"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, February 20, 2013

Flower In My House - Chapter 4



Aku melihatnya masih duduk di dapur, entah mengapa aku masih juga betah berlama-lama di kursi kebun ini. Mungkin karena dari tempat ini aku bisa memandang ke arah dapur tanpa terlihat seperti aku memandang kesana. Aku bisa mengawasi apa yang pelayan itu lakukan, sesekali dia akan mencuri pandang ke arahku dengan wajah sebal. Aku tahu dia pasti sudah kelelahan, aku melihatnya baru saja keluar dari gudang kami dengan penampilan kotor, kumal dan berantakan. Apa yang dia lakukan disana? Membersihkan gudang yang sudah beberapa tahun tak tersentuh? Dia gila, tubuh semungil itu seberapa besar tenaga yang dimilikinya? Dia tidak pernah diam. Aku yakin sekarang tubuhnya akan kesakitan dan pegal karena bekerja sebegitu keras. Apa yang harus aku lakukan padanya?


Sepintas aku berpikir, mengingat sebuah nomer telephone yang kutahu. Kukeluarkan handphoneku dan memencet nomer-nomer yang kuhafal itu dan menunggu seseorang mengangkatnya.

“H..Hallo?” suara itu terdengar ragu.

“Halloo... siapa ini?” suara itu begitu merde terdengar di telingaku.

“Kalau tidak ada yang menjawab, akan ku tutup telphonenya” dengan kasar pelayan itu menutup telphoneku. Akupun tersenyum, aku senang dapat mendengar suaranya.

kini saatnya bermain-main dengan mangsaku. Nampaknya aku benar-benar kebosanan dirumah ini hingga hanya memikirkan bisa mempermainkan pelayan itu mampu membuat gairah hidupku bangkit. Aku sungguh-sungguh bisa bersemangat mengetahui pelayan itu tunduk padaku. Aku memang majikan yang sadis dan tak punya hati, hei.. siapa suruh dia menantangku setiap hari? Dia tidak mau mengalah dan menyerah padaku.

“Kenapa telphoneku tak kamu angkat?” aku menemuinya sedang duduk di dapur, entah apa yang sedang dipikirkannya. Dia nampak larut dalam dunianya sendiri.

“Kamu tak mendengarku?” ulangku lagi.

“A...apa yang anda katakan tadi tuan?” dia tergagap menjawabku, dia memang tidak mendengarkanku sama sekali.

“Aku bilang, kenapa telphoneku tak kamu angkat?” aku bertanya lagi sembari menyebarkan pandanganku ke sekeliling dapur, tidak ada siapa-siapa disini selain kami.

“Buatkan aku kopi dan bawa ke kamarku” perintahku. “Dan kamu belum menjawab pertanyaanku tadi” tanpa menunggu jawaban dari mulut pelayan itu aku melangkah ke kamarku, aku tidak ingin dia membantah perintahku.

Tak lama kemudian pintu kamarku diketuk dari luar, pasti pelayan itu.

“Masuk” entah dia mendengarnya atau tidak aku tidak tahu. Kamarku kedap suara dan aku ragu dia bisa mendengarnya, namun dia muncul dari balik pintu dengan nampan kecil berisikan secangkir kopi dan kue kering. Dia melihatku sekilas lalu memalingkan wajahnya sebelum kemudian bertanya.

“Dimana saya letakan kopi anda tuan?” tanyanya.

Aku memerintahkan pelayan itu meletakan nampannya di atas meja dengan daguku dan berpura-pura sedang sibuk dengan handphone ditangan. Bagaimana dia bisa tidak menyadari kelelakianku saat kemeja piyamaku tak terkancingi satupun? Dia seharusnya sudah menyadarinya sekarang.

“Apakah ada yang lain lagi tuan? Jika tidak, saya akan kembali ke kamar saya” pelayan itu terlihat gelisah dan kesakitan, apa yang dia lakukan?

“Kamu belum boleh pergi. Duduklah” kataku sembari meletakan handphone di meja samping ranjang. Aku menatap gadis itu tajam, mengukur sejauh apa aku ingin bermain dengannya.

Pelayan itu berdiri diam meskipun aku menyuruhnya untuk duduk. Kutarik tangannya hingga dia terjatuh di atas ranjangku, menarik.. Dia terlihat tidak nyaman dengan kedekatan kami, apakah ini kali pertama dia berdekatan seperti ini dengan seorang pria?

“Aku tak akan “memperkosamu” bila itu yang kamu takutkan” desisku menghampiri pelayan ini. Aroma wanita yang dia pancarkan menggoda gairahku, apa yang aku pikirkan?

“S..saya tidak berkata apa-apa..” jawabnya. Mataku berkilat, suara pelayan ini pelan, seperti mendengar tikus mencicit karena terpojok kucing yang siap memangsanya. Dia ketakutan..

aku memperhatikan tubuhnya sekilas, dalam remangnya lampu kamar aku masih bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh mungilnya. Payudaranya bahkan tidak sebesar ukuran payudara yang biasa aku lihat, mungkin tak ada setangkup telapak tanganku tapi mengapa aku terangsang hanya dengan memandang tubuhnya? banyak wanita lain yang lebih cantik dan seksi yang pernah aku tiduri, tapi gadis ini.. bila dia memang masih gadis.. dia menggelitik rasa ingin tahuku terhadap tubuhnya.

“Aku ingin membicarakan tentang kontrakmu” bisikku pelan.

Dia terlihat kebingungan dan berkata bahwa Jung Nam telah membereskan masalah itu, namun tidak, bukan Jung Nam yang membiayai semua urusan rumah tangga keluarga Park, tapi aku Park Jung Min. dan pelayan di depanku ini juga harus tunduk pada ikatan kontraknya denganku, bukan Jung Nam.

“Asal kamu tahu.. disini, akulah yang membiayai semua pengeluaran rumah tangga. Dan aku lah yang berhak mendikte dan memutuskan apakah aku setuju atau tidak. Demikian juga dengan kontrakmu” kataku dingin. Dia tidak perlu memakai Jung Nam sebagai pelindungnya disini, Jung Nam tidak lebih berkuasa dariku dirumah ini.

Dia terlihat membenciku dari apa yang baru saja aku ungkapkan, pasti menurutnya aku congkak dan arogan. Well, bukan hanya dia yang berpikir demikian, banyak orang berpikiri aku seperti itu dan aku tidak perduli.

“Diam mu pertanda kamu mengerti. Keluarlah” perintahku pada pelayan itu. Kupejamkan mataku menenangkan gairah dalam dada.  

“Kenapa kamu masih belum keluar? Kamu ingin menemaniku tidur malam ini?” sahutku ketika dia masih juga tak beranjak dari sisi ranjangku. Bila dia tidak segera mengangkat kakinya dari kamar ini, dalam satu menit dia akan beralih dari pelayan rumah tangga menjadi pelayan ranjangku.

“Ti..tidak. saya akan keluar sekarang” dia segera beranjak pergi, namun tidak sebelum tangannya kucekal, sedikit ancaman biasanya berhasil.

“Jangan lupa apa yang aku katakan semalam. Jika kamu berani mengunci pintumu lagi, konsekwensinya akan sangat berat nona” desisku padanya. Dia harus bisa melihat betapa seriusnya aku dengan kata-kataku ini.

Aku bisa melihat bayangan tubuhnya menghilang dibalik pintu kamarku, dan sekarang aku tersiksa di atas ranjangku dengan ereksi yang membengkak. Sial, aku benar-benar putuh pelampiasan.

Aku bangkit dari ranjang, hendak mencari pelayan itu lagi. dia tidak membawakan gula untuk kopiku, bagaimana aku harus meminumnya? Aku tidak suka kopi pahit. Dengan ereksi yang menyiksa aku kembali ke kamar pelayan itu dan berdoa dia tidak akan mengunci pintunya lagi, bila tidak aku akan menghukumnya, dan aku serius kali ini.

Namun sialnya, pelayan itu mengunci pintunya lagi! apa yang harus aku lakukan agar dia benar-benar menuruti perintahku. Dia tidak mendengar teriakan marahku atau suara pintu digedor dengan berisik, apa yang sedang dia lakukan? Bunuh diri?? Mengapa dia harus bunuh diri?? Karena aku mengancamnya? Sial!! Itu tidak boleh terjadi. Dengan panik ku dobrak pintu sialan itu dan akhirnya terhempas setelah empat kali dobrakan.

Kutebarkan pandanganku ke dalam kamarnya, dia tak terlihat dimana-mana. Hanya suara kucuran air yang mengisi kamar dan nyanyian seorang wanita. Kulangkahkan kakiku dengan pelan ke arah sumber suara itu, dia sedang membasuh tubuhnya di dalam bath tub. Jantungku berdebar kencang tidak karuan, pemandangan ini membunuhku. Aku ingin pergi dari sana karena pemandangan ini akan menggelapkan mataku, tapi.. kakiku begitu berat tak bisa kuangkat. Aku.. menikmati pemandangan di depanku.

Pelayan itu.. dengan tubuh telanjang memunggu pintu masuk kamar mandi, bahunya yang langsing, lehernya yang jenjang, rambut panjangnya di ikat membentuk sanggul.. memperlihatkan kulit lehernya yang memabukkan.. Aku bisa membayangkan bibirku mengecup leher itu dengan penih gairah. Lalu dia mengangkat pahanya, menyabuni dengan perlahan dan menggosok-gosok busa putih itu hingga ke pangkal pahanya.

Dan tubuhku lemas, nafasku tersengal-sengal. Aku tidak tahan lagi berada disana. Tertunduk lemas aku kembali ke kamarku, mengunci pintu dan berbaring letih di atas ranjang. Tanpa kusadari tanganku mulai menelusup ke dalam celana piyama dan boxerku. Mengelus-elus ereksi yang berdenyut-denyut menyakitkan. Cairan pelicin pada ujung kejantananku membuktikan aku benar-benar terangsang dan sangat ingin meniduri seseorang. Aku bisa gila bila malam ini aku tidak mengeluarkan ledakanku.

Dengan nafas tersengal-sengal kuhibur diri dengan kedua tanganku sembari mengulang-ulang kembali pemandangan yang baru saja aku amati. Begitu nikmat, ahh... dan nafasku tertahan ketika luapan cairanku membasahi dadaku yang telanjang dengan deras. Tanganku masih mengurut dan memeras hingga tetesan terakhir keluar dari ereksiku, barulah kemudian aku bisa bernafas lega.

“Ahh... Benar-benar menyakitkan” keluhku. Dengan tubuh lemas kutarik segenggam tissue dan membersihkan tubuhku, tak pernah sebanyak ini kusemburkan cairanku sebelumnya, aku terlalu lama menahan diri. Besok.. aku akan mencari pelampiasan yang sebenarnya. Dan akupun terlelap dalam mimpi yang indah, mimpi dikelilingi empat orang wanita yang memohon untuk dipuaskan di atas ranjang.. olehku.. 





29 comments:

  1. Ahihihi
    Kasian jung min, cini sama aku sajah
    Hahaha
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahha ngapain sama km sist jung minnya??? sama2 :D

      Delete
  2. hha
    jung min jung min mimpinya gile wkwkwk
    haduh haduh beneran lucu bca yg dari sudut pandangnya jung min. I love u jung min.
    bwt mba shin kecup basah dariku bwt dirimu hha

    ReplyDelete
  3. maaakkaasiih cyiiin,,,
    Beneran degh si Jung Min,,nggemesiin,, wkwkkwkwkwkwkwkk

    ReplyDelete
  4. jung min...
    anyeong haseo
    *wink+puppyeyes


    thx mbak shin kiss muah muah
    salam buat ji han ea
    sekalian jung nam+cemun juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah sip sip salam akan segera disampaikan :D

      Delete
  5. Jungmin... Ní sen cin ping ma.....? Edan hahahaa
    Xie xie Ní Shin cece... Ai Ní ... Walah lebay poll kambuh hhiihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkwkwk iya dia emang sen cing ping.. wkkwkw... xie xie hao hao..

      Delete
  6. Jung Min tenyta tersiksa jga ddkt Ji jan.. Tersiksa gairah. Klo ji han tersiksa perlakuan jung mun Ɣªήğ smena2. Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha jung min kan emang selalu nepsong deket2 jihan ahhahaha

      Delete
  7. wkwkwkwkwk, lucu jga klu dri sudut pandang jung min mbak shin. Kan klu sudut pandang ji han agak bsa d tebak karena sma2 cewek :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa iya.. aslinya mah dia lucu :D tersiksa dengan dirinya sendiri lol

      Delete
  8. Ayang Jung Min *.*
    *telat komennya.. Wkwkwk

    Thanks mba shin sayang.. Mwuuuah

    ReplyDelete
  9. wuahahaha, maksud hati ingin menaklukan, tp apada daya yg terjadi malah di taklukan, sama remaja pula.. wkwkwkwk.. aigooo, malang nian nasibmu Jung Min...
    selamat bermimpii...
    makasih mbak shiiin

    ReplyDelete
  10. Mimpinya seru yaaaa,,,4 wanita sekaligus...

    Tq mba shin.....can :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha biar gak kalah ama jung nam. dia kan 3 cewek. lol...

      Delete
  11. maap mbak baru sempat baca.. hiii
    nah lho kok gambar yang diatas gak ada kaitannya dengan ceritannya mbak?. jung min kan gak pergi ke gym..?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha susah dapet fotonya si choi jin hyuk di internet sih terpaksa pake yg ada aja wkkwkwkw

      Delete
    2. aih aku dibilang shin can gpp deh yg penting terkenall. "he..he..he... pahlawan bertopeng.."

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.