"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, January 12, 2013

Ninth Drama - Chapter 41



“Aku juga mencintaimu, Jung In. Dan apapun yang ada dalam pikiranmu sekarang, tolong katakanlah. Aku tak ingin menebaknya karena akan lebih baik bila kamu mengatakannya padaku. Jangan ada yang disembunyikan, jangan menyakiti kita lagi. Kita sudah cukup menderita tanpa kamu harus menutup dirimu dariku. Aku tak setegar yang kamu bayangkan, Jung In. Aku juga bisa menangis dan putus asa. Jangan kamu siksa kita lagi, Jung In..” Ji Jeong merangkum wajah Jung In, menghapus air mata gadis itu dan mencium bibirnya dengan mesra.


“Aku merindukanmu, Jung In. Aku merindukan bibir manismu menempel pada bibirku. Aku benar-benar membutuhkanmu. Lebih dari apapun, dan aku harap kamu tak pernah merasa kurang dari itu. Kamulah jantung dan darahku. Tanpamu aku tak bisa hidup, Jung In. Jangan cabut nyawaku. Kita bicarakan baik-baik, ya?” Ji Jeong menghapus lagi air mata yang turun dari mata kekasihnya. Memeluk tubuh Jung In erat, membiarkan gadis itu menangis lagi dalam pelukannya.

“Jeong.. Bagaimana dengan cita-citamu? Dengan mimpimu..?” lirih Jung In di dadanya.

Ji Jeong memejamkan matanya, mulai mengerti apa yang membuat Jung In begitu sedih. Gadis ini mendengar percakapannya dengan Presiden Lee dan merasa karena dirinya lah Ji Jeong berhenti mengejar mimpinya.

Ji Jeong menghela nafasnya, memeluk Jung In lebih erat. Menciumi keningnya, Ji Jeong membaringkan tubuh Jung In, meletakkan dengan hati-hati kepalanya di atas bantal, kemudian Ji Jeong berbaring miring disampingnya.

“Aku sangat mencintaimu, Jung In. Kamu tidak usah takut aku akan melupakan mimpiku. Mimpi itu..masih bisa kugapai di Korea. Aku tidak perlu keluar negeri. Meskipun harus keluar negeri, aku akan mengajakmu, mengajak anak-anak kita. Kamu mau menikahiku kan? Jangan katakan kamu tak mau menikahiku, aku tak akan memaafkanmu bila kamu menolak lamaranku ini” Ji Jeong menatap mata Jung In, wajahnya serius memandang gadis itu.

Jung In membisu, matanya berkijap-kijap, dia tidak dapat berpikir. Dia tak menyangka akan mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Ji Jeong.

“Kamu melamarku, Jeong..?” bisiknya lemah.

“..Aku tahu ini tidak romantis, Jung In.. Tapi aku akan mengulanginya lagi nanti, tapi aku bersungguh-sungguh. Aku memang tidak membawa cincin, aku bahkan tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Tapi aku yakin, sekaranglah saatnya. Aku telah memilikimu Jung In, aku memiliki anak kita. Kini..mimpiku hanyalah hidup bahagia bersama kalian. Aku tak perlu mimpi lain, Jung In... Aku hanya perlu kamu.. anak kita..”

“Jeong..” Jung In membisikan nama kekasih hatinya. Merasa terharu dengan cinta laki-laki itu padanya. Bagaimana mungkin dia tega berpikir untuk meninggalkan laki-laki ini.

“Maafkan aku, Jeong.. Aku seharusnya mengatakannya padamu, dan bukannya lari, aku seharusnya lebih kuat dari ini. Entah mengapa aku menjadi begitu cengeng dan gampang menangis. Aku begitu lemah tanpamu, Jeong. Aku tak ingin menangis terus-terusan, aku sudah lelah. Aku hanya ingin bahagia bersamamu, bersama anak kita. Aku tak ingin membuatmu kecewa, aku hanyalah gadis kecil cengeng yang akan membebani hidupmu, namun kamu begitu pengertian dan bisa memahami pikiranku. Aku minta maaf, Jeong” Jung In mengusap air matanya yang menetes.

“Shh..shh.. Jangan menangis lagi. Aku tak menyalahkanmu, kita hanya tidak memiliki banyak kesempatan untuk saling menyelami perasaan masing-masing. Aku berjanji, kita akan lebih banyak melewati waktu bersama. Aku berjanji akan selalu ada saat kamu memerlukanku. Maafkan aku karena tidak ada saat kamu membutuhkanku, Jung In. Aku bersalah padamu. Bahkan.. aku membuatmu seperti ini.. perutmu terlihat agak menonjol” Ji Jeong tersenyum kecil memandang pada perut Jung In yang tadinya langsing, sebelum dia menghamilinya dua bulan yang lalu.

“..Jadi kamu sudah merencanakan hal ini, Jeong? Kamu sungguh licik. Aku tak tahu kamu bisa merencanakan ini” Jung In takjub mengetahui Ji Jeong telah memperkirakan hal ini akan terjadi.

Ji Jeong berdecak kecil, senyum tersungging diwajahnya.

“Sejujurnya, aku tak pernah benar-benar merencanakannya, Jung In. Bercinta denganmu, melewati batas kontrolku. Aku tak bisa mengontrol gairahku saat bercinta denganmu. Aku tak ingin membatasi penyatuan kita dengan pelindung, aku ingin merasakanmu seutuhnya. Buah hati ini.. adalah hadiah terindah dari cinta kita, dan aku sungguh terpesona saat mengetahui kamu hamil. Mengandung anakku.. saat berbaring diatas ranjangku sendirian, aku membayangkan dirimu berada disampingku, tanganmu melingkar pada perutku, dan aku mengelus perutmu yang bergerak-gerak menandakan anak kita tumbuh disana. Perasaan itu..perasaan itulah yang membuatku masih bisa bertahan untuk tidak menjadi lebih gila karena kehilanganmu” Ji Jeong mengecup perut Jung In lembut. Menempelkan pipinya pada perut Jung In, mencoba mendengar sesuatu dari dalam perut itu.

“Kamu hanya akan mendengar suara perutku yang keroncongan, Jeong..” kata Jung In pelan. Helaan nafas hangat dari hidung Ji Jeong membuat darahnya mendesir. Membangkitkan gairah dalam dadanya, membuat dia merasa cairan pelicinnya mengalir keluar dibawah sana.

Ji Jeong tertawa serak, berada sedekat itu dengan gadis ini membangkitkan gairahnya.

“Kamu belum menjawab lamaranku, manis..” Ji Jeong mengelus perut Jung In dengan telapak jarinya. Membuat garis-garis panjang dengan tekanan lembut pada kulit gadis itu. Menggoda gairah Jung In.

“Apakah aku harus menjawabnya sekarang? Aku kira kita akan melakukan sesuatu untuk menolong bagian darimu yang sudah mendesak dibawah sana..” Jung In menatap wajah Ji Jeong sendu. Mereka saling mengerti apa yang mereka inginkan saat itu.

“..Jung In.. Aku memang sangat menginginkanmu sekarang.. Tapi.. bolehkah kita melakukannya saat kamu sedang hamil..?” suara Ji Jeong berat menahan gairahnya.

“Aku akan lebih mencemaskan telinga awas kak Jung Nam dan keingin-tahuan ibu bila kita melakukannya sekarang..bukannya aku tak ingin.. Sudah lama kamu tak menyentuhku, Jeong..” Jung In menggoda Ji Jeong dengan tatapan matanya, membakar gairah Ji Jeong yang telah mencapai ubun-ubun.

Ji Jeong mengerang tertahan, lupa pada kenyataan bahwa mereka tidak hanya berdua di dalam apartemen itu. Masih ada Nyonya Park dan Jung Nam yang menunggu mereka dengan was-was diluar kamar. Suara erangan dan teriakan mereka pasti akan terdengar bila mereka bercinta saat ini.

“Aku rasa.. Itu masih bisa menunggu kalau begitu? Aku akan bertahan.. Setidaknya sampai kita menikah?” Ji Jeong menggenggam tangan Jung In, menatap mata gadis itu dengan serius.

“Jadi apa jawabanmu, manis? Maukah kamu menjadi istriku? Melewati suka duka hidup bersamaku? Susah senang akan kita hadapi bersama. Aku tak menjanjikan kemewahan yang melimpah padamu, tapi aku berjanji akan selalu memberikan usaha terbaikku untuk membahagiakanmu. Namun aku juga memintamu untuk lebih mempercayaiku, lebih terbuka padaku dan jangan pernah menyembunyikan perasaanmu lagi dariku. Apapun yang ada dalam hatimu, katakan padaku. Sehingga kita bisa memecahkannya bersama. Ya?” Ji Jeong menunggu jawaban dari Jung In, air mata gadis itu meleleh lagi.

Jung In tak bisa menjawab, bila dia membuka mulutnya hanya isakan tertahan yang muncul. Diapun menganggukan kepalanya, berkali-kali. Khawatir Ji Jeong tak akan mengerti arti dari anggukannya. Namun akhirnya dia bersuara meski masih tercekat.

“..Aku mau, Jeong. Aku mau..” jawab Jung In.

“Kemarilah, manis. Oh, kekasih hatiku, malaikat kecilku. Aku berjanji akan selalu melindungimu, menjagamu, mencintaimu. Semuanya hanya untukmu” Ji Jeong mengecup kening Jung In yang masih terisak dalam pelukannya.

“Aku akan berbicara dengan ibu dan kakak-kakakmu setelah ini. Aku hanya berharap mereka tidak akan mempersulit kita lagi. Bila tidak.. Aku akan melarikanmu, meski aku akan dijadikan buronan oleh polisi” kata Ji Jeong setengah bercanda. Jung In hanya mendengus mendengar lelucon Ji Jeong.

Setengah jam kemudian, setelah saling mengungkapkan perasaan mereka lebih dalam, Jung In dibantu oleh Ji Jeong akhirnya keluar dari kamar dan menuju ke arah dapur, dimana Nyonya Park dan Jung Nam telah menunggu mereka dengan tidak sabar.

Pandangan Jung Nam bertanya pada Ji Jeong “bagaimana?” dan Ji Jeong hanya mengijapkan mata, mengatakan semua baik-baik saja. Dan Jung Nam pun mengangguk, mengerti maksud dari sahabatnya itu.

Ji Jeong menggeserkan sebuah kursi untuk Jung In duduk, Nyonya Park sedari tadi memperhatikan perhatian yang diberikan Ji Jeong padanya, tak terasa setitik air mata membasahi ujung matanya. Terharu melihat perbuatan Ji Jeong untuk Jung In.

“Ayo kita makan. Jung In, kamu juga harus makan ya. Agar tidak sakit-sakitan. Kasihan oppa mu nanti kewalahan bila kamu sakit-sakitan terus” kata Nyonya Park sembari menuangkan semangkok kecil sup kaldu ayam untuk Jung In.

Gadis itu bertukar pandang dengan Ji Jeong, Jung Nam memandang ibunya kebingungan.

“Siapa oppa nya Jung In, bu?” tanya Jung Nam pada ibunya. Dia akan merasa sangat kesal bila ibunya membuat masalah baru lagi.

“Ya Park Jung Nam! Jangan berbicara seperti pada ibumu. Oppa nya Jung In ya Ji Jeong. Memang kamu kira dia harus memanggilnya apa bila mereka menikah nanti?” jawab Nyonya Park senewen. Dia duduk di samping Jung Nam yang menganga takjub akan jawaban yang di dengarnya.

“Benarkah? Yah.. Aku rasa aku semakin menyayangimu, bu” Jung Nam pun meletakan sumpitnya dan memeluk ibunya dengan erat, kemudian diciuminya pipi wanita itu dengan sebuah kecupan lamaaa..

Ji Jeong merengkuh bahu Jung In, meremas bahu gadis itu, terharu bersama karena ucapan Nyonya Park.

Setelah Jung Nam melepaskan ciumannya dari Nyonya Park, Ji Jeong pun berdiri dan membungkuk pada wanita itu.

“Nyonya Park. Aku akan mencari hari baik lain untuk melamar Jung In dengan lebih resmi. Tapi hari ini, aku ingin berterima kasih karena anda telah memberikan restu anda pada kami. Aku mungkin belum bisa memberikan yang terbaik untuk anak anda Jung In, tapi aku berjanji, aku tak akan pernah membuatnya menderita. Anda bisa memegang perkataanku ini” katanya seraya masih membungkuk, menunggu jawaban Nyonya Park.

“Lee Ji Jeong-shi, aku lah yang semestinya berterima kasih karena kamulah laki-laki yang paling tepat untuk anakku Jung In. Aku juga ingin meminta maaf karena telah menamparmu waktu itu. Tolong maafkan kesalahanku. Aku kini tahu, cinta kalian memang sungguh murni. Aku hanya wanita tua yang sudah lama ketinggalan zaman. Aku tak akan ikut campur masalah anak muda lagi. Aku serahkan pada kalian, jagalah anakku baik-baik. Bila tidak, kamu akan berurusan dengan kakak-kakaknya” jawab Nyonya Park pelan. Dia pun menyuruh Ji Jeong untuk duduk dan menikmati makanan mereka.

Jung In tersenyum pada Ji Jeong. Dia berbisik di telinga laki-laki itu.

“Oppaa...” kata Jung In manja.

Ji Jeong pun terbengong dalam duduknya. Kemudian tertawa terbahak-bahak dan menutup mulutnya karena melihat tatapan mata Nyonya Park dan Jung Nam yang bertanya-tanya. Mereka kemudian melanjutkan makan sore menjelang malam itu dengan suka cita. 


24 comments:

  1. peluk mba shin hha
    muah muah deh bwt mba shin
    lets party tonight hha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha let's party tonight. u pay? ahahahhaha

      Delete
    2. off course....


      not hha
      yang bayarin kan mba shin hha

      Delete
    3. hahah nunggu fee drama turun dulu dr korea ya cin.. lol :sampe lebaran monet jg gak turun2: lol

      Delete
  2. Unee... Shin... Wkwkwk
    Berasa kaya' org Padang... Kakak perempuan kn d panggil uni ;)
    Suka deh chapter ini... Mungkin lebih suka kalo Jeong n Jung in ttp ML walaupun ada nyonya park n Jung nam...
    Wkwkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. asli mana emang sist? :beda topik:

      hahahah aku sih kepikiran jg bikin mereka ML tp kyknya Jeong bukan type cowok kyk gt deh.. dia adalah laki2 gentle yg bs ngontrol gairahnya yg penting belum dim*sukin aja dah.. wkwkwkwkw...

      seru kali ya kl sampe mereka ML trus jung nam n nyonya park denger?? ahhaha kl jung min n jihan sih bakal lakuin jg meski ada org diluar kamarnya.. jung nam jg wkt ama rossy.. kwkwkwkw..

      Delete
  3. tisu ,, mana tisu ??? Hadeh kau membuat melo hari ku hun heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntr ya cin.. aku ke supermarket beli tissue dulu. tissue basah apa tissue kering? yg kiloan apa yg bungkusan? yg kecil apa yg gede? yg merek paseo apa merek nice? yg lembaran apa yg gulungan? yang mahal apa yg murah? yang bermerek apa odong2? wkkwkwkw :kaburr...

      Delete
    2. tisu makan ada gak sistah??? :lol

      Delete
  4. yeah~~~~
    akhir mereka balikan,
    makan" dong ya seharusnya,
    wkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan udah tu sist mereka makan2.. km gak diajakin ya? wah kasian.. :( aku jg gk diajakin nih

      Delete
  5. "Kwlah jantung & darahku,,,
    Aku mungkin tdk dpt m'berikanmu kemewahan,,namun aku akan brusaha skuat tnaga untuk m'bahagiakanmu",,,
    Oh my Jeong,,,,
    Kau benar2 m'buatku melayang menggapai langit ke 7,,,

    Sistah,,,,besok kita pesta yagh,,,???
    Howreee,,,makan gratisss,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagunya andra n bekbun sist. wkkwkwkw

      Delete
    2. bukaaaaann,,,,,lagunya Andra ngutang lagi,,,whuahahhahaaa

      Delete
  6. selesai juga masalahnya
    ngak jadi deh ngantri nya...hehehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. lhooo lhoo.. belum chapter 50.. belum kelar.. musti dikasi 1 konflik lg nih. ada ide? :kedip-kedip:

      Delete
  7. penasaran jung in ngomong apa ya? :D..
    scene yang aku suka ' aku tak setegar apa yang kamu bayangkan jung in.. aku langsung meleleh kalo jadi jung in >,<

    ReplyDelete
  8. "Mimpi ku hanya ingin hidup bahagia bersama kalian, aku tdk perlu mimpi lain... So sweeeeeet .... Klo jeong sma jung in mmg iman Πγª lbh kuat dech...beda sma Jung Min sma Ji han bayangin aja mereka asyik ML smpe subuh, tuch si Jeong kedinginan nungguin dluar... I Love u Jeong... Hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkww.. iyaa betul betul betull.. setubuhhh eh setujuhhh

      Delete
  9. akhirnya jung in besuara juga,,,
    jung in cantik begitu seterusnya yah, jeong bahagia kok sama kamu,,,

    no matter what happens, jeong will remain by your side
    because he love u verry much,,,,

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.