"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, January 4, 2013

Ninth Drama - Chapter 26, 27 & 28



warning : 18 yo or older

Ji Jeong menelan ludahnya. Tak pernah dia merasa segugup ini bercinta dengan wanita. Biasanya semua akan mengalir seolah tubuhnya telah mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk memulai ritual indah itu.

Namun kali ini, saat disampingnya telah berbaring tubuh telanjang gadis yang dicintainya, tubuhnya terasa lemas terkecuali satu bagian tubuhnya yang lain, yang tak akan pernah lemas saat berada di dekat Jung In.


Dia menarik nafas panjang, tangannya berkeringat karena gugup, dia harus memulainya, bila tidak mereka akan berdiam diri seharian tanpa melakukan apapun. Suasananya sudah pas, sebuah makan tengah malam yang romantis, ranjang yang ditaburi bunga mawar, yang didapatnya dari membeli vas bunga di lobby sebuah hotel, yang biasa dilewatinya saat melakukan rapat dengan Presiden Choi, bahkan mereka telah membersihkan diri khusus untuk mempersiapkan malam pertama bagi Jung In dan dirinya.

Jung In disampingnya sabar menunggu gerakan Ji Jeong, tak ingin merusak suasana dengan memaksa laki-laki itu untuk menyentuhnya. Memikirkan dirinya akan dimasuki oleh Ji Jeong saja telah membuat tubuh Jung In meleleh dan basah dibawah sana.

Saat kemudian tangan Ji Jeong menyentuh tangannya, debar jantung Jung In bertalu-talu semakin cepat. Mengantisipasi gerakan apalagi yang akan diterimanya dari tangan itu.

Ji Jeong menyentuh tangan Jung In, membawanya kemulutnya, mencium jari jemarinya yang lentik satu per satu kemudian jari itu menghilang kedalam mulut Ji Jeong. Laki-laki itu menghisap jari jemari Jung In dengan bergairah.

Bibir Ji Jeong mengembara menciumi punggung tangannya, kemudian lengan, naik ke bahunya, ke belahan dadanya, kemudian wajahnya mendongak menatap Jung In yang sedang memejamkan matanya. Ekspresi wajahnya penuh tersirat gairah yang diciptakan Ji Jeong pada tubuhnya.

“Jung In...” panggil Ji Jeong pada gadis itu. Wajahnya sendu, menikmati setiap lenguhan kenikmatan yang keluar dari mulut Jung In.

Gadis itu membuka matanya, tertangkap basah sedang menikmati sensasi gairahnya. Ji Jeong hanya tertawa kecil menatap wajah bersemu merah Jung In.

“Wajahmu benar-benar innocent, aku merasa ragu untuk melanjutkan ini..” Jung In menutup mulut Ji Jeong dengan jari tangannya.

“Jangan kamu berani-berani Lee Ji Jeong.. Aku akan menghasut kakak-kakakku untuk menghajarmu bila berani membatalkan ini..” ancam Jung In galak.

Ucapan Jung In itu disambut tawa geli Ji Jeong. Matanya menyipit menahan tawanya.

“Aku tidak berani tuan putri.. Aku takhluk padamu..” jawabnya geli.

“Maka lakukanlah Jeong.. Jangan segan-segan.. Aku ingin merasakan semuanya.. seutuhnya.. tidak setengah-setengah..” kata Jung In sambil menyentuh punggung telanjang Ji Jeong yang kini telah menindih tubuhnya.

“Dengan senang hati tuan putri..” senyum nakal terpampang diwajah tampan Ji Jeong, senyum nakal yang sangat disukai Jung In.

Jung In meremas rambut Ji Jeong saat mulut laki-laki itu bermain di atas belahan dadanya, mengecup permukaan payudaranya dan memainkan lidahnya dengan lihai tanpa menyentuh pucuk payudara Jung In yang telah mengeras. Pucuk payudara berwarna merah muda itu begitu menggoda, namun Ji Jeong sengaja berlama-lama tak menyentuhnya. Dia ingin menyiksa Jung In dengan perlahan. Dia ingin membalaskan dendamnya karena gadis ini selalu meminta penaklukan darinya, kini dia akan memberikannya..tanpa ampun.. Pengalaman bercinta seorang Lee Ji Jeong yang telah mengenal wanita sejak usianya tujuh belas tahun.

Ji Jeong merasakan tekanan tenaga Jung In pada kepalanya, mengarahkan kepala laki-laki itu untuk mengecap puting Jung In yang belum tersentuh sama sekali. Senyum terukir diwajah Ji Jeong.

“Kamu ingin aku melakukannya, manis?” tanya Ji Jeong pada gadis itu.

“Iya..aku ingin kamu menyentuhku dengan mulutmu disana, Jeong..”

“Dimana, manis..disana mana?? Katakan padaku..”

“Kamu tahu dimana.. Jangan buat aku mengatakannya, Jeong.. Aku malu..” wajah Jung In bersemu merah menatap rambut Ji Jeong yang masih asyik dengan lidahnya menari-nari dengan liar diatas perut gadis itu.

“Aku tidak mengerti, manis.. disana mana..?” ulangnya, masih menyiksa Jung In dengan lidahnya.

Kini lidah itu mulai mengecup dan menjilati kulit mulus paha Jung In. Mengangkat pahanya dan menciumi permukaan paha bawah Jung In. Ji Jeong benar-benar menyiksa gadis itu hanya dengan lidahnya.

“..Kamu kejam, Jeong..” Jung In hampir menangis, siksaan kenikmatan yang dirasakannya tak cukup, dia ingin lebih.. Dan Ji Jeong bisa memberikannya bila dia mengecup tubuh Jung In disana.. di pucuk payudara gadis itu.

“..Aku akan melakukannya bila kamu mengatakannya, manis..” Ji Jeong tak mau memandang mata Jung In, membiarkan gadis itu merengek padanya. Dia harus meminta pada Ji Jeong apa yang diinginkannya dan dia akan mendapatkannya.

“Sentuh aku di puting payudaraku!!” teriak Jung In kencang membuat Ji Jeong kaget.

“Tak perlu berteriak, manis. Mendesah pun aku telah mendengarnya..” Ji Jeong tertawa geli melihat wajah Jung In yang telah berubah warna menjadi merah bagai kepiting rebus.

“Kamu sengaja melakukannya.. Kamu ingin balas dendam padaku, kan?” Jung In mencoba merengut. Namun hanya erangan tertahan yang keluar dari bibirnya saat Ji Jeong memagut puting merah mudanya dengan hisapan kuat.

“Jeong..ahh..” desahan tertahan dari mulut Jung In. Tubuhnya menggelinjang panas dibawah tubuh Ji Jeong.

Ji Jeong dengan rakus menghisap payudara Jung In dengan mulutnya, payudara itu kini basah oleh air liur Ji Jeong. Tangannya meremas-remas dengan gemas buah dada Jung In, menemani bibirnya yang menghisap-hisap disekitar daerah itu.

Ji Jeong merangkak diatas tubuh Jung In, kini bibirnya meraih bibir gadis itu. Mengecup bibirnya perlahan, merayu dan menggoda bibir merah  yang telah terbuka siap menerima bibir Ji Jeong didalam bibirnya. Kemudian Ji Jeong merangkum wajah Jung In, bersiap untuk memagut bibirnya.

“Aku akan bercinta denganmu, manis.. Meski kamu berteriak melawanku, tak akan aku hentikan. Aku tak akan melepaskanmu, kamu mengerti?” wajah Ji Jeong serius, mengancam.

Darah Jung In berdesir menatap mata Ji Jeong, laki-laki lembut ini berubah menjadi ganas. Liar.. Dia akan bercinta dengannya.. dengan kejam.. Tubuh Jung In menggigil lagi. Dia mengangguk.

“Aku mengerti..” desahnya pelan.

Maka diciumilah bibir merah itu oleh Ji Jeong, dengan rakus. Mengulum lidah Jung In yang ditangkapnya dengan bibirnya, memainkan lidahnya dengan ahli di dalam mulut Jung In.

Ji Jeong mengangkat wajahnya, nafasnya terengah-engah, begitupula nafas Jung In. Bibirnya yang telah bengkak karena pagutan Ji Jeong berdenyut-denyut menginginkan bibir laki-laki itu untuk menghisapnya lagi.

Namun Ji Jeong tidak melakukannya, dia alih-alih mencium kening Jung In, mencium alis gadis itu, mengecup kedua pipinya dengan lembut, kemudian bibirnya menggigit-gigit kecil daun telinga Jung In, menjilati telinga gadis itu dan turun kelehernya, memagut ringan kulit lehernya yang jenjang.

Ji Jeong menatap mata Jung In, mata sayu penuh gairah itu kini membalas tatapannya.

“Aku ingin kamu melakukan hal yang sama yang aku lakukan padamu, manis..” kata Ji Jeong. Dia membantu Jung In duduk diranjang, kemudian membaringkan tubuhnya sendiri disamping Jung In. Gadis itu kemudian diundangnya untuk naik ke atas tubuhnya.

“Cium bibirku, manis..” Ji Jeong memerintahkan Jung In untuk menciuminya.

Gadis itu menurut, mendekatkan wajahnya pada wajah Ji Jeong, mengecup lembut bibir laki-laki itu sebelum akhirnya mengulum bibir bawah Ji Jeong dalam mulutnya. Ji Jeong membalas ciuman Jung In, menghisap bibir atas gadis itu dan menerima setiap hisapan bibir Jung In pada bibirnya.

“Ciumi tubuhku, manis..” Ji Jeong memerintahkannya lagi. Kini Jung In berdiam sejenak, ragu akan apa yang harus dimulainya pertama.

“..Ciumlah apa yang kamu ingin.. Aku tak tahu bagian mana dari tubuhku yang bisa membuatmu terangsang selain kejantananku tentunya..” goda Ji Jeong pada gadis itu. Jung In menunduk malu membenarkan ucapan Ji Jeong.

Ji Jeong tertawa kecil. Dengan serak dia memanggil Jung In. “Jung In..manis.. Kamu bisa mulai dari bibirku..kemudian turun ke dagu, ke leher, ke pundak, ke lengan, ke dada..ya.. daerah itu sama sensitifnya seperti pada payudaramu..” mata Ji Jeong berkabut saat mengucapkan kata-kata itu. Menatap tajam pada mata Jung In.

Dengan kikuk, Jung In melakukan apa yang didengarnya. Tidak yakin dengan gerakannya, Jung In menciumi dagu Ji Jeong, lidahnya menelusuri kulit putih Ji Jeong, membuat garis tak beraturan pada tubuh laki-laki itu. Diciuminya dada Ji Jeong yang bidang, terpukau mendengar desahan laki-laki itu dibawahnya, Jung In semakin yakin dengan gerakannya.

Tanpa malu-malu lagi, Jung In menciumi tubuh Ji Jeong, memainkan lidahnya diatas puting laki-laki itu yang telah mengeras sama seperti putingnya sendiri. Ji Jeong memejamkan matanya, rahangnya mengeras menahan sensasi liar lidah Jung In pada putingnya.

Ji Jeong lalu menghentikan gerakan Jung In. Nafasnya terengah-engah saat menatap wajah gadis itu. Kemudian dia berkata.

“Bukakan celana panjangku, manis..” pintanya lagi. Jung In menuruti perkataan Ji Jeong.

Dibukanya kait celana panjang itu, menurunkan resletingnya, dan kejantanan Ji Jeong mencuat keluar dari persembunyiannya. Ji Jeong tidak mengenakan celana dalamnya, Jung In dengan jelas dapat melihat bintang kebanggaan Ji Jeong berdiri dengan angkuh dihadapannya. Membujur panjang dan besar.

Chapter 27



Jung In menahan keinginannya untuk menyentuh kejantanan Ji Jeong, melanjutkan pekerjaannya yang belum tuntas. Menelanjangi laki-laki dibawahnya. Dia menatap wajah Ji Jeong, laki-laki itu mengawasinya sedari tadi. Memperhatikan cara Jung In dengan hati-hati melepaskan celana panjangnya tanpa menyentuh kejantanannya yang telah berdiri gagah siap untuk beraksi.

“Sentuhlah, manis.. rasakan kejantananku berdenyut-denyut dalam genggamanmu. Karena sebentar lagi dia akan berdenyut-denyut keluar masuk tubuhmu. Dan aku tak akan mengendur, aku akan semakin cepat dan tak berhenti sebelum seluruh isi cairan spermaku menyembur dalam kemaluanmu..” Ji Jeong berkata begitu vulgar. Jung In tak dapat menyembunyikan wajahnya yang merona merah dan panas.

Membayangkan kejantanan Ji Jeong dalam tubuhnya, menyemburkan cairan hangat itu membuat cairan dibagian kemaluannya menetes lagi, mungkin daerah itu kini telah banjir oleh cairan pelicinnya. Dia merasa sangat basah disana.

Ji Jeong menangkap tangan Jung In yang masih diam disamping tubuhnya, menangkupkan kedua tangan itu pada ujung kejantanan Ji Jeong. Merayu tangan gadis itu untuk bergerak naik-turun, menggosok, memijat dan mengocok kejantanannya.

“Masukan ke dalam mulutmu, manis.. Kulum sesukamu.. Semua ini milikmu.. hanya milikmu..” kata Ji Jeong bergairah.

Jung In melakukan yang disuruhnya, membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan perlahan-lahan kejantanan Ji Jeong yang tebal ke dalam mulutnya. Sedikit cairan putih terlihat mengkilap pada ujungnya sebelum Jung In memasukan kejantanan itu ke dalam mulutnya.

Pertama dikulumnya kepala kejantanan Ji Jeong, mengelus-elus lubang tempat cairan sperma keluar dengan lidahnya. Kemudian dimasukannya kejantanan itu lebih dalam lagi, kini dia merasakan mulutnya penuh, dihisapnya batang kejantanan Ji Jeong yang masuk setengah dalam mulutnya. Hanya sebatas itu dia bisa menerima panjang kejantanan laki-laki itu.

“Shh..enak sekali manis.. Kamu benar-benar ahli..” erang lirih Ji Jeong saat kejantanannya keluar masuk mulut Jung In.

Gadis itu semakin mempercepat gerakan mengulumnya, menikmati wajah tersiksa Ji Jeong di depannya. Laki-laki itu mengerutkan dahinya, matanya terpejam, ekspresi kesakitan terpampang jelas di wajahnya.

Kesakitan karena menahan gairah yang siap meledak sewaktu-waktu.

Jung In melepaskan kuluman mulutnya pada kejantanan Ji Jeong, kini dia membungkuk lebih dalam, mengecup-ngecup batang kejantanan Ji Jeong yang belum tersentuh oleh kuluman bibirnya. Dia memagut kecil permukaan kulit kejantanan Ji Jeong, menghisap dan menjilat seluruh permukaan kejantanan itu tanpa henti. Tangannya mengocok dengan kencang bagian ujung kejantanan Ji Jeong.

Laki-laki itu mendesah keras, nafasnya terputus-putus, merasakan gelegak kenikmatan yang hampir mencapai klimaksnya, dia pun menghentikan permainan Jung In pada kejantanannya. Merengkuh tubuh gadis itu diatas tubuhnya, dan mencium bibirnya dengan panas.

Jung In menempelkan tubuhnya yang mungil diatas tubuh Ji Jeong yang mengeras, terdesak oleh kejantanan laki-laki itu dibawah perutnya. Kejantanan Ji Jeong bergerak-gerak liar menyentuh bawah perut Jung In, membuat gadis itu menggeliat dan membuka selangkangannya. Menginginkan kejantanan itu berada ditempat seharusnya dia berada.

Ji Jeong mengetahui keinginan Jung In, namun dia tak membiarkan Jung In melakukannya. Ji Jeong merebahkan tubuh Jung In dikakinya, kini kepala mereka berada di bagian kaki ranjang, tubuh Ji Jeong menindih tubuh Jung In.

“Belum saatnya manis.. Kamu belum cukup basah bagiku.. Aku tak ingin terlalu menyakitimu..” katanya serak.

Jung In menunggu dengan jantung berdebar kencang apa yang akan Ji Jeong lakukan padanya. Laki-laki itu dengan santai menciumi sekujur tubuh Jung In, merangsangnya dengan pelan tapi pasti hingga Jung In merasa seprai dibawahnya kini telah basah oleh cairan kemaluannya. Begitu lengket didalam sana.

Akhirnya tangan Ji Jeong menelusup masuk ke dalam belahan pahanya, membuka selangkangan Jung In lebar-lebar, kemudian tangannya meraba-raba mencari klitoris gadis itu. Saat menemukannya, dia memainkan jari tangannya disana. Memutar dan memijat hingga cairan demi cairan terasa mengalir terus menerus dari daerah kewanitaan Jung In.

“Aku salah, manis.. Kamu sudah sangat teramat basah disini.. Aku bisa dengan mudah memasukimu...mungkin..” senyum penuh kerinduan terlihat pada bibir Ji Jeong.

Jung In menunggu dengan sabar, dia menginginkan penyatuan tubuh mereka, namun apa yang dirasakannya sekarang telah membuat tubuhnya mendamba lebih lagi, mendambakan janji yang telah diberikan Ji Jeong padanya. Penyatuan tubuh mereka.

Namun Ji Jeong masih mempermainkan gairah Jung In, laki-laki itu ingin menghadiahkan sebuah orgasme kecil untuk Jung In sebelum dia berteriak kesakitan dibawahnya dan tak mampu lagi mengenali orgasme yang akan diterimanya.

Ji Jeong ingin Jung In mengenal rasa itu sebelum kemudian dia akan menyiksanya dengan kejam.

Jari tangan Ji Jeong bergerak masuk ke dalam rongga kewanitaan Jung In, pertama mengelus-ngelus turun bibir rongga kewanitaan itu, kemudian dengan mantap menusuk masuk ke dalam rongga yang telah licin dan basah hingga membuat Jung In membelalakan matanya, tak menyangka sebuah jari tangan milik Ji Jeong telah sanggup membuatnya meringis.

“Nikmati setiap tusukan jariku pada kemaluanmu, manis.. ingat-ingatlah rasa nikmat yang kini kuberikan.. karena sebentar lagi, kamu akan menjerit-jerit dan ingin membunuhku. Namun aku tak akan melepaskanmu, aku akan berubah menjadi kejam, manis.. Kamu boleh membenciku setelah itu.. Tapi kali ini.. aku ingin kamu menikmati orgasme kecil yang akan aku hadiahkan untukmu sebentar lagi.. sebelum keperawananmu aku robek dengan kasar dengan kejantananku yang besar dan panjang.. Kamu suka itu, manis? Terdengar menggairahkan..??” Ji Jeong berapi-api saat mengungkapkan rencananya pada tubuh mereka.

Dia tak malu-malu mengatakan keinginannya untuk menyatukan tubuh mereka dengan kasar. Dia akan melakukannya, dia harus melakukannya. Jung In tak bisa menolaknya sekarang.

“..Iya sangat menggairahkan, Jeong.. Aku tak kuat lagi, rasanya menyakitkan mendambakanmu didalam sana..ahh..” desahnya saat merasakan jari tangan Ji Jeong bergerak semakin cepat didalam tubuhnya. Menusuk dan menghantam rongga kewanitaan Jung In hingga gadis itu mendesah keras merasakan hantaman gelombang orgasme yang akan dirasakannya sebentar lagi.

“Keluarkan, manis.. lepaskan..” desis Ji Jeong disamping telinga Jung In.

Gadis itu sedang megap-megap hampir kehabisan nafas, merasakan tubuhnya kian meleleh dan saat gelombang itu tiba, Jung In memeluk tubuh Ji Jeong dan menelungkupkan wajahnya pada laki-laki itu. Bergetar merasakan sensasi kilmaks yang mengalir diseluruh syaraf tubuhnya. Menerima pelepasan yang melegakan jiwa dan raganya.

Setelah satu menit yang panjang. Jung In menarik nafas panjang, merasakan tubuhnya lemas tak bertulang.

“Apakah aku sanggup menerima orgasme lain, Jeong? Apa yang baru aku rasakan begitu indah..hingga rasanya tubuhku tak bertulang lagi. Aku tak kuasa menggerakan tubuhku..” kata Jung In lemah.

Ji Jeong tersenyum. Dia mengecup bibir Jung In. Menciuminya dengan lembut.

“Jangan khawatir manis.. Kamu tak perlu bergerak.. Aku yang akan melayanimu..kamu hanya perlu mendesah.. mengerang.. berteriak.. apapun yang kamu rasakan saat tubuhku memasuki tubuhmu.. Saat tubuh kita bersatu.. Saat kejantananku keluar masuk vaginamu..” Ji Jeong mengejutkannya dengan menyebutkan nama kemaluannya. Jung In menarik nafas panjang. Dia merasa panik namun bergairah.

Ji Jeong mengawasinya, melihat reaksi gadis itu pada ucapannya. Dia menyukainya. Menyukai reaksi yang di akibatkan oleh kata demi kata yang sengaja dia pilih untuk merangsang gairah Jung In, dan juga merangsang gairahnya yang semakin mendesak.

Jung In telah membangkitkan kembali seorang Lee Ji Jeong yang telah lama disembunyikannya. Lee Ji Jeong yang liar dan tak tertakhlukan. Kini dia akan memperlihatkan pada Jung In kehebatan seorang Lee Ji Jeong diatas ranjang.

“Kamu..sungguh berbeda... Aku suka..” kata Jung In malu-malu. “Bukannya aku tak suka kamu yang biasanya..bukan..” cepat-cepat dia menambahkan sebelum Ji Jeong menyalah-artikan perkataannya.

Jung In tak ingin kekasihnya itu mengira dirinya hanya menginginkan seks dengannya. Dia menginginkan semuanya, semua mengenai laki-laki itu.

“..Aku tahu manis.. Aku tahu..”

Ji Jeong merangkak diatas tubuh Jung In, mundur kebelakang dan bersimpuh dibelakang paha gadis itu. Tangannya membuka lagi selangkangan Jung In dan memeriksa daerah kewanitaan Jung In dengan tangannya. Jari telunjuknya masuk ke dalam rongga kewanitaan Jung In, merasakan selaput keperawanan wanita itu dengan ujung jarinya.

“Hmm..cukup jauh didalam.. Akan terasa teramat sangat menyakitkan..manis..” Ji Jeong sengaja membuat Jung In bergidik. Dia menikmati setiap reaksi yang ditimbulkan ucapannya pada Jung In. Dia ingin menghukumnya, menghukum gadis yang nakal itu karena berani menantangnya di atas ranjang.

“Kamu menakut-nakutiku..” kata Jung In galak. Dia merengut karena Ji Jeong menggodanya sejak mereka bercumbu.

Laki-laki itu begitu liar dengan pilihan kata-katanya. Dia menghilangkan citra seorang Lee Ji Jeong yang lembut dan sopan. Namun, Jung In tak keberatan dengan Ji Jeong yang baru ini.. Membuatnya semakin bergairah.

Chapter 28



Ji Jeong tertawa ringan. Dia menindih tubuh Jung In lagi dan menciumi bibir gadis itu, memagutnya dengan panas dan tangannya tak ketinggalan ikut bermain diatas payudara gadis itu.

Jung In membalas ciuman bibir Ji Jeong, kini gilirannya memagut bibir laki-laki itu dan menguasai perebutan bibir mereka. Saat bibir mereka terpisah, Ji Jeong memandang penuh gairah pada Jung In. Matanya bersinar menyukai keberanian Jung In. Gadis itu kini bisa mengimbangi permainannya.

Ji Jeong berdecak kagum pada Jung In, memuji gadis itu karena keahlian menciumnya.

“Kamu semakin ahli menciumku, manis.. Baru sebulan kita bersama..kamu sudah membuatku takjub..” decak Ji Jeong.

“Satu bulan lebih tiga minggu..tepatnya. Hampir dua bulan. Dan kamu hanya menciumiku..sehingga aku semakin pintar dalam berciuman” jawab Jung In tak mau kalah. Ji Jeong tergelak mendengar jawaban gadis itu.

“Ya..maafkan aku.. Kini aku akan melunasi semua kesalahanku.. Aku akan membalas semua hutang-hutang pertemuan-pertemuan kita.. Berkali-kali lipat..” Ji Jeong menggeram.

Dia menciumi payudara Jung In dan menghisap payudara itu lagi, puting Jung In yang telah merekah terasa ngilu karena hisapan mulut Ji Jeong yang lama disana. Setiap hisapan dan permainan laki-laki itu pada payudaranya mengalirkan sengatan listrik pada tubuhnya yang menggelinjang takhluk dibawahnya.

Kini Ji Jeong terfokus pada daerah kemaluan Jung In. Laki-laki itu kini memandangi vagina Jung In dengan penuh nafsu. Vagina itu berdenyut-denyut, memperlihatkan lubang berwarna merah muda yang membuka dan menutup, mempermainkan otak Ji Jeong.

Tangan kanannya meraba permukaan vagina Jung In yang sangat basah, sedang tangan kirinya memegang kejantanannya yang tegak berdiri. Tangan kanannya mengoleskan cairan pelicin Jung In pada ujung kepala kejantanannya, mengurut-ngurut cairan itu hingga kepangkalnya.

Perlahan-lahan digesek-gesekannya kejantanannya pada permukaan klitoris Jung In, menstimulasi vagina gadis itu dengan kejantanannya. Memperkenalkan kedua benda itu pada pemiliknya.

“Aku akan memasukan kejantananku kedalam vaginamu, manis.. Apa kamu siap..?” tanya Ji Jeong bersemangat. Jung In mengangguk lemah. Berharap penyatuan mereka tak akan terlalu menyakitinya.

“Jangan takut.. Aku akan memperhalus gerakanku..pada awalnya..” Ji Jeong tersenyum manis, namun Jung In melihat laki-laki itu tertawa menggodanya.

“Aku akan menghajarmu nanti, Lee Ji Jeong..karena telah menggodaku tanpa henti” ancam Jung In, Ji Jeong hanya bisa tertawa ringan.

Kemudian Ji Jeong mengarahkan kepala kejantanannya pada lubang kewanitaan Jung In. Sorot matanya kini berubah serius, tak ada kesan bermain-main disana. Dia menyibakkan selangkangan Jung In lebar-lebar. Mengangkat sebelah paha gadis itu hingga pundaknya.

Jung In merasakan desakan ujung kejantanan Ji Jeong pada kemaluannya. Cairan pelicin membantu ujung kepala kejantanan Ji Jeong masuk menerobos rongga daging itu. Mengeluarkan suara “bleb” saat ujung kepala kejantanan Ji Jeong amblas ke dalam vagina Jung In.

Gadis itu memekik kecil, kaget dengan hujaman kejantanan Ji Jeong yang menyakitkan.

“Sudah masuk semuanya?” tanya Jung In sembari menahan kesakitan diwajahnya.

“...hampir, manis..hampir..” Ji Jeong tak ingin membuat gadis itu semakin terguncang bila dia mengetahui seper-empat kejantanannya pun belum masuk habis kedalam vagina Jung In.

Ji Jeong menarik keluar ujung kejantanannya, menusukannya lagi, lebih dalam. Begitu sempit, begitu sesak. Kejantanannya yang besar memenuhi rongga vagina Jung In.

“Arghh!!!” teriak Jung In. Air mata keluar menitik dari ujung matanya.

Ji Jeong menatapnya iba. Dia tahu hal ini akan terjadi, dan dia telah memperingati Jung In akan apa yang dia minta. Ji Jeong tak akan menarik kembali ucapannya. Dia akan meneruskan apa yang dia lakukan.

“Shh.. Sebentar lagi manis..” hibur Ji Jeong.

Jung In hanya meringis, menahan nyeri yang berdenyut-denyut dalam rongga kewanitaannya. Kejantanan Ji Jeong menyakitinya.

Dikeluarkannya lagi kejantanannya yang belum sempat amblas seluruh ujung kepalanya. Didorongnya lagi, perlahan-lahan hingga batas kepala kejantanannya masuk ke dalam vagina Jung In. Menerobos sedikit demi sedikit liang senggama gadis itu.

Semakin cepat gerakan menghujamnya, kini dimasukannya lebih dalam lagi, sekali lagi suara “bleb” terdengar dan suara teriakan kesakitan Jung In mengisi ruangan kamar itu.

“Arghh!! Jeong!! Sakit!!” teriaknya. Kini Jung In telah menangis terisak.

Ji Jeong menggunakan kesempatan itu untuk menghujamkan kejantanannya lebih dalam lagi, dipeluknya tubuh Jung In dan gadis itu mencengkeram tubuhnya dengan keras. Menyakiti lengannya saat Ji Jeong menghujamkan kejantanannya lebih dalam mencari selaput yang selalu ingin dia hancurkan. Selaput keperawanan Jung In yang menghalangi kejantanannya masuk lebih dalam lagi.

Selaput itu cukup tebal, dinding vagina yang sempit mempersulit gerakan keluar masuk kejantanan Ji Jeong tanpa menyakiti Jung In.

Gadis itu kini telah menangis dengan kencang, berteriak kesakitan dan meneriakan segala makian pada Ji Jeong. Mengatakan dia membenci laki-laki itu, mengatakan dia tidak mencintainya lagi, mengatakan dia akan meninggalkannya, mengatakan Ji Jeong kejam dan segala umpatan yang mungkin menyakitkan bila Ji Jeong tak tahu apa yang sedang mereka lakukan sekarang.

Namun Ji Jeong tak begeming, dia memeluk dengan erat tubuh Jung In yang meronta-ronta dibawahnya. Berusaha melepaskan diri dari dekapan dan hujaman kejantanan Ji Jeong diatasnya.

Saat selaput itu akhirnya berhasil dikoyaknya, Ji Jeong mendesah panjang merasakan sensasi kepuasan dalam tubuhnya. Jung In mendesah tertahan, merasakan cairan hangat di dalam rongga vaginanya yang mengalir keluar dibarengi gerakan hujaman kejantanan Ji Jeong keluar masuk tubuhnya.

Kejantanan Ji Jeong diwarnai oleh cairah merah darah keperawanan Jung In yang telah berhasil dirobeknya, bercampur dengan cairan orgasme gadis itu yang berwarna putih keruh hingga berbah menjadi cairan berwarna merah muda dan menetes turun hingga mengenai seprai putih dibawah tubuh mereka.

Jung In masih menangis terisak merasakan rongga vaginanya tersayat setiap saat kejantanan Ji Jeong merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Laki-laki itu kini mengusap air mata dipipinya dan menciumi wajahnya dengan lembut. Jung In dapat melihat sorot mata khawatir Ji Jeong untuknya. Namun dia berusaha tersenyum agar Ji Jeong tidak mencemaskannya. Dia telah menjadi wanita karenanya, dia akan lebih kuat dan tidak menangis lagi hanya karena nyeri sekecil ini.

Tapi tidak, nyeri sakit yang dia rasakan tidak sekecil yang ingin dia tunjukkan pada Ji Jeong. Begitu sakit hingga senyum yang dipaksakan itu terlihat seperti wajah meringis yang teramat menyedihkan. Ji Jeong menciumi bibir Jung In.

“Aku berjanji.. Sakitnya akan berkurang saat kamu mencapai klimaks..Jung In.. Kamu mempercayaiku kan?”  tanya Ji Jeong di sela-sela gerakan menghujam tak henti-henti yang dilakukannya.

Dia ingin meloloskan kejantanannya yang besar pada vagina Jung In. Gadis itu harus terbiasa dengan bentuk kejantanannya.

Jung In mengangguk lemah. Dia tak dapat membedakan sakit dan nikmat lagi. Dia tak merasakan lagi sakit di dalam rongga kewanitaannya, dia hampir kehilangan kesadarannya karena terlalu lelah menerima semua kesakitan yang diakibatkan oleh penyatuan tubuh mereka.

Ji Jeong mencabut kejantanannya demi melihat wajah Jung In yang memucat. Dia memanggil-manggil nama Jung In agar gadis itu kembali pada kesadarannya.

“Jung In.. Jung In... Sadarlah.. sayang.. kamu membuatku cemas.. Jung In-ah..” panggil Ji Jeong khawatir. Dia melupakan semua gairah yang dia rasakan. Hatinya dipenuhi kecemasan akan diri Jung In.

Saat gadis itu membuka matanya, dia bertanya-tanya apa yang terjadi pada Ji Jeong. Wajah lega Ji Jeong hanya bisa tersenyum sedih saat mengatakan dia pingsan.

“Pingsan?? Aku?? Di saat seperti ini?? Tidak.. Aku...kamu..sedang..Jeong..” teriaknya lemah.

“Shh..shh.. Jung In-ah.. Tidak apa-apa.. Aku lega kamu tidak apa-apa. Aku sangat mencemaskanmu.. Kamu membuatku khawatir, apa yang harus aku katakan bila terjadi apa-apa padamu?? Haruskah aku mengatakan kejantananku penyebabnya?” Ji Jeong tersenyum miris, menyadari akibat yang dia berikan pada tubuh Jung In. Gadis itu belum cukup kuat untuk menerima semua desakan gairahnya.

“Tidak.. Aku telah menghancurkan semuanya.. Aku mengecewakanmu, Jeong. Aku..” Jung In menutup matanya, menangis tersedu-sedu.

“Kemarilah.. Menangislah didadaku..shh..shh..” Ji Jeong memeluk tubuh Jung In yang bergetar hebat menahan tangisannya.

Jung In merasa malu, merasa dirinya tak berguna karena telah mengecewakan laki-laki yang dicintainya. Bagaimana mungkin dia bisa pingsan disaat-saat seperti itu, kini dia menggantungkan kebutuhan pelepasan Ji Jeong, dia tak bisa memaafkan dirinya.

Meski Ji Jeong adalah laki-laki yang sangat perngertian, namun mungkinkah laki-laki itu sanggup untuk menahan semua cobaan ini? Ketika tak lama lagi dia seharusnya mendapatkan pelepasan gairahnya, Jung In justru meninggalkannya, pingsan..dalam hujaman laki-laki itu.

“Ayo..kita lakukan lagi, sekarang” kata Jung In setelah meredakan tangisnya. Dia menatap wajah Ji Jeong dengan berkaca-kaca.

“Jung In.. Jangan memaksa dirimu, ada kalanya kita harus berhenti saat sudah tak kuat lagi.. Aku tak mungkin membuatmu pingsan lagi..” Ji Jeong tidak menyetujui permintaan Jung In. Ide yang menggoda itu tidak bisa diterimanya. Dia lebih mementingkan keselamatan gadis itu.

“Tapi aku menginginkannya, Jeong. Aku juga belum orgasme..iya kan?” bujuk Jung In lagi. Dia ingin meyakinkan Ji Jeong bahwa dia baik-baik saja, dan mereka bisa melakukannya lagi.

“Jeong.. Aku mohon..” pintanya memelas.

Ji Jeong tak tahu harus berbuat apa. Haruskah dia mengecewakan Jung In dan dirinya dengan menolak permintaan gadis itu? Atau sebaliknya, haruskah dia menerimanya dan beresiko menyakiti Jung In lagi?

“Jeong...please...aku sangat menginginkanmu..” Jung In memeluknya erat, memandang wajah Ji Jeong dengan wajah sedih tak ingin ditolak.

Ji Jeong menggertakan giginya. Keputusan yang sangat sulit, dia tak tahu apa yang akan dia sesali bila dia melakukannya atau bahkan tidak melakukannya.

Rahangnya mengeras, matanya berkabut. Kemudian dia memagut bibir Jung In, menindih gadis itu lagi dibawahnya. Tangannya menopang paha Jung In dan mengangkat kedua paha itu ke atas pundaknya.

Tangannya mengarahkan kejantanannya yang masih tegang kedalam vagina Jung In. Gadis itu mengerang tertahan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ji Jeong menghujam vagina Jung In dengan keras, menghujam tanpa ampun, keluar masuk rongga itu dan menimbulkan suara berkecipuk pertemuan paha mereka.

Dia mencium bibir Jung In, gadis itu meringis merasakan nyeri desakan kejantanan Ji Jeong pada tubuhnya. Namun dia menahannya, tangannya bergelung pada leher laki-laki itu, menerima semua janji yang Ji Jeong berikan padanya. Menunggu dengan setia pelepasan yang laki-laki itu janjikan untuknya.

Saat akhirnya Ji Jeong memenuhi janjinya, Jung In gelisah dibawahnya, mendesah, bergelinjang ke kiri ke kanan dan akhirnya meledak dibawah laki-laki itu. Dia merasakan ledakan cairan kenikmatannya terperangkap di dalam rongga kewanitaannya dan kejantanan Ji Jeong. Tubuhnya bergetar tak beraturan merasakan gelombang orgasme yang tiada tara. Lama gelombang itu menghantam tubuhnya, membawanya terpedaya dalam lautan asmara tak berdasar. Membuai tubuhnya dengan kenikmatan yang menghanyutkan sekaligus memabukkan.

Tak lama kemudian, Ji Jeong pun melepaskan seluruh cairan spermanya di dalam rahim Jung In. Menghabiskan setiap tetes cairannya diperas habis oleh dinding-dinding vagina Jung In yang menghisapnya dengan menyakitkan. Ji Jeong menegang diatas tubuh Jung In, tubuhnya keras dan kaku sambil sesekali menggoyangkan tubuhnya karena sensasi pelepasannya yang belum habis. Matanya terpejam rapat dengan ekspresi menyakitkan dari gelombang orgasme yang meninju seluruh tubuhnya hingga jantungnya berdebar melebihi batas yang diizinkan jantung manusia untuk berdetak dalam satu menit.

Saat tubuh mereka sama-sama mengendur, Ji Jeong roboh diatas tubuh Jung In. Keringat membanjiri tubuhnya, menetes di dagunya dan jatuh di dada Jung In.

“Aku mencintaimu, Jeong..” kata gadis itu.

“..Aku juga sangat mencintaimu, Jung In.. malaikat kecilku yang manis.. aku mencintaimu.. sangat..” balasnya. Mereka kemudian berciuman dengan mesra.

Ji Jeong pun menarik keluar kejantanannya yang telah mengendur, merebahkan tubuhnya disamping Jung In, dan menarik selimut untuk mereka berdua. Dia tak punya tenaga lagi meski hanya sekedar membersihkan tubuh mereka. Persetan dengan membersihkan tubuh, mereka bisa melakukannya besok.

Ji Jeong pun memeluk tubuh Jung In erat, mencium bibir gadis itu sekali lagi, dan mengucapkan selamat tidur padanya.

“Selamat tidur, manis.. tidurlah dengan lelap. Aku akan menjagamu, aku akan selalu melindungimu..”

Jung In melabuhkan kepalanya diatas lengan Ji Jeong, meringkuk dalam pelukan hangat Ji Jeong dan menerima perlindungan laki-laki itu untuknya.

Mereka pun terlelap selama delapan jam tidur yang nyenyak. Tanpa menyadari diluar sana matahari telah menyingsing tinggi dan mereka terbangun pada pukul enam petang. Terbengong-bengong dengan apa yang telah mereka lewatkan.


Percintaan pertama yang panas, yang menguras waktu dan tenaga, bahkan emosi dan menjatuhkan seorang korban..pingsan.. Ji Jeong tersenyum manis dalam tidurnya.

Ninth Drama - Chapter 29 
Ninth Drama - Chapter 25 

42 comments:

  1. Sistah,,,
    Pertama : photony kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen skali,,,
    Trutama yg chapt 28,
    Kedua : aku suka cara dirimu m'gantung chapt per chapt-nya,
    Ketiga : klimaksny mantaph,,,
    Adegan Jung In pingsan??? Bener2 m'buatku m'bayangkan sosok Ji Jeong yg sesungguhny,,,whuahahahahahaaaa,,,

    Over all,,, AKHIRNY GOOOLLLLLLL 3 - 2
    Met bobo sistah,,, met istrhat,,
    Ntar malam 11th drama yagh??? ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah.. gk jd tidur nih gara2 ada yg tereak2 golll.. sampe sampe si Hugi jg bangun.. hee.. heheheheh
      makasi cin. ini sbnrnya td gk mau aku kasiin chapter2 nya, tp ntr kepikiran malah ada yg nyari chapter yg gk keliatan. ya udah aku pasangin aja sembarang -per chapter ambil 8 page, nah kebetulan deh tu pasnya disana ahhahha..

      wkwkwk kok bs golnya 3-2?

      sosok ji jeong yg gmn nih? lagi telan--jang? wkkwkwkwkw

      makasi ya cin.. :kecup-kecup:

      Delete
    2. Iyalah 3 - 2,,,si Jung In 3,,si Ji Jeong 2,,,
      Whuahahahahaa,,,

      Emang ada picny Ji Jeong yg lagi nude??? Share aq donk,,,imel adja,,,
      Gimanaaa??? Lol

      Delete
    3. wkwkwkw gak ada... kl ada pst aku keep sendiri.. lol... wkkwwkwkkww...

      Delete
    4. Haish,,,yg bagus dstok ndiirii,,,
      Dirimu jahat,,, huhuhuhuuuu,,, #nangis di dada Hyun Jung,,

      Delete
    5. wkwkwkwwk... wah hyun jung ada yg suka jg lol

      Delete
  2. Comment dlu sblm baca
    new reader nih \'~'/

    langsung kepanasan....
    untung dluar lg ujan
    thanks ya.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah belum baca aja udah kepanasan sist.. jgn sampe kebanjiran ya sehabis baca ^^

      n makasi udah mampir.. met baca ^^

      Delete
  3. ya ampuuunnnnn *speechless*
    Jeong, kamu...........

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha kenapaa speechlesss cinnnn???? kastu donk..

      Delete
  4. holly molly guacamolly !!
    Its fucking hot !!!!!!!!
    :nyari kipas:
    Mba shinnnnnn asyik cinn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Guacamole???banyakin alpukatny yagh mbak Marry,,,pliiiiiissssss


      Aku suka skali itu,,

      Delete
    2. hahahah... makasi cin.. "just sayin' " :kedip-kedip:

      Delete
  5. mba shinnnnn *teriak pake toa mesjid sebelah*
    sumpah mba, suer aku deg2an bacanya.. Panas bener.. Speechless deh DAEBAKKKK

    ReplyDelete
    Replies
    1. pake toa pameran aj cin.. lebih gede.. ahhahaha

      hehe makasi ya sist ^^

      Delete
  6. panasssssssssssss,,,,,
    serasa masuk oven deh,,,
    untung skarang hujan,,,,
    #membayangkan jeong dgn ukuranny yg bikin jung in pingsan,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kan dah dikirimin kemarin cin.. foto anunya jeong.. hauhauaha

      Delete
    2. hehehe,,,
      tp kliatanny lebih besar lgi deh,,,lol

      Delete
    3. aih kok tau sih??? pernah bandingin ya? hihiih

      Delete
  7. Hahaha,,,cm bs terbengong2..gmn nyariii plampiasan skrg?? LOL wakakakakak...
    Yupz stuju sm Mba Ris,,untung dpost lgsg klo g pd galau sm cr mtong per chapterny.. Xixixi,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha jgn bengong vie.. ayo gerak.. ngapain gitchu... ntr kesambet lhoo kl bengong2.. ^^

      Delete
  8. panas,deg2n,widih mantab mba.bleb ny itu loh juara,wkakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.. suara apaan tuh sist bleb?

      Delete
  9. mana mba shin? koq aq g dkrmin anu nya,lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba minta riska sist.. di aku dah kehapus ^^

      Delete
  10. Untung baca yah sendirian di rumah coba kalau ada orang yang lewat nanti aku di sangkain orang gila lagi senyum-senyum,cengar-cengir sendiri mba shin !
    ◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ yah mba shin udah bikin aku gila-gila sendiri saat pegang hp ku yang hampir ngangur ini ! ◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah... syukur yah bisa bikin sist cengar cengir hehehe .. makasi kembali sista.. udah baca2 cerita disinni.. :hug:

      Delete
  11. like this very much mba,,,,
    bener2 kasih kita yg terbaik,
    makasih mba,,,

    kasihan jung in sbenarnyaa saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin.. makasi banyak sist.. komen2 seperti ini yg bikin aku selalu semangat buat ngetik lg ahahaha.. :peace:

      Delete
  12. astaga naga bonar jadi tiga..
    o em jiiiiiiiiiiiiii...
    keep it cool
    keep it cool
    (ala DIan Sastri ketemu Rob)
    hehehehe..
    mbak shiiiiiiiiiiiiiiinn....
    sebesar apakah perkututnya Hyun Jae sampe bikin pingsan Jung In??
    *PLAK!! GEDEBAk!! Gedebuk!!!*
    hihihi, piiiisss...
    munatep habis mbaaaaakk.... Hot nya dapeeet, lembutnya juga dapeeet, sayang juga dapeet, sweeet nya sekalian ikutaaan..
    kyaaaaaaaa... Jung In pasti hbs ini minta lagi nih, tp jgn sampe pingsan lagi ya Jung in sayaaang..
    kasihan Mas Jeong mu.. hehehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. merry ati2,,,,
      udah jatuh tuh, bangun cepet nti disapu jeong loh hehehe

      Delete
    2. sabar merr... itu Ji Jeong bukan Hyun Jahe... waduh, bs2 Jeong ngamuk2 kl Jung In dimasukin perkututnya Jahe... ahahhahahaa

      Delete
    3. lagsung ngakak baca komennya mba shin ini,,,

      Delete
    4. hehhee.. abis Merry saking nepsongnya nyebut2 Jahe.. kasian Jahe disebut2 dimana2.. dia pan dateng gk dianter pulang gk dijemput.. capek ntr yg ada ^^

      Delete
    5. kyaaaaaaaaaaa.. salah tulis, maksudnya itu perkutut Ji Jeong..
      astagaa, maafin aku Jeoong, jgn disapu ya akuuu...
      piiiiiiiiiiiiiisss

      Delete
  13. Ampun dech Hot Πγª. Itulah keuntungn Πγª punya pacar lbh dewasa jdi ga prlu belajar lgi tpi di ajarin. Heheh..... Smpe hrs nyari blower nich. Heheh. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Shin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhahaa... setuju sist.. lol... wah, kl blower kan tambah bikin panas sist??? lol

      Delete
  14. wewww.. kapan di lanjutin lagi??..
    bener ya lama banget perjalanannya :D sampe 3 chapter dan itu itu sampe pingsan segala >.< saking sioknya.. kocak ya.. kyaaa.. ji jeong i love youu *diplototin jung in* *lalu kabur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaa... besok ya cin.. biasanya sih sehari 2 chapter.. tp itupun kl dah dpt ngetik. ceritanya fresh from the laptop.. lol.. ini yg ninth drama sambungan dari eight drama sist, jd kl gk baca yg eight sebelumnya mgkn rada2 bingung, krn ntr plotnya bakal ngikutin tokoh2 sebelumnya. ehhehehehe :promosi:

      Delete
  15. aku udah baca kok mba yang pertamanya itu fokus sama ji han sama jung min kan? hihi.. kesel banget sama jung min awal2nya itu gengsi tingkat tinggi >//< kasian sekali ji han tapi untungnya happy ending :D
    aku juga udah baca yang my last autum, cuma yang lainnya belum :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha wah.. ternyata.. ehhehe.. sip sip sip... makasi ya sist udah baca2.. kwkwkwkkw :mwah:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.