"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, February 26, 2013

Volcano Erupts - EPILOGUE



Sepuluh tahun kemudian, Bali..

Langkah kaki seorang eksekutif muda dengan penuh percaya diri melintas di trotoar jalan sepanjang daerah Seminyak, Kuta, Bali. Wajahnya yang tersenyum dengan hangat menyapa setiap pelancong dan pejalan kaki yang juga terpengaruh untuk mengembalikan senyuman ramahnya. Dalam pakaian casual, sebuah baju kaos polo berwarna putih bersih, celana panjang katun yang menempel halus pada kakinya yang panjang, dia berjalan santai dalam sepatu sandal yang dikenakannya.


Trotoar itu mungkin bukanlah lintasan trotoar terburuk yang pernah dijejakinya, namun bila laki-laki itu tidak memperhatikan langkahnya maka dalam sekejap mata dia bisa terjerembab masuk ke dalam lubang yang mungkin menganga akibat trotoar yang mulai rusak karena pengaruh banjir yang biasa menghantam daerah itu setiap musim penghujan.

Dengan memaki pelan laki-laki itu menendang sebuah batu kerikil kecil yang menghalangi jalannya. Tanpa diduganya kerikil itu mengenai kaki seorang anak kecil dan dia mengaduh kesakitan.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, aku tidak sengaja” kata si pria muda pada bocah yang masih meringis kesakitan.

Bocah itu meneliti orang asing yang sedang berjongkok di depannya, meskipun dia berjongkok laki-laki itu masih lebih tinggi dari tubuhnya. Setelah lama tidak menjawab pertanyaan pria muda itu, akhirnya si bocah bersuara.

“Om bule bisa bahasa Indonesia?” cengenges si bocah senang sementara ekspresi kaget nampak di wajah pria muda itu. Tapi sekejap kemudian dia ikut tertawa terbahak-bahak bersama si bocah.

“Bukan, aku bukan bule. Aku orang Indonesia juga, sama sepertimu” jawabnya masih dengan senyumnya yang hangat.

Pria muda ini memiliki mata biru jernih bahkan si bocah bisa melihat bayangan wajahnya disana, dengan bercanda si bocah melongok menatap bola mata pria itu.

“Dari mana, Om?” tanya si bocah lagi.

“Dari Jakarta, kau dari sini, Dik?” giliran pria muda itu bertanya.

“Ya, ini rumahku. Mau mampir?” tanya si bocah senang menemukan teman baru.

Belum sempat pria muda itu menjawab, seorang wanita paruh baya keluar dari halaman rumah memanggil si bocah.

“Dek Pit.. Mana ya si Kadek ni ya..” bahasa Indonesia dengan logat kental Bali terdengar dari dalam rumah. Wanita itu yang tak lain adalah ibu si bocah memandang bertanya-tanya pada teman anaknya.

“Iya, Mak.. Dek Pit di depan..” sahut si bocah pada ibunya.

“Siapa ni, Dek?” tanya si ibu dengan wajah kagum memandang pria muda itu.

“Oh, ndak tahu, Mak. Om siapa namanya, Om?” tanya Dek Pit pada pria muda itu.

“Sore, Buk, Saya Herald, kebetulan lewat di depan tadi, tidak sengaja er.. nginjak batu, kena adiknya..” jawab Herald salah tingkah sembari cengengesan. Meski usianya sudah dua puluh enam tahun, Herald masih terlihat kekanak-kanakan karena dia senang bermain dengan anak-anak.

“Oh begitu.. Ya ndak apa-apa.. Sini singgah dulu, tapi maklum rumahnya biasa aja..” undang si ibu pada Herald. Pria muda ini sangat tertarik untuk masuk ke dalam rumah penduduk dan mengenal lebih jauh adat istiadat orang Bali yang tak mungkin di dapatnya langsung bila hanya mengikuti jadwal wisata dari tour leadernya.

Dengan riang Dek Pit menggandeng tangan Herald mengajaknya masuk ke dalam rumah. Rumah itu memiliki beberapa bagian tata gedung yang berbeda dari rumah kebanyakan yang pernah dilihatnya, halaman rumah yang luas ditengah-tengah dengan taman bunga-bungaan dan dapur hidup disamping, dikelilingi oleh bangunan rumah khas stil Bali dari di sebelah utara dan selatan, dapur, sebuah lumbung padi, pura keluarga, tempat sembahyang dan sesajen, gudang, balai penerimaan tamu yang sangat indah dan kolosal.

Herald terkesima memasuki rumah itu, dia menyesal meninggalkan kameranya di hotel, mungkin dia bisa kembali kemari esok dan mengambil foto dari rumah ini.

Salah satu bangunan stil Bali yang menjadi tempat penerimaan tamu terbuat dari kerajinan batu-bata merah dan batu cadas dengan hiasan jendela dan pintu ukir-ukiran dan tembok yang dipahat berdasarkan kisah epik dari pewayangan Mahabharata dan Ramayana. Satu set alat gamelan angklung dengan sebuah bantal tempat duduk, menandakan salah satu penghuni di rumah ini terbiasa memainkan alat musik itu.

Herald di undang untuk duduk di tempat itu, tidak ada kursi, hanya karpet berwarna merah yang digelar di lantai. Bangunan yang dibuat dengan tinggi pondasi lantai satu meter dari permukaan tanah membuat kursi tidak begitu berguna lagi. Herald bisa duduk dengan nyaman di atas lantai berkarpet.

“Om, mau minum apa? Teh? Kopi? Teh botol?” tanya Dek Pit pada tamunya.

“Oh, Tidak usah. Om sedang melihat-lihat. Besok om boleh kesini lagi? Mau memotret?” tanya Herald.

“Bolehh.. Dateng aja..” Dek Pit memamerkan gigi-giginya yang putih sambil menyeringai lebar.

Dari luar terdengar suara seorang anak kecil menangis dan sebuah suara lain yang memanggil bocah di depannya.

“Dek Pittt.... Mamak mana??” teriak bocah perempuan itu pada Dek Pit.

Kenken? Mamak lagi masak” jawab Dek Pit menghampiri bocah perempuan yang sedang menggendong anak kecil yang sedang menangis. Dia mengambil anak kecil itu dan bergantian menggendongnya.

Herald memandang silih berganti pada kedua bocah itu, matanya mengijap-ngijap mencoba memastikan penglihatannya. Wajah kedua bocah itu begitu mirip satu sama lain, bahkan senyumnya yang jenaka begitu identik.

“Sore.. Itu anak-anak saya” jawab seorang laki-laki paruh baya yang menyadari arti pandangan Herald. Dia adalah ayah dari ketiga bocah-bocah itu.

Laki-laki yang baru saja keluar dari dalam sebuah ruangan berstil Bali itu menggunakan pakaian adat Bali lengkap. Sebuah kamen dengan saput batik dan baju safari berwarna biru gelap, nampak sebuah bros emas menempel pada dada bagian atas baju safari yang dikenakannya. Dengan kumis lebat dan udeng dikepala laki-laki itu begitu berwibawa meskipun masih terlihat kehangatan yang terpancar dari matanya. Laki-laki ini mampu melihat hati seseorang hanya dari dalam matanya.

“Perkenalkan saya Alit Suweca, kepala lingkungan disini, sekaligus yah.. bapak anak-anak ini” tunjuk Pak Alit pada anak-anaknya yang tersenyum pada si ayah. Mereka mendekati Pak Alit dan duduk dengan nyaman bersama ayahnya.

“Oh, sore.. Pak Alit, maaf saya mengganggu.. Kebetulan tadi lewat. Saya Herald, dari Jakarta” jawab Herald sambil menjabat tangan Pak Alit.

Pak Alit mengangguk-angguk, dia kemudian mengenalkan anaknya satu per satu, mulai dari si sulung dari tiga bersaudara.

“Ini anak sulung saya, sebenarnya yang pertama Putu, tapi waktu masih dalam kandungan keguguran. Jadi anak sulung saya bernama Kadek, kadek nama urutan nomer dua. Kalau di Bali anak yang meninggal juga dihitung urutan pemberian namanya. Kadek nama lengkapnya siapa, Dek?” tanya Pak Alit pada anaknya.

“Nama saya.. I Kadek Kupit Arya Jaya, umur delapan tahun” jawab si Kadek antusias. Dia baru saja menghafal namanya dengan benar dan sangat senang mendapat kesempatan untuk unjuk gigi.

Herald tersenyum melihat semangat si Kadek, kemudian Pak Alit mengenalkan anak keduanya.

“Nah, ini berikutnya. Mungkin Bapak pernah mendengar kembar buncing? Nah, mereka salah satunya. Gek Omang, siapa namanya? Kasi tahu om nya, nak e” pinta Pak Alit tersenyum.

Bocah yang dipanggil Gek Omang melirik pada tamu mereka kemudian dengan senyumnya yang menggelitik hati Herald, Gek Omang memperkenalkan dirinya.

“Perkenalkan, nama saya Ni Komang Tri Liskarini. Umur delapan tahun juga” katanya malu-malu.

“Terus ini adik saya, namanya Ketut Volcano”

Herald menaikan alisnya ketika mendengar kata Volcano disebutkan. Keingintahuannya menarik bibirnya untuk bertanya.

“Kenapa namanya Volcano?” tanya Herald pada Gek Omang.

Dengan polos bocah kecil itu menjawab bahwa adik mereka lahir ketika sebuah gunung meletus dan mengakibatkan larva mengalir ke lautan di sebuah kepulauan di Hawaii. Mereka sedang menonton televisi ketika adik mereka lahir dan melihat berita itu. Herald tak dapat menyembunyikan senyum diwajahnya mendengar jawaban polos anak-anak itu.

Ketika ketiga bocah itu sedang bermain di halaman bersama adik mereka, Herald berbincang-bincang dengan Pak Alit mengenai adat-istiadat orang Bali yang ada disekitar itu hingga kemudian Herald menanyakan mengenai Dek Pit dan Gek Omang yang kembar buncing.

“Pak Alit, maafkan bila pertanyaan saya tidak sopan, tapi saya benar-benar ingin tahu” Herald meminta izin terlebih dahulu pada tuan rumahnya sebelum menanyakan apa yang ingin dia ketahui.

“Oh, silahkan.. Bilang saja, nanti saya jawab kalau saya tahu..” Pak Alit tertawa kecil menanggapi pernyataan Herald.

“Begini, Pak. Saya pernah baca di novel buatan orang Bali juga, saya lupa judulnya. Katanya kalau anak yang lahir kembar buncing harus dipisahkan ya, Pak? Sampai menjadi aib dan harus diungsikan ke kuburan” Herald tidak yakin dengan pertanyaannya, namun dia tidak akan punya kesempatan lain lagi untuk bertanya hal seperti ini.

“Oh ya? Masak ada novel seperti itu? Kalau masalah kembar buncing harus dipisahkan dan segala macam saya belum pernah dengar ya, itu di Bali ya? Bukannya di Jawa itu? Kalau setahu saya, ya.. Disini itu kami tidak memisahkan atau menjadikan anak kembar buncing sebagai aib. Mungkin tiap wilayah berbeda ya. Justru kalau di daerah saya ini, kalau ada anak kembar buncing yang lahir, itu ada mitosnya. Tapi mitos saja, nah ceritanya begini. Dikisahkan dulu sepasang suami istri yang begitu saling mencintai, karena rasa cintanya yang sangat besar terhadap pasangannya, mereka pun bereinkarnasi lagi sebagai sepasang kekasih dan terlahir dalam kandungan yang sama. Maka dari itu mereka terlahir buncing. Kalau di daerah saya ini ada anak kembar buncing, nanti saat mereka dewasa mereka harus diupacarai. Mau tidak mau mereka tidak boleh menolak” jelas Pak Alit panjang lebar.

“Di upacarai seperti apa, Pak Alit, ya?” tanya herald bingung.

“Jadi nanti saat mereka sudah beranjak dewasa, mereka akan diupacarai sebagai sepasang suami istri. Jadi di dalam agama mereka sah menikah, mereka boleh menikah dan justru upacara ini harus dilakukan. Nanti bila mereka memutuskan untuk mencari pasangan hidup lain tidak apa-apa” jelas Pak Alit lagi.

Herald memikirkan pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul di dalam kepalanya, namun hanya satu yang bisa tercetus oleh mulutnya.

“Lalu bagaimana dengan hukum Indonesia, Pak?” tanya Herald.

“Kalau masalah itu saya bukan ahlinya. Belum sampai kesana ilmu saya” gelak tawa Pak Alit, Herald hanya bisa mengikuti laki-laki itu tertawa meski dalam hatinya dia ragu bila kisah cinta seperti itu akan memiliki tempat di muka bumi.

“Dek Pit.. Gek Omang Tri Liskarini.. Ketut Volcano..” Herald mendengus memikirkan kebetulan yang sangat tidak mungkin itu. Namun saat memandang kembali wajah Dek pit dan Gek Omang, Herald merasa ada sesuatu yang menghubungkan mereka, mungkin takdir lah yang mempertemukan mereka. Dan saat Ketut Volcano berada dalam gendongan tangan Herald, dia yakin.. pencahariannya selama ini tidak sia-sia. Dia akhirnya menemukan kembali keluarganya..

~~~~~

Piter dan Elizabeth karena kesalahan kehidupan di masa lalu mereka, maka takdir menghukum pasangan kekasih ini untuk menikmati karma mereka dengan lahir berulang-ulang ke atas bumi menjadi sepasang kekasih yang tidak akan pernah bisa menyatu hingga reinkarnasi mereka yang ke seribu kalinya. Hingga saat itu tiba, perputaran kisah percintaan Piter dan Eliza akan terus berulang dan berakhir dengan tragis hingga mereka terlahir kembali.

Saat Piter menjadi Volcano, saat itulah reinkarnasi ke 999 mereka. Dan kini adalah reinkarnasi terakhir dimana mereka akan merasakan tragisnya kisah percintaan mereka untuk yang terakhir kalinya. Reinkarnasi tidak dibatasi ruang dan waktu, dalam periode waktu yang sama, sebuah roh dapat mengalami pencobaan hidup di dunia berbarengan. Apakah kita menyadari hal ini? Mungkin saja saat ini roh kita sedang menikmati siksa ataupun kebahagiaan dalam raga dan nama yang berbeda-beda, yang memang semestinya telah menjadi karma kita..

Reinkarnasi adalah kekal, begitupula cinta. Cinta Piter pada Eliza dan begitu juga sebaliknya tak akan pupus oleh segala coba dan siksa.



58 comments:

  1. ketut volcano? juara mba shin,mksh y.wlaupn tragis yah tp cinta piter dan liza kekal.thx u somuch hiks aq kngen piter

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan itu si piter, ketut volcano itu anaknya. piter n eliza jd sodara buncing di kisah ke 1000 masih tragis kisah mereka ini. wkwkwkw :p~~~~

      Delete
  2. Huaa.... Lanjutin aja jeung... Jd sekuel nya gitchu...

    ReplyDelete
  3. Yayaya mba shin.
    Maksudnya happy ending itu cerita ke 1001 ya?
    Bisa diceritain yg ke 1001 nya?
    :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. bilang makasi dulu baru aku ceritain.

      Delete
    2. Terima kasih mba shinnn..
      Gracías!
      *muka semanis madu*
      hihiihhhii

      mana ceritanya?
      *nagih*
      :p

      Delete
    3. taun depan ya. wkkwkwk :kabur sambil angkat sendal:

      Delete
  4. Replies
    1. kok bisa? kirain nangis disemua paragrap

      Delete
  5. Setuju.....
    settingnya jd bali yo mba shin??
    Skalian promosi...
    hehehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah tapi cerita ini gak aku lanjutin jd gak ada promosinya. terlalu berat thema didalamnya ahahhaha

      Delete
  6. Uwaaah
    Kereeen mb shiin
    Makasih udah dikasih epilognya
    Jadi ga nyesek2 amat hihihihi :*

    ReplyDelete
  7. makasih epilognya mbk shin cantik...

    ReplyDelete
  8. ketut volcano? Hhe nama yg unik mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu anaknya piter n eliza yg reinkarnasi. kakak2nya ya si eliza n piter yg kembar buncing :D

      Delete
  9. Si baby buncing muncul deh di mari :)
    Tapi tragis nya hrs mersakan seribu reinkarnasi sblmbsa bersatu dlm he

    ReplyDelete
  10. Sist Piter ma Eliza di Bali yg jd kembar buncing msh tragis ya, kaya cipatkay derita cintana tiada akhir,
    msh sedih sist diriku krn dirimu :-( mksh ya hu.hu

    ReplyDelete
  11. Gk nyangka endingnya jadi gini...​​♏♏♏ªªªªñÑñ†††ªªªªªPPPP(y) †ђąηk ўσυ mba shin

    ReplyDelete
  12. masih nyesek mbak shin... Entar klu herald jangan tragis gni *hoho blm mulai ceritax udah request*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cariin jodoh buat herald geura... Gadis bali aja... Jd cerita hot nya di bali...

      Delete
    2. wkwkkwkw... ndak ah.. wkkwkwkw..

      Delete
  13. ya ampun endingnya ngak nyangka bgt,
    hehhehehe
    aku kira yang ditemuin Herald itu anaknya Pitter sama Liza,
    kekekkeke

    ReplyDelete
  14. aih... Renkarnasi yg keseribukalinya??? Wow..

    PitZa smga yg keseribukalinya kalian bersatu.. Aamiin.. Hehehehe

    Mba shin d tunggu lah next story..

    Btw, Herald udh 26 tahun ya?? Jdi dia bukan brondong kece lagi donk.. Ah aq jdi cinta ma Herald *.* ! #kyaaaa OOT!
    Thanks mba Shin ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg ke seribu satu n seterusnya baru bisa bersatu sil, kl yg ke seribu belum boleh bersatu, masih tragis :D

      hahaha iya herald dah 26, udah HOT.. wkkwkwkwkw..... sama2 sila...

      Delete
  15. aaa.. nice ending mbaakkk
    bener2 tak terduga..
    apakah cerita tentang bali itu yg kembar buncing beneran mbak??
    aku baru pertama ini baca...
    makasih mbak shin untuk cerita yg luar biasa menguras perasaan ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @merry jane : aku hanya memakai sebagai contoh aja mer. tapi... kisah ini memang benar terjadi di lingkungan tempat tinggalku, aku udah konsultasi dan bertanya-tanya dulu pada sumber yang sangat bisa dipercaya, dan memang hal ini benar sudah terjadi. tapi kisah aslinya mereka tidak menikah dimata hukum, mereka memiliki pasangan sendiri2, tapi memang benar mereka diupacarai demikian. karena ya kepercayaannya seperti itu. mengenai versi kisah kembar buncing yg lain sumber nya aku tanyakan tidak tahu menahu mengenai hal itu, bali luas, dengan beragam budaya dan daerah maka adat istiadatnya pun berbeda2, bahkan antara 1 kelurahan dengan keluarahan lain yg berdekatan pun ada perbedaan budaya yg cukup signifikan. :D

      Delete
    2. Wah tengkyu sist Shin Atas inponya... Aku baru tau ada kisah seperti ini... Indonesia Emang punya segalanya... Keren abiz

      Delete
    3. @ashia : wkkwkwkwkw... begitulah indonesia, beragam suku dan budaya

      Delete
  16. mbak shin.. tengkyu.. muah :o

    mbak, aku ngak percaya sama reinkarnasi..

    sebenernya aku masih berharap kalau kejadian di final chapter hanya mimpi.. terus Luther terbangun dari mimpinya dan merestui hubungan liza dan piter.. aku mau berimajinasi sendiri ah... hmmm :(

    ReplyDelete
  17. Makasih mbak shin.. :)
    Btw Masih miris aja ceritanya.. Aku cuman bz ngelus dada tok.....hemmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaha kl aku ngelus dompet sist... wkkwkww

      Delete
  18. Akhirnya cerita ini selesai terbaca juga..

    Nilai moralnya oke, ehem... saya ndak mau punya rasa cinta seperti itu.. Jujur mbak Shin ceritanya membuat trenyuh sekaligus takut...

    cintanya *saya ampe bergidik ngeri* bener-bener ya tuhaaannn... kalo saya bilang, saya setuju ama Luther.. itu salah.. itu salah..

    Biarkan air mengikuti arusnya, biarkan Tuhan menorehkan penaNya, biarkan semua berjalan sesuai skenarioNya..

    The Last : TOP Mbak!!! Hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhe nice said sista, nice said... n makasi banyak ya :) ;hug:

      Delete
  19. cyiiin,,,maaph nih sebelumnya,,,
    Tapi aq ga tau apa yang dmaksud dengan kembar buncing itu,,??
    Aq nanya papaq beliau juga ga tau,,
    Bisa djelaskan cyiin??
    Anw,,maakaassiih banyak atas kisahny,,
    U r d' amazing Author,,,
    Loph you,,,mmuuaaaccchhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. kembar buncing itu kembar normal, hanya saja jenis kelaminnya berbeda cin. Dek Pit dan Gek Omang kembar buncing. mereka lahir dari 1 sperma yang sel telurnya membelah jadi 2. cmiiw ya. yg jelas bukan kembar siam (kembar siam ini kembar dempet).

      gampangnya sih kembar kyk Choi bersaudara, tapi ini beda jenis kelamin. okeh?? hehehehhe

      Delete
    2. owh,,,,yayyayyaya...
      i Know sekarang...makasih atas pencerahannya cyiinn..
      selama nie taunya hanya kembar siam,,hehehhehe

      Delete
  20. benar2 kisah yang menarik...
    mba shin is the best...
    tingkyu mba.....

    ReplyDelete
  21. barusan searching tntg kembar buncing. Baru ngerti dikit. Jd piter dn eliza it kembar buncing ya?

    ReplyDelete
  22. Ooooo8 ya ya ya...
    Jd ini yg mba maksud happy ending??
    Pantasan gak ketebak,,, hehehehe....
    Baru denger ttg kembar buncing.
    Hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhahaha seiring waktu berjalan, cerita memang berubah2 kok. lol... entah bagaimana epilogue ini diinterpretasikan, kayaknya sih masing2 readers pengertiannya beda2. :D tak apalah.. biar imajinasinya berkembang ehehhe

      Delete
  23. Nah Hyung, meski aku udah baca lama baru sempat komen sekarang maaf... m(_ _)m
    aku paling suka sama drama yg ini, wow pake banget, malahan kemarin itu sempat kepikiran ikutan quiz nebak endingnya, tapi gk sempat :(
    Uri Hyungie, jeongmal Daebak-eo! :D

    ReplyDelete
  24. shin san,katanya kalau sesama saudara nikah,anaknya cacat krn ortunya 1su2an atau genetisnya sm jd membelah.jadi si ketut it cacat ndak?kembar buncing ak pernah bc.di internet ia kyknya ada nvelny it

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketut ya gak cacat, dia kan bukan anak hasil dari 1 saudara sesusu. ketut itu adiknya kadek dan nyoman. jd mereka bukan orang tua-anak, tapi kakak beradik.

      Delete
  25. em..i don't understand 'bout renkarnasi so far, n' maybe..forever #tampang serius
    tp klo nasi, apal bngt deh, dari nasi goreng, nasi kuning, nasi liwet, nasi timbel, nasi lengko, nasi tumpeng, hahahahah dkk pokonya :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.