"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, January 3, 2013

Ninth Drama - Chapter 24



Park Jung In POV

Sungguh sore yang sial, mobilku melewati lubang yang cukup dalam, membuat pelek mobilku bengkok dan aku tidak tahu bila aku memiliki ban cadangan didalam bagasiku. Meski aku memilikinya, siapa yang harus aku minta untuk memasangkannya untukku?


Sudah pukul lima sore kurang lima belas menit, bila tidak bergegas, aku akan terlambat menghadiri kuliah Profesor Kim yang akan dimulai pada pukul lima pas. Dengan terpaksa aku meninggalkan mobilku dan menyetop sebuah taksi untuk mengantarkanku ke kampus.

Untunglah Profesor Kim belum masuk ke dalam ruangan, aku bisa bernafas lega. Dia adalah dosen yang kejam, bila aku terlambat sedetik saja, dia akan mengusirku keluar tak mengizinkan untuk mengikuti kuliahnya. Dan absensiku akan bertambah. Dan ibuku akan marahhh...

Aku mengetik pesan singkat untuk Ji Jeong, memintanya untuk menjemputku setelah pekerjaannya usai. Meski aku tahu dia pulang pukul sebelas malam, tapi aku yakin dia bisa pulang lebih awal karena dialah bossnya disana. Ke-eksklusifan seorang boss benar-benar bermanfaat di saat-saat seperti ini. Kekehku dalam hati.

Tapi ketika aku menunggu di depan kebun kampusku, Ji Jeong belum juga membalas sms-ku. Apakah dia tidak membacanya? Telephoneku pun tak satupun diangkatnya. Mungkinkah dia sedang sibuk? Hingga tak bisa mengangkat handphonenya?

Wajahku murung menunggu seorang diri, meski masih ada mahasiswa-mahasiswa lain yang mengambil kelas malam dan bercengkrama disamping kiri-kananku, tapi aku tetap merasa kesepian. Kesepian karena kekasihku belum juga membalas pesanku.

Mengapa harus pada saat seperti ini Ji Jeong tidak bisa melihat handphonenya? Aku sangat membutuhkannya sekarang. Tapi aku tidak boleh egois kan? Dia sedang bekerja.. Mungkin dia sedang bersama dengan boss nya sekarang sehingga dia tidak bisa mengambil izin untuk menjemputku? Tapi setidaknya dia bisa mengabariku kan?

Akhirnya aku memutuskan untuk memanggil sebuah taksi untuk mengantarkanku pulang. Tanganku melambai menyetop taksi yang lewat, namun dari sedikit yang terlihat, semuanya telah berisi penumpang. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul sembilan malam. Haruskah aku menunggu satu jam lagi? Mungkin Ji Jeong sedang dalam perjalanannya menuju kesini.

Aku akan menghubunginya lagi, memastikan bahwa dia akan menjemputku sebelum aku menyetop taksi lain. Dan alangkah kesalnya aku saat handphoneku mati seketika karena baterainya telah habis.

“Oh tidak!!” teriakku kesal.

“Jung In?” seseorang memanggilku dari samping, seseorang diantara kerumunan mahasiswa-mahasiswa yang baru saja keluar dari ruang kuliah mereka.

“So Bin? Kamu baru keluar?” tanyaku.

“Begitulah, pelajaran kali ini memakan waktu lama, ada penampilan materi menggunakan proyektor dan memakan waktu yang lebih lama dari dugaanku. Sedang apa kamu disini? Bukankah seharusnya kuliahmu sudah selesai dua jam yang lalu?” tanyanya.

“..Aku tidak bisa pulang, mobilku peleknya rusak dan aku meninggalkannya dijalan. Aku sedang ingin menyetop taksi namun belum ada yang bisa aku hentikan, semuanya penuh” jawabku lemah. Aku sungguh-sunguh sial hari ini.

“Aku akan mengantarkanmu pulang. Kuliahku juga sudah selesai” So Bin memandangku, menunggu jawaban dari mulutku.

Haruskah aku menerima tawarannya untuk mengantarkanku pulang? Bagaimana bila dia menciumku lagi? Aku tidak mungkin pulang bersamanya, tapi aku juga tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Aku tidak tahu apakah Ji Jeong akan menjemputku atau tidak.

Bila aku menunggu disini dan Ji Jeong tidak juga muncul, maka aku hanya mencari masalah yang lebih besar. Jalan di kampus ini sangat sepi saat malam hari, tak akan ada satu taksipun yang lewat. Aku bergidik ngeri membayangkan diriku menunggu seorang diri dan seorang perampok mengejarku. Tidak!! Aku takutt....

“..Baiklah. Tapi.. Kamu janji, jangan menciumku seperti itu lagi. Aku..sudah ada yang punya” kataku galak.

So Bin hanya berdecak kesal. Menggaruk-garuk lehernya yang mungkin tak gatal sama sekali.

Akupun mengikutinya ke arah tempat dia memarkirkan mobilnya. Mobil lain lagi? Tentu saja. Sebuah Mercedes Benz dua pintu berwarna hitam mengkilap. Oh, kamu memang pemuda kaya raya yang dimanja oleh orangtuamu, tak heran, kamu pewaris satu-satunya dari ayahmu. Anak tunggal pengusaha dan politikus terkenal.

So Bin membukakan pintu penumpang untukku, sopan sekali..

Dia menanyakan padaku mengapa aku tidak menghubunginya lagi mengenai jadwal belajar bersama kami.

“Sudah dua hari kamu tidak kerumahku lagi, ibumu menanyakanku mengenai perkembangan belajar bersama kita. Aku mengatakan semuanya baik-baik saja, dan dia percaya” kata So Bin.

Ibu benar-benar mengawasiku, mengapa tidak sekalian saja ibu tinggal bersamaku di Seoul.

“Oh..begitu?” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku.

So Bin menoleh padaku, dia hanya tersenyum miris mendengar tanggapanku.

Akhirnya kami tiba di depan gedung apartemenku, So Bin menghentikan mobilnya, aku pun melepaskan sabuk pengamanku dan bersiap-siap turun.

“Terima kasih dan maaf karena telah merepotkanmu. Selamat malam So Bin” kataku padanya. Dia tidak menjawab ucapan selamat malamku. Matanya tak lepas dari pandangan di depannya.

Karena dia tidak menjawabku, akupun membuka pintu mobil So Bin, namun tidak bisa. So Bin mengunci pintu itu dan hanya dia yang bisa membukanya dari balik kemudi.

“So Bin? Apa-apaan ini? Keluarkan aku!” teriakku.

“Jung In.. Kamu tahu kan kalau aku menyukaimu dari dulu?” tanyanya padaku. Dia kini memandangku.

“Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, So Bin. Keluarkan aku dari mobil sialan ini” teriakku sambil mencoba membuka kenop pintu mobil.

“Jung In.. Aku..telah jatuh hati padamu semenjak kita kanak-kanak. Aku menginginkanmu Jung In..” katanya. So Bin menarik lenganku ke arahnya. Namun aku berusaha melawan dan kalah. Tenaga So Bin tak bisa aku kalahkan.

Dia memojokanku di kursi yang aku duduki, mencari-cari bibirku dengan bibirnya. Saat bibir So Bin mendarat dibibirku, aku merasakan ciumannya yang memaksa, tangannya mencengkeram kedua lenganku dan menangkupkan nya didadanya, membuatku tak berdaya.

So Bin kemudian mulai menciumi leherku, mengecup bagian leherku yang terbuka dan aku merasakan permainan lidahnya pada permukaan kulitku, basah dan panas. Kini sebelah tangan So Bin membuka kancing blouseku satu persatu.

Teriakanku yang berupa rengekan-rengekan putus asa hanya terdengar samar karena bibirku ditutup oleh bibir So Bin. Tak akan ada yang mendengar teriakanku.

Third Person POV

Namun kemudian, kaca jendela mobil di samping So Bin pecah, sebuah alat pemadam api menghantam dengan keras dan kaca mobil berhamburan dalam serpihan-serpihan kecil.

Pintu mobil Mercedes itu dibuka, sepasang tangan kuat menarik tubuh So Bin dan melemparkannya ke atas aspal setelah mendaratkan sebuah tinju di rahang pemuda itu, dengan telak.

Belum puas sampai disana, laki-laki itu menarik kerah baju So Bin dan menghajarnya berkali-kali hingga wajah pemuda itu berlumuran darah, tulang hidungnya patah dan mengeluarkan darah.

So Bin tak berdaya tergeletak di atas aspal, pemuda itu pasti mati bila laki-laki yang memukulinya tanpa ampun tidak ditahan oleh dua orang sekuriti yang datang karena mendengar ribut-ribut.

“Kamu berani mengganggunya lagi, aku bersumpah akan membunuhmu!!” teriak laki-laki itu marah.

Dia melepaskan pitingan tangan sekuriti pada kedua lengannya. Melangkah cepat ke arah mobil Mercedes hitam itu dan membuka pintu penumpangnya. Jung In gemetaran meringkuk di dalam sana. Pakaian dan rambutnya kusut, matanya merah dan sembab oleh air mata. Sorot matanya terguncang dan terluka.

Laki-laki itu membuka jas hitamnya, menyarungkan jas itu diatas tubuh Jung In yang gemetaran. Kemudian digendongnya tubuh gadis itu ke dalam gedung apartemen, menuju kamar apartemennya.

Selama perjalanan menuju apartemen Jung In, dia tidak berbicara sepatah katapun. Hanya isakan tangis Jung In yang terdengar mengiringi suara derap langkah kaki laki-laki itu.

Dengan kartu kunci yang telah dikantonginya, dia membuka pintu kamar itu dengan tangan kanannya yang juga sedang menopang kaki Jung In. Mendorong dengan kakinya pintu itu hingga terbuka dan menutupnya lagi.

Ruangan apartemen itu gelap, namun laki-laki itu tahu arah menuju kamar gadis itu. Dia sudah menghafalnya diluar kepala. Dengan lembut dibaringkannya tubuh Jung In diatas ranjang, menyalakan lampu tidur redup disisi ranjang dan duduk disamping gadis itu.

“Maafkan aku...” hanya kata itu tercetus dari mulutnya.

Rahangnya mengeras, giginya bergemeretak menahan amarah dalam hatinya. Tangannya mengepal hendak menghancurkan sesuatu, apapun yang dirasanya mengganggu pemandangannya.

Sorot matanya dingin, murung dan berkabut. Wajahnya yang nampak kelelahan kini menghela nafas panjang, menarik nafasnya lagi dan menghela nafas lagi. Hampir satu menit yang terasa amat panjang laki-laki itu melakukan kebiasaannya untuk meredakan amarah dalam dadanya.

Saat nafasnya kini teratur, wajahnya telah berubah lebih lembut. Namun, mata itu terluka, menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Jung In. Dia hampir saja kehilangan gadis itu, dia hampir saja tidak bisa menyelamatkan kehormatan gadis yang dicintainya.

“Maafkan aku Jung In.. Aku bersalah padamu..” dia menangis di atas dada Jung In.

Jung In memeluk tubuh gemetar laki-laki itu. Ikut merasakan penderitaan yang dia rasakan.

Ninth Drama - Chapter 25 
Ninth Drama - Chapter 23 

15 comments:

  1. Aaaaaaahhhhhh,,,Ji Jeong,,,so sweet,,,
    Sistah,,aq hampir menitikkan air mataq,,,
    Bener2 pecinta & petarung sejati si Ji Jeong,,,
    So Bin sialan,,,dy mengambil kesempatan dl kesempitan,,
    Si Jung In kan sdh memWARNINGny utk tdk b'laku yg tdk2 kepadany,,,
    Dasar So BiN sialaaaan,,,, #kesal pangkat sangadh,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar bu,,,
      belanda masih jauh hahaha

      Delete
    2. Belanda??? Apa kaitanny mbak Fathy???

      Delete
    3. abis kamu kaya mau perang, semangat 45 bgt ya....

      Delete
    4. aku boleh hadir ga disana mbak shiiin??
      aku pengen tujes2 kepala So Bin pake Stileto 13 cm..
      aku pelitin tir tangannya, aku patah2in jd 13 bagian
      aku cabut rambutnya sampe botak..

      Jeooong, peluk Jung In yg erat ya, tenangin dia, jgn sampe gara2 ini dia jd trauma..
      Jeong emang baik....

      _nimbrung komen juga, hehehehhe_

      Delete
    5. boleh mer.. kmu finishingnya ya.. biar so bin kapok..

      Delete
  2. uhuyyyy again i show you cry jeong,,,,

    lain kali kasih kabar sama jung in yah klo mang gak bisa dtg, jadi jung in bisa naik taksi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @fathy : saw sist saw... wkkwkwkw :kabur:

      Delete
    2. kwkwkwkw kebanyaakn soal2 tuh.. pelajaran didalam kepala numpuk2, mau ngeluarin apa yg keluar apa.. lol

      Delete
  3. kenapa ga sekalian aja si so bin matiin *bener2 marah*
    kurang ajar juga ya tu anak. Gw tendang juga lo punya lo. Impoten impoten dah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah ntr jeong dipenjara tambah galau donk cin...

      Delete
    2. sabar bu...
      kalo so bin di hajar sampe mati, jeong masuk penjara gmna??
      kasihan juga kan jung in nya

      Delete
  4. aaaaahhhh sobin suuuuuuuu,,,,
    beraniny ama anak kecil,,,,
    sini ak ga berani ma km,,,-lariiiiiiii-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha.a.. sobin cakep lho cin, udah gt tajir pula.. ndak mau ama dia??

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.