"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, February 25, 2013

Looking To You - Chapter 26



Pukul tujuh malam kami berempat, Mr. Dan Mrs. Conahan, Calley dan aku, menikmati santap malam di sebuah restoran yang telah kusewa milik salah satu rekan bisnisku dibidang kuliner. Tempat ini berada di lantai empat puluh salah satu gedung pencakar langit di kota New York. Kami menikmati hidangan di sebuah meja empat kursi disamping jendela kaca transparan yang memamerkan pemandangan kota New York di malam hari. Lampu-lampu kendaraan dan gedung-gedung berkerlap-kerlip di kejauhan membentuk rangkaian formasi yang menghidupkan kota ini dua puluh empat jam selama seminggu tanpa henti. Kota ini tidak akan pernah mati.


Albert, begitulah aku memanggil calon ayah mertuaku ini, dia adalah pria tua yang sangat ramah. Nampaknya Albert sangat mengerti dengan hubunganku dengan Calley, dia tidak banyak berkomentar ataupun menanyakan silsilah keluargaku yang tentunya sangat berat untuk kuceritakan.

Albert menerimaku seperti bagaimana Calley menerimaku meskipun aku belum pernah memberitahukannya mengenai kehidupanku dulu. Tapi aku yakin suatu saat nanti aku harus memberitahukan Calley, hubungan yang dibangun atas dasar kejujuran akan mampu bertahan menghadapi segala cobaan daripada hubungan yang dibangun atas dasar kebohongan. Setidaknya itulah yang kupelajari dari kehidupan bisnisku, bukankah kehidupan rumah tangga sama seperti itu juga, kan?

Ibu Calley, Mrs. Conahan, bernama Conney. Dia juga mengizinkanku memanggil nama depannya. Mereka adalah orang-orang yang ramah dan menghormati orang lain. Aku merasa kegugupanku terangkat saat pertama bertemu mereka, mungkin Calley juga sudah menceritakan sedikit mengenai maksudku mengajak mereka bersantap malam ini. Setelah makan malam dengan penutup yang lezat, kami menikmati segelas red wine dan berbincang-bincang sebelum meninggalkan tempat ini.

“Calley anak yang manja, kami meminta bantuanmu untuk membimbingnya, Darren. Semoga dia tidak mempermalukan orang tuanya saat masuk ke dalam keluargamu” ujar Mrs. Conahan.

Aku tertawa kecil, mendengar sisi lain dari orang yang kau cintai sungguh mengejutkan. Kau tidak tahu seperti apa dia saat bersama dengan orang lain, mengetahui Calley wanita yang manja adalah hal baru untukku. Bisa kubayangkan bagaimana calon istriku ini akan bermanja-manja padaku yang akan dengan senang hati kulayani.

“Mom, kau membeberkan sisi burukku, bagaimana bila Darren tidak ingin menikahiku lagi?” Calley merajuk pada ibunya. Aku sungguh senang melihat sisi lain Calley, selain dia yang serius, kadang memarahiku –dengan cara yang aku suka- disinilah dia, sedang merajuk pada ibunya.

“Maka kau harus merubah sifatmu Calley, bagaimana kau akan memberi makan suamimu nanti bila kau tidak mau belajar memasak?” Mrs. Conahan menepuk pelan lengan anaknya.

Calley tidak bisa memasak? Oh ya, tidak masalah. Bibi Amanda akan dengan senang hati menjejalkan tumpukan buku resepnya yang sudah usang ke atas pangkuan Calley dan aku bisa membayangkan senyuman Bibi Amanda saat memasak makanan bersama Calley, dia akan senang sekali.

“Aku tidak masalah, Conney. Makanan apapun yang dimasak Calley akan kumakan” jawabku. Calley mencubit pahaku tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya yang duduk di depan kami. Cubitannya cukup keras dan membuatku meringis, Calley tersenyum senang bisa menyakitiku.

“Tentu saja Darren.. Aku akan memasakanmu makanan kesukaanmu” kata Calley dengan senyum yang mengancam padaku.

Kami tergelak dan menyadari Calley menutupi pipinya yang merona merah. Oh, aku sungguh sangat senang bisa berada dalam suasana yang hangat ini. Saat bersama keluarga White aku merasa berada di rumah, namun saat bersama keluarga Conahan aku seperti menemukan rumah keduaku. Apakah aku sudah mulai menerima keluarga ini sebagai keluargaku? Semoga saja. Aku akan menikahi anak mereka dan tiada yang kuinginkan selain menjadi menantu yang baik bagi kedua mertuaku.

“Albert dan Conney, bolehkah aku meminta izin kalian untuk mengajak Calley tinggal bersamaku? Meskipun kami belum resmi menikah, ada hal-hal yang sangat ingin aku bahas bersama Calley sehingga saat semuanya telah resmi, kami bisa memiliki pandangan yang lebih baik lagi untuk masa depan kami. Banyak hal yang ingin kami pikirkan bersama-sama dan akan sangat memudahkan bila kami bisa membicarakannya setiap saat” aku tidak ingin terlihat tidak sopan dengan menanyakan hal ini, tapi aku sangat serius dengan permintaanku.

Aku benar-benar perlu berbicara dengan Calley mengenai masa laluku. Aku tidak yakin suatu saat nanti Calley tidak akan mendapatiku terbangun dari mimpi buruk yang mungkin akan membuatnya bertanya-tanya apa pemicu mimpi burukku itu. Aku tidak ingin Calley merasa ditipu ataupun tidak dihargai karena aku tidak ingin berbagi masa laluku padanya. Aku berharapa Albert dan Conney mengerti.

“Tentu saja, Darren. Aku mengerti kekhawatiranmu. Aku yakin denganmu, dan aku sudah mempercayakan anakku padamu. Semoga kalian mendapat pencerahan mengenai rencana untuk masa depan kalian” Albert tersenyum memberikan restunya padaku dan aku sangat berterima kasih. Aku beruntung memiliki calon mertua yang begitu pengertian.

Kami mengakhiri makan malam itu setelah mengantarkan Albert dan Conney kembali ke gereja tempat mereka tinggal, Calley telah mengepak beberapa pakaian dan barang-barang yang dia perlukan untuk tinggal bersamaku. Dua bulan lagi kami akan resmi menikah dan pendeta yang akan memberkati upacara pernikahan kami tak lain adalah pendeta Webb, ayah dari duda kaya Elliot Webb. Mengapa aku harus berurusan dengan laki-laki itu lagi? Dia pasti akan datang dan herannya kecemburuanku muncul lagi meskipun aku telah mengetahui hubungan Calley dan Elliot hanya sebatas teman.

“Ada apa dengan dahimu yang berkerut, Darren?” tanya Calley disampingku. Kami sedang melewati jalanan perkotaan yang lengang menuju apartemenku.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya berpikir mengenai pernikahan kita nanti. Apakah kau yakin ingin menikah di gereja yang dipimpin oleh pendeta Webb dan bukan gereja tempat ayahmu?” tanyaku.

“Ya, tentu saja aku yakin. Pendeta Webb adalah teman baik ayahku dan aku rasa dia adalah orang yang tepat, dia orang yang terhormat”

“Aku tidak berkata pendeta Webb bukan pria terhormat, hanya saja.. Duda itu akan hadir disana juga, kan?” tanyaku dengan malas.

Calley berdecak, seringai licik tersungging dari sudut bibirnya. Entah apa yang dia pikirkan. Apakah dia menangkap kecemburuanku? Tanpa berkata apapun tangan Calley merayap di pahaku, meraba naik turun sepanjang paha atas hingga ke lutut, berbalik lagi mencoba dengan nakal menyentuh daerah selangkanganku.

Kau tahu, itu adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Jangan pernah mencoba melakukan hal itu pada pasanganmu bila kau tidak tahu apa yang akan kau dapatkan berikutnya. Kau bisa saja membuat pasanganmu kehilangan kendali pada kemudi mobil dan menabrakan mobil yang kalian kendarai entah kemana. Sangat fatal.

Calley senang melihat reaksiku atas apapun yang dia lakukan dengan tangannya yang nakal di atas pahaku. Aku bagai cacing kepanasan, gelisah karena debar jantungku yang meningkat, ya.. tubuhku hampir lemas karena debaran jantung yang meningkat drastis. Kakiku hampir mustahil menginjak pedal gas dan mobilpun melambat di sisi pinggir jalan raya.

Nafasku tersengal-sengal sementara Calley masih menatapku dengan seringai licik yang membuatku ingin menutup bibir itu dengan segera –tentunya bila aku tidak sedang mengemudi-

Damn!! Apa yang kau lakukan, Calley?” aku terperangah saat Calley menggenggam kejantananku yang tengah ereksi dan memijatnya dengan perlahan.

Dari luar celana panjangku, tangan Calley mengelus selangkanganku dan meremas-remasnya dengan kejam. Aku hampir tidak bisa membuka mataku lagi, siksaan ini akan membunuh kami berdua.

“Calley.. jangan coba-coba kau lakukan itu” jari-jariku mencengkeram kemudi mobil ketika tangan Calley telah membuka retsleting celanaku dan mengeluarkan Darren junior dari tempatnya bersembunyi.

Oh, tidak.. apa yang aku harapkan? Tentu saja Darren junior akan dengan senang menunjukan dirinya yang telah begitu keras dan kaku, begitu menyakitkan. Pembuluh darah yang berkedut-kedut pada batang ereksiku terlihat jelas menggambarkan suasana hatiku sekarang. Berkecamuk dengan gairah yang menggebu-gebu. Aku tidak pernah tahu siksaan seperti ini bisa begitu melemahkan seluruh syaraf tubuhku.

Tak pernah sebelumnya aku merasa selemah ini meskipun bergumul dalam mobil bukanlah pertama kali ini kulakukan. Sebelumnya sudah berkali-kali aku bergumul dengan wanita-wanita lain dalam mobil limousine yang membawaku dalam perjalanan bisnisku di kota lain. Tapi saat bersama Calley.. tak bisa kugambarkan.

Jari tangan Calley meraba lubang kecil diujung kepala ereksiku, menekan dan menusuk mencari cairan pre-cum yang menetes lalu dioleskannya cairan itu keseluruh kepala ereksiku. Gigiku bergemeretak menahan aliran kejutan listrik yang disebarkan jari tangan Calley pada kejantananku, tanpa kuduga Calley mulai menundukan kepalanya dan mulai memberikanku sebuah oral seks yang membuatku menahan nafas dan menarik kepalaku ke sandaran kursi.

“Huff.. Calley..” kataku terperangah. Jantungku berdebar kencang, aku tidak yakin kami akan bisa sampai di apartemen dengan utuh bila Calley menyiksaku seperti ini.

Dengan tangan kiriku yang memegang kemudi mobil, tangan kananku mengelus rambut kepala Calley. (di Amerika, setir kemudi mobil berada disebelah kiri bila kau belum tahu) Bibirku mendesis merasakan kenikmatan yang menjalar pada tubuhku. Kuluman mulut Calley pada ereksiku begitu amatir, mungkin bila sekarang kami sedang berada di atas tempat tidur aku akan tertawa geli –selama dia tidak menggigit Darren junior, maka aku bisa menerimanya- tapi kini kami sedang berada di dalam mobil yang berjalan dengan pelan dan kendaraan lain lalu-lalang disamping mobil kami.

Untungnya jendela mobilku memakai rayban berwarna gelap sehingga apapun yang kami lakukan di dalam sini tak akan ada yang tahu. Dan bila aku menertawakan Calley, dia bisa menghajarku dan membuatku menyesal, oh tidak tentu saja aku tidak sebodoh itu. Meski demikian kenikmatan yang Calley berikan padaku begitu luar biasa, lidahnya menyentuh batang ereksiku dengan malu-malu. Dari kantung scrotum ku lalu naik pada batang ereksi dan kepala kejantananku. Menjilati lingkaran belikat pada kepala ereksiku dan menghisapnya dengan keras. Darren junior mulai berkedut-kedut, tak lama lagi aku akan meledak.

“Calley, darling.. Aku akan keluar.. lepaskan mulutmu dari sana” desisku pelan. Nafasku masih terengah-engah menahan cairanku yang sudah diujung tanduk.

Hanya suara gumaman samar yang keluar dari mulut Calley, dia masih asyik mengulum kejantananku. Apa yang dia pikirkan? Apakah Calley ingin merasakan spermaku?

Aku takjub dengan pikiranku sendiri, apa yang sudah aku lakukan pada wanita lugu ini? Baru semalam aku memerawaninya dan kini dia telah begitu liar dan nakal.. bahkan ingin menikmati sesuatu yang mungkin tak pernah diketahuinya sebelumnya. Calley.. kau mengejutkanku dengan dahsyat.

“Jangan memarahiku bila kau tersedak, Calley. Akan sangat berantakan bila aku keluar dalam mulutmu..” bisikku pada Calley.

Dia hanya menggeleng, masih melanjutkan aksinya yang mulai membaik. Tangan Calley mengocok batang kejantananku naik turun sementara mulutnya masih menghisap kepala ereksiku dengan siksaan yang menyakitkan. Sakit yang ingin kunikmati sepanjang malam, sepanjang hari tanpa bosan.

“Aku akan keluar, Calley.. arghh.. aghh...” dan kucengkeram kemudi ditangan kiriku, sementara tangan kananku mencengkeram rambut Calley. Nafasku terputus-putus dengan keringat membasahi keningku.

“Hahh.. hah... ha..” desah nafasku yang terputus-putus memenuhi ruangan mobil. Oh, Calley.. Kau berhasil menyiksaku dengan sukses. Siksaan yang sangat kunikmati..

Calley mendongak menatap wajahku yang masih terkesima dengan perbuatannya. Calley tersenyum senang padaku, aku bisa melihat cairanku yang menetes dari sisi mulutnya. Tidakkah Calley jijik? Oh tidak, tentu saja tidak. Karena dia menjilati cairan yang menetes itu.


“Oh, Calley.. My love..” tanpa menghiraukan jalan di depan mataku kucium bibir Calley-ku dalam-dalam. Sebelah mataku mengawasi jalanan di depanku sembari kunikmati ciuman panas kami. Ciuman yang membuat tubuh kami bergelora dengan gairah tanpa henti, gairah yang pasti akan membakar kami dalam kenikmatan surga dunia. 



29 comments:

  1. Replies
    1. hahhhaa pertamax jg ngreply yg pertamax..

      Delete
  2. Yeeyyyy Darren akhr'a keluar lagi... Trs kpn daniel keluar'a??

    Calley mulai nakal yah, ati2 disentil sama mama conney hihihihihihi

    Mba shin ​​​☂♓ÅNK•̃ Ɣ☺ΰ dh posting LTY nya but I want more hehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daniel menyusul lah cin... hehhehe.. :D sama2.. tuh gamenya menangin dl baru aku kasi moree...

      Delete
  3. “Oh, Calley.. My love..” mulai nakal ya..... Game lagi ya mbk shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah aku posting tuh gamenya ayo dijawab :D

      Delete
  4. wow, calley hot jga ya? Untung g nabrak tuh darren.
    Thanks y mbak shin *lope*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhahaa.. sama2 sista :D Darren mah omong doank bisa nabrak pdhl dia mah udah sering beginian dimobil wkkwkwww

      Delete
  5. Darren ya.... perusak ce lugu nih.. calley jadi bandelllll.... ntar nabrak lo ya XD
    dua bln.... kelamaan dah. Ntar keburu calley nyadar and batalin pernikahan ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkw emang dikira Calley lagi mabuk ya sist nerima lamarannya Darren? ahhaha kasian deh si Darren kalau begitu :D

      Delete
  6. cahhh calley nakal yah hha
    mba shin thanKYU *kedipin mata genit*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah kyk gmn tuh kedipan mata genit ya? :D

      Delete
  7. Cieeee..,yg ketemuan ma camer, cuit...cuit.... Mba,daniel nya mana,kty bleh buat aq *celingukan nyari daniel* daniiieeelll..... Keluar kau *obrak abrik rumah mba shin*

    ReplyDelete
    Replies
    1. dirumahku cuma ada Hugo, Hiu, Jacko n Chubie yang berkelamin jantan. kwkwkwk n suamiku tp dah ada herdernya wkkwkwk :p~~~~

      Delete
  8. Thank u chooo much ! U r the best babe xo

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you hon. i hope u can forgive me now. wkwkkwkwk

      Delete
  9. thanks mbk shin :) ih....calley nakal hahaha :)

    ReplyDelete
  10. em, udah berapa kali ya aku baca ulang chapter ini.. fiuh..
    thanks you ^_~

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkkwkwkwkkwkwkw gara2 game ya?? cuape duwehhhh....

      Delete
  11. Hai-- hai si calley mulai nakal nii udh gak lugu lgi nikahy krng 2 bln tpi dah minta izin ma camer
    Wah bisa2 kawiny tiap malem nii kak??

    ReplyDelete
  12. Heheh... Calley Ʊϑɑ̤̈̊ħ brani mengeksprsikan gairah Πγª .

    ReplyDelete
  13. Mas Darren ... Hati2 nyetirnya... Di Depan ada kodok hahaha
    Makasih mbak shin :) mmmuuaaacchhh
    Tuh kan mbak Mellisa Udah baca duluan...
    Sist Shin aku di tag jg donk....:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha.. eh aku udah tag km terus kok sist... :(

      Delete
  14. Wahhhhh si calley..... minta dijitak dy.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.