"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, January 11, 2013

Ninth Drama - Chapter 40



Ji Jeong mendengar suara ban mobil berdecit dikejauhan, sebuah mobil berhenti dengan seketika di parkiran proyek tempatnya bekerja, Jung Nam memanggilnya dari dalam mobil.

“Ji Jeong!” teriaknya dari kejauhan.

Setengah berlari Ji Jeong menghampiri Jung Nam, dia sedang mengawasi proyek ketika Jung Nam datang, hanya mengenakan kemeja dengan lengan bergulung ke atas, dasinya dimasukan ke dalam celah diantara kancing-kancing kemejanya. Keringat menetes di pelipisnya saat membungkuk di jendela mobil yang Jung Nam kemudikan.


“Masuk” perintah Jung Nam padanya.

Tanpa menanyakan tujuan mereka, Ji Jeong masuk ke dalam mobil dan mereka tak berbicara sama sekali hingga Jung Nam membawa mobil ke bawah jembatan Seoul. Dia kemudian keluar dari mobilnya diikuti Ji Jeong yang bingung dengan sikap Jung Nam.

“Kenapa kamu membawaku kesini? Dimana Jung In?” tanya Ji Jeong.

“Jung In? Kamu masih ingin bertemu dia?” Jung Nam mulai kehilangan kontrol akan emosinya.

“Apa maksudmu, Jung Nam?” rahang Ji Jeong mengeras, kekhawatiran muncul di hatinya.

“Jung In menemuimu tadi siang di hotel tempat kamu rapat. Aku hanya meninggalkannya sebentar tapi aku menemukannya sedang menangis dan tak mau mengatakan apa-apa. Apa yang sudah kamu lakukan padanya?!” bentak Jung Nam marah.

Ji Jeong terguncang di tempatnya, tak mengerti maksud Jung Nam.

“Jung In mencariku tadi? Tapi aku tidak melihatnya...” bisik Ji Jeong pada dirinya sendiri.

“Apa yang terjadi disana, Ji? Apa yang sudah kamu lakukan disana? Katakan padaku!” Jung Nam menarik kerah kemeja Ji Jeong, mendorong tubuh sahabatnya itu hingga menghantam mobil.

Ji Jeong tidak melawan, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Berusaha mengingat-ngingat apa saja yang dia lakukan di hotel itu.

“..Aku hanya bertemu dengan klien, rapat selama satu jam lebih. Itupun diruangan tertutup, Jung In tak mungkin melihatku disana. Kecuali.. kecuali dia mendengar pembicaraan kami di restoran” katanya pelan. Alisnya mengkerut memikirkan kata-kata yang dia ucapkan yang mungkin di dengar Jung In.

“Apa yang kamu lakukan di restoran? Dengan siapa? Wanita lain?” Jung Nam mengetatkan cekalan pada kerah kemeja Ji Jeong, menyakiti leher laki-laki itu.

“..Aku tak bersama wanita lain bila itu yang kamu pikirkan. Aku tak pernah mengkhianati Jung In” jawab Ji Jeong dingin.

“Lalu mengapa Jung In menangis setelah melihatmu?!!” teriak Jung Nam di depan mata temannya itu.

“Andai aku tahu, apakah kamu kira aku akan masih berdiri disini dan menerima perlakuanmu?” jawabnya kesal. Ji Jeong mencekal pergelangan tangan Jung Nam yang memegang kerah kemejanya.

“..Tapi mengapa Jung In menangis? Dia begitu ingin bertemu denganmu saat kami tiba di Seoul. Dia memintaku untuk mengantarkannya kesana. Tapi mengapa kemudian dia menangis dan justru tak ingin melihatmu lagi?” Jung Nam melepaskan kerah kemeja Ji Jeong, ikut bersandar disamping Ji Jeong.

“..Jung In tak ingin bertemu denganku..lagi..? Mengapa..?” bisik Ji Jeong tak percaya.

Jung Nam menoleh pada sahabatnya. “Aku tak tahu. Dia tak memberitahuku. Sepulang dari sana Jung In masuk ke dalam kamarnya dan tak keluar lagi, dia bahkan tak menjawab panggilan ibuku” jawab Jung Nam murung.

“Dimana Jung In sekarang? Aku ingin menemuinya” Ji Jeong ingin bertemu dengan Jung In, melihat kondisi gadis yang dicintainya setelah lama tak bertemu. Dia harus tahu mengapa Jung In tak ingin bertemu dengannya tadi siang.

“...Jung In di apartemennya. Aku akan mengantarkanmu. Kamu harus membereskan masalah ini, Ji” Jung Nam menatap Ji Jeong serius. Dia tak ingin adiknya atau sahabatnya terluka.

Ji Jeong mengangguk pasti.

“Oh ya, selamat. Ibuku sudah merestui hubungan kalian. Jangan sampai dia berubah pikiran lagi. Kamu harus membujuk Jung In agar mau berbicara denganmu. Kalian adalah orang-orang yang aku cintai, Ji. Aku tak ingin kalian sedih”

“..Aku berhutang banyak padamu, Jung Nam” kata Ji Jeong sebelum masuk ke dalam mobil.

“Kita sahabat, Ji. Kita tak berhutang” sebuah seringai kecil terlihat di wajah Jung Nam. Dia pun masuk kemobilnya dan mengendarai mobil itu menjauh dari sana, menuju apartemen Jung In.

Setengah jam kemudian mereka sampai di apartemen Jung In. Ji Jeong menyapa Nyonya Park dan membungkuk memberi hormat pada wanita itu. Nyonya Park menutup mulutnya. Teringat pernah menampar pipi Ji Jeong.

Jung Nam mengajak ibunya ke dapur dan membiarkan Ji Jeong melakukan tujuan utamanya datang ke apartemen itu. Menemui Jung In.

Dengan perlahan, dia membuka kenop pintu kamar Jung In. Memandang ke dalam kamar itu mengingatkannya pada saat-saat mereka bersama. Saat-saat mereka berbahagia.

Jung In memejamkan matanya di atas ranjang, matanya sembab oleh air mata. Tangannya menumpu kepalanya yang tidur menyamping. Dengan langkah hati-hati Ji Jeong mendekati ranjang, matanya sayu melihat gadis yang dicintainya lagi. Ji Jeong sangat merindukannya. Ingin rasanya langsung memeluk tubuh gadis itu dan melepaskan semua kerinduannya selama ini. Namun, dia tak tahu apa reaksi Jung In setelah kejadian tadi siang.

Ji Jeong menatap pada perut Jung In, mengetahui bahwa anaknya sedang bertumbuh disana. Berkembang dan menjadi bagian dari ibunya. Anaknya yang juga adalah bagian dari dirinya.

Bibirnya tersenyum sedih, akankah pertemuan ini berjalan mulus? Karena Ji Jeong tidak tahu apa masalah Jung In hingga gadis itu tak mau bertemu dengannya. Tidakkah dia merindukannya?

Duduk disisi ranjangnya, Ji Jeong mengambil selimut dari kaki ranjang dan menyelimuti tubuh Jung In. Wajah gadis itu masih terlihat pucat, membuat nyeri dada Ji Jeong memikirkan penderitaan Jung In mengandung anaknya.

Tangan Ji Jeong membelai lembut rambut yang jatuh di pipi Jung In, membawa helai-helai rambut itu kesamping dan mencium ringan pipinya yang pucat. Ji Jeong ingin berbicara dengan Jung In, ingin mendengar suara gadis itu memanggil namanya. Tetapi, melihat dia begitu lelap dalam tidurnya, Ji Jeong hanya menunggui Jung In disana.

Dia mengambil sebuah kursi dan menaruhnya disamping ranjang. Disana Ji Jeong duduk mengawasi Jung In tertidur, hingga mata gadis itu membuka satu jam kemudian. Memandang rindu pada kekasih hatinya.

“Jeong..? Kamu benar ada di depan mataku?” tangis turun dari mata Jung In lagi.

Ji Jeong bangkit dari kursinya, menghampiri Jung In dan merengkuh bahu gadis itu.

“Ya.. Aku disini, manis.. Aku disini” bisiknya pelan.

Jung In pun menangis di dada Ji Jeong, memeluk tubuh kekasihnya yang dirindukannya. Menangisi perpisahan mereka, menangisi pertemuan mereka dan menangisi kemungkinan masa depan mereka yang masih samar.

Jung In hanya ingin memeluk kekasihnya, tak ingin memikirkan alasan mengapa dia pergi saat melihat Ji Jeong bersama-sama dengan orang-orang tadi di restoran, membicarakan masa depannya, membicarakan mimpinya.

Yang oleh Ji Jeong tak dikejarnya lagi karena dirinya. Karena Jung In telah mengandung anak mereka.

Ji Jeong membiarkan Jung In menangis hingga air mata gadis itu kering, terisak-isak dalam pelukannya yang hangat, mendengarkan debar jantung Jung In disampingnya, merasakan helaan nafas gadis itu menerpa dadanya, merasakan hangat tubuh gadis itu dikulitnya, merasakan gadis itu dalam pelukannya. Ji Jeong tak akan melepaskannya lagi.

“..Sudah baikan?” tanya Ji Jeong pada Jung In yang masih terisak-isak kecil.

Jung In mengangguk, menatap pada dagu Ji Jeong, tidak berani menatap mata laki-laki itu. Dia takut Ji Jeong akan mengetahui isi hatinya.

“Aku merindukanmu, Jung In.. Maafkan aku karena tak ada saat kamu memerlukanku. Aku berjanji sejak saat ini akan selalu ada untukmu” Ji Jeong mengecup rambut Jung In dan tangis gadis itu turun lagi.

Dia merasa semakin cengeng setelah mengetahui dirinya hamil. Dia begitu rapuh, tak seperti dirinya yang biasanya selalu memiliki jawaban untuk setiap perkataan Ji Jeong. Namun kali ini, Jung In tak berbicara.

Dia tidak bisa berbicara, karena sekali mulutnya terbuka, dia akan berbicara tanpa putus, dia akan memohon dan memelas pada Ji Jeong agar jangan meninggalkannya, agar laki-laki itu tidak mengejar mimpinya demi dirinya, demi anak mereka.

Jung In tak ingin Ji Jeong pergi ke luar negeri, Jung In tak ingin Ji Jeong meninggalkannya. Jung In membutuhkan laki-laki itu disampingnya, selalu.

Jung In tak ingin menjadi wanita yang egois, maka dia menutup mulutnya. Hanya isak tangisnya lah yang terdengar keluar dari mulutnya.

“Apa yang kamu pikirkan, Jung In? Mengapa kamu tidak berbicara sepatah katapun padaku? Apakah kamu membenciku?’ tanya Ji Jeong sedih.

Dia ingin melihat wajah Jung In, ingin melihat mata gadis itu bersinar terang karena mereka telah bertemu, karena mereka saling mencinta, karena mereka akhirnya bisa bersama tanpa larangan siapapun, keluarga Jung In telah merestui mereka. Mereka seharusnya bahagia dengan kabar itu.

Namun Jung In terlihat begitu sedih, begitu sengsara dan menutup diri. Gadis itu menyembunyikan sesuatu yang tak diketahuinya.

Ji Jeong menghela nafasnya, dengan sabar dia mengelus punggung Jung In dan mengecup-ngecup wajah gadis itu penuh cinta.

Jung In menggeleng, dia tidak membenci Ji Jeong, dia benci pada dirinya sendiri. Benci karena dirinya lah Ji Jeong memutuskan untuk melupakan mimpinya, benci karena dirinya lah Ji Jeong berhenti mengejar mimpinya.

Air matanya telah membasahi kemeja biru muda yang dikenakan Ji Jeong, kemeja itu kini menempel pada kulit dadanya. Mengingatkan Jung In betapa dia ingin menyentuh tubuh laki-laki itu.

“Jeong..” bisik lirih Jung In, kini dia mendongak menatap mata kekasihnya.

“Iya manis.. Aku disini..” bisik Ji Jeong.

“Aku mencintaimu..” Jung In menjatuhkan wajahnya pada dada Ji Jeong. Memeluk laki-laki itu lebih erat.

Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan, mengikat Ji Jeong namun memusnahkan mimpi laki-laki itu, atau melepaskannya untuk mengejar mimpinya?

Meski Ji Jeong telah berkata dia memilih untuk melupakan mimpinya, namun hati Jung In merasa berat telah membuat laki-laki yang dicintainya seperti itu. Melupakan cita-cita yang telah dimilikinya sedari kecil. Tegakah Jung In memusnahkan mimpi Ji Jeong karenanya?

Jung In begitu sedih, begitu tertekan. Dia takut bila Ji Jeong meninggalkannya, lebih takut lagi bila tak bisa bersama dengannya lagi. Akankah Ji Jeong marah padanya bila dia meminta laki-laki itu untuk mengejar mimpinya? Dan meninggalkan mereka? Dia dan anak mereka?


Jung In tak ingin memikirkannya, dia menutup dirinya, tak ingin Ji Jeong tahu perasaannya yang sedang tertekan itu.


28 comments:

  1. Klo Jung In merelakan Ji Jeong pergi,,,
    Aku yang duluan untuk merebutny,,,
    si Jung In ntuh geblek atw saraph sigh??
    Is she blind??? Can't she realize how much Ji Jeong love her???
    Hhuuuffhh,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ur english cin... tumben liat dirimu komen pake english wkkwkwkw..

      Delete
    2. Hehheheee,,,
      Strukturny salah yagh??
      Hahhahaaaaa,,,
      Kbawa jiwa cyiin,,,
      klo Jung In mrelakn Jeong utk pergi,,,dg senang hati aq akan mnerima Jeong dpelukanku,,,*apa cobaaa???

      #depresi akut,,,,whuahahaahahahaaa

      Delete
    3. nggak kok, cakep englishmu.. lebih ngena bahasanya wkwkkww.

      hahahaha eheem... menerima dipelukan???? oh yes... oh no.. :kabur:

      Delete
    4. Iyalah cyiin,,
      Klo aq pasti bakal nerima Jeong dg pelukan lebar,,tapi apakah Jeong mw meluk aku???mari kita tanyakan padany,,,whuahahahahhahaaa

      Delete
  2. iya nih aku juga mau...kalo emang jung in melepaskan ji jeong
    wah...bakalan panjang nih antrian buat ji jeong kalo jung in melepaskan ji jeong......huahahahahahaha......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ayo mari mari.. diambil dulu nomer antriannya ahahahhahaha

      Delete
  3. Jung in bermaksud baik, sbg cewek pasti berpikiran gtu, cm kan bisa dibahas baik2...ga usah diem...malah jd salah paham euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul betul betul. setuju dengan dirimu sist ^^V

      Delete
  4. haduh kok jadi agak runyam ya mba hhe
    yang penting akhir ceritanya happy ending ya mbak *minta lagi* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhe iyaaa tenang ajaa... happy ending kok cin.. :mwah:

      Delete
  5. pemikiran seseorang memang rumit n terkadang sangat sulit dijelaskan,,,

    ReplyDelete
  6. jung in tumbuh jadi wanita dewasa yang tak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri,,,
    tpi baiknya kalo jung in mau berbicara dari hati ke hati sam jeong,,,,

    cinta bukan saling mengikat,,,
    cinta saling melengkapi,,,

    jung in ngomong sama jeong yah, lebih terbuka, itu yg jeong mau,,,
    jgn ada penyesalan di kemudian hari,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha nice saying sist.. nice saying.. two thumbs up for you. lol.. :jd ngerasa diri jdi jung in dikasi nasehat gni: uhh makaci cin..

      Delete
    2. Wah,,,jangan2 mbak Fathy korban baca bukuny John Gray, PhD yagh??
      "Men from Mars, Women from Venus"??
      Buku bagus tugh,,,
      Aq punya satu bukunya,,,baguuuuuuuuuuuusss bangetz isinya,,

      Delete
    3. @mba shin : makasih mba shin,,,, jadi malu aku *ngumpet dibelakang badannya jae hmmm wangi,,,

      @riska : jjr ya, aku tadinya gak suka novel, jadi aku gak tau itu buku apaan sumpah hehehe

      Delete
    4. Itu buku ttg psikologi mbak Fathy,,
      Salah satu pedoman pasangan brumah tangga atw pun yg dlm tahap pacaran,,,
      Coba degh baca,,,bagus utk edukasi psikologi,,

      Delete
    5. Mbak Fathy,,,itu bukan novel,,tp buku psikologi,,jadi pedoman utk pasangan brumah tangga mwpun yg dlm tahap ngbina hubungan,,
      Bagus bukunya,,,cakep bener utk edukasi diri,,

      Delete
    6. waduh salah deh aku,,,
      jjr aku mumet kalo suruh baca buku kaya gitu tpi kadang suka penasaran aja sih baca dikit hehehe
      maaf riska

      Delete
    7. Coba degh dbaca mbak,,,
      Banyak dgramed,,
      hitung2 utk edukasi diri adja,,,

      Delete
  7. like this,mantab komen mba fathy.jung in galau

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya emang mantab komennya mbak fathy hahhahaha

      Delete
    2. rena n mba shin : makanan kali mantab hehehe

      Delete
  8. sist aku jadi terharu detik2 pertemuan mereka T.T *ikut nangis juga di dada ji jeong*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaa... didadanya yg sebelah mana sist? ngantri ama jung in ni jadinya..

      Delete
    2. iya abis jung in juga gapapa.. ikhlas :D

      Delete
    3. kwkwkwkw... baik bgt jung innya berarti ^^

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.