"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, February 25, 2013

Volcano Erupts - Chapter 16



Mereka duduk dalam diam, pukul sebelas malam dan mereka belum menyentuh secuil makanan pun. Sudah lima jam lebih sejak mereka meninggalkan rumah kediaman keluarga Piter namun tidak ada yang memulai untuk berbicara. Mereka duduk berseberangan dalam sofa ruang tamu, tak satupun lampu menyala selain remang-remang sinar lampu dari toilet ruang tamu di kejauhan yang menjadi sumber pengelihatan mereka. Hanya siluet hitam tubuh Liza yang bisa ditangkap mata Piter, tubuh Liza terguncang-guncang menahan tangisan tanpa henti. Tangisan terisak yang kini berubah menjadi sesenggukan.


Piter menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa, menangkupkan tangannya yang lebar diwajahnya lalu ke rambutnya. Dia tersiksa dalam keheningan mereka, dalam perjalanan kembali ke apartemenpun tak ada yang bersuara. Mereka melangkah dari lobi apartemen ke dalam ruang tamu ini pun masih dalam diam.

Piter mengkhawatirkan kesehatan Liza, mengkhawatirkan kondisi anak mereka dalam kandungannya, tapi dia masih sangat marah pada Elizanya. Liza bermaksud untuk meninggalkannya lagi dan kini untuk selamanya. Sejak kapan Liza dan ayahnya menyusun rencana ini? Piter bertanya-tanya bila Liza telah mengetahui semuanya.

“Mengapa kau ingin pergi ke London, Eliza?” Piter tidak dapat meneruskan keheningan itu lagi, dia akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sudah menunggu diujung lidahnya, menanti untuk diucapkan.

Liza menahan nafasnya demi mendengar pertanyaan Piter, tangisnya turun lagi dengan deras. Dia tidak sanggup bersuara, hanya rengekan kecil yang berhasil lolos dari tenggorokannya yang tercekat.

“A..akk..” dia pun menutup mulutnya. Menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokan yang kering.

Piter bangkit dari duduknya, mengambilkan segelas air untuk Liza dan menyodorkan gelas itu padanya.

“Minumlah.. Jangan siksa dirimu” kata Piter pelan. Setelah Liza menerima gelas itu, Piter kembali pada tempatnya semula, jauh diseberang Liza duduk.

“Bila kau rasa suaramu sudah membaik, tolong jawab pertanyaanku” katanya dingin.

“Piter.. Aku.. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Aku bersumpah atas nama ibuku..”

“Jangan sebut nama ibumu disini!!” teriak Piter emosi. Dia tidak ingin mendengar Liza menyebut wanita yang menjadi penyebab semua kekacauan dirumahnya, semua kekacauan dalam hidupnya karena harus mencintai anaknya, mencintai wanita yang tak seharusnya dia kenal. Wanita yang tak seharusnya dia cintai, dia tiduri dan dia hamili!!

Piter bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir tanpa arah. Berpikir dengan keras apa yang akan dikatakannya berikutnya, nampak Liza terguncang mendengar bentakan Piter padanya.

“Maafkan aku..” katanya masih mondar-mandir tanpa henti.

“Lalu mengapa ayahku mengatakan kau harus pergi ke London, Eliza? Apa yang sedang kalian rencanakan? Dan sejak kapan kau bisa sedekat itu dengan ayahku? Aku kira kalian belum pernah berjabat tangan tapi rupanya aku salah. Kalian sudah sering bertemu??” ketusnya kesal.

“Piter.. Aku tidak bisa mengatakannya. Aku benar-benar tidak bisa.. Maafkan aku..” Liza menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, air mata telah membasahi wajahnya yang dihapusnya dengan putus asa.

Liza mencoba bangkit dari duduknya, beranjak ke dalam kamar mereka. Piter mengikutinya dari belakang.

“Apa yang kau lakukan, Eliza?” tanya Piter panik saat melihat Liza mulai mengemas pakaiannya.

Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya menjadi jawaban bagi Piter. Dengan putus asa Piter menghentikan Liza, meletakan kembali pakaian wanita itu ke dalam lemari dan melempar koper yang membuka di atas ranjang.

“Elizaa... Apa yang kau lakukan?? Jangan tinggalkan aku, Eliza.. Aku mohon” Piter memeluk tubuh Liza dan menangis bersamanya. Dia tidak memperdulikan lagi egonya, atau emosinya. Piter tidak ingin Liza meninggalkannya.

“Kita tidak bisa bersama, Piter.. Kita tidak mungkin bersama” Liza menangis dengan keras dalam pelukan erat Piter, menumpahkan segala sakit hatinya dalam pelukan pria yang dicintainya.

“Tidak, Eliza.. Kita akan bersama, kita akan pergi dari sini. Kita bisa keluar negeri, kemanapun asal bersamamu. Aku telah meninggalkan keluargaku, aku ingin hidup bersamamu, membangun keluarga bersamamu. Aku tidak perduli kata orang-orang, persetan dengan mereka. Bila perlu kita menyendiri di bukit, tempat terpencil. Dimanapun. Bahkan luar negeri lebih bebas, tak ada yang tahu kita.. Tak ada orang tua ku yang akan melarang hubungan kita.. Kita bisa hidup bersama, Eliza” ucap Piter penuh harap. Dia berharap Liza akan mengangguk dan menyetujui rencananya.

Piter tidak ingin memberitahukan Liza mengenai hubungan darah mereka, meski mungkin Liza telah mengetahuinya, Piter tidak ingin Liza berpikir dia tahu. Dia melakukan hal itu agar Liza tidak merasa jijik pada dirinya, dia akan membohongi Liza dan mengatakan dirinya tidak tahu dan bersikap semua baik-baik saja, bersikap bahwa dia mencintai wanita ini tanpa embel-embel apapun yang melekat.

“Tapi Piter.. Kita adalah..” lalu Piter menyela penyataan Liza.

“Shh.. shh... Mulai saat ini kita adalah suami-istri. Kau adalah istriku, Eliza. Cincin ini buktinya, sebentar, kau diam disini. Sebentar saja” Piter membuka laci dalam lemarinya yang terkunci, mengambil sebuah kotak kecil warna merah beludru dan membukanya. Dia kembali pada Liza yang telah menunggunya.

“Elizabeth Suteja, menikahlah denganku. Pasangkanlah cincin ini pada jari tanganku, maka dimata Tuhan aku Piter Volcano adalah suamimu, dan bila kau mengizinkan aku memasangkan cincin ini pada jari manismu, maka kau adalah istriku. Sampai maut memisahkan kita” bibir Piter bergetar mengucapkan kata-kata itu, jantungnya berdebar kencang memilah setiap kata yang tak boleh salah.

“Maukah kau, Elizabeth?” pinta Piter dengan penuh harap.

“Oh, Piter.. Aku.. Aku tidak tahu, ini..” jawab Liza terbata-bata.

“Eliza.. Bila kau bisa hidup tanpaku, maka lepaskanlah aku. Tapi bila kau tak bisa hidup tanpa diriku, maka hiduplah bersamaku. Karena tanpamu, aku tak bernyawa. Aku mencintaimu, dengan sangat. Menikahlah denganku, aku tidak menerima penolakan..” senyum kecut tersungging di bibir Piter.

Liza menutup bibirnya, tangis turun membasahi pipinya. “Oh.. Piter.. Aku.. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Apa yang harus aku lakukan? Tapi tidak akan ada orang yang menyetujui hubungan kita, Piter.. Bagaimana dengan ayahmu? Keluargamu?” Liza menundukan wajah sembari mengusap air matanya.

“Eliza.. Aku rela melepaskan semuanya demi hubungan kita, karena sebesar itulah cintaku padamu. Aku rela mati bila bisa membuatmu bahagia, Eliza. Keluargaku.. adalah kau.. dan anak kita.. yang sedang kau kandung” Piter melihat Liza mendongak menatapnya, mata wanita itu membelalak, mulutnya menganga lalu ditutupinya dengan tangan.

“Piter.. Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu? Aku..” suara Liza bergetar.

Piter merengkuh Liza dalam pelukannya, mengelus lembut rambut wanita yang dicintainya itu, mendekapnya dalam pelukannya yang kuat.

“Aku tahu, Eliza. Aku tahu sejak pertama kau tahu. Kau tidak bermaksud merawatnya seorang diri kan, Eliza? Karena aku.. aku berhak hadir dalam hidup anak kita” Piter memandang kosong pada ruangan di depannya, membayangkan Liza hidup berdua hanya dengan anak mereka tanpa dirinya terasa menyakitkan.

“Pit..” Liza tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia tidak punya alasan lagi untuk menolak Piter. Liza tahu dia tidak akan sanggup hidup seorang diri dengan keadaan seperti ini, mengulang kembali kisah hidup ibunya yang tragis.

“Eliza.. Apakah kau mencintaiku?” Piter mengusap air mata Liza dan menautkan tatapan mata mereka. Mata yang berkaca-kaca itu memandangnya dengan sedih. Dia mengangguk dan tangisnya pecah lagi.

“Oh, Eliza.. Betapa aku juga mencintaimu, hiduplah bersamaku, Eliza. Aku tidak meminta, aku memohon.. Demi anak kita, demi kebahagiaan kita. Please..” bujuk Piter padanya.

Dengan susah payah Liza menganggukan kepalanya, seketika itu pula Piter memeluknya dengan erat. Membiarkan wanitanya menangis tersedu-sedu menumpahkan seluruh air mata pada kemejanya yang telah basah.

“I love you, my Elizabeth..” bisik Piter pelan.

~~~~

Piter membuka matanya dengan malas, mengijap-ngijap lalu melirik pada jam tangan yang telah dilepasnya. Pukul enam pagi dan handphonenya yang tidak dimatikan berbunyi nyaring membangunkan mereka. Liza menggeliat dalam pelukannya, menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut, melanjutkan tidurnya yang tak terlalu nyenyak. Piter mengambil handphone dari atas meja, ibunya menelphone.

“Ada apa Mom menelphoneku pagi-pagi? Dad? Apakah terjadi sesuatu pada Dad?” bisiknya pada dirinya.

“Mom? Ada apa?” tanya Piter cemas.

“Piter.. Your Dad masuk rumah sakit, dia pingsan dan terjatuh dari tangga sewaktu mencoba berjalan ke ruang kerjanya dirumah. Kau harus kesini, Dad mu terluka cukup parah, dia belum sadarkan diri. Mom takut, hanya kau yang bisa Mom andalkan. Kemarilah Piter” bujuk Bianca. Kekhawatirannya terdengar jelas dari suaranya yang panik.

“Dimana Herald, Mom? Aku akan kesana sekarang juga, di rumah sakit apa Dad dirawat?” tanya Piter sembari turun dari atas ranjang. Tubuhnya yang telanjang dibiarkannya begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi setelah ibunya menjawab pertanyaannya.

Secepat kilat Piter membasuh wajahnya, menggosok gigi dan mengambil pakaian dari dalam lemari. Didekatinya Liza yang masih terlelap lalu dibangunkannya wanita itu.

“Eliza.. Aku harus ke rumah sakit, Dad terjatuh dari tangga dan pingsan, Mom mengatakan lukanya cukup parah. Aku harus kesana, Mom pasti sedang kesusahan sekarang. Herald juga masih terlalu muda, dia belum mengerti. Aku akan mengabarimu nanti, jangan lupa sarapan dan beristirahat. Kau tidak usah bekerja, mintalah cuti untuk beberapa hari. Aku mempercayaimu, Eliza. Aku berharap masih menemukanmu disini saat aku pulang” lalu Piter mencium lembut bibir Liza.

“Tidurlah..” katanya lagi.

Piter menutup pintu apartemennya, tak lama kemudian dia telah berada disamping ibunya, menenangkan wanita itu dan meminta Herald untuk menemani ibunya sementara Piter mengurus administrasi rumah sakit. Ayahnya sedang berada dalam kamar VIP dan masih pingsan. Setelah menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, Piter menemui mereka dan ayahnya telah sadarkan diri.

Wajah Luther pucat, dia terlihat lelah dan tidak fokus. Nafasnya terputus-putus, dia terlihat sangat menderita. Piter memalingkan wajahnya demi melihat kondisi ayahnya, matanya berkaca-kaca memikirkan akibat perbuatan egois yang dia lakukan pada ayahnya.

“Pi..piter.. My son..” bisik Luther memanggil anaknya.

Piter menatap wajah ayahnya yang lemah, segumpal perasaan bersalah muncul dalam hatinya karena dialah penyebab ayahnya berada dalam kondisi ini. Dilihatnya wajah tua Luther yang kini tak segagah dulu, bukan pula wajah seorang laki-laki yang biasa tersenyum dengan hangat dan memberikan kata-kata penyemangat yang selalu dibutuhkannya saat-saat dia dulu berjalan meringkih untuk mengejar mimpinya. Ayahnya kini hanyalah pria tua yang berada diujung usianya, memohon pada anaknya permintaan yang paling tidak mungkin bisa dikabulkan oleh Piter.

Piter menghampiri ayahnya dan duduk disamping pria tua itu, nampak air mata bergulir mengalir di pipi Luther.

“Dad..” ujar Piter menyapa ayahnya. Piter berharap ayahnya bisa menerima hubungan mereka, dia tidak akan perlu ke luar negeri untuk bersembunyi lagi bila Luther memberikan restunya.

“Apakah kau tahu mengapa kau tidak bisa menikah dengan Liza, Son?” tanya Luther pada anaknya.

“...Aku tidak ingin mendengarnya, Dad. Aku tidak mau tahu” Piter memalingkan wajah, menghindari tatapan sedih ayahnya. Bianca dan Herald menatap mereka dengan tanda tanya.

“Apa maksudmu, Luther? Katakan padaku, mengapa Piter tidak boleh menikah dengan Liza?” tanya Bianca cemas. Dia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. Kecurigaan seorang istri mulai terusik lagi.

“Dad, kau tidak bisa melakukan ini padaku” kata Piter sembari menggeleng-gelengkan wajahnya. Dia tidak ingin Luther membeberkan rahasia tergelapnya pada keluarga mereka. Piter tidak akan membiarkan ayahnya menghancurkan kesempatannya hidup bersama Liza.

“Piter! Katakan pada Mom! Apa yang kau sembunyikan? Kau berbohong pada Mom?” teriak Bianca marah. Dia memandang anak dan suaminya silih berganti dengan tatapan tak percaya, merasa dibohongi dan dikhianati.

Piter menahan nafasnya, dia mulai menyesali keputusannya datang ke rumah sakit itu.

“Tidak ada, Mom. Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu” suara Piter bergetar, dia menahan perasaannya agar tidak meledak-ledak pada ibunya. Sementara Herald membeku di tempat duduknya, tangannya berkeringat dingin menyaksikan ketegangan dalam keluarganya.

“Kau bohong! Lihat, kau gemetar, Piter. Kau akan gemetar bila berbohong pada Mom. Apa yang telah terjadi? Katakan pada Mom! Apa sebenarnya yang kalian lakukan hingga kau tega berbohong pada Mom, Piter?” Bianca berteriak histeris, dia mendekati Piter yang duduk mematung tanpa suara. Sementara Luther dengan wajah pucat pasi mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab anak dan istrinya.

“Bianca.. Aku..”

“Dad!! Don’t!! I beg you, please.. Don’t!” Piter berlutut dilantai, memohon pada ayahnya agar tidak mengungkapkan kebenaran itu pada ibunya.

“Piter, Son.. Maafkan, Dad.. Sebelum Dad mati, Dad harus melakukan tugas seorang ayah untuk anak-anak Dad. Dad sudah berjanji untuk melindunginya pada ibunya, sebelum Dad pergi, dia harus tahu jati dirinya, dia adalah seorang Van Der Wilhem, sama seperti dirimu. Kalian tidak boleh menikah..” kata Luther lemah. Dia menutupi wajahnya setelah mengatakan hal itu, sekilas sudut matanya menangkap tubuh Piter yang merosot di lantai, bersimpuh di atas kakinya, tatapan matanya kosong.


Bianca terhenyak tak mampu berkata-kata, lebih banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya dibandingkan jawaban yang ingin diketahuinya. Mereka semua terdiam, tak terkecuali Herald yang mulai mengerti maksud perkataan ayahnya. Liza, calon kakak iparnya.. adalah anak ayahnya juga. 


48 comments:

  1. Replies
    1. wah kyknya ada yang lagi seneng nih :sambil ngasah golok:

      Delete
    2. serem amat mbg ngasah golok,,
      emang siapa yg mau dgorok...

      Delete
    3. oini.. mau mangkas rumput ^^>

      Delete
  2. owh tidak, jdi mw d bwa kemana nih cerita... *jangan sad ending mbak shin* lope

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau dibawa ke hatimu cin.. biar lama diem disana ahhahahaa

      Delete
  3. oh gosh,thx mba shin.jgn blg liza kbur :((

    ReplyDelete
  4. haduh :'(
    Piter mpe mohon2 tp ayah'y ttp ngasih tahu hiks hiks..

    Tabah Piter, kalau kau tak bsa menikahi Liza, aq rela menjadi istrimu.. :* #no protes please, i beg you :p

    Mba shin thanks ;)

    asik.. Asik.. *goyang pantat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkw sila.. udah km ama Herald aja. ahahhaha

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. aw ae aw mba shin mw nebang puun ya ngasah golok...
    *kabuuuuuuurrr
    eh mkin stress bacanya..huaaaaaaa huaaaa
    mkin penasaran...huaaaaa

    ReplyDelete
  7. tragis... lebih tragis dari romeo dan
    juliet... #ambil tisu

    ReplyDelete
    Replies
    1. tisue toilet ya cin?? kwkwkwk dipake jg tisu yg aku lempar tadi.. ihhiihih

      Delete
  8. sedikit banget mbak.. kurang..
    game lagi..

    JAWABAN GAME:
    kesalahan di
    ~“Elizabeth Suteja, menikahlah denganku...~
    nama belakang Elizabert bukan 'Suteja' tapi 'Sutejo'.. wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkw moksoooo.... kok gak sekalian aja sujiwo tejo sist?

      Delete
  9. wah....endingnya mkin hari bukanya makin ketebak tp makin susah aja ditebak...:-( thanks mbk shin game lagi ya biar post 1bab lagi hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha tuh ikutin game barunya nene.. lol..

      Delete
  10. Makasih ya all kalian menang lagi, sist VE sedih banget mengharu biru hu.hu siap - siap tisu juga nie ntar kalo sad ending:-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau tisu?? aku ada masih 2 roll tissue toilet nih buat stok kl kurang wkwkkwkw

      Delete
  11. Iyeesss
    Mb shiin, reader nya pinter2 loh
    Mau game lagi?
    Hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha skrg gamenya readers msh pinter gak ya?? cek G+ sist buat nyari gamenya apa ahhahaha

      Delete
  12. tsk... I hate this part..
    maaf mba shin tpi, beneran nyesek abiss bcanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kok hate sist? kl hate langsung pake english dia lho. muwhahahahah

      Delete
  13. Meski kepala pening, mata di paksa melek demi mas pitter hehehehe
    Makasih mbak shin :)

    ReplyDelete
  14. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    GWS Luther,,, Piter maafkanlah ayahmu, nak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha komen yg berbeda dr yg lain. muantappp wkkwkwkwk:kabur:

      Delete
  15. Wah ketinggalan ya.....
    dah ada yg goyang pantat hehehehe....
    makasih mba Shin....
    i love this part, full emosi....
    Ditunggu chap selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk iya kesenengan menang tuh. pdhl yg menang kan aku. bikin readers galau.. wkkwkw
      sip sip sama2 sista :D

      Delete
  16. loh ada chap baru?
    ada huapakahhh ini?
    ohhh mba shin kalah game hihihi

    btw makin mendekati ending nihhh...
    deg2an nihh happy ending gak ya pitza couple?

    ReplyDelete
  17. Mba $hin sedih amat bab nii
    Mataku lbh bengkak dri pda Liza lho sampai2 persediaan tissu di ruang tamu pun aku habisin

    Merana - galau- gunda hatiku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo coba difoto, share di G+, colek aku. Ntr aku posting VE 17. Hahahahaha

      Delete
  18. Aku yakin ini sad ending :""(((
    Krn Piter pasti ngelakuin apa yg papanya amanatkan d saat" terakhirnya...
    Gak mgkn gak... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa.a.... :ketawa aja sambil masang poker face: hihiihhi

      Delete
  19. Mba shin ini seneng bgt yah kabur padahal dia Чªήğ bawa golok'a, knp jadi dia Чªήğ kabur? #emot mikir pdhl lgi tidur wkwkwkwkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. :garuk-garuk pantat sambil bersihin upil:

      Delete
  20. Mbak shin,ntar momnya piter datangin liza biar bubar sama piter ya? Mbak shin jgn pisahin mereka :(

    ReplyDelete
  21. Fiuuuh.
    Tragis ulala.
    Klimaks yg cetar meroket.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha malam ini kyknya VE tamat, aku dipalak lg wkkwkwkwk

      Delete
  22. duh Bianca pasti shock bgt ya..
    padahal dia cinta ma Luther, cckckkck
    yang sabar ya nek, hehehhehe

    ReplyDelete
  23. Kenape ane kaga pernah dapet notip babeeeeee *ternyata dah ketinggalan jauh amir*

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.