"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, March 14, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 16



Dua minggu lebih tak ada kabar dari Liam, batang hidungnya saja tidak nampak di dekatku. Waktu Edo mengantarkanku pulang ke rumah mami, papa mampir dengan Lili, entah apa yang mereka obrolkan. Liam tidak ikut serta, aku mengintip dari kamarku, berharap laki-laki itu akan datang bersama papa dan Lili tapi dia tidak ada.

Kenapa dia begitu suka melarikan diri? Menghilang begitu saja sesuka hatinya, dan datang sesuka hatinya. Bila memang dia punya sesuatu rasa untukku mengapa dia harus seperti ini? Arghh... Aku pusing memikirkan Liam, bahkan laki-laki itu mungkin saja tidak memikirkanku, kenapa aku harus pusing sendiri? Mami.. Aku benci jatuh cinta bila harus berakhir seperti ini..


Siang ini aku tidur-tiduran di kamar kosku, Neli sudah sibuk dengan on the job training-nya di hotel, sedang Edo masuk kerja, nanti sore baru Edo akan menjemputku, kami berencana nonton bioskop meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak berminat nonton film. Aku hanya ingin tidur sepanjang hari.. ahh.. tubuhku lelah, lemas dan murung.. Aku tak tahu efek kegalauan bisa separah ini.

Untungnya tidak ada kuliah hari ini, kampus masih mempersiapkan bahan untuk ujian akhir semester dan kami mendapat liburan seminggu sebelum ujian dimulai. Seharusnya aku belajar, kan? Tapi buku-buku tebal yang berisikan teori dan rumus-rumus itu begitu tak menarik untuk kuhafal, bahkan novel-novel yang bergeletakan di lantai tidak mampu menggugah minatku untuk kubaca. Apa sih yang aku inginkan?

Sejak mengetahui hasil tes kehamilan itu, aku semakin tak berselera untuk melakukan apapun. Edo berusaha menghiburku, meski dia tidak perlu melakukannya. http://myowndramastory.blogspot.com - SHinHaido Edo terlalu baik, aku merasa bersalah karena membuatnya terikat seperti ini. Edo.. Edoo.. fiuhh.. Apa yang harus aku lakukan padamu? Setiap kami bertemu, Edo selalu menanyakan tentang lamaran kapan hari, dia sungguh-sungguh ingin cepat-cepat menikah. Dan Edo memberiku waktu hingga kelulusan semester untuk menjawab lamarannya. Haruskah kuterima lamaran Edo? Tapi usiaku masih kecil.. Dan aku tak tahu bila Edo adalah laki-laki yang tepat untuk hatiku, meski aku tahu.. Edo adalah laki-laki yang tepat untuk hidupku.

Orang bilang lebih baik dicintai daripada mencintai.. Benarkah itu? bukankah dengan alasan itu sebelah pihak dalam rumah tangga bisa saja menggunakannya sebagai alasan mereka untuk berselingkuh? “Karena aku tidak mencintai istriku.. atau Karena aku tidak mencintai suamiku.. Kami menikah bukan atas dasar cinta..” ahh.. bullshit.. Manusia-manusia yang menikah dan lalu berselingkuh dengan alasan seperti itu sungguh menjijikan! Lebih baik tidak usah menikah daripada menyakiti hati pasangan apapun alasanmu.

Ah.. Kenapa aku harus marah-marah? Keadaanku tak jauh berbeda dengan mereka. Liam.. Kenapa kamu harus pergi seperti itu? Tidakkah aku cukup pantas untuk kamu perjuangkan? Lalu pikiranku teringat kembali pada wanita yang menjadi pacar Liam.. Ya, aku hampir lupa bahwa laki-laki itu telah memiliki seseorang disampingnya.. aku lupa.. sangat lupa.. Apa yang aku harapkan? Bahwa Liam akan memutuskan hubungannya dengan pacarnya lalu pergi padaku? Atau bahkan dia akan berhubungan dengan kami berdua? Sungguh laki-laki sialan bila dia berbuat seperti itu.

Tapi akan lebih berengsek bila Liam memutuskan pacarnya agar bisa berhubungan denganku. Aku tidak mau menjadi perempuan yang seperti itu, perempuan yang merusak hubungan orang lain. Cukup kakak si Liam berengsek yang seperti itu, aku tidak akan mengikuti jejaknya kendatipun Liam belum menikah dengan pacarnya. Masih banyak laki-laki lain yang masih singel, seperti Edo. Dan Edo adalah pacarku, semestinya aku tidak perlu berpikir lagi, dia adalah pacar yang baik, dia perduli padaku, Edo sangat perhatian, lembut, romantis.. Apa lagi yang kurang? Ahh.. Aku sungguh bingung..

“Tok..tok..” siapa?? Edo?

“Sebentar” sahutku sembari bangun dari kasurku. Dengan langkah kaki lemas kubuka juga pintu kamarku, aku memang hendak tidur siang, tapi mata ini tidak bisa mengatup.

“Siapa?” tanyaku waktu membuka pintu kamar. Sial!! Liam?! Mau apa dia kesini?

Wajah Liam sungguh jauh berbeda dengan yang terakhir kulihat saat dia berkelahi dengan Edo. Saat itu wajah laki-laki ini penuh dengan arogansi, angkuh, percaya diri berlebih. Namun laki-laki yang berdiri di depanku dengan plester di hidung ini terlihat kuyu, wajahnya murung dan matanya.. terlihat sedih..

“Aku ingin bicara, boleh aku masuk?” tanya Liam padaku. Tidak!! Kamu tidak boleh masuk, apa yang akan kamu lakukan? Aku tidak bisa mempercayaimu.

Namun demikian tubuhku mundur dan Liam pun masuk ke dalam kamar. Dia mengusap rambutnya, nampak laki-laki ini gelisah. Dia memendarkan pandangannya ke seisi kamar.

“Kau sendirian?” tanyanya lagi, tubuhnya yang tinggi terlihat canggung berada dalam kamar sempit ini.

“Ya, aku sendirian. Duduklah” kataku sembari menyodorkan kursi satu-satunya yang kumiliki, yang biasa diduduki Edo bila dia mampir kesini.

Liam menghela nafasnya, dia belum menatap mataku sedari tadi. Pandangannya berubah-rubah pada setiap benda dalam kamarku, kecuali wajahku.

“Mau apa kamu kesini?” tanyaku kemudian, aku mulai tidak sabar menghadapi laki-laki ini. Dia harus mengatakan apapun yang ingin dikatakannya dan segera angkat kaki dari sini, sebelum Edo datang dan melihatnya, mereka bisa berkelahi lagi dan itu adalah hal terakhir yang kuinginkan dari mereka.

Liam tidak mengindahkan permintaanku agar dia duduk dikursi yang kutawarkan. Ya sudah.. Kalau dia mau berdiri selama disini, silahkan. Aku tidak ikut-ikut. Kududukkan pantatku di sisi ranjang, Liam masih berdiri gelisah. Apa yang akan dia katakan padaku? Kenapa dia tidak mulai berbicara juga? Sudah hampir lima menit dia berdiri seperti itu di depanku.

“Bila tidak ada yang ingin kamu katakan lebih baik kamu pergi saja dari sini” kataku. Meski sebenarnya jantungku berdebar kencang hanya dengan adanya dia disini. Aku merindukan laki-laki ini, hatiku sakit, sakit karena begitu menginginkan laki-laki ini.

“Aku.. Apa benar dia.. Maksudku.. Ah.. tidak. Maksudku.. Dia..” kenapa mendadak Liam menjadi gagu seperti ini? Dimana rasa percaya dirinya yang biasa meledak-ledak itu? Sungguh menyedihkan melihat Liam seperti ini.

Mami.. Aku ingin memeluk Liam saat ini juga, ingin menghentikan kegelisahan laki-laki ini dan menjadi tempatnya mencurahkan semua masalahnya, aku ingin menjadi tumpuan curahan hati laki-laki ini.. Salahkah aku bila lebih menginginkannya dibandingkan dengan pacarku Edo?

“Maksudmu apa? Aku tidak punya waktu seharian untuk mendengarmu berbicara tak jelas seperti ini didepanku” kataku kesal. Maafkan aku.. Aku hanya tidak ingin terluka lagi, kamu telah mengecewakanku, haruskah aku berharap lebih darimu?

“Apa benar kau mengandung anak laki-laki itu?” akhirnya dia berhasil mengatakan apa yang ingin dia tanyakan. Dan tanganku refleks menampar pipi laki-laki di depanku ini. Pipi Liam merah seketika, dia memejamkan matanya, rahangnya mengetat menahan perih yang mungkin mulai dia rasakan. Tanpa berkata apa-apa Liam memperbaiki kacamatanya yang miring oleh tamparanku.  

Sungguh perempuan apa dikiranya diriku? Hanya karena aku bersedia jatuh dalam pelukannya lalu aku akan melemparkan tubuhku pada laki-laki lain juga? Jangan coba-coba merendahkan aku hanya karena kamu pernah meniduriku!!

“Kamu kira cewek apa aku, hah? Apa kamu punya hak bertanya seperti itu padaku? Setelah kamu tidak ada kabar, setelah apa yang terjadi?? Aku tidak meminta tanggung  jawabmu!! Dan aku tidak hamil!! Puas??! Jadi kamu tidak perlu bertanggung jawab apa-apa! Lupakan saja yang apa telah terjadi, anggap tidak terjadi apa-apa. Kamu bisa kembali pada pacarmu dan aku bisa kembali pada hidupku. Aku menyesal telah mengenalmu!!” jantungku berdebar kencang, nafasku tersengal-sengal karena saking marahnya. Tubuhku bergetar, ingin rasanya kuhantamkan tinjuku bertubi-tubi pada tubuhnya.

“Bagaimana kau bisa memintaku melupakan apa yang telah terjadi, Camelia? Bagaimana kau bisa mengatakan itu tidak ada apa-apa?? Bagiku itu adalah segalanya, kau kira aku meniduri setiap wanita yang aku temui? Kau kira aku tertarik padamu dan menidurimu tanpa alasan?? Aku tidak menidurimu!! Berengsek!! Aku benci kata itu!! Kita bercinta, Lia!!! Demi Tuhan aku tak akan menidurimu bila aku tidak memiliki perasaan itu padamu!! Dan hentikan tentang pacarku yang selalu kau jadikan alasan. Aku tidak punya pacar!! Kau kira laki-laki apa aku ini? Aku bukan ayahmu, jangan samakan aku dengan ayahmu! Banyak hal yang harus kita bicarakan, dan kita tidak akan melakukannya disini. Ikut aku!!”

Tanpa memberikan aku kesempatan untuk membalas ucapannya, Liam telah menarik tubuhku dengan paksa, membuka pintu mobil dan memaksaku duduk di kursi penumpang disampingnya.

“Jangan coba-coba kabur, aku serius!!” tatapan matanya tajam, bola matanya merah, Liam sungguh marah kali ini.

Liam mengemudikan mobilnya kesetanan, membuatku yang duduk di kursi penumpang menatap ngeri pada manuvernya menyalip kendaraan di depannya.

“Kamu akan membuat kita berdua mati, hentikan!! Turunkan aku disini!! Ini penculikan!!” kupukul bahu Liam, namun itu tindakan salah.

“Hentikan.. Bila kau tidak berhenti, kau akan menyesal Lia..” desisnya marah. Liam semakin mempercepat mobilnya dan tak lama kemudian kami telah tiba di pintu gerbang rumahnya.

Liam membuka pintu gerbangnya dan memasukan mobil ke halaman. Dia menyeret tubuhku masuk ke dalam rumah, orang ini benar-benar kasar. Apa maunya?? Tubuhku dilemparkan ke atas ranjang kamarnya, kamar yang sama tempat kami bercinta dulu.. Hatiku sakit mengingat hari itu? Mengapa Liam harus membawaku kesini lagi?

Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, dilepaskannya kacamata yang mengganggu pandangannya. Baru kusadari, Liam masih mengenakan jas putih berkibar yang kemudian dilemparkannya ke sisi ranjang. Dia kemudian duduk di sampingku di atas ranjang. Tangannya bertumpu pada pahanya, menopang kepalanya yang berat.

“Berengsek!! Kenapa semua harus berakhir seperti ini??!! Arghh!!!” teriak Liam frustasi.

“Seharusnya aku tidak pergi ke Amerika!! Andai saja.. Argh!! Sial!!”

Aku merasa sedikit ketakutan saat Liam berteriak seperti orang gila disampingku, entah apa yang mengganggu pikirannya. Aku hanya diam membisu tak tahu apa yang harus kukatakan. Kubiarkan saja Liam dengan pikirannya sendiri, meledak-ledak tak jelas, berdiri, berjalan mondar-mandir, kemudian duduk lagi disampingku. Berulang kali dihelanya nafasnya, kemudian menariknya lagi dalam-dalam.

“Aku mencintaimu, Camelia. Aku bersungguh-sungguh. Kau mungkin tidak percaya karena selama ini aku hanya mengganggumu dan membuatmu membenciku. Apa yang harus aku lakukan? Tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku? Bahwa apa yang terjadi waktu lalu di kamar ini adalah segalanya bagiku. Aku tidak pernah membawa wanita kesini selain dirimu, hanya rekan kerja dan keluarga yang biasa mampir kesini. Selebihnya tak ada, aku tidak biasa mengundang siapa-siapa kesini. Bahkan rumah ini.. Rumah ini baru saja kutempati setahun yang lalu setelah aku pindah ke kota ini. Bahkan aku mengenal ayahmu baru setahun yang lalu, aku tidak tahu menahu tentang kehidupan keluargamu, tentang konflik keluargamu. Kakakku mengabariku dia ingin menikah di kota ini, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan meninggalkan pekerjaanku di ibukota hanya agar bisa dekat dengan kakakku. Aku membangun usahaku disini, Lia. Membangun dari nol, rekan-rekan kerjaku kuundang kesini untuk mengembangkan usahaku bersama. Aku memutuskan tak akan membangun sebuah hubungan setidaknya hingga usahaku berkembang dan sukses, tapi kau datang.. Seluruh duniaku jungkir balik. Apa yang aku percayai sebelumnya berubah total. Aku menjadi posesif padamu, aku ingin menjadikanmu milikku. Aku selalu mengganggumu meskipun aku tahu kau membenciku setengah mati. Aku selalu memaksamu, bahkan mungkin.. mungkin setengah dari diriku sengaja mengajakmu kesini karena aku ingin mendapatkanmu. Mengetahui kau begitu benci padaku, aku kehabisan akal untuk membuatmu menyukaiku, aku.. aku belum siap untuk membina sebuah hubungan tapi.. aku ingin memilikimu, Camelia.. Aku tak bisa melihatmu dengan pria lain, apalagi mendengar laki-laki itu telah menyentuhmu hatiku mendidih. Pikiranku kalut, aku.. aku yang biasa berpikir jernih bahkan menghadapi hal seperti inipun tak bisa berkutik..” Liam menutup kata-katanya dengan mengacak rambutnya hingga berantakan. Dia mengambil rokoknya, lalu berjalan menuju jendela dan membukanya setelah menyalakan rokoknya. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam, dia belum memandang mataku lagi. Pandangannya jauh ke luar, ke halaman kebun tempat kami dulu duduk berdua di kursi taman.

“Aku mencintaimu, Camelia.. Aku ingin memilikimu..” bisiknya pelan, namun kudengar juga.

Jantungku berdebar kencang, aku gugup. Mengetahui isi hati Liam merupakan hal yang sangat mengejutkan untukku. Jadi selama ini itulah yang dia rasakan padaku? Jadi itulah alasan mengapa dia selalu menggangguku? Liam.. Kenapa semua laki-laki suka sekali berbelit-belit? Lebih senang menyimpan perasaan mereka daripada mengungkapkannya? Setelah apa yang terjadi waktu itu.. setelah dia pergi begitu saja saat perkelahian itu.. apakah dia mengira semua akan semudah itu? Belum lagi bila keluargaku tahu, mereka akan menolak hubunganku dengan Liam mentah-mentah.

Tunggu dulu, apakah papa tahu hal ini? Tapi rasanya tidak mungkin papa tahu, Liam tidak mungkin memberitahukannya kan?? Mengapa Liam harus memberi tahu papa? Bukankah dia hanya mencari mati bila dia memberitahu papa, dia sendiri pernah mengatakan papa akan membunuhnya bila papa tahu kami berpacaran. Jadi dia tidak mungkin mengatakannya pada papa.. fiuhh...

Liam membuang puntung rokoknya yang masih menyala ke halaman kebun, menutup jendela itu lalu kembali duduk disampingku. Tangannya meraih remote AC dan udara dingin mulai mengisi ruangan kamar ini.

“Aku tahu kau sangat membenciku, mungkin perasaanku ini hanya perasaan sepihak. Ironis kan? Aku kira aku bisa bertahan tanpa cinta, setidaknya hingga usiaku empat puluh tahun, hingga aku berhasil menetapkan diriku sebagai laki-laki sukses. Tapi saat aku baru saja memulai usahaku, kau datang dan tak mau pergi dari hatiku. Aku memang tidak bisa merangkai kata, Lia.. Aku tidak pernah memiliki hubungan romantis atau pacaran yang bertahan lebih lama dari jumlah semester yang kau masuki di kampus. Aku hanya berhubungan dengan wanita-wanita yang bersedia berhubungan tanpa status denganku. Aku tak pernah merasa posesif pada mereka, bahkan ketika mereka bersama laki-laki lain aku tak perduli. Tapi denganmu, tidak serta merta membuatku menafikkan kenyataan kalau kau bersama laki-laki itu. Aku tidak rela. Aku hanya ingin kau untukku seorang”

Liam merebahkan punggungnya di ranjang, menutup matanya, dia terlihat kelelahan, frustasi dan murung. Kuperhatikan garis wajahnya, pipinya yang masih menyisakan rona merah bekas tamparanku, plester yang menutupi luka robek pada hidungnya yang dipukul Edo hingga berdarah-darah, pada bibirnya yang biasa menciumku dengan penuh gairah, pada matanya yang biasa menatapku tajam dan menggoda, alisnya yang hitam tebal, rambutnya yang kini masih berantakan. Laki-laki ini.. apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar bimbang. Tak pernah dalam hidupku, aku diperebutkan oleh dua orang laki-laki yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.

Edo begitu sempurna, namun rasa cinta hanya kurasakan saat bersama dengan Liam. Hatiku menjerit ingin bersama dengan laki-laki ini. Lantas, apa yang harus aku lakukan? Papa, mami, kakak-kakakku, dan Lili.. Akankah mereka menolak hubungan kami? Meskipun dipermukaan hubungan papa dan mami tidak bergejolak lagi, namun aku tahu mami tak akan merestui hubunganku dengan Liam, dengan adik wanita murahan itu.

Papa.. Mana mungkin dia akan merestui hubungan kami, Liam adalah adik iparnya, mana mungkin papa membiarkan adik iparnya menikahi anaknya. Tapi kami belum mencoba kan? Bagaimana bila kami mencoba lalu mereka menyetujuinya?? Bukankah kemudian pikiran-pikiranku ini hanyalah pikiran kosong yang tak terbukti? Aku adalah anak mereka, mereka pasti mendukung kebahagiaanku, kan? Mereka ingin aku bahagia, kan?


Lama kuperhatikan wajah Liam, nafasnya mulai teratur. http://myowndramastory.blogspot.com - SHinHaido Dia tertidur??? Yang benar saja. Apakah aku harus berlama-lama disini? Aku tidak tega membangunkan Liam, dia terlihat kelelahan. Bahkan wajahnya yang tanpa dosa begitu menarik dipandang, laki-laki tampan ini dengan senyum jahil yang masih nampak di bibirnya yang terkatup rapat..  Aku memang telah jatuh cinta padanya. 


78 comments:

  1. whooooooooooooaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~~~

    William so sweet bangetz... #melting ga bangun-bangun..

    Damn' he's so cool...!!!

    ReplyDelete
  2. tq shin...2 chapter lagi dong diposting hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu !!!!!!!!!!!!!!!

      Delete
    2. setuju juga...........

      -rara-

      Delete
  3. Wowwww,,wowwww...
    *speachless*
    Bkln galau segalau2nyaaa klo jd Neng.. #ngayal

    ReplyDelete
  4. DEAR ALL~~ GAME LAGI UNTUK DPOSTING CHAPTER BERIKUT

    50 KOMENT DARI READER BERBEDA..

    TIME LMIT JAM 7 WIB~~


    SEMANGADH SEMUA !!!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. 4 jemp0l buat mbak riska, iklanx jemp0lan deh *cetar membahana badai* wkwkwkwk

      Delete
  5. liam, edo, liam, edo, liam, edo, liam, edo, liam, edo, liam, edo, liam, edo... Galau si eneng... Udah eneng plh kata hati aja deh,,
    thanks mbak shin *lope*

    ReplyDelete
  6. siapakah yang akan terpilih....??????
    voting...voting.....voting............huahahahahahahaha
    emangnya mau pilkada ya?????? hehehehhehehe

    ReplyDelete
  7. eh...ada game ya??
    barusan ngrefresh blog ini,,,ternyata dapat surprise..

    hehehhehee...

    makasih mbak..aku padamu, WILLIAM....

    ReplyDelete
  8. hehehehe repot urusannya klo pilih liam . neng , mending ama edo dah .
    lebih aman . idup lebih tenang .

    ReplyDelete
  9. tidakkkkkkkkkk god....please pilih Liam bodo ah sama Edo...
    masih ga percaya si Edo segitu sucinya...
    tambah lagi dong mbak shin... :P
    Please.......

    ReplyDelete
  10. Wuaaaaaa... Abis baca ini g ngaruh harga bawang naik ;)
    Makasih M Shin :*

    ReplyDelete
  11. ayo pilih liam apa leo?
    Makasih mbak shin ~rida~

    ReplyDelete
  12. Liat Liam galau berat gitu lucu juga. dia bisa bego dan susah mikir karena hati terbakar api cemburu.

    trus si neng kok ya masih tetap diam aja. kalo beneran cinta ama Liam mbok ya diperjuangkan dulu.

    soal restu orang tua dan keluarga yg bakal jadi penghalang mereka mau nga mau harus ditaklukan karena mereka kan udah kejadian, udah pernah bobok bareng. dari pada mereka backstreet dan terus main2 dibelakang bisa timbul perang dunia nanti.

    btw kasihan edo kalo dia mesti patah hati lagi gara2 si neng. padahal dia cowok yg baik.

    ReplyDelete
  13. seharusnya aku tak ke amerika? Maksudnya liam apa ya mba? Ngga mudeng aku.. *garuk2 kepala*

    ReplyDelete
  14. Hemmm,akhirnya dy ngomong panjang dan lebar,hahahaha
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  15. Liam walaupun kau sering datang & pergi sesuka hatimu tp Q tetep jd fans mu smangat smua;-)

    ReplyDelete
  16. kentang dan galau....poliandri aja deh hahahaha :) thanks mbk shin *kiss

    ReplyDelete
  17. kentang dan galau....poliandri aja deh hahahaha :) thanks mbk shin *kiss

    ReplyDelete
  18. Aih,,, kacian Si Liam d tampar terus... -____-
    Cup... Cup... Liam :*
    Neng please ya, jangan plin-plan lg!!!

    ReplyDelete
  19. Komen apa ya,,,! Baca dulu ah... Ntr baru komen hihihii

    makasih cinTa .... Ndak pake lap YU pake serbet hehehe

    ReplyDelete
  20. yaaaahhhh.. neng kok gak jd hamil.. aku ikutan games,nyumbang 100 suara.. ‎​​​Ήέέ •• Ήέέ •• Ήέέ ••
    kak shin next chapt dong..

    ReplyDelete
  21. Menunggu postingan selanjutnya, hoho....
    Makasih mba shin... *Peluk erat*

    ReplyDelete
  22. akhir liam ngaku jg cinta ma neng...bkin makin galau j,
    liam ato edo???

    ReplyDelete
  23. iya apa maksudnya kok liam nyesel pergi ke amerika???
    ayo....lanjut lgs smp tamat qiqiqi



    "ila"

    ReplyDelete
  24. aaaaaaaaaa lanjutkan! lanjutkan! lanjutkaaann!!! ga sabar nih mba shiiiinnn >.<
    -fina

    ReplyDelete
  25. Neng cinta ma lu Cong !
    btw neng ga tdr ma edo kan?
    Tambh 1 suara dariku.

    ReplyDelete
  26. tmbah lg chpter ya mba shin....mkin pnsarn

    ReplyDelete
  27. Tq mbak Sin
    Semangat nulis trus ya~

    ReplyDelete
  28. huaaaa meltiiiinggg ama pengakuaan Liaaamm tapi habis ngaku trus tidur saking capeknya memendam perasaan ama si eneng kali yach *sotoy ayam* xixixi

    ReplyDelete
  29. I love you too Liam.....
    (wakilin Neng)
    Hehehee

    ReplyDelete
  30. ayo semua waktu tinggal 1 jam lgi, ng0mng apa aja terserah deh. Yg pentng komen... Yg blm punya akun jga bsa komen dngan anonyous. Ditungguin si eneng :D

    ReplyDelete
  31. Mba Shin LTMGC bakal dibikin sampe chapter berapa? Penasaraaaaan.
    Posting lagi, lagi, lagi, lagi!!

    ReplyDelete
  32. makin cintaa sama liam....
    uuwwwhhh co cuiitt....

    next chapter mbak shin pueeeeellllliiiiiiissssssssss :-*

    ReplyDelete
  33. Liam Liam Liam Liam Liam
    Lia Lia Lia Lia Lia Lia Lia
    Liam
    &
    'Lia'

    ReplyDelete
  34. ad cong,
    woow

    *riyani

    ReplyDelete
  35. 30
    hehehe...
    Hidup Mbak Shin ;)

    ReplyDelete
  36. Wahhhh mba shin tambah lagi dong ceritanya tambah ketagihan neh and penasaran... klo bisa sampe tamat yua mba shin makasih

    ReplyDelete
  37. Replies
    1. aku penasaran,,jangan2 nie akun hubbynya jeng Rindang...wkwkwkwkwkwkkwkwk

      Namanya pan laki bangetz, darl'...

      Delete
  38. ad game lg toh.
    ayo cemumun semuanya

    ReplyDelete
  39. Mbak shin, ayokkk next chapter dilanjutin :D
    Si akamg liam i miss you

    ReplyDelete
  40. Walo lagi sakit direla2in komen demi si congnengdo hadir...
    Ayo mbak, biar aku terhibur post lagi...

    Buat neng...pilihlah yang terbaik jangan sampai menyesal...

    Buat liam : makanya jangan pergi dateng seenaknya kek jelangkung aje, datang ga diundang, pergi tak diantar :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. dah berapa nih? belum sempet ngitung...

      Delete
    2. wah, moga cept sembuh ya sist :hug:

      Delete
    3. Ammmiiiin, usus buntu nih...mg2 ga sampe op...

      Gulang guling di kasur, hiburanku cuma cerita darimu mbak...

      Hehehhe

      Delete
  41. mbak shin kentang bgt..
    next chapter please

    ReplyDelete
  42. Bawang goreng .... Ditaburin diatas Mie goreng ... Fiiiuuuhhhh uuueeennaaakkkk poll pake bgt hihihi ...

    Mbak shin, klo aq jd Neneng pas Liam berbaring kelelahan aku sentuh wajahnya aku peluk dirinya dan bilang aku juga mencintaimu maniezku ... Hemmm ehemmm ehemmm hihihi

    Makasih cinTa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 40 sampe sini. lg 10 ya ;) masih sisa 1/2 jam.

      Delete
    2. mau donk mie gorengnyaa.. laper belum makan dr pagi cuman makan roti 2 lembar ama susu 250ml hm...

      Delete
  43. Aku jatuh cinta

    ReplyDelete
  44. Komen.......tambah 1 suara.......

    ReplyDelete
  45. Hidup mbak shin...keep writing...

    :may:

    ReplyDelete
  46. 😓 ya udah Liam sama aku aja😁
    -Ani-

    ReplyDelete
  47. i loph u williammm
    muachhhh <3
    thanks shin ditunggu 2 bab mlm ini

    ReplyDelete
  48. Mbaaak Shin
    Yang lebih HOOOOOOOOOOOOT donk ;))

    ReplyDelete
  49. aio para readers yg punya pacar suru pacar e komen jg klo gak mau putusin aj,yg punya hubby jg jgn mau kalah tp klo gak mau jgn dcerein ea :-D

    lanjutkan \(^0^)/

    ReplyDelete
  50. Cuuusss neng ngaku jg klo lu cinta

    ReplyDelete
  51. Liam,,,,dikau emg membingungkan.....ckckck
    mbak shin...ayo lg next chap nya,,,,fighting!!!

    ReplyDelete
  52. Next chap dongg mbak shin...komennya dah cukup ^_^

    ReplyDelete
  53. Finally, you confess your love, Liam.
    *pasang kembang api, tiup terompet*


    Seneng banget akhir nya liam bisa ungkapin perasaan nya. ayo neng, pilih liam ajah. bukan nya kebanyakan cewe suka cowo yg Obsesif Posesif kaya Liam. kalo Neng gamau, biarin dah saya akan menyambut Liam dengan pakaian terbuka. #Ups

    Thanks Mba Shin.
    Next chapter, please *puppy eyes*

    ReplyDelete
    Replies
    1. waks... wkkwkwkwkkwkw :komen yg sesuatu:

      Delete
  54. Camelia.. Jgn bwt Liam mrasa klo dia bertepuk sbelah tngan.. Please.. Akui saja prasaanmu itu..
    klian emg udh d tkdirkan bersama..
    ksian..:(

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.