"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 1, 2013

Ninth Drama - Chapter 21



Park Jung In POV

Sudah dua hari yang lalu sejak aku bangkit dari ranjangku setelah mendengar ceramah panjang lebar dari Ji Jeong. Aku meninggalkannya begitu saja diatas ranjangku, bingung dengan reaksiku.


Huh!! Biarkan saja, biar tahu rasa!! Sudah dua hari aku tak mengangkat telephone darinya, aku juga tidak pernah membalas pesan yang dia kirimkan. Dia juga tidak pernah datang ke apartemenku lagi, aku dengar dia harus lembur untuk mengerjakan proyek rumah sakitnya karena sudah masuk dalam tahap pembuatan struktur tulang atau entah apalah namanya, aku tidak mengerti.

Dia pasti kelelahan setelah sehari-semalam bekerja ditempat yang sama, tempat yang membosankan, penuh debu dan benda-benda berat berjatuhan yang mungkin bisa mengenai kepalamu bila kamu tak sengaja berjalan dibawahnya.

Dia memilih resiko yang sangat besar bekerja disana. Mengapa dia tidak tetap bekerja pada Kak Jung Min? Bukankah sekarang setelah kami menjadi keluarga, Kak Jung Min bisa dengan mudah mengangkat Ji Jeong menjadi Direktur bila dia mau?

Arghh... pikiranku selalu menjadi buruk terhadap Ji Jeong sejak pertikaian kecil kami. Aku tak pernah membencinya sebesar aku membencinya sekarang. Bila dia ada didepanku sekarang, aku ingin meracau wajahnya dengan tanganku untuk melampiaskan kekesalanku.

Hari yang berat inipun tak bisa berhenti ditambah dengan kesialan lain. So Bin si maniak mulai mengikuti lagi. Rupanya dia sebulan terakhir sejak aku menendang kakinya dulu, dia pergi ke rumah bibi nya di Itali, liburan mungkin? Aku tak perduli. Kata-katanya hanya keluar masuk telingaku tanpa kucerna.

Namun saat dia mengatakan ingin belajar bersamaku dirumahnya, aku sangat tidak mempercayai pendengaranku. So Bin belajar? Denganku??

Rupanya aku salah dengar, karena ibuku menyuruh maniak So Bin untuk mengajariku!!

Aduh, ibu.. Kenapa menambahkan masalahku lagi? Setelah mengangkat So Bin menjadi sopirku, haruskah dia mengangkat pemuda ini menjadi  guruku? Memang dia sepintar itu? Wajahnya kurang meyakinkan.

Ibuku membenarkan ucapan So Bin, pemuda itu menyeringai disampingku saat aku berbicara dengan ibuku melalui telephonenya. Dia menghubungi ibuku dan membuatku berbicara dengannya.

Oh, tidakkk.... Aku sudah malas ke kampus, sekarang aku harus belajar? Dengan si So Bin? Dan ibu tak ingin aku membantahnya. Ibu yang kejam...

“Ya, Park Jung In, kamu mau kemana? Kita harus belajar sore ini. Bila tidak ibumu akan menghubungiku terus menerus. Aku lelah berhadapan dengan ibumu, kamu kira aku suka berdua denganmu, ha? Sejak kamu menendang kakiku, aku tak ingin berdekatan lagi denganmu” katanya marah. Wajah marahmu sama sekali tak membuatku gentar. Pfffttt!!!

“Aku tak ingin belajar denganmu, kenapa aku harus belajar denganmu? Aku tak akan belajar denganmu! Titik!” kataku dengan jelas.

“Ya sudah, aku akan menghubungimu ibumu dan mengatakan kamu tidak mau belajar denganku. Gampang, kan?”

Pemuda ini berani mengancamku? Dengan mengadukan ku pada ibuku? Sial sial sial!

“Ya, Cha So Bin? Wanna Die?” aku menirukan kebiasaan Kak Jung Nam bila dia marah padaku.

Dia hanya mengangkat bahunya, tak ingin mencampuri urusanku. Mungkin dia jujur mengatakan tak ingin bersamaku, dia tidak memaksaku lagi seperti dulu.

Hmm.. Akhirnya aku bisa terbebas dari pemuda ini. Setidaknya dia tidak akan mengejar-ngejarku lagi dengan mobil-mobilnya yang norak.

Ternyata belajar dirumah So Bin tidak seburuk perkiraanku, orang tuanya sangat baik dan menengok kami yang sedang belajar diruang belajar So Bin. Pemuda ini memiliki sebuah ruang belajar khusus yang tersambung dengan kamarnya. Aku tak menyangka ternyata dia kutu buku, ratusan piala berderet rapi dalam lemari kaca yang terawat bagai harta karun.

Sudah pukul sembilan malam saat aku melihat jam tanganku. Sial! Aku lupa waktu. Belajar bersama So Bin cukup menyenangkan, sifatnya yang menyebalkan ternyata tidak terlihat saat dia mengajariku dengan serius.

“Aku harus pulang, sudah pukul sembilan malam” kataku sambil berdiri dan membereskan buku-bukuku.

“Aku akan mengantarkanmu” kata So Bin sambil ikut berdiri.

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri, lagipula aku tak ingin menaiki mobilmu lagi. Terlalu menarik perhatian” kilahku.

“Ya.. Apa aku harus mengganti mobilku dengan mobil tua butut yang sudah pantas masuk museum?” katanya tersinggung.

Ayahnya memang memanjakannya dan So Bin cukup tahu bagaimana mempergunakan kasih sayang dari orangtuanya dengan baik.

“Pokoknya aku akan mengantarkanmu. Titik. Bila terjadi apa-apa padamu, ibumu dan orangtuaku akan membunuhku” So Bin beranjak keluar dari ruang belajar itu dan mengambil jaket kulitnya beserta kunci mobil BMW miliknya. Mobil yang berbeda lagi...

Aku tak ingin mengakui ketakutanku untuk pulang sendirian malam-malam seperti ini. Aku tak ingin terpaksa menghubungi Ji Jeong untuk menjemputku bila ban mobilku kempes lagi. Aku belum ingin berbicara dengannya lagi. Maka aku terima tawaran So Bin untuk mengantarkanku pulang ke apartemenku.

Kami berpamitan pada orangtua So Bin, mereka sangat baik dan menyayangiku, mereka telah mengenalku sejak kecil, maka aku rasa wajar bila mereka mengenalku dengan baik. Mungkin mereka menganggapku anak perempuan yang tidak mereka miliki.

Aku ingat dulu ketika masih kecil, mereka sangat senang bermain denganku saat mereka berkunjung kerumah keluargaku di Seoul. Dan Nyonya Cha dengan penuh semangat akan menjodoh-jodohkanku dengan si So Bin maniak ini.

So Bin tak banyak bicara di dalam mobil, aku menoleh padanya, mencari tahu apa yang tidak beres dengan laki-laki ini. Tak biasanya dia tidak memiliki bahan pembicaraan. Dia hanya memandang lurus ke depan, sesekali menoleh ke arahku.

Dengan diam dia mengantarkanku ke depan pintu apartemenku. Saat telah sampai di pintu apartemenku, aku mengucapkan terimakasih padanya. Dia pantas mendapatkannya, kan?

“Terimakasih So Bin.. Hati-hati dijalan..” kataku.

Namun, So Bin merasa sebuah ucapan terimakasih nampaknya belum cukup untuk membalas kebaikannya.

Tanpa pemberitahuan, dia menarik wajahku dan menciumi bibirku dengan mesra.

“Ya, Tuhan! Apa yang baru saja terjadi? So Bin menciumku?! Tidak!!” teriakku dalam hati.

Dan aku tak akan menyangka bila Ji Jeong akan mendatangi apartemenku malam itu. Namun dia ada, disana, disamping kami, berdiri mematung memandang So Bin yang sedang menciumiku.

Aku mendorong tubuh So Bin hingga bibir kami terlepas, mungkin dia menciumku sekitar lima detik, namun Ji Jeong..kapan dia tiba disini? Apakah dia telah menungguku dan bersembunyi disamping tiang penyangga tembok? Atau mungkin dia baru saja datang dan menyaksikan So Bin menciumku namun tidak tahu pada kenyataan bahwa aku tidak meminta So Bin untuk melakukannya?

Sudah berapa lama dia berdiri disana? Apakah dia melihat keseluruhan adegan ini? Karena aku tak pernah meminta So Bin untuk menciumiku, pemuda ini memaksakan ciumannya pada bibirku. Aku tak bersalah..kan?

Tapi mengapa wajah Ji Jeong mengeras? Wajahnya sungguh menyeramkan.. Dia menatap wajahku tajam, tanpa kedip. Mata itu berkabut, gelap dan menuduh.

“Oh, Tuhanku.. Dia marah padaku...” tangisku dalam hati.

So Bin salah tingkah karena menyadari efek ciumannya padaku. Dia nampaknya tidak menyadari mengapa tubuhnya bergerak mendekatiku dan mencuri sebuah ciuman dari bibirku. Dia menyisir rambutnya gugup. Dia tidak melihat sosok Ji Jeong berdiri tak jauh darinya. Mungkin So Bin hanya menganggap Ji Jeong sebagai orang yang mampir lalu dan berjalan di koridor.

“...Well, kamu sudah sampai. Aku..akan pulang dulu. Sampai ketemu besok? Lusa? Kabari aku nanti ya” katanya dengan tak sabar, dia ingin cepat-cepat pergi dari hadapanku.

Mungkin dia merasa malu karena tertangkap basah menciumku seperti itu.

Aku tidak sempat memikirkan efek ciuman yang diberikan So Bin padaku. Pikiranku sepenuhnya tertuju pada laki-laki disampingku ini, yang memancarkan sorot mata dingin yang aku kira tak dimilikinya. Sorot mata yang sama dengan sorot mata Kak Jung Min saat menatap Ji Han Unnie sedang bersama Kak Jung Nam. Aku mati sekarang!!

Ninth Drama - Chapter 22 
Ninth Drama - Chapter 20 

21 comments:

  1. KYaaaaaaa,,, Jung In merajukk
    Makany Ji Jeong,,,segeralah engkau "menggolkan" Jung In,,,hahahahahaaaa,,,
    Danke sistah,,,
    Mercy,,,

    ReplyDelete
  2. teretetetetet
    udah cuma itu komen nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngerasain sakit hatinya ji jeong mba. Jadi ga pengen ngomong bnyak bwt yg ini.. #galaubadaitsunamibanjir

      Delete
  3. SO BIN emang tukang cari masalah ya..
    errrrr....
    *banting So Bin ke trotoar..
    aigooo, itu Ji Jeong mo ngapain tuh??
    Jung In ga akan jd sasaran kemarahan/kecemburuannya kan??
    *waspada, dag dig dug... harap2 cemas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa... h2c.. jd inget ama reality show itu...

      Delete
  4. Mba Shiiiin,,,,eyke salah koment,,,huuhuhuuhuuu,,,,
    Ji Jeong,,jangan runaway dari Jung In,,
    Sakit nanti dirimu,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D gpp cinta.. sering2 aja salah komen biar bs aku reply. hahahah

      Delete
  5. so bin,no.kyny dijebolin ni ma jeong,thx mba shin.i wanna next chapter,more heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaha dijebolin gmnnn???? sama2 sista.. makasi kembali..

      Delete
  6. Mba Shiiiin,,,,eyke salah koment,,,huuhuhuuhuuu,,,,
    Ji Jeong,,jangan runaway dari Jung In,,
    Sakit nanti dirimu,,,

    ReplyDelete
  7. jiaaahhhh,,,,ada jung il woo..(nah loh????)...
    *bukannya udah sering ya????hahhahha...
    maaf mbak shin...terlalu bahagia liat kang mas il woo...

    hehhehh...

    ehmmm....konfliknya makin makin ya mbak,,,
    smoga dgn marahnya/cemburunya ji jeong,,jung in akan mendptkan "sesuatu"...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. semogaa jung in mendapatkan sesuatu ^^

      Delete
  8. Jgn mati...jung in, nangis aj kyak film korea jeong lan paling g tega liat cewe nangis

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha... ya emang drama korea cin.. lol

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.