"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 30, 2013

"My Name Is Cong?!" - FINAL CHAPTER



Bisa kukatakan upacara pernikahanku adalah sebuah upacara tersakral yang pernah kuikuti. Event organizer yang kusewa dan teman-temanku yang ikut membantu terlaksananya upacara ini dengan baik melakukan tugas mereka secara maksimal. Tahun depan, aku akan menghubungi mereka lagi untuk meminta mereka mengatur pesta pernikahanku dengan Camelia. Yah.. kali ini kami hanya menikah di depan pendeta, aku tak ingin membuat Camelia terlalu lelah dengan pesta yang pastinya akan memakan waktu sehari semalam penuh karena banyaknya tamu undangan yang harus kuundang. Aku tak ingin membahayakan kesehatan istriku. Ya.. istriku..

Kami berciuman dengan mesra di depan para undangan, tepuk tangan riuh menyambut ucapan janji setia kami. Kini Camelia telah resmi menjadi istriku, menjadi nyonya Renatha..

"My Name Is Cong?!" - Chapter 20



Meski tanpa Camelia, aku membicarakan rencana pernikahanku dengan keluarga besar Camelia. Tak lama lagi kami akan menikah, aku bahkan sudah menyiapkan apa-apa saja yang ingin aku sediakan pada saat hari pernikahan kami. Teman-teman dari Jakarta dengan senang membantuku. Mereka memberi selamat dan antusias ingin menghadiri upacara pernikahanku. Mereka tak percaya aku melepaskan masa lajangku di usiaku yang ke tiga puluh dua, ketika dulu aku sesumbar tidak akan menikah sebelum usiaku yang ke empat puluh. Mereka penasaran seperti apa gadis yang berhasil memikat hatiku.

Karena tuntutan pekerjaan yang semakin membuatku kewalahan, aku hampir tak bisa mengantar Camelia kemana-mana, sedangkan dia membutuhkan untuk keluar rumah meski sekedar berbelanja kebutuhan rumah tangga. Aku tidak mengizinkan Camelia untuk bepergian dengan sepeda motornya. Sebuah goncangan kecil pada tubuhnya bisa membuat janin dalam rahimnya keguguran dan aku tak menginginkan hal itu, aku tahu janin itu adalah segalanya bagi kami.

Finnegan Shadows

mau jadi member Finnegan Shadows? Baca petunjuknya disini : 

http://finnegancenter.blogspot.com


HYDEN DI HAPUS SAMA BLOGSPOT :MASANG EMO SHOCKED!!: 


bubye Hyden.. FD Company... T__T

Friday, March 29, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 19



Kami sedang menikmati santap pagi di sebuah rumah makan langgananku. Biasanya bila menjamu rekan dokter atau profesor dari luar pulau, aku akan membawa mereka ke rumah makan ini. Makanannya lengkap, dari pilihan makanan Indonesia hingga Continental breakfast, seperti yang bisa dinikmati di hotel-hotel.

Camelia sedang menikmati buburnya di meja dan aku memilihkan buah-buahan dan roti manis untuknya. Segelas cocktail buah sebagai makanan pencuci mulut juga kusendokkan untuknya. Camelia harus mulai mengatur pola makannya agar tak kekurangan nutrisi untuk dirinya dan bayi kami. Ahh.. hatiku selalu penuh saat menyebut anak kami, rasanya semangatku telah diperbaharui. Penderitaan sebulan ini tak berarti, karena dalam sehari semuanya telah berganti dengan kebahagiaan.

Thursday, March 28, 2013

Just Give Me a Reason

karena lagi gak punya stok cerita yang bisa diposting.. maka izinkanlah saya menjadi sedikit lebay dengan memposting yang ingin saya posting :hak..hak..hakk.: 

Just Give Me a Reason - Pink feat Nate Ruess 


"My Name Is Cong?!" - Chapter 18


warning : 18 y.o


Pakaianku telah kulepaskan dengan tak sabar, ketika kacamataku hendak kubuang, Camelia menahanku. Dia melotot padaku karena begitu acuh pada lingkungan. Ahh.. Camelia.. Kau membuatku tak tahan lagi, mengapa kau begitu menggemaskan???

Kucium bibir Camelia pelan, ingin mengecap keseluruhan rasa bibir gadis ini. Dulu.. ketika kami pertama bercinta.. Kami melakukannya dengan perasaan di atas awang-awang, kami dikuasai gairah yang menggebu-gebu dan hampir gelap mata. Namun kali ini, aku sadar sesadar-sadarnya dan aku ingin menikmatinya dengan perlahan, menikmati penyatuan cinta kami.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 17



Entah mengapa aku begitu suka bila dia mengata-ngataiku seperti ini, membangkitkan kenangan lama kami, saat dimana aku masih begitu gencar mencuri sebuah ciuman darinya.. Ah.. aku merindukan masa-masa itu, meski aku tak akan menolak ciuman pasrah dari Camelia.

Dengan memeluk tubuh mungilnya, kujelaskan mengapa aku seperti itu.. Sungguh aku tak rela Camelia membenciku karena masalah kecil ini.

Wednesday, March 27, 2013

hyden desire

pstt...psttt... :bisik-bisik: jangan bilang-bilang ya... kalau hyden dibuka tiap hari (untuk nonmember) dari pukul 00.00 sampai..sampai si Hyden bangun baru ditutup ama dia (tapi jangan doain dia gak bangun2, ntar modar lagi anak orang) ^^> 

"My Name Is Cong?!" - Chapter 16



Lili menyapa kedatanganku dirumah koh Franz, kakakku ini sedang menyapu halaman. Sejak menjadi istri koh Franz Lili berhenti dari pekerjaannya, dia fokus hanya menjadi ibu rumah tangga. Aku tak tahu bila ini yang paling diinginkannya, kakakku ini memang agak misterius mengenai hatinya.

“Koh Franz ada?” tanyaku pada Lili.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 15



Selama seminggu setelah penolakan Camelia, aku tak berdaya, tubuhku akhirnya menyerah. Karena pola makan yang tak teratur, jadwal minum obat yang tak pernah kutepati dan lelahnya otakku berpikir, akhirnya aku terbaring lemah di atas ranjang pasien. Selang infus terpaksa menjadi penambah aliran nutrisi untuk tubuhku selama dua hari lebih. Empat hari menginap di ruang VVIP rumah sakitku dengan istirahat total.. hanya itu yang kuperlukan untuk mengembalikan kondisi tubuhku, setidaknya setengah dari sebelumnya. Aku tak memberitahukan Lili mengenai keadaanku, kami toh jarang bertemu, dia akan memborbardirku dengan pertanyaan yang tak perlu bila dia mengetahui aku opname.

Tuesday, March 26, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 14



Dua minggu dalam kondisi terburuk hidupku, akhirnya kakiku bergerak sendiri ke depan pintu kamar kos Camelia. Tanganku mengetuk pintu kamar itu meskipun kepalaku menolak dan memerintahkan tubuhku agar segera angkat kaki dan pergi jauh-jauh dari sini. Tidak, tubuhku ingin bertemu dengan Camelia, hatiku merindukannya, kewarasanku ingin mendengar penjelasan wanita ini, semenyakitkan apapun itu, aku harus bisa menerimanya.

Kuketuk pelan pintu kamar Camelia, dia membukanya dengan bingung, mungkin Camelia tidak berharap akan bertemu dengan seseorang hari ini. Demi melihat wajahnya yang begitu kurindukan, semangatku terangkat sedikit. Dengan terpaksa Camelia mengizinkanku masuk ke dalam kamar kosnya.

Surrender In Your Arms - Chapter 4



Dengan Kimberly ikut dalam mobilnya, Elliot setiap beberapa menit melirik kaca spion mobilnya, wanita itu sedang duduk dibelakang dengan Derby, Landon telah diantarkan pulang terlebih dulu oleh sopirnya bersama dengan babysitternya.

“Dimana tempat asalmu? Apa yang kau kerjakan sebelum kesini? Apakah kau punya keluarga? Apakah kau sudah menikah?” tanya Elliot bertubi-tubi pada Kimberly.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 13



“Hahh.. Lu bikin gw serba salah, Liam. Kenapa sih lu bersikeras pacaran sama Neng? Kayak gak ada cewek cantik lain aja dimuka bumi ini? Belum lagi lu bilang lu mau ke Amerika? Lu mau tinggalin anak gw gitu? Apa yang bikin lu yakin kalau lu gak bakal khianatin dia disana? Mending gini deh.. Lu lihat dulu sampai lu balik Amerika, itupun kalau lu balik, kalau lu memang masih punya perasaan sama anak gw, baru kita bicarain lagi. Sekarang gw gak mau bahas masalah ini lagi, mending lu buruan berangkat sebelum pesawat lu take off, sebelum gw tampar lu lagi” pipi ku masih terasa perih dan kupingku masih terasa panas mendengar makian koh Franz yang selalu terngiang saat pagi tadi aku bertandang kerumahnya.

Monday, March 25, 2013

Soul & Mate - SHORT STORY



story idea by +Merry Harjati 

warning : tidak untuk semua kalangan, bisa mengakibatkan mual dan muntah-muntah bila melebihi dosis

Awalnya cerita ini mau dipasang di FD C. Tapi berhubung delima antara dua pilihan dan bahasanya juga gak mesum-mesum banget.. Maka dipasanglah ia disini. muwahhaha... Thanks to sista Merry Harjati ;) -sekalian ngetest cara penulisan baru- 

Sudah sedari dulu kuperhatikan dirimu, sejak kita berpelukan dalam rahim, kitapun lahir ke dunia hanya berselang beberapa saat. Kau adalah adikku, dan aku adalah kakakmu. Kita selalu bersama, dan akan tetap bersatu sampai nanti.

Aku selalu memperhatikanmu, sejak kau bisa berlari dengan riang menyusul di belakangku, hingga kau mulai malu-malu berjalan disampingku, malu karena pemuda yang kau taksir berjalan disamping dan kau takut dia melihat kedekatanmu denganku. Sejak saat itu setitik kebencian mulai tumbuh dalam hatiku. Aku membenci semua laki-laki yang kau taksir, yang kau sukai. Tak akan kubiarkan satupun dari mereka mendekatimu. Karena kau.. hanya boleh di dekati olehku!!

Thank You..


Shin Haido

"My Name Is Cong?!" - Chapter 12



“Kau tidur?” tanyaku ketika menyusul masuk satu jam kemudian, Prof Wibowo dan istrinya baru saja pulang, aku sudah tak sabar untuk berduaan dengan tunanganku. Namun putri tidur justru sedang memainkan perannya malam ini. Dia terlihat begitu menawan meskipun air mata membasahi pipinya.

Kenapa kau menangis, Camelia..? Apakah aku menyakitimu? Apakah yang kau pikirkan hingga air mata membasahi pipimu itu? Ahh... mengapa hatiku sakit memikirkan kau menangisi orang lain, Lia.. Cemburukah ini namanya? Andai aku tahu isi hatimu, sehingga aku tahu apa sebenarnya perasaanmu padaku. Cukupkah kesempatanku untuk memilikimu? Pantaskah aku bagimu? Sebagai pendamping hidupmu?

"My Name Is Cong?!" - Chapter 11



Untuk kedua kalinya aku gagal memohon pada koh Franz agar mengizinkanku berpacaran dengan Camelia, ahh.. seandainya tak kukatakan aku akan ke Amerika.. ah.. tapi aku tak mungkin berbohong.. pekerjaanku menuntutku untuk selalu pergi kemana-mana, dan aku tak ingin membangun sebuah hubungan atas dasar kebohongan. Karena aku tak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tak perlu yang mungkin keluar nantinya.

Bertekuk lutut di depan calon mertua pun sudah tak mempan, mengapa koh Franz begitu kukuh. Tidakkah dia tahu hatiku sedang berduka hanya karena akan berpisah dengan Camelia sebentar lagi? Saat aku sudah menjadi pacarnya.. Pacarnyaa!! Dan aku harus pergi ke Amerika selama satu bulan lebih. Ahhh...

Sunday, March 24, 2013

Saturday, March 23, 2013

DE FINNEGAN


hyden desire telah diganti menjadi DE FINNEGAN DYNASTY

"My Name Is Cong?!" - Chapter 10



Satu jam kemudian dokter Ardian menjemput istrinya di rumahku, dia tak nampak terkejut menyadari akulah penelphone yang memberitahukannya mengenai keberadaan istrinya dirumahku, rupanya dia telah mengetahui masa lalu Clara dan diriku, aku tiba-tiba merasa menjadi seorang yang bodoh di depannya. Laki-laki ini, dia masih mampu menikahi Clara meskipun tahu hati istrinya bukanlah untuknya, aku.. tak mungkin bisa seperti itu. Fiuhh..

Aku tak tahu apakah Clara masih akan menghubungiku di masa depan, kami tak berbicara lagi setelah itu, dia masih menangis terisak saat masuk ke dalam mobil suaminya, sementara sopir pribadi mereka membawa mobil yang ditabrakan oleh Clara pergi dari rumahku, rumah yang akhirnya kupasang untuk dijual. Tak lama lagi rumah itu seharusnya sudah laku, sudah banyak orang yang bertanya dan semuanya telah kuserahkan pada asistenku disana.

Catching Angel's Heart - Chapter 11



Dari tempatnya duduk, David mengawasi punggung Evellyn yang duduk beberapa meja di depannya. Dari sana David dapat memperhatikan lekuk tubuh Evellyn, mencoba mengingat kembali bagaimana tubuh wanita itu saat berada dibawahnya. David menjilat bibir bawahnya berhasrat, matanya tak lepas memandangi Evellyn kemanapun wanita itu bergerak.

Saat mereka semua pindah ke ballroom dansa, David menggunakan kesempatan itu untuk menarik lengan Evellyn dan memojokkannya masuk di dalam ruangan tempat menyimpan linen restoran.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 9



Saat ini aku sedang mengikuti seminar di sebuah ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat, aku khusus datang sebagai pembicara, biasanya memang seperti inilah pekerjaanku selain membedah pasien dan membuka praktek. Terkadang juga aku diundang untuk memberikan sedikit ceramah pada fakultas-fakultas kedokteran baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Setelah acara presentasi yang memakan waktu tak kurang dari lima jam, akhirnya waktu rehat tiba. Ketua panitia mengajakku duduk di meja yang telah disiapkan untuk kami. Untuk menghormati rekan-rekan lain, aku terpaksa menunda keinginanku untuk makan, karena hampir setiap menit ada saja rekan sesama dokter yang bersilaturahmi menyalami tanganku. Ahh.. sungguh aku sangat lapar, aku mungkin bisa menelan seekor sapi saat ini bila hingga lima menit lagi mereka tak kunjung berhenti mendatangiku.

Friday, March 22, 2013

In The Dark I'm Watching You - SHORT STORY



Hans Bernhard Otto Van Aufgard memandang bengis pada laporan yang baru saja diserahkan oleh kepala pengawalnya. Laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun dalam baju resmi rangkap tiga berwarna hitam gelap miliknya begitu sepadan dengan warna rambutnya yang gelap, segelap warna bola mata abu-abunya yang berkabut, marah dan tak terima dengan berita yang sedang dibacanya.

“Tak mungkin!! Dia tak boleh berhenti!! Kau dengar?? Dia tak boleh berhenti menulis!! Aku harus membuatnya menulis lagi..”

Dia berjalan mondar-mandir di lantai ruang bacanya yang megah, dipenuhi buku-buku tebal berbahasa asing dan terjemahan, menghisap cerutu ditangan lalu mulutnya berkomat-kamit meracau sejumlah rencana yang berderet-deret dalam kepalanya, seperti bagaimana biasanya bila dia sedang kalap.

Catching Angel's Heart - Chapter 10



David setengah berlari menarik langkahnya yang masih terseok-seok, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa ngilu pada selangkangannya. Tracy melihatnya dan menggamit lengannya manja.

“Disini rupanya kau, Mr. Steel. Kemari, aku perkenalkan pada senator Jackson, beliau adalah senator yang paling vokal mendukung pemberantasan narkoba, judi dan penyelundupan gelap” suara manja Tracy mengenalkan David pada senator Jackson dan istrinya.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 8



Kami berbaring di atas ranjangku saling diam, Audrey memang tak ingin memperlihatkan tangisan yang kini pasti sedang menggelembung dalam tenggorokannya. Dia adalah wanita kuat, dia hanya pernah sekali saja menangis di depanku, saat dia membuatku marah karena sikapnya yang posesif. Kami sudah menyepakati hubungan apa yang akan kami jalani namun Audrey tak pernah bisa memisahkan antara perasaan dan nafsunya.

Thursday, March 21, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 7



Sore ini aku akan berangkat ke Jakarta dengan penerbangan Garuda Indonesia pukul enam sore, sebelumnya ada yang harus kulakukan terlebih dulu. Mobil yang baru kubeli setengah tahun yang lalu ini kuparkirkan di depan tembok rumah koh Franz, aku ingin berpamitan pada mereka. Setelah itu aku akan ke bandara dan meninggalkan mobilku disana selama dua minggu lamanya, semoga tak terjadi hal-hal buruk pada mobil ini, semestinya aku naik taksi kesini, tapi sudahlah, sudah terjadi, tak ada yang bisa kukatakan lagi.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 6



Hari ini aku terbangun dengan semangat penuh, aku akan pergi ke sungai bersama anak-anak tetangga dan Camelia, anggaplah ini sebagai kencan pertama kami, walau dia akan menolak hal itu mentah-mentah. Hah.. pukul enam tepat kubangunkan dia dengan sebuah kecupan di pipi, dia tak terbangun juga.. ahh.. yah.. mungkin kurang keras? Haha lebih baik aku tidak bermain dengan keberuntunganku, aku tak ingin dia berteriak dan menamparku lagi.

"My Name Is Cong?!"- Chapter 5



Malam ini sekejap pun tak bisa kupejamkan mata, pikiran demi pikiran mengenai Camelia menggangguku setiap saat. Mengetahui betapa dekatnya kami malam ini, dengan cuaca yang begini dingin.. ahh.. Sial!! Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apakah dia sudah tertidur? Akankah dia tahu bila aku mengendap-ngendap masuk ke kamarnya? Tapi bagaimana bila dia berteriak? Dan seluruh penghuni rumah hingga tetangga di sebelah rumah mendengar? Lalu menangkap basah aku..sebagai penyelundup dalam kamar Camelia? Huh!! Aku bisa dihajar masa, bukan pemandangan yang menarik bila mereka menghajar wajahku sampai bonyok.

Wednesday, March 20, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 4



Baru tiga jam yang lalu rasanya mataku terpejam tapi Lili sudah menelphoneku agar bersiap-siap, kami harus berangkat ke bandara setengah jam lagi. Ahh.. mataku masih terkantuk-kantuk saat membasuh tubuhku dibawah air dingin, mengenakan pakaianku, untungnya koper telah kusiapkan jauh-jauh hari karena aku tahu tak akan ada banyak waktu yang tersisa bila aku mengejar target pekerjaanku sehingga aku bisa meninggalkan rumah sakit dengan tenang selama empat hari di desa.

Namun karena masih terkantuk-kantuk akupun tertidur di pesawat, melewatkan kesempatan untuk memperhatikan wajah gadis yang duduk disampingku. Majalah yang kucoba untuk baca tidak juga sanggup untuk mencegah mataku terpejam, ketika akhirnya aku menyerah dan tertidur, rasanya baru satu menit tidurku nyenyak Camelia telah mendorong tubuhku agar aku terbangun. Apakah kami sudah sampai?

"My Name Is Cong?!" - Chapter 3



Dengan suasana yang begitu mendukung dan tak banyak bantahan dari Neng Camelia ini, kuarahkan mobil menuju parkiran pantai. Dia tidak berbicara sama sekali, kuanggap dia menerima saja kubawa kemana. Saat dia tahu kami menuju pantai, dia terlihat panik. Dia menanyakan mengapa aku membawanya kesana, hah.. Kita lihat saja nanti apa yang akan kita lakukan disini, jujur aku tak tahu mengapa aku membawa kami kesini. Aku benar-benar sinting karena dalam otakku hanya terpikir bagaimana caranya agar bisa melewatkan waktu lebih lama lagi bersama gadis ini.

"My Name Is Cong?!" - Chapter 2



Meskipun tidak sesuai harapan pertama, tapi akhirnya keluarga koh Franz ada yang mewakilkan untuk datang ke acara pernikahan Lili nanti, dan orang itu tak lain adalah si gadis bermulut lancang nan kurang ajar ini. Aku tertarik untuk tahu apalagi yang bisa dilakukan oleh mulut itu selain mengeluarkan kata-kata kasar yang pasti sengaja di lakukannya untuk menyakiti papanya.

Hahh.. Hidup berumah tangga itu memang pelik, banyak sekali perasaan yang harus dipenuhi, aku tak yakin bila aku sendiri menjadi pelakunya aku akan mampu membagi perhatian dan waktuku antara pekerjaan dan keluarga. Keluarga adalah hidupku, tapi pekerjaan adalah nafasku. Bagaimana aku bisa memilih satu diantara dua itu? Tak mungkin, kan?

Tuesday, March 19, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 1



Pagiku dimulai seperti biasa, monoton, reguler, er.. biasa saja. Tak ada yang berbeda selain pagi ini aku baru menyadari gula pasir di dapurku habis. Habis?? Argh!! Sudah hampir satu bulan aku tinggal dirumah baru ini dan belum seharipun bisa kuluangkan waktu untuk pergi ke swalayan untuk sekedar membeli cemilan atau kebutuhan pokok hidupku. Tak satupun! Sebelumnya hidupku cukup nyaman karena tinggal di apartemen yang memiliki sistem manajemen yang mengurus itu semua, entah mengapa aku berpikir untuk membangun sebuah rumah disini, ah.. mungkinkah karena wanita itu??

Aku perlu seorang pembantu rumah tangga, tapi perlukah itu? Aku bahkan jarang ada dirumah. Waktuku kuhabiskan antara rumah sakit satu dengan rumah sakit lain, tempat praktek, visite 1, visite 2, visite 3..blablabla.. hingga sampai dirumah ini lagi pada pukul satu pagi dan tertidur seperti orang mati.

Monday, March 18, 2013

"My Name Is Cong?!" - Prologue



Gadis itu, dengan senyumnya yang khas, entah mengapa mengusik naluri mudaku lagi. Aku bukan anak remaja yang semestinya masih tergila-gila dengan anak remaja bau kencur sepertinya, tapi melihat gadis itu tertawa riang dalam foto keluarganya telah mengusik keinginanku untuk memilikinya, memiliki seutuhnya, bukan hanya teman sesaat yang biasa kutawarkan pada wanita-wanita yang singgah dalam hidupku. Tapi lebih dari itu, gadis ini.. Dia membangkitkan sesuatu yang telah hilang dalam hidupku, cintakah itu?

Padamu..

teman-teman ku yang baik hatinya.. semoga hari ini kita dicerahkan oleh dunia, sehingga hari-hari kita ke depan akan senantiasa bersinar dan dikarunia keberuntungan dalam apapun itu yang kita kerjakan.

hendaknya segala aktivitas yang kita jalani setiap harinya mampu memberikan pengaruh positif terhadap orang lain dan lingkungan sekitar kita sehingga lebih bermaknalah kehidupan kita di dunia.

mungkin teman-teman sekalian heran dan menerka mengapa saya.. menulis kalimat aneh nan jarang seperti ini, mungkin ini karena mood saya sedang aneh seperti ini, maafkan..

saya hanya ingin memberi sepatah dua kata bahwa mungkin saya tidak bisa memenuhi untuk menyelesaikan beberapa cerita yang memang masih belum tuntas saya kerjakan, dengan rendah hati saya mengaku bahwa saya belum mendapat pencerahan untuk mengerjakan cerita-cerita itu kembali. semoga teman-teman lain maklum adanya.

Sunday, March 17, 2013

PDF request CONG!

Bagi yang berminat untuk memiliki file PDF "Lu Tu Musuh GW Cong!" bisa request ke email drama.story@yahoo.com



"Lu Tu Musuh GW Cong!" - EPILOGUE



“Dok, proses bersalinnya mau dipimpin sendiri?” tanya seorang dokter ahli kandungan yang sedang membersihkan tangannya dengan sabun sebelum masuk ke ruang bersalin. Disampingnya Liam dengan wajah kuyu pucat setengah mendengarkan pertanyaan rekan sejawatnya.

“Ha?” tanyanya lagi. Liam sedang panik karena istrinya tengah merintih kesakitan di meja bersalin, sudah lima jam lebih Camelia gelisah di atas ranjang namun bukaan untuk proses bersalinnya belum mencukupi. Liam berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit hingga kemudian dia dipanggil untuk ikut masuk ke dalam ruang bersalin untuk melihat langsung proses kelahiran anaknya.

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - FINAL CHAPTER



Salah paham di antara kami telah jelas sejelas-jelasnya. Hari itu kami berbicara dari hati ke hati. Liam membeberkan semua masa lalunya sejak dia mampu mengingat hidupnya. Dia juga menunjukkan album-album foto masa kecilnya yang masih tersimpan rapi dalam kardus yang dia kirim dari Jakarta tahun lalu dan belum sempat dibukanya.

Kini selain menunggu Liam pulang kerja, aku memiliki hoby baru, membuka kardus-kardus yang belum sempat dibereskan Liam. Aku juga memiliki kesempatan merapikan trophy-trophy dan ijazah-ijazah berpigura yang didapat Liam. Prestasinya sungguh membanggakan, membuatku berdecak kagum.

Saturday, March 16, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 22



Setelah beberapa kali pertemuan dengan keluargaku, kami akhirnya sepakat untuk mengadakan upacara pemberkatan terlebih dahulu sembari memikirkan ulang kapan hari baik untuk mengadakan pesta pernikahan. Kami semua tidak ingin aku menikah dengan perut semakin membesar, bukannya malu, tapi kasihan aku.. pasti akan sangat kelelahan berdiri seharian mengurus ini itu.

Tapi untungnya Liam memanggil bantuan dari Jakarta, dari sana dia telah mengirim temannya untuk mengurus upacara pernikahan kami yang akan dilaksanakan seminggu lagi di gereja tempat mami bergabung. Liam sendiri belum pernah ke gereja selama dia di kota kami, alasannya yang selalu sibuk bekerja membuatku menjewer telinganya.

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 21



Setelah kami mendapat wejangan dari mami, kami bertiga pun keluar dari kamar, bergabung dengan anggota keluarga yang lain di ruang tamu dan teras rumah. Liam sedang berbicara dengan Rio dan suami kak Melinda, om Irwan. Kak Melinda mendapat jodoh seorang duda beranak dua, namun demikian hidupnya bahagia, om Irwan yang menolak dipanggil om olehku adalah suami yang baik dan pengertian.

Dia juga sangat bijaksana dan dermawan, prinsip hidup om Irwan ini adalah saat kita memberi orang lain, bukan orang itu yang akan membalas budi kita, melainkan orang lainnya lagi. Maka tak heran om Irwan sering membantu orang tanpa memandang siapapun itu, dia tidak pernah berharap mendapatkan balas jasa dari perbuatannya. Aku salut padanya, lambat laun kak Melinda pun berubah, yang tadinya keras kepala dan gampang marah menjadi pribadi yang simpatik dan perduli sesama, kak Melinda telah mendapatkan teladannya.

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 20



Liam mengajakku makan pagi di sebuah rumah makan yang menghidangkan makanan sehat dan dia memilihkan menunya khusus untukku. Terdiri dari buah-buahan segar, cocktail buah, roti danish manis, bubur ayam tanpa kuah dan aku makan cukup banyak. Dia mengawasiku menyuapkan setiap sendok makanan ke mulutku dengan senang, Liam sering tersenyum sejak pagi hari tadi, sejak aku terbangun dan membuka mataku, dia sedang memandang wajahku dan senyum itu selalu disana. Bukan senyum culas nakalnya yang berengsek, tapi senyum manis, hangat dan yang menyatakan bahwa aku adalah miliknya. Ya, laki-laki ini adalah pemilik hati dan tubuhku.

Catching Angel's Heart - Chapter 9



David terbangun dengan kepala pusing menusuk yang sangat menyiksa. Dia terhenyak ketika menyadari tubuhnya telanjang dan ranjang yang ditidurinya berantakan. Matanya menyipit ketika memandang noda darah pada bed cover putih dibawahnya.

David menyentuhkan jari tangannya disana.

“Apa ini? Apa yang telah aku lakukan? Ini.. Darah ini?? Cairan ini? Sperma?? Dengan darah? Darah perawan??!!” bisik David tak percaya.

Friday, March 15, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 19



warning : 17 tahun ke atas

“Aku masih menyimpannya, menunggu seseorang mengklaim cincin itu dariku” jawabku acuh. Liam berdecak senang dengan jawabanku.

“Memang tak salah aku memilihmu, Lia.. Sekarang sudah bolehkah aku menciummu? Sudah dua bulan aku tak mencium bibirmu.. Aku sangat merindukannya” bibirnya dimonyongkan ke bibirku, namun kutepuk bibir itu dan dia mengijap kesakitan.

“Kamu belum menjawab semua pertanyaanku. Umurmu.. statusmu blablabla.. banyak sekali” aku mengancam, dia harus menjelaskan semuanya bila ingin hubungan ini berjalan lancar.

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 18



Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukan orang tuaku, pertama aku ingin bertemu papa. Aku ingin tahu apa yang papa pikirkan bila aku dan Liam bersama, akankah papa menentang. Ahh... Hatiku rasanya tidak cukup kuat menghadapi ini seorang diri.. Edo mengantarkanku ke rumah papa, dia masih tak bosan mengingatkanku bahwa dia selalu ada untukku.. Seandainya Liam tidak menerimaku, Edo bersikeras akan menikahiku. Ah Edo.. Mengapa kamu membuatku semakin merasa bersalah, aku tak pantas untukmu, berhentilah mengorbankan dirimu untukku.

“Gw ikut ya, Neng..” kata Edo menggenggam tanganku. Kami tiba di depan pintu pagar rumah papa. Lili sedang menyapu di halaman dan menyambut kami.

“Eh, Neng. Masuk Neng, nak Edo.. Mari masuk..” sapanya dari luar.

Surrender In Your Arms - Chapter 3



Setelah bersusah payah dan menguras energi dan emosinya selama tiga hari berturut-turut mengurusi surat-surat lamaran yang masuk ke alamatnya, akhirnya Elliot memutuskan hanya dua puluh lima pelamar yang akan di interviewnya untuk menjadi calon istrinya. Elliot hendak menanyakan beberapa hal pada wanita-wanita itu sebelum membawa mereka bertemu dengan anak-anaknya.

Elliot tahu resiko dari membuka identitasnya seperti ini dia akan menemukan pelamar yang hanya mengincar kekayaannya, maka dari itu dia harus benar-benar membuka matanya lebar-lebar untuk menangkap tanda-tanda wanita licik yang mungkin dilihatnya saat menginterview pelamar-pelamar itu.

SO?


Bagaimana menurutmu dengan wajah baru myowndramastory

Bagi saya sendiri saat mengutak-atik website ini sambil mendengarkan lagunya Rihanna yang STAY, rasa-rasanya saya sedang berada jauh di negeri antah berantah dan jadi bikin galau.. Tapi gambar cover blog ini bikin hati kyknya kangennn gt berada di sana :entah di sana dimana: hahaha.. well, apapun yang kalian rasakan mengenai wajah/tampilan baru myowndramastory, mudah-mudahan makin betah mampir kesini, ok? 

Thursday, March 14, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 17



Liam mengantarkanku kembali ke kosku, Edo telah menunggu dengan wajah menyeramkan. Mereka tidak berbicara, hanya tatapan mata saling benci yang mereka sorotkan pada lawan.

“Hai, Do. Maaf, dia memaksaku untuk pergi bersamanya” kataku sedih. Maafkan aku, Do..

“Gak apa-apa. Yang penting lu sudah pulang, Neng. Kita jadi ke bioskop ntar?” tanyanya sembari tersenyum. Edo berdiri disampingku dengan senyumnya yang seperti biasa, seolah kepergianku bersama Liam tidak mengganggunya sama sekali.

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 16



Dua minggu lebih tak ada kabar dari Liam, batang hidungnya saja tidak nampak di dekatku. Waktu Edo mengantarkanku pulang ke rumah mami, papa mampir dengan Lili, entah apa yang mereka obrolkan. Liam tidak ikut serta, aku mengintip dari kamarku, berharap laki-laki itu akan datang bersama papa dan Lili tapi dia tidak ada.

Kenapa dia begitu suka melarikan diri? Menghilang begitu saja sesuka hatinya, dan datang sesuka hatinya. Bila memang dia punya sesuatu rasa untukku mengapa dia harus seperti ini? Arghh... Aku pusing memikirkan Liam, bahkan laki-laki itu mungkin saja tidak memikirkanku, kenapa aku harus pusing sendiri? Mami.. Aku benci jatuh cinta bila harus berakhir seperti ini..

Surrender In Your Arms - Chapter 2



Elliot Webb memandang ngeri pada jumlah email yang masuk ke dalam kotak surat elektroniknya ketika membuka laptop di meja kantornya. Tak kurang dari seribu lima ratus email masuk dan masih terus bertambah hanya dalam waktu kurang dari sepuluh jam.

Dengan panik Elliot menghapus iklan yang dibuatnya dini hari tadi, namun masih perlu tiga jam yang panjang untuk menghentikan datangnya email-email yang hampir memacetkan sistem email miliknya.

Wednesday, March 13, 2013

I WANT YOU TO STAY!!

Biarlah lagu STAY dari RIHANNA ini menjadi Soundtracknya "Lu Tu Musuh GW Cong!" 



All along it was a fever
A cold sweat hot-headed believer
I threw my hands in the air I said show me something
He said, if you dare come a little closer

Round and around and around and around we go
Ohhh now tell me now tell me now tell me now you know

Not really sure how to feel about it
Something in the way you move
Makes me feel like I can't live without you

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 15



Aku akhirnya bolos kuliah, Edo mengantarkanku ke kos untuk mengambil barang-barangku sebelum kami pulang ke rumah mami. Tadi pagi aku bertemu dengan orang tua Edo, mereka memang tidak banyak bicara, terlihat sekali hubungan yang begitu buruk di antara mereka. Bahkan om Victor segera pergi setelah melihat kami keluar dari kamar Edo. Edo tidak banyak berbicara pada papanya, mereka bahkan tidak saling menyapa, jelas sekali hubungan ayah anak ini sangat buruk. Tante Nancy, istri om Victor, maminya Edo, wanita yang kutaksir berusia lima puluh tahun ini hanya duduk seharian di depan televisi, dia memang tersenyum padaku, namun hanya seperti itu. Dia juga tidak banyak bicara, Edo mengecup pipi maminya sebelum kami pergi.

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 14



Meskipun saat ini aku baru masuk ke semester lima kuliahku dan belum pernah mendapatkan tugas on the job training ke hotel-hotel, namun seorang teman sekelasku menawarkan pekerjaan part time dengan upah yang cukup menggiurkan. Dua ratus ribu untuk satu hari penuh, dari pagi pukul tujuh sampai malam pukul sepuluh. Memang gaji di dunia pariwisata tidak sebesar gaji pegawai negeri, namun bonus dan service yang menjanjikan bisa kami dapatkan bila tingkat occupancy hotel cukup tinggi.

Seperti pagi ini, pukul enam lewat lima belas Edo sudah mengetuk pintu kamarku, dia dengan senyum yang selalu terpasang diwajahnya menyambutku saat kubukakan pintu kamar kosku. Sudah dua minggu lebih kami jalan lagi, bahkan hubunganku dengan Neli sudah kembali seperti semula, semua salah paham yang pernah terjadi telah kami lupakan. Neli juga mulai PDKT dengan kakak kelas kami, teman Edo.

Catching Angel's Heart - Chapter 8



David mendesakkan tubuhnya pada tubuh Evellyn, mengurung tubuh wanita itu diantara tubuhnya dan lemari pakaian. Terdapat sebuah cermin lebar yang memperlihatkan tubuh mereka yang sedang bergumul, tangan David bergerak menelusuri kulit dibalik gaun tidur Evellyn, tangannya telah menelusup masuk dari bawah dan mengangkat gaun itu tinggi-tinggi hingga belahan pantat Evellyn terlihat menempel pada kaca.

Catching Angel's Heart - Chapter 7



Selama beberapa bulan lamanya David mengelola perusahaan kapal pesiar milik keluarganya, banyak hal yang telah diperbaikinya yang hampir setiap keputusannya ditentang oleh ayahnya. Michael Steel selalu memandang negatif ide-ide awal yang dicetuskan oleh David di depan dewan direksi. Terkadang David harus mengenyahkan rasa malunya dan mengangkat kepalanya dengan angkuh meski dalam hati dia sungguh tersiksa dijatuhkan oleh ayahnya.

Tuesday, March 12, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 13



Nampaknya aku belum terlalu sanggup melihat kebahagiaan mereka, kusembunyikan wajahku di balik pintu, tidak sebelum mereka sempat melihatku. Kudengar suara teriakan Neli memanggilku senang.

“Neng!!!!!” teriaknya sebelum berlari menuju pintu kamarku yang masih terbuka.