"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 8, 2013

Ninth Drama - Chapter 35



Park Jung In POV

Dua minggu tanpa mendengar, melihat dan menyentuh Ji Jeong aku merasa hidupku telah menghilang dari tubuhku. Mengetahui kami begitu jauh terpisahkan rasanya tak bisa kutahan lagi kerinduan dalam hati. Tiada hari kulewati tanpa tangisan putus asa. Berharap Ibu akan berbelas kasihan padaku dan membawaku kembali ke Korea, bertemu dengan Ji Jeong.

Ibu sungguh kejam, dia merampas kebahagiaanku. Merenggut satu-satunya laki-laki yang aku cintai di dunia ini. Memisahkan hubungan kami tanpa memberikan kesempatan untuk membuktikan perasaan kami, bahwa kami saling mencintai dan sanggup menjalani hidup dengan baik. Cinta kami cukup untuk bahagia.


Ji Jeong mengerti aku, dialah laki-laki yang tepat untukku. Tanpanya, aku tak bisa hidup dengan senyuman dibibirku lagi. Jauh darinya sama dengan ditinggal mati olehnya. Kesedihan dan kesakitan hati ini, siapakah yang perduli..

Sudah berhari-hari aku tak menyentuh makananku, Ibu memaksaku namun aku tak memperdulikannya. Aku tak mau berbicara dengan Ibu lagi sebelum membawaku pada Ji Jeong. Aku akan tetap bergelung di atas ranjangku, meski aku akan mati, aku tak akan membiarkannya senang karena berhasil memisahkan kami.

“Jung In..” Ibu masuk ke dalam kamarku, membawa sebuah nampan berisi semangkok bubur, aromanya membuatku mual.

Akupun menutup hidungku dengan selimut. Belakangan aku merasa tubuhku lemas, bahkan kepalaku mulai pusing karena perut kosong tak terisi makanan.

Ibu meletakan nampan makanan itu di atas meja, menyentuh bahuku yang tak tertutup selimut. Berusaha membujukku untuk memakan bubur yang dibawanya. Aku tak menjawabnya. Ibu mendekatkan bubur itu pada hidungku.

“Ayo.. Jung In.. Makanlah.. Bila tidak, kamu akan sakit..” bujuk Ibu padaku.

Aku tidak mau, aku membenci ibu. Lebih baik aku mati daripada memakan makanan pemberiannya lagi.

“Ugh!! Jangan dekatkan makanan itu padaku, baunya tidak enak” teriakku lemah.

Air liurku mulai mengumpul di mulut, terasa pahit. Aku akan muntah..

Aku pun bangkit dengan tergesa-gesa ke kamar mandi, melemparkan selimut yang membungkus tubuhku, menghalau tubuh Ibu yang menghalangiku dan berlari menuju kamar mandi.

Kubuka keran air di wastafel, membungkuk dan mengeluarkan isi perutku. Sungguh menjijikan. Aku merasa seluruh isi perutku diperas, dipompa untuk dikeluarkan kembali. Kepalaku pusing, panas dan berdenyut-denyut. Setelah membersihkan mulut dan wajahku, akupun menangis. Mengeluarkan semua sakit hati dan tubuhku. Duduk memeluk kakiku diatas lantai kamar mandi. Menangis terisak, sesenggukan.

“Ji Jeong...” teriakku histeris.

~~~~

Lee Ji Jeong POV

Aku terbangun dari tidurku. Kepalaku berdenyut-denyut pusing. Aku seperti mendengar suara Jung In dalam kepalaku, memanggilku. Sudah dua minggu sialan, dan aku belum bisa menemukannya. Pikiranku kacau, pekerjaanku berantakan. Proyek pun tertinggal dari target yang harusnya telah kucapai dua hari lalu.

Aku bangkit dari ranjangku, membuka jendela kamarku. Namun pagi ini sama seperti pagi-pagi belakangan, aku tak pernah merasa lega lagi setelah menghirup udara pagi yang dingin. Rasa lega yang biasa aku dapatkan kini tak pernah mengisi hatiku lagi. Hanya rasa sesak di dada, merindukan dan mencemaskan Jung In.

“Bagaimana keadaanmu sekarang Jung In... Aku merindukanmu..sangat” rahangku mengeras. Emosi ini memenuhi dadaku, aku ingin menghajar seseorang, siapapun.

Tak perduli Jung Min, suami adikku, bila dia berani menceramahiku seperti itu lagi, aku akan menghajarnya. Hanya karena Ji Han berada disana waktu itu aku tak mau memukul mulutnya yang kurang ajar itu.

Ku hela nafasku panjang, mengingat kembali peristiwa seminggu lalu, saat aku mengantarkan Ji Han kembali ke rumah suaminya. Bila aku egois, ingin rasanya kupisahkan mereka. Sungguh egois, kan? Tsk!!

Seminggu lalu

Ji Han turun dari mobil, suaminya telah menunggu di depan rumah mereka. Jung Min menyambut istrinya dengan cemas, menggandeng tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam rumah. Aku kemudian memanggil namanya.

“Jung Min. aku ingin berbicara denganmu. Empat mata” kataku.

Jung Min mengangguk, ingin mengantarkan istrinya ke kamar sebelum berbicara denganku.

“Tunggulah di ruang kerjaku, kamu tahu kan tempatnya?” seolah aku tahu? Aku tak pernah berkeliaran dirumah ini? Bagaimana bisa aku tahu dimana letak ruang kerja Jung Min?

Aku tak menjawabnya, hanya melangkahkan kakiku ke dalam ruang tamu rumah itu.

Lima menit kemudian, dia turun dan menghampiriku. Mengajakku masuk ke ruang kerjanya yang tak jauh dari ruang tamu.

“Duduklah” katanya diplomatis. Aku pun menurutinya, menjatuhkan pantatku diatas kursi di depan meja kerjanya. Apa kita akan berbicara bisnis sekarang? Aku sudah merasa tidak menyukai arah pembicaraan kami. Dia tahu, dan dia masih berpura-pura dihadapanku? Sedikit kemarahan muncul dalam hatiku padanya, well..mungkin lebih dari sedikit. Karena aku tahu, dialah yang membantu ibunya untuk mengatur kepergian mereka ke luar negeri.

“Baiklah.. Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Jung Min padaku.

Beginikah? Haruskah berbasa-basi seperti ini? Saat kami sama-sama tahu apa yang ingin kami katakan? Rahangku mengeras, betapa ingin menghajar laki-laki di depan mataku ini.

“Kamu tahu mengapa aku kesini kan? Aku ingin menanyakan keadaan Jung In, dimana dia berada?” kataku langsung.

Dia hanya memandangku tajam, sorot mata dingin seorang Presiden Direktur pada bawahannya. Tinjuku pun mengepal.

“Jung In ada di luar negeri, dia melanjutkan kuliahnya disana. Ibu kami merasa itu yang terbaik” jawabnya datar.

“Terbaik? Terbaik untuk siapa? Untuk Jung In? Atau untuk kalian?” aku mulai tak bisa menjaga nada suaraku.

Sungguh sulit untuk menjaga ketenanganmu di depan laki-laki seperti Jung Min. Aku heran bagaiman Ji Han bisa tahan dengan laki-laki ini. Aku kira dia akan lebih bijaksana melihat permasalahan yang ada.

Dia memicingkan matanya melihatku, seolah tersinggung dengan perkataanku.

“Ibuku merasa itu yang terbaik untuk Jung In. Dia harus fokus pada kuliahnya, belum saatnya memikirkan masalah pacaran”

Astaga? Aku tak percaya pada ucapan laki-laki ini. Begitu munafik! Aku bahkan tak bisa berkata-kata lagi, tak tahu kata apa yang harus aku ucapkan untuk membalas perkataannya.

“Apa yang salah dengan mencintai seseorang?” tanyaku akhirnya.

“Apakah salah bila aku mencintai adikmu? Apa karena aku miskin? Apa karena aku terlalu tua? Apa karena aku tak pantas atau karena apa?” aku seperti pemuda yang merengek pada ayah kekasihku agar mengizinkan kami berpacaran.

“..Dia masih kecil, Ji Jeong. Mungkin sekarang dia menyukaimu, tapi bagaimana nanti? Bila kalian berpisah? Keluarga kita akan seperti apa jadinya? Bisakah kamu membayangkan apa jadinya bila kalian saling membenci atau tidak saling berbicara karena..karena kalian sudah tak bersama lagi? Dan apa yang akan dikatakan oleh keluarga kami bila melihat kalian bersama? Besanku dengan adik kandungku? Tentu tidak baik, Ji Jeong. Aku harap kamu mengerti”

Dia berharap aku mengerti? Bagaimana aku bisa mengerti bila akulah yang mengerti tentang hubungannya dengan Ji Han. Aku tak pernah menghalangi hubungan mereka, mengapa kini hubunganku dengan Jung In seperti ini? Tidak! Aku tidak akan bisa mengerti.

“Jadi maksudmu, kamu tidak merestui hubungan kami?” tanyaku tanpa berputar-putar dengan alasan-alasanku, aku sudah terlalu muak untuk berdebat dengan laki-laki ini.

“..Aku tidak berkata demikian, tapi kamu tahu..”

“Ya atau tidak?” teriakku. Bila dia lebih lama lagi berputar-putar dengan ucapannya, maka aku tak akan menyalahkan Ji Han bila dia membenciku karena tinjuku melayang pada wajah suaminya, walau aku tahu dia akan mengerti.

“Ji Jeong.. Kamu tidak memberikanku pilihan lain.. Aku..”

“Itu artinya tidak, kan? Maka tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Presdir Park” aku pun bangkit dari kursiku. Membungkuk untuk terakhir kalinya pada laki-laki di depanku.

“Aku pergi. Terimakasih untuk waktumu” aku melangkah ke pintu, membuka pintu itu dan pergi dari rumah kediaman keluarga Park tanpa berpamitan pada adikku.

Aku hanya ingin pergi jauh dari sini, aku tak ingin melihat rumah ini lagi.

~~~~

Aku menghela nafasku, seminggu belakangan ini aku telah menghubungi teman-teman kuliah Jung In, menanyakan pada mereka kabar yang mereka ketahui tentang Jung In, namun tak ada yang pernah mendengar tentang Jung In lagi.

Seketat itukah Nyonya Park mengurung Jung In? Mengapa dia bisa begitu tega pada anak gadisnya sendiri.

Setiap hari aku selalu berkunjung ke apartemen Jung In, berharap suatu hari dia akan membuka pintu itu dan menyambutku seperti biasa. Membohongi diriku bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan berlalu saat aku terbangun. Dan semuanya akan kembali seperti semula.. seperti saat sebelum Nyonya Park mengetahui hubungan kami..


Ninth Drama - Chapter 36 
Ninth Drama - Chapter 34 

30 comments:

  1. mudah2an Jung In hamiiiiiiiill
    jadi Nyonya Park ga bisa ngapa2in lagi
    dan Jung In bs bersatu bersama Ji Jeong..
    amiiiiiiiiiiiinn....

    ReplyDelete
  2. Owh,,jeong,,,,betapa malang nasibmu,,,

    Kembalilah kepadaku,,,pintu kamarku sllu t'buka lebar untukmu,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. :gasp: nyamuk cin?? hahahhhaa

      Delete
    2. :lol
      klo nyamuk mah tiap hari ngrongrong dkamar,,,hahahahahahhaaa..

      Beneran sistah,,,pintu kamarq sllu t'buka utk Jeong,,tp hadapi dulu dua bodyguardku,,hahhaahhaaaaa

      *sounds like Merry Elvira,,, :lol

      Delete
    3. hahhahahaa.. Jeong anti kekerasan cin.. kl gk terpaksa.. paling bonyok2 dikit kyk sobin. lol

      Delete
  3. tadi nangis sekarang esmosi. Ada org yg sukarela bwt aku pukul? Muak aku sama jung min. Apa bedanya coba dia sama ji jeong. Dasar argghhh pengen getok kpl jung min

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.... :kabur ah.. ntr jd sasaran xD

      Delete
    2. @leli : ada tembok kn, itu paling ikhas tpi sayang bukan org heheheh

      Delete
    3. hha mba fathy kalo sama tembok mah tanganku ntar yang bengkak kalo mukul org tuh ada kepuasan tersendiri kayaknya hha

      Delete
  4. Aduhhh,,,Ji Han hamil smg...biar Ny Park tauuu rasa...
    Seebeeelll sm Jung Min,,jd ilfeel sm dy,,munaaaaaaaa....
    Mksh Mba Shin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah ni vie jg sama kyk merry.. JI Han emang udah hamil vie... kl Jung In belum tahu.. :masuk angin aja paling tu, pan dah lama gak maem: hahaha...

      Delete
  5. Jung min munafik bgt! Dia sndri jga udh tua! Grrrrr..

    Smoga Jung In hmil!!! Biar tw rsa tu si nyonya park!

    Dia kn ga mngkin biarin ankny mndrita klo hrus hmil seorg diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha... good idea sist ^^ :hug:

      Delete
  6. Pria paling munafik ya sing jung min...pdhl pas dia mw ditinggal ji han, yg nganterin ji han plg si ji jeong...
    Ak penasaran, si ji han blg apa pas ji jeong pergi ga pamit...
    Hrsnya ji han g plg tuh biar tau rasa...egois!
    *loh kok emosi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahha.. sabar cin.. sabar.. ;authornya jd gak enak nih.. huahuahuaa: cup cup cup...

      Delete
  7. @mbak shin : d lnjut lgi dong mba..;;)

    11 drama jam 10 bru d post?

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah di post tadi cin.. hueuehueue...

      Delete
  8. maaakkk.. aku pengen nangis dan ketawa disaat bersamaan sist pas ji bilang apa karna miskin, atau karna dia tua -__- *pukpuk* ji jangan ngaku gitu donk ah >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaahaha.. kasian ya jeong.. lol

      Delete
    2. iya kasian, ji nyadar banget dengan keadaannya -,-

      Delete
  9. kalo menurut aku jung min terllu penurut sam emaknya, ia juga terlalu memikirkan segala sesuatu yang dipikirin orang lai, tapi dia jg mkrn jeong kok buktinya dia mkr "gimna kalo jung in cuma cinta sesaat sama jeong? secara jung in masih manja,,,

    heheheh beda sendiri, kabur ah takut ditimpukkin sma reader,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah gw suka gaya loe cin.. :mwah:

      Delete
    2. gaya apa mba??
      gaya dada apa gaya perut hahahaha

      Delete
    3. Jung Min dilema mbak Fathy,,
      jadi anak pertama itu berat,,#curcol
      smua2nya dia,,,
      whoaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,mamaaaaaa...kenapa sllu aku,,,

      #nangis disudut ranjang dtemani Hyun Jung,,

      Delete
    4. yeayyy riska sam jung, aku sama jae,,,,
      jadi kita ipar2n,,,,

      dilema itu buah yang kaya pome yah??

      Delete
    5. @fathy : gaya kodok aja dah
      @riska : hahahhaa..
      @fathy : wah wah.. dilema tu bukannya setelah empat ya?

      Delete
  10. Kya Πγª beneran Jung in hamil dech, tuch kn mulai mual2..... Sabar lah Ji Jeong sbentar lgi calon Ibu mertua mu meminta prtanggung jawabn mu. Heheh.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.