"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, January 14, 2013

Ninth Drama - Chapter 42



Jung Min, Jung Nam dan Nyonya Park sedang duduk diruang tamu, di hadapan mereka Ji Jeong sedang menjelaskan rencana masa depannya nanti setelah menikah dengan Jung In. Nyonya Lee dan Ji Han sedang mengambilkan makanan penutup untuk mereka. Pertemuan hari itu adalah dalam rangka Ji Jeong melamar Jung In kepada keluarganya, dua minggu setelah Jung In kembali ke Seoul.


Jung In sedang ke kamarnya mengambilkan brosur contoh-contoh gaun pengantin untuk diperlihatkan pada Ji Jeong. Selama dua minggu ini Jung In tinggal dirumahnya dan telah berhenti kuliah untuk sementara karena kehamilannya yang parah, dalam sehari dia bisa mengalami muntah-muntah tak kurang dari sepuluh kali dan menyebabkan tenaganya terkuras habis.

Namun hari ini Jung In begitu bersemangat karena bisa bertemu dengan Ji Jeong dan menerima lamaran dari keluarganya. Sebuah cincin emas cantik telah bertengger di jari manisnya, mengukuhkan tempatnya disamping Ji Jeong, sebagai istrinya, sebagai pendamping hidupnya.

Mereka sedang berbincang-bincang mengenai persiapan pernikahan Ji Jeong dan Jung In sebulan lagi ketika bi Ra Ni berteriak-teriak memanggil Nyonya Park dari arah lantai dua. Mereka semua menjadi panik, Ji Jeong berlari pertama dari kerumunan itu, menuju kamar Jung In. Gadis itu sedang terkapar di lantai kamarnya. Brosur-brosur gaun pengantin berserakan disekitar tubuhnya.

“Jung In!!!!” teriak Ji Jeong, dia mengangkat tubuh Jung In ke atas ranjang, wajahnya tak kalah pucatnya dengan wajah Jung In yang tak sadarkan diri ditangannya.

Kemudian Jung Nam menyusul masuk, diikuti Jung Min dan Nyonya Park. Ji Han dan ibunya dilarang untuk ikut naik ke atas karena perut Ji Han yang sudah membusung dan susah bergerak.

“Panggilkan ambulans!” teriak Jung Min pada Jung Nam yang kemudian berlari menuju tempat telephone mereka.

“Tidak.. Kita akan membawanya sekarang. Kita tidak bisa menunggu lagi. Jung In.. dia..mengeluarkan darah..” suara Ji Jeong bergetar saat mengangkat telapak tangannya yang berlumuran darah yang keluar dari paha Jung In.

Dia merasa tak bisa bernafas lagi, seluruh tubuhnya terasa dingin. Hanya sentuhan tangan Jung Min yang mampu menyadarkannya dari rasa terguncangnya.

Ji Jeong kemudian mengangkat tubuh Jung In yang pingsan ke atas mobil yang dikendarai Jung Nam, Nyonya Park dan Jung Min mengendarai mobil lain, sementara Ji Han dan Nyonya Lee tidak diizinkan untuk ikut. Jung Min tak ingin istrinya ikut terguncang dan membahayakan janin dalam kandungannya.

Dari kaca spionnya, Jung Nam dapat melihat wajah Ji Jeong yang terguncang, laki-laki itu terdiam kaku di kursi belakang mobil, memeluk tubuh Jung In dalam pangkuannya. Jung Nam tidak memiliki kata-kata untuk menghiburnya, dia sendiri merasa tak berdaya melihat adiknya seperti itu.

Jung Min tiba dirumah sakit terlebih dahulu dan telah meminta dokter dan perawat untuk menunggu kedatangan Jung In. Dengan berat Ji Jeong membaringkan tubuh Jung In di atas troli rumah sakit dan dokter mendorong troli itu menuju ruang pemeriksaan. Ji Jeong merasa tubuhnya tak bertulang, begitu lemas dan tak sanggup bergerak lagi. Wajahnya seputih kapas, matanya seolah menunjukkan tubuhnya telah tak bernyawa lagi.

Jung Min mendekatinya, menepuk pelan punggungnya.

“Kamu harus kuat, saat Jung In sadar, kamulah yang pertama akan dilihatnya. Bila kamu seperti ini, kamu hanya akan menghancurkan dia. Kuatlah Ji Jeong” senyum simpati diberikan oleh suami adiknya itu.

Ji Jeong mengerti, dia paham apa yang Jung Min katakan padanya. Namun kakinya begitu sulit untuk digerakkan. Dia merasa kakinya begitu berat seolah-olah telah tertanam didalam bumi dan tak bisa diangkat lagi. Berulang-ulang ditariknya nafasnya dalam-dalam dan dihembuskan, barulah kemudian dia mampu berjalan mengikuti Jung Min dan keluarganya menuju tempat perawatan calon istrinya, yang baru saja dilamarnya.

Ji Jeong memandang ke dalam ruang pemeriksaan, dimana dokter dan para perawat sedang memeriksa kondisi tubuh Jung In, memasangkan infus pada tubuhnya yang lemah, memeriksa denyut jantung dan tekanan darahnya, membersihkan darah yang mengalir dari belahan pahanya yang membasahi dress panjang yang dipakainya.

Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Ji Jeong menggigit bibirnya menahan isakan tangis yang memaksa untuk keluar. Jung Min dan Jung Nam mendekatinya.

“Bila kamu butuh pundak kami, kami siap, Ji. Kamu tak perlu berpura-pura tegar sepanjang waktu” Jung Nam menepuk bahu sahabatnya. Jung Min hanya bisa menghela nafas menyetujui ucapan adiknya.

“Terima kasih. Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan tanpa kalian” jawab Ji Jeong lemah.

“Kita keluarga, Ji. Kita saling membantu, kamu adalah calon adik iparku.. er.. kakak iparku. Jung In membutuhkanmu, kamu harus kuat saat itu tiba. Sekarang tak akan ada yang mengejekmu bila kamu menangis tersedu-sedu” kata Jung Min.

Ji Jeong meringis “Aku tak akan menangis di depan kalian” sebuah senyum dipaksakan muncul diwajahnya.

“Terima kasih” katanya lagi.

Ketika mereka kembali ke tempat duduk dan menunggu, seorang dokter keluar dari ruangan itu dan memanggil keluarga terdekat dari Jung In.

“Kami semua keluarga terdekatnya. Katakan bagaimana keadaan Jung In, dokter?” tanya Ji Jeong pada dokter itu.

“Sekarang kondisi nona Jung In mulai stabil, namun dia masih lemah karena kehabisan banyak darah. Kami sedang mengusahakan agar nona Jung In dapat beristirahat lebih lama sehingga tidak mempengaruhi keadaannya saat terbangun nanti. Dan siapakah suami dari nona Jung In?” tanya dokter lagi, memandang setiap wajah yang berdiri di depannya.

“Saya, dokter” Ji Jeong maju ke depan, wajahnya masih terlihat pucat.

“Saya turut bersedih, kami tidak bisa menyelamatkan janin dalam kandungan nona Jung In. Dia terlalu lemah sehingga mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya...” dokter masih melanjutkan ucapannya namun Ji Jeong sudah tak bisa mencerna setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu.

Dia merasa dunia disekelilingnya melayang, matanya berkunang-kunang, dan tubuh Ji Jeong pun roboh, jatuh ke belakang, tak sadarkan diri.

Saat tersadar dia sedang berbaring di atas ranjang lain disamping Jung In, mereka berada di dalam satu ruangan. Jung In sedang memandanginya, dia masih terlihat pucat namun senyum simpul dibibirnya tetap disunggingkan untuk Ji Jeong.

“Kamu sudah sadar?” tanya Jung In lemah.

Ji Jeong memandang ke sekelilingnya, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.

“Dimana yang lain?” tanyanya sembari turun dari ranjangnya dan mendekati Jung In dan mencium keningnya.

“Kak Jung Min dan ibu sudah pulang, kak Jung Nam baru saja keluar, ingin merokok katanya” jawab Jung In.

“..Bagaimana keadaanmu, Jung In?” suara Ji Jeong bergetar menanyakan hal itu pada Jung In.

Dia merasa begitu berat untuk menanyakan hal itu, mengetahui anak mereka telah tiada. Tangis gadis itupun turun.

“Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga anak kita, Jeong..” Jung In menutup wajahnya, merasa begitu lemah karena kehilangan buah hati mereka.

Ji Jeong tidak berkata apa-apa, dia merengkuh tubuh Jung In ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama, hanya terdengar isak tangis Jung In karena Ji Jeong menangis dalam diam. Hanya air matanya yang menetes membasahi pipinya.

“Semua akan baik-baik saja, manis... Yang terpenting kamu harus pulih kembali. Kita harus kuat, ya?” ujar Ji Jeong pelan. Dia mengecup rambut Jung In dan membelai punggung gadis itu.

Jung In mengangguk, merasa damai berada dalam hangatnya pelukan calon suaminya. “Aku mencintaimu, Jeong..” bisiknya.

“Aku juga mencintaimu, Jung In. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu” mereka kemudian tertidur dalam posisi berpelukan hingga keesokan hari diatas ranjang perawatan Jung In.

Jung Nam yang masuk ke ruangan itu kemudian keluar lagi untuk memberikan pasangan itu waktu untuk mereka sendiri.

~~~~

Dua hari kemudian Jung In diperbolehkan untuk pulang. Dia masih berada dalam perawatan ibunya, namun gadis itu mengurung diri dikamarnya dan jarang mau keluar. Ji Jeong telah kembali ke Seoul untuk melanjutkan pekerjaannya.

Meski dia mencoba untuk melupakan kehilangan yang dideritanya, Ji Jeong tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dia akan bekerja dengan keras dan berhari-hari tanpa tidur hanya untuk memastikan pekerjaan itu segera selesai.


Dia akan menelphone Jung In sekali sehari menanyakan kabarnya dan memandangi handphonenya seharian, tak tahu harus berkata apa pada Jung In. Dia merasa bersalah padanya. Ji Jeong melampiaskan kesedihannya dengan bekerja mati-matian dan semakin jarang menghubungi Jung In. Sudah tiga minggu dia tidak menemui Jung In lagi. Jadwal pernikahan mereka yang tinggal satu minggu lagi pun semakin tidak jelas kabarnya. 


13 comments:

  1. Jeong, ada apa dengan mu???
    jangan terlalu berlarut2 dalam kesedihan, kasihan Jung In, dia butuh dirimu...
    semoga pernikahan mereka berjalan lancaaar...

    mbak shin setelah libur sehari ngasih kita shock terapi lagi dan galaaaaau...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... ntr yg eleventh malah dah kelar mer.. lg 1 chapter aja kelar dah.. T__T

      Delete
  2. sabar ya mas bro,mba bro. Kan bisa bikin lagi hhe
    kebut aja tiap malem hha
    jangan lupa sama pernikahan kalian ya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkkwkwkwkw balapan kali sist... pake acara ngebut segala... lol

      Delete
  3. kesian -_- sabar ya pasti cepet dapet penggantinya kok, ji jangan cuek gitu donk ah bukannya kemauanmu ya >,< jangan terlalu terpuruk dengan keadaan... semangat ji *senderan di bahu ji jeong* :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahahaha... kebalik sissttt mustinya ji yang senderan dibahumu.. lol.. wkwkwkwkkw

      Delete
    2. oiya ya.. hahaha.. kan terobosan baru sist :D

      Delete
  4. hha kan emang 'balapan' mba.
    hari ini 2 chap kan mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, ntr lg 1. tp 9th drama jg udah mau selesai kok sist... hehehe.. 11th drama jg ntr aku posting endingnya

      Delete
  5. ji jgn lupain jung in...

    (plakkk tampar pipi ji jeong biar ingat jung in)
    mbak shin semangat :-*

    ReplyDelete
    Replies
    1. adoww.. sakit katanya cin.. ahahahha

      makasi sista.. cemungudh!!

      Delete
  6. Cup... Cup... Sabar ya Ji Jeong, jgn sedih...nti kn bsa bkin lagi, maka Πγª jgn dcuekin si Jung in..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya sist.. Bisa dibikin lg nanti yg banyak.. :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.