serenade lembut khas gereja mengalun indah dan menenangkan jiwaku. Tapi aku tak bisa masuk, tanganku masih memegang sebatang rokok yang kuhisap kuat-kuat. Baru lah saat hujan turun dengan deras kulemparkan puntung rokokku dan berlari masuk ke dalam gereja sambil menepiskan air hujan yang menempel pada jas ku.


“Darren? Apa yang kau lakukan disini?” pekik Calley, dia tampak senang melihatku.

“..Aku hanya kebetulan lewat, ingin melihat acara yang begitu ingin kau bantu hingga melawan perintah bosmu” kataku sembari menebar pandangan ke dalam gereja. Hampir semua kursi telah terisi, penonton bertepuk tangan saat pemain musik telah menyelesaikan permainannya. Kutaksir gereja itu memiliki kapasitas untuk menampung seribu orang.

“Apa yang bisa kusumbangkan?” tanya ku mulai tertarik.

Selama ini aku tak pernah pergi ke gereja. Mataku tak pernah ingin melirik sekalipun ke dalam rumah Tuhan ini. Misa-misa yang kudengar hanya dari televisi dan aku akan mencibir masam saat mendengar ceramah dari pendeta yang kebetulan mengisi acara di televisi. Aku memang tak suci, dan aku menerima kekotoranku. Aku tak seputih namaku.

“Kau yakin ingin menyumbang?” tanya Calley antusias.

Dia mengenakan gaun putih panjang, rambutnya diikat dari belakang telinganya membentuk lingkaran yang berakhir kebelakang dan sisanya terurai bebas jatuh dibawah bahunya. Aku bagai melihat malaikat malam ini. Dia bersinar terang menyilaukan mataku saat tersenyum lebar menyapaku. Dadaku terasa hangat dan keinginan untuk membuatnya senang semakin menyesakan dada.

“Ya, aku yakin. Sangat yakin” bisikku serak.

Calley menuntunku untuk mengisi semacam formulir dimana aku harus menuliskan namaku, alamat dan usiaku? Aku hanya mengosongkan bagian itu. Mereka tak perlu tahu berapa usiaku sebenarnya kan? Ini bukan kolom asuransi yang harus aku isi dengan benar, kan?

Aku pun tersenyum setelah menyelesaikan formulirku, menyerahkannya pada Calley dan dia menuntunku pada formulir lain. Formulir ini berisi keterangan tentang maksud dan tujuanku menyumbang, harapan-harapanku pada yayasan dan jumlah uang atau barang yang ingin aku sumbangkan.

“Apa yang harus aku tulis pada kolom harapan dan tujuan, Calley? Aku hanya ingin membantu, dan ini..terlalu rumit untukku” wajahku terlihat sungguh bodoh.

Aku memang tak mahir mengisi essay, ilmu pengetahuan sosialku hanya mendapat nilai tertinggi C, dan aku tak pernah bangga akan hal itu.

“Kosongkan saja bila itu membuatmu lebih baik, Darren” Calley tersenyum lembut padaku. Dan aku begitu ingin mencium bibirnya yang tersenyum itu. Berdosakah aku bila menginginkan wanita ini di dalam gereja?

“Maafkan aku, Tuhan” bisikku dalam hati.

Aku membersihkan tenggorokanku, berdehem dan menuliskan angka yang ingin aku sumbangkan pada yayasan ini.

US $ 100,000.00

“Cukupkah?” tanyaku enggan pada Calley. Wanita itu membelalakan matanya melihat jumlah angka yang aku tuliskan.

“Kau bercanda, Darren? Apa kau yakin? Dengan uang ini, kami bisa menolong semua anak terlantar di distrik ini” nampak Calley menebah dadanya, kaget.

Aku tak tahu bila uang sekecil itu bisa menolong banyak anak-anak terlantar, atau mungkin karena aku terlalu acuh pada lingkunganku. Aku hanya menyerahkan masalah charity pada departemen sosial perusahaanku. Dana yang kami keluarkan untuk menyumbang ke yayasan sosial sudah tertulis dalam aturan dasar perusahaan kami. Aku tak pernah secara pribadi menyumbang langsung pada mereka yang membutuhkan. Reaksi yang kudapat dari Calley telah membuka mataku lebar-lebar.

“Aku bersungguh-sungguh, Calley. Itu.. tak seberapa dibandingkan dengan penghasilanku” rahangku mengeras.

Merasa diri begitu bodoh dan sombong karena mengatakan hal itu. Namun tampaknya Calley tak mendengar ucapanku, atau memang dia tak pernah berpikir negatif pada orang lain.

“Kau sungguh dermawan, Darren. Dan ini bukan karena jumlah yang kau sumbangkan, namun keikhlasan yang kau pancarkan dari kedua sorot mata birumu itu” kata Calley tersipu malu.

Samar-samar aku dapat melihat semu merah pada wajah Calley. Haruskah aku bersemu merah juga? Karena aku merasa dadaku begitu penuh dengan rasa bangga. Dan wajahku panas. Pujian yang Calley berikan padaku berbeda dari pujian yang aku dapat setelah mengantarkan wanita-wanita yang kutiduri dalam pelepasannya. Aku tak pernah merasa sebangga ini.

“Aku akan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Mereka pasti sangat ingin berterima kasih. Dan kau tak boleh menolak, kau membuat semua ini berarti, Darren. Aku mengucapkan terima kasih padamu”

Darahku berdesir. Jangan katakan aku mulai jatuh hati pada wanita ini. Aku.. tak ingin jatuh cinta..

“Aku rasa itu bukan ide yang baik, Calley.. Aku harus pulang. Sudah malam dan.. Aku kecapekan. Maaf, mungkin aku bisa menemui orang tuamu dikemudian hari?” tanyaku. Aku belum siap bertemu dengan Tuan dan Nyonya Conahan.

“Sungguh, Darren? Mereka pasti sangat menyayangkan kepergianmu. Tapi.. Aku tak ingin memaksamu, kau sudah hadir disini.. Aku sangat senang. Aku tak menyangka kau sebaik ini. Aku kira kau..pemarah” katanya malu-malu.

Aku tertawa kecil. Aku memang sering marah-marah disampingnya. Aku frustasi saat tak bisa menyentuhnya. Beruntung dia tak menyadari hal itu.

“Kau berpikir begitu?” tawaku masih menghiasi wajahku.

Calley memalingkan wajahnya, tersipu malu. Berapa usiamu, Calley? Bagai remaja yang sedang jatuh cinta. Aku tak tahu wanita seusiamu masih bisa tersipu malu saat seorang laki-laki menggodamu. Nampaknya aku terlalu sering bergaul dengan wanita yang tak memiliki rasa malu sama sekali. Dan akupun meringis.

“Kalau begitu, aku..pergi dulu” kataku.

“Selamat jalan, Darren, hati-hatilah dijalan” Calley mengantarkanku sampai ke depan pintu gereja, namun wajahnya murung saat melihat hujan masih juga turun tanpa henti.

“Kau tak mungkin pulang, Darren. Hujan terlalu lebat” katanya khawatir.

“Hujan ini tak seberapa, Calley. Aku pernah menerjang badai dan kau tak ingin tahu seberapa kencangnya angin saat itu” aku hanya bisa tertawa melihat kekhawatiran diwajahnya.

Dia berlari masuk kembali ke dalam gereja. “Tunggu disana. Sebentar saja, jangan pergi sebelum aku kembali” katanya sambil menghilang dibalik kerumunan orang ramai.

Dua menit kemudian dia kembali dengan nafas tersenggal-senggal, ditangannya terdapat sebuah payung kecil yang dibentangkannya untukku.

“Pakailah payung ini” katanya masih mengatur nafasnya.

“Ha? Kau berlari hanya untuk mengambil payung ini?” aku tak bisa menyembunyikan senyum ku.

Calley mengangguk, aku tak tahu dia selugu ini. Apa dia merasa payung sekecil ini bisa menghalangi hujan deras membasahi tubuhku? Mungkin bila Calley, payung itu akan cukup melindunginya dari air hujan.

“Tidak, Calley. Aku.. Payung ini terlalu..er..” aku tak tega mengatakan payung itu terlalu kecil. Dia telah berlari hingga nafasnya hampir putus demi mengambil payung ini.

“Oh, baiklah.. Aku akan memakainya.. Kau tak ingin mengantarku?” aku tak ingin membawa pulang payung kecil ini.

Mungkin aku bisa mengembalikannya langsung pada Calley bila dia mengantarkanku ke depan pintu mobilku yang tak jauh dari sana.

“Baik, tapi.. Aku rasa kita akan basah kuyup bila memakai payung ini berdua” katanya bingung.

“Tak usah bingung, aku akan mengecilkan tubuhku” seringai lebar muncul diwajahku.

Singkat kata, Calley membuka payung mungilnya di atas tubuh kami. Bahkan kepalaku menghantam sisi-sisi payung itu karena pegangannya yang pendek. Aku tak tahu mengapa aku bersikeras untuk memakai payung ini, meskipun aku yakin akan tetap basah kuyup setiba didalam mobilku.

“1, 2, 3..lari..” kataku pada Calley. Kamipun berlari dengan cepat menuju letak dimana mobilku diparkirkan.

Aku memeluk tubuh Calley dengan erat, melindunginya dari terjangan air hujan yang menghantam tubuh kami dengan brutal. Buliran air hujan begitu besar dan mengenai wajahku, seperti seseorang melemparkan sebutir telur pada wajahmu.

“Kita sampai, tunggu..tunggu.. Aku akan mengambil kunci mobilku..ehmm.. Dimanakah aku meletakannya..” kataku sambil meraba-raba seluruh kantong sakuku.

Kunci itu terjatuh kebawah saat aku mengeluarkan tanganku dari saku kiri celanaku. Refleks kami berbarengan memungut kunci itu, dan tak terelakan, dahi Calley menghantam daguku. 

“Ouch..” rintihku kesakitan.

Calley membuang payung dari tangannya, memeriksa daguku yang baru saja mengenai dahinya. Dia malah mengkhawatirkanku tanpa teringat pada dahinya yang mungkin saja benjol terkena tulang daguku yang keras.

“Kau tak apa? Sakitkah? Berdarahkah?” tanya Calley cemas.

Aku menangkap tangannya yang menyentuh daguku. Mata kami bertautan, tubuh kami telah basah kuyup hingga ke dalam pakaian terdalam kami. Air hujan yang dingin membasahi kulit kami yang panas terbakar gairah. Suaraku serak saat menyebut nama wanita ini.

“Calley..”

Bibir kami pun bertemu dalam sebuah ciuman paling bergelora yang pernah aku rasakan. Ciuman yang mendesak dan haus karena menginginkan begitu banyak dan lebih lagi. Di depan gereja itu kami berciuman dengan panas, tubuh Calley kuangkat keatas kap mobilku. Tubuhnya kuciumi penuh nafsu dan dia mengerang sembari meremas rambutku. Tubuhnya melengkung saat bibirku merasakan perutnya yang langsing.

“Calley..” bisikku lirih.

Aku tak tahu apa aku bisa menahan gejolak dalam dada ini. Calley begitu manis.. Begitu sulit untuk ditolak. Dan wanita ini.. Dia meleleh dibawahku. Aku begitu menginginkannya. Sekarang juga. Kejantananku telah menegang dan terasa sangat menyiksa saat aku tahu apa yang kami lakukan bisa terlihat oleh jemaat gereja yang sebentar lagi akan berbondong-bondong keluar dari sana.

Bila mereka melihatku dengan wanita lain, mungkin aku tak akan perduli. Tapi wanita ini.. Calley Conahan.. Wanita yang begitu lugu, polos.. Anak dari kepala pendeta gereja ini, dan ibunya adalah ketua yayasan yang sedang mengadakan acara perayaan di gereja ini.. Aku tak mungkin merusak nama baik mereka. Aku tak mungkin mencemari Calley disini.. Tidak disini..

Mungkin bila keadaannya lain, mungkin bila ini bukanlah tempat umum.. Calley akan.. Aku akan..

Aku tak bisa melanjutkan imajinasiku lagi. Aku hanya menyiksa diriku lebih jauh dengan fantasi-fantasi yang tak mungkin menjadi kenyataan.

Dengan terpaksa aku menghentikan ciumanku pada tubuh Calley. Dia pun terhenyak setelah menyadari apa yang kami lakukan. Gaunnya telah melorot sebelah pada bagian lengannya, memperlihatkan belahan dadanya yang ranum menggoda imanku. Aku memperhatikan penampilanku sendiri. Jas ku entah berada dimana, dasiku tertarik tak jelas ke samping. Bibir kami bengkak dan berdenyut-denyut. Dalam situasi hujan deras seperti ini pun, udara dingin itu tak dapat meredakan gairah kami yang panas membara.

“Aku..Kamu harus segera kembali, Calley.. Mereka akan keluar sesaat lagi..” kataku serak. Aku ingin membopong Calley ke apartemenku, namun aku tahu orangtuanya akan mencarinya. Dan mereka akan tahu siapa laki-laki terakhir yang tinggal bersama dengan anak gadis mereka.

Aku.. tidak siap bila mereka memintaku untuk menikahi Calley. Sebesar apapun rasa tertarikku pada wanita ini.. Aku tak akan sanggup untuk menikahinya. Aku tak akan bisa membangun rumah tangga bahagia dengannya. Tidak. Aku tidak bisa.

Calley menangkap ketakutan di mataku. Mungkin dia mengira aku ketakutan bila orang-orang memergoki kami. Dia pun tersenyum malu. Aku membantunya memperbaiki pakaiannya.

“Maafkan aku” kataku menyesal. Kuangkat lagi tubuh Calley dan menurunkannya ke tanah. Kunciku yang tergeletak di atas aspal kini telah berada dalam genggamanku. Jas ku yang telah kotor terkena lumpur karena terjatuh saat ciuman panas kami hanya aku lemparkan ke belakang jok mobilku.


Setelah mengecup ringan bibir Calley, aku pun meninggalkan tempat itu dengan pikiran terombang-ambing diantara nafsu dan ketakutanku. Aku tak bisa memilih kedua-duanya. 


36 comments:

  1. Finally,,they Kiss,,
    Ga sabar nunggu hari2 berikutny,,,hohohoohohohohooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini ciuman kedua mereka cin. hueehuueue...

      Delete
    2. iyeee,,,tpi pan yg prtama sikonny ga kyk yg skrg,,
      Kissing saat Hujan,,
      wow, Its so Romantic,,,,

      Delete
    3. I can't imagine if that happens to me & Daniel,,,
      i'll be thorn apart darl'...
      Daniel,,,,pliiisss marry me soon,,

      Delete
    4. wkkwkwkw that happen apa sist???

      Delete
  2. ga sabaaaarrrr nunggu lanjutannyaaaa >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhahaha mdh2an besok ada ya sista... tinggalin nama donk lol..

      Delete
  3. mbak shin paling pinter bikin yang kentang2 kayak gini yaaa... *cubit gemes*
    hihihihi, calley kayaknya juga suka tuh sama Darren...
    semoga jadi deeeh... ;)
    makasih mbak shiiin ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si Calley emg suka ama Darren MJ,,,
      Hnya pasang jurus aja dy,,jinak2 merpati & malu2 kushing,,wkwkwkwkwkwkk

      Delete
    2. hahaha iya calley suka ama darren, darrennya aja yg takut tp nanti jg keok. wkkwkw ayam kale..

      Delete
    3. @riska : kushing nya mengeong apa mengembek tuh sist?? lol

      Delete
  4. oh darren ku yg malang hha bhasaku haduh
    mba, seneng bnget menyiksa karakternya sendiri LOL

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... yah, pengen tp gak berani.. drpd gk dapet.. cicip aja dah..wkwkkwkwk

      Delete
  5. lagi lagi lagi lagi !! Pleaseeeeeeeeee
    Mba shin emang top

    ReplyDelete
  6. Ya ampuuuuun Darreeeeeeenn!!!!!?!!!!!!!!

    Depan gereja gitu lohhhhh
    napsu amat yak.......
    Calley malu2 tp mau
    hehehehe.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hueuehuehueue... suasananya mendukung cin.. tuh kyk di foto paling atas. wkwkkww

      Delete
  7. Yaampun mb shiin
    Sekarang lg ujan jg, pas banget ngebayanginnyaa
    Uwuuuuww hooottt
    Hihihihihi
    Keren banget mb shiiin
    Lagiii mbaaaaaa
    Hahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha. makasi sista.. bayanganmu benar2 didukung cuaca nih ceritanya? lol

      Delete
  8. Kya Πγª Calley ada nafsu terpendam jga sma Darren ya Shin. Dciumi dpn gereja aja meleleh.. Apa lgi ... Hehehh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.. kan Calley jinak2 merpati... lol

      Delete
  9. Gambarnya kerennNn tapi ceritanya lebihhh kerennnn lanjutkannnn.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha cocok kan cin gambarnya ama ceritanya :D

      Delete
  10. Wow,finaly they kiss
    Tambah gak sbr nunggu bab2 tiap hariy,,
    Mba shin picy okey banget
    Bikin tmbh ngreget:-)

    ReplyDelete
  11. diliat dr pictnya huaaa ciuman yg puanas ditambah efek hujan... panas panas dingin... lempar ke ranjang...

    ditunggu mbk lanjutan ceritanya plus yg hot hot.,

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha aapanya dilempar keranjang sistaa..

      Delete
  12. kayaknya konfliknya baru akan muncul nih.......
    ayo mbak....dikeluarin...ditunggu...di tunggu ......( meminta sambil menadahkan tangan en mengerak2kan jari, kayak mau ngajak orang pergi aja....emangnya mau kemana ya..????)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha ndak ada konflik sista.. cuman darren n calley aja. ni bukan drama wkwkkwkw tp novel erotis.. uhuii..

      Delete
  13. mba shin... nice story... slmana ne cuma jd silent reader. moga mlam ne klnjutan part 10 ya yah...trims mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya menunjukan diri ya sist? haha. jgn segan2 komentar disini :) n salam kenal aja. LTY berikutnya ndak malam ini sist.. mgkn besok2 :D

      Delete
  14. jadi tak sabar,,,tunggu cerita selnjut'x,,,,semangat...

    ReplyDelete
  15. mba aku member baru mu dan langsung jatuh cinta bagus banget ya gara gara baca aku jadi kesiangan he.he aku tunggu lanjutannya mba sama kalo boleh aku minta dong file yang lainnya selain yang dah ada di complete hehe..jangan marahi aku ya mba.......:p

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo sista.. met gabung disini ya :D syukurlah kl langsung jatuh cinta ^^>

      wah wah.. jgn sampe kesiangan atuh sista.. ntr kegiatannya jd amburadul tuh.. kan kasian..

      untuk file yg udah complete untuk sementara baru itu yg selesai aku edit sist, nanti pasti aku update lagi. sabar ya :) ndak lah, ngapain marah :D

      happy reading aja ya.. ;)

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.