"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, February 4, 2013

Looking To You - Chapter 18



Aku menjatuhkan pantatku diatas sofa empuk ruang kerja Daniel, tangan menumpu kepalaku pada punggung sofa lalu kedua kakiku kusilangkan di atas meja, menyisihkan vas bunga yang mengganggu di tengah. Tak lama kemudian aku tertidur, aku kelelahan, depresi dan frustasi. Lengkap sudah penderitaanku.

“Darren? Kau mau tidur sampai jam berapa?” Daniel membangunkanku, dia sedang menghisap rokoknya di sofa didepanku. Asap rokoknya mengepul keatas tersedot oleh penyaring udara.


Aku mengusap wajahku, nampaknya tidurku cukup dalam. Seluruh tubuhku pegal dan sakit. Posisi tidur yang tidak nyaman ini mampu membuatku terlelap. Mungkin meski hanya tidur di kolong kursi aku akan tertidur juga, aku sudah terlalu kelelahan.

“Jam berapa ini?” tanyaku linglung.

Daniel menunjuk jam tanganku. “Lihat saja sendiri ditanganmu” dia menatapku tajam. Mencoba menerka apa yang terjadi padaku.

Pukul tujuh malam, aku sudah keluar seharian dan melewatkan semua pekerjaan dan janji makan malamku. Aku sungguh tidak bertanggung jawab, Mr. Rubbens pasti sangat kecewa dan aku bisa mengucapkan selamat tinggal pada proyek besarku karena Mr. Rubbens pasti tak akan senang.

“Ah.. Aku mengacaukan semuanya” keluhku. Aku terlihat sungguh kacau, wajahku berantakan.

Mungkin mataku sedikit bengkak karena efek tangisanku tadi siang. Aku menangis seperti bayi kecil, memalukan. Bila Daniel tahu, dia akan meledekku seumur hidup. Kuhela nafasku, Daniel masih menatapku seperti itu, dia membuatku salah tingkah.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Daniel padaku.

“..Aku rasa tidak ada” jawabku menghindar. Aku tak tahu harus mengatakan apa pada Daniel.

Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta dan putus cinta sekaligus, kan? Karena wanita yang aku cintai telah menemukan keluarga barunya. Dan aku tak mungkin bisa memberikan keluarga seperti itu untuknya. Aku memang egois.

“Apakah kau ingin aku memakai permainan kita agar kau menjawab pertanyaanku?” Daniel kini mematikan rokoknya, memasang wajah serius dan menatapku tanpa kedip, menunggu jawaban dariku.

“Aku tidak tahu, aku rasa itu bukan ide bagus”

“Aku rasa itu ide bagus, Darren. Kau seperti adonan kue yang dihantam berkali-kali. Sekacau itukah hidupmu?” tanya Daniel lagi.

“..Kau tak tahu sekacau apa hidupku, Dan”

“Kalau begitu jawablah, kau bisa menanyakanku apapun”

Aku terdiam sejenak, kesempatan ini bisa aku gunakan untuk menanyakan kebenaran yang ingin kuketahui sejak dulu. Tapi apakah pertanyaanku tak akan membuat Daniel marah? Aku tak ingin merusak hubungan kami, aku juga tak ingin mengacaukan masa depanku. Tapi.. apalah arti masa depan yang kubayangkan bila aku tidak bisa hidup normal seperti orang kebanyakan? Aku akan selalu menggigit jariku saat melihat sebuah keluarga bersenda gurau dengan anak-anak mereka. Bisakah aku hidup mengetahui Calley bersama laki-laki lain? Dalam pelukan laki-laki lain? Oh, Tidak! Sumpah, aku tidak bisa.

“Jadi..? Apa jawabanmu?” tanya Daniel.

“Apa yang ingin kau tanyakan padaku, Dan? Sebelumnya, boleh aku minta segelas whisky? Aku rasa aku perlu segelas atau dua gelas minuman itu”

Daniel bangkit menuju kulkas kecil di pojok ruangannya, mengambil sebaskom es batu dan whisky dalam lemari barnya. Dia meletakan dua gelas old fashinoed di atas meja, mengisi dua balok es batu kecil dan menuangkan satu sloki whisky pada masing-masing gelas. Dia memberikanku segelas minuman itu, yang langsung kuminum tanpa menunggu Daniel bersulang. Aku tak perlu bersulang, aku perlu minuman ini sekarang. Kutuangkan segelas whisky lagi untukku.

“Kau harus menjawabku dulu sebelum kau mabuk, Darren” tatap Daniel tajam.

“Terserah. Apa yang ingin kau tahu, Dan? Akan kujawab semuanya” isi gelas itu telah berpindah ke dalam perutku. Dan aku siap menjawab setiap pertanyan aneh sekalipun yang akan ditanyakan Daniel.

“Apa yang membuat dirimu seperti ini?”

“Pertanyaan yang menjebak, Daniel. Aku tak tahu apa maksudmu. Tapi sudahlah, akan aku jawab semuanya. Aku sudah lelah dengan semua kebohongan ini, aku lelah menipu diriku” kutarik nafasku dalam-dalam, aku siap membeberkan semua isi hati dan masalahku. Semoga Daniel bisa memberikanku petunjuk, aku benar-benar tidak yakin bisa menyimpan ini lebih lama lagi.

Daniel menunggu, dia tak berkata apa-apa sehingga kulanjutkan penjelasanku.

“..Aku tertarik pada seorang wanita..” namun mata Daniel menyipit dan aku terpaksa meralat ucapanku.

“Oke, oke.. Aku jatuh cinta pada seorang wanita, tapi aku tidak tahu bila dia memiliki perasaan yang sama terhadapku. Dia begitu sulit untuk ditebak. Dia bisa luluh dalam pelukanku, namun kemudian kau akan melihatnya menolakmu dengan kejam, seketika itu juga. Seolah baginya ini hanya permainan, bila dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan berhenti mengejarnya. Maksudku, dia memiliki tujuan tertentu untuk mendekatiku.. mungkin..” aku sendiri merasa tak yakin dengan ucapanku.

Benarkah Calley mendekatiku karena menginginkan sesuatu dariku? Ya, tentu saja dia menginginkan sesuatu. Dia ingin sebuah keluarga besar, bukan hanya suami dan istri, tapi juga beberapa anak-anak. Yang tidak berani aku berikan padanya.

Tapi apakah hanya karena itu, lalu Calley langsung berubah dingin padaku? Dia bahkan telah bermesraan dengan Duda Webb itu, di depan umum, di depan anak-anak laki-laki itu. Shit!! Aku terpaksa menghembuskan nafas keras-keras untuk menjernihkan kepalaku.

“Santai, Darren. Kau akan terkena serangan jantung bila kau seperti ini. Terlalu banyak kemarahan dalam tubuhmu, dik. Lanjutkan, aku belum terlalu mengerti maksudmu” Daniel menyodorkan sebatang rokok padaku yang kusambut langsung. Dia menyalakan rokok itu dan kuhisap dengan nikmat. Aku butuh sesuatu untuk menolongku agar tetap fokus pada ceritaku, rokok ini cukup membantu.

“Well, kau tahu.. Semua tidak berjalan mulus. Dia tidak ingin berada di atas ranjangku. Dia ingin lebih.. Dia ingin sebuah keluarga besar, Dan.. Aku tidak bisa memberikan itu padanya. Lalu dia meninggalkanku, dia sudah menghindariku beberapa hari ini. Aku ingin menghubunginya, tapi..lalu aku melihatnya dengan laki-laki itu di taman kota, bersama anak dari laki-laki itu dan mereka.. mereka sedang berpelukan, kau tahu. Laki-laki dan perempuan, di depan umum bermesraan seperti itu. Tak lain dan tak bukan mereka pasti sedang terlibat hubungan asmara. Dan yang membuatku kesal, wanita itu ternyata tak selugu yang kukira. Belum lewat seminggu aku mencumbunya, kau tahu.. Aku mencumbunya bahkan aku sudah sejauh itu hingga well.. hingga dia telanjang. Tapi.. dia bisa berdekatan dengan laki-laki lain, seolah tidak terjadi apa-apa. Dan itu membuatku kesal” rokokku telah habis dan kulemparkan ke dalam asbak, mengambil se-sloki lagi whisky untukku.

“Pertama, Darren, aku ingin tertawa mendengar penuturanmu, sekaligus iba ehm.. kasihan. Dan aku ingin mengatakan bahwa kau itu bodoh. Teramat sangat bodoh” daniel menyunggingkan senyum meledekku.

“Aku tak mengerti, Dan.. Aku kira kau akan mendukungku” jawabku kesal.

Daniel tertawa keras. “Well.. mungkin kau tidak bodoh, karena kau mengakui bahwa kau jatuh cinta padanya. Dan saat melihat mereka berpelukan, seperti katamu tadi.. kau merasakan rasa ini.. cemburu. Ya kau, cemburu. Dan bodohnya kau langsung lari dari sana tanpa mengkonfirmasi kecurigaanmu, dan bukannya meghadapi kenyataan bahwa kau Darren White, menginginkan wanita itu. Aku merasa iba, karena kau masih juga berpikir buruk tentang dirimu. Kita akan membicarakan masalah itu sebentar lagi dan... Aku sungguh ingin tertawa, sebentar.. izinkan aku tertawa dulu...” lalu tawa Daniel meledak, dia masih terpingkal-pingkal memegangi perutnya.

Aku menuangkan segelas whisky lagi untuk diriku. Menyesapnya dengan kesal sembari memperhatikan wajah Daniel yang berubah kemerahan karena tertawa terlalu keras.

“Aku senang bisa membuatmu tertawa senang, Dan. Bisakah kau hentikan itu sekarang?”

Daniel menekuk perutnya, kemudian demi melihat wajahku yang kesal dia kembali meluruskan badannya, membersihkan tenggorokannya dan melanjutkan kembali apa yang ingin dikatakannya.

“Ehem.. Ya, kau memang bodoh, egois tepatnya”

Mataku menyipit, aku memang egois, namun atas dasar apa Daniel mengatakan aku egois?

“Atas dasar...??” tanyaku.

“Atas dasar.. Kau bisa meniduri wanita lain dengan mudah, sementara wanita ini hanya berpelukan dengan laki-laki yang mungkin disukainya dan kau berkata seolah dia adalah wanita murahan” jelas Daniel dan aku membelalakan mataku.

“Aku tidak pernah mengatakan dia wanita murahan, Dan. Hanya saja, dia terlihat mudah berpindah ke dalam pelukan laki-laki lain” jawabku kesal.

Daniel menggosok rambutnya yang tak gatal, mungkin mulai kewalahan menghadapi kekeras-kepalaanku.

“Adikku.. Itu namanya kau egois. Kau tidak bisa berharap wanita itu menjadi biarawati saat kau sendiri tidak mau berjuang untuk memilikinya. Dia juga manusia, sama sepertimu. Mungkin kau benar, setelah dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia perlukan darimu, dia mencarinya pada laki-laki lain. Dan kau semestinya tidak berhak untuk marah kepadanya. Dia bebas dan tentu dia akan melakukan apapun yang diinginkannya. Lain bila kenyataannya kalian pernah mengikat suatu hubungan, dan tidak kan? Kalian hanya..ehm.. apa sebutannya untuk bercinta semalam? Oh, one nite stand? Ah ya. Tapi bahkan kalian tidak melakukannya. Jadi.. kalian murni, hanya boss dan karyawati. Kau tidak bisa mencampuri kehidupan pribadi karyawatimu” jelas Daniel panjang lebar.  

“Kau tidak membantuku sama sekali, Dan” kepalaku mulai pusing dan berdenyut-denyut. Aku rasa aku harus menginap di suite dalam kantor Daniel. Aku tak ingin pulang ke apartemenku.

“Aku akan menginap disini, Dan. Suitemu kosong kan?” tanyaku pada Daniel yang sedang mengambil semangkuk es batu lagi dari kulkas.

“Sebenarnya.. Aku mempunyai seorang tamu malam ini. Kau tahu, aku berusaha menghilangkan perasaan jijikku pada wanita, dan well.. dia ahlinya, dia akan membantuku. Jadi.. tidak.. suite ini tidak kosong. Kau harus pulang ke apartemenmu”

“Oh, well.. Bukan malamku artinya. Aku akan pergi kalau begitu”

Daniel bergegas mendekatiku, menahan tubuhku agar tidak berdiri.

“Apalagi, Dan? Aku kira kita sudah selesai. Aku akan menanyakanmu pertanyaan bagianku, tapi tidak malam ini. Aku tidak terlalu ingin tahu lagi” ya, aku mulai ragu dengan keinginanku untuk mengetahui jawaban dari pertanyaanku itu.

“Tapi aku masih ingin berbicara sesuatu denganmu, Darren. Jadi letakan kembali pantatmu di atas sofa” perintahnya. Dan aku tidak pernah bisa membantah perintah Daniel.

“Terserah katamu, setidaknya berikan aku aspirin. Kepalaku berputar-putar dan aku tak akan sanggup mengemudikan mobilku. Aku akan memesan taksi agar mengantarkanku pulang” aku menyandarkan tubuhku diatas sofa, aku perlu berbaring.

“Ini, minumlah. Semoga sakit kepalamu cepat hilang” kata Daniel saat menyodorkan sebutir aspirin untukku.

“Thanks”

“Jadi.. adakah hal lain lagi yang membuatmu kacau?” 

Terpikir olehku perbuatanku kemarin terhadap Dorothy, tapi aku tak mungkin mengatakannya pada Daniel, dia akan membunuhku saat ini juga. Jadi aku memutuskan hanya itulah yang bisa aku katakan padanya.

“Nope, aku rasa itu saja”

Sejenak Daniel berpikir sebelum membuka mulutnya. “Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?

Aku menatap wajah Daniel, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Tapi ini bukan tentang Daniel, ini tentangku. Haruskah aku menghindar lagi? Sudah lima belas tahun aku menghindar dan tidak berani menanyakan hal ini pada Daniel. Aku rasa hanya dia yang bisa menjawab pertanyaanku ini.

Tapi.. Bila kenyataan tidak seindah bayanganku, apa yang akan terjadi pada kami?

“Darren..?” panggil Daniel lagi, dia memanggilku karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Kutarik nafasku, mencoba mengatur debar jantungku. Sakit kepala ini benar-benar mengganggu, aku tak bisa berkonsentrasi dan tubuhku semakin lemah. Kuperbaiki posisiku dan duduk kembali, kepalaku berputar untuk sesaat aku diam menenangkan kepalaku yang berdenyut-denyut menyakitkan. Lalu kutatap mata Daniel, mata itu menatapku dengan tajam, menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutku.

“Aku.. Kita.. Apakah kita adalah saudara kandung? Atau bukan..?” akhirnya aku keluarkan juga pertanyaan ini.

Pertanyaan yang mengganggu hidupku dan alasan dibalik mimpi-mimpi burukku sepanjang lima belas tahun belakangan ini. Alasan mengapa aku begitu tidak ingin membangun sebuah keluarga, saat aku tak tahu darah apa yang mengalir dalam tubuhku. Apakah darah seorang White, atau hanyalah darah laki-laki bejat yang berselingkuh dengan ibuku, seperti kata ayah sebelum dia mati.

Daniel diam, dia tak bergerak sama sekali. Apakah dia terguncang dengan pertanyaanku? Tidak, dia tidak menampilkan ekspresi sedang terguncang. Tatapan matanya datar, seolah menilai apa yang baru saja aku katakan.

“Kenapa kau ragu, Darren? Karena perkataan laki-laki tua itu?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Daniel. Dia tidak perlu jawaban apapun. Akulah yang memerlukan jawaban yang diketahuinya.

“Kau adalah seorang White, Darren. Darahmu adalah darah yang sama yang juga mengalir dalam tubuhku. Memang tragis apa yang terjadi pada ayah, dia tidak pernah mencoba mencari tahu keraguannya, seperti dirimu. Dia selalu menduga dan membuat pikirannya sendiri. Karena itulah dia hancur dan kita ikut hancur karenanya. Tapi jangan sampai kebodohan ayah menghancurkanmu juga, Darren. Pegang kata-kataku, kau adalah seorang White. Terlepas kita memiliki hubungan darah atau tidak, kau tetap seorang White, adik kandungku” Daniel menghembuskan nafasnya lalu melanjutkan dengan antusias. “Atau bila kau ragu, kita bisa ke rumah sakit. Kau tahu, melakukan test DNA. Namun apapun hasilnya, kau tetap adikku dan kau tahu itu. Jadi jangan pernah meragukan dirimu, kau adalah White dengan dan tanpa darah ayah mengalir dalam tubuhmu”

Aku merasa kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak aku ketahui, aku ingin mengatakannya tapi pertanyaan itu tak bisa aku kemukakan dalam bentuk kata-kata. Aku hanya ingin bertanya, tanpa tahu apa yang ingin kutanyakan.

Daniel.. Dia begitu baik, dia selalu melindungiku bahkan dari diriku sendiri. Haruskah aku mempermasalahkan hal ini saat hal yang paling penting dalam hidupku telah menerimaku seutuhnya?

Aku memiliki Daniel, Paman Thomas, Bibi Amanda yang menyayangiku bahkan Dorothy, sepupuku yang..manis.. dan dia mencintaiku. Apalagi yang aku inginkan?

Kau ingin Calley, Darren. Kau menginginkannya untukmu, menginginkannya diatas ranjangmu selama-lamanya, berjalan di lorong gereja untuk menerima uluran tanganmu. Kau ingin menggenggam tangannya untuk memberikannya kekuatan saat dia berbaring lemah diatas ranjang operasi saat akan melahirkan anakmu. Kau ingin merengkuh pundaknya saat kulitmu telah mengeriput dan rambut-rambutmu berubah menjadi kelabu dan bersamanya menyaksikan mentari tenggelam di ufuk barat. Kau ingin menghabiskan seluruh hidupmu bersamanya, kau ingin membangun keluarga bahagia bersamanya, keluarga yang sama seperti yang pernah kau miliki saat kecil..” kesadaranku yang gamblang menohok kepalaku dengan sukses. 


42 comments:

  1. horee.
    ada darren.
    kasian dia.
    makash mb shin

    ReplyDelete
  2. wah...darren baru sadar toh....
    selama ini dianya kemana aja tuh mbak.....hehehhehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha selama ini dia jd katak dalam tempurung lool

      Delete
  3. Oh mas Darren koe syank .... 我很想念你..... Muach....
    Thanks sista... Luph U hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha apa bacaannya tu sist?? lol

      Delete
    2. 我很想念你 baca : wo hen Xiang nien ni --> aku merindukanmu ...hahhaa lol :D

      Delete
    3. Iya sistah... 我愛你 wo Ai Ní ... I love you,,, wkwkkwkkk... Lebay poll hahhaa

      Delete
  4. darren white hwaiting bwt dapetin calley ^^
    mba shin makasih muah

    ReplyDelete
  5. Owh Daniel,,,betapa bijaksanany dirimu,,,
    Hmmm,,i wonder sp yg akn mmgunjungimu???
    Jgn prnh skalipun selingkuh dr aq yaaa,,,
    Darren,,ttp semangadh,,
    Go get ur giRl,,,:)

    ReplyDelete
  6. aih br sadar,slm ni tdur kynya.hahah thx mba shin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... selama ini dia hibernasi ren..

      Delete
  7. Suka ma daniel n darren..:D #maruk

    ReplyDelete
  8. mudah2an ada side story atau cerita tersendiri buat daniel... hihihi
    btw makasih mba shin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha amin.. mdh2an :D sama2 sista..

      Delete
  9. New reader nih disini... bagus yak ceritanya, banyakin scene darren sama calley berdua gitu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. welcome aboard sist ;)

      haha ya nanti bakal banya scenenya mereka :D dah mau kelar2 jg nih cerita nya bntr lg

      Delete
  10. *menangis terharu,,,, oh my daniel,,,,


    Mba shinn thanks u r the greatest writter i've eva knwn ! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aih dirimu bisa aja cin :tersanjung sampe muka merah kyk tomat:

      Delete
  11. Terharu fira baca bab nii
    Si Daniel ¶¶ oky
    Mudah2 si darren segera sadar

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa iyaa..mdh2an cepet sadar lol

      Delete
  12. Darren dh mulai sadar ya.... Pernikahan tdk smua Πγª mngerikan.

    ReplyDelete
  13. Daniel kakak yg baiiiiiiiiiiikkk....
    suka deeeeh... :D
    Darren, kamu pasti bsa melalui ini..
    calley pasti akan mendampingimu...

    mbaaakk... galau semua skrg part nya yaa.. huhuhuhhu T___T

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... ya alurnya pas galau mgkn krn mulainya barengan.. wkkwkw

      Delete
  14. Daniel bruntung jd istrimu, Darren ayo buka hatimu buka sedikit buat calley, hiks udah mau ke chapter 2 akhir ya sist?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah kyknya sih sist.. chapter 20 mereka udah bertemu.. konfliknya dah habis. heuheuee.. palingan bikin konflik di atas ranjang aja.. wkwkkwww

      Delete
  15. aku kok jadi suka permainan tanya jawab ini :D
    owh... jadi ini kah dari sisi egoisnya sebenernya juga dia menginginkan hal yang sama pada calley cuma karna keraguan dan trauma nya aja sama yang namanya keluarga *angguk2* mba siapa cewenya daniel? penasaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada duwehhhh...wkkwkwkwkwkw... :ngakak: iya, sesi tanya jawabnya bakal berlangsung sampe di cerita Daniel. lol

      Delete
    2. yang pasti dia harus baik2, soalya daniel orang baik :D kan pepatah orang baik pasti ngedapetin yang baik pula #tsaahh

      Delete
    3. hahaha kl belum ketemu ama soulmatenya pstinya belum baik2 cin.. lol..

      Delete
    4. berarti belum ketemu jodohnya sekarang? o.0

      Delete
    5. belum donk.. nanti di buku nya dia br ketemu ama jodohnya wkkwkw

      Delete
  16. Untung daniel bijaksana hihihi
    Ayo Darren, cepat buka hatimu dan dapatkan Calley
    Hahahaa
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.