"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, January 9, 2013

Ninth Drama - Chapter 36



Third Person POV

Nyonya Park dan Jung In memasuki ruang periksa dokter di sebuah klinik bersalin di Makau, RRC. Selama ini Ibunya mengurungnya di negara ini.

Seorang dokter keturunan Inggris menyapa mereka dengan bahasa Korea fasih.

“Selamat siang, apa yang bisa saya bantu siang ini?” seorang dokter wanita berusia sekitar empat puluh tahun, Dr. Ross namanya.


“Siang, dokter. Saya ingin memeriksakan anak saya. Saya khawatir dia sedang..mengandung..” kata itu tercetus juga dari bibir Nyonya Park. Kata yang tak disangkanya akan dikeluarkannya juga saat anaknya baru saja berusia delapan belas tahun.

Dokter Ross menoleh pada Jung In yang duduk dengan gelisah di samping ibunya. Wajahnya menunduk memikirkan sesuatu. Dokter pun bertanya padanya.

“Apakah..nona.. Park Jung In..” tanya Dokter Ross sembari membaca salinan buku perawatan ditangannya.

“..pernah melakukan aktivitas seksual bersama seorang laki-laki? Dan kapan terakhir nona melakukannya?”

Pipi gadis itu bersemu merah, dia tidak ingin menjawab pertanyaan dokter itu sementara ibunya memelototinya disamping. Tapi dia tidak ada pilihan lain, dia harus mengetahui keadaannya. Sudah seminggu ini dia mengeluh mual dan muntah-muntah tak tertahankan.

“Jawablah Jung In, kapan kamu terakhir berhubungan dengan laki-laki itu?” perintah ibunya.

“Laki-laki itu Ji Jeong, bu. Dia orang yang aku cintai” Jung In membalas perkataan ibunya.

Nyonya Park hanya mendengus, menghiraukan perkataan anaknya.

“Aku..melakukannya tiga minggu yang lalu..” jawab Jung In akhirnya.

“Baiklah, tiga minggu yang lalu. Apakah kalian menggunakan alat kontrasepsi? Seperti kondom? Atau pil pencegah kehamilan?” tanya Dokter Ross lagi.

Jung In termangu, tak pernah memikirkan hal seperti itu bahkan diperlukan saat berhubungan seksual. Ji Jeong tidak pernah menyebut tentang hal itu, bahkan mereka tak pernah memikirkannya.

“Tidak.. Kami..tidakk memakai pelindung..” jawabnya lugu.

“Baiklah kalau begitu, perawat akan memeriksa air seni anda, mari lewat sini” Dokter Ross memerintahkan seorang perawat untuk membawa Jung In ke ruang samping, sementara dia berbicara dengan Nyonya Park.

“Melihat dari gejala-gejala awal, saya rasa putri anda memang hamil, Nyonya Park. Namun, akan kita pastikan lagi dengan hasil dari laboratorium” katanya.

“Apakah..tidak apa-apa dokter? Dia masih begitu kecil.. Dia bahkan tak bisa membedakan bayi manusia asli dengan boneka.. Bagaimana dia bisa memiliki seorang anak saat usianya masih semuda ini..dan..dan..dia bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri..” Nyonya Park mengusap air matanya yang menetes.

“Laki-laki itu.. Pasti dia yang menjerumuskan, Jung In ku yang malang. Pasti dia memaksanya. Sekarang Jung In hamil. Apa yang harus aku katakan pada almarhum suamiku. Aku bersyukur telah memisahkan mereka. Dia hanya menghancurkan masa depan Jung In” geram Nyonya Park marah. Dia masih tidak menerima kehamilan putrinya.

“Dokter. Ini hasil pemeriksaan dari laboratorium” perawat menyerahkan secarik kertas pada Dokter Ross. Jung In kemudian duduk kembali di samping ibunya. Menunggu Dokter Ross memberitahukan hasil pemeriksaannya.

“Baiklah, menurut hasil laboratorium ini, nona Jung In sedang hamil tiga minggu. Kita akan memeriksa lebih jauh lagi agar mengetahui kondisi janin dalam kandungan nona. Mari berbaring di ranjang periksa”

Suara Dokter Ross tak terdengar lagi oleh Jung In. Dikepalanya hanya menggema kata “hamil” berulang-ulang, memenuhi kepalanya.

Dia mengandung anak Ji Jeong, buah hati mereka. Dia begitu ingin memberitahu laki-laki itu, ingin membagi kebahagiaan yang dirasakannya sekarang. Tapi, akankah Ji Jeong bahagia bila mengetahui dia mengandung anaknya? Akankah laki-laki itu mau menikahinya?

“Aku ingin bertemu dengan Ji Jeong, bu. Aku harus bertemu dengannya. Dia harus tahu bahwa aku mengandung anaknya” kata Jung In pelan.

Nyonya Park tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya murung dan bersedih akan masa depan Jung In, dia merasa Jung In belum saatnya memiliki seorang bayi.

~~~~

Park Jung Nam sedang berada di Seoul minggu itu, minggu ke empat Jung In tak ada kabar sedikitpun di telinga Ji Jeong. Dan laki-laki bernama Jung Nam ini mendatanginya, merasa iba dengan sahabatnya yang terlihat mengenaskan.

Ji Jeong menemui Jung Nam yang memanggilnya untuk bertemu di sebuah bar di Seoul, menawarkan segelas Scotch Whiskey untuknya.

“Kamu terlihat sungguh menyedihkan, seorang Lee Ji Jeong akhirnya jatuh cinta, ha?” tawa miris Jung Nam melihat wajah Ji Jeong yang kaku dan kelelahan.

“....Aku tak tahu harus kemana lagi mencari Jung In. Sekarang harapanku hanya menunggu laporan dari bandara dan maskapai penerbangan untuk mengetahui negara tujuan Jung In. Tapi sebulan lagi.. info yang aku perlukan baru keluar” Ji Jeong meneguk Whisky nya sekali minum, berjengit merasakan kerasnya cairan itu dalam tenggorokannya.

Dia tak pernah tahu bila dia akan sangat membutuhkan minuman itu sekarang. Dia pun menuangkan satu shot Whisky lagi pada gelasnya. Tapi Jung Nam menyingkirkan botol Whisky itu ke samping.

“Kamu sudah terlalu banyak menenggak minuman ini, kamu mau mabuk?”

Ji Jeong tak menjawabnya, dia hanya menenggak minuman itu dan memejamkan matanya, rasa sakit di dadanya semakin berat, Whisky itu meningkatkan tak hanya kesedihannya tapi juga gairahnya. Dia perlu seorang wanita malam ini. Tapi dia tak akan melakukannya, dia lebih memilih mati tersiksa daripada mengkhianati Jung In.

“Aku mencintai adikmu, Jung Nam. Apa yang harus aku lakukan agar keluargamu menerimaku?” katanya lirih. Jung Nam merasa kasihan pada sahabatnya. Dia ingin membantu laki-laki itu.

“Aku menerimamu, Ji. Kamu punya aku, aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Meskipun ibuku dan Jung Min tak setuju, aku berjanji kalian bisa kawin lari” jawab Jung Nam mantap.

Ji Jeong mendengus, mengetahui sahabatnya itu hanya menghiburnya.

“Kenapa kamu mendengus?” tanya Jung Nam tersinggung, dia menyesap minuman dalam gelasnya. Memesan segelas lagi minuman yang sama.

“Jung In... delapan belas tahun.. Untuk menikahinya, aku perlu izin dari ibumu sebelum dia berusia dua puluh tahun. Bila tidak, aku hanya melanggar hukum dan ibumu bisa melaporkanku dan polisi akan memenjarakanku. Kecuali aku pergi dari negara ini dan menikah dengan Jung In di luar sana” Ji Jeong menghela nafasnya panjang. Wajahnya begitu murung, matanya merah menunjukan dia tak pernah tidur berminggu-minggu belakangan ini.

Begitu kusut, kantung hitam dibawah matanya begitu jelas menandakan Ji Jeong kurang tidur.

“..Aku tidak tahu bila negara kita memiliki hukum seperti itu.. Lalu Jung Min.. saat menikahi Ji Han? Siapa yang menandatangani surat walinya?” tanya Jung Nam.

“...Aku..” jawab Ji Jeong miris.

Jung Nam berdecak kesal. “Aku malu punya kakak seperti dia” geramnya marah.

Ji Jeong hanya mendengus, tak ingin mengingat laki-laki yang Jung Nam bicarakan.

“Aku akan mengantarkanmu ke apartemenmu. Kamu terlalu mabuk untuk mengemudi” Jung Nam membayar bill minuman mereka kemudian menggiring Ji Jeong keluar dari sana.

“Aku bisa mengemudi sendiri, kamu tak usah mengantarkanku” Ji Jeong menarik tangannya dari Jung Nam, namun dia terhuyung sesaat setelah tubuhnya tak ditopang laki-laki itu lagi.

“Tsk.. Kamu bisa begitu bodoh, ternyata. Ji Jeong.. Ji Jeong.. Memang benar, cinta tak ada gunanya, hanya membuatmu terlihat menyedihkan” Jung Nam merangkul bahu Ji Jeong dan memapahnya masuk ke mobilnya yang terparkir di depan bar.

Ji Jeong tak membantah, dia tak ingin menggerakan tubuhnya sekarang, ingatan akan Jung In berkecamuk dalam kepalanya. Dia merindukan gadis itu, hingga dia merasa air matanya turun di pipi.

“Tidurlah, aku akan pergi. Kuncimu kutaruh di atas meja” Jung Nam meninggalkan Ji Jeong berbaring di atas ranjangnya, membisu.

“Tinggalah disini, sudah malam” katanya singkat.

“Aku tak akan tidur sekamar denganmu, ada seorang wanita yang menungguku dikamarnya malam ini” dia berdecak kagum pada dirinya sendiri.

Ji Jeong mendengus, mengusir Jung Nam dengan tangannya. “Pakailah mobilku, tak ada taksi malam-malam begini disini” kata Ji Jeong lagi.

“Tak perlu, aku sudah ditunggu diluar. Aku akan menghubungimu saat aku menemukan adikku. Bila ibuku tak mau merestui pernikahan kalian, aku lah yang akan menjadi wali Jung In. Bisa kan?”

“..Pergilah.. Ada hal lain yang bisa membuatku menikahi adikmu tanpa persetujuan ibumu” sebuah senyum simpul terlihat sekilas di bibir Ji Jeong.

“Oh ya?” tanya Jung Nam sambil lalu, namun tangannya telah membuka kenop pintu kamar Ji Jeong, sahabatnya itu tak berkata apa-apa lagi dan dia hanya mengangkat bahunya kemudian menutup pintu apartemen Ji Jeong dan berlalu dari sana.


Ninth Drama - Chapter 37
Ninth Drama - Chapter 35 

20 comments:

  1. Yeeesss jung in hamil...
    Kasian bgt jeong..huhuhu
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  2. Wah Jung in hamil, kekna ny park ga bakal ngasih tw si ji jeong ya...harusny ji han jg ninggalin jung min biar tw rasa...balik pas jung in disetujuin ama ji jeong *ketawa ibelis...
    Mba jgn sampe si ji jeong ga ketemu anaknya ya, kasian *nangis
    Ni drama msh panjang ya mba? Gregetan nunggunya hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya ci.. harusnya biar jung min tau rasa.. mang enak puasa.. wkwkwkwk :upss:

      paling banyak sampe chapter 50 sist. paling dikit sampe chapter 40 :D

      Delete
  3. Tokcer bener si Jeong,,,ga sia2 si Jung In mpe pingsan,,hwuaahahaaaa,,,
    Makin Demen degh aq ma Jeong,,,

    ntar klo merit,,undang kita yagh Jeong,,,kita smua bakal terbang ke Ulsan,,,,
    yeaaaayyy,, akhirny nginjak KorSel juga,,,,,amiiiinnn,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakakkaka... ikut nebeng satu ya cin kl jd ke korsel.. lol... kita bikin BBQ party di ladang gandungnya si jung min. lol

      Delete
    2. Boleh sistah,,,
      Skalian kita mw panen gandum ntar dsono,,,, #Khayalan Tingkat Tinggi,,,whuahahahaaaa,,,

      Delete
    3. hahahha... mending panen apel sist, tinggal metik. panen gandum musti pake sabit lg...

      Delete
  4. wah wah ibunya jung in nuduh org sembarangan nih. Kesel juga.
    eit jangan2 ji jeong sengaja ya mba ga pake pengaman?
    hha good good ji jeong. Cool man hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaha kewll menn... lol. mosok sih jeong gt?

      Delete
  5. mbg shin baik y,dpost lagi ceritanya....
    thanks y mbg,peluk2 mbg shin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip sip ntr ya cin jam 5-7 antara jam itu :D kl yg11th drama aku gk janji mosting hari ini. belum dapet ngetik cin :muup:

      Delete
  6. bener tuh kata Riska Nova muahahahahahahah.....

    good job Ji Jeong :-D

    ReplyDelete
  7. yesss... bener juga tebakanku.. jung In hamiiiiill
    Congratulation Jung In... semoga bayimu sehat2 ya sayang..
    Ji Jeong, kamu bakalan jadi ayah. kayaknya kamu udah punya firasat bakalan jadi ayah ya...
    mudah2an dengan kehamilan ini si ibu yang satu itu sadar kalo Jung In ga mungkin bisa dipisahkan dari Ji Jeong...
    amiiiinn..

    btw itu si Jung Nam sama siapa lagi mbaaak?? nebar benih dimana-mana ya dia?? hahahahaha.. piiiiiiiiiiiss jung nam.. mmuuaaahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hauhauahuaha maklum media tanam benihnya yg asli gk ketemu sist.. jd si Jung Nam nyoba deh semua media tanam yg ada.. kali2 aja cocok kata dia. lol...

      Delete
  8. Jung Nam Q mendukung Ide mu mbwa Jung in kawin lari kn dia bsa jdi Wali Πγª .... Heheh. Klo Jung Nam media tanam Πγª Ʊϑɑ̤̈̊ħ cocok sma Rossy Kang dech sma2 hot. Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaha iyaa sama2 hot.... lol dah.. kwkwkww

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.