"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, March 13, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 14



Meskipun saat ini aku baru masuk ke semester lima kuliahku dan belum pernah mendapatkan tugas on the job training ke hotel-hotel, namun seorang teman sekelasku menawarkan pekerjaan part time dengan upah yang cukup menggiurkan. Dua ratus ribu untuk satu hari penuh, dari pagi pukul tujuh sampai malam pukul sepuluh. Memang gaji di dunia pariwisata tidak sebesar gaji pegawai negeri, namun bonus dan service yang menjanjikan bisa kami dapatkan bila tingkat occupancy hotel cukup tinggi.

Seperti pagi ini, pukul enam lewat lima belas Edo sudah mengetuk pintu kamarku, dia dengan senyum yang selalu terpasang diwajahnya menyambutku saat kubukakan pintu kamar kosku. Sudah dua minggu lebih kami jalan lagi, bahkan hubunganku dengan Neli sudah kembali seperti semula, semua salah paham yang pernah terjadi telah kami lupakan. Neli juga mulai PDKT dengan kakak kelas kami, teman Edo.


Edo mengantarkanku hingga pintu masuk depan hotel, dia berjanji akan menjemputku pukul sepuluh kurang dan memberikanku sebuah kecupan di pipi. Hanya sesekali Edo akan mencium bibirku, nampaknya dia masih sanggup bertahan, terkadang aku geli dibuatnya bila Edo menampakan wajah meringis menahan gairahnya. Dia lalu hanya akan menciumi keningku dan berbaring diatas ranjang menatap lekat-lekat pada langit-langit kamar. Begitulah Edo, dia manis sekali, kan? http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Sudah pukul sembilan pagi sekarang, persiapan acara tempat aku bekerja paruh waktu menjadi waitress telah final. Kami sedang bersiap-siap untuk membawa masuk makanan ringan untuk di letakan di meja ruang ball room tempat sebuah seminar diadakan. Ruangan itu dipenuhi orang-orang dengan pakaian formal dan berjas putih, nampak sesekali beberapa orang dengan jas putih berkibar akan keluar masuk ruangan dengan tergopoh-gopoh menyiapkan bahan-bahan presentasi mereka sebelum semua peserta seminar memenuhi ruangan ini.

Ruangan ballroom hotel ini bisa menampung seribu orang peserta seminar yang telah dilengkapi dengan sound system, vas bunga raksasa, papan-papan reklame dari pabrik obat, karangan bunga dengan tulisan ucapan selamat dan sukses, spanduk-spanduk dengan produk nama obat-obatan dan tak kalah papan dari gabus yang biasa dipasang saat pembukaan atau peresmian gedung, hotel dan sejenisnya. Sungguh seminar ini merupakan salah satu seminar terbesar yang diadakan dikota kami, begitulah yang diberitahukan oleh seniorku, dia pegawai tetap hotel ini.

Kini seminarnya sudah dimulai, kami pun sibuk mengisi ulang makanan dan minuman yang mulai berkurang. Saat-saat peserta seminar telah duduk kembali dikursinya, barulah kami dapat beristirahat sejenak melemaskan kaki yang mulai pegal. Seniorku bernama mbak Dewi, dia senang sekali berbicara dan mendiktekan perintah-perintah tanpa henti, namun demikian dia adalah pribadi yang menyenangkan. Mbak Dewi senang menjelaskan apa saja yang dirasanya perlu untuk dijelaskan, bahkan mungkin bila dia merasa langit biru tidak cocok ketika hatinya sedang mendung, mbak Dewi akan menjelaskan mengapa hal itu tidak cocok menurutnya.

Mbak Dewi mencoel lenganku, kali ini entah apa yang ingin dijelaskannya padaku lagi. Telingaku hampir sesak dengan informasi-informasi yang dijejalkannya sedari pagi. Dia tidak kelelahan berbicara rupanya meskipun wajahku sudah menunjukkan bagaimana bosannya aku mendengar penjelasannya, tapi kuusahakan sebuah senyuman miris diwajah untuknya.

“Neng, lihat deh..” katanya sambil menarik lengan bajuku.

“Ada apa sih, Mbak?” tanyaku bosan. Mataku mencari-cari ke arah yang dia tunjukan padaku.

Seorang laki-laki sedang berdiri di depan panggung, suaranya hampir tak terdengar meskipun sound system telah memperbesar suaranya hingga aku harus sedikit berteriak agar mbak Dewi mendengar pertanyaanku. Laki-laki itu dengan jubah putihnya yang berkibar sedang sibuk menjelaskan isi dari proyektor yang sedang ditayangkan di layar. Entah apa yang dia jelaskan, aku rasa seminar kali ini adalah acara rutin para dokter spesialis jantung untuk berkumpul dan membagi informasi tentang ilmu kedokteran terbaru dalam spesialisasi mereka.

“Tuh, lihat deh laki-laki di depan itu, kamu tahu dia siapa?” tanya mbak Dewi lagi.

Ya, mana aku tahu, memangnya aku dukun? Dengan sebal kucoba melirik lagi ke arah laki-laki itu, namun tubuhnya dihalangi oleh asistennya yang sibuk berdiri membawakan kertas-kertas yang dia perlukan untuk ditunjukan dalam proyektor. Wajahku merengut, tak sabar dengan informasi apapun yang ingin dijejalkan oleh mbak Dewi ke kepalaku lagi.

“Enggak tahu lah, Mbak. Emang mbak tahu?” tanyaku langsung, hanya agar dia segera menjelaskan apapun yang ingin dijelaskannya sedari tadi.

“Dia itu lho.. Direktur utama rumah sakit terbesar di kota kita, Neng. Tahu kan? Rumah sakit yang baru berdiri setahun yang lalu. Orangnya cakep, pinter, kaya, udah gitu masih muda. Masak baru umur awal tiga puluhan udah punya gelar doktor dan spesialis? Keren kan? Otaknya encer banget, bahkan lebih encer dari air” kekeh mbak Dewi.

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa takjubku mendengar penuturan mbak Dewi. Ada ya manusia sehebat itu? Pikirku. Meski aku hanyalah seorang calon mahasiswi fakultas kedokteran yang gagal, aku tahu untuk mendapatkan sebuah gelar sarjana kedokteran memerlukan waktu sedikitnya tujuh tahun. Belum lagi sekolah untuk meraih gelar spesialis, dan gelar doktor??? For sure?? Dan usianya baru tiga puluhan tahun?

Oh, tidak!! Pasti keluarga laki-laki itu sangat bangga padanya, istrinya pasti sangat senang memiliki suami seperti dirinya, bahkan mungkin istrinya juga adalah wanita yang pintar, berpendidikan tinggi. Terkadang mereka memang memilih untuk mencari pasangan yang sepadan dengan diri mereka, yah.. Begitulah dunia, kalau tidak sepadan tentu akan terjadi kesenjangan dalam hidup rumah tangga mereka. Apalagi kalau si istri lebih sukses, biasanya si suami akan minder dan itulah yang biasanya menjadi pemicu retaknya hubungan rumah tangga. Aku turut berbahagia untuk mereka, aku hanya bisa menatap iri dari kejauhan melihat kesuksesan orang lain dan berharap kesuksesan mereka memicuku untuk menjadi lebih baik lagi.

“Iya, Mbak. Hebat. Ada ya orang seperti itu? Aku kira hanya di ibukota aja orang-orang pintar berkumpul, rupanya di kota kecil seperti kota kita juga ada” jawabku sembari tersenyum lemah. Aku membayangkan seperti apa hidupku sekarang bila aku berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi fakultas kedokteran waktu itu. Mungkin saja aku juga bisa seperti laki-laki itu.

Dengan sudut mataku kulirik laki-laki itu yang kini turun dari podium dan kembali ke kursinya di bagian depan peserta seminar. Acara kemudian diambil alih lagi oleh moderator.

“Baiklah, berikan tepuk tangan yang meriah untuk bapak direktur karena telah membagi ilmu terbaru mengenai spesialisasi kita hari ini. Untuk diketahui bersama, bapak direktur baru saja kembali dari Amerika pagi ini, kita sungguh mendapat kehormatan karena beliau langsung menghadiri seminar ini sebelum pulang kerumah, bahkan beliau lebih memilih untuk menemui rekan-rekan sejawat daripada mungkin seorang terkasih yang sudah menunggu beliau selama sebulan lebih ini. Benar begitu kan pak direktur?” celoteh moderator yang mendapatkan sorakan dan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin yang memenuhi ruangan ballroom ini.

Sungguh lucu bagaimana moderator itu menggoda orang dengan status tinggi seperti direktur itu, aku hanya bisa ikut tertawa karena memang apa yang dikatakan oleh moderator itu ada benarnya. Pastilah wanita yang menunggu laki-laki itu merindukan dirinya, sebulan katanya? Waktu yang cukup lama untuk ditinggalkan oleh orang yang dicintai.

“Baik.. Baik.. Maafkan saya pak direktur, itu tadi hanya sekedar bercanda. Semoga tidak dimasukkan ke dalam hati. Begitulah hadirin rekan-rekan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, seminar dari bapak direktur kita yang terhormat. Berikan tepuk tangan sekali lagi untuk bapak direktur kita, Dr. dr. William Andreas Renatha, Sp.Jp.”

Dan tepuk tangan riuh pun kembali bergema di udara. Sungguh laki-laki ini begitu dihormati diruangan ini, benar-benar pria terhormat. Aku menghela nafasku, membayangkan gelar yang akan kuterima nanti saat jubah toga telah kupakai. Apa ya gelarku nanti? Hmm..

Part time job kali ini cukup membuatku kelelahan, kakiku pegal-pegal minta ampun. Untungnya besok sabtu, aku hanya kuliah setengah hari dan Edo akan mengantarkanku pulang ke rumah mami. Aku bisa beristirahat dalam perjalanan, Edo tidak akan keberatan meskipun aku tidak menemaninya mengobrol selama perjalanan. Ah.. Aku merindukan Edo.. Hatiku hangat bila mengingatnya, Edo.. laki-laki idamanku.

Edo telah menungguku di depan pintu keluar hotel, dia sedang duduk bersedekap di atas mobilnya. Dengan senyum khasnya, Edo memeluk tubuhku yang kelelahan.

“Aku bauk” ujarku lemah. Aku benar-benar kecapekan, bekerja dua belas jam lebih dalam sehari rasanya terlalu berat untuk pemula sepertiku. Tapi bayaran yang kudapat cukup banyak, dan yang terpenting aku mendapatkan sertifikat yang bisa kupakai nanti untuk melamar pekerjaan. Inilah keuntungannya mengikuti kerja paruh waktu seperti ini, semakin banyak sertifikat yang kumiliki artinya semakin banyak pula pengalaman kerjaku dan semakin besar pula peluangku untuk diterima untuk bekerja di hotel pilihanku nanti.

Edo hanya tersenyum sembari mencium pipiku meskipun kukatakan tubuhku bau, ya bau keringat dan anehnya Edo malah mengatakan aroma tubuhku seksi dan dia bergairah karenanya. Ah.. mami.. Edo mulai nakal, Mi..

“Lu udah makan, Neng? Apa kita mampir ke rumah makan dulu?” tanya Edo saat mobil meluncur pelan menuju kosku.

“Hoouaahhemm...” aku menguap, aku mengantuk. “Nggak usah, Do. Aku ngantuk banget, aku pengen cepet pulang trus tidur” jawabku. Mataku sudah lima watt, aku hampir tertidur dikursi, perjalanan dari hotel ke kos juga tidak sebentar. Semoga aku tidak ketiduran, aku tidak ingin Edo menganggapku hanya memanfaatkannya sebagai sopir meski kenyataannya memang demikian. Hehe.. Maafkan aku, Do.

Pukul enam pagi, aku terbangun di atas ranjang yang empuk. Seprai yang kutiduri pun berwarna putih bersih dan wangi. Ini bukan ranjangku, ranjangku memiliki seprai berwarna hijau, aku ingat karena baru pagi tadi aku menggantinya dengan yang baru. Lalu dimana aku berada sekarang?

Akupun bangkit dari tidurku, kaget. Ruangan ini belum pernah kulihat sebelumnya, ini dimanaaa?? Lalu kurasakan tubuhku ditarik untuk tidur lagi. Siapa??

“Tidur lagi, Neng.. Gw masih ngantuk” suara Edo!! Apa??!! Jadi aku ada dimana?? Kamar Edo? Ini menjelaskan mengapa dia berbaring disampingku. Dia bahkan bertelanjang dada, apakah kami..???

Kuperiksa pakaianku, masih utuh. Edo tidak melakukan apa-apa padaku, kan? Sebelum sempat mendapatkan jawabanku, Edo telah memeluk tubuhku, mencium bibirku mesra meskipun matanya masih terpejam.

“Jangan panik, gw gak akan buka mata kalau lu marah. Jangan marah ya, Neng. Gw liat lu tidur nyenyak banget, karena kos lu jauh, terpaksa gw bawa lu ke rumah gw, ehm.. Ini kamar gw, jadi gak akan ada yang ganggu kita disini” Edo masih belum juga membuka matanya.

“Gak apa-apa, Do. Aku gak marah kok. Tapi kita.. gak lakuin apa-apa, kan?” tanyaku bingung.

Edo membuka matanya, dia tersenyum lagi. “Selamat pagi, Cinta.. Enggak, kita gak lakuin apa-apa.. Belum...” kekehnya yang membuat pipiku merona merah.

“Lu cantik banget, Neng. Gw pengen setiap hari liatin lu seperti ini, diranjang gw. Setelah gw lulus, kita nikah ya, Neng? Lu bisa lanjutin kuliah lu, gw gak akan maksa lu buat hamil, setidaknya gak sampai lu lulus. Kalau lu gak keberatan, lu bisa kerja di hotel keluarga, malah lu bisa ngurus semuanya langsung kalau lu gak pusing duluan” kekehnya lagi.

Aku menahan nafasku demi mendengar ucapan Edo. Edo melamarku??? Mamiiii... Memang ada orang yang ngelamar di atas ranjang? Aku yakin penampilanku berantakan, kucel dan kumel, aku kan belum mandi sejak kemarin pagi. Bagaimana Edo bisa bilang aku cantik?? Duh mami, aku malu..

Seperti gadis remaja kututup wajahku, aku benar-benar malu. Aku tak tahu harus menjawab apa, bingung, senang, tapi.. aku juga sedih. Jauh disudut hatiku aku masih mengingat laki-laki itu, aku tidak mungkin bisa melupakannya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan bajingan berengsek itu? Dia telah mencuri hatiku dan aku tidak bisa memintanya kembali.

Edo membuka kedua tangan yang kupakai untuk menutupi wajahku darinya, didekatkannya wajah kami. Edo berbisik lembut, bisikannya membuat darahku berdesir. Ya, Tuhan.. Mengapa kisah cintaku begitu pelik.. Aku sungguh bimbang saat ini, apa yang harus aku lakukan? Tolonglah aku.. Berikan jawaban untukku..

“Neng.. Gw cinta lu. Wo ai ni. Aku cinta padamu. I love you.. Semua artinya sama. Semua menyatakan bahwa hati gw milik lu, Neng. Hanya elu. Will you marry me?”

Sekarang bagaimana aku harus menjawab pertanyaan ini? Bila aku menolak Edo, dia pasti berpikiran yang macam-macam. Tapi bila aku tidak menolaknya sekarang.. Aku takut.. Aku takut akan mengkhianatinya seperti dulu. Aku belum yakin dengan perasaanku, belum sepenuhnya. Karena aku tahu, rasa cintaku pada Edo belumlah seberapa dibandingkan rasa cintaku pada laki-laki berengsek itu. Aku menyukai Edo, sangat. Hatiku hangat saat bersamanya, tapi.. dengan laki-laki berengsek itu.. Hatiku sakit, hatiku begitu merindukannya. Rindu yang berbeda bila mengingat Edo. Tuhan, mengapa aku harus dihadapkan pada perasaan ini?

Liam.. Sebulan lebih sudah dia tidak mengabariku, bahkan setelah percintaan kami, dia tidak berniat untuk menghubungiku. Bahkan sebuah kabarpun tak ingin diberikannya. Bagaimana aku bisa berharap memiliki hubungan dengan laki-laki  seperti dirinya? Tapi mengapa hatiku selalu menginginkannya? Mengapa hatiku berteriak dan meronta ingin melepaskan diri dari pelukan Edo dan berlari pada pelukan Liam?


Dengan menyesal kuberikan jawaban yang paling aman pada Edo. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Dia kecewa, namun sekejap saja. Bibirnya kemudian masih tersenyum, meski hanya sebuah senyum miris, tapi dia mengerti. Edo sangat mengerti, bagaimana mungkin aku merasa perlu untuk berpikir dua kali untuk menjawab lamaran laki-laki dihadapanku ini? Edo begitu sempurna.. Tapi, mengapa sempurna saja tidak cukup untuk membuatku mencintainya?? 


107 comments:

  1. Aduuuuuh M Shin bikin jantungan aja :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. jantungan knp neng? ihihihi :semua cewek namanya neng, kl cowok cong: lol

      Delete
  2. Oh... Tidaaaak... M Shin betul2 deh... Jd bikin takut...
    Andreas???
    Udah 2 kali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. takut knp??? what's wrong with ANdreas name??

      Delete
    2. Wkwkwkwkkw...
      Andreas itu nama mantan.q
      M Shin... Jangan2 dukun ya ??? :3

      Delete
    3. wkwkwkkw enak aje... dedemit aku.. fitnah tuh.. lol

      Delete
  3. Huaaaaa,,,,
    kenapaaaaahhh Mba Shin??knapaaaahhh Edo hrs nglamar Neng??knapah Liam pk acra ngilang bwt blajar di Amrik sonooo???hukz..
    Neng g dbkin hmil ajja Mba Shin??biar Neng nkah sm Liam.. *maksa*
    Hehehe,,(⌒˛⌒),,mksh Mba Shiiinnn.. Mmuuaacchhhh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaa ya biar ada cerita donk vie... lol.. mwah... sama2 :D

      Delete
  4. udahhhh terima aja si edo
    ga perlu pusing dah . edo lebih aman drpd si liam
    wekekekekekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihihihi aman2 mana menarik cin.. lol

      Delete
  5. next chapt mbak shin yg cantik...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ndak ada yg pengen maen game ya? kl mau next chapter komen 40 orang yg berbeda aja, aku tunggu sampe jam 10 WIB. ;)

      Delete
  6. Cihuuuuyyyy cong lg,º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin
    Wah wah wah neng galau galau galau

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. ngena apanya sist? ngena gigi uang kembali?? wkwkkw

      Delete
  8. ga rela neng ma edo... liam cepatlah kau datang sayang...

    ReplyDelete
  9. liam udah pulang si eneng tinggal pilih tunangan ama liam apa edo...
    Thanks mbak shin *aku padamu*

    ReplyDelete
  10. Mbak next chap dong ^_^ ....paling suka novel mbak shin yg ini

    ReplyDelete
  11. Lagiiii dong mbaaa,,si congnyaaaa
    Biar bibir kita ga jadi monCoooonggg nungguinnya

    ReplyDelete
  12. kak shin knp jd begini?? ooh liam,km kmn si neng di embat edo cptlah kmbali... knp neng blm hamil kak shin? knp edo g sm neli aja? knp cong br dtg stlh 1bln lbh? aaahhhhhh.. next chap kak shin.. penasaran tingkat raja dewa nie..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi... lah.. kok bisa hamil?? wah, raja dewa? gak dewa raja aja? ihihih

      Delete
  13. ah my God.. WAR is Liam..
    My Liam *.*
    Thanks mba shin.. Pkok'y neng hrus ma Liam! :D #maksa

    ReplyDelete
  14. kak shin knp jd begini?? ooh liam,km kmn si neng di embat edo cptlah kmbali... knp neng blm hamil kak shin? knp edo g sm neli aja? knp cong br dtg stlh 1bln lbh? aaahhhhhh.. next chap kak shin.. penasaran tingkat raja dewa nie..

    ReplyDelete
  15. Mbakk shin, ayoh atuh akang liam dimunculin di next chapter.. Hehehe

    ReplyDelete

  16. Klo udah begini,,diriku juga ikut Galau
    Neng _--neng

    ReplyDelete
  17. aaaaaaa ayooo next chapter doooong :D
    segera munculkan liam biar makin seruuu! hehehe
    makasi mba shiiin :)
    -fina

    ReplyDelete
  18. mba shin...... next chaptr lgi yah.... dtnggu yah...hehe

    ReplyDelete
  19. Mbak Shin aku gantung diri* nii. Kalo si neng nggak jadi sama si Liam ;'((((
    *di pohon tomat kikikikiki~~~~~
    'lia'

    ReplyDelete
  20. ayolah mbak shin, neng ketemuin sm cong donk...malam ini ya....ditunggu lho

    "ila"

    ReplyDelete
  21. Ayo..ayooo...coment...spy next chap bisa di posting...plisss mbak shin..thx bwt karya2nya yg luar biasa ^_^

    ReplyDelete
  22. astaga!!!
    William Andreas Renatha!!! Liam!!!
    As I said!!!
    "W" for "William"!!!
    bersatulah William + Camelia!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Mendy,,,bukanny William with Catherine???
      Duke and Duchess of Cambridge.... :D

      Delete
  23. Makasih mba shin... Mau lagi.....;;)

    ReplyDelete
  24. My God..x_x
    Lagi!!!
    kepo penasaran!!!
    ku dukung tuh neng + liam..
    aaaaaa <3<3

    ReplyDelete
  25. Mb shin.......
    Tolonglah aku... Aku mau liam utk neng..

    Suka bgt sama cerita ini:)

    ReplyDelete
  26. Aduhhhhhhh kangen berat nih mba sama liam, lanjut lagi dong mba, deg...deg..an neh. Makasih

    ReplyDelete
  27. Mbak Shinnnn...

    Ayo post lg mbak aku sungguh penasaran stgh mati...
    D tgh" tgs kuliah menumpuk dgn deadline bsk aku masi sempetin baca mbakkk... Aku jd galau skrg... Ihikksssss :""(((

    I need Liam please Liam pleaseeee.... :(

    Post lagi ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha sista.. jgn sampe kuliahnya terbengkalai lhoo

      Delete
  28. Gak rela neng ma edo, yàch neng gak nyadar akang liam na udah didepan mata tuh, aku padamu mb shin muach 3x

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. ayo mbak tambah lagi,, makin penasaran aja sama crita ini.
    seruu. haha
    makasih mbak shin =D

    ReplyDelete
  31. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  32. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  33. Cong ini ringan banget ya mba ga kayak yg lain. Berat dan panas :p

    si kopi liong (liam), knp ga banyak omong ya mba?

    ReplyDelete
  34. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  35. mbak shin...ayo donk chap lanjutannya...

    ReplyDelete
  36. komen dulu....biar mbak shin upload chap lanjutannyaaaaa....hohoho

    ReplyDelete
  37. mbak Shiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn,,,,,,,,,,aq blom baca tapi TERIMA KASIIIIIIHHHH yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. 33. kok cepet tumben? anonimnya buanyak wkwkkwkwkw :telak kalah dah eike nih cin.. @riska : sejak kapan dirimu manggil aku mbak???

      Delete
    2. maaph cyinn...saking excitednya sam[e aq manggil dirimu MBAK !..

      loph u so mad darl'...

      Delete
    3. Oh iya nih darl'...dsini juga ada Dokter Spesialis Jantung yang masih muda dan masih LAJANG..

      Namanya Dr.Vickry Wahidji, SpJ., lulusan FK-UnSrat & ternyata dia adalah teman sepermainan Sepupu dan Omku~~~~~~~~~~~~

      Orangnya cakeeeeeeeeeeepp... ;)

      Delete
    4. hayo mbak riska prom0si wkwkwkwkwk

      Delete
    5. NIsaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,kau membuatku menyemburkan air minumku !
      wkkwkwkwkkwk...

      kali ada yang berminat kan bagus Nisa.......... :p :) :D

      Delete
    6. hehehe klu yg berminat mbak shin gm5? Wkwkwkwkwk

      Delete
    7. spjp ndak? kl spj itu spesialis jiwa hhahahahha

      Delete
    8. Sebentar aq cek lagi gelar Spesialisny deh,,ntar aq inpoh yeee...
      Pokoke dy satu2nya Spesialis Jantung dsindank, Darl'....

      Delete
  38. Baru 33 M Renny cuma 1 yg diitung abis dobel bbrapa kali :)

    ReplyDelete
  39. cepet komen kalo malam mbk shin.... Ayo semangat readers !!!!

    ReplyDelete
  40. Komen dolo..tambah dunkkk mba..;-)

    ReplyDelete
  41. ayo donk mbak shinnnnnnnnn......chap lanjutannya.......

    ReplyDelete
  42. aduh..udah ada yah??
    makasih yaa......

    aku bungkus dulu..baca besok aja..

    penghabis waktu dikantor...thanks.

    ReplyDelete
  43. liam aku loph kmu to be continue...

    pengen getok kepala neng aj biar nyadar klo dia gan cinta sama edo tp sama liam >.<


    ReplyDelete
  44. Owalah WAR NYA ini to...?

    Makasih mbak Shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ni warnya, gak semesterius perkiraan ya? kwkwkwkw :hiks:

      Delete
  45. ayo readers!? D todong komen trz dri kemarin wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  46. mbak shin lanjutanya... Diriku menanti ~rida~

    ReplyDelete
  47. M Shiiiiiiiiiiiiin *teriak2 dalam ati... :D
    Udah 40

    ReplyDelete
  48. mbak shiiiiinnnn udah 40 kah????

    ReplyDelete
  49. oh god si WAR dah dtg.....
    mba shin cepat dilanjut ya.....
    semangatttttttt
    kukirimkan ribuan terimakasih karena dah berbagi..... :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahah sama2. btw itu lidahnya ati2 dihinggapin laler

      Delete
  50. mbak shin dah 40 neeh..
    please tunjukkan dirimuu :-*

    ReplyDelete
  51. W.A.R nya udah terungkap.
    di part ini, Liam cuma numpang nama doang.

    Kalo lu masih ragu ama perasaan lu, kenapa lu ngebiarin Edo ngedeketin lu lagi Neng. itu arti nya lu nge-PHP-in orang.
    *ngomong ke Neng*

    Thanks Mba Shin, next chapter nya di tunggu, ASAP yg mba.
    Hehehe... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaph... ngePHPin itu kamsudny apa ya, Risma??? hehehhehhee

      Delete
    2. hahahahha ada yg ngamukkkkkk... :kabur ahh.. lol

      Delete
  52. W.A.R!! W.A.R!!

    suka bgt ma cerita mbak shin yg 1 ni. ringan n bkin penasaran abissss >.<

    gampang~ klo cuma ditodong komen.
    asal bukan duit :p
    hahaha.......

    ReplyDelete
  53. liam...wo aini... i lope u dehhhhh

    ReplyDelete
  54. udah ya? ntr itung ulang sambil make kacamatanya Liam ihihihihhi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo donk...posting chap lanjutannya mbak shin....

      Delete
  55. udahhh neng sm edo aja... baik bgt tuhh..

    liam buat aq tentunya.. lol

    next chapter please...hhhee

    ReplyDelete
  56. Ikutan komen lagi ah :D
    Moga2 bisa mencapai 40 koment ;)
    Semangat Mba Shin =)

    ReplyDelete
  57. we want more. We want more. Posting please

    ReplyDelete
  58. mbk shin....makasih ya..next chapter please.....
    oh....liam...i miss yo babe......come to mama.

    ReplyDelete
  59. mba shin emang bikin kacau galau beneran hiks, komennya panjangggg kayak uler melingker....thx mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaah iya, aku juga jd teler mau jawabin satu per satu akakkakaka

      Delete
  60. Please mb shiiiin
    Mau lagiiiii
    Hihihihi

    ReplyDelete
  61. hahahhaha saking panjangnya aku serem musti jawab satu per satu, tp aku baca kok semua. maafken ya... ndak ada maksud menolak membalas satu per satu.. apa daya, bukankah lebih baik waktuku kupakai untuk mengetik dan memposting sesekali komen gpp lah :D hihihi mwah..

    ReplyDelete
  62. makasih mba shin....

    namanya liam ok

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.