"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 16, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 22



Setelah beberapa kali pertemuan dengan keluargaku, kami akhirnya sepakat untuk mengadakan upacara pemberkatan terlebih dahulu sembari memikirkan ulang kapan hari baik untuk mengadakan pesta pernikahan. Kami semua tidak ingin aku menikah dengan perut semakin membesar, bukannya malu, tapi kasihan aku.. pasti akan sangat kelelahan berdiri seharian mengurus ini itu.

Tapi untungnya Liam memanggil bantuan dari Jakarta, dari sana dia telah mengirim temannya untuk mengurus upacara pernikahan kami yang akan dilaksanakan seminggu lagi di gereja tempat mami bergabung. Liam sendiri belum pernah ke gereja selama dia di kota kami, alasannya yang selalu sibuk bekerja membuatku menjewer telinganya.


Sudah satu bulan kami tinggal bersama, aku telah mengambil cuti dari kampusku setelah ujian selesai. Meski masih mendapat morning gift (sebutan kebiasaan muntah-muntahku yang diberikan Liam), aku masih bisa mengikuti ujian teori dan praktek tanpa banyak masalah. Liam juga mengantarkanku kemana-mana, namun belakangan dia malah mempekerjakan sopir untuk mengantarkanku kemanapun aku ingin. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Yah, dia kan kerja, dari pagi pulang sore pukul empat, lalu pergi praktek pukul lima, kembali pukul sepuluh malam, kadang pukul dua belas malam.. Ah.. aku belum terbiasa dengan jadwal Liam yang seperti ini. Akankah dia seperti ini terus? Tapi apa yang aku harapkan? Aku akan menikahi seorang dokter yang sedang membangun kesuksesannya, aku harus mendukung Liam bagaimanapun juga. Aku harus menunjukkan pada Liam bahwa aku bisa menjadi istri yang menguntungkan, bukannya menjadi beban baginya.

Dan aku belum sempat menanyakan masalah tentang wanita yang dulu menelphone Liam dan mengatakan mereka berpacaran, atau setidaknya itulah yang aku tangkap. Aku berjanji, malam ini setelah Liam pulang dari prakteknya dan sudah rileks, aku akan menanyakan hal itu padanya. Dia harus menjawabnya, karena hanya hal inilah yang menjadi ganjalan dalam hatiku. Aku tak ingin dikemudian hari wanita ini datang dan mengklaim Liam dengan mengatakan hal-hal yang bisa membuat duniaku hancur. Aku masih muda, aku bahkan belum menikah, aku tak ingin menjadi janda!!

Kami baru saja kembali dari ruang makan, aku ikut menemaninya makan, hanya melihatnya saja, aku senang melihat Liam memakan masakan buatanku dengan lahap. Dia hanya berdecak senang saat daguku bertumpu pada tanganku, aku terpesona melihat Liam mengunyah makanannya. Dia kadang akan menyuapiku sop atau makanan ringan lain yang kadang kuterima, kadang kutolak.

Saat kami berdua sudah berbaring di atas ranjang, selimut menutupi dada dan Liam telah meletakkan kacamatanya di atas meja, aku pun menanyakan hal itu padanya.

“Liam..” kataku merajuk, aku harus pintar-pintar membaca suasana hati Liam, kadang laki-laki tak ingin masa lalunya diusik, tapi aku harus melakukannya, sebelum aku menyesal!!

“Hm.. Ada apa, sayang?” tanyanya sambil berguling miring ke arahku. Tangannya menumpu kepalanya di atas bantal, tangan yang satunya lagi menelusuri lenganku hingga ke pinggul, berulang-ulang dan membuat darahku berdesir.

“Err.. aku ingin menanyakan hal penting padamu. Sangat penting sehingga tak bisa dibatalkan atau ditangguhkan. Tapi kamu harus jawab dengan jujur dan tidak boleh marah, ok?” aku memastikan Liam mendengar dengan jelas syarat-syaratku. Dia menaikkan alisnya, bingung dengan pertanyaanku, namun demikian dia mengangguk dan menungguku mengeluarkan pertanyaanku.

“Aku dengar dari papa.. Alasan mengapa papa menolakmu dulu.. Apakah kamu tahu mengapa papa menolakmu?” tanyaku.

Liam menggeleng. Aku sedikit cemas, bila dia tidak tahu hal itu adalah pemicu penolakan papa, apakah dia merasa hal itu adalah hal yang biasa saja dan lazim?

Aku menelan ludahku, membulatkan tekadku untuk bertanya padanya lagi.

“Jadi kata papa.. Kamu dulu itu suka kumpul kebo? Jadi kamu tinggal dengan wanita yang bukan istrimu.. dan melakukan.. itu..” aku memperhatikan wajah Liam, namun ekspresinya sama, datar. Mungkin berubah sedikit tapi aku tak dapat menemukan dimana perubahannya itu.

“Teruskan..” jawabnya. Lah, mau diterusin apa? Kan aku yang bertanya, dia belum jawab. Mau diteruskan apanya?? Aku bingung dengan Liam.

“Kamu belum jawab pertanyaanku” kataku merajuk lagi.

Liam terpekur sejenak, lalu dia menjawab dengan enggan. “Itu sudah dulu, sudah lama, aku tidak melakukannya lagi bila kau khawatir” jelas sekali Liam tidak senang menjawab pertanyaanku ini. Oh, Tuhan.. rasanya tenggorokanku tercekat, aku ingin menangis saja tanpa harus melanjutkan pertanyaanku ini.

Aku terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang cocok agar tidak menyinggung perasaan Liam, namun kepalaku kosong, aku tak mampu berpikir, aku panik dan bingung.

Liam mendesah panjang, lalu memutar tubuhnya menghadap ke atas. “Kalau tidak ada lagi, aku mau tidur” katanya. Oh, sialan laki-laki ini!! Tidak bisakah kamu sebentar saja memberikan aku waktu untuk menjelaskan pertanyaanku??

Dengan kesal aku turun dari ranjang dan keluar kamar. Kubanting pintu kamar dibelakangku, aku sungguh kecewa padanya. Ya, aku tahu kamu pasti bekerja kelelahan seharian, sibuk, stres, frustasi dengan semua pekerjaanmu, dengan semua pasien yang mungkin mengeluhkan penyakitnya padamu dan dirumah kamu menemukan CALON istrimu merengek menanyakan hal yang TIDAK PENTING bagimu, tapi sangat penting baginya. Lalu karena kamu tak ingin menjawabnya kamu seenaknya saja melengos pergi dan menghindar dengan mengatakan kamu ingin tidur!!

Aku menyeka air mataku dan duduk memandang kebun di depanku dengan diam. Aku tak membiarkan suara tangisku keluar, hatiku sakit sekali diremehkan seperti ini olehnya. Belum kami menikah dia sudah seperti ini, bagaimana bila kami sudah menikah???? Apakah dia akan menghormatiku?? Mungkin dia akan melemparkan semua kata-kataku tadi tentang keluhannya sebagai suami, sebagai punggung keluarga, mencari uang untuk membiayai semua kebutuhanku, semua kebutuhan anak kami kelak, masa depan kami dan segala alasan-alasan lain yang akan dilemparkannya sebagai pembenar sikapnya padaku!!

Sial!! Rasanya aku ingin angkat kaki dari sini dan meninggalkan dia agar berpikir, bahwa dia salah!!

Liam tidak mencariku semalaman, dan aku tidak kembali lagi ke kamarnya. Aku tidur di kamar ruang tamu yang akhirnya kutahu ada ketika mengisi waktu luangku bengong sendirian di rumah besar ini. Oh, Tuhan. dia bahkan tidak berusaha mencariku!! Atau meminta maaf padaku!! Atau menghiburku!! Atau menanyakanku mengapa aku berlari keluar dan membanting pintu dan tak kembali sampai pagi. Ouchhh!! Aku benci laki-laki berengsek ini!! Aku menangis semalaman tanpa daya, kecewa, putus asa, karena Liam sama sekali tak menggubrisku.

Ah.. Tuhan.. Jangan katakan dia telah lelah dengan semua rengekanku, kami bahkan baru memulai hubungan ini sebulan yang lalu, kami bahkan belum menikah resmi..

Pukul enam pagi akhirnya aku memejamkan mataku, aku kelelahan menangis dan hatiku tertekan dengan sangat. Saat membuka mataku hari telah siang, kulihat jam di dinding, sudah pukul satu siang. Dan tak ada Liam dimana-mana. Dia sudah pergi bekerja lagi.. Dia bahkan tidak berpamitan padaku. Mami.. aku merasa jiwaku telah tercabut dari tubuhku.. Mengapa Liam sedingin ini padaku??

Dengan separuh nyawa terlepas dari tubuhku, aku mandi tanpa semangat, hanya untuk membersihkan tubuhku dan wajahku yang nampak kacau karena tangisku semalam. Wajahku bengkak oleh tangisan, dan Liam tak akan perduli, kan? Aku memakai gaun hamilku, perutku sudah mulai membusung, aku ingin pergi ke rumah mami, ingin mendapatkan sedikit dukungan moral dan saran darinya. Aku tak bisa berdiam diri dirumah ini dan merasa tertekan setiap detiknya.

Pak Ian membukakan pintu mobil sedan toyota camry yang dibelikan Liam untukku, dia sopirku sejak dua minggu yang lalu, sejak Liam tidak sudi mengantarkanku lagi kemana-mana.

Ketika mobil hendak keluar pintu gerbang, sebuah mobil masuk ke areal jalan masuk rumah. Mobil CRV hitam, milik Liam. Ugh!! Aku sedang tidak ingin melihatnya, mengapa pula dia pulang kerumah jam segini? Dia seharusnya pulang tiga jam lagi, bukannya sekarang.

Kubiarkan saja seperti itu, kuperintahkan pak Ian untuk berdiam diri agar Liam memundurkan mobilnya dan memberi kami kesempatan untuk keluar. Tapi dia juga tidak bergerak, dia diam seperti itu, entah apa maunya. Hatiku mulai perih lagi mengingat kejadian semalam. Ahhh...

Liam turun dari mobilnya, dengan jas putih kebanggaannya, dia membuka kacamatanya dan menaruhnya di saku. Aku tak memperdulikan dia yang berjalan menghampiri mobil yang kunaiki. Kaca mobil yang tembus pandang membuat dia dapat melihat tubuhku dengan jelas. Dia memberikan perintah pada pak Ian untuk membuka kunci pintu mobil, namun kunci dipintu sampingku ku tutup lagi agar dia tidak dapat membukanya. Liam pun kesal, lalu membuka pintu di kursi penumpang di samping sopir.

“Apa yang kau lakukan? Buka pintu sialan itu?!” teriaknya. Setan!! Jangan berani-beraninya kamu berteriak padaku!!

Tanpa mengindahkan perintahnya, aku membuka pintu disampingku yang lain, mencoba menghindar dari si Liam berengsek. Setengah berlari aku keluar rumah dan menyetop sebuah taksi yang lewat di depan rumah.

Liam berlari menarik tanganku, tapi ku tepis. Dia meneriakiku lagi, mengatakan sifatku kekanak-kanakan. Biarkan!! Aku memang masih anak-anak, siapa suruh kamu menikahi anak-anak?? Aku berteriak dalam hati, suaraku tak bisa keluar sedikit pun. Tenggorokanku sakit karena menahan tangis yang akan meledak sesaat lagi. Kupalingkan wajahku dari Liam agar dia tidak dapat melihat air mata yang telah mengkhianati kekuatanku bertahan.

“Lia!! Mau kemana kau?? Kembali!!” teriaknya mengejarku saat aku berhasil melepaskan tangannya dan berlari ke arah persimpangan jalan mencari ojek atau apapun yang bisa membawaku pergi dari hadapan laki-laki ini.

Sesaat sebelum dengan linglung aku menyeberangi persimpangan jalan, Liam menarik tubuhku dengan kencang dan memelukku. Hampir saja sebuah truk menyambar tubuhku, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku bila Liam tidak menarikku. Tangisku tumpah ruang begitu saja dalam pelukannya. Aku menangis menggerung-gerung mengeluarkan semua sakit hatiku padanya. Aku membencinya, aku membenci laki-laki ini, dia bajingan keparat yang telah menyakiti hatiku, dia melukai hatiku setiap hari!!

“Maafkan aku, aku salah” bisiknya pelan sembari mencium rambutku. Aku tak ingin mendengar permintaan maafnya, aku tak ingin dengar. Aku benci, tak akan semudah itu aku memaafkannya.

Orang-orang yang lewat di jalan melihat kami berpelukan seperti itu dengan ekspresi tertarik namun tak ada yang berani mendekat, mereka menyadari kami memerlukan waktu untuk membereskan masalah kami.

Liam memaksaku untuk kembali ke rumah meskipun aku telah berusaha menahan kakiku agar tak bergeming dari tempatku berdiri, tapi dengan mudah dia dapat menggiringku seperti anak kecil. Liam membawaku kembali kerumahnya, rumah yang tadinya sudah kuanggap sebagai rumahku juga, namun kini terasa asing setelah bagaimana aku putus asa dengan sikap pemilik rumah ini. 

Mobil-mobil telah dideretkan lagi di dalam garasi, pintu gerbang setengah tertutup dan tertutup sepenuhnya setelah kami masuk ke dalam rumah. Liam membawaku ke kamar kami, mendudukkanku di atas ranjang, membuka sepatu sandalku, melepaskan sweaterku dan merapikan rambutku yang tergerai lepas karena berlari. Dia juga mengusap air mataku dan mengecup rambutku lagi.

Aku masih terisak, aku menundukkan wajahku, aku tak mau mendongak melihat wajahnya. Lalu dia berlutut di bawahku, tangannya mengelus pahaku lembut. Ahh.. apa lagi yang kamu mainkan disini, Liam?? Aku hanya ingin sendiri sekarang, aku ingin menghabiskan sisa air mataku sepuas-puasnya tanpa diganggu oleh siapapun.

“Camelia.. Sayangku..” oh, Berengsek!! Tak usah bermanis-manis padaku, aku sedang kesal denganmu. Kata-kata ini hanya akan menambah kebencianku padamu.

Aku diam saja membiarkannya berbicara, aku tak ingin memberikan Liam kepuasan dengan menjawab panggilannya. Dia pun menghela nafasnya karena tak mendapat jawaban dariku.

“Maafkan aku, semalam.. Aku benar-benar kelelahan, aku bahkan tak dapat mencerna apa yang kau tanyakan, aku terkantuk-kantuk hingga menjawab asal. Aku bahkan sudah lupa jawaban apa yang telah aku berikan padamu, Lia.. Tadi pagi saat tidak menemukanmu disampingku, aku panik... Aku mencarimu kemana-mana, menanyakan bik Rosi dan pak Ian, mereka sama sekali tidak tahu menahu. Aku bahkan menelphone papa dan mami, temanmu Neli, bahkan membuang harga diriku dengan menelphone Edo. Aku hampir menelphone kantor polisi bila bik Rosi tidak memberitahuku bahwa kau berada di kamar tamu. Mengapa aku tak berpikir kesana?? Ahh.. aku terlalu khawatir kau meninggalkanku karena jawaban yang kuberikan semalam. Sudah pukul sepuluh saat aku menemukanmu berbaring lelap, matamu bengkak karena menangis semalaman. Aku ingin berada disana saat kau bangun, tapi.. Ada pasien yang harus kuoperasi hari ini, bila tidak.. kau tahu kemungkinan hidupnya tipis.. dan aku bersyukur operasinya lancar dan berhasil. Meski aku harus mengemudikan mobilku seperti orang kesetanan untuk mencapai rumah. Dan melihatmu hendak pergi, bahkan menghindariku, aku begitu takut dan sedih, Lia. Tolong jangan tinggalkan aku, aku akan berubah. Aku tahu aku memiliki sedikit waktu bersamamu, aku minta maaf, aku sedang mencoba melepaskan beberapa posku, saat ini aku masih melatih penggantiku.. sehingga aku harus berada di rumah sakit lebih lama. Tapi aku janji, setelah kita menikah, tak akan seperti ini lagi. Aku akan memiliki cukup waktu untukmu. Aku juga hanya akan mengambil praktek empat hari seminggu, sisanya akan aku habiskan bersamamu, bersama istriku. Maafkan aku, Lia. Aku bersalah..” Liam menangis di kakiku. Oh, Tuhan.. Apa yang telah aku lakukan?? Aku sungguh bodoh, egois dan keterlaluan.

Disini Liam sedang berusaha keras untuk memperjuangkan hubungan kami, tapi aku malah mencoba untuk menghindar, aku malu pada diriku. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Aku meragukan Liam.. Aku sungguh tak ingin mencari pembenaran atas sikapku semalam dan hari ini. Tapi melihat Liam seperti ini bahkan hingga menangis di kakiku, aku merasa sangat bersalah. Maafkan aku Tuhan, maafkan aku Liam..


Ku belai lembut rambut Liam, dia mendongakkan wajahnya yang basah oleh air mata. Lalu kupeluk leher calon suamiku ini. Oh, Tuhan.. Tunjukkanlah jalan terangmu padaku, berikanlah aku kesabaran dan pengertian yang tinggi agar aku bisa mengarungi bahtera rumah tanggaku dengan laki-laki ini hingga ajal menjemputku. Amin.. aku memohon padamu.. 


37 comments:

  1. woow.
    cong dihajar trz maming.
    makasih mb shin

    ReplyDelete
  2. liammmmmmmmm

    tapi sebenernya siapa sih tuh cewek....heuheuheuheu.....

    thanks mbak shin....tetap semangat untuk cerita yang lainnya yah.
    *Kan katanya yg ini dah ampe epilog :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha mau tau aja... iihihii ntar chapter 23 dikasi tau kok ama neng

      Delete
  3. annyeong aku reader baru kak salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. annyeong.. salam kenal jg sista :D moga betah disini ya :)

      Delete
  4. Liam ni bnrn cinta ƍäªk sih sama Neng?? Jwb dong pertanyaan'a Neng, jgn diem aja.
    Чªήğ paling penting dlm sebuah hub : komunikasi cuma itu aja...

    Neng sabar yah, kl Liam ƍäªk mw msh ada Edo Чªήğ msh mw nerima Neng apa ada'a...

    Mba shin, kau membuatku galau dan lapar :D ☺ Ђƺђƺ ☺ :D
    º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º mba shin :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah kok bisa eike membikin dirimu menjadi luaper...???????

      Delete
    2. karena menantikan liam nikah sama neng sebelum aku merubah keputusanku untuk mengambil liam kembali hehehe

      Delete
  5. mantep.. Kereeen mba shin!!!
    Pelajran jg ne buat yg mau nikah n yg udah nikah.. Xixixi g' boleh berprasangka dlu..
    Mba shin mksih muaaah

    ReplyDelete
  6. mantep.. Kereeen mba shin!!!
    Pelajran jg ne buat yg mau nikah n yg udah nikah.. Xixixi g' boleh berprasangka dlu..
    Mba shin mksih muaaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi silo.. hehehhehe tp kl pasangannya 1 cuek aja ya susah jg sih :D

      Delete
  7. jeng shiiinnn
    ai yooppp yuuuu...
    dirmu menyembuhkan hatiku yang galau menunggu postingan selanjutnya

    *sambil nyemil egg drop

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah aku belum sempet baca elbi.. maaf ya cin.. ntr agak maleman aku mau liat lanjutannya elbi.. siapa tahu ada eheemmm eheemmmm akhirnya.. lol

      Delete
  8. thanks cintaaaaa ...
    bab 23 tamat ya shin?kentanggg jam 12 share dunk wakakaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya 23 tamat yah.. mungkin hari ini aku kelarin cong. biar bisa rehat habis tu :D

      Delete
  9. Mungkin si eneg masih muda jdi emosinya meledak2,,
    tpi emg bener kt org ,cari suami tu bkn hnya berfungsi jdi suami aj tpi juga bisa jdi ayah,jadi guru dan jdi iman buat qt,,

    Ah,,apa hubungany???
    *Kepo*
    kk Shin bsk posting si David yaa,,
    seneng baca david kena batunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. besok libur n seterusnya.. belum dapet feeling buat lanjutin yg lain2... mau bertapa dulu ya ;)

      Delete
  10. Yaaahhhh,,tp jwbnny lumz djwb Liaaammmmm... Neng sbr2 dl yh sblm djwb s Liam.. (Reader kepo sangadh)
    Mks Mba Shiiiiinnnnnnn... *lumz ikhlas psah sm psgn ni*

    ReplyDelete
  11. Ni liam...bikin salah paham terus perilakunya...kurang komunikasi (tipikal cowo nih)...
    Mbak...kentang nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haahha ya tungguin aja sampe pagi. pagi ini ending ;)

      Delete
  12. Mbak shin tuch mkn apa sich.....??kok bs pinter bikin crita yg mengharu biru yach??hehe
    anyway...saluuuttttt bwt drimu mbak.......lope u muaaacchhhh#kecup pakek iler mbak#hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. makan indomie goreng telur... wkkwkwkww... :pake merek:

      Delete
  13. Naah..gtu donk..makin sring brantem, makin seru..
    Apalgi mncul org k3..psti asik..
    :p ngarep.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhahaha dah mau ending woe.. ending... ngapain berantem lg.. lol

      Delete
  14. makasih mbakeee. si eneng smpt meragu
    asik hari ini bakal di post smua si congg?? hihi thank you so much mbak

    jgn lama2 bertapa mbak, pasti kangen sama crita2mu yg cetar membahana

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha paling setahun muwhahahaha...

      Delete
  15. Wah mau bertapa ya mbak...selamat bertapa ya mbak, smg bisa menemukan ide2 baru #tetep...
    Maaf dikejar2 reader banyak maunya kayak saya ya :malu:

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl dikejer bawa black forest mah eike doyan cin.. pake banget malah.. wjhwhwhwhw

      Delete
    2. Eike jg doyan buuw blackforest :d mending dimakan sndiri, ak bagi fotonya aja ye...

      Delete
  16. mba shin....post ampe epilog ya jm12mlm ne. btw...smngt mba shin...met rfreshng otak ya...bwr inprsix cpt dpet lg

    ReplyDelete
  17. nunggu EPILOGnya aaaaaah.....

    ReplyDelete
  18. Makasih, mbak shin emang töp deh...

    ReplyDelete
  19. Kageet... Bangun tidur... Eh si Liam udah prolog... Kapan d post.x sih M Shin...???

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.