"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 1, 2013

Ninth Drama - Chapter 20



Ji Jeong tertawa kecil, kemudian mencium ujung hidung gadis itu. Suaranya serak saat dia meminta Jung In menyentuh kejantanannya.

“Aku ingin kamu menyentuhku, disana.. manis..” suaranya parau, merayu Jung In.

Gadis itu tersipu malu. Dia membantu Ji Jeong melepaskan celana panjangnya. Kini Ji Jeong berlutut disampingnya, menghadapkan pinggangnya yang menyembulkan kejantanannya yang telah tegak berdiri dibalik celana dalam hijau tuanya. Jung In duduk diatas ranjang menghadap ke arah pinggang Ji Jeong.


Gadis itu menarik turun celana dalam milik Ji Jeong, kejantanannya yang tersembunyi mencuat keluar hampir mengenai wajah gadis itu. Ji Jeong melepaskan celana dalamnya kebawah. Menyodorkan kejantanannya pada wajah Jung In, meminta gadis itu untuk mengulumnya.

“Lakukan.. Lakukan apa yang kamu inginkan padaku, Jung In..” suaranya parau.

Dengan ragu Jung In mengecap ujung kejantanan Ji Jeong dengan lidahnya, bergidik ngeri saat rasa asin dari kecapan lidahnya tertelan.

Ji Jeong tertawa geli. “Rasa apa yang kamu harapkan, manis?” katanya. Jung In hanya menunduk malu.

Tangan kirinya memegang pangkal kejantanan Ji Jeong, tangan kanannya menggenggam badan kejantannya dan mulutnya mengulum kepala kejantanan laki-laki itu. Nafas Ji Jeong terdengar berat dan panjang. Tubuhnya bergetar merasakan sensasi mulut Jung In yang mengulum kejantanannya.

“Iya..seperti itu, manis.. Mainkan lidahmu disana..ah..ya..” katanya lirih sembari memejamkan matanya. Wajah Ji Jeong menggambarkan kenikmatan yang sedang dirasakannya.

Jung In menuruti perkataan Ji Jeong, memainkan lidahnya pada kepala kejantanan laki-laki itu sambil menggerakan mulutnya naik turun. Ji Jeong memegang pundak Jung In dan menggerakan pinggangnya maju mundur, berusaha agar tidak membuat gadis itu tercekat karena kejantanannya yang masuk terlalu dalam.

Tanpa diajari, Jung In akhirnya menguasai keahlian barunya itu dengan cara memperhatikan wajah Ji Jeong saat dia sedang memainkan mulutnya pada kejantanan laki-laki itu. Jung In mengingat saat laki-laki itu mendesah nikmat atau mengerang karena ngilu pada kejantanannya.

Saat dia sedang asyik mengulum kejantanan Ji Jeong, laki-laki itu merebahkan tubuh Jung In dan berlutut diatas dadanya, menumpukan kedua lututnya disamping bahu gadis itu. Tangannya mengocok dengan kencang kejantanannya di depan wajah Jung In.

Nafasnya semakin cepat, secepat kocokan tangannya. Wajahnya terlihat kesakitan menahan desakan gairah pada pucuk kejantanannya yang bersiap-siap untuk menyemburkan cairan kenikmatannya di wajah Jung In.

“Hahh...Jung In..manis...sebentar lagi..aku akan keluar...shhh...” teriaknya lirih. Tangannya mempermainkan puting payudara Jung In dibawahnya.

Ketika akhirnya cairan panas itu muncrat membasahi wajah dan rambut Jung In, tubuhnya tersentak kaget. Tak menyangka cairan itu akan sepanas itu, meski tidak sepanas air mendidih, namun cukup mengagetkan Jung In yang tidak pernah merasakan cairan itu pada wajahnya.

Ji Jeong menghela nafasnya panjang setelah erangan penderitaan yang lama. Kakinya bergetar, goyah. Namun dia mundur dan turun dari ranjang, mengambil sekepal tissue dan membersihkan wajah Jung In yang dihiasi oleh cairan kenikmatannya.

“Maafkan aku mengagetkanmu, aku tidak bisa menahan diriku” katanya tersenyum meminta maaf. Jung In membalas senyumnya, mengerti.

Dia telah melihat ekspresi kesakitan Ji Jeong dan Jung In mengerti bagaimana rasanya berada dalam posisi seperti itu. Tidak berdaya, yang diinginkannya hanyalah pelepasan yang cepat dan meledak-ledak. Seperti yang baru saja mereka rasakan.

Ji Jeong kemudian membersihkan kejantanannya dengan tissue dan membuang tissue sisa itu ke dalam tempat sampah. Bahkan ranjang tak luput dari cipratan cairan Ji Jeong. Dia berdecak geli melihat pemandangan ranjang dibawah tubuh Jung In.

“Kamu perlu mengganti sepraimu, Jung In” katanya geli.

Jung In memperhatikan seprainya dengan lemah, badannya begitu lemas hingga tak ingin berdiri meski hanya untuk menerima ajakan Ji Jeong untuk membersihkan tubuh mereka dikamar mandi.

“Ayo..kemarilah. kita bersihkan badan kita dulu. Aku yang akan mengganti seprai itu” kedip mata Ji Jeong. Namun Jung In berguling dan tak ingin pergi dari ranjangnya yang nyaman.

Ji Jeong menjadi gemas dan mengangkat tubuh Jung In dalam pangkuannya yang disambut gelak tawa manja Jung In. Tangan gadis itu bergelung pada leher Ji Jeong.

“Setelah mandi, aku ingin tidur. Aku kelelahan meladeni malaikat kecilku..” kata Ji Jeong saat membopong tubuh Jung In ke dalam kamar mandi.

“Ya.. Lee Ji Jeong.. Jangan katakan kamu sudah tak sanggup lagi? Beginilah susahnya kalau punya pacar sudah tua” Jung In pura-pura kesal dan merengut.

“Iblis kecil.. Pada saatnya nanti, aku tak akan memberimu ampun” geram Ji Jeong. Dia tertawa melihat wajah Jung In yang bergidik. Tubuhnya menggigil, darah gadis itu berdesir membayangkan saat itu tiba.

“Kenapa? Kamu kedinginan?” tanya Ji Jeong.

“Tidak.. Aku membayangkan saat itu tiba..” katanya malu-malu.

Ji Jeong hanya tergelak keras. Malaikat kecilnya telah berubah menjadi iblis kecil.

Tubuh mereka diguyur air hangat yang mengalir dari shower, saling menyabuni tubuh mereka bergantian dan menggoda bagian tubuh yang terbuka. Gelak tawa mereka memenuhi kamar mandi itu, gelak tawa bahagia tanpa beban, tanpa masalah. Dunia serasa milik berdua.

Ji Jeong mengeringkan tubuh Jung In dengan handuk lembut. Menyisir rambut gadis itu agar tidak kusut saat mereka tidur. Sudah pukul sembilan malam saat kedua insan itu masuk ke bawah selimut.

Jung In tertidur lelap dalam pelukan Ji Jeong. Laki-laki itu memeluk tubuh Jung In dari arah belakang, memberikan perlindungan pada gadis yang telah memenuhi hatinya. Gadis yang ingin dia habiskan waktunya bersama. Gadis yang disayanginya.

~~~~

Park Jung In POV

Pagi ini aku terbangun diatas ranjangku, tubuhku terasa ringan, bahagia. Dibalik punggungku, Ji Jeong masih tertidur pulas, hangat nafasnya membelai tengkukku lembut. Pelukannya pada tubuhku menenangkanku, membuatku merasa aman, nyaman, karena tahu ada seseorang yang akan selalu melindungiku, yang akan memastikan tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menyakitiku.

Ji Jeong menggeliat dalam tidurnya, memeluk tubuhku lebih erat, bibirnya mengecup leherku, tapi matanya masih terpejam. Namun aku tidak akan terkejut mengetahui dia telah terbangun sedari tadi. Karena aku merasakan sesuatu yang keras telah mendesak punggungku sejak aku terbangun. Dia sungguh nakal.

“Kamu sudah bangun, Jeong?” tanyaku pelan. Tubuhku lemas membayangkan bila kejantanan Ji Jeong berada di dalam tubuhku.

“ehmm..” gumamnya, masih dengan mata terpejam.

“Selamat pagi..kalau begitu..” aku mengelus tangannya yang memeluk tubuhku erat.

“..selamat pagi..manis..” dia dengan sengaja menekankan kejantanannya pada bagian pantatku.

Bagaimana Ji Jeong bisa melakukan hal ini.. Dia hanya membuatku semakin gila karena begitu menginginkan dirinya. Aku merasa diriku telah basah dibawah sana hanya karena gesekan laki-laki itu pada pantatku. Tubuh kami yang hanya dibalut pakaian dalam membuat kulit kami yang bersentuhan saling menyentakan aliran listrik satu sama lain.

“Jangan kamu hiraukan, Jung In.. Aku memang seperti ini setiap bangun pagi. Kamu akan terbiasa..” aku membayangkan berada dalam pelukan Ji Jeong dan benda itu akan selalu mendesakku tiap pagi.

“Oh tidak.. Apakah aku akan mampu bertahan...?” jeritku dalam hati. Pipiku panas membayangkan kami bergulat diatas ranjang dan benda itu akan selalu mendesak tanpa ampun sebelum mendapat kesempatan berada ditempat dimana semestinya dia berada. Didalam tubuhku..

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Jung In? Pipimu memerah dan debar jantungmu meningkat dengan cepat. Apakah aku mengganggumu?” Ji Jeong merasa tidak nyaman karena tak bisa menghindari kenyataan bahwa dia begitu keras dan tegang saat ini.

“Tidak.. Aku hanya berpikir.. Kapan kita akan melakukannya? Aku..tak ingin membuatmu menunggu..Aku ingin kamu merasakanku..Jeong..” aku menunduk malu, apakah wajar gadis seusiaku mengatakan hal ini pada kekasihnya?

Secara tidak langsung aku mengatakan pada Ji Jeong bahwa aku ingin kejantanannya menembus rongga kewanitaanku. Ya Tuhan aku memang menginginkannya, sangat menginginkannya.

Bukan karena ini adalah saat pertamaku dengan laki-laki, bukan karena aku ingin merasakan sensasi benda itu memasuki tubuhku, bukan..

Hanya karena laki-laki ini adalah Ji Jeong maka aku menginginkannya. Hanya Ji Jeong-lah laki-laki yang ku inginkan memasuki diriku dalam-dalam. Hanya dialah laki-laki yang akan aku izinkan memasuki-ku untuk selamanya.

Ji Jeong tidak langsung menjawab pertanyaanku, rupanya dia berpikir dengan sangat keras, mencari jawaban atas pertanyaanku. Sesulit itukah bagi Ji Jeong untuk menjawab pertanyaan sederhana itu?

Aku yakin Ji Jeong telah banyak mengenal wanita dalam hidupnya, aku tak akan heran bila dia membanding-bandingkan tubuhku dengan tubuh wanita lain, atau membandingkan gairahku diatas ranjang dengan wanita-wanita lain..

Tapi.. mengapa Ji Jeong merasa segan untuk melakukannya denganku? Apakah aku tidak cukup baik baginya? Tidak cukup berharga untuk dimiliki?

Aku ingin dia memilikiku, agar aku bisa berkata pada dunia.. Aku telah menjadi wanita, kekasihku telah membuatku menjadi wanita. Wanita yang berbahagia.. bukan gadis remaja yang memohon-mohon untuk dipenuhi gairahnya...

“..Mengapa kamu bertanya seperti itu, Jung In? Apa kamu takut aku tak akan melakukannya denganmu?” dia memutar tubuhku, kini mata kami saling bertatapan.

Aku tidak berani membalas tatapan mata Ji Jeong yang menyelidik. Dia membuatku malu. Aku tak ingin membahas masalah ini dengan menatap wajahnya, aku tak akan mampu berkata-kata.

“Bila kamu menginginkannya, mengapa kamu tidak melakukannya?” tanyaku sebal. Apa dia tahu arti hubungan kami bagiku?

Aku seriuss.. sangat seriuss dengan hubungan kami. Aku bahkan rela mencebur ke dasar jurang demi untuk Ji Jeong.

Ji Jeong merangkum wajahku, dia menatapku dengan serius. Pertama kalinya aku melihatnya seperti itu. Tak ada ekspresi tenang yang selalu diperlihatkannya. Dia marah, merasa tersinggung?

“Bila menuruti hatiku, aku akan memperkosamu sekarang juga Jung In. Memperlihatkan padamu betapa aku sangat menginginkanmu. Menginginkan kejantananku menembus dengan paksa kemaluanmu, mendesak dengan menyakitkan dan tak kenal ampun hingga kamu menangis menjerit-jerit memohon ampun padaku, karena telah berani meragukan dirimu padaku...”

“...Hanya dengan memikirkanmu membuatku merasa panas, Jung In. Membayangkan tubuhmu saat aku berbaring diatas ranjang apartemenku yang dingin membuatku menggesekan tangan ini pada kejantananku setiap pagi. Merasakan nyeri yang teramat menyakitkan ketika kejantananku menyemburkan cairan namun tidak bisa merasakan sempitnya kemaluanmu menjempit kejantananku. Merasakan cengkeraman tubuhmu pada tubuhku. Kamu membuatku gila, Jung In. Sangat gila hingga aku meragukan kewarasanku bila berada didekatmu. Tapi tahukah kamu, aku tak ingin menyakitimu, sebelum hubungan kita memiliki masa depan, aku tak ingin melakukan hal itu denganmu. Aku tak ingin menghancurkanmu bila nanti kita tak bisa bersama”

Ji Jeong berkata panjang lebar, sebuah pidato yang sangat panjang. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sebagian diriku merasa sedih, sebagian lagi merasa marah dan geram, sebagian lagi mengerti dengan maksud Ji Jeong.

Tapi bisakah aku menerima jawabannya? Dan mengapa dia berpikir hubungan kami tak mungkin bisa bersama?? Apakah dia tak ingin memperjuangkan hubungan kami?

Dan air mata sialanku mulai merembes keluar. Aku benci pada diriku, pada air mata sialan ini yang selalu keluar bila merasa sedih sekecil apapun. Aku tak ingin Ji Jeong menganggapku senang memanfaatkannya karena dia sangat lemah dengan tangisanku. Dia akan menuruti kemauanku jika aku menangis, iya kan?

Tapi mengapa sekarang? Aku tak ingin menangis karena masalah ini. Memalukan bila kukatakan aku menangis karena Ji Jeong tak ingin menyetubuhiku.  Ya!! Menyetubuhiku!! Aku benci Ji Jeong. Aku benci cara pikirnya yang terlalu berhati-hati dan tak ingin mengambil resiko.

Kapan dia akan maju ke depan dan mengumumkan hubungan kami pada dunia? Mengumumkan kepemilikannya atas hatiku? Sehingga tak akan ada laki-laki lain yang berani menggangguku? Mengapa dia seperti iniiiiii?? Ji Jeong jeeleek!!

Ninth Drama - Chapter 21 
Ninth Drama - Chapter 19 

14 comments:

  1. apa bener Ji Jeong jelek? xixixi.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jelek banget cin.. buktinya jung in gk dikasi :ehem-ehem: ahahaha

      Delete
  2. aaaah, Ji Jeeong..
    gentle banget sih nih cowok satu..
    ga mau nyakitin Jung In, ngehargain Jung In walopun untuk itu bearti dia meniyiksa dirinya sendiri..
    i adore you, lee Ji Jeong..

    mbak shiiiiin... kau membuat Jung In galau lagi, galau lagii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. idem ma Merry,,,
      we always loph you, Lee Ji Jeong...even kw lebih memilih Park Jung In,,,, lol

      Delete
    2. @merry : hahaha iya sist... biarin dah galau untuk sementara

      @riska : :*

      Delete
  3. ji jeong jelek tpi suka kan jung in?
    dia begitu krna syg sama kamu, jung in. dia g mw liat kami hancur.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. KAMI??????????
      kami sapa mbak Fathy???

      Delete
    2. @fathy : hahah nah yo typo...

      @riska : ya dirimu sist, fathy, merry, rini, cs lol

      Delete
  4. yg cowok selalu memikirkan apa yg bakalan terjadi ke dpnnya sama hubungan mrk. Yg cewek bukannya ga mau ngerti cuma pengen menikmati masa kebersamaan mrk dgn lebih intim. Yah, mau gmn lgi? Resiko pcran sama adiknya adik ipar. Sbr ya nak..
    ah mbak gmn kalo bikin mrk kepergok jung min atw ji han lagi ciuman mesra kayaknya seru tuh hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaa.. jijeong bukan tipe yg mau melakukan hal begituan di ruangan umum sist. dia msh bs nahan nafsunya, kecuali kamar mereka digerebek ama jungmin lol...

      Delete
  5. dear author,,,
    aku ngebayangin gimana seandainya si Ji Jeong dpindah tugaskan oleh Presdir Choi kluar daerah selama sebulan untuk sesuatu yang sangat urgent,,,
    ngbayangin apakah dia sanggup tak "mendapatkan pelepasan"
    tambah ribet ga hidupnya dia dpisahkan begitu jauh dari "tubuh" Jung In,,,???


    btw, aku suka bangetz plot dari POV Park Jung In,,,bener2 wanita,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha... kan ada PS sist.. phone s*ks... lol... lol... lol.... gak bs ketemu tubuh, yg penting denger desahannya kan. gk ada rotan akarpun jd. lol..

      trus trus... kl km ngebayangin kyk gt.. jawabannya menurut bayanganmu gmn sist?? ahahahahhaa menarik..

      Delete
  6. Si jung In kn ga tau ttg Phone S#x itu sistah,,,hehhhehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan diajarin ama jeongg.. ahahahhahaa

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.