"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, January 6, 2013

Ninth Drama - Chapter 30



“Aku berangkat dulu, kamu baik-baik disini ya, hubungi aku bila ada yang kamu perlukan, aku akan pulang pukul sembilan malam tepat. Bila aku belum pulang, hubungi aku, ya?” kata Ji Jeong pada Jung In yang mengantarkannya di depan pintu apartemen gadis itu.

Ji Jeong akan berangkat ke tempat kerjanya dari apartemen Jung In, ini adalah kali pertama dia berangkat ke tempat kerjanya dari sini. Mungkin dia akan terbiasa melakukannya setelah hari ini. Ji Jeong tersenyum memikirkan kemungkinan untuk tinggal seapartemen dengan Jung In.


Jung In mencium bibir kekasihnya itu sebelum dia melambaikan tangan padanya. Tersenyum menatap punggung Ji Jeong yang berjalan masuk ke dalam lift. Laki-laki itu melemparkan sebuah ciuman dengan telapak tangannya pada Jung In, yang diterima dengan senang oleh gadis itu.

Seharian Jung In habiskan untuk membersihkan kamarnya, bunga mawar pada ranjangnya yang terinjak-injak oleh berat tubuh mereka saat memadu kasih menimbulkan warna-warna merah diseluruh seprai putih itu. Kemudian mata Jung In tertumbuk pada warna merah lain yang menyita perhatiannya.

Warna merah darah, darah perawannya yang menetes hasil hubungan intim mereka yang telah mengering. Jung In tidak pernah tahu bila wanita akan mengeluarkan darah bila mereka berhubungan intim, seorang teman sekolahnya dulu menceritakan padanya saat dia melakukan hal itu dengan pacarnya, namun temannya itu tidak pernah menyinggung tentang darah saat pertama mereka melakukan hubungan.

Mungkinkah setiap wanita berbeda? Jung In mengangkat bahunya, tak ingin memikirkan hal itu lebih lama. Yang dia ketahui adalah, Ji Jeonglah laki-laki pertamanya dan akan menjadi laki-laki terakhirnya pula..

“Apakah aku harus menyimpannya? Sebagai kenang-kenangan?” pikir Jung In geli.

Akhirnya dia memutuskan melipat seprai putih itu dan meletakannya di dalam lemarinya. Entah mengapa dia ingin melakukannya, mungkin baginya seprai itu adalah satu hal yang menyatukan dirinya dengan Ji Jeong selain cinta mereka. Dia akan menyimpannya selama seminggu? Mungkin sebulan? Setahun? Atau seumur hidup? Hanya Jung In lah yang tahu.

~~~~

Ji Jeong kembali ketempat kerjanya, mandor bawahannya mengabarkannya tentang kemajuan terbaru proyek mereka. Untungnya semua telah dikerjakan dengan baik meski Ji Jeong tidak berada disana mengawasi. Eun Suh cukup membantu mengatur kekurangan yang telah ditutupi oleh bawahannya.

Wanita itu menghampirinya, membawakan segelas kopi seperti biasa untuk Ji Jeong. Dia kemudian duduk di sebuah kursi diseberang laki-laki itu.

“Kamu tidak bekerja kemarin, kemana?” tanyanya memulai percakapan mereka.

“..Aku ada keperluan mendadak” jawabnya singkat. Ji Jeong sedang memeriksa file-file barang yang akan dikirimkan hari ini oleh supplier.

“Oh ya? Kemana?” tanyanya lagi.

“..Aku tak ingin membicarakannya” Ji Jeong mencoba tersenyum menanggapi pertanyaan-pertanyaan Eun Suh. Entah mengapa dia merasa wanita ini mulai mengganggu privasinya.

“..Maaf.. Aku hanya mencemaskanmu.. Tak ada maksud lain..” Eun Suh mencoba membalas senyuman Ji Jeong. Wajah wanita itu meringis.

“Tidak, akulah yang harus meminta maaf. Aku terlalu keras padamu. Aku tahu kamu mengkhawatirkanku. Maaf.. Kutraktir makan siang?” Ji Jeong mencoba mengembalikan suasana hangat diantara mereka.

“Ide bagus.. Sudah lama aku tidak dibayar makan oleh orang lain” wanita itu tertawa renyah.

Mereka pun tertawa bersama. Seorang pekerja proyek mendekati Ji Jeong. Mengabarkan sesuatu padanya.

“Manajer Lee, ada seseorang mencarimu. Dia mengatakan dia adalah teman baikmu. Dia sedang menunggu diluar” kata pekerja itu.

“Teman baikku? Siapa?” tanya Ji Jeong pada dirinya, dia merasa memiliki begitu banyak teman baik hingga tak tahu teman baik mana yang dimaksud oleh pekerjanya.

“Hai, Ji. Kamu merindukanku?” suara berat seorang laki-laki terdengar dari pintu masuk kantor Ji Jeong. Otomatis ketiga orang itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Memandang pada laki-laki muda yang berdiri dengan percaya diri dan sebuah senyum menggoda di bibirnya.

“Hah?? Kim In? Kamu di Seoul?” teriak Ji Jeong pada temannya itu.

Mereka kemudian berpelukan hangat, saling menepuk punggung dan menanyakan kabar masing-masing.

“Apa kabarmu? Apa yang membawamu ke Ibukota? Duduklah. Eh, kenalkan, kolegaku. Nona Bae Eun Suh, lajang. Eun Suh, kenalkan, sahabat baikku, Kim In. Dia adalah rekan kerjaku dulu” Ji Jeong pun mengenalkan Kim In pada Eun Suh. Mereka berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.

“Bae Eun Suh..” kata Eun Suh, menyambut tangan yang disodorkan Kim In padanya.

“Kim In, hanya dua kata, namaku” dia mencoba menyunggingkan senyum menggoda pada wanita itu.

Mereka kemudian duduk dan berbicara tak tentu arah, hingga Ji Jeong memutuskan sudah waktunya makan siang.

“Kamu mau makan bersama kami Kim? Aku dan Eun Suh akan makan siang bersama, aku yang traktir” katanya.

“Oh ya? Tentu saja. Aku suka makanan gratis dan hal-hal gratis lain” Kim In tertawa mendengar leluconnya sendiri.

Kim In bukanlah orang miskin, laki-laki itu kaya, kaya raya. Dia bisa saja melanjutkan jejak ayahnya menjadi konglomerat pertambakan udang terbesar di Korea, namun dia memilih untuk menambah pengetahuannya dengan bekerja dibawah Park Jung Min, Presiden Direktur dari Park Korea Mill Industry & co. Saudara ipar Ji Jeong, suami dari adiknya Ji Han, kakak kandung dari kekasihnya Jung In. Hubungan kekeluargaan yang cukup membingungkannya.

Ji Jeong tiba di depan pintu apartemen Jung In tepat pukul sembilan malam. Tangannya terlipat dibelakang punggungnya, menyembunyikan seikat bunga mawar merah yang dia khusus pilihkan sendiri untuk malaikat kecilnya, untuk kekasih hatinya.

“Kamu sudah pulang..” sambut Jung In gembira. Gadis itu mengenakan celemek berwarna merah muda dengan gambar stroberi dan panda. Dia sedang memasak makan malam mereka.

“Ya.. aku sudah pulang. Ini untukmu..” kata Ji Jeong sambil memperlihatkan bunga mawar yang disembunyikannya sedari tadi.

Jung In terpesona melihat rangkaian bunga mawar indah yang dibelikan Ji Jeong untuknya. Diapun memeluk tubuh laki-laki itu dan menghadiahkan sebuah ciuman panas yang berlangsung cukup lama didepan pintu apartemen itu.

Ji Jeong mengatur nafasnya saat berkata pada gadis itu.

“Bila kita tidak segera menghentikan ciuman ini.. Masakanmu akan gosong diatas kompor..” nampaknya hidung Ji Jeong membaui masakan yang hampir gosong dari dalam apartemen. Jung In berteriak dan berlari bergegas sambil meringis karena selangkangannya yang masih menimbulkan rasa nyeri saat dia berjalan.

Ji Jeong mengikutinya dari belakang dan tersenyum geli, mengingatkan gadis itu untuk berhati-hati.

“Jangan berlari.. Nanti kamu jatuh..” katanya saat menutup pintu dibelakangnya.

Ji Jeong menyampirkan jasnya di atas kursi, melepaskan dasi dan sepatunya dan menyusul Jung In ke dapur.

“Kamu masak apa? Aromanya membuatku lapar” Ji Jeong berdiri disamping Jung In yang sedang menuangkan masakannya ke atas piring.

“Aku tidak tahu namanya, aku mencampurkan daging dan sayuran dan menambahkan beberapa bumbu. Mungkin tidak enak?” tanya Jung In khawatir.

“Haha.. Pasti enak.. Apapun yang kamu masak untukku.. semuanya enak, karena kamu memasaknya dengan cinta..” Ji Jeong mencuri sebuah ciuman dari bibir Jung In.

Gadis itu merengut karena Ji Jeong menghalangi jalannya menuju meja untuk meletakan makanan mereka.

Ji Jeong tertawa mengikuti Jung In membawa makanan ke atas meja. Dia menarik-narik ujung celemek gadis itu.

“Ya!! Lee Ji Jeong, kamu usil sekali” bentak Jung In galak. Ji Jeong menarik celemeknya hingga melorot.

“Bukan begitu.. Aku ingin mandi dulu, boleh?” tanyanya berlagak bloon.

“Kamu.. sungguh menggemaskan. Mandi sana, yang bersih” Jung In mencubit pipi Ji Jeong gemas. Mengecup ujung hidung laki-laki yang dicintainya itu.

Ji Jeong berlari ke dalam kamar Jung In setelah berhasil mencuri sebuah ciuman lagi di pipi gadis itu. Jung In merengut, namun senyumannya muncul kemudian.

Dia merasa sangat bahagia, hidupnya begitu sempurna. Laki-laki yang dicintainya kini tinggal bersamanya, menghabiskan waktu bersama, memasakkan makanan untuknya, melayani makannya, bercengkerama dengannya, bersenda gurau dengannya, berkeluh kesah dan mencurahkan isi hatinya pada laki-laki itu, meletakan kepalanya diatas dada Ji Jeong dan terlelap dalam pelukan hangatnya setelah percintaan mereka yang tak pernah membosankan. Jung In merasa dadanya dipenuhi oleh kebahagiaan yang tak akan ada habisnya.

Ninth Drama - Chapter 31 
Ninth Drama - Chapter 29 

25 comments:

  1. Replies
    1. ntr jam 6-an lg 1 chapter yg 9th drama ya sist. ;)

      Delete
  2. Jeoong, Jung In
    nikah gih buruan yaaaa...
    udah cuocok ituuu...
    ayoo, nnti jgn lupa undang2 aku yaaaa..
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaahaha kata jung in "ayokkk sapa tatutt..."

      Delete
  3. Mbak shin.. Yg eleventh drama msih blm ad lnjutanny ya?:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntr cin jam 10 malam 1 chapter okeh okeh? ^^

      Delete
    2. Kok cma 1 mbak? Krg nih.. Bgian hotny bkan?^^
      Klo bgian hotny 3 dong kyk yg ninth ini..;;)

      Delete
    3. hahaha.. bukan... hotnya dah lewat.. hehhee. iya cin 1 aja cukupp... lol

      Delete
  4. co cweet co cweet.. G sia2 nyogok mb shin dg sgerobak kue, hihi
    mdah2n eun suh jadian ma kim in so g da yg g3uin ji jeong lg dh..*bkin alur sndiri*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha lagi donk sist.. gerobaknya.. eh kuenya... hiihihih....

      udah ada sih rencana buat eun suh vs kim in, cuman msh mau dikembangin dl konfliknya. ahahaha

      Delete
  5. jeng jeng satu lagi cowo ganteng datang hha
    selama datang kim in ssi hha
    ji jeong co cweet hhe
    mba, usul dong boleh? Bikinin side story nya kim in eun suh dong hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... boleh.. sip sip sip. kita lihat nanti ya ;)

      Delete
  6. asik,sdh da jdwal :* peluk mba shin.keep writing my fav author,bkn panas,galau,hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. makasi Renaa... muahhhh...

      Delete
  7. Cieehhhh nyanggg lg pcrn dunia srasa milik berduaaa,,wakakak.. Bikiiinn iriii ajja,,hukz..hukz..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe begitulah.. tai kucing pun rasa coklat katanya...

      Delete
  8. kak shin.. salam kenal
    baru beberapa hari ini buka blognya.. lgsg jatuh cinta.. heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga Kireina..

      hehe makasi ya kunjungannya, semoga suka selalu dengan cerita2nya disini ya sista :peluk hangat:

      Delete
  9. salam kenal buat semua.. ikutan gabung komen nie

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan silahkan... yg banyak jg gpp cin.. ^^

      Delete
  10. @leli : setujuuuuuuuuu....
    kl mba shin cape kita temenin.... leli pijitin mba shin ; aku maen sama hugiiiiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. pijetin donk cin... bahu eike pegel nih...

      Delete
  11. kan dah da leli, mba yg mijitin,,,
    aku itu jatahnya main sama hugi hehehe....

    ReplyDelete
  12. Yayayayayaaa,,,,2 mbakku t'saiank bgadank smpe pagi,,aq tepar duluan,,
    Hmmmm,,,Aku takutny saat mreka ngrasa mantaph utk b'sama banyak pihak yg ntar takkan suka,,,utamany si So bin sialan itu,,
    pastiny bila Jeong sakit,,aq juga pasti ngrasa sakit,,secara Jeong sdh m'jadi bagian hidupku yg telah kurelakan dg tdk ikhlas sama skli kpd Jung in,,
    Sistah,,,tolong jgn dpisahkan mreka b'2,,klo pun akhirny b'pisah, biarlah maut saja yg melakukanny,,,bisa kan???

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.