"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, January 6, 2013

Ninth Drama - Chapter 31



Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tak terasa sudah dua bulan mereka bersama. Sabtu sore nanti, Ji Jeong dan Jung In akan kembali ke Ulsan, mengunjungi keluarga mereka masing-masing setelah dua bulan lamanya tak berjumpa. Ji Jeong merindukan ibunya, merindukan adiknya dan calon keponakannya yang kini berusia empat bulan dalam kandungan ibunya.

Dia juga akan menemui keluarga Jung In, ibunya Nyonya Park dan kakaknya Park Jung Min untuk memberitahukan hubungan mereka kepada keluarganya. Ji Jeong yakin keluarganya sendiri tak akan mempermasalahkan hubungannya dengan Jung In, namun tidak demikian halnya dengan keluarga Park.


Mereka akan terkejut bila mengetahui dia sedang mengencani anak bungsu keluarga itu.

Ji Jeong hanya berharap, apapun yang terjadi meski seburuk apapun itu, hubungannya dengan Jung In tidak akan sampai mempengaruhi hubungan Ji Han dengan suaminya Jung Min.

Meski Ji Han sangat mencintai suaminya itu, namun dia lebih memilih untuk menderita tanpa laki-laki itu daripada melihat kakaknya menderita. Ji Jeong begitu mengenal adiknya dengan baik. Namun Ji Jeong tak ingin hal itu terjadi, dia akan berbicara dengan keluarga Park sebelum mereka mengetahui hubungannya dari pihak luar.

Ji Jeong teringat pada laki-laki yang hampir memperkosa Jung In, laki-laki yang dihajarnya hingga babak belur. Dia belum mendengar kabar lagi mengenai laki-laki itu, dia juga tak ingin menanyakan hal itu pada Jung In, gadis itu tentu akan sedih bila dia menyinggung masalah itu lagi.

Semalam, mereka melakukannya lagi. Jung In sudah dapat menikmati hubungan cinta mereka, dia tak berteriak kesakitan lagi, bahkan tubuh gadis itu ikut bergoyang dibawahnya, mencari pelepasannya sendiri dengan menggoyangkan tubuhnya dengan liar dibawah Ji Jeong.

Ji Jeong juga memberikan Jung In kesempatan untuk bergerak diatas tubuhnya sesuka hatinya.

Awalnya gadis itu malu-malu bergerak naik turun diatasnya, namun seiring makin nikmatnya sensasi yang diberikan kejantanan Ji Jeong pada bagian kewanitaannya, Jung In dengan cepat menggerakan pinggangnya maju mundur diatas pangkuan Ji Jeong.

Seolah dia menunggangi kuda dan menggesek-gesekan pantatnya pada sadel yang didudukinya, hanya bedanya sadel itu bukanlah sadel kulit binatang melainkan kulit manusia yang bernama Lee Ji Jeong, dengan kejantanannya yang berdiri tegak didalam rongga kewanitaan Jung In.

Mereka melakukannya tiga kali semalam, Ji Jeong mengingat kembali percintaan mereka yang panas dan berapi-api. Desahan dan erangan mereka mengiringi penyatuan tubuh yang maha luar biasa itu.

Sesi pertama, mereka melakukannya secara konvensional dengan memakai gaya tradisional, Jung In dibawahnya dan Ji Jeong menghujamkan kejantanannya dari atas tubuh gadis itu.

Sesi kedua, Jung In mengambil alih tongkat kendali percintaan mereka. Menggerakan tubuhnya dengan penuh gairah diatas tubuh Ji Jeong. Bergerak naik turun, maju mundur, memutar, bergoyang ataupun menghujam dengan keras kemaluannya pada kejantanan Ji Jeong yang tak lepas-lepas dari vaginanya.

Dan terakhir, pukul lima pagi, Ji Jeong terbangun karena merasakan kejantanannya mendesak ingin dipuaskan lagi. Jung In sedang tidur terlelap, namun gadis itu terbangun karena merasakan desakan kejantanan Ji Jeong pada pantatnya. Laki-laki itu menginginkannya.

Meski matanya tetap terpejam, Jung In memberikan Ji Jeong memasuki tubuhnya, membiarkan laki-laki itu memberikannya orgasme dalam keadaan setengah tidurnya. Mereka berciuman setelah semua itu selesai.

Dua jam kemudian, Jung In merapikan dasi yang terpasang pada kerah leher Ji Jeong, memperbaiki penampilan laki-laki yang dicintainya itu sebelum mengantarkannya berangkat bekerja dari pintu apartemennya.

“Hati-hati.. Kamu harus pulang pukul lima sore.. Kita tidak boleh pulang ke Ulsan kemalaman, ya?” kata Jung In sambil menepuk-nepuk jas yang dikenakan Ji Jeong. Mereka berdiri di depan pintu apartemen.

“Ya..tuan putri.. Aku mengerti” jawab Ji Jeong geli. Diapun memberikan sebuah ciuman pada bibir Jung In sebelum meninggalkan gadis itu untuk pergi bekerja.

Jung In dengan senang membalas ciuman Ji Jeong dengan panas. Dia tak akan pernah merasa cukup merasakan bibir Ji Jeong.

“Jung In?? Apa yang kalian lakukan?” suara kaget seseorang mengagetkan mereka juga.

Dengan refleks kedua insan itu melepaskan ciuman dan pelukan mereka. Jung In tertunduk malu, sedangkan Ji Jeong terbengong, menganga tak percaya. Mereka tertangkap basah.. Oleh Nyonya Park..

“Dan..kamu? Lee Ji Jeong? Kakak Ji Han?” kata Nyonya Park tak percaya.

Pagi ini dia baru saja tiba dengan penerbangan pertama dari Ulsan, hendak menjemput anaknya untuk kembali ke rumah mereka saat hari liburnya. Namun, dia tak menyangka menyaksikan pemandangan di depan matanya saat menginjakan kaki di lantai sepuluh gedung apartemen ini.

Besannya mencium anaknya dengan panas, dan dia menyadari Ji Jeong menginap di apartemen Jung In.

“Nyonya Park..” sapa Ji Jeong pelan. Otaknya berputar mencari alasan agar wanita itu tidak berpikir yang bukan-bukan.

Namun kepalanya kosong, hanya kepanikan dan kebingungan yang memenuhi isi kepalanya. Jung In masih tertunduk malu disampingnya, menatap kebawah, pada lantai yang tak bergeming.

“Apa yang kamu kira sedang kamu lakukan, Tuan Lee Ji Jeong?” nada suara Nyonya Park tinggi melengking. Dia nampak marah.

“Aku.. Kami berdua adalah sepasang kekasih, Nyonya Park”

Nampak Nyonya Park membelalak terkejut. Wajahnya pucat, air mukanya mengeruh.

“Apa kamu bilang?!” tanya Nyonya Park lagi.

Ji Jeong mengetatkan rahangnya, jantungnya berdebar kencang. Dia bertekad mengatakan semuanya sekarang.

“Kami saling mencintai, Nyonya. Aku mencintai putrimu, Park Jung In” jawab Ji Jeong mantap.

“PLAKK!!” wajah Ji Jeong terpental ke samping. Pipinya memerah dan nyeri, nampak bekas tamparan tangan Nyonya Park pada pipinya.

“Ibu!! Apa yang kamu lakukan pada Jeong?!” teriak Jung In histeris. Dia memegang tangan ibunya agar tidak menyakiti kekasihnya lagi.

“Aku tidak menyangka kamu akan mendekati anakku, Lee Ji Jeong. Dia masih kecil, dan kalian sudah tinggal bersama? Apa yang kamu pikirkan?! Kamu menyukai anak kecil?” bentak Nyonya Park marah. Telunjuknya menuding-nuding wajah Ji Jeong yang tertekuk terluka.

“Kuperingatkan! Bila kamu mendekati Jung In lagi, aku akan memberitahukan pada ibumu atas kelakuanmu ini. Kita lihat apa pendapatnya mengenai hal ini!” Nyonya Park menarik tangan Jung In ke dalam apartemennya, meninggalkan Ji Jeong terguncang diluar pintu yang menutup dengan keras.

Terdengar jerit tangis Jung In di dalam apartemen itu yang meronta-ronta untuk dibebaskan oleh ibunya. Namun wanita itu semakin memarahi Jung In dan mengurungnya di dalam kamarnya, menguncinya hingga gadis itu tak bisa bertemu dengan Ji Jeong-nya lagi.

Teriakan dan tangisannya yang menyayat hati tak menggugah hati ibunya, wanita itu menelephone beberapa orang yang dimintanya untuk membereskan masalah ini.

“Jung Min.. Ibu ingin memberitahukanmu sesuatu” katanya didalam telephone.

Sementara di luar pintu itu, Ji Jeong masih berdiri terpaku pada lantai. Masih dalam posisinya yang semula. Tertampar wajah dan hatinya. Ketakutannya terbukti sudah, hubungan mereka tak semudah impiannya atau impian Jung In.

Hatinya menangis darah, kebahagiaan yang baru direngkuhnya kini dirampas paksa dari dirinya. Menghancurkannya perlahan-lahan dari dalam dan memusnahkan impiannya bersama gadis yang teramat sangat dicintainya itu.

Ji Jeong bertekuk lutut diatas lantai, air mata mengalir dipipinya. Tangis bisunya tak terdengar, hanya mata nyalangnya yang bergerak kesana kemari tanpa arah. Mengerang kesakitan, sakit hati yang membuat jiwanya melayang terhempas kebawah jurang terdalam. Dia harus kuat, dia harus memperjuangkan cinta mereka.

Ji Jeong kemudian bangkit dari atas kakinya, berdiri tegak dan mengusap air mata dipipinya. Menarik nafas panjang dan beranjak dari tempat itu. Dia tak ingin mengganggu Nyonya Park sekarang, wanita itu sedang emosi dan mendebat semua perkataannya tak akan membuat dia menyetujui atau menerima hubungan mereka.

Dia akan menunggu hingga wanita itu melunak barulah kemudian dia akan berbicara dengannya.

Sepeninggal Ji Jeong, dua orang laki-laki berseragam petugas keamanan mengetok pintu apartemen Jung In. Nyonya Park membukakannya dan mempersilahkan kedua orang itu masuk. Tak lama kemudian Jung In digotong dari sana dan dimasukan ke dalam mobil untuk diterbangkan keluar dari Seoul, jauh dari Ji Jeong tanpa sepengetahuannya.

Handphone gadis itu disita, nomer Ji Jeong pun dihapuskan dari handphone itu.

Jung In menangis menjerit-jerit memaki perbuatan ibunya yang menghalangi hubungannya dengan Ji Jeong.

“Aku membencimu, bu. Aku sangat membencimu! Kamu bukan ibuku!!!” teriaknya di sela-sela tangisnya.

Nyonya Park menyeka air matanya dengan sapu tangan, namun bibirnya terkunci tak mau membalas satupun perkataan Jung In.

Pesawat membawa mereka semakin meninggi diatas awan Kota Seoul, Jung In memandang kebawah melalui jendela pada jalanan dan gedung-gedung dibawahnya. Mencari-cari gedung tempat Ji Jeong bekerja, dengan putus asa memandangi satu per satu gedung yang dilihatnya, namun tak ditemukannya tempat laki-laki itu bekerja.

Tangisnya semakin deras jatuh di pipi, untuk terakhir kalinya pun dia tetap tak bisa melihat laki-laki yang dicintainya lagi.

Ninth Drama - Chapter 32 
Ninth Drama - Chapter 30 

29 comments:

  1. mba shin huhu sakit hati aku bcanya
    jangan bilang ibunya jung in dapet laporan yg ngga2 dari si so bin jelek, menjengkelkan *emosi n suka nebak2 sendiri*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... sabar cin... mwah mwah.. sini tak peluk... cupcupcup..

      Delete
    2. kok jaat? baik donk. ni kan dah mau dipeluk.. :anggap aja dipeluk ama jeong: ahahhaah

      Delete
  2. huwaaaaaaaaaaaaa...
    kok nyonya park jahat begitu???
    Jeooong.... Jung In... bersabarlah, tunjukkan kalau kalian saling mencintai dan tak ada siapapun atau apapun didunia ini yg bisa memisahkan kalian berdua...

    hiks... mbak Shiiin, kegalauan di mulaaaai..

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheehe... iya kegalauan dimulai.. tp gk segalau fifth drama kyknya sist hmm..

      Delete
  3. wah....konflik yang sebenarnya baru muncul nih.
    bersiap2....1..2..3....ayo mbak shin mulai....
    hehehehehehe......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha bersiap.... gooo... ^^ makasi sista...

      Delete
    2. mbak.... drama 11th postingkan malam ini? ditungguin nih..
      ayo mbak semangat....^_^

      Delete
    3. hehe udah posting sist.. sorry agak telat.. ^^

      Delete
  4. whuaaaa, nyonya park kok kejam bgtz ci... Kcian jeong,cni nangis d pelukanq aja,, hehe
    mb shin dah ngeluarin juruz pmbuat galau nya nich. Aaaa,jgn lma2 y mb kelanjutannya,janji dh mau dkrimin grobak lg,2 biji,hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha kok gerobaknya mulu sist? lama2 aku buka toko jual bahan2 bangunan nih. lol... hehehhee...

      Delete
  5. ji jeong,,,,rebutlah hati nyonya park...
    ehmmm....

    harusnya jung min mengerti akan isi hati ji jeong..kan sama2 pecinta daun muda...wkwkkwkw....

    ReplyDelete
    Replies
    1. oo...iya mbak shin,,mau nanya,,tu covernya jo hyun jae saat berakting di 49days kan ya???*garuk2 kepala sambil mikir,,,lol

      Delete
    2. lol sama2 kambing ya sist?? jung min pan masih 27.. masih muda.. jeong udah 31. lol.
      yup yup u're right... itu dia di 49days.. jd Kang-ah.. ihiihihi... sini tak bantu garukin ^^

      Delete
  6. widih,galau.trbang kmana y mreka? :(( jeong keep fight y

    ReplyDelete
  7. Yaaa ampyuunnn,,yaaa ampyuunn...
    Wlwpun g tllu nge fans bgtz tp shock Ny Park bs bgtu...
    Jung In sih mksaaaa trz,,bgtu pan jdnyaaa...issshhhhh....
    Btw Mba Shin,,11th drama lbr yakz??#modus
    ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaha... 11th drama br aj akeluar vie.. br pulang nih dr makan malam :D td mau posting sebelum berangkat eh koneksinya semaput.. gk jd deh :(

      Delete
  8. aduh kok si nyonya pake ngelarang2 segala,kan kata dia gak masalah atas nama cinta gapapa :P atau mungkin karna umurnya ji jeong aja kali ya kek om-om -_- cinta gak mengenal umur nyonya :p
    ji semangat yaa... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. haihiahiahia... atas nama cinta... kurelakan... wkkwkw. iya nih jeong udah kyk om-om aja kl disandingin ama jungin.. lol...

      Delete
  9. Mbak.:'(:'(:'(
    Nyonyany jhat bgt..:'(
    Bwt nangis mlm2.. Jdi kyk ngersain pndritaan ji jeong n jung in :'(
    Chap brikutny d tnggu dgn tak sbar..:d

    ReplyDelete
  10. Baru juga dkoment dsebelah jgn dpisahin,,,ehh,,kjadian,,
    Well,,ntuh si Jung in mw dbawa kmana??
    Gimana ma kuliahny??
    Klo kuliah sih si Jung in ga pusing,,tp dpisahkan dari Jeong???hmmm,,,
    klo gitu,,,gini degh,,,
    Dear Lee Ji Jeong,,kembalilah pdku,,
    Bila kau b'samaq,,aq pasti takkan meninggalkanmu,,

    ReplyDelete
  11. Klo Jung In hamil... Ibu Πγª mau ga mau hrs mbri restu Πγª . Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... markilat.. mari kita liat.. hamil ndak ya?? lol hamil ndak sist? jung in nya maksudku..

      Delete
  12. Cup...cup...cup...jgn nangis jeong sayang sini tak bantuin melet nyonya park, beliin bunga tujuh rupa, ma minyak nyong nyong jgn lupa kemenyannya...
    Dtg ntar mlm jam 12 yack...nih kunci kamarku..kta ritual bareng"

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkkwkw... ritualnya malem2 ya sist? bunga2 buat ditabur diranjang? trus minyak nyong2 nya buat massage... menyannya buat aroma therapy.. wkkwkwkwkwkkww....

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.