"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, January 29, 2013

Tenth Drama - Chapter 8



Keesokan malamnya, pada sabtu malam, Jung Nam kembali ke klab malam itu. Setelah dua malam lalu dipecundang oleh seorang penari striptease bernama Butterfly, Jung Nam tak bisa mengenyahkan gadis itu dari pikirannya. Dia mendapati dirinya selalu membayangkan tubuh gadis itu berada di atasnya, meliuk-liukan badannya dengan sensual di atas selangkangannya.

“Kamu datang tepat waktunya, Mr. Park” senyum si bartender yang telah biasa melayaninya.


Jung Nam menyunggingkan seulas senyum di bibirnya, memesan minuman seperti biasa.

“Kenapa kamu bilang tepat waktu?” tanya Jung Nam saat meneguk cairan dalam gelasnya.

Dengan penuh makna, si bartender mengacungkan telunjuknya pada panggung tempat beberapa penari striptease telah mulai menari-nari dengan liar. Jung Nam memicingkan matanya, mencari-cari sosok tubuh yang telah dihafalnya. Saat tak menemukan sosok tubuh itu, Jung Nam memalingkan wajahnya pada si bartender.

“Kenapa dia tak ada disana?” tanya Jung Nam.

“Dia..siapa?”

“..Butterfly”

“Owhh..” angguk bartender penuh arti. “Butterfly libur hari ini dan kemarin, Mr. Park. Dia bekerja kembali esok malam. Butterfly bekerja lima hari dalam seminggu, minggu hingga kamis”

Jung Nam tak menanggapi ucapan si bartender, setitik kekecewaan merayapi hatinya. Dia ingin bertemu dengan Butterfly lagi, ingin mengenal gadis itu lebih dekat lagi. Ingin melihat wajah aslinya dibalik riasannya yang mencolok nan samar karena sorotan lampu remang-remang dari klab malam ini. Jung Nam ingin melihat wajah gadis itu tanpa riasan tebal, tanpa lampu-lampu redup eksotis. Dia ingin melihat gadis itu layaknya wanita kebanyakan, wanita normal. Seperti apa keseharian gadis itu.

“Kamu tahu dimana dia tinggal?” tanya Jung Nam pada si bartender. Dia nekat bertanya seperti itu, dia tak ingin melakukan hal lain lagi disini. Tak ada Butterfly malam ini, tak ada gunanya dia berada disini.

Sudah pukul lima dini hari saat Jung Nam mengendarai motornya menuju puncak bukit, menatap pada sinar fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur. Dia merasa begitu kesepian, memikirkan kakaknya Jung Min telah memiliki Ji Han dalam hidupnya, adiknya Jung In kini telah berbahagia, memiliki seorang Ji Jeong yang akan selalu melindunginya.

Sedangkan dirinya, merenung seorang diri menatap mentari pagi, dalam udara dingin nan sunyi, hanya ditemani suara kicauan burung-burung yang bertengger pada dahan-dahan pohon dibelakang punggungnya. Pemandangan perkotaan di bawahnya dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit dan tower-tower menjulang memenuhi cakrawala. Jembatan-jembatan layang dengan jalan-jalan tol yang lengang karena jarangnya mobil yang lalu lalang dalam pagi buta yang masih remang.

Jung Nam menghembuskan nafasnya, kesedihan merapayi hatinya. Setetes air mata turun di pipinya kemudian. Udara pagi membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Entah mengapa dia teringat pada Butterfly, begitu merindukan gadis yang bahkan tak dikenalnya. Tatapan mata Butterfly mengingatkannya pada dirinya, tatapan yang menyembunyikan banyak rahasia dalam hati, tatapan yang berusaha tegar diluar namun rapuh di dalam.

Saat dia begitu ingin memeluk tubuh seseorang, hanya memeluknya, menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada pundak seorang wanita yang akan mengelus punggungnya, memberikannya kekuatan dan penghiburan, meski mereka hanya duduk diam membisu, Jung Nam memikirkan Butterfly.

Tapi tak ada sosok wanita seperti itu bagi Jung Nam. Laki-laki ini larut dalam kesendiriannya. Dia merindukan seseorang yang bisa ada disampingnya, yang memahami dirinya seutuhnya, luar dalam.

Sekali lagi Jung Nam menghembuskan nafasnya, lalu berlalu dari bukit itu menuju rumah keluarganya di Ulsan. Dia memutuskan kembali ke keluarganya pada akhir pekan. Mungkin keponakannya yang mungil dapat membantunya menghibur hatinya yang gundah.  

~~~~

Sekembalinya dari Ulsan, Jung Nam menjalani hari-harinya seperti biasa. Siang ini Jung Nam sedang berjalan-jalan di mall untuk membelikan hadiah mainan untuk keponakannya. Jung Min selalu menyindirnya karena tak pernah membawakan mainan apapun untuk Yong Jin. Dia tidak tahu harus membeli mainan dimana, akhirnya dia menginjakan kakinya di mall ini.

Tak lama kemudian dia melihat sebuah toko mainan besar di pojok ramai mall itu. Banyak orang lalu-lalang di depannya, pengunjung keluar masuk dan beberapa orang melihat-lihat mainan terbaru dari etalasi toko. Jung Nam ikut berdiri disana, melihat jenis mainan terbaru yang cocok untuk keponakannya yang berusia beberapa bulan.

“Mainan apa yang harus aku belikan untuk Yong Jin-ah? Memangnya dia mengerti dengan mainan itu?” tanya Jung Nam bingung.

Seorang anak kecil disampingnya menjawab pertanyaannya tanpa diminta. “Ajusshi.. Anda mau membelikan anak anda mainan? Umur berapa anak anda?” tanya anak kecil itu.

Jung Nam menoleh pada sumber suara itu, seorang anak kecil berusia sekitar sembilan tahun tersenyum padanya. Dia sedang menenteng tas sekolahnya. Jung Nam melihat jam tangannya, baru pukul sebelas dan anak ini sudah berkeliaran di mall. Jung Nam menjadi geram, dia paling tidak suka dengan anak yang membolos.

“Ya! Kamu murid kelas berapa? Kenapa tidak sekolah?” tanya Jung Nam, dia meletakan tangannya di kepala si bocah malang itu.

“Auh! Ajusshi kamu menyakitiku. Aisshh.. Aku sudah pulang sekolah, aku pulang pukul sepuluh. Puas?” jawab bocah itu sebal.

“Ya! Kamu tidak berbohong kan? Lalu kenapa kamu disini, bukannya langsung pulang kerumah? Kamu anak nakal.. aish..” Jung Nam mulai geregetan pada bocah ini.

“Ya..ya.. ajusshi.. Tidak pernah ada larangan anak kecil sepertiku tidak boleh ke mall, kan? Aissh... Daritadi aku hanya menanyakan satu hal dan belum kamu jawab, kamu malah menanyakanku bermacam-macam pertanyaan yang sudah kujawab semua. Kamu tidak seru. Aku mau pergi. Huh..” bocah itupun memutar tubuhnya, beranjak meninggalkan Jung Nam. Tapi Jung Nam menarik kerah jaket yang dipakai bocah itu.

“Ya..ya.. tunggu, mau kemana kamu?”

“Aku mau pulang, ada orang rese menggangguku di mall” jawab si bocah galak. Jung Nam menjengitkan sudut bibirnya.

“Ya! Mau dijitak?” gertak Jung Nam.

“Oh..aku takyuutt...” ledek bocah itu.

“Aishh.. anak kecil ini! Aku tak sabar lagi” Jung Nam pun menarik telinga si bocah dan membawanya ke pinggir.

“Aahh.. arghh.. Jangan telingaku, sakit. Ajusshi.. maaf..maaf.. aku tak akan meledekmu lagi, maafkan aku, tolong lepaskan telingaku” pinta bocah itu kesakitan, meski sebenarnya tarikan tangan Jung Nam pada telinganya tidak menyakitkannya. Bocah itu sungguh bisa berakting.

Jung Nam berkacak pinggang, si bocah menggosok-gosokan telinganya yang merah. Nampaknya dia memang kesakitan.

“Ya, siapa namamu?” tanya Jung Nam tertawa, dia mulai menyukai bocah ini.

“..Kenapa kamu ingin tahu namaku?” elak si bocah.

Jung Nam mengangkat tangannya, mencoba menakuti si bocah dengan berpura-pura memukulnya. Si bocah pun menutup kepalanya dengan tas gendongnya.

“Ya.. Aku menyerah. Aku Ho Min. Kim Ho Min” jawabnya ketus.

“Kim Ho Min? Dimana rumahmu? Apa yang kamu lakukan di mall sebesar ini seorang diri? Mana orang tuamu? Apa kamu disini sendirian?” tanya Jung Nam tanpa henti.

“Ya, ajusshi.. Bagaimana aku bisa mengingat semua pertanyaanmu? Aku hanya ingat kata terakhir yang kamu bilang” jawab Ho Min merengut.

“Jizz.. Kamu sendirian kesini?” tanya Jung Nam akhirnya.

“..Ya, aku sendiri”
“...Kamu tidak takut? Dimana orang tuamu?”

“Tidak, aku sudah sering kesini seorang diri. Orangtuaku.. Aku tidak tahu” jawab Ho Min sedih. Jung Nam menangkap kesedihan bocah yang baru dikenalnya ini.

“Ehm.. Apa yang kamu lakukan di etalase jendela toko itu?” tanya Jung Nam mengalihkan pembicaraan, dia tahu kapan saatnya menukar topik.

Ho Min bersemangat lagi, namun sedetik kemudian dia bersedih lagi. Jung Nam terlihat bingung.

“Wae? Kenapa?” tanya Jung Nam tak sabar. Anak kecil ini membuatnya bertanya-tanya dan ingin mengetahuinya lebih jauh. Dia tidak tahu mengapa dia begitu ingin tahu mengenai bocah bernama Ho Min ini.

“Tidak apa-apa. Aku hanya mengagumi mainan disana. Tapi aku tidak sanggup membelinya, aku tidak ingin menyusahkan Noona. Noona sudah banyak berkorban untuk menghidupi kami” jawab Ho Min tegar. Jung Nam bersimpati pada anak kecil ini dan Noonanya yang bahkan tak dilihatnya.

Jung Nam mengajak Ho Min duduk dan membelikannya sekaleng minuman soda dari mesin penjual minuman disamping mereka.

“Nih..” Jung Nam menyodorkan kaleng minuman yang telah dibukanya untuk Ho Min.

Ho Min menerima minuman kaleng itu dengan senang hati.

“Kamsahamnida..” Jung Nam hanya mengangguk.

“Jadi.. Katakan padaku, berapa umurmu?” tanya Jung Nam lagi. Dia merasa memiliki waktu banyak untuk mengobrol dengan bocah ini, entah mengapa semua beban yang dirasakannya menghimpit di dadanya kini sedikit terangkat setelah berbicara dan mendengarkan Ho Min kecil ini.

“Aku sembilan tahun” jawab Ho Min sambil memainkan kaleng minumannya. Dia menatap lubang kaleng itu dengan penuh perhatian.

“Noona mu? Kalian hidup bersama? Bekerja dimana Noonamu?” tanya Jung Nam lagi. Dia sangat tertarik untuk mengetahui kehidupan Ho Min dengan Noona nya yang dikatakannya telah berkorban begitu banyak, Jung Nam menyukai orang yang bekerja dengan gigih, kisah hidup mereka yang berjuang dengan keras tanpa menyerah menyemangati jiwanya yang mulai tak tentu arah.

“Aku tidak tahu Noona kerja dimana. Noona baru kelas dua SMU, dimana Noona bisa bekerja?” Ho Min bertanya kembali pada Jung Nam.

“Ya, tadi bukannya kamu bilang Noonamu berkorban banyak untukmu?” Jung Nam merasa kesal karena Ho Min memutar pertanyaannya.

“...Noona bekerja banyak hal. Sejak orang tua kami semakin tidak perduli, Noona sudah bekerja dimana-mana. Restoran, menjual tiket di kebun binatang, menyebarkan browsur, menjadi cleaning service, mengantarkan makanan, kamu tahu? Yang mengendarai motor membawa makanan ke kantor-kantor atau rumah-rumah? Noona bekerja siang malam agar bisa membeli sebuah apartemen untuk kami. Kemudian kami akan tinggal disana, bebas dari pertengkaran ayah dan ibu” jawab Ho Min senang, wajahnya begitu cerah saat menceritakan mimpinya.

Jung Nam merasa terenyuh dengan perjuangan kakak perempuan dari bocah ini. Zaman keras seperti ini, setiap orang memang dituntut untuk bekerja keras bila tidak ingin terlindas. Apalagi di usianya yang masih muda.

“Eh? Umur berapa kamu bilang Noonamu tadi?” tanya Jung Nam lagi.

“Aku belum ada bilang, kamu tidak bertanya tadi ajusshi”

“Ya! Sekarang kan aku bertanya”

“Wae? Kenapa memangnya kamu ingin tahu umur Noonaku?”

“Jiss.. Memang tidak boleh tahu?” tanya Jung Nam balik.

“..Boleh, tapi.. Apa kamu ingin berpacaran dengan Noonaku?” Jung Nam tersedak kopi yang diminumnya.

“Ya!!” bentaknya. Sebelum dia sempat melanjutkan ucapannya, Ho Min dengan wajah murung menatapnya galak.

“Noonaku masih muda, ajusshi tidak boleh mendekati Noonaku”

Jung Nam tak mampu berkata-kata. Dia kalah suara dengan bocah kecil ini.

“Aishhh.. bocah percaya diri. Siapa yang bilang aku akan pacaran dengan Noonamu? Paling Noona mu jelek seperti mu” jawabnya asal. Jung Nam memperhatikan wajah Ho Min, dia tidak jelek, anak kecil ini tampan untuk bocah seusianya.

Ho Min merengut. “Aku memang jelek, tapi Noona sangat cantik. Kamu tidak boleh jatuh cinta pada Noona. Noona baru tujuh belas tahun” jawab Ho Min dengan bangga.

Jung Nam tertawa terbahak-bahak. Menepuk pundak Ho Min dan merangkul bahunya.

“Ya, Kim Ho Min? Apa kamu kira aku penikmat daun muda?”

Ho Min mengerucutkan mulutnya. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab kelakar Jung Nam. Dia merasa senang Jung Nam tak mungkin memacari Noonanya.

“Aigoo.. Hari ini benar-benar menyenangkan. Bertemu bocah menarik sepertimu. Karena aku senang, maka aku akan membelikanmu mainan yang kamu inginkan itu. Ayo..” Jung Nam berdiri, menyodorkan tangannya untuk dipegang Ho Min. Bocah itu menatap tangannya kebingungan.

“Ayo.. bukankah kamu ingin memiliki mainan itu? Aku akan membelikanmu karena kamu sudah membuat hatiku senang” senyum tulus terukir di wajah tampan Jung Nam. Ho Min pun ikut tersenyum dan menyambut tangan laki-laki di depannya ini.

“Benarkah? Gomawo..” mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam toko mainan. Jung Nam membelikan Ho Min mainan yang dikaguminya dari dulu.

Jung Nam dengan senang hati mengantarkan Ho Min ke depan rumahnya. Saat dia hendak pergi, Ho Min menarik lengan jaket kulitnya. Karena takut tidak mendengar suara Ho Min, Jung Nam lalu mematikan mesin kendaraannya.

“Wae? Kenapa lagi?” tanya Jung Nam.

“Ajusshi.. Berapa umurmu?” tanya Ho Min.

“Ya.. Aku tak perlu memberi tahumu kan?” bibir Jung Nam mengerucut, dia tidak suka ditanyai mengenai umurnya, terlebih oleh bocah kecil nakal di depannya.

“Ayolah.. cepat.. pale..pale..”

“..Aku dua puluh lima. Kenapa?” jawab Jung Nam bingung.

“Dua puluh lima.. tujuh belas.. Dua puluh lima dikurangi tujuh belas.. sama dengan..delapan? Aaahhh... Park Jung Nam-shi..”

“Apalagi?” tanya Jung Nam dengan sabar menunggu Ho Min selesai dengan hitung-menghitungnya. Mereka telah bertukar nama sewaktu di Mall. Jung Nam memutuskan memberikan kartu namanya pada si kecil Ho Min, bila nanti dia dan Noonanya membutuhkan bantuannya Jung Nam dengan senang hati akan menolong.

“Aku mencabut ucapanku tadi. Kamu boleh berpacaran dengan Noonaku” lalu bocah itu melambaikan tangannya pada Jung Nam, meninggalkan laki-laki itu tak sanggup berbicara sampai beberapa detik kemudian.

“Hah? Apa dia bercanda? Secantik apapun Noonanya, aku tak mungkin tertarik pada anak kecil. Memangnya aku Jung Min dan Ji Jeong? Lolita kompleks?” Jung Nam tertawa terbahak-bahak kemudian menyalakan kendaraannya lagi dan berlalu dengan kencang dari jalan itu.

Dalam perjalanannya keluar dari gang sempit itu, Jung Nam berpapasan dengan Chae Moon dalam seragam sekolahnya, mereka tidak saling mengenal dan berlalu tanpa memperhatikan wajah masing-masing. Saat suara motor Jung Nam telah menggerung di kejauhan barulah Chae Moon berkeinginan untuk menoleh kebelakangnya.

“Suara apa itu? Kenapa ada orang mengendarai motor sebesar itu dijalan gang sesempit ini? Aneh” tanyanya pada Mu Ri sahabatnya. Mu Ri mengangkat bahunya, dia sedang asyik dengan es krim ditangannya dan tak memperhatikan suara motor yang terdengar.

“Ah, sudahlah. Bukan urusanku” dengan itu Chae Moon dan Mu Ri berpisah menuju rumah mereka masing-masing. 


40 comments:

  1. hha
    sebentar lagi jung nam ssi.. Kamu akan bergabung dgn 2 org sodaramu wkwkwkwk
    mba shin aku senang muah muah hha

    ReplyDelete
  2. Please jgn biarkan jung nam sama chae moon...
    Biarkan jung nam n rossy....
    Kangen sama rossy....

    ReplyDelete
    Replies
    1. why?? bukankah Rossy bitchy? heuehuee

      Delete
  3. Ak fans beratnya jung nam...wah bakalan ama siapa y?ak dukung si chae moon

    ReplyDelete
  4. Klo Jung Nam jdian sma chae Moon dia dpt Ɣªήğ plg muda ...kelas II SMU. Tpi Klo Rossy Ʊϑɑ̤̈̊ħ dewasa.. Ah jdi bingung milih Ɣªήğ mna. (Kok q Ɣªήğ bingung ya.. Hehehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkwkw... Jung Nam aja gak bingung ya.. :belum:

      Delete
  5. penasaran lanjutannya shin:-), jung nam baik yah tp hati-hati ho min tar kakakmu diembat sama jung nam ho.ho.ho

    ReplyDelete
  6. ma cemumun,lnjt lg dunk.mati penasaran ni,msh pnjg bgt prjalanan huhuh thx mba shin

    ReplyDelete
  7. Uwaaaah
    Akhirnyaaa~
    Kangenku ke jung nam terobati
    Hihiihihi
    Liat aja jung nam bakalan kemakan ama omongannya sendiri
    Huahahhahah

    ReplyDelete
  8. Kali ini aq setuju ma mbak fathy,aq gk rela bgt klo jung nam ma chae mon.
    Mbak shin...kpn sich rossy kang kluar dari persembunyian nya??
    Bikin adem panas menanti kelanjutan nya....hadeecchhhh!!
    Anyway good job mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasa... tokoh senior munculnya belakangan2. kasi yg muda dulu biar bersinar. hauhauuhauaa

      Delete
  9. wah...
    kayaknya ni ada penerusnya Jung Min. kekekekekek

    ReplyDelete
  10. lihat aja nanti tuh...jung nam menelan kata2nya sendiri.....hehehehehehehe..
    bilang jung min en je jiong lolita kompleks?????? dianya apa nanti ya.......huahahahahaha
    penasarannnnn...............

    ReplyDelete
  11. yaampuun.
    aq mulai jatuh hati sama ce mumun..
    klo jung nam sama ce mumun kan bagus ce mumun g usah cape2 kerja.
    biarlah rossy menjadi masa lalu yg indah.
    emang keluarga park ditakdirkan bwt jadi "lolita komplex"
    hohoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... yah, intinya cewek mah kl dah nikah gk usah cape2 kerja.. heuheue... kl ROssy kan dah kaya rasa ya ka? lol

      Delete
  12. Haha...
    restu dari adiknya dah dikantongin....

    ReplyDelete
  13. Haha...
    restu dari adiknya dah dikantongin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, asik kan.. gak perlu susah payah lg kyk jeong. lol

      Delete
  14. sebentar lagi jung nam akan bergabung dg grup lolita lol.

    ho min udah ngrestuin, tinggal menunggu takdir lg menemukan mereka...

    lanjutkan mbk shin...

    ReplyDelete
  15. hahahaha, Ho Min kecil kereeenn..
    mantep deh anak satu ini, pinter ngomong
    lawan yg sepadan untuk JungNam.. hihihi..

    chae moon, aku salut padamuu...
    aku tidak boleh kalah drmu, aku juga harus berjuang lbh keras lagi.. FIGHTING!!!

    mbak shiiin.. gomawoyoooo....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. eh merr. cemumun kan jd penari striptis tuh. km jgn ikut2an jg kyk dia ya.. wkkkwwwk ntr kan repot kl ketemu jung nam jg ^^>

      cheonmaneyoo.. :mdh2an gak salah ketik:

      Delete
  16. Mba shin, rossy itu bkn bitch...
    Kl dia bitch, dia bakal ƍäªk ngelepasin jung nam n jung min, dia jg kan msh perawan wktu sama jung nam....

    Jung nam n chae moon py karakter sama, apa ƍäªk pusing... Kn jodoh itu saling melengkapi kl karakter sama berarti ƍäªk saling melengkapi dong mba.... Ihhhh sotoy deh aku.... Maafkan aku mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha rossy bitch wkt godain tunanganya si jung min. lol..

      kl udah cinta.. tai kucing jg katanya serasa cokat cin.. lol...

      Delete
  17. aq suka sm chen moon tp tetep aja aku gk rela jung nam sm dia.
    chen moonnya cariin yg lain ja y mbg shin. *kedip2 mbg shin*

    ReplyDelete
    Replies
    1. kok bisa? :kedip2 jg mata kelilipan: wkwkww

      Delete
  18. wah Jung Nam kl jd cewenya lbh muda lg... Welcome Lolita Grup :D

    ReplyDelete
  19. Mbak shin @ Ada lanjutannya...udah dapat wangsit lom tuk lanjutin NIH cerita.... Hhhee
    Makasih.. Menantimu :)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.