"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, February 7, 2013

Looking To You - Chapter 19



Tiga hari berlalu tanpa Calley lalu-lalang dikantorku, aku begitu merindukannya. Aku sampai menginap dalam suite kantorku hanya agar bisa melihatnya pagi-pagi sekali. Aku ingin berbicara padanya, aku ingin menawarkan kembali apa yang diinginkan Calley, demi Tuhan semoga aku belum terlambat.

Tapi, apa yang akan aku lakukan bila ternyata semua telah terlambat? Apa yang akan aku lakukan bila Calley menolakku, dan dia mengatakan bahwa dia telah menerima Elliot Webb itu? Bisakah aku bertahan? Mampukah aku menerima kemungkinan itu?


Disini, dalam kantorku aku gelisah menunggu Calley. Memikirkan kalimat yang akan aku pakai untuk meyakinkannya bahwa aku bersungguh-sungguh, aku akan mencoba..setidaknya aku mencoba kan? Meski aku tak tahu apakah aku bisa menjadi seorang suami..atau ayah yang baik. Bisakah aku?

Sekali lagi ketakutanku menyelimutiku, aku begitu takut akan mengecewakan Calley, begitu takut semua tidak akan baik-baik dan aku mungkin akan mengacaukan semuanya.

“Ya, Tuhan, aku frustasi!! Apa yang harus aku lakukan?” keluhku, aku benar-benar tak tahu apa yang aku lakukan sekarang. Bahkan aku tak pernah segugup ini saat berpidato di depan ribuan orang.

“Tok..tok..” suara pintu kantorku diketuk dari luar. Siapa?

“Masuk” perintahku. Diane, dia membawakan kopi panas untukku dan beberapa berkas ditangannya.

“Morning, Darren. Aku yakin kau menginap disini semalam” katanya sembari meletakan seteko kopi dan biskuit kecil untukku.

“Morning, Diane. Ya, kau benar. Calley sudah datang?” tanyaku.

“Sudah, dia langsung ke kantornya. Kau ingin menemuinya?” tanya Diane. Aku tak sempat menjawabnya karena aku sudah melangkah keluar dari kantorku.

You’re welcome” sayup kudengar suara Diane saat aku menutup pintu kantorku. Aku harus berbicara dengan Calley.

Pintunya tertutup, Calley pasti di dalam. Kubuka pintu itu dan menemukannya sedang duduk dibelakang mejanya, memakai blazer kuning muda, rambutnya digelungkan ke atas. Dia terlihat menggairahkan, lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk mataku. Aku teringat saat lidahku merayap dikulit mulusnya itu.

“Morning, Darren” sapa Calley padaku yang berdiri diam menatap wajahnya.

“Morning.. Ehm.. Kau sudah kembali bekerja. Bagaimana pertemuanmu dengan teman lamamu itu?” aku tak tahu harus memulai dari mana, melihat Calley tersenyum padaku menggelitik keingintahuanku mengenai ‘kencannya’ bersama dengan Elliot Webb.

Setidaknya sebelum aku mengungkapkan perasaanku pada Calley, aku harus tahu bahwa aku tidak akan mempermalukan diriku. Aku masih bisa menyelamatkan wajahku bila dia menolakku, kan?

“Cukup baik, kami menyepakati beberapa hal dan itu cukup memuaskan” jawab Calley.

Aku tidak tahu hal apa yang disepakatinya dengan Elliot, namun mengapa aku merasa mereka sedang melakukan sesuatu yang akan membuatku merasa tak nyaman? Apakah Elliot telah melamar Calley?

Aku ingin menanyakan hal itu, tapi apa hak ku bertanya seperti itu padanya. Calley akan menghajarku bila ikut campur dalam urusan pribadinya. Tapi aku tak bisa menyembunyikan keingintahuanku, aku harus tahu.

“Apakah kau ingin memberitahuku kesepakatan apa yang kau setujui dengan temanmu itu?” aku duduk di meja Calley, tempat dimana aku biasa berbicara dengannya.  

“Oh, itu bukanlah hal penting. Kau tak usah memikirkannya. Hari ini pertama aku bekerja lagi, aku rasa Diane memiliki banyak pekerjaan untukku” Calley mencoba mengalihkan pembicaraan kami.

Dia tidak ingin aku mengetahui kesepakatannya dengan Elliot. Dan mengapa aku menjadi marah? Aku marah karena Calley tidak memberitahukanku, aku marah karena dia mencoba mengalihkan pembicaraan kami. Shit! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Calley dan laki-laki itu.

Calley berdiri dihadapanku, dia ingin keluar. Mungkin untuk mencari Diane dan menanyakan pekerjaan untuknya hari ini. Tapi aku belum selesai dengannya, kutarik tubuh Calley dan menahannya dalam pelukanku. Aroma tubuh calley langsung tercium oleh hidungku yang awas.

Ya, Tuhan aku merindukan aroma tubuh wanita ini, aku merindukan bibir merah Calley yang sedang terbuka menatapku. Bibir itu seolah berkata padaku “Kecuplah aku”. Tubuhku bergetar merasakan kerinduanku pada Calley.

Saat tanganku menyentuh wajah Calley aku bisa merasakan otot-otot tanganku lemas dikuasai oleh perasaan yang begitu rapuh, aku rasa aku telah kehabisan kepercayaan diri di depan wanita muda ini. Aku tidak bisa lagi berpura-pura tidak membutuhkannya, aku membutuhkan Calley lebih dari apapun.

“Calley...” bisikku gemetar. Calley pasti bisa merasakan bibirku yang gemetar saat kucium bibirnya dengan penuh kerinduan.

Ciuman yang sangat pelan, kuraba bibir bawah Calley dengan lidahku lalu kupagut bibir itu dengan nikmat. Mata kami terpejam, aku bisa merasakan tubuh Calley meleleh dalam pelukanku. Wanita ini tak mungkin telah jatuh ke dalam pelukan Elliot bila hanya dengan sebuah ciuman dariku dia telah menyerah.

Kau tak akan tahu banyaknya godaan dari pikiranku yang memerintahkanku untuk bercinta dengan Calley saat ini juga, di dalam kantornya yang sempit, seperti dalam imajinasi liarku saat lalu.

Biar ku segarkan ingatanmu, aku ingin bercinta dengannya di atas meja ini, menempelkan tubuh telanjang Calley pada kaca tebal dibelakang meja kerjanya dan mendesak tubuh Calley dengan kencang dari balik punggungnya hingga dia berteriak nikmat dan aku tak akan perduli meskipun seluruh karyawan di lantai ini mendengar teriakan kami. Aku sungguh tak perduli bila aku mengikuti nafsuku.

Calley bisa merasakan tumbukan ereksiku yang telah mengeras dan mendesaknya tanpa malu. Darren junior begitu besar dan keras, dia mendesak perut langsing Calley dan kurasakan tubuh Calley menegang. Wanita ini menyadari kehadiran Darren junior, dia pasti mengerti seberapa besar aku menginginkannya.

Bibirku masih menguasai bibir Calley, kini tanganku telah menyibak rok selutut yang Calley pakai hingga kepinggangnya, tanganku masuk ke dalam celana dalam Calley dan meremas pantatnya yang seksi. Kudekatkan tubuh bawah kami lalu kudengar sebuah lenguhan keluar dari mulut Calley. Seketika gairahku tak bisa dibendung lagi, celana dalam Calley telah kutarik lepas dan jatuh di lantai. Tanganku meraba daerah kewanitaannya yang telah basah, mencari sebuah titik kecil pada bagian atas kewanitaan Calley dan mulai memainkan magicku disana.

Calley melengkungkan tubuhnya saat jari tanganku mengirimkan getaran listrik pada tubuh Calley, sebelah tanganku menahan pinggang Calley dan kini tubuh Calley telah bersandar pada kaca tebal dibelakangnya. Aku harap kaca ini cukup kuat untuk menopang tubuh kami, aku tak ingin terjatuh dari lantai tiga puluh dalam keadaan telanjang bulat dan mati mengenaskan di atas beton dibawah sana.

Leher Calley menjadi sasaran ciuman dan jilatan bibirku, sementara dia masih mendesah dan mengacaukan sisiran rambutku dengan kedua tangannya. Sesekali Calley akan meracau dan menyebut namaku, kakinya bergetar dan hampir tak mampu berdiri bila tak kusanggah. Calley mengerang keras saat tanganku memainkan klitorisnya dengan kencang, dia menjambak rambutku saat orgasme menyerangnya. Aku bisa merasakan tubuh Calley bergetar tak beraturan bagai seorang pengidap epilepsi. Saat guncangan tubuh Calley mulai mereda, aku memandang wajahnya dengan penuh hasrat. Aku ingin bercinta dengan Calley disini.

“Calley.. Aku ingin bercinta denganmu. Aku tak sanggup bertahan lebih lama, bolehkah aku...?” entah mengapa aku bertanya pada Calley, aku bisa saja membuka celana panjangku dan mengeluarkan Darren junior lalu menghujamkan kejantananku ke dalam Calley, dia tidak akan melawan.

Tapi aku ingin lebih dari sekedar berhubungan seks dengan Calley. Aku ingin menikmati setiap detik percintaan kami, dan aku rasa kantor sempit ini terlalu merendahkan penyatuan tubuh kami, kan?

Calley terdiam, dia mencari-cari tanda bahwa aku bercanda dan hanya ingin menggodanya. Tidak, aku serius. Aku sedang tidak ingin menggodanya, aku ingin memulai hubungan ini dengan Calley. Bila dia mengizinkanku, maka aku akan melakukan yang terbaik agar hubungan ini berjalan dan membuat kami bahagia.

“Apakah kau ingin bercinta denganku lalu pergi setelah kau puas, Darren? Karena aku tahu kau sangat tidak ingin membangun keluarga, dan aku tidak ingin memaksamu. Lagipula aku telah membuat kesepakatan dengan seseorang dan aku tidak berniat untuk membatalkannya”

Mulutku menganga, refleks tanganku melepaskan tubuh Calley dan dia terhuyung menabrak dinding kaca dibelakangnya.

“Kesepakatan apa yang telah kau buat dengannya, Calley? Apakah kau akan menikahinya? Kau akan menjadi ibu dari anak-anak duda itu? Itukah yang kau inginkan, Calley?” suaraku terdengar sedikit keras, aku berteriak pada Calley.

Oh, ya. Aku marah, sangat marah. Bisa-bisanya dia memikirkan laki-laki lain saat dengan jelas tubuhnya meleleh dalam pelukanku.

“Kau begitu kejam, Calley. Kau bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk melanjutkan kata-kataku. Aku rasa, ini sudah berakhir kalau begitu..” gigiku bergemeretak, tinjuku mengepal dalam saku celanaku. Mataku nanar menatap sekeliling, selain pada Calley yang sedang memandangku tak percaya.

Apa yang dia harapkan aku katakan? Saat dia telah setuju untuk menikah dengan duda itu? Aku rasa aku terlambat, dan semua ini.. sudah tidak ada gunanya lagi. Aku akan membuang semua mimpi yang mulai aku bangun, bahkan mimpi itu belum sempat kuutarakan. Memang aku ditakdirkan untuk menyendiri hingga ajalku nanti, tapi tak apa, masih banyak wanita diluar sana yang bisa aku tiduri dan Calley.. Persetan dengan wanita ini.

Dengan kesal kubanting pintu kantor Calley lalu keluar dari gedung kantorku.

“Dave, siapkan untukku nanti malam. Aku akan menggila dan tak ada yang bisa mencegahku lagi!!” tanpa menunggu jawaban David, handphoneku telah kumatikan. Persetan dengan semuanya, persetan dengan Calley dan duda itu. Persetan dengan pernikahan dan keluarga. Aku bisa hidup seorang diri!!

~~~~

Paman Thomas menyambut kedatanganku dirumahnya, wajahnya terlihat kaget namun senang. Sudah lama aku tidak berkunjung selain hari minggu atau liburan. Kini aku disini, meminta jatah makan siang pada Bibi Amanda yang dengan senang hati menambahkan porsi mashed potato untukku.

“Ada apa denganmu, Son? Kau terlihat..berantakan” tanya Paman Thomas saat kami bertiga duduk di meja makan menikmati mashed potato dan roast beef kami.

“Nothing, Paman. Hanya sedikit masalah pekerjaan” sahutku.

Paman Thomas tertawa, matanya memandang Bibi Amanda penuh makna.

“Darren, Son.. selama empat puluh tahun hidupku mengelola bisnis.. Aku tak pernah sekacau dirimu, dan percayalah aku seperti dirimu sekarang hanya ketika Bibimu ini menolak cintaku, kau tahu.. Dia bisa menyusahkan untuk di dapat. Wanita, senang mempermainkan kita bila dia tahu hati kita telah dimilikinya. Aku yakin, wanita manapun yang membuatmu seperti ini ingin memberimu pelajaran, dan aku bertaruh kau pantas mendapatkannya, well melihat tingkahmu yang berengsek pada wanita” Paman Thomas tertawa dengan terbahak-bahak. Bibi Amanda hanya tersenyum kecil, nampaknya memang benar mereka memiliki kisah cinta yang cukup berwarna saat mereka muda.

“Begitukah, Paman? Tapi aku tidak yakin dia memiliki perasaan yang kau maksud. Dia akan menikah dengan pria lain” kataku miris. Tapi benarkah Calley akan menikah dengan Elliot?

Apa yang aku bingungkan, dia sendiri yang berkata demikian bahwa dia telah membuat kesepakatan dengan laki-laki itu. Dan dia tidak ingin aku melanjutkan ucapanku, kan? Dia tidak perduli. Aku yakin dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

Tapi kemudian, kenapa Calley ingin membangun sebuah keluarga denganku? Hm.. Bisa saja dia memang ingin memiliki sebuah keluarga dan dengan pria manapun tak masalah, buktinya setelah denganku Calley bisa bebas menawarkan dirinya pada duda itu.

Pasti dari wajahku terlihat jelas apa yang aku pikirkan, karena Paman Thomas menghentikan makannya dan menatap wajahku dengan serius.

“Kau tahu, Darren. Aku pernah membenci seseorang karena dia memiliki ekspresi wajah yang sama denganmu dulu. Wajah penuh keraguan dan kebingungan yang disimpannya sendiri dalam hatinya yang akhirnya merusak kewarasannya dari dalam dan menyakiti orang-orang yang seharusnya dia lindungi. Andai aku tahu jauh sebelumnya dan mengambil tindakan, kau..Daniel.. hidup kalian tak akan seperti ini. Apapun yang ada dikepalamu, demi Tuhan jangan pernah mengambil asumsi sepihak. Kau akan menyesal kemudian. Dan bila kau masih seperti ini, aku sendiri yang akan membuatmu sadar bahwa kau salah. Apapun itu, young man.. Grow up, bijaksanalah atau jadilah seperti anak kecil. Penuh keingin tahuan, persetan dengan dunia. Kau hanya hidup sekali, kau tak ingin merusaknya dengan asumsimu kan?”

Alisku berdenyut-denyut mendengar penuturan Paman Thomas, apakah yang dia maksud adalah ayahku? Dan..Paman menasehatiku agar tidak mengambil jalan yang sama dengan ayah..

“...Memang tragis apa yang terjadi pada ayah, dia tidak pernah mencoba mencari tahu keraguannya, seperti dirimu. Dia selalu menduga dan membuat pikirannya sendiri. Karena itulah dia hancur dan kita ikut hancur karenanya....”

Aku teringat perkataan Daniel beberapa hari yang lalu, dan akhirnya aku sadar.. ya aku sadar. Akulah yang salah, aku terlalu cepat menyerah. Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan, karena aku takut kenyataan tak akan sanggup untuk aku hadapi. Aku menciptakan jawabanku sendiri agar aku tidak perlu berhadapan dengan jawaban yang sebenarnya, karena mungkin jawaban itu akan menyiksaku atau malah mengangkat bebanku.

Kutarik napkin dan mengelap bibirku, pipi gemuk Bibi Amanda kucium kiri dan kanan, lalu Paman Thomas kupeluk tubuhnya dengan erat.

I love you, Uncle.. I love you, Aunty.. Aku berjanji, aku tak akan mengacaukan semuanya lagi.. Doakan aku” dan aku setengah berlari meninggalkan rumah ini. Di teras aku bertemu dengan sepupuku Dorothy, dia menatapku bingung.

“Darren, Darl.. Apa yang kau..”

Kucium bibirnya dalam dan singkat sebelum dia sempat melanjutkan ucapannya.

I love you, Dorothy... My cousin.. Ya.. sepupu..” dan aku terbahak-bahak meninggalkan Dorothy berdiri dengan wajah bodohnya memandang kepergianku.

“Is he crazy?” mungkin itu pertanyaan yang keluar dari mulut Dorothy sekarang.

Aku tak perduli, aku gila.. ya aku memang gila.. Aku gila karena cintaa.. hahaha.. persetaannn... 


40 comments:

  1. udah lama ga komeeen, soalnya sering ketinggalan..
    maaf ya mbaak... sinnyal disini akhir2 ini bener2 bikin aku stresss.. di G+ pun jrg ngerusuh... huhuhuhuhu....
    T_____T

    ReplyDelete
    Replies
    1. gpp merrryy.. mwah mwah.. kasiann.. mdh2an sinyalnya cepet balik normal ya :D

      Delete
    2. yuhuuuuuuuuuuuu... kayaknya Darren sadar nih mbaakk..
      eittss.. tp ga boleh seneng dulu..
      mbak shin kan suka bikin readersnya kesal krna galau..
      bisa aja nnti pas Darren lg semangat2nya nemuin calley, eeh, calleynya lagi sama Elliot... JLEB!!! lgsg patah hati si darren..

      mbak shiiin.. aku tunggu Darren di pasar minggu..
      eh, salah.. maksunya aku tunggu ceriita darren di cahter yg baru.. hehehehe :D

      makasih mbaaakk.. amiiin, semoga sinyalnya kembali bersahabat... ^_^

      Delete
    3. hahaha harus sadar dia,kl gak mau digunting katanya ama eka, rini, naoki cs.. wkkwkwkw.. kasian belalinya.. ntr beneran gk ada White junior lg dah.. lol.. iya nihDarren weak banget.. dikit2 nyerah... PD nya kurang lol

      Delete
  2. hayo darren mau apa pake lari2... kecup mbk shin

    ReplyDelete
  3. Akhirnya,,,,,,*lega*
    ud lama gk baca kisah akang darren,ayoo,,,semangat darren bwt dapatin calley,kgn bgt ma mbak shin,,,muaacchhh...muaacchh*peluk,cium*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. kemana aja cin.. mwah.mwah..

      Delete
    2. Biasalah mbak...sibuk tak menentu,hehehe....

      Delete
    3. hahaha... yg penting punya kesibukan :D

      Delete
  4. Wadech Darren .... Go go Go ...
    Makasih mbak shin :).... Ikutan cipika cipiki dech hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D maaf ya kl agak2 asem.. aku belum mandi soalnya :p

      Delete
  5. bab ini ngena bgt....jgn menyerah dan negative thinking :) thanks mbk shin

    ReplyDelete
  6. Aduuh,, akang Darren bgmana sii?
    Lom apa2 dah main kbr aj?
    Pingin fra jitak tu kplay
    Cpt lari sana kjr tu cinta calley
    Kebahgian ats diri mu tu kmu sndri y menentukan

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Adohhh aku jth cinta jg nih ma darren white.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha emang selain ama darren ama siapa lagi sist?

      Delete
  9. hhmm,,,nemu p'cerahan si Darren,,
    wkwkwkwkwkw,,,
    Maju terus pantang mundur, Darren,,, *wink

    ReplyDelete
  10. Darren ayo lari jangan keduluan eliot pdhl eliot ga ngapa2in he.he ga sabar nunggu next chapter;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihihihhi... ayoo Darrenn.. jgn keduluan jebol gawangnya ama piter. nah yo apa hubungannya..ahhahahaa

      Delete
  11. mknya jgn cm berprasangka2,jujur dunk,dan open minded.heheh semangat darren :)

    ReplyDelete
  12. Yes yes yes
    Semangaaaaat Darren, yihaaa~
    Ayo Calley, jangan hancurkan mimpi Darren pleasee~
    Hihihihi
    Makasih mb shin *peluk*

    ReplyDelete
  13. Darren... Perjuangkn Cinta mu.... Q bantu dgn doa ya. Heheh.

    ReplyDelete
  14. Hahaha asiiik deh
    Si darren gugup bgt mau menyatakan cintaahh :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha iya cin, kyk anak SMU mau nyatain cinta aja si darren..

      Delete
  15. darren emang mesti dsadarin dulu -___- makasih paman udah bikin darren sadar... kesian gak jadi mulu mbak besok ya mbak kasian caley ditinggal mulu nanggung banget -____- /plakk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha... ntr chapter 20 jadi donk... lol.. cuman belum kelar ngetiknya :D

      Delete
  16. votenya cm selisih 3 sm erupts,, lanjutannya dong mba

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.