"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, March 15, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 18



Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukan orang tuaku, pertama aku ingin bertemu papa. Aku ingin tahu apa yang papa pikirkan bila aku dan Liam bersama, akankah papa menentang. Ahh... Hatiku rasanya tidak cukup kuat menghadapi ini seorang diri.. Edo mengantarkanku ke rumah papa, dia masih tak bosan mengingatkanku bahwa dia selalu ada untukku.. Seandainya Liam tidak menerimaku, Edo bersikeras akan menikahiku. Ah Edo.. Mengapa kamu membuatku semakin merasa bersalah, aku tak pantas untukmu, berhentilah mengorbankan dirimu untukku.

“Gw ikut ya, Neng..” kata Edo menggenggam tanganku. Kami tiba di depan pintu pagar rumah papa. Lili sedang menyapu di halaman dan menyambut kami.

“Eh, Neng. Masuk Neng, nak Edo.. Mari masuk..” sapanya dari luar.


Aku tersenyum membalas sapaan ramahnya, susah untuk membenci orang yang beramah-ramah padaku.

“Enggak usah, Do. Aku akan menghadapi papa ku sendiri. Nanti salah-salah papa mengira kamu lagi yang membuatku seperti ini” aku tertawa kecil, bukan karena leluconku lucu, hanya untuk menyembunyikan ketakutanku sekarang.

Edo masih menggenggam tanganku, dia tidak tertawa. Dia serius dengan kata-katanya.

“Gpp, Neng. Gw malah seneng kalau bokap lu mikir seperti itu, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido sehingga gw bisa nikahin lu sekarang juga” ku hela tangan Edo, sudah saatnya aku keluar, menghadapi masa depanku seorang diri. Masa depanku yang telah kupilih dan akan aku pertanggung jawabkan, tanpa bantuan siapapun. Aku bisa berdiri sendiri, aku tak akan kalah hanya karena papa mungkin mengusirku.

Kusapa Lili yang masih berdiri menungguku. Kami berpelukan, pelukan hangat yang belum bisa kuterima sepenuhnya. Haruskah aku menerima wanita ini?

“Ayo masuk, Edo gak ikut? Liam ada di dalam lho, lagi ngobrol ama papamu”

Jantungku berdetak kencang demi mendengar Liam juga ada disini. Kulangkahkan perlahan kakiku masuk ke dalam rumah papa. Belum sampai kakiku menginjak pintu, sudah kudengar suara teriakan papa, dia nampak sangat marah. Pada Liam? Mengapa?

“Ini lagi, ini lagi??? Kan gw sudah bilang, lu tinggalin anak gw. Apa sih yang gak jelas dari itu, Liam? Lu itu orang berpendidikan, susah amat ya bagi lu ngelaksanain kata-kata gw? Kenapa gak sekalian aja lu tinggal di Amerika waktu lalu? Bukannya balik lagi kesini gangguin anak gw. Lu kan tahu lu itu adik ipar gw, apa kata orang kalau gw ngasiin anak gw ke elu, Liam. Nyahok lu ya jadi orang. Gak bakal gw ngasiin lu nikah sama Neng. Kecuali lu hamilin dia, tapi itupun gak mungkin, gw gak bakal ngasi lu deketin anak gw lagi. Paham lu, Liam? Mending lu pergi aja dah dari kota ini, balik ke ibukota, bukannya karir lu bagus disana. Gak usah jadi dokter disini, disini duitnya kecil, lu bakal nyesel trus lu nyalahin Neng kalau kalian menikah karena dia menghalangi karir lu. Lu tahu Neng gak mungkin ninggalin kota ini selama orang tuanya masih hidup. Dasar lu ya, orang tak tahu malu”

Kupejamkan mataku mendengar semua sumpah serapah papa pada Liam. Sakit rasanya hatiku mendengar semua kenyataan ini. Jadi selama ini.. Papalah yang menghalangi hubungan kami? Jadi selama ini papa yang berusaha menghalangi Liam mendekatiku? Padahal Liam sudah berusaha memohon pada papa?

Kenapa, pa? Kenapa papa begitu egois? Apakah hanya papa yang manusia? Apakah hanya papa yang perlu kebahagiaan di muka bumi ini? Apakah hanya papa yang bisa menikahi wanita manapun yang papa inginkan? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan Liam? Kami saling mencintai, tidakkah itu cukup buat papa untuk merestui hubungan kami?? Papa.. Aku semakin membencimu, benci karena keegoisanmu yang tak kepalang tanggung.

“Hentikan, Pa!” teriakku dari arah pintu masuk. Papa dan Liam kaget melihat kedatanganku.

“Neng, ngapain kamu disana? Kamu dengar semuanya??” tanya papa menghampiriku.

Liam berdiri disana, pipinya merah lagi. Apakah dia ditampar papa?? Oh, Tuhan..

“Ya, aku dengar semuanya. Aku dengar bagaimana egoisnya papa!! Teganya papa lakuin ini ke Neng. Kurang bagaimana lagi papa nyakitin hati Neng, pa? Kurang bagaimana lagi papa ngehancurin hati, Neng? Gak cukup yang papa lakuin selama ini? Papa udah ngancurin keluarga kita, sekarang papa juga mau ngehancurin hidupku??”  teriakku sembari menangis. Aku memang tak bisa marah tanpa menangis, ya.. karena aku wanita.. aku benar-benar marah dan kecewa pada papa.

“Kamu bilang apa, Neng? Papa ngancurin hidupmu? Justru kalau kamu menikah sama si Liam berengsek ini, dia yang bakal ngancurin hidupmu. Papa bisa ngenalin kamu sama laki-laki lain yang bisa bahagiain kamu, Neng. Gak usah sama Liam ini” kini aku beradu urat dengan papa. Aku tak akan mengalah lagi kali ini.

“Enggak, aku hanya ingin Liam. Aku sudah menikah sama Liam, pa. Papa gak bisa ngehalangin lagi. Kami sudah resmi menikah, minggu depan surat kawin kami sudah keluar dari catatan sipil. Aku sudah gede pa, gak perlu tanda tangan papa untuk ngerestuin pernikahan kami. Aku mau menikah dengan siapapun bukan urusan papa. Papa gak berhak ngelarang aku setelah papa melepaskan hak papa menjadi teladan bagiku. Papa semestinya mengaca, selama ini papa itu bukan teladan yang baik. Papa mestinya bersyukur aku tidak berubah menjadi perempuan berengsek karena keluargaku broken home. Banyak anak-anak lain bunuh diri pa, atau konsumsi narkoba, jadi lonte, karena orang tuanya berengsek. Papa ngerti itu? Papa tahu bagaimana orang tua seperti papa ngehancurin masa depan anak-anaknya?? Kalau papa masih punya hati, papa gak akan ngehalangin hubunganku dengan Liam!!”

Kutarik tangan Liam yang mengikuti tanpa bantahan. Dia menatap wajah papa yang berdiri tak bisa berbicara lagi. Aku tak tahu apa yang akan papa pikirkan, aku tak perduli. Dia harus tahu, bahwa dia telah melukai kami. Dan kami membencinya karena itu, agar papa mengerti tak ada yang mencintainya dengan tulus karena perbuatan papa memang tak bisa ditolerir.

Sebelum keluar dari pintu rumah papa, kulemparkan bomku yang terakhir.

“Oh ya, lagi tujuh bulan papa harus siap-siap nerima cucu baru dariku dan Liam. Aku pergi” dan kami berlalu tanpa berpamitan pada Lili yang bertanya ada apa. Maaf Lili, aku tidak bisa menjelaskan apa-apa saat ini.

Kami masuk ke dalam mobil Liam yang dikemudikannya tanpa suara menuju rumahnya. Aku masih ingat bagaimana wajah Liam terkejut saat kukatakan secara tak langsung bahwa diriku hamil. Ya.. Aku hamil Liam.. Aku mengandung anakmu, dan sekarang kamu tahu.. Apa yang akan kamu lakukan..?

Liam membukakan pintu mobil untukku, dia menatap wajahku dengan takjub. Hei.. Hentikan.. Kamu membuatku tersipu malu.. Dibantunya tanganku sewaktu aku turun dari mobil. Mami.. kenapa laki-laki ini tiba-tiba berubah perhatian seperti ini? Aku tidak biasa dan dia membuatku malu.. tapi aku suka.. ahh...

Kami duduk di sofa ruang tamu, Liam masih saja membantuku duduk. Apakah karena dia tahu sekarang aku hamil lalu dia berubah begitu lembut?

“Camelia.. Terima kasih.. Terima kasih untuk segalanya, untuk semuanya. Aku tak menyangka kau akan datang dan berkata seperti itu pada ayahmu.. Apakah kau tidak menyesali semuanya? Maksudku.. Kata ayahmu, aku tak cukup baik untukmu, aku tahu aku memang tak sempurna, aku mencoba menjadi lebih baik, Lia. Kali ini aku tak akan membiarkanmu berjuang sendiri, kita akan berjuang bersama. Aku akan membuat ayahmu merestui kita, ibumu juga. Apalagi.. Kita akan segera punya bayi..” Liam menatap perutku dengan pandangan penuh cinta, dielusnya perutku dengan lembut, kulihat matanya berkaca-kaca. Oh, Liam.. Apa yang membuatmu berubah menjadi pria melankolis seperti ini..??

“Aku kira kau mengatakan bahwa...” Liam menatap mataku sedih, namun bibirnya telah kututup dengan tanganku. Aku tak ingin dia mengungkit masa itu, aku memang salah dan bodoh karena tak mengetahui perubahan tubuhku.

“Lupakan.. Yang terpenting saat ini kamu sudah tahu, kan?” tanyaku pada Liam. Dia menyunggingkan senyum padaku, senyum manisnya yang kusuka.

“Ya.. Aku tahu.. Saat melihatmu di rumah sakit aku bingung apa yang kau lakukan disana, Camelia. Kutanyakan dokter yang memeriksamu, namun karena sumpah jabatan dia bersikeras tidak mau memberitahuku.. Sampai kukatakan bahwa aku adalah suamimu.. Awalnya dia tak percaya, tapi sungguh bodoh bila dia tidak mempercayaiku, aku bisa memecatnya bila aku mau” Liam tertawa geli saat mengucapkan hal itu. jadi dia tahu? Dia telah tahu?? Lalu mengapa dia tidak mencariku? Laki-laki berengsek. Urghhh!!

Kulepaskan tautan tangan kami dengan kesal, Liam kebingungan karena perubahan emosiku yang tiba-tiba.

“A..ada apa, Lia? Apakah ada kata-kataku yang salah?” tanyanya khawatir.

“Kamu tahu, tapi kamu tidak berusaha mencariku?? Kamu memang laki-laki bajingan, hidung belang, mata keranjang, busuk, mesum, aku membencimu!” aku mencoba berdiri dan menyingkir dari hadapan si Kodok Liam ini, tapi dia memeluk tubuhku. Dia tertawa kecil, huh!! Apa yang lucu? Sama sekali tak lucu.

“Jangan marah.. Aku selalu memperhatikanmu meski kau tak tahu. Setiap pulang dari praktek aku selalu singgah di depan kompleks kosmu, duduk dalam mobilku berjam-jam hingga lampu kamarmu padam. Aku ingin masuk.. Tapi temanmu dan laki-laki itu disana. Aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku belum berhasil mendapat persetujuan ayahmu, selama ini aku mencoba, tapi selalu gagal. Dia semakin membenciku dan selalu mengusirku dari rumahnya” jawab Liam dengan ekspresi kesakitan.

“Papa menamparmu?” tanyaku sembari menyentuh pipi kirinya yang berbekas merah. Pipi yang selalu menjadi tempat sasaran kemarahanku, sudah dua kali aku menampar Liam, namun dia tak pernah membalasnya.

“Bukan apa-apa. Aku bisa menahannya, bahkan tamparanmu pun aku bisa menahannya. Kalian ayah-anak senang sekali menampar pipiku” jawabnya sambil cengengesan.

“Itu karena kamu berengsek, makanya kamu pantas ditampar” jawabku merengut. Ah.. mami.. setelah semuanya jelas hatiku terasa ringan, hanya sedikit beban yang masih mengganjal, bagaimana kami akan mengatakannya pada mu.. Aku harap mami tidak seperti papa.. Aku sungguh takut membayangkan bila mami juga menentang hubungan kami.

“Camelia.. Apa yang kau pikirkan? Katakan padaku.. Aku sedih melihat wajahmu bersedih” bisiknya ditelingaku. Kami masih berpelukan seperti ini, aku tak ingin melepaskan pelukan Liam, takut kalau laki-laki ini akan pergi meninggalkanku lagi. Bisakah aku mempercayainya? Bisakah Liam kupercayai untuk tidak meninggalkanku lagi?

“Liam.. Apakah kamu akan pergi lagi? Aku takut bila kamu pergi lagi, tanpa kabar.. Kamu membuatku sedih, kecewa. Mengapa kamu tidak pernah menghubungiku saat kamu pergi? Bahkan setelah siang itu, kamu menghilang sebulan lebih tanpa kabar, kamu hanya datang setelahnya seolah tak ada yang terjadi, seolah hatiku tak pernah kamu sakiti. Bagaimana aku harus bersikap bila kamu seperti itu terus?”

Liam mengecup keningku, dia menatap mataku dalam-dalam.

“Lia.. Camelia.. Aku tak akan meninggalkanmu lagi, bilapun aku pergi aku akan mengajakmu serta. Aku tak akan pergi dari kota ini, rumahku disini, dimanapun kau berada, disanalah rumahku. Aku akan pergi kemanapun kau ingin, Camelia” jawabnya pelan. Liam mengunci daguku dengan tangannya, aku tahu dia ingin mencium bibirku sekarang. Tapi banyak hal yang ingin kutanyakan, aku tahu bila kami sudah berciuman.. akan berlanjut ke hal-hal yang lebih ehm.. lebih.. panas. Aku harus mengetahui beberapa hal dulu dari Liam.

“Tunggu.. Aku tahu apa yang kamu inginkan, tapi aku masih ingin bertanya lagi” selaku. Kututup bibirku dengan telapak tanganku yang berhasil dikecup oleh bibir Liam. Diapun tersenyum dan tak melepas tanganku.

“Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan. Aku tahu, selama ini yang kau tahu hanyalah namaku. Dan segala sifat burukku”

Aku menggigit bibirku, laki-laki ini bisa begitu menawan dengan tatapan matanya yang hangat. Pandangan matanya membuatku meleleh dalam pelukannya. Tapi ada yang harus kubereskan sebelum Liam melakukan hal lain.

“Siapa namamu? Berapa umurmu? Apa pekerjaanmu? Apa statusmu? Dimana saja rumahmu? Siapa saja mantan-mantanmu? Apakah kamu sedang berhubungan dengan seseorang selain aku? Apa hobimu? Warna apa yang kamu suka? Ehm..” aku rasa semakin lama pertanyaanku semakin tak jelas dan tak berbobot. Liam tersenyum kecil mendengar pertanyaan-pertanyaanku.

“Baiklah.. Aku akan jawab satu per satu. Namaku.. Liam, nama lengkapku William Andreas Renatha. Rekan sejawat biasanya memanggilku dengan sebutan Doktor, karena aku memiliki beberapa gelar yang mungkin membuatmu menganga bila kau dengar” dia menjentikan jarinya diujung hidungku. Tunggu dulu, rasa-rasanya aku pernah mendengar nama lengkap Liam.. Tapi dimana... William..Andres.. Renatha.. hmm.. Aku lupa..

“Wajahmu sungguh lucu saat sedang berpikir seperti itu. Ok ok.. aku lanjutkan, jangan cemberut, aku hanya bercanda. Ehm.. Mereka biasa memanggilku Doktor dokter William Andreas Renatha, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Disini aku praktek di.. rumah sakit Guna Dharma Husadha, rumah sakit dimana kau diperiksa kemarin. Rumah sakit itu sebagian besar sahamnya atas namaku, jadi bisa dikatakan rumah sakit itu milikku” sampai disana aku menganga lebar. Liam seorang DOKTOR? Yang bener?????

Kupandangi lagi wajah Liam dari ujung tumit hingga ujung rambutnya, laki-laki ini tak kelihatan sedikitpun seperti seorang DOKTOR!! Dia masih Liam yang suka menggodaku dengan wajah culas dan senyum liciknya. Apakah dia menggodaku lagi sekarang?? Lalu aku teringat pada laki-laki dengan gelar sama yang dimiliki Liam ketika aku kerja paruh waktu dulu.

“Apakah kamu laki-laki yang memberi seminar di hotel Sahid dulu itu?” tanyaku tak percaya.

Liam memicingkan matanya, mencoba mengingat sesuatu. “Bagaimana kau tahu? Aku baru saja kembali dari Amerika.. setelah aku meninggalkanmu tanpa kabar..” wajahnya berubah sedih saat menceritakan hal itu.

“William Andreas Renatha.. Jangan katakan kalau kamu juga yang mengirimkan surat dan cincin itu padaku??” tanyaku lagi. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Sungguh semua misteri ini terungkap hanya dengan mengetahui nama si Liam jelek ini.

“Ya, itu dariku. Aku mengirimnya dari Amerika karena aku tidak bisa kembali sebelum waktuku habis. Aku menerima gelar doktor kehormatan di salah satu universitas di Amerika, aku sangat ingin pulang dan menemanimu di hari ulang tahunmu. Namun aku hanya bisa mengirimkan surat itu.. Dan cincin itu.. Apakah kau menyimpannya? Aku takut kau membuangnya”


Liam sungguh bodoh bila mengira aku akan membuang cincin semahal itu? Perkiraanku cincin itu bernilai tiga juta rupiah dengan harga beli emas seperti sekarang ini. Aku tidak suka menghambur-hamburkan uang, apalagi emas. Sungguh gila.. 


88 comments:

  1. Liam........
    thanks cyin....ada kuis lagi gak???hahahahaha(reader yang banyak mau nya)

    ReplyDelete
  2. big thanx mbak shin next chapter please

    ReplyDelete
  3. yahhhh ga jadi ama edo yaaaahhhh
    wekekekekekekekek

    skrg tinggal maminya si neng deh gimana tuh reaksinya

    ReplyDelete
  4. liam... liam..
    mbak shin next chapter please please please *Puppyeyes

    ReplyDelete
  5. Mba shin mkasih ya boleh minta lg ga xixixixixixixxiixiiiii

    ReplyDelete
  6. whuaahhahahhaaa..
    ya iyalah...sapa juga yang mw buang cincin emas seharga sgitu~~~
    orang gila juga pasti ga bakal mau...wkwkkwkw

    darl'..makasih so Mad yaa...loph u always...

    ReplyDelete
  7. Hey...You're so cool, dude..

    makasih yach !

    ReplyDelete
  8. Yeaaaaaaa ketauan si neng matre :p
    Wkwkwkwkwk...
    Makasih M Shin :*

    ReplyDelete
  9. Aww,,awww,,awwwwww....
    *meleeleeehhhhhhh*....
    Mauuuu cincinnyaaaa... #salahfokus
    Mksh Mba Shiiiinnnnn...

    ReplyDelete
  10. Ayo...lanjutkan mBa shin
    aku suka liam yg begini...
    jd makin cinta dech
    heheheee

    ReplyDelete
  11. wah ternyata liam org kaya plus pinter. beruntungnya neng kkkk
    makasih mba

    ReplyDelete
  12. Akhirnyaaaaa..
    udah clear smuanya, tinggal minta restu keluarga si neng.

    thanks mba shin :*

    ReplyDelete
  13. Mba shiiin..si Liam jgn dbuat tamat donk..
    D'prpnjang Lªªġ℮..klo bs smpe chapter 50-an..problem2nya kurng bnyk..
    Biar mkin pnasaran gtchuu..
    *mrem-mlek smbil garuk2 pala* x)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan ach M, nanti kaya' sinetron Indo @.@
      Mending singkat, padat n jelas kaya' drama Korea gt... Berkesan :3
      Tinggal tunggu karya M Shin yg lain..,

      Delete
  14. oh gitu alasan liam datang dan pergi sesuka hati...
    aku suka adegan neng narik liam dr bokapnya...
    lop u mbk shin... nambh lg ga nih?

    ReplyDelete
  15. Siap2 galau d next chapter
    *kebiasaan M Shin... Hehehe... :)

    ReplyDelete
  16. internet lem0t, jdi maklum ya all klu komentx bisa double or triple? Thank u mbak shin, gamex lanjut... :D

    ReplyDelete
  17. Ayoooo mbak shin cong 19 dong penasaran ini awawawawawawww (‎​ʃƪ♥♥ړ)

    Mau Liammm ketagihan ini, mau sakaw aja deh... (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳

    ReplyDelete
  18. Asyik asyiiikk muncul lg Liam na.......
    (Ikutan komen, sapa tau da tantangan lg lol)
    Makasih Mba Shin....
    Semangatttt (●o●)/ .......

    ReplyDelete
  19. wah..ternyata si neng perhitungan juga ama duit
    hehehehhehehehe........

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo komen...komen....komen....
      chapter 19.......ditunggu.....

      Delete
  20. Cieeh cieeh
    Cini cini yg lg happy mkn kue bikinanku,
    Asiiik deh ciin
    Smg beruntung ya liam n neng nong

    ReplyDelete
  21. :* mùάçĥº°ºmùάçĥº°ºmùάçĥ :* maaci kak shin.. aku mau liam lg.. lagi lagi lagi..

    ReplyDelete
  22. Mba lagi dong ke ep 19.... makasih

    ReplyDelete
  23. Entah kenapa demen bgt cerita ini wlo gemes banged ama neng + cong...

    ReplyDelete
  24. Ah Udah nikah kok aq ndak di undang sihhhh hehee

    Makasih mbak shin :)

    ReplyDelete
  25. Mbakk shin... Ayok lanjutannya di posting ..
    Udah gak sabar sama epilognya.. Hehehe

    ReplyDelete
  26. Wkwkwk jdi penasaran dg bentuk cincin dr Liam,,
    Aku jua mau doong di ksh cincin kyk Neng,,
    tpi ciapa yg ngasih yaa
    Ah,,,, keppo sndri jdi ya ( ^_^ )
    Mba Shin lngjut doong !

    ReplyDelete
  27. liam...... i love you full...
    mbak shin...love you full tank... #eh

    posting bab selanjutnya dong... :P
    makasih ya muach muach muach

    ReplyDelete
  28. mana ni komennya?? eike tunggu sampe jam 9 wib ya. kalau komennya buanyakkkk... br deh cong 19 keluar. UNTUK CATATAN cong 19 ada ADEGAN PANASNYA. EHEEEMMMM.... kl komennya 60 lebih.. baru deh CONG 19 KELUAR. OKEHHH???

    ReplyDelete
  29. Gomawo mbak shin...
    Klo blh nambah lg dong mbak......??hehe...mianhe....

    ReplyDelete
  30. Iri sama si neng dapet liam yg ök, tuh bokapnya si neng mau enaknya sendiri dasar;-)

    ReplyDelete
  31. nambah 1 komen...demi cong 19

    #naura

    ReplyDelete
  32. ceritanya selalu bikin penasaran jadinya ketagihan....

    ReplyDelete
  33. Mbak shin, liamnya lagi lagi dan lagi donk...

    :may:

    ReplyDelete
  34. kasiiii dahhhh komennya hoho

    Ceritanya bagus mba aku kira liam bakalan kga percya kalo neng hamil anaknya,,, ternyata kga so sweet lg...
    seneng,,, suka,,, beuddd hehe :)

    ReplyDelete
  35. mbak shinnnnnn.....ayo cong 19-nya posting.....hihihi....

    -rani-

    ReplyDelete
  36. mamiiiiiii.....so sweet~

    lagiii donggg mbak shinnn..... >,<

    ReplyDelete
  37. Mbak Shin... Sampai sekarang aku masih bingung lo..... Di cong 11 neng kan baju basah..... Di biarin di kamar mandi.... Nah dia pulang pake baju siapa ?
    'Lia'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu kan Neng emang mau pulang ke rumah maminya, kan bawa tas, isi baju donk, ya ambil dari sana aja ;) semoga gk bingung lg ya hahahaha

      Delete
    2. waktu itu kan Neng emang mau pulang ke rumah maminya, kan bawa tas, isi baju lah, ya ambil dari sana aja hehehe semoga gak bingung lagi ya :D

      Delete
  38. Liammmm I lopg U ....
    ga sabar bab 19 yg hottt :P

    ReplyDelete
  39. Hot hot hooooooooootnya ditunggu mba
    -Henny-

    ReplyDelete
  40. Susahnya mw komen huaaa
    #jedot2in jitak nong ke tembok
    Yess bntr lg mreka nikah, cihuuuyy
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba

    ReplyDelete
  41. Susahnya mw komen huaaa
    #jedot2in jitak nong ke tembok
    Yess bntr lg mreka nikah, cihuuuyy
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba

    ReplyDelete
  42. komen...komen....komen....congggggg 19.....hehehe

    ~sarah~....

    ReplyDelete
  43. mbak shinnnnn....ini komennya kurang berapo????....laila

    ReplyDelete
  44. Udh ngarep hr ini mbak shin berbaik hati upload 2 chapter sekaligus :) _sautsautan

    ReplyDelete
  45. suka...
    lanjut dong... please :p

    ReplyDelete
  46. suka...
    lanjut dong... please :p

    ReplyDelete
  47. mba shin... mnt cong lgi dnk..... ampe chptr 23...epilog ya nnti2 gak pa pa,hehehe

    ReplyDelete
  48. menko menko menko menko menko
    cong 19 plisplisplis mbak
    maacihh

    alin

    ReplyDelete
  49. Makasih mba Shin... Ayo lanjut cong 19 nyah....

    ReplyDelete
  50. mbakyuuu,,next chapter duoonnkkkkk,,,,,

    ReplyDelete
  51. tuh mbak shin udah lebih dari 60 komen
    hehehehehehe.........ayo chapter 19..........

    ReplyDelete
  52. ahirnya abang liam ama neng lia ketemu lagi
    mbak shinnnnn lagih donggggg. sampe tamat kalo perlu.
    ngarep.com
    thx mbak

    ReplyDelete
  53. Hmmm


    Ntar klo krka jadian...nikah .. anaknya neng ma liam bakal jdi cucu sekaligus pobakannya bokap neng sama lily ya... ruet jga.. tpi gak mslh she.... seru jga malah... ruet yg ada

    ReplyDelete
  54. nambahin komen sebelum jam 9

    #lila

    ReplyDelete
  55. wah baru liat nih kak
    komen doloo. ahhhhh mudah2an kali ini kuota mencukupi, agar semua bahagia. ehehehe

    thx kak

    -uli-

    ReplyDelete
    Replies
    1. 56 kak shinnnn. hehe.
      ayoayooo tambah lagi

      Delete
  56. next chapternya mbak shin...

    ReplyDelete
  57. lanjutin dong mba shiiiiinnnnnn
    super penasaran niiiihhhh
    -fina

    ReplyDelete
  58. aku sukaaaaaa beud nich cerita...dania

    ReplyDelete
  59. asyikkkkk cong mow di posing nich...hohoho,,,,
    -ranti-

    ReplyDelete
  60. jadi dipostingkah cong 19nya mbak shin????...
    thank's ya mbak shin...

    #ratu

    ReplyDelete
  61. hayooo mbak. cong cong cong 19. udah 60 lebih tuh. hahhaha

    ReplyDelete
  62. mbak....udah berapa ini komen-e?

    nia

    ReplyDelete
  63. Giliran duit aja si eneng engeh, parah hahaha

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.