"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, January 24, 2013

This is My Story - Chapter 3



Belum terlalu larut saat sepasang suami istri yang telah menjalani hidup berumah tangga selama lebih dari dua puluh tahun itu bertengkar. Sang suami telah beberapa tahun belakangan memiliki seseorang wanita simpanan lain yang dia sembunyikan dari istri dan keluarganya. Sepintar-pintarnya dia menyembunyikan kebusukannya, sang istri masih sanggup mengendus bangkai yang dibawanya setiap hari.

Ekonomi keluarga yang mulai membaik dan beberapa are tanah yang dijualnya, kemudian uang yang diperolehnya dia belikan kembali tanah di tempat lain. Meski demikian dia masih menyimpan harta yang tak sedikit. Harta yang dia katakan sebagai peninggalan leluhurnya untuknya. Harta yang bisa dia nikmati oleh dirinya sendiri bersama dengan orang-orang yang dia sukai.


Sejak seorang pria memiliki dompet yang tebal dengan berderet panjang jumlah angka dalam rekening tabungannya, mengendarai motor keluaran terbaru terkadang sebuah mobil mengkilap dan mewah untuk tahun itu dengan penampilan necis, klimis dan parfum semerbak khas sales-sales obat, dengan pekerjaan yang mampu disulapnya hingga dia bisa dengan bebas menggunakan jam kerjanya untuk melakukan hobbynya yang terlarang.

Ada yang mengatakan bahwa sang suami telah diguna-gunai sehingga dia selalu gelap mata dan berlaku kasar kepada keluarganya, hingga dia tega menelantarkan mereka dan pernah suatu ketika menantang sebuah pertarungan duel dengan benda-benda tajam karatan yang sanggup membuat dagingmu membusuk bila tertuas.

Mengetahui bahwa diri sebagai keluarga lebih direndahkan, diberikan prioritas terakhir dalam kehidupan sebagai istri dan anak-anak yang sewajibnya mendapat perhatian dan perlakuan yang paling mesra diseluruh dunia, hanya memiriskan hati dan menuangkan air mata yang tak terbendung saat keluarga mendengarnya.

Tak ada penyesalan, tak ada permintaan maaf. Yang ada hanyalah ego akan diri merasa berkuasa, dengan uang tebal dalam saku, dengan otot kekar membungkus tulang dan suara melengking menghujat bagi siapapun yang berani menantang adi dayanya dalam kerajaan kecil itu.

Sang suami, berlaku layaknya raja penindas keluarga dan berfoya-foya dengan musuh negeri. Siapa menantang akan siap untuk diklewang. Tak perduli darah daging sendiri, bila berani nyawa kan melayang.

Terlalu banyak hati teriris, air mata terkucur dalam isak-isak tertahan, dalam setiap doa dan hujatan hingga hati yang tadinya putih kini meragu akan hadiratnya.

Selalu terucap mengapa..mengapa dan mengapa? Apakah begitu berat menjadi manusia hingga nasib begitu lara. Sering merasa rendah diri saat mengintip kebahagiaan keluarga lain di depan mata, berkhayal seandainya hidup dapat kembali sepuluh tahun yang lalu, saat semua masih sederhana, saat semua canda tawa masih keluar dengan hati tulus dan kebahagiaan mutlak dari hati terdalam.

“Laki-laki berengsek! Mati saja kau! Aku laporkan kau pada atasanmu agar kau dipecat!!” maki sang istri dengan tangis keras dan putus asa, mencoba menahan kungkungan tangan suaminya. Sang anak dengan hati mendidih, tak berdaya menahan amarah menyaksikan pertengkaran terhina yang pernah didengarnya dalam hidup. Dia..hanya berusia lima belas tahun. Badan cungkring, kurus kering karena segala harta kekayaan hanya dikangkangi oleh raja tanpa mencurahkan sesen pun pada rakyatnya, pada keluarganya.

“Jangan kau campuri urusanku! Aku ceraikan kau, tahu rasa kau! Kembali kau kerumah burukmu itu!” balas sang suami memaki dengan murka.

“Laki-laki sialan! Sundal! Kau pengecut! Tega-teganya kau lakukan ini pada keluargamu!” tak ada yang bisa sang istri katakan. Tak ada kata yang sanggup membuka hati dan mata gelap sang suami yang masih dikuasai ego akan diri paling berkuasa, paling berdaya.

Kau akan merasa iba dengan sang anak bila kau tahu seberapa cepat detak jantungnya demi mendengar makian sang ayah pada ibunya, kau akan ikut marah bersamanya saat mengetahui betapa kedua tinjunya mengepal dalam genggaman, berharap diri seorang pria dan menghantam jatuh laki-laki yang tak kenal norma dan tata krama sebagai manusia.

Kau tak akan tahu seberapa sering dia berharap terlahir sebagai laki-laki agar mampu membela dirinya, membela ibunya, dan saat dia dewasa nanti akan menunjukan pada sang ayah bahwa dia lebih baik dari dirinya, jauh melampaui dirinya.

Matanya melotot, nadi-nadi dikepalanya berdenyut seakan tak kuat menahan lagi dan akan meledak dalam detik-detik mendatang. Dari lantai dua rumah, tempatnya berdiam diri mengintip pertengkaran itu, si anak dengan sekuat tenaga dan perasaan tak berdayanya sebagai perempuan akhirnya mencetuskan teriakan pamungkas dalam hidupnya, yang kadang disesalinya, dan kadang dipujanya, karena dia sanggup melakukannya.

“Berengsek kau!! Makan itu semua! Habiskan!!” teriak si anak histeris. Dia berhambur lari ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan melemparkan tubuhnya terisak-isak ke atas ranjang sambil sayup-sayup terdengar oleh pendengarannya teriakan sang ayah yang mengancam.

“Jangan kau ikut campur anak kecil!!”

Lalu sang ibu membela anaknya, anak yang meski tak memiliki kekuatan yang sanggup membantunya namun anak itu berani menantang sang raja meski tahu apa akibat dari perbuatannya.

“Diam kau! Dia berhak berkata seperti itu! Dia berhak!!! Kau bajingan!!”

Mengeluarkan semua isi hatinya, semua isi emosinya, menangis sekeras-kerasnya dengan suara tertahan tak ingin terdengar, sang anak merasa hidupnya telah tak berarti lagi. Mata bengkak karena tangisan yang tiada habisnya, hidung panas dan memerah layaknya pantat kera hingga tangisnya habis dan terisak-isak sesenggukan. Bersembunyi meringkuk dalam kamarnya yang gelap, di atas lantai dingin memegang kepala dan menarik-narik frustasi rambutnya yang pendek sebahu.

Diambilnya handuk mandinya, benda yang dia ketahui sanggup memberikan apa yang dia inginkan. Benda itu dilingkarkannya pada lehernya yang kecil, melilitkan dengan putus asa karena sudah tak ada masa depan yang bisa digenggamnya.

Segala cita-cita yang dulu dirangkainya kini buyar sudah, penopang hidupnya, teladan hidupnya telah dihancurkan. Bayang-bayang itu kini sirna, hanya tertinggal rasa putus asa, kemarahan, kebencian dan kesedihan serta kekecewaan pada diri yang tak mampu mandiri.

Ditariknya dengan kuat handuk yang melilit pada lehernya hingga segala nadi dan denyut dalam tubuhnya berdebar seribu kali lebih kencang, lebih cepat dan menyesakan tubuhnya. Kepalanya serasa hampir meledak, nafasnya terputus, ditahannya. Dia ingin mati! Saat itu juga! Dengan cara yang diketahuinya tak akan menyakitinya terlalu hebat. Dia tak ingin mengotori diri dengan darah yang tergenang pada nadinya, dia tak setangguh itu. Dia pengecut! Hanya dengan cara seperti itulah dia merasa mampu untuk pergi dari dunia ini.

Dia juga tak sanggup melemparkan dirinya dari lantai dua rumahnya ke atas beton paving dibawah yang mungkin akan memecahkan kepalanya tak berbentuk layaknya kelapa yang dilemparkan dari atap rumah.

Tapi tidak! Dia tidak mati! Dia terlalu takut untuk mati! Seandainya dia memiliki sedikit keberanian, dia akan membuka pintu kamarnya, berlari ke dalam garasi dan mengendarai motornya lalu menghantamkan dengan keras pada mobil atau tembok yang dilihatnya pertama kali. Dengan demikian dia akan mati tanpa menyadari kesakitannya.

Namun disanalah dia, menangis kembali dengan tersedu-sedu, menyadari kenyataan ini bukanlah mimpi. Menyadari hari esok yang harus di hadapinya. Berhadapan dengan sang raja yang siap untuk memvonis mati dirinya.

Sejak saat itu, tertanamlah kebencian dan luka mendalam pada lubuk hatinya, hingga kini.. Hanya kebencian yang terlalu mudah muncul ke permukaan hatinya. Membentuknya menjadi pribadi rendah diri, pengecut, egois, pemarah dan pendengki. 


21 comments:

  1. Alhamdulillah anak'a ƍäªk jd bunuh diri... Kalo ƍäªk, aku ƍäªk akan prnh mengenal'a. Membaca crta'a, berbicara walau hanya lewat g talk n ввм™....
    Wlw hy dg itu aku bs komunikasi dg nya, aku senang bs berkenalan dengannya...
    Tumbuh jd pribadi y∂n6 kuat juga anak'a....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hus hus siapa sih itu si anak?????

      Delete
    2. wuuaaa....
      mbak fathy n mbak shin bagi pin dong..*apalah ini kommentnya ga nyambung...hihihi..#maafkan saia...heheh

      Delete
    3. mbk sin boleh tau blog x fathy elyasari g
      mohon mbak

      tia

      Delete
    4. sist fathynya setahuku belum punya blog sist. kalau ada yang mau disampaikan, tulis aja di sini, nanti aku sampaikan ke orangnya langsung.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhaha are u sure with ur question Darl? why dont u read it once more? :D slowly..

      Delete
  3. Well,,,ku ralat,,,
    Sapa sesungguhny anak yg berambut pendek itu??
    emg serba salah,,
    Saat harta b'bicara,,,tiada daya & upaya bisa m'hentikanny,,
    be strong,,my dear,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D makasi sista.. anggap saja membaca sebuah karangan ilusi. :)

      Delete
  4. Seorang anak Чªήğ baru aku kenal dlm bbrp bulan....

    Cuma ƍäªk PD nya byk, titip salam u dia Ɣª mba....

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi salam nanti disampaikan kl ketemu dia lagi ya :D

      Delete
    2. oke deh nanti kl ketemu mbak novi aku sampaiin salamnya :)

      Delete
  5. ehmmm...komment yg serius..
    seorg anak yg punya keberanian,,hanya saja waktu belum mengizinkannya untuk mengungkapkan rasa beraninya hingga saat itu tiba,,dia lah anak yg terbaik utk ibunya,,yg selalu menyayanginya..

    *hug mbak shin...*jadi mewek deh saia nya...T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... ntar aku krim ke emailmu aja ya sist..

      Delete
  6. be stroger person darl,,,
    aku pernah mengalami hal yg mungkin sama n ada hal2 lain yg blm (aku berdoa cukup ak aja) orang lain dapatkan hingga merasa mati adl jalan terbaik namun ada jalan lain,,,
    jalan yg mungkin munafik tp cukup ntuk membuatmu memandang hidup lebih baik

    ReplyDelete
  7. always be here give u a support,,,
    give u a hug,,,,
    big hug,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks so much honn.. :another big hugs..:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.