"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, February 26, 2013

Volcano Erupts - Chapter 17



Sepulangnya dari rumah sakit, Piter mengendarai mobilnya tanpa benar-benar memperhatikan jalan di depannya. Meski demikian dia dengan berhasil memarkirkan mobil miliknya di parkiran apartemen. Wajahnya masih terlihat pucat, dia terlihat lelah dan mengantuk. Piter berantakan, kacau dan frustasi, hatinya sesak oleh sakit hati, kesedihan, penyesalan, kemarahan, kekecewaan pada dirinya yang tidak mampu membela diri dihadapan keluarganya, tidak mampu membujuk mereka untuk menerima Liza dalam keluarga mereka, terutama ibunya.


Setelah pengakuan ayahnya yang singkat tak ada satupun dari mereka berbicara setelahnya. Semua telah jelas, meski Luther tidak menyebutkan kapan jelasnya perselingkuhan itu terjadi dan apa alasannya melakukan hal itu, mereka semua tahu Luther memiliki anak diluar pernikahannya dengan Bianca. Anak dari hasil hubungan gelapnya dengan wanita lain yang tak lain dan bukan adalah Liza, calon istri Piter, dan mereka tidak boleh menikah.

Bianca menyukai Liza, berharap banyak pada Liza karena dialah wanita pertama yang ditunjukan Piter padanya. Bianca tahu anaknya tidak suka membawa wanita sembarangan kerumah mereka, karena meskipun Piter sedang menjalin hubungan dengan seseorang sebelum Liza, dia tidak pernah membawa wanita itu kerumah bila tidak merasa memiliki kecocokan di antara mereka.

Bianca menghargai dan mendukung wanita yang akan Piter nikahi, wanita yang dipilihnya. Namun setelah kenyataan ini diketahuinya, Bianca tidak bisa berpikir lagi. Dia keluar dari ruangan kamar VIP itu dan menenangkan diri di kursi kebun rumah sakit. Herald menyusul ibunya atas perintah kakaknya.

Piter memencet bell apartemennya, pikirannya melayang-layang dan tidak menyadari apa yang dilakukannya. Ketika Liza muncul dibalik pintu dengan wajah bingung, barulah Piter melihat ke sekelilingnya dan menyadari dimana dia berada.

“Piter? Kau kenapa? Bagaimana Mr. Luther?” tanya Liza bingung. Liza membantu Piter masuk ke dalam ruangan, laki-laki itu seperti orang linglung, tidak seperti biasanya. Piter masih terguncang. Mereka pun duduk di atas sofa ruang tamu.

Piter menatap sedih pada Liza, mencoba memunculkan sebuah senyum pada wanita itu, tapi gagal.

“Apakah.. Kau.. sudah makan?” tanya Piter kaku. Lidahnya kelu, tak sanggup mengucapkan kata-kata yang begitu ingin ditanyakannya.

“Apakah kau sudah tahu bila kita bersaudara, Eliza?” bisik Piter dalam hatinya.

Dia tak kuasa mengucapkan kata-kata itu, Piter tidak ingin melihat wanita di depannya ini bersedih, Piter ingin melihat Eliza-nya tersenyum meski dia hanya membohongi diri nya sendiri karena tidak ada yang akan berubah. Mereka masih bersaudara dan tak ada satupun yang bisa merubah hal itu. Tak lama lagi dunia akan tahu bahwa mereka bersaudara dan hubungan ini akan dinyatakan tabu di depan publik. Dan anak mereka.. Apakah yang akan terjadi pada anak mereka?

“Tuhan, mengapa kau begitu kejam pada kami? Apakah ini salah satu bagian dari karmaku?” rintih pilu Piter dalam hatinya.

Tangannya menyentuh dagu Liza, dia tidak mendengar pasti jawaban dari pertanyaannya pada wanita itu.

“Eliza.. Aku mencintaimu, dikehidupan terdahulu, dikehidupan ini, dikehidupan yang akan datang.. Aku akan selalu tetap mencintaimu. Meski ribuan kali reinkarnasi, aku akan selalu mencintaimu.. aku berjanji. Bila memang ini karmaku, akan kubayar dengan setiap kelahiran penuh siksa hingga suatu saat nanti kita akhirnya bisa bersama. Dimanapun itu, aku akan selalu menemukanmu, karena kita adalah belahan jiwa. Kaulah separuh nyawaku, denganmu aku satu. Dikehidupan ini atau mendatang, aku akan selalu mencarimu” Piter memeluk tubuh Liza yang bergetar menahan tangisnya, menyadari arti kata-kata Piter.

Piter mengaku tidak mempercayai reinkarnasi, namun mengatakan hal seperti ini hanya membuat Liza merasa tidak nyaman. Semua telah terbongkar, Liza tahu dari ekspresi wajah Piter yang terguncang, dia bukan lagi Piter yang biasa, bukan lagi Piter yang selalu percaya diri, yang berapi-api. Piternya telah kalah dan menyerah pada takdir.

Piter menyentuh perut Liza dengan lembut, wajahnya tersenyum lemah. Dengan lutut menahan berat tubuhnya, Piter menumpukan kakinya di atas lantai dan berlutut menghadap Liza yang duduk di sofa. Digenggamnya tangan wanita itu dan diciuminya dengan penuh kasih. Kepalanya menunduk mendekati perut Liza, mencium dengan hangat perut yang masih belum nampak tonjolan sedikitpun. Tapi Piter tahu, anak mereka sedang bertumbuh di dalam sana, dalam rahim ibunya yang hangat dan mungkin akan berkembang hingga dewasa nanti.

Liza menangis dengan terisak, air matanya tak terbendung, dia tidak bisa mengusapnya karena kedua tangannya dipegang dengan erat oleh Piter. Mereka bertatapan, lalu Piter mengusap air mata yang terus merembes di pipi wanita yang dicintainya, adik sedarahnya.

“Jangan menangis lagi, Eliza. Semua akan baik-baik, semua akan baik-baik... pasti.. akan baik-baik.. Maafkanlah aku bila selama ini kau menderita bersamaku, tapi aku ingin kau tahu.. setiap detik bersamamu adalah kebahagiaanku, Eliza. Tiada yang kuinginkan selain hidup bersamamu dan.. anak kita” Piter memejamkan matanya, menciumi lagi perut Liza dan berbisik pada anaknya yang masih bertumbuh di dalam rahim.

“Maafkan ayahmu, nak.. telah membawamu ke dunia dalam keadaan seperti ini. Semoga kau baik-baik, menjadi anak yang tampan atau cantik seperti ibumu. Sehat, rajin, kuat.. agar kau bisa menjaga ibumu kelak dari orang-orang yang jahat.. Untuk menggantikan ayahmu yang mungkin tidak bisa berada disana..” tak terasa tangis Piter jatuh di atas tangan Liza. Badannya terguncang oleh isak tangis yang semakin keras. Liza memeluk tubuh Piter dan mereka menangis bersama.

Mereka menyantap makan siang dalam diam, sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Handphone Piter berdering dan mereka saling menoleh sebelum Piter mengangkat panggilan itu.

“Halo..” jawab Piter.

“Kak, Dad kena serangan lagi. Cepat kesini, Mom.. Mom pergi, Mom bilang akan berkemas dan pergi ke Holland. Daddy shocked, tak lama kemudian Dad menyentuh dadanya dan pingsan. Sekarang Dad di ruang operasi, please datanglah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Kak. Aku bingung dan takut..” Piter dapat mendengar kepanikan adiknya yang ikut merambat pada dirinya.

“Kau tunggu disana, aku akan segera datang. Call uncle Ludwig, dia sedang di Jakarta sekarang dia pasti ingin tahu kondisi Dad” lalu Piter menutup telphonenya. Namun lama dia masih terdiam dalam duduknya hingga Liza dengan wajah pucat menyadarkan Piter dari lamunannya.

“Piter.. Kau kenapa? Pit...?” seru Liza sembari mengguncang-guncang bahu Piter.

Piter menoleh pada Liza dengan kebingungan. “Piter, Dad.. Dia sedang di operasi dan Herald membutuhkanmu, cepatlah pergi ke rumah sakit” seru Liza pada Piter yang masih menatapnya bengong.

“Eliza.. Aku.. mengapa aku merasa begitu sedih kali ini? Seolah bila aku keluar dari pintu itu, aku tidak akan bisa melihatmu lagi? Aku tidak ingin pergi, Eliza.. Aku.. Aku takut, kau tidak akan meninggalkanku kan? Kau tidak akan pergi dari sini, kan Eliza? Bila aku kembali, kau masih akan disini kan, Eliza?” tanya Piter tanpa henti. Wajahnya terlihat cemas dan penuh kekhawatiran. Kekhawatiran Liza akan meninggalkannya.

Liza menggeleng, dia menahan tangis yang sudah menggantung ditenggorokannya.

“Tidak, Piter. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Tidak akan..” jawab Liza lirih.

Sedikit kelegaan terpancar di wajah Piter, kemudian dia berdiri. “Aku harus segera ke rumah sakit, aku tidak tahu apa yang bisa kuharapkan dari semua ini tapi aku hanya berharap Dad akan sembuh dan.. entahlah. Aku hanya ingin ini cepat berlalu dan kita bisa memikirkannya setelah itu. Eliza..” lalu Piter tersenyum.

Dia merangkum wajah Liza untuk terakhir kalinya, mereka berciuman dengan mesra seolah itu adalah ciuman terakhir mereka. Karena Piter tidak tahu apa yang akan ayahnya putuskan untuk mereka, karena Liza tidak tahu sanggupkah dia menanggung beban dosa hubungan mereka di atas penderitaan Luther. Mereka hanya bisa melewati detik-detik kebersamaan mereka saat ini tanpa menyia-yiakan waktu yang berharga.

“Aku akan segera kembali, Eliza..” katanya disela-sela ciuman mereka. Lalu Piter kembali ke rumah sakit dan menemani adiknya mengawasi operasi Luther.

~~~~

Sudah empat hari Piter tidak pulang ke apartemennya, dia terlalu sibuk mengurus ayahnya, membujuk ibunya agar membatalkan keberangkatannya ke Belanda, mengurus perusahaan yang semakin terbengkalai meskipun dia memiliki wakil-wakil presiden direktur yang handal. Piter hanya sempat menghubungi Liza ketika malam tiba saat dia menunggui ayahnya di rumah sakit. Keadaan ayahnya mulai membaik, dia telah siuman. Namun kata-kata pertama yang di dengarnya dari Luther adalah keinginan laki-laki itu untuk menemui Liza. Piter tidak tahu apa yang ayahnya inginkan, meski demikian dia akhirnya mengirim asistennya untuk menjemput Liza di apartemen mereka dan membawanya ke ruangan Luther.

Hanya mereka bertiga dalam ruangan itu, Luther, Piter dan Elizabeth.

Piter merangkul bahu Liza yang baru saja tiba di rumah sakit, membawanya masuk menemui ayah mereka. Dalam ruangan VIP itu, Liza melihat ayahnya sedang berbaring tak berdaya dengan sebuah infus mengalir ke dalam tubuhnya melalui selang yang ditancapkan pada lengan kirinya. Laki-laki tua itu menatap kedatangan Liza dengan sebuah senyum lemah. Piter meletakan sebuah kursi disamping ranjang ayahnya dan meminta Liza duduk disana sementara dia berdiri dibelakang Liza, tangannya bertumpu pada bahu wanita itu, meremas lembut pundak Liza dengan kasih sayang.

Luther meringis melihat pemandangan di depannya, dia sungguh tidak tega memisahkan kedua anaknya dari hubungan mereka. Tapi dia tidak bisa menanggung dosa itu, dia tidak bisa melihat kedua darah dagingnya hidup bersama karena cinta mereka yang terlarang. Mungkin bila salah satu dari mereka bukan anaknya, tak akan seberat ini beban dalam hati Luther.

Tapi menatap wajah kedua anaknya, Luther hanya bisa menghela nafas menyadari betapa miripnya mereka. Sorot mata yang sama, senyum simpul yang sama, wajah sedih yang sama, bahkan ekspresi wajah yang sama.. ekspresi wajah keturunan Van Der Wilhem. Tak diragukan lagi mereka adalah anak-anaknya, meski tanpa pemeriksaan genetik Luther tahu mereka adalah anak-anaknya.

“Piter, Dad ingin duduk, naikkan kepala ranjangnya” perintah Luther pada anaknya.

Dengan tombol otomatis Piter mengatur ranjang tempat Luther berbaring hingga kini dia bisa bersandar dalam posisi duduk. Kedua anaknya menunggu dengan cemas apa yang akan dia katakan. Mereka perpegangan tangan, saling menenangkan.

Luther menghela nafasnya lagi, entah apa yang harus dia lakukan.

“Piter dan Liza.. Dad yakin kalian sudah mengerti apa yang membuat semua ini menjadi begitu pelik, kan? Dad tidak akan berbicara masa lalu lagi, Dad tahu itu semua salah Dad dan apapun yang Dad lakukan tidak akan bisa merubah apa yang telah terjadi. Cukup sampai disini permasalahan itu, apa yang ingin Dad katakan adalah.. kalian berdua adalah anak Dad, darah daging Dad. Dad merasa tidak akan bisa hidup lebih lama lagi, sebelum Dad mati, Dad ingin melihat kalian bahagia. Tapi tidak seperti ini..” Luther menekur menghentikan kata-katanya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam sementara kedua anaknya menunduk bisu.

Herald mengintip dari ruang tamu kamar ayahnya, dia tidak bermaksud mengintip karena disanalah dia duduk menunggu, suara percakapan mereka mau tak mau terdengar juga olehnya. Herald bersimpati pada hubungan kakaknya Piter dengan Liza yang juga adalah kakaknya, dia tidak tahu apa itu cinta dan mengapa manusia rela berbuat apa saja demi cinta. Bahkan bagi seorang remaja polos seperti Herald, cinta antara kedua kakaknya begitu tidak mungkin. Entah apa yang akan ayah mereka lakukan untuk memisahkan pasangan itu.

“Liza.. Piter.. Sebelum semuanya terlambat, kalian harus berpisah. Kalian tidak boleh berhubungan lagi, selain sebagai kakak adik. Tolong kabulkan permintaan ayahmu ini, demi keutuhan keluarga kita. Dad mohon pada kalian berdua” Luther mencoba turun dari ranjangnya dan berlutut dibawah kaki Liza namun badannya tersungkur. Piter dengan sigap membantu ayahnya bangkit dan membawanya ke sisi ranjang.

“Dad.. Jangan seperti ini, kau tahu itu permintaan yang sulit. Dan.. semua sudah terlambat. Liza tengah mengandung anakku..” kata Piter pada ayahnya.

Tampak jelas laki-laki tua itu terguncang, matanya membelalak menatap Piter dan Liza bergantian. Piter memalingkan wajahnya sementara Liza menunduk menyembunyikan air matanya, dia menangis sesenggukan. Liza membenci dirinya karena berminggu-minggu ini tangis begitu mudah jatuh dari matanya, dia begitu lemah. Liza ingin pergi dari ruangan ini meninggalkan mereka, agar dia tidak mendengar lagi ucapan-ucapan Luther yang akan semakin menyakiti hatinya.

Liza akhirnya mengetahui bahwa Piter telah mengetahui hubungan darah mereka karena dia tidak terkejut saat ayah mereka mengatakan hal itu. Liza merasa malu pada dirinya sendiri, ternyata selama ini Piter telah mengetahuinya dan Liza mencoba untuk menyembunyikan fakta itu agar bisa lebih lama bersamanya. Liza berpikir seandainya mereka saling jujur apakah mungkin saat ini mereka masih bersama?

Luther membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dia tidak ingin berbicara lagi, kenyataan yang dia dengar memukul telak harapannya. Semua telah terjadi, bahkan kali ini takdir tak pernah berpihak padanya. Dia kehilangan kekasih sejatinya, dia juga kehilangan kesempatan bersama anaknya Liza, bahkan hingga dia berhasil menemukan Liza, Luther tetap mendapatkan begitu banyak masalah yang memukulnya bertubi-tubi.

Kini seorang bayi telah tumbuh dalam tubuh Liza, bayi hasil perkawinan sedarah yang terlarang. Luther sungguh tidak mengerti mengapa nasib bisa begitu buruk pada keluarganya.

“Liza, kau akan ke London melahirkan anakmu dan berpisah dari Piter. Kalian tidak boleh bertemu lagi, bila orang luar mengetahui hubungan kalian ini maka seluruh keluarga Van Der Wilhem akan hancur. Baik yang di Indonesia maupun di luar negeri. Hubungan kalian tidak boleh terjadi. Bila kau tidak ingin keluarga ini hancur, maka pergilah ke London. Dan kau Piter, jangan pernah mencari Liza lagi” Luther menutup matanya, tidak ingin berbicara lebih banyak lagi. Dia sedang menyembunyikan tangisnya yang lemah karena menjadi algojo pemisah hubungan mereka.

“Dad!! Ini bukanlah kesalahan kami, kenapa kau menimpakan semua kesalahan ini pada kami? Aku tidak perduli dengan Van Der Wilhem, aku akan keluar dari keluarga ini dan melepaskan seluruh hakku. Aku hanya ingin hidup bersama Eliza, apakah sesulit itu permintaanku?” tanya Piter berapi-api.

Dia menahan emosinya yang meluap-luap karena keegoisan ayahnya yang tidak memikirkan perasaan mereka. Bila Luther tidak dalam kondisi sekarat seperti sekarang ini, Piter akan langsung pergi dari rumah sakit itu meninggalkan ayahnya di atas tempat tidur.

“Kau hanya memikirkan dirimu, Piter! Tidakkah kau memikirkan adikmu? Your Mom?!” bentak Luther padanya.

Piter terkaget dan mundur selangkah. Tidak pernah dalam hidupnya sekalipun sang ayah membentaknya, baru kali inilah laki-laki tua itu mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi seperti tadi.

“Apa kau memikirkan apa yang akan terjadi pada masa depan adikmu kelak? Bila kau pergi, siapa yang akan mengurus perusahaan? Apakah kau akan meninggalkan perusahaan begitu saja dan bangkrut? Apa kau ingin adikmu dan ibumu menjadi pengemis dijalanan nanti? Dan bagaimana kau mempertanggung jawabkan kebahagiaan Liza dan anakmu? Apakah kau ingin anakmu di cap sebagai anak hasil hubungan terlarang? Bisakah kau hidup seperti itu? Sampai kapan kau akan bersembunyi?” Luther menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku.. Pasti bisa.. Dad. Bila kau merestui hubungan kami, aku bisa. Akan aku lakukan apapun selain berpisah dari Eliza dan anak kami” jawab Piter pelan. Dia telah meneguhkan hatinya dan ayahnya tidak akan bisa membuatnya mundur.

“Kau?!!” Luther tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Nafasnya tercekat dan putus-putus. Ayahnya mulai kejang-kejang dan matanya berputar seperti orang epilepsi.

“Herald! Cepat panggil dokter!” teriak Piter pada adiknya yang langsung berlari ke luar mencari dokter.

Piter memegangi tubuh ayahnya yang bergetar, lalu pria tua itu jatuh pingsan tak sadarkan diri. Para dokter dan perawat bergegas masuk mengambil alih Luther dan memeriksa kondisinya. Sementara itu piter dan Liza beserta Herald wajahnya pucat pasi demi melihat ayah mereka yang tergolek lemas tak bergerak.


Setelah memberikan beberapa suntikan pada Luther, dokter meminta Piter agar tidak membuat ayahnya terlalu banyak bergerak atau berpikir karena bila dia mendapat beberapa serangan fatal lagi maka Luther akan menjemput ajalnya. 



19 comments:

  1. aih gpp dpt 2,heheh mksh mba shin.u're so very crazy :((

    ReplyDelete
  2. Astaga~
    Kehabisan kata2 ini saya mb shin
    Sedih banget :(

    ReplyDelete
  3. aduh.....makin pelik aja kisah piter & eliza thanks mbk shin :)

    ReplyDelete
  4. g' mau komen, g' mau komen, g' mau komen...!
    Sy udh komen tragis di final chap.. :'( ;'( :'( :'(

    Thanks Rena n Mba vie.. Kalian mnglahkan mba shin :* *hug n kiss*

    ReplyDelete
  5. hiks.. hiks..
    karena mau cepat2 baca lanjutannya jadi gak sempat komen..
    hiks hiks.. hidungku jadi pilek mbak.. (T_T)

    ReplyDelete
  6. Hiks hiks..sedihh critanyaa mba shin :(

    ReplyDelete
  7. Ku pkir td d sni piter matinya

    ReplyDelete
  8. waktu baca bab ini ngk punya firasat sama sekali T.T T.TT.T

    ReplyDelete
  9. Nene@ dan kenytaan ne sungguh pahit.. ;(

    ReplyDelete
  10. @iya cil pahit bgt....tp klo mnrt kmu seharusnya gmn sih??

    ReplyDelete
  11. padahal bianca bener2 cinta sama luther y.
    hanya saja pola hdupnya yg agak wah.

    ReplyDelete
  12. nene@ menurt aq mrka hidup bersma ajh.. Berharap slah satu dr mrka bukan Van der wilhem

    ReplyDelete
  13. eka@ yups.. Bianca mencintai luther dg tulus sjak dr hri pernikhan mrka.. Cma luther ajh yg g' cinta u,u

    ReplyDelete
  14. Smua harapan sirna, krna mreka udh matek

    ReplyDelete
  15. Karna separuh aku....dirimu...
    Huaaaaaaa.....huhuhuuuuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. salah, bukan gitu tapi "Karena separuh aku.. LEMAK" hihihihi

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.