"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, March 11, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 10



“Neng, dengerin dulu penjelasan gw.. Waktu itu gw gak sengaja ketemu Edo, terus kita makan bareng, gak ada apa-apa kok” Neli berusaha menyamakan langkahnya dengan langkahku. Dua minggu belakangan aku selalu menghindarinya, bahkan pintu kamar kosku yang biasanya kubuka lebar-lebar kini tertutup rapat dan terkunci. Meski Neli menggedor-gedor pintuku tak pernah kubuka lagi untuknya.

Kuhentikan langkahku hanya agar Neli tidak mengikutiku lagi, kami sedang berada di halaman kampus dan kicauan Neli menarik perhatian banyak mahasiswa lain, aku tidak ingin menjadi bahan perbincangan mahasiswa-mahasiswa yang senang bergosip ini.


“Dalam menu isi pegang-pegangan dan cium-ciuman tangan ya, Nel? Udah deh, kalau kalian memang pengen jalan silahkan, aku gak akan ngehalangin kok, cuman sekarang aku lagi memang gak pengen ketemu dulu sama kalian. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Rasanya masih sakit banget sahabat dan mantan pacarku ngelakuin ini dibelakangku. Jadi tolong Nel.. Tolong kasi aku waktu, aku belum bisa berbicara dengan kalian lagi untuk sementara waktu. Titip salamku sama Edo, bilangin dia gak usah repot-repot kirim sms atau telphone-telphone lagi, karena nomer handphoneku akan aku ganti”

Kutinggalkan Neli mematung ditempat terakhir aku melihatnya, bila aku tidak segera pergi dari sini air mataku akan meleleh. Dan Edo telah menungguku di parkiran motor, dia dengan jas hitam kampus, dasi yang sedikit miring dan wajah letih berantakan menungguku. Saat melihatku menghampiri parkiran, Edo setengah berlari mencapaiku.

“Neng, tolong dengerin gw dulu. Neng.. Please..” kuputar tubuhku masuk ke dalam gedung, tapi Edo masih juga mengikutiku.

Apa sih maunya setelah menyakiti hatiku dan kini berusaha mengejar-ngejarku lagi? Tidak cukupkah hanya satu perempuan bagi laki-laki didunia ini? Bahkan Edo yang memiliki keluarga broken home pun merasa satu pacar tidaklah cukup untuknya, padahal dia belum pernah menciumku!! Bukannya aku minta dicium, tapi seolah-olah dia memacariku hanya untuk.. entahlah untuk apa, aku bingung memikirkannya.

“Kamu mau ngomong apalagi sih, Do? Semuanya udah jelas, udah deh. Kita udah putus, kamu bebas pacaran sama siapa aja, ndak usah ganggu aku lagi” jawabku ketus. Tapi Edo menarik tanganku, memaksaku berhenti ditengah-tengah koridor ruangan kelas bagian MKD, Manajemen Kantor Depan.

“Neng! Tidak, kita belum putus. Gw gak terima lu putusin gw sebelah pihak gitu, lu masih pacar gw, Neng. Sampai kapanpun lu itu pacar gw!”

Kutarik tanganku dari tangan Edo dan melanjutkan langkahku, kini turun tangga, aku akan berputar sehingga bisa bersembunyi dan melarikan diri menuju parkiran, menuju tempat motorku diparkir dan pulang ke kamar kos, lalu aku bisa pulang kerumah mami dan tak bertemu dengan dua orang ini lagi hingga sebulan kemudian.

Ujian akhir semester telah selesai, liburan sebulan nampaknya waktu yang cukup untuk memulihkan perasaanku, dibantu oleh Liam si bajingan itu. Aku telah menerima tawaran laki-laki itu, namun selama dua minggu ini dia tidak bersikap sebagai seorang pacar sama sekali. Kami tidak pernah bertemu, kami tidak pernah berkirim-kirim sms, dia juga tidak pernah menelphoneku dan aku tidak ingin memulai menelphonenya. Huh!! Mungkin dia sudah lupa dengan tawarannya.

Tapi alangkah terkejutnya aku saat Liam telah menunggu di depan kamar kosku, dengan baju kaos polo santai, celana jin hitam pendek dan sandal jepit?

“Kenapa kamu ada disini?” tanyaku padanya setelah memarkir motorku di garasi kos.

“Aku ingin menjemputmu, ini hari terakhir kau kuliah kan? Sebulan kemudian baru kuliah lagi, kan?” tanyanya. Tahu dari mana dia? Up to date sekali, aku saja baru tahu tadi siang kalau liburannya cuma sebulan dan bukan tiga bulan seperti perkiraanku.

Liam mengangkat masuk tas-tasku ke dalam mobilnya, sebuah CRV hitam mengkilap, biasanya dia selalu berpakaian rapi, tumben hari ini dia hanya memakai celana pendek, tidak seperti biasa. Saat aku menutup pintu kamar kosku, Edo baru saja memarkir mobilnya di depan pintu gerbang kos, mobil CRV milik Liam memenuhi halaman kos sehingga Edo terpaksa memarkir mobilnya diluar. Dia keluar dengan tergesa-gesa, menghampiriku.

“Neng, gw cari lu di kampus, ternyata lu sudah pulang. Dengerin gw dulu, Neng. Lu cuma salah paham, gw sudah denger dari Neli, bukan seperti yang lu bayangin, Neng” wajah Edo memelas, dia nampak bersungguh-sungguh.

Tapi apa yang sudah kulihat, dia menciumi tangan Neli, apakah itu hanya salah paham? Bahkan dia tidak berusaha menjelaskan padaku saat Liam menanyakan status hubungan kami, dia malah pergi ngeloyor seperti pengecut, dan sekarang dia memohon-mohon agar aku mendengarkannya? Bukankah ini ironis? Nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang ingin dia katakan coba?

Liam yang baru saja menutup pintu bagasi mobil mendekati kami, mengalungkan lengannya dengan lancang di bahuku.

“Kenapa, Do? Bukannya kalian sudah putus? Sekarang Eneng, sudah jadi pacarku. Aku harap kau tidak mengganggunya lagi” lalu si Liam berengsek itu memastikan kata-katanya dengan mencium bibirku di depan mata Edo yang membelalak menyaksikan pemandangan di depannya.

Mataku tak kalah membelalaknya, tak menyangka Liam akan berbuat sejauh ini mendalami perannya. Kulihat raut muka Edo, dia terlihat terluka, dan kalah.. Apa yang dia harapkan? Bukankah rasanya memang sakit saat melihat orang yang kau sukai lebih memilih orang lain di atas dirimu? Berbohong padamu dan menghindarimu? Semoga kamu sadar, Do. Bahwa perselingkuhan itu tidak pernah berbuah manis, akan banyak sekali orang lain yang menderita oleh karena perbuatanmu, bukan hanya pasanganmu, tapi juga dirimu.. itupun bila kamu masih punya hati.

Saat Liam melepaskan ciumannya dari bibirku, mobil Edo telah menggerung dengan kencang di jalanan. Suara musik disko memekakan telinga terdengar meski mobil BMW biru itu sudah melengang di kejauhan.

“Kamu tak perlu menciumiku agar dia percaya kalau kamu adalah pacarku” sungutku marah. Liam hanya mencibir sambil tertawa cengengesan, tak sedikit pun dia merasa bersalah sementara hatiku ikut sedih melihat wajah Edo yang terluka. Mungkinkah Edo memang tidak bersalah? Mungkinkah itu hanya kesalah pahaman?

Tapi mengapa begitu sakit saat mengetahui memang itu semua hanyalah kebohongan mereka, bahkan ulang tahunku yang ke dua puluh satu minggu depan ini akan kulewati lagi tanpa pacar. Mami.. Aku ingin menangis di pangkuanmu, nasibku begitu tragis. Meski rasa sukaku pada Edo belum sebesar yang aku inginkan tapi hatiku tetap sakit melihatnya pergi seperti itu. Semoga Edo tidak apa-apa, aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya. Bila dia mengebut dan.. dan.. ah tidak! Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Edo akan baik-baik saja, dia adalah tumpuan keluarganya, dia adalah laki-laki bertanggung jawab, dia tidak mungkin melakukan hal bodoh, iya kan?

Dalam perjalanan menuju rumah mami, aku dan Liam hanya diam saja. Bahkan dia tidak memutar musik untuk mengisi suasana kosong di dalam mobil. Hanya desah nafas kami yang terdengar, mataku mulai mengantuk dan akupun tertidur. Saat kubuka mataku, mobil sudah berhenti di dalam ruangan garasi yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Sudah sampai?” tanyaku pada Liam yang menghisap rokoknya dengan santai. Aku tidak tahu bila dia suka merokok, apa yang dia pikirkan dengan merokok di ruangan sempit ini?

Dia menghisap sekali lagi rokoknya dan mematikan rokok itu di asbak, kulihat sudah belasan puntung rokok memenuhi asbak itu. Tak seperti si Liam yang rapi, rupanya asbaknya tidak pernah dibersihkan, atau jangan-jangan dia menghabiskan belasan rokok itu sambil menungguku terbangun? Dia gila kalau begitu.

“Kita dimana?” tanyaku lagi ketika dia masih tidak menjawab pertanyaanku.

Liam keluar dari mobil, melangkah ke arah pintu mobil disebelahku dan membukakan pintu mobil untukku.

“Dirumahku” jawabnya pelan. Apa?!! Mengapa kami berada dirumahnya? Bukankah dia harus mengantarkanku pulang?? Lalu mengapa dia mengajakku kesini?? Siasat apalagi yang dia mainkan?

“Ayo turun, apa kau mau seharian di dalam sini?” tanya Liam galak. Kenapa sih? Sekarang dia menjadi galak.

Kutebar pandanganku pada rumahnya yang asri. Rumah bertingkat dua dengan halaman luas dan kebun yang terawat, pagar tembok setinggi kira-kira dua setengah meter yang memisahkan rumah ini dari lingkungan sekitarnya, lalu  bangunan rumah modern minimalis berwarna putih bersih, luas tanah rumah ini kuperkiraan tidak kurang dari enam are. Aku rasa secinta apapun papaku pada istri barunya, dia tidak akan sanggup membelikan adik istrinya rumah semewah ini. Lalu, apakah rumah ini milik Liam? Darimana dia mendapat uang untuk membeli rumah ini? Pekerjaannya dia apa sih?

“Ayo masuk dulu, aku harus mengambil beberapa barang yang tertinggal, atau kau lebih senang berada diluar sini?” tanya Liam menatapku tak sabar.

“Masuklah, aku akan disini menunggumu” jawabku tanpa menolehnya, mataku masih terbuai dengan pemandangan kebunnya yang asri, bunga-bungaan mekar dengan indahnya, beberapa pohon anggrek yang sedang berbunga dengan sehat menghiasi tembok dan pepohonan perambat menempel pada tembok itu, suasana rumah ini begitu sejuk. Angin sepoi-sepoi membuatku mengantuk.

Ditaman ini terdapat satu set meja dan kursi yang terbuat dari besi, akupun duduk disana sambil menunggu Liam. Dia lama sekali, apa yang dia lakukan di dalam sih?

Benar saja, tak lama kemudian gara-gara angin yang begitu sejuk akupun tertidur lagi. Saat terbangun Liam telah duduk disampingku, menopang kepalaku dengan pundaknya. Hari sudah petang dan dia tidak membangunkanku sama sekali??

“Sudah bangun?” tanyanya. Kukijap-kijapkan mataku, melihat kesekeliling dan matahari telah terganti oleh sinar bulan. Sudah pukul tujuh malam dan Liam sengaja membiarkanku tertidur diluaran sini. Gimana kalau aku masuk angin??

“A..Aku harus pulang, sudah malam, mami pasti khawatir” aku mencoba berdiri, tapi lengan Liam yang sedari tadi mengunci bahuku memaksaku untuk duduk kembali.

“Tenang saja, aku sudah menelphone ibumu. Aku katakan kau menginap dirumahku, dia sudah memberi izinnya” jawab Liam santai. Benarkah mami mengizinkanku? Apakah bila mami tahu laki-laki seperti apa Liam ini dia masih akan mengizinkanku menginap disini? Tidak!! Aku tidak akan menginap disini, aku akan pulang, dengan atau tanpa bantuan Liam.

“Minggir, aku mau pulang. Aku tidak sudi tinggal serumah denganmu!” kataku mencoba bangkit dan lepas dari pelukan lengan Liam. Bukannya mengendur, dia semakin mengetatkan pelukannya pada bahuku, mendesakan tubuhku pada tubuhnya.

“Aku tidak akan memangsamu, kau tidak usah takut” tapi aku tidak percaya pada kata-kata laki-laki mesum ini.

“Aku tidak perduli, aku mau pulang. Lepaskan! Atau aku akan berteriak agar seluruh tetanggamu berpikir kamu seorang kriminal” ancamku.

Liam tampak menimbang-nimbang kemungkinan terburuknya, tapi dia tidak perduli, tubuhku masih saja dikuncinya dengan kuat, senyum licik tersungging dibibirnya.

“Aku bersungguh-sungguh!!” teriakku keras.

“Coba saja kalau kau berani” sindirnya. Hidungku kembang kempis, aku ditantang oleh laki-laki hidung belang ini. Baiklah, kamu yang memintaku.

“AAAAAAAAAfff...” tuh kan, dia hanya menggertakku. Dia sebenarnya tidak berani padaku.

Teriakanku menghilang karena mulutku sudah di dekap oleh tangannya. Dia khawatir sembari melongok ke arah pintu gerbang rumahnya, menunggu bila ada tetangga yang cukup berbaik hati untuk mencari sumber suara teriakan barusan. Tapi kutunggu satu menit, dua menit hingga lima menit tak ada satu orang tetanggapun yang perduli. Tetangga apa ini? Mana solideritasnya?


Tubuhku diangkat dengan mudah oleh Liam, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido pinggangku di tariknya masuk kedalam rumah sementara mulutku masih dibekapnya. Perlawananku sia-sia, dia tidak juga melepaskan tangannya dari mulutku. Kini aku mulai panik, dia tidak akan melakukan hal-hal buruk padaku, kan? Aku sungguh ketakutan dan semakin ketakutan saat Liam membawaku masuk ke dalam sebuah kamar dalam rumahnya, kemudian pintu kamar itu ditutupnya dengan kakinya hingga terdengar suara pintu terbanting dengan keras. 



56 comments:

  1. Komen dulu bacanya setelahnya hahaa
    Makassih mbak shin... Hatimu bagaikan sang Dewi malam ehemmm

    ReplyDelete
  2. thanks cintaaaaaaa.......
    liammmmm kodokkkkkk tajirrr berubah prince diaaa yeahhh <3

    ReplyDelete
  3. mami kentang... Ahh... Tp bleh nebak g?aslinya edo g sli kn?dy pny rncna y ma neli bwt neng #sotoy ayam

    ReplyDelete
  4. Walah... todongan komen... boleh jga nih lama gak ada game....
    Bru baca rapelan si liam ma neng... agak beda ya dr yg lain :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya donk.. timbal balik. readers ngasi author komen, author ngasi readers postingan, adil kan? ;)

      Delete
  5. lanjut...nyumbang 1 suara qiqiqi

    "ila"

    ReplyDelete
  6. Auuuuu...itu kenapa liam suka memaksakan kehendak sih, neng juga mau2 aja...edo ama neli kok ga jelas gt sih knp mreka selingkuh...

    ReplyDelete
  7. Muach... Muach... M Shin... Lop u pull deh <3

    ReplyDelete
  8. makasih mb shin... cong liam kaya hagz hagz hagz..

    ah si eneng mau diapain?????

    ReplyDelete
  9. ahhhh cong ngebuat aq ketagihannnn.... lol
    lanjutkan mba shinnn...

    ReplyDelete
  10. Abis baca semakin penasaran, ayo mba Shin di posting lagi bab 11 nya :)
    Semangaaaat hehe

    ReplyDelete
  11. g' berani berasumsi skrng :/

    Next next next mba shin.. Ah penasaran akut ini!
    Mba shin mksih:*

    ReplyDelete
  12. lanjutin mbaaaaaaa! hehehehehe
    -fina

    ReplyDelete
  13. Udah ada aja, tadinya mau gantung edo dipohon taoge truz diksh ulet bulu tp ga jadi abiz baca ini he.he, Neng udah ga usah bingung pilih dokter liam aja lebih ök, mksh mb shin Q padamu;-)

    ReplyDelete
  14. Hahahahahahaaa....
    edo kalah ama liam...
    makanya jgn slingkuh edo...

    Eehh MBa Shin bukannya ni malam nyepi ya???
    Btw thanks rapelannya.
    lol*_*

    ReplyDelete
  15. Oh oh oh .. Akankah ada uhuk uhuknya hahaha

    Td kenapa aku ndak goreng kentang ya..? Cuma goreng naggggeeetttttt tok ,,, walah...

    Makasih mbak Shin Udah bikin hatiku campur aduk ala gado2 hahaa

    ReplyDelete
  16. Mbak shin.. Ayokk lanjutin aku jadi penarasan..
    Alasannya kakaknya liam nikah sama ayahnya eneng..
    Liam jadi pak dokter ya mbak shin.. Heheheh

    ReplyDelete
  17. Ahhh suka ma liammmm..ayo lanjutkan liaaammm :D

    ReplyDelete
  18. + 1 komen lagì ah ;))
    (Mudah2an bisa sampe 40 koment lg lol)

    ReplyDelete
  19. Waduh, gemez aku...
    Mbak Sin.... Favorit aku yang ini... Gurih-gurih gimana geto. Hehehe hehehe..

    ReplyDelete
  20. Haduuuhh G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ sabar bab 11 hot2nya,xixixixi
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  21. HAdeu.... gak sabar mereka jadian beneran. Love u. Gak sabar neh part 11 nya mba makasih

    ReplyDelete
  22. g sabar nunggu lanjutanya
    ~rida~

    ReplyDelete
  23. Wahahaha mba shin nantang nih :p

    ReplyDelete
  24. Kentaaaaannnnggggg :(

    ReplyDelete
  25. Tuh kan Liam so sweet bgt,,, curiga nih sbnr'a Liam sodara kandung'a Li2 bukan yah?? #sotoy markotoy :D ☺ Ђƺђƺ ☺ :D

    Mba shin matur nuwun yo,,,,

    Peluk2 mba shin....

    PS : bab selanjut'a HOT yah?? :D ☺ Ђƺђƺ ☺ :D

    ReplyDelete
  26. komen doeloe...lanjutkan mbak shin...kami padamu pokoke mbak shin...lophe u pull ko liam

    ReplyDelete
  27. mba shin....mnta lgi dnk. kentangggggg ne...

    ReplyDelete
  28. woow...makin ga sabar nunggu lanjutannya...adiktif nih cerita neng n liam. aku suka aku suka aku suka....

    ReplyDelete
  29. aaaaaaaaaa......kentang goreng mau bab 11 makasih mbk shin*kisss

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah udah 30.cepet aja nih. ayo lagi 10... :D

      Delete
  30. aaaaaaaaaa......kentang goreng mau bab 11 makasih mbk shin*kisss

    ReplyDelete
  31. Huaaaa,,,Liam koq jd bgtuuuhhh???
    Udh brp??udh brp??

    ReplyDelete
  32. Aku tambahin 1 lagi deh komennya
    *semoga sampe 40*

    ReplyDelete
  33. Nggak pernah komentar
    Di tunggu cong 11 mbak Shin
    'lia'

    ReplyDelete
  34. Mba Shin, mauuu lageee..;-);-)B-)B-)

    ReplyDelete
  35. Iktn komen..iktn komen..iktn komen
    Mau bab 11ny,, :P

    ReplyDelete
  36. wahh penasaran nich sis,,,

    ReplyDelete
  37. nyumbang aahhhh
    kak shin kpan si liam 'ngegolin' eneng??
    next chapt dunk,kentang nie
    hehehe

    ReplyDelete
  38. geeellllllaaaaaa......
    aku bingung nie nanti kalo LIam jadi sama si Neng....
    tapi aku senang Liam mau cium neng depan Edo...
    rasain loe!!! huh! :P

    btw, makasih ya mbak shin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru 38 ayo lagi 2 wkkwkwkw. sama2 sista :D

      Delete
  39. d todong trz untuk koment, mana kentang lgi. Dila loem ada akun ini... Tuing tuing tuing

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha anonimnya banyak hari ini. ehem.. ya sudah, cong 11 aku post ya ;) happy reading ajabuat semuanya

      Delete
  40. liam to the point bgt
    gak pake basa-basi langsung embat trus


    idamanku bgt :-D

    ReplyDelete
  41. Aku nyumbang 1 komen ya mba, suka banget ceritanya

    ReplyDelete
  42. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  43. aku mau komen biar chap 11 nongolllllll......hahaha

    ReplyDelete
  44. mbak shinnnnnn....bab 11-nya mana?????

    ReplyDelete
  45. makasi semua atas komennya, chapter 11 dah keluar tuh

    ReplyDelete
  46. Isi ceritanya makin buat penasaran, gk sabar nunggu yg ke 11, di tunggu mbak shin kelanjutan nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah keposting cin barusan, ciyus dehhh.. ihihihi

      Delete
  47. makasiiiihhhh mba shin...

    muaaaaacccchhhh

    ReplyDelete
  48. Ow mai GOD, ow mai GOD!! (sambil nyemil jamur crispy)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.