"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, February 12, 2013

Flower In My House - Chapter 2



Pukul enam pagi aku dibangunkan oleh suara ketukan pada pintu kamarku. Siapa gerangan yang menggangguku sepagi ini? Aku hanya sempat membuka mataku ketika sosok itu masuk, ditangannya dia membawa sebuah nampan yang kukira berisi sarapan pagi untukku.

Oh, jadi mulai sekarang aku akan makan pagi di kamarku lagi? Baguslah, aku tidak ingin terlalu sering makan pagi dibawah, ibu akan membuka topik pembicaraan itu setiap hari. Dan sudah bertahun-tahun aku menghindar, aku rasa ibu akan bersikeras bila tahun ini adalah saat yang tepat.


Kuperhatikan sosok wanita itu, wanita yang sama yang semalam menghadang langkahku saat naik ke tangga. Pelayan wanita itu, siapa namanya?

Tirai yang masih tertutup menghalangi sinar matahari masuk ke dalam kamarku, aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah pelayan itu. Nampak dia sedang mencari-cari sesuatu, mencari keberadaanku?

Ya, dia nampak cukup terkejut saat berhasil menemukanku. Aku sedang berbaring di atas ranjang dengan bertelanjang dada. Dia pasti melihat bagaimana tubuh atasku tak tertutupi kain sedikit pun. Sekilas dia nampak panik dan gugup, aku yakin dia bisa menjatuhkan nampan sarapan yang dibawanya bila terlalu lama melihatku. Hah, wanita.. Dimana-mana sama saja, tidak bisa melihat barang bagus sedikit saja.. langsung salah tingkah.

Dia meletakan dan mengatur sarapan pagiku di atas meja, dia terlihat buru-buru ingin meninggalkan kamar ini. Oh tidak bisa, aku harus mengetahui namanya. Sebelum dia sempat melangkahkan kakinya keluar dari kamar, aku memanggilnya. Suaraku berat, kerongkonganku sakit. shit!

“Kamu pengurus rumah yang baru?” tanyaku pada pelayan itu. Dia membeku di tempatnya berdiri.

Aku bangkit dari ranjangku, menghampiri meja tempat sarapanku diletakan. Aku bisa melihat pelayan itu membuang muka saat tak sengaja melirik tubuhku, well.. well.. meski dia terlihat seperti anak kecil, rupanya dia memiliki rasa malu seorang wanita dewasa, hah? Dia tahu bagaimana harus bersikap setelah menangkap basah pemandangan di depannya. Aku hanya memakai celana pendek boxerku. Aku bersyukur pagi ini aku tidak ereksi, bila tidak maka akan sungguh memalukan dilihat oleh pelayan ini.

Aku dengar dia menjawab pertanyaanku dengan gugup. “Iya Tuan, saya baru datang kemarin” tukasnya.

“Kemarilah” aku memanggilnya mendekat.

Kuawasi wajahnya yang menunduk, entah mengapa aku ingin mempermainkan pelayan baru ini, menurutku sungguh menarik melihat reaksinya seperti apa. Dia harus tahu siapa majikan disini, karena akulah yang membiayai semua pengeluaran dirumah ini, tak terkecuali gaji yang akan pelayan ini dapatkan. Dia harus tahu bagaimana cara bersikap di dekatku.

“Berapa kali harus kukatakan aku tak suka telur matang? Ini terlalu matang. Kamu kira aku suka makan makanan seperti ini? Bawa pergi dan bawakan aku yang baru” aku tidak sengaja meninggikan nada suaraku, keluar begitu saja. Mungkin aku sungguh pintar berakting sehingga tak akan ada yang bisa membedakan akting atau aku memang serius dengan perkataanku.

Pelayan ini nampak sangat terkejut, dia memeluk nampan ditangannya dengan erat. Dia ketakutan, bagus.. itu berita bagus. Tapi sedikit rasa kasihan mengusik hatiku ketika melihat matanya yang berkaca-kaca, kuperhatikan mata itu begitu ekspresif.. Aku bisa melihat langsung ke dalam hati terdalam pelayan ini.

Aku tidak sempat melanjutkan khayalanku, dia telah mengambil kembali sarapan itu dan membawanya keluar setelah membungkuk memberi hormat kepadaku. Mulutku terbuka menganga, aku tidak mendapatkan kepuasan yang aku cari setelah berhasil menunjukan kekuasaanku dirumah ini pada pelayan itu, justru aku merasa hampa, kehilangan kehadirannya.

Rahangku mengeras, apa yang aku pikirkan. Dia hanya seorang pelayan, mengapa aku mengira bisa merasa kehilangan hanya karena dia tidak berada di dekatku? Bullshit.

Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi, saatnya bersiap-siap untuk ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Aku baru saja selesai menyisir rambutku ketika pelayan itu masuk kembali ke dalam kamar membawa sarapan pagi yang lain.

Aku tebak kali ini dia membawakan tepat seperti yang aku minta, tapi ini sudah terlalu siang dan aku hampir terlambat menghadiri pertemuan bila harus menikmati sarapanku lagi.

“Sarapanmu Tuan” kata pelayan itu setelah meletakan sarapan di atas meja.

“Bawa keluar. Aku sudah tak berselera” jawabku ketus. Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menikmati makanan itu, aku harus segera berangkat.

Pelayan itu mengambil kembali nampan yang berisi sarapan dan membawanya keluar. Dengan pelan dia menutup pintu di belakangnya. Aku salut padanya, dia belum meledak meski aku mengatakan hal buruk padanya. Well, sampai kapan kamu bisa bertahan disini.. pelayan..?

Senyum licik menghiasi wajahku saat aku bercermin. Aku sangat menyukai memandang wajahku di dalam cermin saat senyum seperti ini hadir disana, aku memiliki mainan baru dirumah ini.

Aku tidak menemukan pelayan itu dimana-mana saat melintas di ruang makan, mungkin dia sedang berada di dapur. Andai aku bisa melihatnya sekali lagi dibawah sinar matahari, agar lebih jelas dapat kulihat wajah pelayan itu. Aku penasaran seperti apa wajah aslinya, saat hanya melihat dibawah cahaya remang-remang dia selalu menundukan wajahnya.

Salah satu kejelekan bila pelayan selalu menunduk padamu, saat kamu ingin melihat wajahnya pelayan itu hanya akan memandangi lantai dan bukannya memberikanmu kepuasan untuk melihat wajahnya. Well, mungkin aku kurang beruntung hari ini.

Tapi apa yang aku perdulikan, mengapa aku ingin melihat wajah seorang pelayan? Dia hanya pelayan, sedikitpun tidak mendekati standarku. Cih..!!

~~~~

Sepulangku dari kantor, aku hendak menghabiskan beberapa saat di dalam ruang kerjaku, ada laporan yang harus kubaca dan kukerjakan untuk besok lusa. Mataku kemudian tertumbuk pada benda-benda yang diletakan disamping pintu masuk ruang kerja.

Ada ember, sapu, kain-kain dan entah alat apa lagi yang tidak aku ketahui namanya. Aku tidak perlu mengetahui nama-nama semua alat kebersihan itu kan? Bukan tugasku untuk menghafalnya, tapi tugas pelayan.

Lalu aku teringat pada pelayan wanita itu, apakah dia sedang ada di dalam ruang kerjaku? Hm.. menarik.. Jadi dia seorang diri sekarang di dalam sini? Kubuka pintu ruang kerjaku dengan perlahan, tidak ingin dia mengetahui kedatanganku.

Benar saja, pelayan itu sedang asyik membersihkan dan merapikan buku-buku dalam lemari. Dia bekerja dari pagi hingga pukul lima sore? Aku harus mengacungkan empat jempolku untuknya, tenaga pelayan ini sungguh luar biasa. Dia tidak nampak kelelahan. Jung Nam rupanya tahu dimana harus mencari pelayan yang berkwalitas.

Dengan perlahan aku menghampiri pelayan itu dari belakang, ingin aku menarik tubuhnya sehingga wajahnya akan menghadap pada wajahku. Aku belum sempat melihat wajah pelayan ini dengan seksama. Larut dalam pikiranku, aku tidak menyadari pelayan itu mundur dan menabrak dadaku.

Mataku mengerjap, aku menelan ludahku. Apa yang baru saja aku rasakan? Pelayan ini.. dia menyengatku?

Untuk menghilangkan salah tingkahku karena sempat memikirkan hal lain, seperti biasa aku selalu mengeluarkan kata-kata yang mampu membuat orang lain bergidik ketakutan padaku. Seperti kali ini.

“Bila sudah selesai, kamu boleh keluar” kataku dingin.

Aku mendengus dalam hati, begitu mudah mengatakan sesuatu sehingga orang lain akan takut padamu. Begitu hebatnya kekuasaan yang aku miliki sehingga mampu mempermainkan hidup orang lain. Kejamkah aku? Mungkin saja..

Dia membungkuk padaku, pipinya memerah. Dia nampak terkejut karena tidak menyangka kedatanganku. Dengan cepat dia membereskan alat-alat bersih-bersihnya lalu meluncur keluar dari ruang kerja ini. Sekali lagi aku gagal melihat wajah pelayan itu.

Yah, mungkin besok.. masih banyak waktu. Hanya sekedar ingin tahu wajah pelayan itu. Apa yang aku harapkan? Dia akan terlihat cantik?

Belum pernah seumur hidupku aku melihat ada wanita cantik yang mau menekuni pekerjaan sebagai pelayan. Wanita-wanita cantik itu tahu kwalitas tubuhnya dan lebih memilih menjadi artis atau pekerjaan lain yang bisa mendatangkan banyak uang, dan tentu saja pekerjaan sebagai pelayan yang berpenghasilan rendah dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan keringat -dan tentu saja emosi- tak mungkin digeluti oleh wanita-wanita cantik seperti itu.

Dengan pikiran itu aku menghilangkan keinginanku untuk melihat wajah pelayan baru itu. Tidak penting.. dan bukan urusanku..

~~~~ 


22 comments:

  1. makasih mbak shin.. dinantikan kehadiran jung min selanjut_nya.. :)

    ReplyDelete
  2. hhahahahaaa,,,Kasian bener si Jung Min,,
    Makany,,jadi org jangan "dingin",,wkwkkkw

    Stres sndiri kn??? :p

    Makasih darl',,gameny lanjutin bsok aja yaaa,,,,??
    #wink,,

    ReplyDelete
  3. ah.. Finally!

    aih Jung Min ternyta kau kejam..
    Tp aq tetap cinta *.*
    Hahaha

    Mba shin.. Mksih mwuaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkwkwkw.... Sila mah doyannya yg hardcore2 gt wkwkkw mwah sama2 :D

      Delete
  4. Galaknya akang Jung nim kalo aku pelayannya pasti udah kaabuurr:p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha... kl kabur gk jd dapet konglomelarat ntr sistaa.. wkkwkwkw

      Delete
  5. Coba si jung min berani crita kesan pertamanya sm si jihan skrg, hmmm bs ngambek ga dpt jatah si jungmin hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwkwkw.. ntr dicuekin seminggu dia cin ama jihan.. lol

      Delete
  6. Uwwaaaah jung min minta di cubiit banget yah
    *geregetan*
    Gambarnya keren mb shin
    Uwaaaah *ngences* hahahaa
    Makasih mb shin *peyuk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.. apalagi kl pas buka baju ya cin? makin ngences deh lol.. ahhahah sama2.. :D peyukkk..

      Delete
  7. kyaaaa park jung min ssi.. Love u muah muah hha
    eiy park jung min tunggu giliran mu dan kau akan langsung jatuh cinta #eaaaa wkwkwk

    ReplyDelete
  8. thanks mbak shin...
    Lanjutanya musti nunggu minggu dpn... Khukhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kan alurnya udah tahu, anggap aja hiburan sambil lalu, gk usah terlalu dipikir wkkwkww

      Delete
  9. Blm pernah d getok si jihan tuh jung min jaim bgt padahal g liat muka aj udah kesetrum

    ah...lanjut lg mbak shin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.