"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 15, 2013

Ninth Drama - Chapter 43



Sementara itu di Ulsan, Jung Min dan Jung Nam sedang membicarakan hubungan Ji Jeong dan Jung In dan apa yang akan mereka lakukan pada mereka.

“Kamu sudah mendengar kabar dari Ji Jeong lagi? Aku tidak bisa menghubunginya, dia tidak menjawab panggilanku, pesan yang aku kirimkan pun hanya dibacanya. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki itu. Dia berubah” keluh Jung Nam pada kakaknya.


Jung Min tak bereaksi banyak, kepalanya berpikir keras.

“Mungkin bila aku berada di posisinya, aku akan berbuat hal yang sama” senyum Jung Min miris.

“Tapi itu salah dan dia tahu dia salah, dia semestinya lebih memperhatikan Jung In dan berhenti dari pekerjaan itu. Dia hanya membuat Jung In semakin depresi, mana janjinya yang akan selalu ada untuk Jung In?” Jung Nam semakin emosi. Ingin rasanya dia menghantam kepala Ji Jeong hingga laki-laki itu kembali seperti dirinya yang dulu.

“Mereka tetap harus menikah, tak akan kubiarkan Ji Jeong melarikan diri dari tanggung jawabnya. Dia telah membuat Jung In hamil, jangan karena kemudian Jung In keguguran lalu dia bisa pergi begitu saja seolah tak ada yang terjadi” geram Jung Min, mulai tertular emosi adiknya.

“Aku ingin menghajarnya, ingin kuremukan tulangnya bila dia masih seperti ini” kesal Jung Nam.

“Siapa yang ingin kamu hajar?” terdengar suara Ji Jeong dari belakang mereka. Dia membawa seikat bunga mawar yang masih terbungkus rapi.

“Ji? Kapan kamu tiba?” sapa Jung Nam pada sahabatnya.

“Baru saja, aku langsung menuju kesini dan belum sempat bertemu dengan ibuku” jawabnya sembari membalas anggukan Jung Min padanya. “Ji Han baik?” tanyanya pada Jung Min.

“Baik, dia sedang beristirahat. Mengeluh kakinya pegal” Jung Min tersenyum kecil mengingat istrinya.

“Baiklah, aku akan menemui Jung In. Aku akan berbicara dengan kalian nanti” Ji Jeong tersenyum dan meninggalkan kakak-kakak kekasihnya terpana melihatnya.

“Aku tak menyangka dia akan kesini, dan dia terlihat lebih baik. Persis seperti Ji Jeong yang aku kenal” decak Jung Nam kagum.

“...Aku akan melihat Ji Han dulu” kata Jung Min dan berlalu meninggalkan Jung Nam yang merengut karena ditinggal sendirian.

Jung Nam pun masuk ke dalam kamarnya untuk menghibur diri, membuka internet dan melihat-lihat situs porno kesukaannya.

~~~~

“Kamu membawakanku bunga?” tanya Jung In pada Ji Jeong.

Dia menyambut laki-laki itu dengan bahagia. Telah merindukan Ji Jeong dan menangis karena laki-laki itu tak kunjung datang menemuinya. Sejak dia keguguran, Ji Jeong begitu jarang menghubunginya apalagi menemuinya. Jung In merasa sedih, namun tak ingin mendesak Ji Jeong untuk bersamanya.

Jung In merelakan bila Ji Jeong akan meninggalkannya karena anak mereka telah tiada. Dia tak akan menyalahkan laki-laki itu meski dalam hatinya begitu sakit dan perih membayangkan Ji Jeong memilih pergi untuk meninggalkannya.

Di depan Ji Jeong, Jung In mencoba untuk menyembunyikan tangisannya namun dia tak dapat menipu mata laki-laki itu.

“Ya, kamu suka?” tanya Ji Jeong pelan, dia duduk di sisi ranjang, dimana Jung In duduk sembari membaca novel yang terbalik tanpa disadarinya.

Nampaknya Jung In sedang menangis saat Ji Jeong datang dan mencoba untuk menyembunyikannya dengan cara itu. Namun Ji Jeong tidak berkata apa-apa. Dia hanya memberikan senyuman terbaiknya tanpa menyinggung mata sembab Jung In.

Jung In mengangguk, mengucapkan terima kasih padanya.

“Kamu tidak bosan dikamar seharian? Hari begitu cerah. Apa tidak ingin berjalan-jalan diluar denganku?” tanya Ji Jeong padanya.

“Tidak.. Aku takut kena matahari, badanku langsung lemas bila melihat terik sinar matahari” jawabnya sedih.

“..Kamu sudah makan? Sudah bisa makan yang banyak? Apa masih sering muntah-muntah lagi?” tanya Ji Jeong cemas.

“Sudah tidak lagi, hanya kadang-kadang aku merasa mual tapi tidak sampai muntah. Dan selera makanku juga sudah membaik. Aku bisa makan satu piring sekarang” jawab Jung In malu.

Ji Jeong bernafas lega. “Syukurlah. Aku ingin kamu segera sembuh. Kita bisa kembali ke Seoul dan kamu bisa melanjutkan kuliahmu lagi”

“...Iya.. Aku akan melanjutkan kuliahku” jawabnya sedih. Jung In tidak berani menyinggung tentang hari pernikahannya dengan Ji Jeong yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Dia bahkan tidak memiliki gaun pengantinnya.

Ji Jeong mengerti kekhawatiran Jung In. Dia memeluk tubuhnya yang mulai bergetar karena menahan isakan tangisnya. Kemudian dipegangnya dagu gadis itu, mengunci tatapan mereka.

“Jung In-ah.. Aku belum pernah mencintai seseorang sebelumnya. Saat cinta itu datang, aku tahu hanya kamulah satu-satunya wanita yang akan aku cintai hingga aku mati. Meski perjalanan kisah kita seperti ini, aku tetap mencintaimu. Aku tetap akan menikahimu. Tiada yang kuinginkan selain hidup bersamamu. Baik sekarang ataupun nanti, aku lebih memilih sekarang. Karena kamu adalah belahan hatiku, belahan jiwaku. Aku tak ingin terpisah denganmu lagi. Kita akan menikah seminggu lagi, aku sudah menetapkan hatiku. Tinggalah bersamaku di Seoul. Aku tak ingin berpisah lagi denganmu”

Semakin deraslah air mata yang turun dari mata Jung In. Mengangguk-angguk menyetujui ucapan Ji Jeong.

“Jangan menangis lagi, kamu tahu aku lemah melihatmu menangis. Cerialah Jung In.. Manisku.. Malaikatku..” senyum Ji Jeong padanya.

Jung In menggigit bibirnya, mencoba meredakan tangisannya.

“Sudah lama aku tidak merasakan bibir itu, Jung In..” wajah Ji Jeong kini begitu dekat dengan wajah Jung In. Nafasnya hangat menerpa pipi Jung In.

“Jeong..”

Ji Jeong bergerak naik ke atas tubuh Jung In, menindih tubuh gadis yang dirindukannya dan mulai menciuminya dengan bergairah. Jung In pun membalas ciumannya dengan tak kalah bergelora.

“Aku menginginkanmu, Jung In. Aku tak perduli bila ada yang mendengarnya. Aku akan memilikimu sekarang” bisik Ji Jeong sembari melepaskan pakaiannya satu persatu dan membuangnya jauh ke lantai, dia bahkan tak perduli bila pintu kamar Jung In tak terkunci, begitu pula Jung In. Mereka hanya ingin bercinta, melepaskan seluruh kerinduan dan kesedihan mereka.

Desahan demi desahan keluar dari bibir Jung In saat Ji Jeong menciumi seluruh tubuh Jung In yang telah telanjang dibawahnya, mereka telah sama-sama telanjang sepenuhnya.

Saat Ji Jeong menyatukan tubuh mereka terdengar lenguhan perlahan dari bibir Jung In, tangannya memeluk leher Ji Jeong dan kakinya memeluk paha laki-laki itu. Ji Jeong dengan penuh gairah bergerak semakin kencang diatas tubuh Jung In sebelum mereka berdua runtuh terbakar gelora orgasme yang menyerang bersamaan.


“Aku mencintaimu, Jung In. Selamanya..” mereka kemudian berciuman lagi. Jung In terlelap di dalam pelukan Ji Jeong hingga senja mulai terbenam diganti malam. 


11 comments:

  1. awww, walau agak ngeri,dan bingung namun tetap romantis

    ReplyDelete
    Replies
    1. apanya yg ngeri cin???? hahahahaa...

      Delete
  2. gitu donk ji,tetap semangat biar jung in nya gak bersedih dan meneteskan air mata trus....
    lanjutkan usaha bikin babynya...hhahahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahahahhahahahahahaha.....

      Delete
    2. mbg shin jangan ktwa aja...
      aku nungguin next chapternya ni.........

      Delete
  3. tetep ya ji berjuang terus.. semangat :D
    sist nasibnya jung nam gimana? kasian dia belum jelas -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah Jung Nam habis Jeong n Jung In selesai sist.

      TENTH DRAMA khusus untuk Jung Nam. ehhehehehe tunggu ya.. lol

      Delete
  4. akhirnya Ji Jeong pulang ke pelukan Jung In..
    semoga perjalanan menuju pernikahan lancar2 ya..
    dan untuk yg keguguran cepet ada gantinya..
    amiiiiiinn...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.