"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, February 4, 2013

Looking To You - Chapter 17



Pertemuanku dengan Dorothy kemarin ternyata mampu meredakan segala amarah dalam hatiku. Aku tak lagi terlalu frustasi memikirkan nafsuku yang tak tersalurkan. Ternyata ada cara lain untuk melepaskan segala frustasi yang melandamu selain berhubungan seks. Kau hanya perlu menumpahkan seluruh isi hatimu pada seseorang, dan herannya Dorothy yang melakukan itu untukku.

Meski aku tak mengatakan apa sebenarnya isi hatiku, tapi bercanda riang dengannya kemarin mampu mengangkat semangatku yang hampir terpuruk. Mungkin itu juga dikarenakan kini aku telah memiliki sebuah pandangan baru dengan Dorothy. Kami sepakat tak akan mengganggu masing-masing lagi. Dorothy tidak akan mencampuri urusan pribadiku lagi, dan aku..tak akan memperlakukannya sekasar itu lagi.


“Hai, Darren. Kau terlihat bersemangat pagi ini” sapa sekretarisku Diane saat menyambut kedatanganku. Dia mengikutiku ke dalam kantorku, membawakan secangkir kopi panas seperti biasa.

“Kau juga terlihat cukup bersemangat, Diane” cengirku. Mataku mengintip ke arah pintu kantor Calley, apakah dia ada di dalam sana?

“Calley tidak masuk kerja hari ini, dia meminta izin padaku kemarin. Aku sudah mencoba memberitahumu, tapi kau tidak mengangkat telphoneku. Jadi karena dia mendesak dan dia belum pernah mengambil sekalipun lemburnya, aku tak punya pilihan lain selain mengizinkannya, kan?” jawab Diane seolah mengetahui pikiranku.

“..Dia mengatakan keperluannya?” tanyaku.

“Entahlah, kurasa dia sempat mengatakan seorang teman dari jauh menemuinya dan mereka ingin bertemu. Itu saja”

Aku duduk dibalik meja kerjaku, file-file di atas meja telah bertumpuk siap untuk kuteliti satu per satu sebelum mencoretkan tanda tanganku di atasnya.

“Hm.. Baiklah kalau begitu. Apa jadwalku hari ini?” tanyaku lagi. Aku harus memfokuskan pikiranku pada pekerjaan yang kutelantarkan seharian kemarin.

Diane mendiktekan pertemuan dan beberapa janji makan siang hingga tugasku berakhir pukul sembilan malam dengan menemani Mr. Dan Mrs. Rubbens makan malam untuk ke sekian kalinya. Siapa tahu laki-laki tua itu akhirnya memutuskan menyetujui proposal ku bulan lalu.

Diane lalu melangkah keluar dari kantorku, namun dia berhenti saat tangannya menyentuh gagang pintu.

“Oh ya, Darren. Aku lupa memberitahukanmu. Calley meminta izin tiga hari. Jadi.. Kau tak akan bertemu dengannya tiga hari ini. Have a great day, Darren” dengan senyum liciknya Diane menutup pintu didepanku. Meninggalkanku mematung, merasa tertipu.

Calley cuti tiga hari? Untuk menemui seorang teman jauh? Kenapa kepalaku memikirkan laki-laki itu? Apakah dia teman jauh yang Diane maksudkan? Elliot Webb? Duda berengsek itu?! Dan kepalaku seketika dipenuhi dengan kebencian pada laki-laki itu.

Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku seperti yang aku inginkan. Berjalan hilir mudik di dalam kantorku, tanganku memegang handphone dengan nomer Calley pada layar. Aku hanya perlu menekan tombol dial maka telphoneku akan tersambung pada Calley. Tapi mengapa begitu sulit hanya untuk menekan satu tombol itu. Dan handphonekupun berakhir diatas meja. Aku akhirnya tidak menghubungi Calley. Aku akan menemuinya, dimanapun dia berada sekarang. Aku tak boleh membiarkannya menghabiskan waktu bersama Elliot Webb itu.

~~~~

Calley dan Elliot sedang duduk di sebuah kursi dalam taman kota, Derby terlelap dalam pangkuan Calley, sedang Landon bermain di atas kain yang digelar di atas rumput hijau taman. Landon sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan dan mainannya yang lain sementara ayahnya berbincang dengan Calley.

“Derby senang berada dalam pangkuanmu, dia bisa terlelap berjam-jam, sementara aku harus bersusah payah untuk menidurkannya. Nanny nya pun tak semudah itu untuk membuatnya terlelap” Elliot memandang anak perempuannya yang berusia lima tahun terlelap begitu nyenyak di atas pangkuan Calley, wajahnya tersenyum menatap kedua wanita itu.

“Derby bayi yang lucu dan penurut, mungkin dia hanya perlu sedikit kelembutan agar bisa terlelap”

Elliot tergelak, dia menyandarkan punggungnya pada punggung kursi.

“Jadi kau mengatakan aku tidak memiliki kelembutan itu, Calley?”

“Kau terlalu tegang, Mr. Webb. Anak sekecil Derby tahu itu dan merasa kurang nyaman saat kau membujuknya untuk tidur”

“Ah ya.. Andai kau bisa setiap hari menidurkan Derby, keteganganku akan berkurang banyak” bibirnya menyeringai senang.

Calley menoleh pada Elliot, menatap wajah pria itu dengan tanda tanya.

“Kau menggodaku, Mr. Webb?” tanya Calley.

“Bila kau merasa begitu, ya.. aku memang menggodamu” kini deretan gigi putih Elliot menghiasi wajahnya.

“Oh, kau sungguh lucu. Memang gaji yang kau tawarkan sungguh menggiurkan..”

“Dan jangan lupa bonus-bonus dan kemudahan serta akses yang bisa kau dapatkan dalam rumahku, Calley..” Elliot menambahkan, tak ingin Calley lupa dengan negosiasi mereka.

“Hm.. memang sangat menggiurkan..” Calley mengelus bawah dagunya, seolah sedang memikirkan tawaran itu.

Kini Elliot tergelak dengan keras, Calley membelalakan matanya menatap laki-laki itu.

“Kau akan membangunkan anakmu, Mr. Webb” katanya galak.

“Ya, Tuhan, Calley. Hentikan semua omong kosong ini. Mana laki-laki itu? Mengapa dia tidak datang juga? Apa kau yakin dia tertarik padamu?” Elliot menyebarkan matanya ke sekeliling taman namun tak menemukan sosok yang dicarinya.

“Dia memang tertarik padaku, Mr. Webb. Tapi secara fisik, apakah semua laki-laki seperti itu? Ingin memiliki tubuhmu tapi tak ingin membangun sebuah keluarga denganmu?” Calley cemberut memikirkan seseorang yang telah membuat dunianya jungkir balik empat bulan terakhir.

“Kau tahu itu tidak benar, Calley. Tanganku selalu terbuka bila kau bersedia. Cukup katakan ‘ya’ dan aku akan memboyongmu ke Manhattan, untuk menjadi babysitter anak-anakku” Elliot masih tak sanggup menahan tawanya.

“Kau memang licik, Elliot Webb. Akan kukatakan pada Paman mengenai kebiasaanmu ini”

Elliot memasang wajah memelas, memohon Calley untuk membatalkan niatnya.

“Oh, tidak Calley. Ayahku akan menceramahiku dan membacakan ayat-ayat dalam alkitab sepanjang hari. Aku sedang tidak ingin melakukan pengakuan dosa padanya”

“Sekarang kau tahu, aku juga bisa selicik dirimu” senyum Calley merasa diatas angin.

“Ya, kau menang kali ini, Calley” Elliot mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan dibibirnya ketika Calley kembali memarahinya.

“Kau tidak akan menyalakan rokok itu disini, Mr. Webb!”

Elliot menoleh pada Calley dan teringat pada Derby dan Landon di dekatnya.

“Kau benar, maafkan aku Calley”

“Minta maaf pada anak-anakmu, Elliot. Kau harus ingat pada mereka” Calley memandangnya dengan tatapan penuh pengertian.

Calley tahu betapa frustasinya laki-laki gagah disampingnya ini. Wajahnya yang rupawan kini ditutupi dengan garis-garis kesedihan setelah berduka selama dua tahun sejak kematian istrinya. Calley berada disana saat ayahnya memimpin upacara kematian Crystal, Calley juga berada disana saat Elliot membutuhkan seseorang untuk menepuk pundaknya.

Elliot menyukainya, namun Calley tidak sanggup menumbuhkan perasaaan yang sama pada laki-laki itu. Dia hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, yang telah dikenalnya sejak mereka dahulu sama-sama menjadi anak altar.

“Maafkan Daddy ya, Derby, Landon” bisiknya tanpa terdengar oleh anaknya. Elliot menghembuskan nafasnya dan bersandar kembali pada punggung kursi.

“Dari banyak wanita, kenapa aku harus menyukaimu lagi, Calley? Kau tak akan pernah bersedia kunikahi, kan?” Elliot tersenyum miris mengingat hubungan mereka yang tak pernah lebih dari sekedar kakak-adik.

“Aku mencintai anak-anakmu, Elliot. Tapi nampaknya itu belum cukup untuk mengorbankan diriku untuk jatuh kedalam pelukanmu” Calley tertawa kecil mendengar erangan kekalahan Elliot disampingnya.

“Kau memang keras kepala, tapi aku heran kenapa kau tidak sekeras kepala itu menghadapi laki-laki ini, siapa namanya tadi? Darly? Darlen?”

“Darren, Elliot. Nama laki-laki itu, Darren. Dan dia sekeras batu. Bila kau melawan batu dengan batu, maka kalian berdua akan hancur. Aku tak ingin menghancurkan Darren atau diriku. Aku akan membiarkannya seperti itu, hingga dia meledak dengan sendirinya. Bila dia memiliki perasaan seperti yang aku punya padanya, dia akan mencariku. Hanya saja, aku tak yakin dia akan mencariku dalam waktu dekat. Kau tahu, dia memiliki sejenis tempat penyaluran kebutuhan yang dipercayainya bisa menghilangkan frustasinya”

“Dan dia berhasil?” tanya Elliot ingin tahu.

“Nampaknya..tidak. Sama sekali tidak berhasil. Dia masih merasa perlu bermain-main denganku..” Calley memalingkan matanya dari tatapan Elliot, dia tidak ingin laki-laki itu melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Damn Calley, kau telah jatuh cinta padanya. Dan laki-laki tak tahu diuntung ini, ingin rasanya kuhajar kepalanya agar dia mempunyai sedikit saja kesadaran bahwa ada seorang wanita hebat sepertimu yang mencintainya” Elliot merasa iba pada wanita ini.

“Kemarilah, bersandarlah dipundakku. Kau perlu seseorang untukmu bersandar, Calley. Hubungi aku bila kau memerlukan seseorang, kau tahu aku akan selalu ada untukmu” Elliot merengkuh bahu Calley dan menyandarkan kepala wanita itu pada pundaknya. Calley mencoba menghapus air mata yang turun di pipinya, namun Elliot berhasil menghapusnya terlebih dahulu.

Dari kejauhan, Darren menyaksikan pemandangan itu dan seketika dia merasa dunianya runtuh dibawah kakinya. Hatinya bagai ditusuk dan dicubit, tubuhnya lemas menyaksikan Calley dalam pelukan laki-laki lain. Pemandangan di depan matanya adalah sebuah gambaran keluarga bahagia yang tak bisa dia berikan pada Calley.

Seperti itulah seharusnya keluarga yang akan dibangun Calley bersama suami dan anak-anaknya kelak. Sementara dengan Darren, Calley tak akan memiliki kesempatan itu, Darren yang pengecut hanya bisa menawarkan ranjang-ranjang panas baginya.

Tak ingin menyakiti hatinya lebih lama lagi, Darren mengemudikan mobilnya menjauh dari sana. Air mata yang tak pernah menetes karena wanita kini turun membasahi pipinya. Diapun terisak seperti anak kecil, semua ingatan akan masa lalunya bersama dengan keluarganya yang bahagia tergambar dikepalanya.

Beranikah Darren mempertaruhkan dirinya untuk merebut Calley? Beranikah dia berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah berani dimimpikannya?

Darren menghentikan mobilnya dipinggir jalan raya dan menangis sekencang-kencangnya di dalam mobil. 


38 comments:

  1. yaampuun.
    ternyata mereka dah kenal lama..
    emang yah musuh darren y dirinya sendiri.
    makasih mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheheh iyaa ka.. begitulah Darren.. mirip bapaknya. lol... sama2.. :D

      Delete
  2. Kenapa yah orang suka mengambil kesimpulan sendiri yach, Darren ayo tinggalkan masa lalumu, shin makasih dah post LTY ya *kecup basah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 sista.. :D
      itu salah satu sifat buruk manusia. wkwkkwkw

      Delete
  3. Hmm,,,kasian bener Darren,,
    Masa laluny sungguh m'hantui diriny dengan kejam,,
    makasih so much sistah,,,

    ReplyDelete
  4. Lahhh...
    Pagi pagi galau gara gara mba shin nih.. :(
    darren sini ke depok, aku peluk peluk

    ReplyDelete
  5. owh darren ku yang malam. suer dah mba nyesek abisss baca nya. Galau's time hha...

    come on darren rebut calley.. jangan jadi pengecut, tekan rasa takut mu honey bunny sweety tralala trilili hhihihihihhi.

    HWAITING deh bwt aa darren :D

    mba shin muah muah hha

    ReplyDelete
  6. Oh Darren... So poor :'(
    Thanks babe :)

    ReplyDelete
  7. yah darren bkn ngerebut malah kbur nangis terisak,mksh bonusnya mba shin :*

    ReplyDelete
  8. Hebat nih, alurnya tak terduga. Aiih tnyta si web sm calley udh sahabatan yaa,,
    Darren bs nangis jg, hmmm mamam deh ya, ga enak kan kl kehilangan calley, :D
    Kereen ciin :*

    ReplyDelete
  9. Kasihan darren..galau.com...sini sini aku peluk..xixixi
    Mba shin keren critanya.. :D

    ReplyDelete
  10. kasian Darren.. Trauma masalalu terllu mengikat'y.. Hiks hiks..
    Smga stlah ne dia berani mngambil resiko krn dia pasti bhagia sma Calley..
    Ya kan mba shin?? *kedip2 :D

    ReplyDelete
  11. Sebenary itu tergantg pd diri darren sendri siih
    Klo dia ingin bahagia mk dia hrs berusaha krs melupakn masa lalunya
    Tengkyu mba shin
    semoga sehat slalu agar exciis dlm nulisnya

    ReplyDelete
  12. asyik darren mulai panas hati.... www.darrengalau.com

    miss u mbk shin...

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Daren,,,daren, kacian amat sich,,ternyata dia jg bisa nangis bombay ,,,sini biar ku pinjamkan pundakku,,cup,, cup!!!
    k shin uplod'x jngn lma2 yach,,,you the best !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. minggu depan lagi.. lol...

      Delete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. menangis terharu,,,, i miss this stories soooooooooooooo muchhhh thanks hun ;)

    ReplyDelete
  17. Darren cengeng ah.... Tpi salut sma Calley Ɣªήğ berani mghadapi sikap Darren..Ga mau myerah dgn keinginan darren Ɣªήğ hnya mbri Cinta sesaat. Si Perawan tanggung Ɣªήğ jinak2 merpati.. Heheh.

    ReplyDelete
  18. Huaaa mb shiiin, kasian banget Darreen :'( *ikutan nangiis di pundak darren*
    Ayo donk Darren,semangaat, rebut Calley doonk

    ReplyDelete
  19. si darren nyiksa diri sendiri karna keegoisannya yang gak mau berkomitmen, bagus deh nikmatin ya darren semoga dapet pelajaran juga dan berubah fikiran *agak kesel sama darren >,<
    calley sabar juga ngadepin darren.hehe

    ReplyDelete
  20. seorang darren nangis?? God! unbelievable
    mksh shin ^^
    ure the great author :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.