"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, January 18, 2013

Betrayal In Motion 12th Drama - Chapter 2



Dua tahun yang lalu

“Perkenalkan Tuan Kim dan Nyonya Kim dari Shinnai Publisher, yang akan menangani urusan periklanan perusahaan kita”

Dengan bosan Jin Ho mengangkat wajahnya dari tumpukan pekerjaan di atas mejanya. Ayahnya membawa pemilik Shinnai Publisher menemuinya, memang dirinyalah yang akan berurusan dengan mereka. Jin Ho ditugaskan oleh ayahnya, Presiden Direktur Han untuk memperbaharui iklan perusahaan mereka untuk tahun ini.


Matanya langsung tertumbuk pada sosok perempuan  di depannya. Tatapan mereka tertaut, pijar-pijar listrik mengalir dari kedua pasang mata mereka. Wanita itu yang pertama mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dengan bingung Jin Ho bangkit dari kursinya, menerima jabatan tangan Tuan Kim dan istrinya Nyonya Kim.

Tuan Kim adalah laki-laki dengan perawakan bongsor, pendek dan hampir botak meski di usianya yang ke tiga puluh lima, namun dia memiliki karisma yang mampu membuat orang lain segan dan hormat padanya.

Berbeda dengan istrinya, yang berdiri canggung dibelakangnya. Nyonya Kim begitu muda, Jin Ho menebak wanita itu masih berusia dua puluh lima atau dua puluh enam tahun. Tubuhnya yang langsing terpelihara dengan baik, mungkin tubuhnya langganan spa dan operasi pelastik. Yang belakangan diketahuinya salah. Tubuh wanita itu tak tersentuh sedikitpun oleh operasi yang dicurigainya sebelumnya.

“Mari kita duduk disini” ajak Presiden Han pada kedua tamunya, yang diikuti oleh Jin Ho dibelakang mereka.

Tuan Kim duduk di kursi lebar disamping kursi Presiden Han, sementara istrinya duduk disampingnya, dan dikursi diseberang suami istri itu Jin Ho mengambil tempat. Meski tak saling mengenal, mereka telah merasakan sesuatu dalam kedekatan mereka. Seolah berada sedekat itu sangat tak nyaman bagi mereka berdua.

“Baiklah, saya rasa pertemuan hari ini cukup, selanjutnya silahkan menghubungi anak saya Jin Ho. Meski usianya masih muda, tapi dialah penerus saya yang saya percayai. Di usianya yang ke dua puluh delapan dia telah menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur. Saya sangat bangga padanya” ujar Presiden Han memuji anaknya. Tuan Kim pun mengangguk.

“Saya rasa juga demikian, anda sangat beruntung memiliki penerus sepertinya. Oh ya, selama sebulan belakangan ini, karena urusan iklan yang akan kita buat, maka saya harus pergi ke Jepang untuk mengambil materi, sehingga anda akan lebih banyak bertemu dengan istri saya, Rin. Mohon bimbingannya, mungkin dia belum terlalu mahir, namun saya yakin anda tidak akan kecewa” Tuan Kim memuji istrinya di depan kedua rekan bisnisnya. Mereka pun saling tersenyum mengakui kelebihan masing-masing.

Saat berjabat tangan lagi sebelum meninggalkan ruangan kantor Jin Ho, tatapan mata mereka bertaut lagi. Tuan Kim dan Presiden han telah mendahului mereka menuju lift yang mengantarkan mereka turun.

Tangan mereka masih bersalaman, tak ada yang ingin mulai melepaskan tautan tangan itu. Yang ada hanya kebisuan menyiksa dan desah nafas mereka yang pelan.

“Aku akan bertemu denganmu besok, kalau begitu. Rin..?” kata Jin Ho akhirnya memutus kebisuan mereka.

Dengan gugup Nyonya Kim melepaskan tangan mereka dan berlalu dari sana tanpa sepatah katapun. Punggungnya yang naik turun karena tubuhnya yang berlari menjadi pemandangan terakhir Jin Ho sebelum tubuh Rin masuk ke dalam lift dan turun bersama Presiden Han dan suaminya.

~~~~

Seminggu ke depan, Jin Ho masih disibukan dengan pekerjaan lapangan yang harus diurusnya, sekejap saja dia telah melupakan arti pandangan dan sentuhan tangannya dengan Rin saat itu. Namun ketika mereka berpapasan di dalam koridor gedung perusahaan miliknya, Jin Ho tak dapat melepaskan pandangannya dari wanita itu.

Rin mengerti dengan arti yang disiratkan oleh mata penuh gairah yang dipancarkan Jin Ho untuknya. Tapi dia tak dapat membalasnya. Ketika mereka hanya berpapasan seperti itu, Rin akan menundukan wajahnya tak ingin menatap mata pria itu lagi.

Mereka memang ditakdirkan untuk selalu bertemu karena tuntutan pekerjaan yang semakin dekat dengan tenggat waktu yang dijadwalkan. Didampingi asistennya, Rin memasuki kantor Jin Ho membawa contoh iklan yang telah perusahaannya susun yang akan dipilih oleh dewan direksi setelah Jin Ho menyetujui beberapa rancangan yang dibawanya.

Rin menemukan Jin Ho sedang mengangkat kedua kakinya ke atas meja, memandangnya dengan tajam dan mengikuti gerak-gerik wanita itu kemanapun dia melangkah.

Rin mengambil kursi dan duduk disamping proyektor yang menyorotkan rancangan-rancangan iklan yang harus Jin Ho pilih untuk perusahaannya. Asisten Rin kemudian menyerahkan lembaran-lembaran kertas yang berisi garis besar iklan yang akan dipresentasikan oleh Rin.

Tetapi pada saat Rin sedang menjelaskan rancangan ke empatnya, dengan suaranya yang dingin Jin Ho meminta Asisten Rin untuk keluar dari ruangan itu.

“Tolong keluar sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Nyonya Kim” kata Jin Ho. Asisten itupun menuruti perintahnya dan menutup pintu kantor itu setelah keluar dari ruangan.

Ruang kantor itu sunyi untuk beberapa saat, hanya tatapan mata menyelidik Jin Ho yang bergerak liar pada tubuh Rin. Membuat wanita itu teramat sangat tak nyaman dalam duduknya. Meski dia telah memunggungi laki-laki itu, Rin dapat merasakan tatapan menusuk Jin Ho yang langsung mengarah pada dadanya.

Tanpa suara, Jin Ho bergerak mendekatinya dan telah berdiri disamping Rin, hembusan nafasnya pada leher wanita itu membuat bulu kuduknya berdiri. Meremang dan membuat darahnya berdesir.

“Maukah kamu makan malam denganku malam ini, Rin..?” bisik Jin Ho di telinga Rin.

Rin tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, jantungnya berdebar kencang, tak menduga mereka telah sedekat itu. Pikirannya dipenuhi oleh pikiran-pikiran tentang apa yang akan mereka lakukan di dalam ruang kantor yang sunyi itu, berduaan..

“..Ah.. Maaf, saya harus segera pulang kerumah” tolaknya.

“Mengapa? Apakah kamu memiliki anak yang harus kamu lihat, Rin?” Jin Ho sungguh ingin tahu jawaban Rin.

“Tidak, bukan begitu. Hanya saja saya tidak terbiasa untuk makan malam dengan klien tanpa suami saya. Maaf” katanya lagi.

“Mengapa tidak, Rin? Hanya sebuah makan malam formal. Tak ada yang lain. Bukankah kita bisa mempererat hubungan..bisnis kita ini, kan?” kini hidung Jin Ho telah dengan lancang mengendus-ngendus leher Rin dari sisi kulitnya.

Nafasnya yang berat mempengaruhi Rin, kini nafas mereka saling bersahutan sama beratnya.

Rin memejamkan matanya, menikmati kedekatan mereka yang terlalu dekat. Dia dapat merasakan gairahnya bangkit di dalam sana. Telah lama dia tak memiliki perasaan seperti ini lagi, sejak suaminya tak pernah memuaskannya di atas ranjang. Sejak malam pertama mereka, dua tahun yang silam.

Terbuai oleh reaksi Rin disampingnya, Jin Ho pun menguasai bibir sensual Rin dan memagutnya dengan rakus. Awalnya Rin meronta-ronta, menolak ciumannya. Namun dengan ciumannya yang memabukan, Jin Ho berhasil membuat wanita itu meleleh dalam pelukannya.  

Nafas mereka terengah-engah saat ciuman itu terlepas. Mata Jin Ho bersinar menatap mata Rin yang sayu dihadapannya. Tangan wanita itu mendekap dada bidang Jin Ho yang hanya terbungkus kemeja putih tipis.

Sebelah tangan Jin Ho memeluk pinggang Rin dan mengangkat tubuh wanita itu lalu mendesaknya di lemari buku dibelakangnya. Dia memenjara tubuh Rin dengan tubuhnya. Mereka berciuman lagi, kini sama-sama dikuasai oleh gairah yang telah naik ke ubun-ubun.

Rin tercekat saat telapak tangan Jin Ho mencakup payudaranya, matanya membelalak, tersadar dari gairah yang menguasainya.

Dengan seluruh kekuatannya dia mendorong tubuh Jin Ho dan menampar telak pipi laki-laki itu. Jin Ho tak berkutik setelah menyadari perbuatannya pada mereka. Bibir mereka bengkak dan panas, rambut Jin Ho berantakan karena remasan jari-jemari Rin disana, bahkan beberapa kancing baju Rin telah terlepas oleh tangan Jin Ho yang liar. Mereka tak menyadari akibat gairah mereka yang tak terkendali.

“Maafkan aku..” bisik lirih Jin Ho pada Rin.

Wanita itu memperbaiki pakaiannya, merapikan rambut dan penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari kantor itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun pada Jin Ho. Meninggalkan laki-laki itu menahan nyeri di pipi dan selangkangannya. 


16 comments:

  1. Ough,,,,PAAAANAAAAASSS,,,
    Darah berdesir2,,,
    Deru Nafas memburu,,
    Haisssh,,,susah untuk ditahan,,
    *efek lapar mendera,,,hahahhahaaa

    Cyiiiinnn,,,,,indah nian karyamu,,
    Sukaaaa pke bangeeeeetzz,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah.. kelaperan sampe panas.. wkwkkwkwk

      hehehe sip sip... ati2 dijalan ya cin.. jgn sampe mabok pulangnya krn kelaperan. lol

      Delete
    2. hahhahahhaaa,,,,ga bakal mabok cyiiinn,,

      maboknya klo minum JD yg Red label adja,,,

      Delete
    3. hahahaha emang bs minum begituan? aku seumur-umur bir aja belum pernah minum. ahahahhaha...

      Delete
  2. wah wah kayaknya ada perselingkuhan nih disini hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha judulnya aja udah menjelaskan kok sista... lol

      Delete
  3. hahah,mantab mba shin.knp y 2th lalu si rin? hahah ksian

    ReplyDelete
    Replies
    1. ha? ya karena 2 tahun lalu mereka pertama kali ketemu :D

      Delete
  4. wow.. wow.. selingkuh??????????????????

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkkwkw.. yoi... judulnyaaaa aja udah keliatan cin ahhh... pake heboh gitu lagi wkwkwkw

      Delete
    2. hiks..hiks... rada gmna gitu kw selingkuh2 gitu mbak....
      mdah2an ntar endingnya tdak bkin aq kcewa and galau... hehehehe..

      Delete
    3. hahaha.. iya.. topik yg bikin hati miris.. antar kasihan ama benci.. sip sip... mdh2an terbaik buat semuanya :D

      Delete
  5. Kasian Πγª Rin suami Πγª Impoten....

    ReplyDelete
  6. Kasian Πγª Rin suami Πγª Impoten....

    ReplyDelete
  7. Kasian Πγª Rin suami Πγª Impoten....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah bukan impoten cin.. ej*kul*si d*ni. lol

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.