"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, January 11, 2013

Ninth Drama - Chapter 39



Ji Jeong gelisah menunggu diruangan VIP hotel itu, sebentar lagi Presiden Choi dan dua orang rekannya akan datang dan membicarakan beberapa proyek penting bersamanya.

Sudah seminggu lebih dan Jung Nam belum juga mengabarinya mengenai keadaan Jung In. Dia tak bisa menghubungi laki-laki itu. Semakin gila dan frustasilah dia memikirkan keadaan Jung In. Ji Jeong khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu.


“Ji, kamu sudah disini?” panggil Presiden Choi yang muncul di pintu ruangan itu bersama dua orang kliennya.

“Presiden Choi” jawab Ji Jeong. Dia memanggil Hyun Jae dengan jabatannya saat bersama dengan orang lain.

“Kenalkan klien baru kita, Direktur Lee Seung Ho pemilik stasiun broadcasting KBC dan Presiden Direktur Lee Han Jun dari Dae Han Grup” Presiden Choi memperkenalan klien baru nya pada Ji Jeong. Mereka pun berjabatan tangan dengan sopan.

Selama satu jam kemudian, mereka membicarakan kemungkinan kerjasama pembangunan gedung baru milik mereka dengan perusahaan konstruksi milik Presiden Choi yang akan ditangani oleh Ji Jeong. Bila perjanjian ini lolos, maka Ji Jeong akan mulai membangun gedung-gedung ini pada musim semi tahun depan.

Setelah pembicaraan itu, mereka pun minum teh bersama di restoran hotel dan membicarakan hal-hal ringan. Presiden Direktur Lee Han Jun tertarik dengan bakat yang dimiliki Ji Jeong.

“Kamu tidak tertarik untuk mengambil proyek di luar Korea, Tuan Lee?” Presiden Direktur Lee Han Jun memanggil Ji Jeong sebagai Tuan Lee.

Ji Jeong hanya tersenyum kecil. Dia hampir melupakan mimpi-mimpi yang pernah begitu menggebu-gebu ingin diwujudkannya. Cita-citanya adalah membangun gedung-gedung megah di seluruh dunia, namun sejak mengenal Jung In, dia telah lama tak memikirkan mimpi itu.

Telah cukup baginya berada di samping gadis itu dan hidup bahagia bersama.

“...Itu adalah cita-citaku, Presiden Lee” jawabnya singkat.

“Tapi..?” selidik Presiden Lee Han Jun.

“Tapi.. sudah tidak lagi. Aku masih bisa membangun gedung-gedung megah di Korea” Ji Jeong tersenyum membayangkan gedung-gedung hasil kerja kerasnya yang berdiri dengan kokoh.

“Mengapa kamu membuang mimpimu, Tuan Lee? Apakah kamu sudah bosan? Atau..?” tanya Presiden Lee lagi.

Direktur Lee Seung Ho hanya menyimak pembicaraan mereka, begitu juga dengan Presiden Choi. Mereka nampaknya cukup tertarik mendengar alasan mengapa Ji Jeong melepaskan mimpinya semudah itu.

“..Ada yang lebih berharga dari sekedar mimpi, Presiden Lee. Aku tak mungkin memilih keduanya. Maka aku memilih apa yang paling kubutuhkan”

Presiden Lee berdecak senang mendengar jawaban Ji Jeong, meski dia menyayangkan bakat laki-laki itu akan tenggelam dan tak bisa dikenal dunia.

“Bila kamu merubah keputusanmu, nanti.. Jangan segan untuk menghubungiku. Presiden Choi pasti tak akan menghalangi karir mu berkembang, benar kan Presiden Choi?” Lee Han Jun menoleh pada laki-laki yang dimaksud.

Presiden Choi mengangkat tangannya “Sama sekali tidak. Dia bebas kemana saja mengembangkan karirnya. Aku akan ikut bangga melihat hasil karya Ji Jeong semakin dikenal publik” kata Presiden Choi.

“Terima kasih” Ji Jeong nampaknya sedang tak ingin berbicara banyak. Pikirannya disita oleh kekhawatirannya akan tak adanya kabar sama sekali dari Jung Nam atapun Jung In.

~~~~

“Mengapa kamu disini? Bukankah kamu bilang ingin segera bertemu dengan Ji Jeong?” Jung Nam menyentuh pundak adiknya yang sedang menghadap ke dinding.

Jung In bersikeras ingin langsung menemui Ji Jeong di hotel tempat laki-laki itu mengadakan rapat dengan bosnya. Jung Nam mengetahui Ji Jeong ada di hotel ini dari pekerja di proyek.

“Ya Park Jung In, kenapa kamu tidak menjawabku?” Jung Nam memutar tubuh adiknya dan mendapati gadis itu sedang menangis. Dia pun menjadi ketakutan.

“Ya..ya.ya.. Apa kamu sakit? Jung In? Dimananya sakit? Aku akan membawamu kerumah sakit. Kamu tunggu disini, akan aku panggilkan ambulans” kata Jung Nam panik.

“Tidak kak... Aku tidak sakit. Aku ingin pulang” Jung In mencoba menahan tangis yang justru semakin deras turun dari matanya.

“..Apa yang terjadi, Jung In? Apa kamu sudah bertemu dengan Ji Jeong? Apa yang dia lakukan padamu? Dia yang membuatmu menangis seperti ini? Aku akan menghajarnya!!” Jung Nam hendak pergi dari sana dan membuat perhitungan dengan Ji Jeong, namun Jung In mencegahnya, menarik tangannya agar tidak pergi dari sana.

“Tidak kak. Ji Jeong tidak melakukan apa-apa padaku. Aku hanya ingin pulang, aku tak ingin berada disini. Tolonglah aku.. Aku belum ingin melihat Ji Jeong..tolong..” Jung Nam tidak tega melihat wajah memelas dan ketakutan Jung In.

Diapun membawa adiknya kembali ke apartemennya dan mengurungkan niatnya untuk menemui laki-laki itu. Dia tak tahu apa yang terjadi di antara Ji Jeong dan Jung In.

~~~~

Nyonya Park kebingungan melihat Jung Nam kembali bersama Jung In tanpa Ji Jeong bersama mereka. Dia pun semakin kebingungan saat melihat wajah Jung In yang sembab oleh air mata. Mereka baru saja tiba di Seoul dan Jung In begitu ingin bertemu dengan Ji Jeong, namun Nyonya Park bertanya-tanya mengapa pertemuan yang semestinya bahagia kini berakhir dengan kesedihan.

“Mengapa kalian hanya berdua? Mana Ji Jeong? Jung In?” panggil Nyonya Park pada Jung In yang masuk ke kamarnya tanpa berkata apa-apa. Di dalam kamarnya dia berbaring dan menutup wajahnya pada bantal, menangis tersedu-sedu merindukan laki-laki yang dicintainya.

“Jeong..” bisiknya lirih.

“Kenapa adikmu? Kenapa dia menangis? Kamu memarahinya?” tanya Nyonya Park pada Jung Nam.

“Ya, ibu. Buat apa aku memarahi Jung In? Dia memaksa bertemu dengan Ji Jeong, tapi sesampainya di lobby aku justru menemukannya sedang menangis menghadap dinding. Aku kira dia sakit lagi, sehingga aku hampir memanggil ambulans. Setelah itu dia justru meminta untuk kembali. Aku bingung dengannya” jelas Jung Nam pada ibunya.

“Lalu mengapa adikmu menangis?” namun jawaban Jung Nam hanya berupa bahu yang terangkat.

“Duh.. ada-ada saja masalah baru. Ibu akan memasak makanan untuk Jung In, dia harus meminum obat dan vitaminnya. Kamu belikan minuman dan buah-buahan untuk mengisi kulkas. Jangan pergi lama-lama. Dan jangan lupa membeli bahan-bahan lain untuk makan malam” Nyonya Park berjalan menuju dapur. Membuka lemari penyimpanan makanan dan peralatan memasak. Mencari-cari bahan yang dia perlukan untuk memasakkan makanan untuk Jung In.

Dengan sebal Jung Nam mengikuti perintah ibunya. Dia masuk ke dalam mobil milik Jung In yang terparkir di parkir basement. Di dalam mobil, Jung Nam memikirkan kembali mengapa adiknya menangis setelah bertemu Ji Jeong. Dia yakin Jung In telah bertemu laki-laki itu. Mungkin tanpa sengaja Jung In telah melihat sesuatu yang membuatnya menangis.

“Apakah Ji Jeong bersama wanita lain? Aku tak yakin dia tipe laki-laki seperti itu. Tapi siapa tahu? Dua bulan tanpa menyentuh wanita, siapapun akan frustasi” Jung Nam menghela nafasnya, ikut bingung dengan hubungan adiknya dengan sahabatnya sendiri.

“Aku harus menemui laki-laki itu. Dia harus bertanggung jawab karena membuat Jung In menangis. Tapi aku tak mungkin menghajarnya, karena dia akan dengan mudah bisa menghajarku. Apa yang harus aku lakukan?” dengan kesal Jung Nam menginjak pedal gas mobil dan berlalu dari sana.

“Ya! Lee Ji Jeong dimana kamu sekarang?” telphone Jung Nam pada Ji Jeong.

Ji Jeong sedang berada di lokasi proyeknya saat ini, menunggu telephone dari Jung Nam sejak berhari-hari yang lalu.

“Jung Nam? Aku menunggu telephonemu sejak minggu yang lalu, mengapa baru menghubungiku? Mana Jung In? Bagaimana keadaannya?” tanya Ji Jeong tanpa ampun, dia begitu frustasi karena tak mendengar kabar satupun dari mereka.

“Aku tanya dimana KAMU?!” bentak Jung Nam keras, Ji Jeong merasa ada yang tak beres.

“Aku dilokasi proyek” jawabnya.

“Lima menit lagi, aku akan menjemputmu” lalu Jung Nam menutup telephonenya.

Ji Jeong menatap handphonenya yang telah terputus. Bertanya-tanya mengapa Jung Nam begitu marah padanya. Semestinya dialah yang harus marah pada laki-laki itu karena tidak mengabarinya tentang keadaan Jung In.

Jung Nam tidak tahu bagaimana tersiksanya Ji Jeong tanpa mengetahui apapun mengenai kondisi Jung In, dan gadis itu sedang sakit, karena mengandung anaknya. Bagaimana dia bisa menelantarkan Jung In dan anak mereka.

Ji Jeong ingin berada bersama mereka, ingin melewati bersama pengalaman menjadi seorang ayah untuk anaknya. Menjadi seorang suami yang menjaga istri dan anaknya dan melindungi mereka.


Namun mengapa begitu sulit untuk mewujudkan keinginan yang sangat sederhana itu?

21 comments:

  1. senengnya, makasih mbg shin.....

    kok jung innya nangis,harusnya kan seneng bisa ktmu sm ji jeong....
    mbg shin minta alamat blognya mbg helda ayu sm TL PN yang lain donk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 sist.. wah kurang tahu aku lho. kl yg Cherry blog nya kl gak salah http://cherryashlyn.blogspot.com kl yg lainnya aku ndak tahu. coba tanya sist @riska nova atau ertika sani, sist fathy ellyasari atau merry jane. aku orang baru disini.. jd belum kenal sampe kesana2.. ahahahhah :peace:

      Delete
    2. eeeehhhmmmm,gpp kok makasih ya sist.....

      Delete
  2. Yeahh konplik lagehhh...udh mw ketemu aja jung in pake mundur, pasti krn denger ucapan si ji jeong deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^^... iya cin, biar gk ada misteri yg gk ke solved. pan jeong ke Seoul awalnya buat ngejar cits2nya sampe ninggalin ibunya. jd gak masuk akal donk kl akhirnya cuman demi cintaahhhh dia nyerah. hehehehe semoga ntr pemaparan alasannya masuk akal disini hauahuauah

      Delete
  3. yah mba konflik lagiiiiiihhhhh....
    itu pasti jung in nguping pembicaraan ji jeong tapi ga nyampe tamat.. ya kan mba????

    duh neng neng kalo mau nguping tuh sampe tamat jangan setengah2 hhe

    mba hari ini berapa chap yang publish??? kok kemarin cuma satu??? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. iya nih sist.. ndak sempet ngetik nih. ini aja chap 39 kelarnya jam 6 pagi td. lol... hari ini jg kyknya cuman 1 :( muup ya.. nanti coba deh siapa tahu bs ngetik lg 1 :D

      Delete
  4. Haisssh,,,,ni ada apa lagi???
    Knpa konflik lagi??
    Ya sudaah,,,,si Ji Jeong balik adja ke aku,,,
    Pan dagh dpatenkan di aku,,, :lol
    :ngarep sangadh,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbg riska, bleh minta alamat blognya para TL PN gk...

      *memohon sm mbg riska smbil pasang muka memelas....*

      Delete
    2. dear Amanda,,
      Wah,,,yg aq tw hany puny na si Ziaa,,,
      Cherryashlyn.blogspot.com, saiank,,,
      Yg laen kykny ga puny blog,,,

      Delete
  5. Owh gitu toh
    iya deh gpp yg penting tiap hari ada hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sipsip.. ntr sore kyknya ada lg1 :)

      Delete
    2. hhi
      asyik mba shin baik deh hhe *ngerayu mba shin*

      Delete
  6. hayya mb shin suka deh bikin jeong frustasi,,,
    nangis lagi nie,,,

    ReplyDelete
  7. omo....pasti jung in denger ucapan ji jeong...knp malah menangis dan pergi???bukanya terharu dan bangga ji jeong melupakan mimpi dan cita2nya karena sudah menemukan orang yang di cintainya??? what happend jung in....*comment terpanjang :) thanks mbk shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. seneng deh baca komen panjang2. wkwkkwkwkwkkww... sama2 nenee... mwahh..

      Delete
  8. Padahal di bab ini harap2 ada Warning lgi... biar tmbah semangt mbca Πγª Shin. Hehehe .. Trnyta malah ada konflik lgi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahha :Warning : awas galau: wkwkkwkw

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.