"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, March 22, 2013

In The Dark I'm Watching You - SHORT STORY



Hans Bernhard Otto Van Aufgard memandang bengis pada laporan yang baru saja diserahkan oleh kepala pengawalnya. Laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun dalam baju resmi rangkap tiga berwarna hitam gelap miliknya begitu sepadan dengan warna rambutnya yang gelap, segelap warna bola mata abu-abunya yang berkabut, marah dan tak terima dengan berita yang sedang dibacanya.

“Tak mungkin!! Dia tak boleh berhenti!! Kau dengar?? Dia tak boleh berhenti menulis!! Aku harus membuatnya menulis lagi..”

Dia berjalan mondar-mandir di lantai ruang bacanya yang megah, dipenuhi buku-buku tebal berbahasa asing dan terjemahan, menghisap cerutu ditangan lalu mulutnya berkomat-kamit meracau sejumlah rencana yang berderet-deret dalam kepalanya, seperti bagaimana biasanya bila dia sedang kalap.


“Apa yang harus aku lakukan? Apa.. apa...?? Memaksanya? Mengancamnya? Tidak.. tidak.. dia bisa melarikan diri dan melapor polisi.. Aku tidak bisa merusak namaku.. Lalu apaa??? Menculik keluarganya? Ah tidak!! Ide bodoh, dia tak akan bisa menulis dibawah tekanan seperti itu!! Lalu apa??? Sial!! Mengapa di saat segenting ini tak satupun akal bisa kupikirkan??” desisnya marah. Kepala pengawalnya hanya menunduk menunggu perintah, tak berani menyela apa yang sedang dipikirkan oleh tuannya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“Ini tak bisa terjadi, dia harus menulis lagi!! Petkov, kau culik penulis itu dan kurung dia di bastile, aku ingin ruangan itu disiapkan. Aku akan mengawasi dia bekerja. Dia harus menulis lagi.. bila tidak, aku akan membunuhnya” matanya melotot tajam pada pengawalnya, urat dahinya berdenyut-denyut dipenuhi emosi. Dia harus mendapat apa yang diinginkannya, hidup seorang penulis baginya hanyalah mainan, mainan yang bisa digunakannya untuk menghibur dirinya.

Hans membaca lagi file ditangannya, penulis yang dipujanya karena karya-karyanya yang mampu menyentuh relung hati terdalamnya memutuskan untuk mengambil masa hiatus di suatu desa terpencil agar mendapatkan ide baru untuk ceritanya, namun penulis itu telah menghilang selama satu tahun lebih. Hans tak bisa menerima hal itu, setahun baginya terlalu lama, sehari saja baginya sangat lama. Dia adalah pria penuh emosi dengan kesabaran setipis benang, dia bukanlah laki-laki penyabar. Emosinya yang gelap bisa meledak-ledak seketika dan malang bagi siapapun yang berada di dekatnya.

Tangan besinya telah berulang kali mengirim pelayan-pelayan rumahnya masuk keluar rumah sakit, namun tak ada satupun yang berani berhenti melayaninya, keluarga mereka telah ditawan dan diancam bila pelayan-pelayan itu berani mengundurkan diri. Petkov, kepala pengawalnya yang setia adalah algojo segala tindakan sadis dan kriminalnya, Hans Bernhard adalah seorang tokoh masyarakat yang begitu termashyur di muka publik namun menyimpan sejuta rahasia kelam dalam hidupnya yang hanya diketahui oleh orang-orang di dekatnya dan juga mereka yang telah beristirahat dalam kubur.

~~~~

Dia sedang berjalan di sepanjang jalan petak persawahan, mengumpulkan rumput ilalang demi membantu petani yang ditumpanginya tinggal selama dua bulan belakangan. Cassa De Na telah berkelana di seantero negeri mengunjungi pedesaan dan rumah-rumah masyarakat hanya untuk mendapatkan ilham untuk cerita terbarunya, namun malang baginya belum satupun ide muncul dalam kepalanya.

Keinginan untuk menulis pun telah menghilang dari kepalanya, kini dia lebih senang menghabiskan waktu membantu para petani dan masyarakat di desa memanen buah-buahan dan sayur mayur, sebelum kembali ke kota tempat tinggalnya sebulan lagi. Setelah itu barulah Cassa begitu dia disapa akan memutuskan jalan terbaik bagi hidupnya kelak, menulis atau mencari pekerjaan baru yang lebih aman untuk hidupnya.

Pekerjaan sebagai penulis bukanlah pilihan utamanya untuk mencari nafkah. Semenjak lulus kuliah, dia telah dengan gigih menaruh lamaran di setiap lowongan yang ada namun belum mendapat panggilan satupun, itupun karena keteledorannya menghilangkan handphone yang menggunakan nomer yang dipakainya untuk melamar pekerjaan. Cassa hanya menunggu hingga waktunya terbuang percuma, dia kemudian memutuskan untuk menorehkan penanya ke dalam kertas, menciptakan sebuah karya berdasarkan khayalan-khayalan yang datang di kala waktu senggangnya.

Kegigihannya membuahkan hasil, beberapa karya awalnya telah dicetak ke pasaran dan meraih respon yang cukup baik dari pembaca. Tak sedikit penggemar mengiriminya surat hingga hadiah sebagai apresiasi atas karya-karyanya. Setelah empat tahun menulis dengan menghasilkan tak kurang dari sepuluh buku, akhirnya Cassa menyerah dan memutuskan rehat hingga waktu yang tak diumumkannya. Di usianya yang ke dua puluh lima tahun, Cassa De Na meninggalkan ibu dan adiknya untuk pergi berpetualang dalam pencaharian ide,  yang takutnya tak berhasil.

“Ahh.. Aku gagal.. Aku rasa aku harus menyerah dan menerima nasibku, bahwa menulis bukanlah mata pencaharian yang kuinginkan. Lebih baik aku menjadi staf akunting di kantor, dengan gaji pasti dan bonus yang pasti, hari libur yang pasti, jadwal kerja yang pasti dan stres yang pasti.. ahh..” keluhnya disamping ibu petani yang tersenyum mendengar setiap keluh kesah Cassa semenjak pertama kali dia menginjakkan kaki dirumah itu.

“Jangan khawatir.. Kau akan tahu nanti setiba di kota, pasti akan ada jalan untukmu. Bersabarlah..” ibu itu kemudian meninggalkan Cassa duduk sendiri di atas parit memandang hamparan sawah yang masih dibajak oleh traktor dan hewan pembajak ketika empat orang berpakaian rapi menghampirinya.

“Anda yang bernama nona Cassa De Na?” tanya laki-laki botak berkacamata hitam menyilaukan, sinar mentari pagi memantulkan kacamata itu pada mata indah Cassa De Na. Sembari menutup matanya, dia mengangguk dan menanyakan maksud kedatangan mereka.

“Ya, saya sendiri. Ada apa ya, pak?” tanyanya.

Ke empat orang laki-laki itu kemudian saling mengangguk dan memberi kode untuk melakukan tugas mereka. Seorang di antaranya mengeluarkan sebuah sapu tangan kemudian menutup mulut dan hidung Cassa hingga wanita itu tertidur setelah meronta-ronta tanpa daya. Tubuhnya kemudian di masukkan ke dalam kain sarung hitam dan dibawa masuk ke dalam sebuah mobil van hitam yang meluncur kencang menuju arah perkotaan, meninggalkan sayur-mayur yang dipetiknya teronggok di parit sawah.

~~~~

“Lapor, Mr. Hans, target sudah diamankan, dia masih pingsan di dalam kamarnya. Kamar sudah dikunci sesuai dengan perintah awal. Saat dia sadar saya akan langsung menemuinya dan melakukan rencana berikutnya” Petkov membungkuk saat melapor pada tuannya. Hans sedang mengangkat kakinya di atas meja, ruang kerjanya yang gelap menyembunyikan wajahnya yang menatap tajam pada bawahannya. Senyum sinis terlihat sekilas di bibirnya, dia terlihat senang dengan hasil pekerjaan kepala pengawalnya.

Good job. Permainan baru di mulai, kau siapkan semuanya. Aku ingin dalam satu minggu dia sudah menulis!” perintahnya. Petkov pun mengundurkan diri dan meninggalkan Hans dalam imajinasinya sendiri dengan buku-buku novel karya Cassa De Na yang dipujanya bagaikan dewa.

“Kau akan menuliskan sebuah cerita untukku, sebuah cerita untuk Hans Bernhard Otto Van Der Aufgard” kemudian dia tertawa, tawa liciknya mampu membuat merinding pendengarnya yang menggema memenuhi ruangan pension tua bergaya belanda itu. Pension yang bagi masyarakat sekitar yang tinggal ratusan meter dari sana adalah pension angker dan berhantu karena seringnya terdengar suara tangisan dan teriakan menyayat hati dikala malam.

~~~~

Cassa mengijap-ngijapkan matanya kebingungan, kepalanya pusing dan tubuhnya lemah. Hal terakhir yang diingatnya hanyalah hamparan sawah dan laki-laki botak berkacamata menyilaukan. Lalu dia terbangun dalam kamar yang tak dikenalnya. Kamar luas persegi panjang dengan dinding aneh di salah satu sisinya, aneh karena sebuah lukisan panjang terpasang di dinding itu, lukisan yang tertanam pada tembok dan berbingkai kayu. Lukisan malaikat yang biasa dilihatnya di kaca-kaca jendela gereja dengan burung dara beterbangan, lalu awan.. peri-peri dan malaikat-malaikat lain. Cassa tak mengerti mengapa lukisan seperti itu ada di dalam kamar ini, tangannya hendak menyentuh kaca lukisan itu untuk meyakinkannya bahwa lukisan itu nyata, namun sesuatu menghalanginya. Sebuah ketukan di pintu menyadarkannya dari lukisan itu.

“Selamat siang, anda sudah bangun. Saya ingin menjelaskan beberapa hal pada anda, mohon silahkan duduk dan jangan banyak bertanya. Kita bisa menghemat waktu bila anda mau bekerja sama” kata Petkov pada Cassa De Na yang diikuti oleh empat orang laki-laki yang dikenalinya adalah orang-orang yang menculiknya sebelumnya.

Tanpa memperlihatkan betapa ciutnya nyalinya, Cassa duduk patuh di kursi. Dia mengamati wajah-wajah penculiknya satu demi satu. Laki-laki botak yang pertama kali dilihatnya masih mengenakan kacamatanya, Cassa berpikir mungkin dia menyembunyikan sesuatu di dalam matanya. Kemudian tiga laki-laki kembar identik karena wajah mereka begitu mirip satu sama lain, kira-kira usia mereka awal tiga puluhan, bila menilik dari pakaian mereka, Cassa yakin laki-laki itu adalah gerombolan mafia yang ingin meminta uang tebusan dari keluarganya. Namun sayang, Cassa mencibir dalam hati, dia bukanlah orang kaya dan penculiknya tak akan mendapat uang sesenpun.

Lalu pandangannya beralih pada laki-laki di depannya, laki-laki yang tadi menyuruhnya untuk duduk, laki-laki keturunan asing, mereka semua bukanlah orang asli, mereka adalah orang campuran, tak heran wajah mereka terlihat eksotis dan tampan. Terutama laki-laki yang kini ikut duduk di depannya, yang sedang membuka sebuah map sebelum menyerahkan lembaran kertas itu padanya untuk dia baca.

“Bacalah, dan tanda tangani. Ini adalah kesempatan satu kali saja. Bila kau menolak maka kami akan menggunakan cara kekerasan, maka tak ada jalan lain selain menyetujuinya dan menandatangani surat-surat ini. Kau tak akan dirugikan. Tuanku akan membayarmu jauh lebih besar dari apa yang kau dapatkan dari penerbit buku itu, syaratnya hanya satu, kau harus membuat lanjutan serial terakhirmu, dan kau harus memulainya setelah menandatangani surat ini” Petkov mengatakannya tanpa kedip, mata tajamnya mengawasi ekspresi Cassa yang terguncang. Dia mengira akan diperas, meski kali ini dia juga diperas dengan cara yang berbeda.

“Tidak! Aku tak bisa, aku belum menemukan ide untuk melanjutkan cerita itu. Aku bahkan sudah berhenti menulis, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Aku tak bisa, kalian harus mencari orang lain. Aku hanya akan merusak cerita itu bila menulis dengan keadaan terpaksa” Cassa berusaha bangkit dari duduknya namun dua orang pengawal tadi telah mengurung kedua bahunya agar tak berdiri. Petkov melanjutkan ancamannya yang membuat Cassa tak memiliki pilihan lain selain menyetujui perintah surat itu.

“Kau tanda tangan atau keluargamu binasa” ancamnya dingin. Petkov adalah perpanjangan dari Hans, dan mereka kurang lebih sama dalam tingkat kekejamannya.

Cassa bergidik mendengar nada bicara Petkov, dalam hatinya dia menyayangkan laki-laki setampan itu memiliki profesi kejam dan sinar mata dingin yang begitu kosong, seolah tak ada nyawa di dalam sana. Cassa penasaran dengan orang yang membayar laki-laki ini, lebih kejamkah dia hingga mampu memeras orang lain menggunakan nyawa manusia? Cassa merinding menyadari telah masuk dalam lingkaran permainan seorang psycho, maniak sadis yang tak memiliki rasa iba pada orang lain.

~~~~

Hans Bernhard mengamati kaca tembus pandang yang terpampang di depannya, sebuah meja dengan sofa telah disiapkan di depan kaca itu untuknya, kakinya seperti biasa naik di atas meja, sementara ditangannya sebuah gelas berisi minuman beralkohol nampak dimainkan dengan diputar-putar yang menimbulkan bunyi dari es yang beradu.

“Kenapa dia tak bergerak sama sekali? Apa dia sudah menulis?” tanyanya pada Petkov.

Petkov mendekat pada tuannya, meminta maaf dan pergi memeriksa Cassa yang duduk terpaku pada layar laptop, menatap kosong pada kertas file yang juga kosong seperti pikirannya saat ini.

“Kau harus memberikanku sesuatu, bila tidak kau tak ada gunanya” desis Hans marah. Selama satu minggu dia telah keluar masuk ruangan itu untuk mengawasi Cassa dari kaca tembus pandang yang menempel pada dinding kamar wanita itu. Kaca tembus pandang dari satu pihak yang tersamarkan oleh lukisan malaikat dari dalam kamar Cassa. Sepanjang malam Hans memperhatikan bagaimana Cassa memutar tubuhnya, bergerak mondar-mandir, memandang ke luar jendela yang terkunci, menangis sesenggukan, mengamati setiap perubahan pada wanita itu tanpa bersuara.

Hans menyadari kecantikan penulis pujaannya, namun tak pernah dia membayangkan penulis pujaannya adalah seorang wanita dewasa yang begitu menawan. Sebelumnya dia hanya tertarik pada hasil karya tulisannya namun kini Hans perlahan-lahan mengalihkan obsesinya pada penulis itu sendiri.

Sebelumnya Hans selalu ditemani Petkov saat mengawasi Cassa, kini Hans telah mengusir laki-laki itu agar dapat mengawasi Cassa seorang diri. Dia tak ingin ada yang mengganggunya saat mengagumi wanita pujaan hatinya ini.

Sudah satu bulan Cassa berada dalam kurungan Hans dan pengawalnya, disebuah pension tua yang jauh dari keramaian, tak ada gunanya Cassa melarikan diri, dia hanya bisa menulis meskipun hasil tulisannya tak sesuai dengan keinginannya, namun bagi Hans tulisan apapun yang dihasilkan oleh Cassa adalah karya maestro yang dipujanya, yang akan dibingkai dengan pigura emas olehnya. Sudah seperempat bagian buku yang berhasil disusun oleh Cassa, sedikit tidaknya memberikan ketenangan hati bagi jiwa panas Hans.

Setiap malam laki-laki itu kini ditemani oleh seorang wanita yang datang karena perintahnya, untuk melayani hasrat laki-lakinya. Hans terangsang mengawasi Cassa sepanjang hari, melihat lekuk tubuh wanita itu dengan leluasa dan sesekali menangkap pemandangan daerah intimnya yang terkadang dilihatnya tanpa sengaja. Hans kemudian akan menyetubuhi wanita-wanita yang dibawakan untuknya dengan kasar, seperti bagaimana dia menyetubuhi wanita-wanitanya sebelumnya. Suara persetubuhan mereka akan terdengar hingga ke bilik kamar Cassa dan membuyarkan konsentrasi penulis itu hingga tingkat terparah.

Cassa akan berjalan mondar mandir dengan gelisah, sementara Hans menyetubuhi tubuh wanita dibawahnya sembari menatap intens pada tubuh Cassa, dia membayangkan tubuh Cassa-lah yang sedang disetubuhinya dalam setiap persetubuhannya dengan wanita-wanita itu.

~~~~

Suatu siang seorang pelayan tanpa sengaja beramah-ramah pada Cassa, pelayan pria yang mencoba membantu Cassa dengan laptopnya yang tidak dapat menyala karena aliran listrik yang terputus. Hans yang melihat kedekatan mereka dibakar api cemburu, pelayan yang membantu Cassa dihajarnya hingga sekarat dan tak sadarkan diri hingga berbulan-bulan lamanya. Bahkan tangannya yang menghajar pelayan itu terluka dan tulang jarinya remuk sebuah karena kerasnya hantaman tinjunya pada rahang sang pelayan malang.

Hans melakukannya di halaman belakang pension itu, di depan seluruh pelayan yang dimilikinya. Memberikan mereka peringatan bila berani menentang perintahnya.

“Bila kalian berani melakukan apa yang bukan tugas kalian, maka nasib kalian akan seperti dia. Mengerti?!” bentaknya pada para pelayan yang menggigil ketakutan.

Tanpa disadarinya, Cassa telah mengirimkan lima orang pelayan tak berdosa ke dalam terkaman sadis Hans yang selalu menghajar mereka dengan membabi buta. Dia tak pernah membunuh orang-orang itu, baginya kesakitan fisik lebih menyakitkan daripada hilangnya nyawa mereka. Dengan kematian, penderitaan yang mereka alami akan berakhir dengan cepat. Hans menyukai rasa sakit yang di dapatnya setiap menghantam tubuh-tubuh pelayannya sejak dia kecil. Ayahnya telah mengajarinya cara menjadi seorang laki-laki sadis tanpa ampun. Tak pernah sekalipun dia mengampuni musuhnya.

Dua bulan memandangi Cassa tanpa mampu berdekatan dengannya meningkatkan amarah Hans, dia semakin sering mengamuk dan menghukum bawahan dan pelayan-pelayannya. Dia tak pernah menyentuh lagi wanita-wanita yang Petkov kirimkan untuknya, Hans hanya menginginkan Cassa, dan dia menginginkannya sekarang. Sudah dua bulan dia bertahan demi sebuah buku cerita. Sekarang dia lebih memilih untuk memiliki Cassa daripada buku cerita yang akan dilupakannya setelah membacanya berkali-kali. Hans menginginkan lebih dari sebuah cerita, Hans ingin membuat ceritanya sendiri dengan Cassa.

Dia pun menyamar menjadi seorang anak buah Petkov, menyamar menjadi pengawal yang bertugas menemani dan memenuhi semua kebutuhan Cassa, bahkan membantunya di kamar mandi bila wanita itu menginginkannya. Pertama Cassa mengerutkan dahinya ketika Petkov menjabarkan pekerjaan Hans untuknya, laki-laki itu mengenalkan Hans dengan nama Otto.

Meskipun Cassa merasa tak nyaman Otto berada satu ruangan dengannya, namun setelah larut dalam ceritanya, Cassa tak memperhatikan lagi siapa yang berada di dekatnya. Ketika dia beristirahat sejenak dari ketikannya, Cassa telah menemukan Otto duduk di sampingnya, memandangnya tanpa kedip, tanpa senyum dan tanpa suara. Membuat Cassa salah tingkah dengan perbuatannya.

“Ka..kau tak apa-apa?” tanya Cassa pada Hans yang menyamar sebagai Otto.

“Apa maksudmu?” Hans tak mengerti maksud Cassa, dia terlalu larut dalam pikirannya mengenai wanita ini.

Cassa mengamati wajah Otto, menemukan gurat kekakuan dalam wajah laki-laki itu, mencerminkan bagaimana kerasnya Otto pada dirinya dan pada lingkungannya. Cassa dapat menebak Otto adalah laki-laki pendiam dengan banyak hal yang terpaksa harus dipendamnya karena tak ada orang yang bisa diajaknya berbagi. Lama kelamaan masalah-masalah yang mengendap dalam hatinya semakin menumpuk hingga akhirnya memunculkan sebuah pribadi meledak-ledak seperti Otto, meskipun dia tak banyak bicara saat berada disampingnya.

“Maksudku, aku melihatmu duduk disini, seolah pikiranmu ada di luar sana. Apakah kau belum mendapat jatah liburmu?” tanya Cassa sopan, dia hanya ingin berteman dengan seseorang disini.

Dua bulan berada dalam kamar ini hanya dengan satu hari libur dan beberapa jam refreshing memandangi kebun belakang yang diawasi oleh sepuluh orang pengawal bukanlah refreshing yang dia inginkan. Cassa juga ingin memiliki teman bicara yang diajaknya bertukar pikiran mengenai apapun yang sedang ingin dibicarakannya.

“Tidak, aku tidak memiliki hari libur. Setiap hari adalah hari bekerja untukku. Liburan hanya untuk orang pemalas, aku tak suka hari libur” jawab Hans ketus. Meskipun dia bertekad untuk menyamar, Hans tak dapat menyamarkan sifat arogan nya di depan Cassa.

“Apakah kau tidak memiliki keluarga yang ingin kau temui? Kalau aku.. aku merindukan ibu dan adikku.. ahh.. apa yang sedang mereka lakukan.. apakah mereka baik-baik saja.. apakah mereka menanyakan kabarku..?” Cassa merenung sedih memikirkan keluarganya, dia hanya bisa berharap keluarganya akan baik-baik saja dan tak disentuh oleh siapapun dalang penculikannya.

Sesaat Hans terlihat memikirkan perkataan Cassa sebelum pertanyaannya mengejutkan wanita itu.

“Apa kau ingin keluargamu dibawa kesini juga?” tanya Hans tanpa melihat ekspresi ketakutan di wajah Cassa.

“Tidak.. tidak.. Jangan. Kau.. jangan bawa keluargaku kesini. Aku tak ingin membahayakan nyawa mereka. Siapapun penculikku ini, dia adalah orang gila. Orang gila dengan kelainan aneh, maniak, psycho.. Aku tak ingin dia menyentuhku, apalagi keluargaku. Jangan pernah mengatakan hal itu atau aku akan berhenti menulis, bukan itu kesepakatan awal” racau Cassa panik. Dia menyesal telah mengungkit tentang keluarganya di depan Otto, sekarang dia bisa membahayakan nyawa keluarganya juga.

Hans merasa tersinggung karena dianggap sebagai seorang psycho gila oleh Cassa, namun dia tak berkata apa-apa. Dia kemudian keluar dari kamar itu dan berhenti di pintu sebelum meninggalkan beberapa kalimat untuk Cassa.

“Kau belum tahu segila apa dia, asal kau tahu.. Dia menginginkanmu, dan dia akan mendapatkanmu. Orang gila itu akan memilikimu” lalu dia pergi, tak pernah kembali lagi selama satu bulan penuh. Hans mengawasi Cassa dibalik dinding kaca tembus pandang itu, menatap marah pada wanita yang menghinanya sebagai seorang psycho.

“Wanita sialan!!” teriaknya marah sembari melemparkan gelas minumannya pada kaca tebal itu.

Hans tak dapat menahan hasratnya pada Cassa, dia pun memerintahkan untuk membius wanita itu hingga dia tertidur. Lalu Hans akan berbaring disampingnya, mengamati tubuh Cassa, mencumbunya, memuaskan hasratnya akan wanita itu, namun tak lebih. Hans tak ingin melakukannya dengan wanita yang pingsan, dia hanya menyentuh tubuh Cassa dari balik pakaian yang masih membungkus tubuhnya. Tangannya akan mengurai rambut halus Cassa, merangkai helai demi helai dalam jari tangannya, mengagumi alis dan bulu mata lentik wanita itu, menelusuri sudut bibir, hidung dan pipinya, kemudian mengecupnya pelan penuh kerinduan.

“Aku akan memilikimu, tapi aku tak akan menggunakan cara seorang maniak. Aku akan membuatmu jatuh ke dalam pelukanku.. dengan pasrah..” lalu Hans akan memeluk tubuh Cassa sebelum meninggalkan wanita itu terbangun keesokan paginya dengan kepala pening.

~~~~

Otto kembali hadir menemani Cassa, semakin hari dia semakin hangat. Cassa mempengaruhinya dengan humor yang selalu di lemparkannya pada laki-laki itu, perlahan-lahan tembok dingin yang membatasi mereka mulai terkikis, topeng es yang menutupi kedok Hans selama ini mulai mencair. Mereka kini bisa duduk berdua dengan begitu dekat dan Cassa merasa mampu mencurahkan isi hatinya pada laki-laki itu. Mereka dengan caranya sendiri telah saling jatuh cinta. Cinta penuh pengharapan pada Cassa dan cinta penuh obsesi pada Hans.

Sore itu mereka sedang duduk berdua membahas siapa penculik gila maniak yang menyukai ide menculik seorang penulis dan memaksanya melanjutkan buku yang bahkan belum terpikir oleh penulisnya sendiri.

“Aku tak ingin membuat penculikan ini sebagai pembenaran atas perbuatan penculik gila itu, tapi aku rasa aku harus berterimakasih padanya, karena dia telah menumbuhkan kembali minat menulisku. Mungkin setelah dia melepaskanku, seperti janjinya, setelah aku menyelesaikan buku ini, aku akan menulis lagi.. Aku akhirnya mengetahui jalan mana yang akan aku pilih nantinya untuk hidupku” Cassa menumpu dagunya dengan kedua tangan. Sedang Hans sebagai Otto tersenyum masam menyadari dilema yang mulai menguasai hatinya, antara mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya dan menyembunyikan kejahatannya dari Cassa. Bahkan Hans mulai bisa melemparkan lelucon sambil lalu, dia juga tak pernah menghajar pelayan dan anak buahnya lagi. Dia juga bisa tersenyum pada mereka, senyum pertama sejak usia Hans kanak-kanak.

“Bila dia mendengarnya, bagaimana caramu untuk berterima kasih pada penculik gilamu itu? Siapa tahu dia adalah penggemar beratmu. Sebuah tanda tangan saja tak akan cukup, kan?” tanya Hans masih dengan senyum masam.

Dengan setengah bercanda Cassa meladeni pertanyaan Hans. “Well.. Bila dia adalah laki-laki tua maka aku akan membuatkan sebuah buku yang akan aku dedikasikan untuknya bila aku keluar nanti, bila dia adalah seorang ibu-ibu yang aku yakin bukan, karena jarang sekali ada seorang wanita memiliki kekuasaan sebesar ini untuk menculik seseorang dan belum ketahuan oleh polisi sampai sekarang.. tapi tetap aku juga akan mendedikasikan sebuah karya untuknya...” jawab Cassa sambil menggantung sisa jawabannya.

“Lalu..??” tanya Hans penasaran akan lanjutan jawaban Cassa.

Cassa tersenyum pada Hans, senang mendengar laki-laki itu tertarik dengan jawabannya.

“Lalu.. bila dia adalah seorang laki-laki muda tampan, macho, rambut gelap dengan mata berkabut gelap seperti matamu.. mungkin aku akan memberikannya sebuah ciuman..” suara Cassa menghilang digantikan dengan bisikan ketika wajah mereka semakin dekat.

“Hanya sebuah ciuman, Cassa..? Tak ada yang lain?” tanya Hans serak, suaranya berat menahan hasrat yang telah membuncah dalam dadanya.

Ketika tubuh mereka semakin dekat, nafas mulai tersengal-sengal, bibir-bibir mulai menempel, bisikan jawaban dari Cassa-pun tak terdengar di telan oleh ciuman penuh hasrat Hans yang membawa mereka melayang ke alam dunia lain. Tubuh Cassa terangkat dengan mudah oleh kedua tangan kokoh Hans yang membaringkannya di atas ranjang.

Dengan cekatan Hans membuka kancing-kancing kemejanya, melepaskan ikatan dasinya dan melemparkan kemeja itu teronggok di lantai, menindih tubuh pujaan hatinya dan memberikan ciuman paling lembut yang pernah dia berikan pada wanita.

“Aku menginginkanmu, Cassa.. Sejak dulu.. Aku menginginkanmu.. Ah..” desah Hans di telinga Cassa saat bibirnya mengecup daun telinga wanita itu.

Tangan Cassa memeluk leher Hans, merapatkan kepala laki-laki itu pada wajahnya, pada lehernya dan membelai punggung telanjangnya dengan lembut.

“Lakukan.. Otto.. Aku juga menginginkanmu..” bisik Cassa lemah.

Pupil Hans semakin berkabut dipenuhi hasrat, diapun mengangkat wajahnya, menyunggingkan senyum dan mencium bibir Cassa lagi.

“Panggil aku, Hans.. Otto nama tengahku, Hans adalah nama depanku.. Panggil aku Hans, Cassa.. Suara panggilanmu pada namaku membuatku semakin bergairah. Panggil namaku, Cassa.. Panggil namaku..”

Hans mengecup leher jenjang Cassa saat wanita itu membisikkan nama Hans berulang-ulang, dalam setiap desah nafasnya, dalam setiap lenguhan dan rintihannya ketika tubuh Hans bergerak di atas tubuhnya, menguasainya, memenuhinya, memuaskannya.

“Ahh.. Cassa.. Kau adalah milikku, hanya milikku..Ahh...” tubuh mereka menegang, bergetar dengan hebat dalam pelepasan mereka yang berbarengan. Air mata kebahagiaan mengalir dengan deras dari mata Cassa yang dicium lembut oleh Hans. Masih dengan posisi yang sama, Hans membisikkan permintaan maafnya pada wanita itu.

“Maafkan aku karena menyakitimu, aku merasa terhormat menjadi pria pertamamu, Cassa.. Aku mencintaimu..” lalu mereka berciuman, tubuh Hans bergerak lagi berirama. Mengantarkan mereka ke dalam surga sampai senja menjemput malam. Mereka pun tidur bergelung dalam selimut, berduaan tak ada yang mengganggu.

~~~~

“Mr. Hans, kita harus mengosongkan pension ini sekarang. Lawan anda yang telah kalah di proyek tender Belicout dengan licik mengirim orang kesini dan ingin menyerbu anda, anda harus menyelamatkan diri. Bantuan sedang menuju kesini tapi prioritas kami adalah menyelamatkan anda” seru Petkov pada Hans yang sedang menemani Cassa sebagai Otto tanpa sepengetahuan wanita itu.

Mereka sedang duduk-duduk di kebun belakang ketika beberapa buah mobil van hitam masuk menabrak pintu pagar dan mulai menembakkan rentetan senjata api pada pengawal-pengawal milik Hans yang langsung menghadang mereka.

Adegan tembak menembak tak terelakkan, bantuan untuk mereka masih lima menit lagi sebelum sampai di pension ini. Dengan panik Hans menarik tubuh Cassa yang ketakutan dan terjebak dalam baku tembak antara gembong mafia itu. Malang bagi Hans, tubuhnya terkena peluru yang menembus dadanya, seketika dia pun memuntahkan darah kental dari mulutnya.

Petkov kemudian menarik tubuh Hans menjauh dari sana, mafia musuh masih melancarkan tembakan membabi buta ke arah mereka. Sementara Hans tak mampu bergerak, kepalanya berada di atas pangkuan Cassa yang menangis dengan deras melihat keadaan Hans.

“Hans.. berbicaralah padaku.. Jangan tinggalkan aku, demi Tuhan.. Aku mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku.. Hans..” jerit Cassa pada Hans yang semakin banyak memuntahkan darah setiap kali dia mencoba untuk mengeluarkan suara.

Tangan mereka saling bertautan, Cassa dapat merasakan tangan Hans yang mulai terasa dingin dalam genggamannya, dia semakin menangis terisak, menyadari laki-laki ini semakin jauh darinya.

“Ca..cassa.. Ah.. Aku menci..ntaimu.. Maafkan aku.. Apapun yang terjadi.. Meski semuanya terasa palsu bagimu, tapi cintaku tak pernah palsu..” lalu tangan yang digenggamnya itu tak bergerak lagi. Hans telah pergi meninggalkannya, dia menghembuskan nafas terakhirnya di atas pangkuan wanita yang dicintainya, wanita yang mengenalkan cinta padanya, wanita yang mampu membuat seorang Hans merubah jalan pikirnya, wanita yang mampu merubah prinsip hidup seorang maniak gila bernama Hans. Mungkin mereka belum ditakdirkan untuk bersama.

Tak lama setelah kepergian Hans, air hujan membasahi tubuh sepasang kekasih ini seolah ikut menangis dengan perginya kekasih hatinya. Bala bantuan telah datang, mafia yang berulah telah dilumpuhkan, semua tubuh-tubuh yang berjatuhan pun telah dikumpulkan. Dengan histeris Cassa dipisahkan dari tubuh kekasihnya, dia bahkan belum sempat mencium bibir kekasihnya untuk yang terakhir kalinya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Dalam sedih dan penyesalan Cassa meninggalkan pension itu bersama dengan hilangnya hatinya yang sempat berbunga. Kematian Hans mempengaruhinya, sejak saat itu Cassa tak pernah menulis bukunya lagi, buku terakhirnya dia dedikasikan untuk laki-laki itu, pengawal pribadi miliknya, Hans Otto, hanya nama itu yang dikenalnya dari laki-laki itu. Laki-laki yang mengisi hidupnya selama empat bulan disekap dalam rumah pension tua milik seorang psycho maniak yang menjadi penggemar ceritanya.

Cassa kemudian kembali pada keluarganya, melamar pekerjaan sebagai staf akunting di salah satu perusahaan swasta di ibukota dan menjalani hidupnya tanpa semangat yang biasa dimilikinya dulu.


Kini Cassa adalah wanita lemah lembut yang tak banyak bicara, dia hanya berbicara bila seseorang memanggilnya atau mengajaknya berbicara, namun demikian dia adalah wanita lemah lembut yang rapuh. Semua orang mengiranya sebagai wanita rapuh yang akan hancur dengan sekali terpaan masalah, hakekatnya dia lebih kuat dari itu.  

68 comments:

  1. ini bisa di bilang sad ending kan huhuh karena hans nya harus meninggal padahal aku suka karakternya
    gomawo kak

    ReplyDelete
  2. mba shin kenapa sad ending hiks hiks

    ReplyDelete
  3. sedih bgt...
    coba hans gak ketembak *sob

    ReplyDelete
  4. sad ending.. tpi ksian bgt si cassa ga prnah tw spa sbenerny yg dicintainy.. hiks.. ckckck

    ReplyDelete
  5. di post juga.
    tapi kenapa sad ending.

    hikshiks

    ReplyDelete
  6. :'( sedih banget :(
    Keren mb shin
    Hehehe
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  7. Yaahhh sad ending... Cassa d tinggal han utk slmanya .;(

    Thx thx mb shin.^^

    ReplyDelete
  8. Sad ending hiks.hiks jangan 2 ini salah cerita reinkarnasi piter & eliza he.he. trims mb Shin;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah tadinya sih maunya masukin ke sono, tapi ntahlah belum kepikiran ahahhhaa

      Delete
  9. Akh kenapa hans metong.
    Dipanjangin critanya ini keknya bagus mbak,tapi jgn sad ending.Jangan ada yg metong :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan yg metong baru Piter doank hahuahauhuaa

      Delete
    2. Hans kan mati juga itu mbak.Metong dianya.Haah sewdih deh akika.

      Delete
    3. nah iya, makanya ditambahin ama hans biar gk piter sendirian doank wkwkwkkwkwkw.....

      Delete
  10. Uwahhhh sedihnya knp hans hrs mati hikssss kan cassa blm tau identitas aslinya huaaaaaaa (╥﹏╥)

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. pembaca yg
    psycho kepada
    penulis, jgn ditiru
    pemirsah!!!!
    Sayang sad
    ending... hidup
    menang ga selalu
    manis. I like this
    story...

    ReplyDelete
  13. pembaca yg psycho kepada penulis, jgn ditiru pemirsah!!!!
    Sayang sad ending... hidup menang ga selalu manis. I like this story...

    ReplyDelete
  14. Have i told you that you always have great story, sad or happy ending?

    Mba Shin, Short Story ato pun Chapter, sad ato pun heppy ending, ceritanya tetep KEREN.

    saya si pengen nya, ni cerita dibikin berchapter, kaya yg laen. tapi ini juga gapapa.

    apapun endingnya, yg penting Mba Shin author nya
    *korban iklan*

    Thank you so much, Mba Shin.
    Love ya, mmuach... :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. tengkyu sista,.. ur prize means a lot to me :D
      hahaha ya liat aja nanti ya, cerita ini belum kelar kok. aku rencananya bikin short story setiap scene nya dia ;) jd sekali baca kelar :biar gak ditagih2: wkwkkwk :teh sosro ya sist? lol:

      Delete
  15. aih aih.. Ternyta story ne di post.. wah g' sperti ending yg aq kira mba shin.. Tp tak apalah.. ttp suka.. Wlwpun si psyco Hans mati T.T

    Thanks mba shin :)

    ReplyDelete
  16. aih aih.. Ternyta story ne di post.. wah g' sperti ending yg aq kira mba shin.. Tp tak apalah.. ttp suka.. Wlwpun si psyco Hans mati T.T

    Thanks mba shin :)

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Oh akhirnya baru sempet baca n selesai diriku mabk Shin :D hahaha

    Ini kisah mengerikan, menyedihkan, mengharukan, berkarakter and menyatu jadi satu :))

    makasih mbak shin ... Keep writing :)) semangat .... ,!! OK OK

    Luph YU *_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha makasi cin pujianmu. mwah.. lap yu too... :pake serbet:

      Delete
  19. mbak shin lagi mau ganti suasana nih :)
    Tengahnya enak akhirnya nyesek mbak shin.. >_<


    But still love u ;)

    ReplyDelete
  20. Kerennnn ...ada gak cerita yg ceweknya jagoan hehehehehe kayanya asyik tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha jagoan kyk gmn nih??? jagoan neon? lol

      Delete
  21. menginspirasiku untuk menculikmu mba,,
    aku sekap di Pension,,pinjem pensionnya Hans boleh kali yah,,ijin sama Petkov,,,
    buat nulis si david sama si Liam
    *hohohohoho,,,devil laughs
    :D

    #meyke

    ReplyDelete
    Replies
    1. err.. ampyunn.. eike bukan lesbonggg... :kl hans yg nyulik mau aihhh:

      Delete
    2. hahahhaa, kan Hans udah dimatiin sama mbaaa

      oya, setujaaaa sm author's note,,kapanpun postingannya dinanti kok mba,,,

      Delete
    3. hahahhaahah author itu bagai dewa lho, dia bisa ngidupin n matiin tokoh sesuka hatinya wkwkkwkw :lebay:

      Delete
  22. mksi mba shin..
    crta nya bgus... ,

    knpa hans mati,...??
    knpa hrus sad ending... ,??

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya karena aku maunya begetooo wkwkwkwkkw :peace:

      Delete
  23. mba shin...
    knp cassa nya ga dibikin hamil aja???
    jd walaupun dia kehilangan hans,,dia tetep punya sebagian dari diri nya hans :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kl dibikin gt ntr ceritanya dilupakan begitu saja. kl gini kan masih berbekas wkkwkwkw :asik:

      Delete
  24. keren mbk shin suka sama sad ending :) tp interaksi mereka kurang byk :) thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
  25. pertama kali baca cerita sad ending gini bikin hati nyilu dah. nga rela aja seorang Hans yang gagah berani gitu harus pergi disaat kisah cintanya baru bersemi. disaat hatinya mulai diperciki kelembutan hati.

    Cassa aja yang tadi mungkin benci bisa jatuh hati sama Hans walaupun dia tak tahu kalo Hans yang menculiknya, tapi secara tersirat Cassa sudah mengakui kalo Hans baik dengan dorongannya supaya Cassa mau menulis lg.

    kisah penggembar rahasia yang terobsesi terhadap karya penulis favorit yang berujung dengan kisah cinta yang manis, tapi berakhir duka.aku suka banget.bener manis dan menarik.

    sekali2 variasi cerita seperti ini bagus jg mba shin.walaupun ending tragis tapi tetap bisa bikin tersenyum.makasih ya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha sama2 sista.. makasi jg atas feed backnya, sungguh sesuatu ihihihhi :seneng bgt baca komen yg panjang2 meski jawabanku pendek2 ahhahaha

      Delete
  26. Awalnya kasian sama Cassa nya tp pas akhir2 kasian sama Hans nya..
    Karma kali ya Hansnya krena dulu suka jahat sama orang. ckck
    Ditunggu karya2 mbak yang selanjutnya (ga sabar) (^^)v

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa... makasi sist.... :D pengen aku bikin lanjutannya ini, cuman belum sempet2 ehhehe

      Delete
  27. Hikssss....
    RIP HANS OTTO
    #ambiltisu

    ReplyDelete
  28. sebelumnya makasih ya mba shin .
    huwaaa :( *nangis seember* walau short story sumpah ngena bnget tau mba. cinta memang bisa melumpuhkan hati yang keras #bahh

    sukses terus buat mba shin, sehat yoo mba . semangaatttttt!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... makasi banyak sist :D u too.. sehat selalu :)

      Delete
  29. Replies
    1. :D makasi udah dipuji sedih ehehhehe

      Delete
  30. yesterday, i found n' read a novel tht made me can't laugh all day # volcano erupts
    i don't know, this is disaster or a blessing, coz..it's first time, n' first experience read novel with sad ending. oh GOD! u changed my world w/ ur novels.
    thx so so much my beloved sista :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh..akupun memiliki pikiran dan rencana dengan Hans, menculik, menyekap, dan memaksa mba shin untuk melanjutkan cerita2nya hahahahha :D #it's kidding at all
      jngn biarkan otak dan imajinasi berlianmu terbuang sia2 yah mba shin :)
      GOD alwys blessing u ^^

      Delete
    2. haha makasi kembali sista.... makasi banyak pujiannya, eike terharu,...

      lol... kl dirimu cowok n secakep + tajir Hans, mgkn aku mau sist, wkkwkwkw....

      ehm.. tak akan terbuang sia2, cerita2 ini pernah disukai oleh pembacanya adalah sudah merupakan suatu anugerah terindah ynag bisa didapat oleh seorang penulis sist.

      kalaupun cerita2 buatanku tak mendapat apresiasi seperti yang diharapkan, setidaknya aku harus kembali pada tujuan awalku menulis, yaitu untuk 'mengabadikan' hasil imajinasi/khayalanku ke dalam tulisan.

      tulisan2 ini dibaca dan disenangi oleh orang lain saja sudah melebihi harapan awalku. jadi, apa yang harus aku harapkan lagi kalau harapan awal sudah terpenuhi? :wink:

      but, thanks for the pujian :D

      Delete
  31. Awalnya Hans emang gila. Maniak. Jahat! Tapi kesininya, aku padamu Hans <3

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.