"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 16, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 21



Setelah kami mendapat wejangan dari mami, kami bertiga pun keluar dari kamar, bergabung dengan anggota keluarga yang lain di ruang tamu dan teras rumah. Liam sedang berbicara dengan Rio dan suami kak Melinda, om Irwan. Kak Melinda mendapat jodoh seorang duda beranak dua, namun demikian hidupnya bahagia, om Irwan yang menolak dipanggil om olehku adalah suami yang baik dan pengertian.

Dia juga sangat bijaksana dan dermawan, prinsip hidup om Irwan ini adalah saat kita memberi orang lain, bukan orang itu yang akan membalas budi kita, melainkan orang lainnya lagi. Maka tak heran om Irwan sering membantu orang tanpa memandang siapapun itu, dia tidak pernah berharap mendapatkan balas jasa dari perbuatannya. Aku salut padanya, lambat laun kak Melinda pun berubah, yang tadinya keras kepala dan gampang marah menjadi pribadi yang simpatik dan perduli sesama, kak Melinda telah mendapatkan teladannya.


Sedang mami, kak Melinda, Asri dan istri papaku Lili sedang mengobrol bersama, mereka nampak cukup akrab dan mami tak terlihat cemberut meskipun dekat dengan kakaknya Liam. Apakah mami sudah mampu menerima wanita itu dalam hidup papa? http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Tapi bukankah bila tetap mendendam, hanya diri kita yang akan tersakiti?

Kulihat papa baru keluar dari dapur dengan cangkir kopi di tangannya, dia tersenyum padaku. Melihat papa dengan senyumnya yang ramah, aku menjadi malu karena telah mengata-ngatai papa kemarin siang. Papa menghampiriku.

“Neng, duduk disini yuk, papa mau ngobrol bentar sama Neng” kata papa sambil menunjuk dua buah kursi kayu yang ada di halaman depan. Kulihat Liam melirikku yang berjalan mengikuti papa, dia khawatir namun hanya sekejap, wajahnya kembali seperti semula.

“Duduk disini” kata papa sembari membersihkan kursi kayu itu dengan tangannya, menyapu dedaunan yang rontok dari alas duduk.

“Ahh.. Sudah lama ya kita tidak duduk-duduk seperti ini.. Papa kangen waktu kita masih sering pergi piknik ke kebun raya dulu, waktu itu kamu yang paling semangat ya, bahkan sengaja mengepak tikar dan bantal, tak lupa bonekamu selalu kamu bawa. Lalu sesampainya di kebun raya kamu langsung tertidur, bahkan melewati atraksi hiburan yang ada, lalu kamu akan menangis dan ngambek. Haha.. Ah.. masa-masa itu.. papa sungguh merindukannya” papa tersenyum miris disampingku, aku hanya diam, papa mengungkit kenangan itu hanya membuat hatiku sedih, karena masa-masa itu tak mungkin kembali lagi. Tak mungkin karena kini papa dan mami bukanlah sepasang suami istri lagi.

“Iya, pa. Aku juga merindukan masa-masa itu” masa-masa dimana aku masih bisa memeluk papa dan bermanja-manja pada papa..

Tapi sekarang sudah tak mungkin lagi, bahkan sejak aku masuk SMP aku sudah tidak bisa bermanja-manja pada papa. Karena waktu itu papa selalu marah-marah dan membuatku takut, papa lebih sering berada diluar rumah, tidak pernah melancong bersama kami lagi. Papa lebih senang berlibur dengan wanita lain, meninggalkan keluarga papa dirumah hanya duduk bengong sementara orang lain berbondong-bondong pergi tamasya dengan keluarga mereka.

Papa justru bersenang-senang dengan wanita-wanita sundal yang sudah memiliki anak dari pernikahan mereka sebelumnya. Hatiku sakit saat menyadari papa lebih memilih menghabiskan waktu dengan mereka, yang notabene bukan keluarga papa. Bahkan sering aku berpikir miris, bagaimana bila anak itu adalah anak papa? Adikku? Ah.. aku rasa aku tidak akan bisa menerima bila aku bukanlah anak bungsu papa.

“Maafkan papa, Neng. Papa menyadari papa bukanlah teladan yang baik bagi keluarga kita, saat papa masih kuat, papa selalu menyepelekan kalian, bersenang-senang diatas penderitaan kalian. Menelantarkan kalian, tidak ada saat kalian butuh, bahkan papa tak datang saat kelulusan kalian, papa adalah ayah yang buruk, suami yang buruk. Papa menyesal. Setelah mendengar kemarahanmu kemarin, papa terguncang, ternyata papa salah selama ini. Papa mengira kalian bahagia, rupanya papa salah besar. Papa tidak akan mencari alasan lagi, papa memang salah. Maafkan papa, Neng..”  kata-kata papa terputus-putus, tenggorokannya tercekat. Oh, papa.. Kenapa papa baru sadar sekarang? Seandainya papa sadar sedari dulu, bukankah keluarga kita masih akan tetap bersatu?

Namun demikian.. Aku tidak akan pernah bertemu dengan Liam..

“Iya, pa. Papa sudah mengerti saja, aku sudah senang. Maafin Neng juga ya pa sudah mengata-ngatai papa dengan kasar. Neng durhaka” kataku lirih. Aku tak tahu bila hatiku akan benar-benar lapang setelah memberi maaf papa atau meminta maaf padanya, karena jauh di dalam hatiku aku masih tidak bisa menerima setiap pengkhianatan papa pada kami. Aku tidak akan pernah memaafkan laki-laki yang menyeleweng.

“Iya, Neng.. Terima kasih karena masih mau menerima papa. Papa juga minta maaf karena telah menghalangi hubungan kalian, papa memang egois. Papa hanya berpikir di permukaan. Liam adalah laki-laki yang baik dan pantang menyerah. Meskipun sudah berkali-kali papa menghajarnya, dia masih datang dan berlutut dibawah kaki papa. Ah.. jarang sekali ada laki-laki seperti itu sekarang ini. Papa hanya berdoa agar nanti dia tidak seperti papa, papa bukanlah contoh yang patut ditiru. Tapi kamu jangan khawatir, selama papa masih hidup, tak akan papa biarkan Liam menyakitimu, papa berjanji” papa meremas tanganku. Kami lalu berbicara kesana kemari menghabiskan waktu. Liam yang sedari tadi mengawasi kami kini bisa bernafas lega setelah melihat papa dan diriku tertawa lepas setelah pembicaraan kami yang singkat ini.

Papa kemudian bercerita bagaimana dia bisa bertemu dengan Lili, aku tak menyangka ternyata mereka memang saling mencintai dan papa berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab kali ini. Aku doakan yang terbaik untukmu, pa. Kamu pasti bisa!!

“Lili itu waktu papa pertama ketemu, dia galak banget orangnya. Dia bekerja sebagai perawat di dokter langganan papa, waktu itu dia sedang magang untuk menjadi bidan. Lambat laun karena kami sering bertemu dan beradu mulut, akhirnya Lili mulai melunak pada papa. Oh ya, asal kamu tahu, papa bertemu Lili jauh setelah cerai dari mami mu ya, jadi Lili bukan wanita yang seperti dugaanmu, dia wanita baik-baik. Nah, Lili ini memiliki kekhawatiran yang sangat besar pada penyakit diabetes, seperti yang papa derita. Tapi DM papa kan masih ringan, rupanya dulu mantan suami Lili meninggal karena DM akut, makanya dia sangat galak pada papa karena tidak mengikuti saran dokter untuk diet yang benar” papa menghentikan penjelasannya dengan menyesap kopinya yang mulai dingin.

Aku tak tahu bila Lili sudah pernah menikah sebelumnya, ini berita baru untukku. Liam tidak pernah menceritakan mengenai Lili padaku, yah.. aku tidak menyalahkannya, kami memang baru akur kemarin dan sejak kemarin kami belum banyak berbicara mengenai diri kami.

“Nah, sudah gitu, papa iseng.. Nanya.. papa bilang gini ke Lili, papa ya tertarik juga lah, wong Lili itu cantik, masih muda. Usianya tahun ini kan baru empat puluh, papa lima puluh lima, tidak terlalu jauh kan ya?” oh, papa aku hanya bisa tertawa mendengar leluconmu.

“Teruskan, pa..” kataku memberi semangat, aku sungguh ingin tahu bagaimana kisah cinta perkenalan papa hingga bisa menikah dengan Lili dan nampaknya papa sangat ingin memberitahuku, belum pernah aku melihat papa seperti ini, dia sungguh bersemangat.

“Nah, papa bilang gini ke Lili.. Eh, daripada kamu marah-marah, galak-galak dan bingung-bingung ngurusin dietku yang kacau, kenapa gak kamu aja yang ngatur langsung diet ku dari rumahku. Kamu bisa masakin buatku, ngatur jadwalku, ngurusin apa yang aku boleh lakuin, apa yang aku gak boleh lakuin, kamu juga bisa ngatur keuanganku, isi perabot rumahku, sampai isi kamar tidurku” jelas papa bersemangat.

Aku menahan nafasku, apakah papa melamar Lili seperti itu? Duh, sangat tidak romantis.. memangnya Lili pembantu rumah tangga??? Ah, papa.. kolot banget sih.

“Terus pa, gimana jawabnya Lili?” tanyaku penasaran. Nggak mungkin kan Lili menerima permintaan papa begitu saja??

Papa tertawa terbahak-bahak, dia menepuk pahanya saking girangnya.

“Ya sudah pasti dia tidak menerima lamaran papa.. Yang ada dia semakin marah dan galak pada papa. Tapi akhirnya ketika papa sempat pingsan pas di klinik itu, Lili mendekati papa yang sedang berbaring lemah di atas ranjang periksa, dia bilang dia akan jadi pengurus papa, itupun kalau papa masih mau sama dia. Ah, Neng!! Mana mungkin papa nolak Lili, dia wanita yang baik, pintar, ah.. papa gak mau bilangin sifatnya, takut nanti membandingkan Lili dengan mami mu. Yah, akhirnya kami menikah, Liam yang waktu itu sedang getol-getolnya di ibukota bolak-balik ke sini menanyakan Lili apa dia serius menikah dengan papa. Dia sempat ngamuk-ngamuk karena papa sudah tua, duda beranak pula dengan sejarah yang buruk, papa tidak menyalahkannya. Tapi papa juga kurang suka sama Liam waktu itu. Dia sangat workaholic, di matanya hanya pekerjaan dan tanggung jawab. Maklum orang sukses. Waktu itu papa dan Lili sempat jenguk dia di rumahnya di Jakarta, dia sedang bersama seorang wanita dan papa yakin apa yang telah mereka lakukan disana. Mereka bahkan tidak berpacaran, karena kata Liam wanita itu bukan pacarnya. Dengan enteng dia bilang gitu. Waktu itu sih papa gak perduli, tapi waktu dia bilang mau macarin kamu, anak papa, papa mana terima lah. Laki-laki berengsek kayak dia mau dibawa kemana anak papa nanti? Ahh..” papa menghembuskan nafasnya dengan berat.

Jantungku berdebar kencang mendengar penuturan papa, aku tak tahu bila Liam juga memiliki sisi seperti ini. Dia biasa kumpul kebo dengan wanita lain tanpa memiliki ikatan apa-apa dengan wanita itu? Lalu apakah wanita yang dulu menelphone Liam juga memiliki hubungan seperti ini dengan Liam? Hatiku terasa sedikit dicubit mengetahui hal ini. Ah, akan kutanyakan nanti pada Liam.. Tapi kenapa hatiku bimbang.. oh, papa..

“Terus pa, terus..” kataku. Aku mencoba menyembunyikan suaraku yang bergetar, menyembunyikan suasana hatiku yang mulai gundah.

Papa kemudian melanjutkan ceritanya tentang bagaimana pertama kalinya Liam meminta izin papa untuk berpacaran denganku.

“Waktu itu kita baru balik dari rumah Lili di desa, waktu papa menikah. Nah, kita sudah di sini waktu itu. Liam datang kerumah, awalnya ngobrol biasa aja, lalu dia nyinggung kamu, bilang kalau dia tertarik sama kamu dan pengen minta izin buat pacaran sama kamu. Lah papa kayak kesamber petir di siang bolong. Masak laki-laki berengsek seperti dia mau papa kasi ke anak gadis papa? Tidak bisa. Akhirnya.. papa nampar dia, saking emosinya papa. Untungnya dia tidak membalas ya, karena papa yakin kalau dia membalas, papa pasti kalah” papa tertawa lagi. Aduh papa.. ternyata kebiasaanmu menampar orang menurun padaku, tapi untungnya selama papa menjadi suami mami, papa gak pernah melayangkan sekalipun tamparan atau pukulan pada kami..

“Waktu itu papa peringatin dia, kalau berani deket-deket kamu, papa akan hajar dia lagi. Selama sebulan dia gak dateng, papa lalu denger dari Lili, Liam pergi ke ibukota entah ngapain papa gak nanya. Tapi dia dateng lagi, seingat papa waktu itu gak lama sebelum dia ke Amerika ya? Nah, dia berlutut di kaki papa. Papa sampai terperanjat dia berlutut gitu, papa shock, papa kira ada apa. Awalnya papa mulai tergugah, tapi lalu dia bilang mau ke Amerika mau belajar biar dapet gelar apa itu? Papa lupa. Lah, papa mikir, ndak mungkin papa biarin anak papa ditinggal lama-lama gitu ke luar negeri. Liam itu orang hebat, orang pintar, papa kasihan kalau dia mengurung diri di kota kecil ini lalu bakatnya akan tertekan, dia lalu stres dan.. dia bisa menyakiti anak papa yang berharga. Papa gak rela.. Tapi ternyata, cinta bisa mengubah orang ya, Neng? http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Papa menyadarinya setelah Lili menceramahi papa kemarin semalaman. Akhirnya setelah semua akal sehat kembali ke otak papa, papa mutusin buat bicara sama mami mu, papa jelasin keadaannya gimana, dan syukurlah mami mu wanita yang bijaksana, tidak seperti papa. Papa juga beruntung karena hari ini ternyata semua keluarga papa berkumpul disini.. Ahh.. papa merasa sungguh bahagia. Papa gak sabar lagi buat ngehadirin pesta pernikahan kalian” papa mengusap mata kanannya, setetes air mata mengalir turun dari mata papa. Oh papa.. Akupun memeluk papa, jarang sekali kami bisa berbicara seperti ini. Nampaknya.. papa sudah berubah.. papa berubah karena Lili.. Lili membawa perubahan yang baik bagi papa.. Ah.. mungkin aku harus merubah sikapku pada Lili, pada ibu baruku..


Tapi tunggu.. Bila aku menikah nanti dengan Liam, panggilan apa yang harus kuberikan pada Lili? Ibu? Kakak? Tante??? Aku sungguh bingung sekarang.. 


26 comments:

  1. Papa nya Neng waktu ngelamar Lily, ga romantis banget.
    Tapi unik.

    Thanks Mba Shin :*

    ReplyDelete
  2. "̮° Ł‎​ђąηk ўσυ °"̮ mbak shin...wah bakalan ikut om liam ke amerika sono donk... :o

    ReplyDelete
  3. Tabu aja... Tante-ibu ;)
    Makasih M Shin :*

    ReplyDelete
  4. ◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mba shin
    Kalau sih neng amah sih liam kawin undang-undang yah ??????

    ReplyDelete
  5. hahahahaha.. sungguh rumit mmlih pnggilan sperti ini..x_x

    anyway, trnyta ppny ga stuju krn itu toh.. hmmm.. ya bejat2 gtu ttep kwatir jga sma ankny..

    ReplyDelete
  6. Seneng ngeliat keluarga neng bs kumpul & akur, tinggal wedding..met malming mb shin;-)

    ReplyDelete
  7. aaaahhh.. ppny brubah mnjdi lbih baik krn lili..
    sngguh prubahan yg baik..

    great drama story..:D

    ReplyDelete
  8. Uwaaaah
    Makasih mb shin udah posting chapter 21 nya
    Hihihihi
    Ternyata lili ga seburuk dugaan neng yah :D
    Ga sabar nunggu nikahannya neng nih :D

    ReplyDelete
  9. ah mbk terlalu terharu, no komment...

    ReplyDelete
  10. wuahahahahah
    lucu ah, nanti Lili dipanggil mama, eh tp trnyta dia juga kakak ipar neng. trus pas neng nanti pny anak, Lili dipanggil oma atau tante ya ? hahahah LOL =))

    great drama story mbak shin !
    post lg dong cong 22 pleaseeeeeeeeeee

    ReplyDelete
  11. Ooooowwwwww mbak shin....aq mkn cnta pdmu....hehe
    gomawo ounie...

    ReplyDelete
  12. kagum ama si eneng, aku g akan bsa memaafkan ayahku dngn mudah klu dya selingkuh apalagi pamer istri barunya d hadapan ku. Jamin klu entar nikah, aku gak bkalan mnta restu. Wkwkwkwkwk thank u mbak shin,, *mumu*

    ReplyDelete
  13. kagum ama si eneng, aku g akan bsa memaafkan ayahku dngn mudah klu dya selingkuh apalagi pamer istri barunya d hadapan ku. Jamin klu entar nikah, aku gak bkalan mnta restu. Wkwkwkwkwk thank u mbak shin,, *mumu*

    ReplyDelete
  14. Loh chapter 21 udahnongol ya..? Kok baru tau aq..hiihihihiii

    makasih mbak shinnnnn ... Jempol bgt

    ReplyDelete
  15. Lili panggilannya bukaka aja, ibukakak hehehe _sautsautan

    ReplyDelete
  16. Pangilnya BULIK kk
    gabungan dari ibu da bulik hehe,,

    ReplyDelete
  17. makasih mb shin..
    memang jika kita bersabar semua akan indah pda waktunya

    ReplyDelete
  18. wuah sudah dapat restu lengkap nie neng.....

    Thanks ya mbak shin :*

    ReplyDelete
  19. *nyincing daser ngejar jeng shin...

    *begitu ketangkep langsung dikasih ipok basah..

    tengkiyuuuuu jenggg....

    ReplyDelete
  20. Mba shin siapa wanita Чªήğ bersama liam itu kah??

    Oh Ɣª aku lupa itu aku pas mw tanda tangan surat cerai sama Liam :D ☺ Ђƺђƺ ☺ :D
    Aku kabur dulu Ɣª mba sebelum ditimpuk readers Чªήğ laen,,,

    Btw ampe lupa,,,, º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º mba shin, peluk jauh dr aku #teriak pake toa sambil ngacir "̮ ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ "̮ ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ "̮

    ReplyDelete
  21. kpn nikah nih....liam sama eneng thanks mbk shin :)

    ReplyDelete
  22. kpn nikah nih....liam sama eneng thanks mbk shin :)

    ReplyDelete
  23. nasehat yg bae dr mommi

    thanks Dear...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.