"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 9, 2013

"Lu Tu Musuh GW Cong!" - Chapter 5



Akhirnya hari yang dinantikan tiba juga, hari keberangkatan kami ke kampung halaman Lili. Papa dan calon istri barunya itu duduk di kursi pesawat di depan tempatku duduk, sementara di sampingku si bajingan berengsek Liam berpura-pura sibuk dengan majalah yang dibacanya ditangan. Sungguh memuakkan laki-laki ini. Bila keadaannya tidak terpaksa seperti ini, aku lebih senang tidur bergelung dalam selimut di kamar kosku yang nyaman. Bukannya disamping laki-laki hidung belang ini.


Meskipun wajahnya yang ternyata memang jauh lebih tampan saat siang hari, dimana aku bisa melihat wajahnya yang selalu bersih dari cambang dan kumis itu lebih jelas. Hanya saja kacamata itu selalu mengganggu tatapanku untuk menikmati wajahnya secara diam-diam, seperti sekarang ini. Aku memang membencinya sejak mengetahui bahwa dia sudah punya pacar.. Tidakk!! Berani-beraninya laki-laki ini menciumiku saat dia sudah punya pacar! Dipikirnya aku ini cewek apaan sih? Seenak jidatnya dia mencium sembarangan. Duh amit-amit jabang bayi! Laki-laki hidung belang sekali hidung belang tetap hidung belang, dasar sudah dari orok memang mesum seperti itu.

Kupalingkan wajahku keluar jendela http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido pesawat yang membawa kami mengudara, jauh tinggi di angkasa. Pandanganku melayang pada langit biru dengan awan tebal yang kami lewati. Langit cukup cerah hari ini, hanya dengan dua jam perjalanan maka kami akan sampai di kota tempat kampung halaman Lili dan adiknya yang berengsek si Liam. Entah berapa lama lagi perjalanan yang harus ditempuh dengan mobil untuk sampai di desa mereka. Nampaknya desa itu cukup terpencil dan terisolasi. Ugh!! Bila tempat itu terpencil, apakah aku akan mendapat sinyal handphone? Bagaimana bila disana tidak ada sinyal? Mati aku!! Terpenjara dalam pedesaan di pedalaman, dengan laki-laki mata keranjang seperti ini.. Mengapa aku tidak pernah memikirkannya sebelumnya, dan sekarang aku mulai panik.

“Kau kenapa? Seperti cacing kepanasan” tanya si jelek Liam menghentikan matanya dari majalah ditangan.

Aku tak menjawab pertanyaannya, seperti biasa. Aku sedang mogok bicara dengannya. Dia tidak pantas untuk kuladeni bicara. Dan syukurnya dia hanya mengangkat bahunya, tidak meladeniku lagi. Baiklah!! Sepanjang perjalanan kami hanya diam, Liam tertidur disampingku, mungkin dia kelelahan? Huh! Kelelahan mengurusi pacarnya kali.. Entah apa pekerjaannya aku tidak tahu, untuk laki-laki seusianya bila dia tidak memiliki pekerjaan dan berfoya-foya dengan uang pemberian orang lain, sungguh memalukan. Respekku pun berkurang padanya. Kucibirkan bibirku, melihat pipinya yang mengembung karena dengkuran kecilnya, ingin rasanya kucubit pipi itu dan memencet hidungnya. Biar tahu rasa!! Aku masih membencinya sampai sekarang, bukan karena dia telah mencuri ciuman dariku, atau karena dia telah lancang membuka kancing-kancing bajuku. Tapi lebih karena ternyata dia adalah laki-laki pengkhianat yang bisa menduakan pacarnya. Laki-laki seperti itu sungguh menjijikan, bukan?

Pramugari telah memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat, baru pukul sebelas pagi sehingga mungkin kami akan sampai di rumah mereka saat hari menjelang senja. Perjalanan dari bandara menuju desa kampung halaman Lili sekitar lima jam, wow.. pantatku bisa kesemutan kalau duduk berlama-lama seperti itu di dalam mobil.

Kudorong tubuh Liam hingga dia terbangun, dengan mata masih mengatup dan terkijap-kijap, Liam seperti orang linglung, memperbaiki letak kacamatanya dan menatapku bingung. Laki-laki bodoh, apa dia lupa kami sedang berada dimana?

“Bangun. Sebentar lagi pesawatnya mendarat” kataku kesal.

Liam menggosok-gosok matanya, melepaskan kacamata itu untuk sementara sebelum dipakainya lagi. Dia memang lebih tampan bila kacamata itu dilepas. Ah, masa bodoh. Mau cakep kek, mau jelek kek, dia musuhku. Aku tidak boleh tertarik pada musuhku!!

“Kenapa sih? Lagi PMS?” tanyanya lancang.

“Ihh!! Apa sih pertanyaanmu, gak sopan banget” aku memeluk tanganku, kesal sekali rasanya menghadapi laki-laki ignorant seperti Liam ini.

Dia mencibirkan bibirnya, mengerucut dan menggodaku lagi. “Yah, gitu aja kesel. Kalau kesel cantiknya ilang lho..” dia menyunggingkan senyumnya yang selalu hadir dalam mimpiku.

Bodoh kan, aku memimpikannya. Padahal dulu waktu aku mengagumi kakak kelasku di SMU, dia tidak pernah tuh mampir ke dalam mimpiku, kenapa justru hidung belang ini yang berhasil memaksa masuk? Sungguh tidak adil.

“Bodok!!” jawabku asal.

Dia malah tersenyum lebih lebar. Dan tahu-tahu.. tangannya sudah menggenggam tanganku, jari-jarinya ditautkan ke sela-sela jariku. Apa-apaan ini?!! Dia berusaha merayuku lagi? Dasar buaya!!

“Lepaskan! Kalau tidak aku teriak nih” ancamku.

“Teriak aja, paling kau malu sendiri” jawabnya cengengesan.

Geram sekali aku pada laki-laki ini. Memang aku tidak mungkin berteriak dalam pesawat yang sedang bergerak ini, aku tidak tahu dimana akan menyembunyikan muka ku bila semua orang menatapku tajam. Dan bisa saja si Liam busuk ini mengaku yang tidak-tidak. Selalu seperti itu, wanita selalu menjadi korban dimana-mana.

Dengan perasaan keki, kubiarkan tangan Liam mengunci tanganku selama sepuluh menit lebih. Dan dia semakin kurang ajar dengan menciumi pungung tanganku. Oh, mami.. Kenapa aku harus menghadapi cobaan ini? Dasar laki-laki berengsek, aku tidak akan memberikan dia kepuasan dengan melawannya. Kututup rapat-rapat mulutku, kupalingkan wajah kembali menatap langit. Lalu tanganku dibawanya ke atas pangkuannya, terasa hangat. Pendingin udara pesawat yang sedari tadi mengipasi tanganku membuat tanganku kaku kedinginan. Ketika Liam menggenggam tanganku dan membawanya ke atas pangkuannya, rasa dingin itu berkurang, digantikan hangat yang menjalar dari tubuh laki-laki disampingku. Rasa hangat yang juga ikut menjalar masuk ke dalam relung hatiku. Oh, Tuhan..

“Lepaskan, kita sudah mendarat” protesku padanya. Dengan enggan Liam melepaskan tautan tangannya dan langsung kutepis tanganku menjauh darinya.

“Tak usah galak-galak.. Nanti cepat tua lho” cengengesnya lagi.

Kugertakan rahangku, lalu kudorong tubuhnya agar segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangan pesawat. Papa dan Lili sudah duluan turun, aku dan laki-laki ini malah menjadi penumpang terakhir yang mengisi pesawat. Ini gara-gara si Liam dengan tubuh besarnya menghalangi langkahku keluar dari kursi.

“Minggir.. minggir.. minggir.. aku mau turun, buruan ah!!” teriakku kesal. Penumpang terakhir selain kami telah tiba di pintu pesawat. Pramugari sedang menunggu kami untuk turun, tapi si Liam bajingan ini masih menghalangi jalanku dengan tubuhnya.

Lalu dia berdiri tiba-tiba, diputarnya tubuhnya menghadap tubuhku sampai aku terkesiap, tak menyangka dia akan berdiri secepat itu. Ditangkapnya tubuhku yang hampir terjungkal kebelakang, bila ada yang merekam saat-saat aku hampir terjatuh dan diputar ulang dengan gerakan slow motion, mungkin akan terlihat sangat romantis. Tapi tidak, justru sungguh mengesalkan karena ini diakibatkan oleh laki-laki berengsek ini. Dia membuatku terpaksa menerima bantuan tangannya, dia membuat tangannya memeluk pinggangku agar tak terjatuh. Dan dia membuat bibirnya menciumku sekali lagi.

Mami.. Kenapa laki-laki ini suka sekali menciumku? Dan kenapa aku juga suka dicium olehnya? Otakku bisa gila bila memikirkan ciuman kami. Belum lewat beberapa minggu lalu dia bersikap begitu lancang, dan kini dia masih berani menciumku. Aku tak tahan lagi, kali ini aku harus melawan.

Dan kutampar pipinya dengan keras hingga kacamatanya terjatuh di lantai pesawat. Pipinya yang putih memerah, matanya membelalak, mungkin dia tidak menyangka aku akan melawan dan menamparnya. Syukurin!! Memang lu kira gw ini suka apa dikerjain? Dipermainkan?? Lu tu musuh GW cong!! Huh!!

Kutinggalkan Liam berdiri mematung dan melenggang turun dari badan pesawat. Dua menit kemudian dia sudah berada bersama kami di landasan bandara, wajahnya biasa-biasa saja seolah tamparanku tadi tidak bergema, meskipun pipinya merona merah bekas tamparanku. Dia tidak memakai kacamatanya, jangan katakan kacamata itu pecah? Apa aku harus menggantinya?

Sepanjang perjalanan dari bandara ke desa itu, kami hanya diam membisu. Sesekali papa dan Lili menjelaskan daerah-daerah yang kami lalui, nampaknya papa sudah sering mampir ke desa ini. Kuakui pemandangannya memang indah, masih alami. Hamparan sawah-sawah yang dibangun berundak-undak memakai sistem terasering, memaksimalkan lahan berbukit-bukit untuk menanam padi dan palawija. Dengan demikian hasil yang di dapat menjadi lebih banyak dibandingkan hanya menanam pada lahan datar dan bergantung pada curah air hujan yang jarang.

Tak jauh dari desa kampung halaman Lili, aku melihat sebuah air terjun yang mengalir, yang dibawahnya terdapat sebuah sungai kecil yang panjang. Disana banyak anak manusia sedang mandi, mencuci baju dan melakukan aktifitas mereka. Nampaknya masyarakat disini masih mandi ditempat umum seperti ini, tidakkah mereka risih bertelanjang bulat di depan umum? Aku tidak bisa membayangkan hal itu, tapi tunggu dulu.. Jangan katakan bila rumah Lili didesa ini tidak memiliki kamar mandi dan aku harus mandi di sungai itu???? Tidakkk!!!

Liam melihat kepanikanku, nampaknya dia sedang mengawasiku sedari tadi. Kami duduk berdua di kursi belakang mobil kijang innova, papa dan Lili duduk di kursi tengah, sementara ada seorang sopir yang mengemudikan mobil dengan baik. Kutoleh laki-laki disampingku, dia masih menatapku tajam tanpa ekspresi. Kujulurkan lidahku padanya, dia masih tak bergeming juga. Laki-laki aneh. Dan sekali lagi dia tidak kapok-kapok juga. Masih dengan ekspresi anehnya itu tangannya dengan lancang mengunci jari-jari tanganku lagi.

Dengan berbisik kumaki-maki laki-laki berengsek ini. Dia hanya mencibir, senyum culas terukir diwajahnya. Tanpa kacamatanya, dia seperti iblis Lucifer. Begitu licik, jahat dan kejam. Dia tahu aku tidak mungkin berteriak saat papa ada di depanku. Berengsek!!

“Awas kamu, aku tak akan memaafkanmu!!” bisikku tanpa terdengar. Aku yakin dia masih bisa membaca gerak bibirku, tapi dia tidak menunjukan reaksi apa-apa. Dan begitulah selama setengah jam berikutnya tanganku kebas tak bisa bergerak oleh karena kuncian si hidung belang Liam.

Ketika kami turun paling belakang lagi, kusiapkan tinjuku bila dia berani menciumku lagi. Aku tak akan terjatuh dalam perangkapnya lagi, dasar laki-laki licik. Dia mencibirku lagi, senang sekali dia melakukannya. Hanya karena aku menamparnya sekali, dia mencibirku berkali-kali.

Rumah keluarga Lili tidak sejelek perkiraanku dan untungnya mereka memiliki kamar mandi dengan mesin pompa air listrik, jadi aku tidak usah khawatir harus mandi ke sungai yang jaraknya harus ditempuh dengan berjalan kaki. Aku tak pernah berjalan kaki lebih dari dua kilometer, aku tak mungkin berjalan kaki ke sungai itu, kan?

Disini aku mendapat sebuah kamar sendiri, papa dan Lili menggunakan kamar mereka sendiri. Sementara si Liam aku tidak tahu dimana kamarnya. Aku harus berhati-hati, namun sungguh kecewanya aku ketika menyadari pintu kamarku tidak memiliki gerendel ataupun lubang kunci. Rumah apa ini? Kenapa tidak ada kuncinya?

Liam bersedekap dengan santai didepan pintu kamar disampingku, dia sudah mengganti pakaiannya dengan  kaos putih polos dan tersenyum manis padaku.

“Kenapa? Kecewa karena tidak ada kuncinya? Mungkin kau perlu berhati-hati, terutama saat malam hari. Aku dengar banyak ada kucing berkeliaran malam-malam dan suka masuk ke dalam kamar-kamar gadis perawan di desa ini. Entah apa yang mereka lakukan, tapi jangan khawatir. Bila gadis itu tidak perawan, maka kucing itu tidak akan mengganggunya”

Arghhhhh!!!! Ingin rasanya kukoyak-koyak mulutnya dengan tanganku ini hingga bibir itu tidak bisa berbicara lagi. Laki-laki mesum dengan pikiran kotor dan lelucon yang tidak lucu. Dia berhasil membuatku takut saat malam tiba. Bayangkan!! Pukul tujuh malam suasana di desa ini begitu mencekam. Jalanan tanpa lampu penerangan terlihat begitu gelap dan mengerikan. Lampu-lampu di teras rumah hanya remang-remang, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido aku bahkan tidak dapat melihat ke dalam jarak sepuluh meter di depanku. Bagaimana bila aku ingin ke kamar mandi? Bagaimana bila aku ingin kencing? Boker??


Aku sungguh tersiksa berada disini, dirumah tanpa fasilitas memadai, begitu menyeramkan. Dan aku meringkuk didalam selimutku, mataku nyalang mengawasi setiap gerak-gerik di dekat kamarku. Pintu kamar yang tak terkunci membuatku khawatir, papa dan Lili sudah masuk ke kamar mereka pukul tujuh malam, sudah tidak ada orang lain lagi yang berkeliaran dirumah ini. Ugh!! Bagaimana aku bisa tidur kalau ketakutanku begitu besar? 



22 comments:

  1. cinta dan benci pemisahx tipis lho. Ati2 eneng entr jatuh cnta sma playb0y cap kadal kyk liam *pengalaman pribadi*
    thank u mbak shin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha playboy cap kadal?? ahak ahak. kl LIam playboy cap ulall... ulal lali lulus...

      sama2 sista :D

      Delete
  2. Harimau apa yg suka ma anak perawan sist, ayo neng siapin peralatan buat berburu he.he Seru sist;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha kucing kali sist, bukan harimau. lol...

      Delete
  3. jgn2 kucing na malah si liam yh????!

    ReplyDelete
  4. Waaaaaa mb shiiiiin
    Mau lagih~ hihihihi
    Haduuh~ lama2 benci jd cinta dah nih
    Hihihi

    ReplyDelete
  5. G sabar... Nunggu si Liam manggil Camelia lg... hehehe... M Shin... Aq paling suka yg ini lho... Tq ya udah d share... Oh iya penasaran POV Liam

    ReplyDelete
    Replies
    1. tantangan diterimaa..!!!! wkkwkwkwkwkw...

      Delete
  6. Replies
    1. cong mba.... sifatnya bikin penasaran... pengen getok liam aj kayanya

      Delete
    2. hahahahhaa getok aja... dia romantis kok sbnrnya, gak sabar pengen posting lanjutannya tp ntr pada gak antusias lg baca nya ihihiiiihih biar dah aku sndr yg ketawa ketiwi baca berulang2 chapter2 berikutnya seorang diri :muwhahahahahah

      Delete
  7. cyin......lanjut donk bikin mau mau lagi....
    eh tapi kok aku malah suka si liam ya??xixixixixixi.......liam buat aku aja ya......

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahahaha... SI Liam penuh misteri... nanti juga bakal menganga mulut kita semua kl udah tahu siapa dia sebenarnya ihihihiihihhiihihih

      Delete
  8. Replies
    1. hahahahah emangnya duit dibagii ka??

      Delete
  9. kentang....kentang pgn lihat kucing garong ganggu perawan wakakaka thanks mbk shin <3<3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha nene... Mau liat kucing n garong ya? ,\=D/>   HI..HI..HI.. 
        HI..HI..HI.. 
      _( )_  HI..HI..HI..

      Delete
  10. Pensaran sma Liam Ɣªήğ bgitu sabar menghadapi Neng... Dh dtampar, dh dkatai Ɣªήğ kasar2 msi cengengesan..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.