"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, January 7, 2013

Ninth Drama - Chapter 32



Satu jam setelah kepergian Nyonya Park dari Seoul membawa Jung In, Ji Jeong kembali ke apartemen gadis itu dan memencet bell pintu. Namun berkali-kali dia memencetnya tak ada jawaban dari siapapun yang berada di dalam apartemen itu.

Ji Jeong mulai mengkhawatirkan kemungkinan yang tak pernah dipikirkannya. Dia pun menghubungi handphone Jung In dan mendapati handphone gadis itu tidak aktif. Berkali-kali dia menghubunginya namun sia-sia, telephone yang dihubunginya tak merespon sama sekali. Laki-laki itu semakin panik, dia berlari ke arah lobby menanyakan tentang keberadaan Jung In dan ibunya.


“Apa ada orang di apartemen Park Jung In?” tanya Ji Jeong pada petugas lobby apartemen.

“Maaf, tapi sekitar dua jam yang lalu mereka telah meninggalkan gedung ini, tuan. Nyonya Park dan anaknya dikawal oleh dua orang petugas berseragam, namun saya tidak tahu mereka pergi kemana” jawab petugas itu.

Ji Jeong tak mempercayai pendengarannya, Nyonya Park bertindak sejauh itu untuk memisahkan mereka. Apakah salah mencintai seseorang? Meski gadis itu adalah Jung In?

Mungkin bagi Nyonya Park, hubungan Ji Jeong dan Jung In salah. Dia melihat sosok Ji Jeong sebagai laki-laki dewasa yang semestinya bisa berpikir lebih bijaksana dan tidak mengencani seorang gadis remaja yang masih bau kencur dan bahkan tinggal bersamanya.

Perbuatan tak terpuji yang mungkin tak bisa diterimanya, terlepas anaknya yang lain juga melakukan hal yang sama pada seorang gadis berusia sama seperti Jung In. Namun dia bisa berkilah, jarak usia Jung Min dan Ji Han tak sejauh usia Ji Jeong dan Jung In.

Ji Jeong masuk ke dalam mobilnya, tak tahu harus mulai mencari Jung In kemana. Haruskah dia pulang ke Ulsan dan mencari gadis itu kerumah keluarganya? Karena dia tak yakin Nyonya Park akan menyembunyikan gadis itu disana, tak akan semudah itu kan?

Ji Jeong mengendarai mobilnya menuju bandara, mencoba mengejar bayang-bayang Jung In yang telah pergi dari kota Seoul. Dalam perjalanan handphonenya bergetar, dia mendapat sebuah panggilan.

“Halo?” jawabnya.

“Manajer Lee, saya mandor Go. Ada hal yang harus saya beritahukan pada anda. Anda harus ke lokasi konstruksi sekarang juga. Seorang pekerja terjatuh dari tingkat tiga gedung dan kini sudah dibawa kerumah sakit. Polisi datang meminta bertemu dengan anda” kata Mandor Go padanya.

“..Aku akan segera kesana” tutup Ji Jeong dan memutar setirnya menuju tempat konstruksi rumah sakit tempatnya bekerja.

Urusan pekerjaan dan kantor polisi menyita waktunya selama seminggu lebih, meski Presiden Choi membantunya, namun tak urung juga polisi menanyainya beberapa kali mengenai keselamatan pekerja-pekerjanya. Pegawai yang terjatuh itu kini sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani perawatan dirumahnya.

Disela-sela mengurusi permasalahan kerjanya, Ji Jeong selalu mencoba menelphone atau mengirim sms pada nomer Jung In, namun tak satupun yang tersampaikan. Nampaknya Jung In tidak menggunakan nomernya yang lama lagi.

Dia menunda kepulangannya ke Ulsan karena urusan pekerjaannya ini, pada ibunya dia berkata akan kembali minggu ini. Ji Jeong memutuskan akan mencari Jung In dirumahnya.

~~~~

Sabtu siang di Ulsan, Jung Nam baru saja sampai dirumah keluarganya. Dia langsung menuju meja makan dimana Jung Min dan Ji Han sedang menunggunya untuk makan siang bersama.

Jung Nam merasa sedikit cemburu melihat kemesraan Jung Min dan Ji Han. Kakaknya itu akan melayani istrinya dengan baik bahkan menyuapinya meskipun Ji Han menolaknya karena Jung Nam berada disana.

“Ehemm.. Ibu mana? Tumben tidak kelihatan. Jung In belum juga mampir ke rumah?” tanya Jung Nam pada Jung Min.

“Ibu ke luar negeri bersama Jung In, ibu memaksa agar Jung In pindah kuliah keluar negeri” jawab Jung Min sambil lalu, dia sedang mengupaskan kentang rebus untuk Ji Han.

“Ke luar negeri? Dan kamu tahu mengapa ibu tiba-tiba melakukan hal itu?” Jung Nam merasa sesuatu sedang terjadi antara ibunya dan Jung Min. Mereka mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui.

Jung Min terdiam, mencoba mengelak pertanyaan Jung Nam. Dia mengalihkan pembicaraan pada istrinya.

“Jadi kamu sudah tahu?” Jung Nam semakin mendesak kakaknya.

Jung Min memandang adiknya, meletakan pisau pengupas kentang di atas piring.

“Dan kamu tahu?” katanya tajam.

“Tidak dan Ya. Tapi aku tidak tahu apa yang kita bicarakan sekarang. Apa maksudmu?” Jung Nam menghentikan makannya. Mengelap bibirnya dengan napkin dan menunggu Jung Min menjawabnya.

“Kita tidak bisa membicarakan hal ini disini” kata Jung Min datar.

“Mengapa tidak? Kamu takut Ji Han akan tahu? Karena bila dia tahu, kamu pasti mati” Jung Nam mulai geram pada kakaknya. Dia tidak tahu apa yang telah dia lakukan akan menyakiti Ji Han dan dirinya. Begitu naifkah dia?

“JUNG NAM!! Aku memperingatkanmu! Jangan kamu coba-coba!” ancam Jung Min marah.

“Dan kamu akan melakukan apa? Menghajarku seperti dulu? Aku tidak takut. Kita membicarakan kebahagian adikku disini!” Jung Nam bangkit dari kursinya, menendang kursi dibelakangnya hingga terpental jatuh.

Jung Min menggebrak meja. Matanya membelalak pada Jung Nam.

“Hentikan.. Apa yang kalian ributkan? Ada apa? Kenapa dengan Jung In? Mengapa itu semua ada hubungannya denganku?” tanya Ji Han di kursinya, dia ingin berdiri namun perutnya yang besar menghalanginya.

“Ji Han..sayang.. Tidak ada apa-apa. Jangan dengarkan Jung Nam. Jung In tidak apa-apa, tidak ada hubungannya denganmu” Jung Min mencoba menenangkan istrinya.

Mata Jung Nam menyipit, kecewa dengan sikap Jung Min. Dengan marah dia meninggalkan tempat itu, namun tidak sebelum dia mengucapkan kata-kata saktinya yang membuat Jung Min mengepalkan tinjunya.

“Bila kamu tidak memberitahunya, aku yang akan memberitahu Ji Han”

Kemudian Jung Nam masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu, lalu keluar lagi dengan jaket kulitnya. Tak lama kemudian dia mengendarai motornya dengan kencang menjauh dari rumah kediaman keluarga Park.

Dalam perjalanannya dia menelephone Ji Jeong.

“Ya.. Lee Ji Jeong!! Apa yang telah kamu lakukan hingga membuat ibuku marah?!!” teriaknya di telephone.

Ji Jeong tak menyangka Jung Nam akan menghubunginya. Dengan lemah dia menjawab.

“Ibumu melihat kami sedang berciuman...dan aku menginap di apartemen Jung In..”

“Shit!!! Kamu gila?” bentak Jung Nam marah.

“...Aku tak tahu bila ibumu akan datang, kami berencana pulang ke Ulsan hari itu, namun ibumu pagi-pagi sekali sudah tiba di Seoul” Ji Jeong tak ingin terdengar mencari-cari alasan pembenaran tindakannya, namun dia sama sekali tak tahu harus menjawab apalagi pada Jung Nam.

“Jung In diluar negeri. Aku tak tahu bagaimana kamu akan membereskan masalah ini. Tapi kamu harus tahu satu hal. Bila kamu membuat adikku menangis, aku akan menghajarmu!!” Jung Nam kemudian mematikan handphonenya dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi.

Menerobos jalanan padat, membangkitkan adrenalinnya untuk melampiaskan kemarahannya. Kemarahan karena sikap keluarganya yang sama sekali tidak perduli dengan kebahagiaan Jung In.

Ji Jeong menghela nafasnya berat. Dia hendak berangkat ke Ulsan saat Jung Nam me-nelphonenya dengan marah.

“Jadi kamu ada di luar negeri Jung In? Bagaimana aku harus menemukanmu...” Ji Jeong menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Dia merindukan gadis itu, teramat sangat hingga dia tak tahu apa lagi yang ingin dilakukannya.

Ninth Drama - Chapter 33 
Ninth Drama - Chapter 31 

22 comments:

  1. Jung Nam,,,,kaka & sahabat yang hebat,,,
    & Jung Min akan stres bin frustasi memberitahukan hal ini kpada Ji Han,,,
    Sabar yagh Ji Jeong,,aku akan sllu m'dukungmu dlm suka & duka,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... iya.. jd jatuh cintrong am jung nam lg nih cin.. :hemm: ^^

      Delete
    2. setuju dengan mbak Riska, Jung Nam memang kaka dan sahabat yg baik..
      baginya kebagiaan adiknya yg paling penting, dia tidak secuek kelihatannya..

      Ji Jeong, berjuanglah, jgn mau dipisahkan begitu saja... FIGHTING!!!!!

      Delete
    3. Jatuh cinta ma Jung Nam??? No,,no,,no,,,eyke tetap ma Ji Jeong,,,klo Jung Nam mw,,dy jadi sli-ku adjah,,,,
      Gimana sistah???

      Delete
    4. kwkwkwkwkwwkw... Jung Nam mau katanya cin.. jd selimu.. lol

      Delete
  2. ji jeong..........kejar dan tangkaplah cintamu....*teriak pake toa hehehe (´ε` )♡

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata Jung In "catch me if you can" lol

      Delete
  3. Ji jeong kjar cintamu...

    Jung nam sip bgt..:d

    ReplyDelete
  4. @mbk shin : nanggung mbak.. Hiks..:'(
    Chapny kpan d post?

    ReplyDelete
  5. Huhuhuhuhu galau nich
    Kacian ji jeong.......
    Bener riska jung nam kaka n sahabat yg hebat....
    Mba shin ditunggu kelanjutannya ya
    Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheh sip sip.. ni br posting chap 32 sist :)

      Delete
  6. Jgn menyerah Ji Jeong... Wlaupn hrs mnyebrangi Samudra utk mengejar Jung in. Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe pasti cin.. demi cinta.. kan kukejar sampai dapat. lol

      Delete
  7. dr kmrn aku blg jgn nginep d apart nya jung in, sama aku.... ky gini deh jadi'a. ky'a aku perlu turun tangan nih menghadapi nyonya park hihihi belagunya aku hehehe

    ReplyDelete
  8. Kya Πγª Ɣªήğ bsa mbantu Ji Jeong cma Ji han dech.. Psti dia dpt restu dri Jung Min, klo dbujuk sma istri Πγª . Heheh.

    ReplyDelete
  9. Kya Πγª Ɣªήğ bsa mbantu Ji Jeong cma Ji han dech.. Psti dia dpt restu dri Jung Min, klo dbujuk sma istri Πγª . Heheh.

    ReplyDelete
  10. Kya Πγª Ɣªήğ bsa mbantu Ji Jeong cma Ji han dech.. Psti dia dpt restu dri Jung Min, klo dbujuk sma istri Πγª . Heheh.

    ReplyDelete
  11. Ternyata jung nam walaupun jaiiiil tp kmu kakak yg penyayang...
    Tolongin jung in ya..
    Biar ketemu jeong

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhahaa iya sist.. udah dibantuin kok

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.