"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, March 15, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 19



warning : 17 tahun ke atas

“Aku masih menyimpannya, menunggu seseorang mengklaim cincin itu dariku” jawabku acuh. Liam berdecak senang dengan jawabanku.

“Memang tak salah aku memilihmu, Lia.. Sekarang sudah bolehkah aku menciummu? Sudah dua bulan aku tak mencium bibirmu.. Aku sangat merindukannya” bibirnya dimonyongkan ke bibirku, namun kutepuk bibir itu dan dia mengijap kesakitan.

“Kamu belum menjawab semua pertanyaanku. Umurmu.. statusmu blablabla.. banyak sekali” aku mengancam, dia harus menjelaskan semuanya bila ingin hubungan ini berjalan lancar.


“Ya.. Baiklah aku menyerah.. Er.. sampai dimana tadi? Oh, umur? Tahun ini usiaku.. Sial aku sudah tua bila dibandingkan dengan umurmu” jawabnya sambil mengacak rambutnya.

“Kau masih mau kan, Lia? Dengan laki-laki setuaku? Yah, tidak tua-tua banget sih.. Usiaku tiga puluh dua tahun, tahun ini” jawabnya meringis. Jadi Liam lebih tua sebelas tahun dariku? Aku harap usianya menunjukan tingkat kedewasaannya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“Hm.. Teruskan” aku tak ingin menjawab pertanyaan Liam, akan kubiarkan dia penasaran dengan jawabanku. Toh dia belum melamarku, aku harus menaikkan harga jualku agar dia tidak mengira aku akan bersedia melemparkan hidupku begitu saja padanya. 

“... Kau tak ingin menjawab pertanyaanku sebelumnya dulu?” tanyanya dengan wajah memelas. Sungguh menyenangkan bisa membuat Liam memasang ekspresi wajah bodoh seperti itu.

“Nope.. Kamu harus menjawabku dulu. Semuanya..” jawabku kukuh.

Liam menghela nafasnya, dia bersandar di punggung sofa, tangan kami masih saling bertautan tak ingin saling melepaskan.

“Sekarang apa? Pekerjaan? Aku bekerja sebagai dokter spesialis dan konsultan di rumah sakit Guna Dharma Husadha, disana juga aku menjabat sebagai direktur utama, juga sebagai konsultan di beberapa rumah sakit lain di kota ini dan rumah sakit lain di ibukota. Aku juga menjabat sebagai ketua Perki provinsi kita, kau tahu Perki? Persatuan Kardiolog Indonesia, persatuan dokter spesialis jantung singkatnya. Ya, aku dokter spesialis jantung, tapi aku tidak bisa mengobati jantungku bila kau meninggalkanku” ughhh gombal.... Bisa-bisanya dia menambahkan kalimat itu di sela-sela keseriusanku mendengar penjelasannya. Aku menutup mulutku demi menahan tawaku, Liam.. Kamu sungguh laki-laki tukang gombal!!!

Dia membuka tanganku, dengan sekali hentakan tanganku sudah dikungkungnya dengan tangannya, wajahku dikuncinya dengan sebelah tangannya yang lain.

“Aku sudah tak bisa menahan lebih lama lagi, Camelia.. Aku ingin mengecap bibirmu. Aku merindukanmu..” lalu dia menciumku dengan mesra. Mataku terpejam, kami menikmati ciuman pertama kami setelah dua bulan lamanya tak bertemu. Bibir Liam terasa manis dibibirku, manis rokoknya. Dia memagut bibirku dalam, mengecap setiap jengkal bibirku, tanganku kini telah berada di depan dada Liam, merasakan dadanya yang keras pada telapak tanganku. Debar jantungnya bertalu-talu, aku bisa merasakan debarannya bergema hingga kepermukaan dadanya.

“Liam..” aku membisikkan namanya saat bibir kami berpisah, hanya sejengkal. Dia menatap mataku dengan wajah yang sama, wajah yang kulihat sesaat sebelum Liam mengangkat tubuhku ke atas ranjang, seperti sekarang ini. Dia memang tidak pernah menanyakan apakah aku ingin melakukannya dengannya. Namun.. Aku tidak melawan, dia tahu aku menginginkannya, dia tahu aku merindukannya, dia tahu tubuh kami saling menginginkan, begitu pula hati kami.

Liam membaringkan tubuhku dengan lembut di atas ranjang, ranjang yang begitu kurindukan. Perlahan-lahan dia merangkak di atas tubuhku, membuka jas putihnya, melemparkan dengan gemas ke lantai, lalu kancing-kancing kemeja lengan pendeknya hingga dia bertelanjang dada. Kacamatanya pun dia lepaskan.. ahh.. Aku menyukai Liam tanpa kacamata meskipun dia tetap berengsek dengan dan atau tanpa kacamata itu.

Kutangkap kacamata ditangannya ketika dia hendak melemparkannya begitu saja ke lantai, dia gila? Kacamata ini bisa pecah.

“Biar aku letakkan di atas meja, kamu tak usah diam seperti itu” kataku merengut. Dia tersenyum padaku, senyum jahil yang selalu menghiasi wajahnya tatkala menggodaku dulu.

“Ya.. Aku tahu, kau akan selalu ada untuk mengingatkanku. Betapa aku beruntung memilikimu, Camelia..” tubuh Liam mulai menindih tubuhku, setengah berat badannya ditopang oleh kedua sikunya, tubuh bagian bawah kami saling menempel, aku bisa merasakan ereksi Liam yang menempel pada pangkal pahaku yang telah diklaimnya dengan cara membuka lebar-lebar selangkanganku dengan kedua pahanya. Dia laki-laki mesum, dia pasti tahu segala jenis cara bercinta! Huh!

Lalu dia mencium bibirku, pelan, dalam, lembut dan perlahan-lahan. Dia mengecup rahangku, pipiku, keningku, telingaku lalu turun ke leherku sembari tangannya dengan lihai membuka kancing-kancing bajuku, membuka tali BH ku dan membuatku telanjang dada memperlihatkan kedua payudaraku yang hanya menjadi miliknya.

“Milikku..” bisiknya di bibirku.

Tangan Liam berada di puncak payudaraku, memilin, memutar hingga kurasakan getaran yang sama yang kurasakan dua bulan lalu disekujur tubuhku, saat Liam merangsang tubuhku, mengalirkan desiran-desiran pada darahku, membuat jantungku berdebar semakin kencang dan tubuh bagian bawahku berdenyut menyiksa.

“Liam..” kubisikkan nama laki-laki ini saat lidahnya bermain pada payudaraku, bibirnya menghisap, mengklaim kepemilikannya atas tubuhku.

“Ya, sayang.. Apa yang kau inginkan? Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, Camelia-ku. Aku akan menciumi seluruh tubuhmu, karena aku mencintaimu, aku ingin mengecap seluruh rasa tubuhmu dengan bibirku, dengan lidahku.. Kau suka itu, Camelia? Kau suka bila aku menciumi seperti ini?” Liam menarikan lidahnya turun ke arah pusarku, menari-nari di sekujur perutku, pinggulku, turun ke paha hingga tumitku. Dia tidak ingin menyentuh daerah itu, daerah yang telah menjerit-jerit untuk disentuh olehnya. Liam sungguh kejam padaku, dia tahu aku tak berpengalaman, aku hanya menginginkan dia melepaskan aku dari kesakitan yang menyiksa ini. Argh.. Liam..

Tubuhku menggelinjang, ku desakan pangkal pahaku pada kepalanya namun Liam hanya tersenyum dan lidahnya tetap menggoda paha dalamku, sedikitpun dia tak menyentuh daerah kewanitaanku. Laki-laki ini membunuhku dengan rayuannya. Aku hampir tak dapat menahan ledakan dari dalam tubuhku, kurasakan organ terintimku telah basah dengan cairan pelicin, siap untuk Liam memasukiku. Tapi laki-laki ini rupanya lebih suka bersenang-senang dan menyiksaku. Dia mendapatkan kesenangannya sendiri dengan menahan pelepasanku.

“Belum, sayang.. Terlalu cepat untukmu, aku akan memperlihatkan padamu arti surga sesungguhnya” Liam melepaskan rok bawahku, menurunkan celana dalamku lalu dibuangnya ke bawah, kini tubuhku telah telanjang bulat dibawahnya. Liam memandang takjub, dia terang-terangan memperlihatkan bagaimana dia terpesona melihat tubuhku, membuatku malu setengah mati. Laki-laki ini memiliki caranya sendiri untuk membuatku merona merah.

“Kenapa pipimu merah, sayang? Kau tak perlu malu.. Kau sungguh cantik, Camelia. Dirimu sempurna, dirimu adalah milikku, hanya milikku. Tak akan kubiarkan laki-laki lain memilikimu”

Tubuhku bergidik mendengar penuturan Liam, dia lalu menghilang dibalik selangkanganku, kini mulutnya bermain disana.. Di bagian tubuhku yang paling sensitif.

“Argh.. Liam..” bisikku lirih. Dia benar-benar ahli menggunakan lidahnya dibawah sana.

“Kau suka, sayang? Aku akan memuaskanmu hanya dengan lidah dan tanganku, kau akan ketagihan, Camelia. Aku akan membuatmu ketagihan padaku..” lalu Liam menusukan sebuah jarinya ke dalam liangku, jari yang telah dia basahkan dengan cairan pelicin menghilang amblas dalam liangku, bergerak keluar masuk mengirimkan aliran listrik pada tubuhku. Lidah Liam yang bermain menghisap dan memilin klitorisku hanya menambah kegilaanku karena permainannya dibawah sana.

Semakin cepat Liam menggerakan tangannya, semakin cepat pula tubuhku berdenyut hingga akhirnya tubuhku jatuh dengan telak ketika pelepasanku kucapai juga. Aku menangis, karena begitu indahnya pelepasan pemberian Liam untukku. Dia mencium bibirku lagi, tersenyum kecil melihat kebahagiaanku.

“Aku mencintaimu, Liam. Hanya kamu laki-laki yang aku cintai.. Cinta pertamaku, cinta terakhirku..” bisikku padanya.

“Amin.. Aku juga mencintaimu, Cameliaku. Segenap hatiku hanya untukmu, aku tak ingin terbawa suasana, namun suasana ini sungguh sayang untuk dilewatkan. Menikahlah denganku, Camelia.. Aku memohon, jadilah istriku, pendamping hidupku, penyemangat jiwaku, perayu hidupmu, penggoda tubuhmu, atau apapun yang kau inginkan, aku akan menjadinya untukmu.. Please marry me, baby..” dia menunggu jawabanku, wajahnya berkedut-kedut serius. Lalu senyum muncul dalam matanya yang hangat setelah kuanggukkan kepalaku.

“Ya.. Aku mau menikah denganmu, Liam. Nikahilah aku, bawalah aku pergi dari kehidupan tak jelas itu. Bangunlah masa depanmu bersamaku, aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi, aku akan menjadi kekasih hatimu, kekasih jiwamu dan tubuhmu, hanya aku yang boleh memilikimu, begitupula aku hanyalah milikmu” begitulah, aku menerima lamaran kekasih hatiku, laki-laki yang kucintai. Meskipun usia kami yang cukup mencolok, tapi aku tak perduli, aku memang ingin menikahi laki-laki yang telah dewasa, matang baik umur dan kepribadian, dan semua kudapatkan dalam diri Liam.

Liam mengecup bibirku lama, bersyukur atas jawabanku yang diharapkannya.

“Terima kasih, Camelia.. Terima kasih. Mulai saat ini, kau adalah istriku.. Seingatku kita sudah menikah kan di depan ayahmu? Jadi sekarang aku akan menunaikan tugasku sebagai seorang suami yang baik” senyum licik tersungging di sudut bibirnya. Oh, Liam.. Aku tak akan pernah bosan melihat senyum licikmu ini, aku telah jatuh cinta pada dirimu, pada senyum pertamamu yang begitu menyebalkan.

“Dasar laki-laki licik, tapi aku mencintaimu..” kutarik kepala Liam lagi hingga bibir kami bersentuhan dan dia mencium bibirku mesra.

Liam lalu melepaskan celana panjangnya dan sisa pakaian yang membungkus tubuhnya. Ereksinya berdiri tegak menggodaku, berdiri dengan perkasa menantang di depanku. Liam berlutut di hadapanku, matanya mengawasi tatapan mataku yang tertuju pada ereksinya yang berkedut-kedut.

“Kau ingin menyentuhnya, Camelia? Aku ingin kau menyentuhnya..” lalu Liam menangkap tanganku dan mengenalkan ereksinya pada tanganku, untuk pertama kalinya aku kaget. Tak seperti bayanganku, kejantanan Liam terasa hangat, kenyal namun keras. Kugenggam ereksinya dan kuurut naik turun hanya karena insting.

Aku belum pernah memegang benda ini sebelumnya, baru kali inilah aku melihatnya secara langsung. Bahkan ketika kami pertama kali bercinta, Liam langsung menghujamkan ereksinya ketubuhku, aku tak sempat melihatnya. Namun kini.. Benda ini berada dihadapanku, aku tak yakin bila aku ingin menciumnya, atau melakukan seperti yang Liam lakukan padaku, aku belum seberani itu. Masih menjijikan bagiku untuk memasukkan benda itu ke dalam mulutku.

Liam melihat keenggananku, dia hanya tersenyum lalu merebahkan tubuhku lagi di atas ranjang. Kini dia memeluk tubuhku, menciumi bibirku lagi, ke leher lalu turun kebawah.

“Aku tak akan memaksamu, sayang. Kau tak usah bersedih, aku hanya ingin membuatmu puas, kepuasanmu adalah kepuasanku. Apakah kau siap? Kali ini aku tak akan menahan tenagaku, akan aku lakukan sepenuhnya. Aku akan bercinta denganmu, sayang” Liam mengelus tubuhku, membuat tubuhku merinding mengetahui apa yang akan kami lakukan sebentar lagi.

“Ya, aku siap, Liam.. Lakukanlah seperti kehendakmu. Aku akan bertahan..” jawabku gugup. Apakah akan sesakit seperti sebelumnya? Wajahku merengut menahan kemungkinan rasa sakit yang bisa kudapatkan dari percintaan kami kali ini. Liam mencium bibirku lagi, membisikkan kata cinta dan menghiburku bahwa tak akan seperti dulu, tak akan sesakit itu, dan tubuhku rileks demi mendengar penuturannya.

Ketika ujung ereksi Liam memasuki tubuhku, aku tahu dia berbohong, karena rasanya masih sakit seperti dulu.

“Ugh.. Sakit, Liam..” air mataku menitik lagi, mengapa masih sakit? Bukankah seharusnya tidak sakit lagi?

“Shh.. Hanya beberapa saat, setelah ini aku janji tidak akan sakit lagi, Lia.. Kau akan menikmatinya, akan kupastikan kau menikmatinya, sayangku. Bersabarlah.. Tahan sedikit lagi untukku..”

Sambil menghujamkan ereksinya perlahan-lahan di atas tubuhku, Liam menciumi bibir dan tubuhku. Dia ingin mengalihkan pikiranku dari rasa sakit yang begitu menusuk. Argh.. Setiap gesekan ereksi Liam pada dinding kemaluanku menyentakkan rasa sakit yang aneh, rasa sakit yang membuatku mengingingkan lebih lagi. Aku kira inilah yang dimaksud dengan nikmat percintaan? Tapi mengapa perutku terasa penuh? Tubuhku terasa penuh oleh ereksi Liam yang bergerak semakin cepat keluar masuk.

“Agh.. Liam..” rintihku disela-sela rasa nikmat yang mulai menjalar dari pusat tubuhku ke seluruh syaraf-syaraf.

“Ya, sayang.. Nikmatkah? Kau suka? Kau mau lebih, Camelia? Apakah kau siap merasakan nikmat yang sebenarnya? Jika iya, aku akan memberikannya sekarang juga.. Oh, Lia.. Sungguh nikmat sayang.. Tubuhmu ah.. Kau membuatku gila..” Liam bergerak diatas tubuhku dan menghujamkan kejantanannya dengan cepat.  Tubuhku yang mulai rileks kini mengkerut lagi demi menahan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Liam pada kemaluanku.

Sungguh nikmat, tubuhku menggelegak, penuh sesak dengan rasa yang tak kutahu ada. Bahkan aku hampir lupa bernafas karena begitu intensnya percintaan kami. Gerakan  demi gerakan Liam diatas tubuhku mengirimkan desir yang menyiksa sekaligus nikmat pada bagian intim tubuhku, rasa yang sama yang kurasakan dulu kini mulai menghampiri.. ah.. apakah ini? Apakah ini pelepasan yang kucari? Inikah?? Aku merasa ingin buang air kecil, apakah Liam akan marah bila aku mengotori ranjangnya? Aku tak tahan lagi, apa yang harus aku lakukan, rasanya begitu nikmat tapi..

“Liam.. Aku ingin kencing.. Tolong aku..” rengekku sembari menangis. Tanganku mencengkeram seprai putih yang telah berantakan oleh tanganku.

“Shh.. Tak apa-apa, Camelia. Keluarkan.. Keluarkan disini. Tak usah khawatir akan mengotori ranjang, itulah surga yang aku janjikan padamu. Keluarkan, sayang. Setelahmu maka aku bisa mengeluarkannya juga. Ayolah, Camelia.. keluarkan sayangku.. Aku ingin merasakan cairanmu menyatu dengan cairanku.. Lia.. oh Lia..” Liam menciumiku lagi, aku tak bisa bertahan lagi, kucengkeram kuat-kuat tubuh Liam dan mengeluarkan apa yang kutahan sedari tadi.

Sungguh tak kusangka, tubuhku bergetar hebat, ahh.. Tuhan.. apa ini?? Mengapa perasaan ini.. ah.. ah.. rasanya sungguh menggoncang tubuhku, inikah pelepasan itu? Saat pertama kali melakukannya dengan Liam aku tak tahu bila rasanya akan seperti ini.. ah.. tubuhku lemas lunglai, masih tak berdaya dengan denyutan demi denyutan yang terjadi dalam tubuhku.

Tak lama, Liam mengerang di atas tubuhku, dia mencengkeram bahuku erat, matanya terpejam dengan nafas tertahan. Dia mengerang kesakitan, ah Liam.. apa yang terjadi?

“Lia.. Camelia.. Argh!!.. Egh..!! Ah..hahh..hah.. Lia.. Aku keluar sayang.. arghh..” lalu kurasakan tubuhku hangat oleh semburan demi semburan yang dilepaskan Liam di dalamku. Cairan hangat yang menghangatkan tubuh dan hatiku. Kini kami bercinta dengan kesadaran bahwa kami saling mencintai, rasanya sungguh indah, tak ada yang kusesalkan lagi. Laki-laki ini.. dialah orang yang ingin kuhabiskan hidupku bersamanya. Liam ku..

“Aku mencintaimu, Camelia.. Sungguh indah.. Aku tak sabar lagi untuk memboyongmu kerumah ini” tubuh Liam merosot turun kesampingku, dia memeluk tubuhku seperti itu setelah menyelimuti tubuh kami yang kelelahan. Dadanya bertemu punggungku, Liam sangat senang memelukku seperti ini, memberikan dia akses pada seluruh tubuhku, dia masih menciumi leherku ketika dia menyadari pendingin udara kamar ini belum dinyalakan. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Dengan sedikit mengumpat Liam turun mengambil remote dan menyalakan AC, masih dengan tubuh telanjang, Liam menutup pintu diruang tamu dan kembali ke atas ranjang memeluk tubuhku lagi. Kami tidur seperti itu hingga pukul delapan malam, Liam membolos hari ini, dia bahkan tidak kerja praktek.. Ah.. Jangan katakan aku mempengaruhinya dengan cara buruk.


“Tak usah dipikirkan, sayang. Malam ini hanya ingin aku habiskan bersamamu.. Tidurlah” lalu kami berpelukan lagi. Aku terbangun pukul sebelas malam ketika perutku memberontak minta diisi. Kubangunkan Liam dan dia keluar membelikan makanan untukku. Ah.. rasanya aku bisa hidup seperti ini selamanya.. 




76 comments:

  1. pertamax gann.
    main lagi ya mbakkk
    thx mbak cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha main apa?? main kelereng????

      Delete
  2. koment dlu bru baca
    ohmo..
    ad warning na,

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwk pdhl warningnya tulisannya kecil bgt.. kebaca jg ya sist? lol

      Delete
  3. Wuaaah puas... Hahaha...
    Makasih M Shin :*

    ReplyDelete
  4. Ikutan nimbrung mbak Shin , tengkyuuuuu

    ReplyDelete
  5. Lagi dong mbak...
    Masih kangen sama koh Liam niiihhh.

    ReplyDelete
  6. Makasih mbak Shin, hari ini dapat juga cong 19 nya :) bener2 hot hot wow hahahaha _sautsautan

    ReplyDelete
  7. brb ke kamar mandi dulu ya mbak shin....
    ntar aku balik chapter 20 dah di post ya :P
    #ngarep

    hehehehe thank you #hug

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ngapain tuh ke kamar mandi??????

      Delete
  8. wohoooooo
    makasi mba shiiiiin
    -fina

    ReplyDelete
  9. whoaaaa...
    dah d posting..
    thx buanget buanget mbak shin


    next chapter please banget nget nget

    ReplyDelete
  10. Makasih ya mbak shin ...

    ReplyDelete
  11. daebakkkkkk
    keyennnnnnnnnnn i love scene 19 chapter hehehee
    so sweet Liam

    ReplyDelete
  12. Selisih 11 taon?
    *emot syok*
    tapi gapapa, yg penting mapan dan cinta ama si Neng

    Thanks Mba Shin :*

    ReplyDelete
  13. makasih semuanya atas 60 koment lebihnya :D and thanx mbak shin part 19nya *lope*

    ReplyDelete
  14. masih bisa ditambah mbak....????
    hahahahahahaha......

    ReplyDelete
  15. Wahhhh mau dong sama liammmm, mksh mba dah dikasih ep lanjutannya. Mau lagi boleh ya mba shon.... mksh

    ReplyDelete
  16. chapter 20!!!!
    so HOT! but sweet..<3<3

    ReplyDelete
  17. Naah..nyesek aq nunggu'nya..

    Mncul jg..
    "\(^_^)/"

    ReplyDelete
  18. yak! tancap gas terus!!! hahaha =))
    dipersatukan oleh cinta..;;)

    ReplyDelete
  19. mba shin...trims ya n tmbh 1chpter lg donk

    ReplyDelete
  20. Agrrrrr,,
    Akhiry mrka bersatu jua,,
    Liam kasihan tu pasieny udah menunggu,
    jangn sering2 bolos yaaa

    ReplyDelete
  21. oh liam betapa romantisnya dirimu..
    mamanya neng restuin mrk yah,pliss

    ReplyDelete
  22. wuihhhh mantap...lagi dong mba shin yang cantik...hehehehehehhh

    ReplyDelete
  23. Oh wowww,,wooowwww...
    Eh tp,,tp,,Mba Shiiiinnn mw tny...
    Yg dl pas bab brp yh lp yg mrk di mobil ntuh d sms pan di hp Liam??yg blg soal anniversary gt??ntuh sp??jgn2 Liam bnern udh pny pcr sblmny yh??
    Mksh Mba Shiiinnnn.. Yeaaaayyyy mrk mw nkah jg akhrny,,mg2 Mami-ny g nglarang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan sms, tp telpon, n itu jawabannya nanti jg keluar kok di chapter2 berikutnya okey?? hehehehe....

      Delete
    2. Asikkkk,,asiiikkkkk....
      *menunggu dgn sbr*
      Mwuachh..
      :D

      Delete
  24. jeng jeng..
    mami n sodara neng setuju gak yak??

    mami please ijinin neng nikah sama cong klo gak cong buat ak aj lol

    thx mbak shin

    ReplyDelete
  25. bacanya sambil kipas2 ini kak
    ahhh william bedanya 11 taun sama neng lia. tenang liam ga tua kok. ehehehe
    katanya bagus tuh mbak klo beda 11 taon. haha
    makasih ya kak shin. tambah lagi ya kak. plisplisplissssssssss

    -uli-

    ReplyDelete
    Replies
    1. sini tak bantu ngipasin :D ya besok ya

      Delete
    2. haha. bsk sampe tamat ya kak.
      ditunggu si prince wil nyah
      makasih kakak
      -uli-

      Delete
  26. Wow... hot, sesuai warning Πγª . Heheh.

    ReplyDelete
  27. Mbak shin......aturnuhun yey.....chapter lanjutx dunkk.....dunkk....dunkk

    ReplyDelete
  28. akhirnyaaaaa....
    tambahin lagi chapt dong mbaaaak shin yg cantik

    ReplyDelete
  29. Makasih ya mbak shin postingannya...

    ReplyDelete
  30. Mba shin.. Ma'acih yah, dtunggu ecok... ;*

    ReplyDelete
  31. Uwoooh astagaaa~
    Panaaaasss *kipas2*
    Liam so sweet banget mb shiin,hihihi
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  32. akhirnya bersatu juga, neng keren berani nentang bokapnya yg arogan.

    liam aku padamu wkwkwk :D

    scene ehem ehem nya mendebarkan bgt mba. hajar trus hahaha :P

    makasih yo mba :)

    ReplyDelete
  33. Bener 2 nie si liam ma si neng bikin iri, so hot tp tetep romantis thanks
    mb shin ;-)

    ReplyDelete
  34. Smlm baca trus keboboan
    Xixixii
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  35. yasalam....
    Dah banyak bener komentny euy...

    Darl'..makasiih so mad yaayy..
    Ga nyangka si Liam ratingnya bisa kayak si Darren..
    U're awesome, darling...mmuuaacchh...

    ReplyDelete
  36. Liam.....liam.....liam.....
    So hot....:)

    ReplyDelete
  37. wow....thanks mbk shin*kiss
    gmn nasib edo ya....sama aku aja do :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya udah, edo gak dapet neng, dapet nong juga gpp deh.. ihihihi

      Delete
  38. Kak shin
    2 chapter ini kok alurnya tiba-tiba jadi cepet yah
    kirain bakal ada duel babak ke-2 cong vs edo
    (seneng liat cowok cakep terluka, jadi pengen ngerokin) hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ndak lah, edo kan udah diputusin ama neng n edo legowo nerimanya. jd gak ada yg perlu di perebutkan. apalagi edo juga udah tahu neng hamil anak liam kan? jd edo gk punya alasan memaksakan kehendaknya ke neng (lain kata kalau edo itu sifatnya kyk liam, mgkn baru berantem)

      Delete
  39. Mbak shin.....skrang kan udah brganti hari....liam gak nongol kah???*clingak clinguk nyari postingan* gak da kuis kah????

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.