"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, February 28, 2013

Flower In My House - Chapter 5



“Aku Kim In. Kakakmu dan aku berteman dekat. Aku tak tahu kalau adik Ji Jeong begitu cantik”

Baru saja aku turun dari kamarku suara Kim In sudah menggelegar memenuhi ruangan. Apa yang sedang dilakukannya dengan pelayan itu?

“Tuan Kim In anda mengolok-olok saya” kini kudengar suara pelayan itu dan pipinya merona merah. Dia tersipu malu digoda oleh Kim In.


“Kamu tak ada pekerjaan lain selain merayu tamuku?” bentakku pada si pelayan. Setelah semalam dia berani menggodaku dengan tubuh telanjangnya kini dia merayu Kim In?!

Kim In muncul sebagai ksatria berbaju zirah putih, setelah pelayan itu menghilang ke arah dapur, dia membela si pelayan.

“Kamu tak perlu memarahinya. Aku lah yang memaksa menggenggam tangannya. Dia adiknya Ji Jeong, kamu tahu dia kan?” kata Kim In. Aku tidak perduli dia adik siapa. Bukan urusanku, kan?

“Bukan urusanku” jawabku dingin. Kim In nampak berdecak, namun adikku Jung In telah keluar dari kamarnya dan membuat si Kim In sibuk dengan rengekannya. Mataku beralih ke arah dapur mencari pelayan itu namun dia tersembunyi dari pandangan.

Aku tidak bisa menahan amarahku lagi sepanjang makan pagi kami, Kim In mengganggu pelayan itu dan membuat darahku mendidih. Seperti seekor pejantan yang marah melihat betinanya diganggu oleh pejantan lain, tapi aku tidak bisa menunjukan kemarahanku pada Kim In. Mereka semua akan mengetahui ketertarikanku pada pelayan itu, dan akan sangat memalukan bila terdengar kabar Park Jung Min tertarik pada seorang pelayan dari kelas bawah.

“Tunggu aku di ruang kerjaku. Pembicaraan kita semalam belum selesai” perintahku pada pelayan itu. dia langsung menuju ruang kerjaku dan aku membiarkannya menunggu, dia harus tahu bahwa aku benar-benar marah karena dia telah menggoda tamuku.

Pintu ruang kerjaku kubuka pelan-pelan tanpa suara, aku tidak ingin dia menyadari kedatanganku. Dia sedang membuka-buka album foto keluarga kami, dia tampak senang dengan apa yang sedang dilihatnya. Perlahan kuhampiri tubuh pelayan itu dari belakang.

“Kenapa dia tak pernah tersenyum lagi sekarang?” aku dengar dia berkata pada fotoku sewaktu kecil dimana aku bertelanjang kaki bermain di pasir pantai yang putih, jauh sebelum ayahku merecoki kepalaku dengan racun-racun yang membentuk diriku sekarang.

“Aku rasa itu bukan urusanmu nona” jawabku sembari mengambil album foto itu dari tangannya. dia melangkahi tugasnya. Tidak semestinya dia membuka-buka barang milik majikannya. Dan aku marah, benar-benar marah.

“Jangan mengambil yang tak boleh kamu ambil nona. Hukumannya berat” suaraku berat, campuran antara amarah dan gairah. Tubuh kami begitu dekat, aku bisa merasakan desah nafas gadis ini pada leherku. Dia menantangku dengan matanya, dia tidak menunduk seperti biasa. Aku bisa melihat mata coklatnya bersinar-sinar marah, dia tidak akan mengalah kali ini.

“Maafkan saya, tuan” tak ada nada meminta maaf pada suara itu. pelayan ini sungguh tidak sopan.

“Aku tak melihat kamu bersungguh-sungguh dengan kata-katamu nona” ancamku marah. Sejengkal lagi dia akan berada dalam rengkuhanku.

Dia tercekat mendengar ancamanku, matanya membelalak. “Tak mampu berkata-kata nona?” tanyaku. Wajah yang kini panik itu kukunci dengan tanganku. Kulitnya begitu lembut saat tanganku menyentuh dagunya, bibirku mulai membuka, aku sangat..ingin mengecap rasa bibir gadis ini.  Seperti apakah rasa bibir seorang pelayan? Ya dia seorang pelayan, dan itu cukup membuatku menghentikan keinginanku untuk menciumi bibirnya.

Matanya masih terpejam saat kusodorkan sebuah map padanya, didalamnya berisi kontrak yang telah kubuatkan untuknya.

“Berikan aku jawabannya nanti malam” kataku.

Malam harinya dia menyerahkan kembali surat kontrak itu padaku, masih kosong, tidak ada tanda tangan yang seharusnya dibubuhkannya. Dengan kesal kususul dia ke kamarnya dan menyuruhnya untuk datang ke ruang kerjanya. Dengan penuh percaya diri dia mematung di depanku.

“Saya keberatan dengan beberapa butir di dalam surat itu, tuan” katanya saat kutanyakan alasannya.

“Keberatan?” tanyaku.

“Katakan padaku alasannya, Nona” perintahku. Tubuhku kusenderkan pada kursi kerjaku yang nyaman. Aku bisa melihat ekspresinya sedikit berubah. Dia terlihat semakin berapi-api menjelaskan keberatan-keberatannya mengenai isi kontrak kami.

“Butir 3, 4, 5, 10 dan saya keberatan dengan jangka waktu kontrak ini” jawabnya lantang.

“Teruskan” perintahku.

“Hmm.. butir ke 3. Bersedia bekerja tanpa batas waktu/jam tertentu”

“Saya rasa saya berhak mendapat jam istirahat, terutama setelah seharian bekerja tuan. Terutama pada malam hari” aku biarkan dia melanjutkan ucapannya, aku ingin tahu apa saja yang akan dia katakan.

“Butir ke 4, Bersedia dipanggil meski saat beristirahat. Saya rasa penjelasan saya untuk butir ini sama dengan penjelasan untuk butir ke 3”

“Untuk butir ke 5, Mematuhi perintah dari majikan tanpa bantahan. Ada perintah-perintah tertentu yang mungkin tak bisa saya patuhi, dan bila tertulis seperti butir ini, saya takut saya akan melanggarnya sehingga harus terkena sanksi”

“Kemudian butir ke 10, Hari libur bisa dibatalkan bila dianggap perlu oleh pihak 2. Dengan segala hormat tuan, anda memberikan saya hanya 2 hari libur dalam sebulan dan anda masih ingin membatalkannya? Saya rasa tidak tuan”

“Jangka waktu kontrak terlalu panjang, saya hanya bisa bekerja disini selama tiga bulan” dia mengakhiri ceramahnya yang panjang dengan sebuah helaan nafas panjang. Kini giliranku..

“Sudah semuanya?” tanyaku santai.

“Sudah, Tuan”

“Duduklah, Nona Ji Han...” aku tahu dia terintimidsi dengan anda bicaraku, aku memang berniat seperti itu.

“Pertama sebelum kamu salah paham dengan isi surat ini, nona. Apapun keputusanmu, kamu telah bekerja di rumah ini dan tak mungkin keluar lagi”

“..Kecuali kamu ingin pekerjaaan yang telah dirintis oleh kakakmu selama sepuluh tahun lenyap. Dia mempertaruhkan reputasinya dengan mempekerjakanmu disini. Apakah kamu punya bayangan apa yang akan aku lakukan padanya bila kamu dengan sengaja menolak menadatangani kontrak ini?” aku tidak ingin mengatakan hal ini sebagai alasan karena alasan ini hanyalah alasan yang kubuat-buat untuk mengancamnya. Aku tidak menyangka dia akan membantah sehingga hanya cara ini yang terpikirkan olehku. Bila Ji Jeong tahu maka dia akan membunuhku. Aku tidak perlu merusak reputasiku karena mempersulit seorang pengurus rumah tangga kan? Tapi gadis ini.. Dia begitu menarik untuk dipermainkan.

 “Kau sudah merencanakan hal ini?” tanyanya. Matanya membelalak tak percaya.

“Aku tak merencanakan apa-apa nona, Jung Nam lah yang membawamu kesini. Aku hanya memintanya mencarikanku seorang pengurus rumah tangga. Meskipun orang lain, aku tetap akan memberikan kontrak ini padanya. Dan tolong jaga bahasamu. Aku masih majikanmu” jawabku geram. Aku harus berbohong agar dia tidak mencurigaiku dan bukankah memang benar Jung Nam lah yang membawanya kesini.

Dia marah, ya akhirnya pelayan itu meledak dan marah. Dengan cepat direnggutnya surat kontrak di atas meja dan melemparkannya ke arahku. Untungnya aku sempat mengelak sehingga aku tidak malu di hadapannya.

Dengan mata berkaca-kaca dia membalas perkataanku. “Bila kamu tahu aku tak mungkin menolak kontrak ini, mengapa masih memintaku untuk menandatanganinya? Kamu kira aku bisa dipermainkan?”

Aku tidak menyangka hasilnya akan seperti ini, aku kira dia akan melawanku lebih jauh. Ini terlalu mudah. Aku harap dia bermain lebih lama denganku, tapi ini.. diluar dugaanku.

“Aku akan pergi dari sini, aku tak ingin bekerja lagi di rumah ini” katanya sengit. Lalu dia melangkah hendak membuka kenop pintu.

Entah apa yang membawa kakiku melangkah dengan cepat menghentikan gerakan pelayan itu, kutarik tubuhnya dalam pelukanku. Tanganku menyangga pinggangnya, kini kami saling berhadap-hadapan. Mata kami saling bertautan, mata penuh amarah yang menatapku dengan tajam. Hanya berdekatan seperti ini mebuatku begitu bergairah, gadis ini.. apa sebenarnya yang dimilikinya? Dia hanya seorang pelayan...

“Jangan pergi..” pintaku. Suaraku begitu serak hingga aku hampir tak mengenali suaraku sendiri.

“Mengapa? Aku sudah tak sanggup lagi bekerja disini” desisnya marah padaku.

Aku gugup, pertama kalinya aku seperti di dekat wanita. Mulutku terkunci tak mampu menjawab pertanyaan simple itu. mengapa aku menginginkan pelayan ini untuk tetap disini? Mengapa..??

“Jika tak ada yang bisa kamu katakan lagi, tolong lepaskan aku, TUAN..” deliknya marah.

Dan hanya inilah jawaban terbaikku. “Kalau kamu pergi, aku akan meminta kakakmu untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Apakah kamu sudah siap melihat dia kehilangan pekerjaan yang telah diperjuangkannya sejak lama?”

Dan reaksinya sungguh sempurna. “Kamu sungguh tak tahu malu!!” matanya membelelak marah, sangat marah.

“Aku terbiasa mendapatkan apapun yang aku inginkan nona. Dan tak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan..mu.. ..sebagai pengurus rumah tanggaku” apa yang baru saja hampir aku katakan? Aku begitu terbawa suasana hingga lupa dengan tujuan awalku. Dia tidak boleh tahu bila aku menginginkannya.

“Pergilah. Kembalilah ke kamarmu” perintahku murung. Aku harus memilah-milah perasaanku sekarang. Apa yang baru saja terlintas dalam pikiranku sangat tidak benar. Aku tidak mungkin menginginkan pelayan.. seorang pelayan!! Tidak!!

“Tapi aku akan..” pelayan itu masih juga berada dalam ruanganku, tidakah dia tahu betapa bingungnya aku sekarang?

“Aku bilang pergilah!!” teriakku marah.

“Jangan coba pergi dari rumah ini tanpa izinku, nona. Aku serius dengan ucapanku” dan pintu itu tertutup dibelakangku.

~~~~ 


22 comments:

  1. asik asik..
    Ah Jung Min ternyta kau galau..
    Bgtu ajh koq bingung.. Q,u sdh jatuh cinta pada qu *.* *ngaku2 Jihan crta'y

    Mba shin.. Thanks.. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha banyak typo n kurang di edit nih chapter 5 tenryata wkwkkwkw aih... sila... jd jihan ya?? bagus bagus bagus... ati2 ntr lg dicium paksa tuh ama jung min. lol

      Delete
  2. uwo uwo akang jung min...
    itu toh isi hatimu hhahaha

    ahhhh mba shin i love u muah muaaaaaaaahhhhhh ^^

    ReplyDelete
  3. jung min ternyata sama galaux kyk jihan kwkwkwkwk kirain cuman jihan doank, thanks mbak shin *lope*

    ReplyDelete
  4. “Aku terbiasa mendapatkan apapun yang aku
    inginkan nona. Dan tak ada yang bisa
    menghalangiku untuk
    mendapatkan..mu.. ..sebagai pengurus rumah
    tanggaku”

    please dech :D
    mbak shin jung nam kapan nongolna gak sabar neeh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkkwkw... jung nam masih semedi... lol..

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah yo.. komennya mana?? jgn malu2.. :D ayo ketik aja komennya sista. D:

      Delete
  6. tengkyu mbak shin..
    hmmm, kayaknya mbak shin suka banget ya buat cerita dari sudut pandang tokoh laki-laki.. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. aahahhaha begitulah, lebih menarik menurutku. wkwkkwkw... :ndak ada alasan khusus sih tp rupanya emang selama ini memang begitu.. wkkwkwkkw

      Delete
  7. Wah aku se7 ama neng Mellisa @ ane kira awalnya sist Shin ini cowok hahaha coz hamper semua kisah ceritanya dari sisi lelaki ..., ops sorry sist shin .... Yang sotoy ini hihihi ....

    Btw makasih Udah posting Kang Jung min .... Wink... Wink.... :D

    So kapan akang Jung nam nya sist...? Aku dah kangemnnnnnn nih ... Terlalu merindukannya ,,, ah lebay hehehe

    Good night :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaha yah, entah kenapa aku lebih senang menulis cerita dari sudut pandang cowok. dari zaman SMU juga gt, ceritanya semua dari sudut pandang cowok. wkkwkw..

      akang jung nam kapan2 lah, belum bisa ngelanjutin ceritanya. bingung mau digimanain hmm...

      Delete
    2. OK dech klo begitchuuuuu .... Aq tunggu kapan siapnya aja sist....

      :)

      Delete
    3. siap komandan!! lanjutkan!!

      Delete
  8. akhrnya bz buka blog.

    aduh jung min bkin gemes..
    makash mb shin

    ReplyDelete
  9. mbaaaaaak eeeee lanjuuut dooong :D

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. ditunggu lanjutannyaaa #peluk mbak shin

    ReplyDelete
  12. Mbak Shin, lanjutannya mana ??

    Gak sabar nih. Hiksss. :)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.