"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, February 3, 2013

First Drama - Chapter 13



Mobil ambulans itu berjalan dengan kencang membelah jalanan kota yang ramai. Sopirnya yang handal bermanuver mencari jalan tercepat agar segera tiba di rumah sakit, nyawa pasien yang dia bawa sangat kritis. Karena tak mendapatkan pengobatan yang layak, dia bisa saja meninggal dalam sekejap.

Shin duduk disamping Soo Hyun dan mengelus rambut wanita itu lembut. Soo Hyun-nya.. akhirnya dia mendapatkan kesempatannya lagi, kesempatan untuk menebus semua kesalahannya. Meski pada akhirnya Soo Hyun tak akan mau bersamanya lagi, dia rela. Dia hanya ingin Soo Hyun selamat dan bahagia, meski tanpa dirinya.


Troli pasien itu didorong dengan kencang menuju ruang operasi. Setelah pemeriksaan yang singkat, dokter memutuskan untuk mengoperasi Soo Hyun karena banyaknya tulang yang retak di tubuhnya. Belum lagi kemungkinan besar darah menggumpal di kepalanya yang dapat mengancam nyawanya.

Dalam kesunyian dan penantian hidup dan mati selama sepuluh jam, Shin menunggui proses operasi Soo Hyun. Ruang tunggu rumah sakit itu dipenuhi oleh laki-laki dengan pakaian hitam yang tampak menyeramkan. Karena melihat dokter dan perawat yang risih dengan keberadaan mereka, Shin pun membubarkannya. Dia hanya ingin sendiri saat ini.

Keesokan harinya, dokter membuka pintu ruang operasi. Dia berjalan keluar diikuti seorang dokter asisten yang membantunya mengoperasi Soo Hyun sejak semalam.

“Bagaimana kondisi Soo Hyun, dokter?” tanya Shin khawatir. Dia semestinya menanyakan hal itu pada dirinya, karena wajahnya terlihat lebih memprihatinkan daripada Soo Hyun yang sedang berada di atas tempat tidur operasi.

“Operasinya sukses, namun dia belum melewati masa kritisnya. Nampaknya kepalanya cukup keras terbentur. Seluruh tubuhnya terpaksa harus diperban karena dampak retaknya tulang dimana-mana. Bila dia mampu melewati hari ini dan perkembangannya membaik, sebulan lagi kita sudah bisa membuka perban di tubuhnya. Namun, kami belum bisa mengira-ngira apa efek samping yang mungkin timbul. Karena Nona Soo Hyun telah lama pingsan, kami takut dia akan berada dalam keadaan itu untuk waktu yang tak sebentar. Namun, kami akan berusaha memberikan yang terbaik” kata dokter sebelum meninggalkan Shin yang berdiri terpaku sendirian.

Kepalanya mengintip ke dalam ruangan iccu, melihat Soo Hyun-nya terbaring diam dengan tubuh terbalut perban bagai mumi. Selang-selang dan alat bantu pernafasan dipasang ditubuhnya, menggambarkan betapa kritisnya kondisi wanita itu.

Tubuh Shin merosot dilantai, tangis yang dikuburnya dalam-dalam kini meluap. Mengutuk dan menyesali semua perbuatannya pada Soo Hyun, berdoa untuk kesembuhan wanita itu. Dia rela menukarkan nyawanya agar Soo Hyun-nya segera pulih.

“Shin Jae..” panggil kakaknya lembut. Wanita itu berlutut dan menyentuh pundak adiknya, membawa kepala Shin yang berat penuh dengan penyesalan, memeluk tubuh adiknya yang bergetar.

“Aku tak sanggup lagi kak. Ini semua salahku. Aku pantas mati, seharusnya aku yang berada di atas ranjang operasi, bukan Soo Hyun..” suaranya bergetar.

“Semua akan baik-baik saja Shin Jae. Tuhan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu. Pergunakan dengan baik. Kamu berhutang kebahagiaan pada Soo Hyun” kakaknya menepuk-nepuk punggungnya.

Pada minggu pertama setelah operasinya, Soo Hyun dipindahkan ke dalam ruangan lain yang lebih luas. Selang infus dan mesin-mesin penopang kehidupan masih terpasang pada tubuhnya. Setiap hari Direktur Shin menunggui Soo Hyun yang masih tak sadarkan diri, membasuh dengan lap basah tubuh wanita itu setiap pagi dan sore. Dia menjaga dan mengurus semua kebutuhan Soo Hyun selama tak sadarkan diri.

Selama sebulan lebih dia telah tinggal di dalam rumah sakit itu untuk merawat Soo Hyun, siang-malam tanpa henti. Namun karena sekretarisnya selalu datang membawa pekerjaan kantor ke dalam kamar tempat Soo Hyun dirawat, akhirnya dia kembali pergi ke kantornya beberapa hari sekali. Dia tak ingin meninggalkan Soo Hyun terlalu lama.

Hari in Soo Hyun kembali berbaring di atas meja operasi, sejak semalam Soo Hyun menderita demam, tubuhnya berkeringat dan denyut nadinya melemah. Dokter menemukan gumpalan darah lain yang timbul akibat efek tulang yang pernah patah yang menghambat aliran darahnya ke otak. Delapan jam penantian yang panjang bagi Shin. Dia jarang berbicara sejak Soo Hyun berada dirumah sakit, bahkan Shin melarang bodyguard-bodyguardnya untuk berjaga di sekitar kamar Soo Hyun, dia ingin ketenangan bagi dirinya dan Soo Hyun-nya.

Operasi itu berjalan lancar, namun Soo Hyun belum juga siuman. Semakin hari, semakin tipislah harapan Shin. Ingin dia membuat perjanjian dengan raja neraka bila memang dia ada, agar mengambil nyawanya menggantikan tempat Soo Hyun menderita di atas ranjang. Dosanya terlalu besar, dia bahkan membunuh anak kandungnya sendiri. Dia tidak pantas untuk hidup lagi.

Terkadang dalam keputusasaannya, Shin menyentuh pistol dipinggangnya dan berpikir untuk mati bersama Soo Hyun. Mungkin mereka bisa bereinkarnasi di kehidupan mendatang dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Mungkin Shin bisa memperbaiki semua perlakuan-perlakuan buruknya pada wanita yang sedang sekarat di atas ranjang itu, wanita yang memiliki hati dan nyawanya.

Bulan berganti bulan, tak terasa tujuh bulan sudah Shin menunggui Soo Hyun di rumah sakit. Tak ada perkembangan apapun pada tubuh wanita yang dicintainya itu. Dokter memberitahukan kondisi Soo Hyun memang telah membaik, tulang-tulangnya telah dipasangi pen dan lambat laun tulang yang retak pun mampu menyangga berat tubuh Soo Hyun bila dia siuman nanti.

Dokter telah berusaha semaksimal mungkin menjaga kondisi Soo Hyun agar wanita itu tetap hidup, meski apabila Soo Hyun siuman para dokter tidak dapat menduga apa yang akan terjadi padanya. Dokter tidak menjawab pertanyaan Shin mengenai kemampuan Soo Hyun berjalan dan bergerak, dokter hanya menggelengkan kepalanya dan meminta Shin untuk bersabar. Saat Soo Hyun siuman nanti, maka mereka semua akan mengetahui jawabannya.

Karena tak ingin kakak kandung Soo Hyun mengganggunya dengan semua pertanyaan-pertanyaan mengenai Soo Hyun, Shin memaksa Hyun Soo untuk dipindahkan lagi ke luar negeri. Shin hanya ingin menjaga Soo Hyun tanpa ada gangguan dari manapun, meski itu dari kakak kandungnya.

Shin juga bersikeras menyembunyikan tempat perawatan Soo Hyun dari Lee Han, laki-laki yang pernah menjadi tunangan Soo Hyun ini tak dapat mengelabui penjagaan pengawal-pengawal Shin, dia tidak dapat mengetahui informasi keberadaan Soo Hyun dan keadaannya. Shin menyebarkan kabar bahwa dirinya telah menikah di luar negeri dengan Soo Hyun dan wanita itu sedang mengandung anak mereka. Lee Han yang tak percaya kemudian meragukan lagi kepercayaannya. Shin adalah seorang laki-laki yang sanggup berbuat apa saja untuk mendapatkan keinginannya, dia bahkan menculik Soo Hyun. Menikahi dan memperkosa Soo Hyun tentu bukan hal yang sulit baginya, bahkan hingga Soo Hyun hamil.

~~~~

Shin sedang menyesap rokoknya dalam-dalam disamping jendela rumahnya di pedesaan. Soo Hyun berbaring diam di atas ranjang kamar mereka dengan selang-selang penyangga kehidupan yang terpasang disekujur tubuhnya. Sudah dua bulan kini Shin memindahkan Soo Hyun kerumahnya di desa bersama dengan beberapa dokter dan perawat yang dibayarnya untuk merawat Soo Hyun dan ayahnya yang sakit-sakitan.

Disini kakaknya bisa mengawasi Soo Hyun saat dia tak ada. Shin sesekali pergi ke luar negeri untuk menyiapkan rumah sakit di Amerika untuk menerima kedatangan Soo Hyun, dia ingin memindahkan Soo Hyun dan merawatnya di Amerika. Dia telah mencoba segala cara untuk menyembuhkan wanita yang dirindukannya ini. Bahkan dia mulai berdoa lagi, meski dalam doanya Shin lebih banyak menyumpah karena Soo Hyun tak kunjung sadarkan diri.

Rokoknya telah habis disesapnya, Shin menggapai bungkus rokoknya di atas meja, menyalakan sebatang rokok lagi di mulutnya, saat dia dengan jantung berdebar kencang melihat sekilas Soo Hyun-nya membuka matanya. kemudian menutup lagi. Shin merasa ingin berteriak, namun tak ada suara yang terdengar dari mulutnya. Hanya kepalanya lah yang mendengar suara teriakannya sendiri. Dia ingin percaya dengan apa yang dilihatnya, Soo Hyun membuka matanya di depannya.

Namun hatinya mencelos lagi ketika menemukan kedua mata Soo Hyun tertutup seperti yang biasa dilihatnya. Shin telah membuang rokoknya dan bergegas menghampiri Soo Hyun di atas ranjang. Saat menemukan dia hanya berkhayal Soo Hyun-nya membuka mata, Shin berlutut dilantai dan menangis terisak. Dia begitu hancur, hatinya tak pernah lega sejak kejadian itu. Hatinya luluh lantak membayangkan betapa fatal akibat dari keegoisan dan cintanya yang posesif pada Soo Hyun.

Namun alangkah terkejutnya Shin saat sebuah tangan menyentuh pipinya. Shin menoleh pada pemilik tangan itu, Soo Hyun-nya telah siuman.

Masih dengan mata tak percaya, Shin bangkit dan memperhatikan dengan seksama Soo Hyun yang siuman di depannya. Soo Hyun-nya kini telah sadarkan diri dan dia sedang melihatnya, menatap matanya, dan tangannya menyentuh pipinya.

“Soo Hyun-ah..” panggil Shin dengan terisak.

“Mengapa kamu menangis?” tanya Soo Hyun pada Shin.

Shin menatap dengan terpesona wanita di hadapannya, Soo Hyun-nya berbicara meski suaranya terdengar serak dan samar. Shin menggenggam tangan yang menyentuh pipinya, mencium dengan lembut tangan itu dan mengucap syukur karena Soo Hyun telah siuman.

“Tidak.. aku hanya menangis karena aku senang. Aku senang akhirnya kamu siuman, sayangku..” kata Shin lirih.

“Apakah kita..saling mengenal?” tanya Soo Hyun dengan wajah polosnya. Wajah itu masih putih, sepucat kapas. Namun sebuah senyum miris tersungging disana. Senyum yang meminta maaf karena merasa tak mengenal laki-laki di depannya.

Jantung Shin berdebar kencang, matanya menatap nanar, terguncang dengan kenyataan yang tak disangka-sangkanya. Kepalanya berputar mencari jalan yang dipikirnya terbaik. Terbaik untuk Soo Hyun, terbaik untuk dirinya..

Dengan serak Shin menjawab sembari menatap sayu pada Soo Hyun.

“Ya..kita saling mengenal.. Aku..adalah suamimu. Kamu istriku.. Kita baru saja menikah sebelum..kamu mendapat kecelakaan..”

Dalam hatinya Shin memohon kepada yang maha kuasa, memohon untuk menghukumnya dikemudian hari bila dia memang bersalah karena mencoba menipu Soo Hyun dengan informasi ini. Seandainya dia bisa memilih, Shin tak ingin menyakiti Soo Hyun pada awalnya. Namun nasi telah menjadi bubur, dan hanya dengan cara inilah dia bisa menyembuhkan Soo Hyun dan mendapatkan maaf wanita ini, meski dengan jalan terlicik sekalipun. Dia tak akan mundur. Soo Hyun harus mencintainya lagi.

“Maafkan aku, tapi aku tak ingat sama sekali. Aku bahkan tak ingat namaku, siapa aku..?” Soo Hyun memegang kepalanya, tiba-tiba semua terasa gelap dan wanita inipun tak sadarkan diri lagi, meninggalkan Shin membeku beberapa saat sebelum berteriak marah memanggil semua perawat dan dokter jaga.  

“Kondisi Nyonya sudah stabil, tuan. Saya tidak bisa memastikan kapan Nyonya akan siuman, tapi saya rasa ini kemajuan yang sangat besar. Kita bisa memeriksa fungsi organ-organ dalamnya untuk memastikan semua berfungsi dengan baik” jelas Dokter pada Shin. Dia mengawasi dua orang perawat yang sedang memperbaiki posisi tidur Soo Hyun.

“Lakukan apa yang perlu dilakukan, dokter. Aku hanya ingin dia siuman”

Malam itu Shin menunggui Soo Hyun lagi, dia tidak berani memejamkan matanya, dia khawatir bila Soo Hyun siuman dan tak ada yang mengetahuinya. Shin tak ingin Soo Hyun panik dengan keadaan tubuhnya yang terpasang alat-alat penopang kehidupan itu. Dia pasti kaget melihat banyaknya alat dan selang yang terpasang pada tubuhnya.

Namun setelah berbulan-bulan melelahkan, Shin tertidur untuk beberapa saat, kepalanya bertumpu pada sisi ranjang Soo Hyun, Shin sedang bersimpuh di lantai sembari menggenggam tangan kiri Soo Hyun. Dia terbangun ketika kepalanya terasa disentuh oleh seseorang. Soo Hyun-nya telah sadarkan diri lagi. Kali ini Shin tak ingin kecolongan, dia memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa Soo Hyun.

Dengan penuh cemas, Shin memperhatikan dokter memeriksa tubuh Soo Hyun dan menghembuskan nafas lega saat dokter memberitahukannya Soo Hyun dalam kondisi sehat. Mereka kemudian mengundurkan diri dan meninggalkan Shin dan Soo Hyun berdua di kamar mereka. 


22 comments:

  1. horee dilanjutin lg..
    shin i love u.
    mba shin makasih.
    muach

    ReplyDelete
  2. wah...sepertinya mbak shin mau menyelesaikan yang tergantung dulu nih (bukan yang tergantung itu ya mbak......huahahahahahahaha)
    boleh juga tuh mbak...ditunggu yang lainnnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ghahahaha ndak jg cin... kl sempet br dibikin, ni seminggu sekali mungkin :D

      Delete
  3. Q smpe lupa cerita sbelum Πγª ... Dh mau hbs bru ingat.. Hehee.

    ReplyDelete
  4. Hore udh adaa lanjutannya..semangatt mba shin

    ReplyDelete
  5. thanks mbk shin....:)*masuk spam lgi ngk ya??:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhahaha.. ndak kok :D udah keliatan skrg.. lol

      Delete
  6. Wah sedih sedih sedih... Akupun ikut sedih, nangis bombay huhuhu
    Makasih ya .... Ku nanti kelanjutannya hehehe

    ReplyDelete
  7. Omg udh d posting, finally finally finally makaciiiih cinta :* kecup :*.‧::‧ •♏µªçħ :* ♏µªçħ•.‧::‧ :*
    Senangnya
    Sadarlah kau shin jae :D

    ReplyDelete
  8. Biarlah Shin brsatu dg Soo Hyun-nya..
    Lee Han kan ada YuNa.. *.*

    Aq jtuh cinta ma ke posesifan'y Shin Jae..
    Kekeke
    Thanks udh d lanjut mba shin..

    #ah akhr'y bsa berkomen ria :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahhahaa... asikk... udah selesai ujian soalnya ya sil?

      Delete
  9. Sis, kpn sei lanjutanna?
    Penasaran dgnendingna :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha belum sempat ngetik cin.. sabar ya :D follow blog nya aja, jd semisal nanti postingannya dah keluar kan dapat notifikasinya :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.