"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, January 2, 2013

Ninth Drama - Chapter 22



Third Person POV

Ji Jeong sedang menghisap rokoknya di depan koridor apartemen Jung In, berdiri di sebuah balkoni yang menonjol disamping koridor apartemen itu, sebuah tiang penyangga bangunan menyembunyikan tubuhnya dari pandangan.


Bertumpu dengan lengannya, Ji Jeong bersandar pada tembok balkoni sambil menghembuskan asap rokok dari hidungnya. Menunggu dengan sabar Jung In pulang. Sudah hampir satu jam dia menunggu disana, telephone gadis itu tidak diaktifkan, Ji Jeong memencet bell apartemennya dengan sia-sia. Gadis itu tak ada di apartemennya.

Ji Jeong cemas memikirkan Jung In, sejak pagi yang menegangkan itu Jung In berusaha menghindarinya dan tak ingin berbicara dengannya meskipun hanya lewat sms. Gadis itu menghukumnya.

Ji Jeong hanya menganggap kekesalan Jung In padanya karena usianya yang belum dewasa dan tidak bisa melihat kenyataan di depan mata mereka.

Tidak mudah bagi Ji Jeong mengambil keputusan itu, saat hasrat dalam dadanya menggelegak menginginkan pemuasan. Gelora gairah yang selalu menyiksanya setiap saat, yang tidak mungkin dapat dia puaskan.

Bercinta dengan Jung In adalah apa yang paling dia inginkan saat ini, namun dia harus meredam keinginan itu. Tak jarang Ji Jeong mengguyur tubuhnya dibawah shower air dingin dikala malam hari yang menyiksa.

Apakah seperti itu hubungan anak muda zaman sekarang? Melakukan hal itu saat mereka baru saja bersama? Apakah itu esensi dari hubungan ini? Tidak cukupkah pemuasan yang diberikannya pada Jung In?

Tentu saja tidak, gadis itu berada dalam masa kuriositas yang tinggi. Dia ingin menjelajahi seluruh tubuhnya dan mengeksplorasi tempat-tempat yang belum pernah dirasakannya.

Ji Jeong menghela nafasnya, dua hari tanpa mendengar suara Jung In membuatnya tak berdaya. Meski dia tetap berusaha agar pekerjaannya tak terganggu, namun ada kalanya Ji Jeong merasa kesepian dan tak berguna bila memikirkan Jung In yang kesal padanya.

Ji Jeong membuang puntung rokoknya saat mendengar suara gadis itu, dia beranjak menghampiri Jung In sebelum gadis itu masuk ke dalam apartemennya dan menghindarinya lagi.

“Terimakasih So Bin.. Hati-hati dijalan..” suara Jung In yang terdengar oleh Ji Jeong.

Ji Jeong penasaran dengan siapa Jung In berbicara, saat pandangannya tertumbuk pada dua orang itu, alangkah kagetnya Ji Jeong saat menyaksikan So Bin mencium bibir Jung In di depan matanya. Tak kurang dari lima meter dari tempatnya berdiri kaku dan menegang.

Rahangnya mengeras, menatap dengan tajam pada mereka, tangannya mengepal di dalam saku celananya. Menahan amarah dan cemburu yang naik di atas kepala. 

Jung In mendorong tubuh So Bin, dia melihat dengan sudut matanya sosok Ji Jeong yang berdiri kaku disampingnya. Menatap nanar dengan panik pada laki-laki itu.

Pemuda yang menciuminya itu terlihat salah tingkah meski dia tidak melihat Ji Jeong berada disana. Pikirannya hanya terfokus pada Jung In yang baru saja diciumnya. Dia tak menyangka akan berhasil mencium Jung In sesaat lalu.

Momennya terlalu sayang untuk dilewatkan. So Bin telah berusaha mati-matian agar dapat mencium Jung In, langkah pertamanya untuk mendapat hati gadis itu. So Bin menyukai Jung In sejak kanak-kanak, sejak dia mengganggu gadis itu tanpa henti, mengharap perhatian darinya.

Namun ketika cinta monyet itu terpisah, dia merasa Jung In bukanlah jodohnya. Hingga kemudian nyonya Park mengabarkan ayahnya tentang Jung In yang akan kuliah di Seoul, di dalam universitas milik ayahnya, dan nyonya Park mempercayainya untuk menjaga Jung In.

Cinta yang dia kira dulu hanyalah perasaaan anak-anak yang akan hilang seiring waktu, ternyata tidak bisa hilang begitu saja. So Bin masih menyimpan perasaan itu dalam hatinya, yang semakin terpupuk setiap hari, saat dengan sengaja pemuda itu menggoda Jung In dan mengganggunya.

So Bin kemudian berpamitan dan tak lupa mencoba mengatur janji pertemuan mereka berikutnya. Belajar bersama yang dicetus olehnya pada nyonya Park. Wanita itu nampak menyukai So Bin dan setuju dengan kedekatan Jung In dengannya. Nyonya Park bahkan memujinya sebagai calon menantu yang baik ketika mereka bertemu pada saat nyonya Park berkunjung kerumah keluarganya.

Setelah So Bin menghilang masuk ke dalam lift, Jung In memutar tubuhnya menghadap Ji Jeong, menatap laki-laki itu tanpa kedip. Kemudian dia kembali mengarahkan tubuhnya pada pintu apartemennya, membuka kunci pintu itu dan tanpa kata masuk ke dalam, Ji Jeong mengikutinya dari belakang dan menutup pelan pintu apartemen itu.

Jung In menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, menunggu Ji Jeong mendekatinya. Laki-laki itu menyisihkan jas nya di atas sandaran sofa, mengendurkan ikatan dasi pada lehernya dan duduk disamping Jung In, dia tampak kelelahan.

Lama mereka saling berdiam diri, suasana kaku mengisi udara disekitar mereka. Jung In tidak berani menggerakan tubuhnya sedikit pun, khawatir Ji Jeong akan melihat kegelisahannya. Dia mendengar helaan nafas Ji Jeong yang berat, laki-laki ini sedang menenangkan jiwanya yang sedikit terguncang.

“Jung In-ah.. Boleh aku tidur di atas pangkuanmu? Aku sungguh kelelahan hari ini..” kata Ji Jeong pelan.

Jung In menoleh pada laki-laki disampingnya, bingung dengan rekasi Ji Jeong, dia tidak memarahinya, dia bahkan tidak menyinggung apa yang dilihatnya tadi. Tidakah dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya?

Ji Jeong tidak menunggu persetujuan Jung In, dengan santai dia mengangkat kakinya ke atas sandaran sofa dan menjatuhkan kepalanya yang berat diatas paha Jung In, tangannya berpangku di dadanya, matanya terpejam.

Tak lama kemudian, Jung In mendengar dengkurannya yang halus, dengkuran yang dirindukannya belakangan ini. Ji Jeong terlelap diatas pangkuan Jung In.

Dua jam kemudian, Ji Jeong membuka matanya, menguap dan menemukan Jung In sedang terlelap sembari memangku kepalanya. Dipandanginya wajah gadis itu lama, wajah Ji Jeong tampak sedih saat menatap Jung In dengan penuh kerinduan.

“Apa yang harus aku lakukan, Jung In? Melihatmu dicium oleh laki-laki itu, haruskah aku marah? Atau haruskah aku menghajar laki-laki itu dan mengatakan padanya bahwa kamu adalah milikku?” bisiknya pelan.  

“Kamu pasti kecewa karena aku tidak melakukan itu, mengatakan pada dunia bahwa kamu adalah milikku, kamu pasti sangat kecewa padaku. Maafkan aku Jung In..” bisiknya lagi.

Setetes air mata jatuh di atas pipi Ji Jeong, mengagetkannya. Jung In membuka matanya diatas wajah Ji Jeong, matanya yang sembab karena air mata yang kini mengisi matanya yang lentik.

“Maka.. akui aku Jeong.. Aku ingin kamu mengakuiku, pada semua orang.. Bukan hanya pada Kak Jung Nam.. Tapi keluargamu, keluargaku yang lain, teman-temanmu, teman-temanku.. semuanya Jeong..” isak Jung In. Dia tak sanggup menyembunyikan isak tangisnya lagi.

Dengan tersedu-sedu Jung In menangis sembari menutupi mulutnya.

Ji Jeong bangkit dari tidurnya dan memeluk tubuh kekasihnya lembut, membawanya kedalam pelukannya, memberikan dadanya sebagai tempat menangis gadis itu.

“Maafkan aku Jung In.. Aku akan melakukannya seusai keinginanmu, tapi kita tidak bisa tergesa-gesa. Mereka akan kaget dan kita tidak akan tahu apa reaksi mereka setelah mengetahui hubungan ini, Jung In.. Aku tak ingin kemudian hubungan kita menjadi rusak dan kita tidak bisa bertemu lagi. Aku tak ingin berpisah darimu, Jung In. Aku tidak bisa. Aku memerlukanmu.. karena aku mencintaimu..”

Jung In merasa tubuh Ji Jeong bergetar, dia menangis. Ji Jeongnya yang kuat menangis. Kekasih hatinya telah dibuatnya menangis.

Ji Jeong tak pernah menangis, tidak di depan orang lain. Namun kini, dia menangis dihadapan Jung In. Gadis itu tidak memberikannya pilihan lain, dia tak ingin Jung In meninggalkannya.

Kini giliran Jung In yang menarik kepala Ji Jeong pada pundaknya. Ji Jeong tidak boleh menangis, dia laki-laki baik. Dia hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk hubungan mereka. Jung In lah yang telah dengan egois memaksakan hubungan yang baru berusia seumur jagung untuk dipercepat dan Ji Jeong merasa kewalahan untuk menghadapinya.

Laki-laki itu masih memiliki mimpi yang belum dicapainya, dia yang bertekad untuk tidak mengejar kebahagiaan duniawi sebelum mencapai cita-citanya, kini dihadapkan pada pilihan melepaskan Jung In atau memberitahukan hubungan mereka pada semua orang.


Pilihan manakah yang harus dipilihnya tanpa menyakiti dirinya atau diri Jung In?

Ninth Drama - Chapter 23 
Ninth Drama - Chapter 21 

18 comments:

  1. Keputusan yg sulit neh.. Dilematis.. Tp, Jung in pasti bs lbh dewasa.. Kalo kita mencintai seseorg, kt pasti tdk ingin membelenggu org itu kan??? Yg kuat ya Jung in, Je Jeong pasti akan mengakuimu kok, buktinya, dia blg dia mencintaimu kan??? Sabar ya Jung In..#love will find a way#

    ReplyDelete
  2. galau galau galau..
    duh akhir2 ini aku dibuat galau sama mba shin. Sumpah mba nyesek aku bcanya. T_T

    ReplyDelete
  3. Satu pertanyaan : kuriositas????
    Sistah,,,,klo mreka ga segera mengakui semuany,,,
    Aku akan b'saing sehat dg Jung In utk m'dapatkan Ji Jeong,,,
    Maka segera eksekusi mereka,,,
    Segeralah "meng*gol*kan" mreka,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurut www.artikata.com --> http://www.artikata.com/arti-337000-kuriositas.html

      kuriositas berarti : keingintahuan.

      hahahaha marilah kita bersaing sehat, junjung semangat sportfitas.

      Delete
    2. kok jadi nyambung k olahraga,,, iki opo toh??

      Delete
    3. tu siapa tuh diatas, mau bersaing dengan sehat katanya. ya kan kita musti menjunjung tinggi semangat sportifitas sist...

      Delete
    4. ye tapi ni kok jadi nyambung k olahraga toh yo??

      Delete
  4. jeong,,,,
    cup,,,cup,,,cup,,,
    nih ak kembaliin si piko,,,

    ReplyDelete
  5. so bin girang ji jeong nangis sesengukan......:] tenang jeong klo u ngk jd sama jung in udah pada ngantri tuch....hahahaha....thanks mbk shin :]

    ReplyDelete
  6. hai mbak aku reader baru, hihi..
    aduh aku jatuh cinta deh sama sosok ji jeong ini sungguh dewasa, penuh pemikiran yang matang >//< biar kata ahjussi tapi tetep keren..*loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... asik..

      makasi ya sist udah gabung disini. selamat membaca ya, mdh2an enjoy baca drama2 disini. ^^

      salam kenal ya :)

      Delete
    2. iya, salam kenal juga mbaa :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.