"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, March 19, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 1



Pagiku dimulai seperti biasa, monoton, reguler, er.. biasa saja. Tak ada yang berbeda selain pagi ini aku baru menyadari gula pasir di dapurku habis. Habis?? Argh!! Sudah hampir satu bulan aku tinggal dirumah baru ini dan belum seharipun bisa kuluangkan waktu untuk pergi ke swalayan untuk sekedar membeli cemilan atau kebutuhan pokok hidupku. Tak satupun! Sebelumnya hidupku cukup nyaman karena tinggal di apartemen yang memiliki sistem manajemen yang mengurus itu semua, entah mengapa aku berpikir untuk membangun sebuah rumah disini, ah.. mungkinkah karena wanita itu??

Aku perlu seorang pembantu rumah tangga, tapi perlukah itu? Aku bahkan jarang ada dirumah. Waktuku kuhabiskan antara rumah sakit satu dengan rumah sakit lain, tempat praktek, visite 1, visite 2, visite 3..blablabla.. hingga sampai dirumah ini lagi pada pukul satu pagi dan tertidur seperti orang mati.


Dan jam tanganku telah menunjukkan pukul tujuh pagi kurang dua puluh menit, aku harus bergegas, maka kusesap saja kopi pahit ini dengan tersiksa, aku harus menulis di memoku agar tidak lupa mampir ke mini market sore ini sepulang dari rumah sakit. Ahh.. dan mungkin menghubungi suster Tobing agar mencarikan seorang pengurus rumah tangga paruh waktu untukku.

Kuletakkan saja cangkir kopi kosong itu di dalam sink, wastafel dapur. Akan ku cuci nanti malam er..subuh sebelum tidur, memastikan semua lampu, kompor, keran, jendela tertutup, televisi mati, memastikan semua baik-baik, lalu mengunci pintu rumahku, mengeluarkan mobil baruku –aku tak mungkin membawa mobilku dari Jakarta ke sini, belum lagi harus mengurus penggantian nomer polisi, aku tak memiliki banyak waktu untuk hal tidak terlalu penting itu- lalu mengunci pintu gerbang dan berpacu dalam macetnya lalu lintas pagi menuju rumah sakit tempatku bekerja, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido rumah sakit Guna Dharma Husadha, rumah sakit yang baru kuresmikan hampir setahun yang lalu.

Sejak dibukanya rumah sakit ini, mulai banyak pasien berdatangan, aku terpaksa mengontak rekan-rekan kerjaku dulu dan menawarkan mereka posisi strategis disini untuk mengisi pos-pos kosong karena kekurangan tenaga ahli dokter spesialis di kota ini. Kota kecil dengan pendapatan besar, yang sebagian besarnya berasal dari sektor pariwisata. Masyarakatnya konsumtif, bahkan rela mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan kelas dan pelayanan terbaik di rumah sakit.

Bukannya aku mengeluh, bukankah ini baik untuk bisnis? Aku bisa memberikan peningkatan hidup yang lebih baik bagi karyawan-karyawan dan rekan-rekan dokter dan tenaga kesehatan lainnya, bahkan lingkungan sekitar. Dengan adanya rumah sakit ini, lingkungan sekitar yang tadinya hanya berupa lahan kosong dan parit-parit, kini mulai dibangun kios-kios rumah makan, apotik, internet, tempat parkir, swalayan, hey.. apakah aku bilang swalayan? Aku bisa kesana mampir untuk membeli gula dan barang-barang lain yang habis.

“Pagi, Dokter” sapa dokter Tarmizi, dokter ahli bedah rumah sakitku, kami bertemu di koridor saat sama-sama akan menuju ruang briefing pagi seperti biasanya, untuk membahas isu-isu dan masalah dalam rumah sakit yang perlu dibicarakan, baik itu isu pasien, obat, pelayanan dan lain sebagainya.

“Pagi, Dok. Yang lain mana?” tanyaku masih sambil membaca kertas di tangan, laporan presentasi minggu lalu yang akan aku beritahukan pada seluruh anggota rapat sebentar lagi.

“Nampaknya yang lain sudah menunggu di ruangan, Dok” jawabnya.

“Oh, baiklah kalau begitu. Tolong katakan saya sebentar lagi akan kesana, ada yang perlu saya cek di ruang laboratorium. Kira-kira lima menit lagi” kataku sembari melirik jam tanganku.

Sudah pukul tujuh kurang lima menit, lima menit lagi rapatnya sudah harus dimulai, setelah itu aku bisa langsung mengurus hal lain dan masuk ke ruang operasi. Hari ini cukup melelahkan kurasa, tiga orang pasien jantung telah menunggu giliran untuk menerima pisau bedahku, semoga semuanya berjalan lancar. Aku trauma menghadapi pasien yang mengamuk karena anggota keluarganya tewas di meja bedah, bukan pengalaman yang ingin kutambahkan dalam daftar riwayat kerjaku, meski hal itu sangat tidak mungkin bisa dihindari.

“Fiuh... Semoga kepalaku tidak pecah duluan” keluhku pada diriku sendiri.

Ruang laboratorium itu ditunggui oleh dua orang dokter dan tiga perawat yang sedang merapikan hasil laboratorium dari pasien-pasien yang masuk. Mereka nampak sibuk dengan pekerjaannya tanpa menyadari kedatanganku.

“Pagi” sapaku pada mereka. Dengan sikap hormat seperti yang biasa kudapat dari orang-orang ini, mereka menghentikan pekerjaannya dan membalas sapaanku dengan sopan.

“Pagi, Dok. Ada yang bisa dibantu?” tanya dokter yang bertugas hari ini.

“Ya, aku ingin mengambil tes lab untuk pasien bernama Fransiscus Surbakti, tes diabetes” jawabku. Fransiscus Surbakti adalah nama calon kakak iparku, dia menderita diabetes, namun so far hasilnya baik, dia belum melebihi batas normal yang diperbolehkan, dia akan baik-baik saja dan hidup hingga tua nanti.

Singkat kata, pekerjaan monoton itu berhasil kulewati tanpa halangan berarti, makan siang dengan Profesor yang datang berkunjung dari Jakarta, menerima tamu dari luar negeri yang sedang meninjau rumah sakit kami, menginterview beberapa calon dokter spesialis yang akan ditempatkan di pos stategis lain, bahkan berurusan dengan pejabat pemerintahan yang memerlukan untuk datang agar pengurusan izin-izin lain rumah sakit ini lebih dimuluskan. Ada beberapa hal yang belum masuk ke dalam standar pemerintah, namun aku bingung, bagian yang mana. Semoga saja ini bukanlah salah satu cara mereka untuk menghambat proses pelayanan kami pada masyarakat.

Seperti janjiku pagi tadi, yang akan mencoba untuk berbelanja ke swalayan.. Akhirnya kulupakan lagi. Aku berangkat ke tempat praktek dan melupakan masalah kopi, gula dan sebagainya yang semestinya lebih harus kuberi perhatian, karena besok pagi bila tidak memiliki gula lagi.. Aku akan terpaksa harus menyesap kopi pahit lagi!!

Pulang dari praktek badanku hampir remuk karena kelelahan, usiaku belum setua itu namun kurasa badanku seperti badan yang dimiliki oleh manusia berusia lima puluh tahun. Ya, Tuhan.. Aku baru tiga puluh satu tahun, tapi rasanya sungguh encok, pegal dan ahh.. capek sekali. Fiuhh.. dan akupun tertidur begitu saja di atas ranjang, dengan jas dan sepatu masih terpasang. Esok pagi kacamataku pun mulai merosot dan berpindah posisi  ke bawah tubuhku, bengkok.

“Tsk.. Sudah yang ketiga kalinya aku harus mengganti kacamata ini. Fiuhh..”

Kubuka lemariku, kukumpulkan kacamata-kacamata yang pernah kupakai dan telah bengkok, pecah ataupun rusak. Aku bahkan belum memiliki waktu untuk pergi ke toko kacamata untuk memperbaiki kacamata-kacamata ini, dan mungkin minusku sudah bertambah lagi. Fiuhh..

Kubuka kotak kacamata lain lalu kukenakan, memastikan aku masih bisa melihat dengan baik dengan kacamata ini, bila tidak, aku harus membeli yang baru. Mengoperasi pembuluh darah adalah pekerjaan yang rumit dan kesalahan kecil karena kacamata yang tidak sesuai adalah kesalahan fatal bagi keseluruhan operasi. Begitulah, mungkin kacamata adalah salah satu benda yang paling sering kubeli setelah handphone dan jas putih.

Malam ini malam minggu, satu-satunya malam aku tidak membuka praktekku, minggu besok memang aku tak praktek juga, namun seharian waktuku habis untuk visite ke semua pasien yang kumiliki di beberapa rumah sakit yang berbeda. Dan malam ini.. adalah malam pertama aku bisa menemui gadis itu.. Camelia..

Koh Franz, begitu kupanggil calon iparku ini, mengajakku untuk ikut menemui keluarganya, untuk mengabarkan tentang rencana perubahan pernikahannya dengan Lili. Yang tadinya akan diadakan di kota ini lalu dirubah sehingga upacara pernikahan akan dilakukan di desa kami, selain untuk menghormati keluarganya yang mungkin belum bisa menerima rencana pernikahan koh Franz dan Lili, juga agar kami dapat berziarah ke makam papa dan mama.

Sudah beberapa tahun kami tidak pulang kampung, sejak pekerjaan semakin menyibukkanku, aku hampir melupakan kampung halaman itu. Untungnya seorang paman kerabat jauh mama bersedia tinggal di rumah kami dan memastikan rumah itu terawat dan terpelihara sewaktu-waktu kami pulang untuk sekedar berlibur.

Sungguh aku tidak terlalu tahu tentang masalah apa yang dimiliki koh Franz dengan keluarganya sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah, aku tidak pernah bertanya dan dia tidak pernah memberitahukanku. Aku rasa itu adalah area yang tidak sopan bila kutanyakan, namun saat duduk dalam ruang tamu keluarga ini, kurasakan aura permusuhan di udara dari seluruh keluarga koh Franz, terutama gadis kecil yang telah menarik perhatianku sejak pertama kali kulihat fotonya.

Suara teriakan kasarnya terdengar menggema di ruang tamu saat laki-laki yang bernama Rio yang seingatku adalah kakaknya memanggilnya untuk keluar. Dia nampak tidak senang menerima kedatangan kami.

“Ya, ya bentar. Biarin aja mereka nunggu, siapa yang perlu dia yang berkorban” begitu kudengar gadis ini berteriak. Sungguh tidak sopan sama sekali.

Bibirku berkedut karena ternyata dia tidak sesuai harapanku. Aku mengira gadis yang kemudian kutahu dipanggil “Neng” ini adalah wanita sopan, lemah lembut, halus atau apapun itu yang merupakan sifat wanita baik-baik. Tapi tidak, dia sungguh galak, kejam dan sadis. Wajahnya memang cantik, cerah, bersinar, memukau dan membuatku terpesona, namun tak lebih dari itu.. yah.. mungkin sedikit. Tapi aku sangat tidak suka dengan mulutnya yang lancang. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido


Mungkin karena terbiasa dihormati dan disapa dengan kata-kata penghormatan setiap harinya, telingaku tak terlatih untuk mendengar teriakan keras dan tak sopan dari gadis ini. Skorku untuknya lima dari sepuluh untuk sikap. Untuk penampilan.. ehm.. tujuh dari sepuluh.. Ok, delapan, kuakui dia memang cantik.. Dan disanalah aku duduk diam, tanpa bicara, kubiarkan calon iparku membujuk keluarganya dan kugunakan waktuku untuk meneliti lebih seksama mengenai gadis kurang ajar ini, menimbang-nimbang bila aku masih ingin untuk.. err.. memilikinya.  


33 comments:

  1. hohoohoohooo..
    Masih nilai menilai hah???
    Baguslah...

    Ntar klo dah fix penilaianny,,u tell me yaa....wkwkkwkwkw

    ReplyDelete
  2. yahhhh....liam sih ngk lihat fotoku duluan jd ngk bakal kecewa wakakaka thanks mbk shin:)

    ReplyDelete
  3. 8 dari 10? Tpi, bisa langsung bikin cinta stngh mati kan mas liam? :D

    ReplyDelete
  4. 8 dari 10? Tpi, bisa langsung bikin cinta stngh mati kan mas liam? :D

    ReplyDelete
  5. 8 dari 10? Tpi, bisa langsung bikin cinta stngh mati kan mas liam? :D

    ReplyDelete
  6. Kasihan bnget gula aja mpe kehabisan saking sibuk na, liatin aku ja kalo pas minum kopi dijamin jd manis *langsung dimuntahin ma liam* ho.ho Thanks mb shin;-)

    ReplyDelete
  7. good kak ternyata ini chapter ya hehe
    gomawo....

    ReplyDelete
  8. yg kupikirkan,,
    untung diriku g msk kedokteran, ampun deh. Kuliah 5 thn (paling cpt ya?) blm lagi ambil spesialisx? Kekeke
    puk puk liam, entar ada si eneng yg ngurusin. Thank u mbak shin *aku padamu*

    ReplyDelete
  9. Memilikinya? Sombong banged liam nih :berbusa: ga kebalik?neng tuh yang milikin kamu... :p

    ReplyDelete
  10. Ya ampun... Ini to penelitian dari sudut pandang akang liam terhadap Neneng ...? Hehehe

    makasih mbak Shin :)

    ReplyDelete
  11. weeh liam kaya ak koleksi kacamata :-D
    give me five :-p

    mbak shin next chapt ea please
    *puppyeyes

    ReplyDelete
  12. setelah buka blog M SHin yg k 23 kali... baru ada si Liam :)
    duh... senang.x~~~ Tq M Shin :*

    ReplyDelete
  13. Hihihiihhi
    Gaya banget si Liam ini, 8 dari 10 , padahal ma 100 dari 10
    Hahaha
    Keren2
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  14. Taraaaa.. Liam Liam.. Wlwpun mulut neng ksar, qmu msih suka kan?? :p

    Thanks mba shin ;)

    ReplyDelete
  15. nilai??? dikira apaan smpe lw nilai?--

    gaya bgt ni org 1..--

    udh deh.. lw mau kok ma si neng..=D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tmbah mbak shin!!!\=D/

      syukur deh msih ad postingan.. mkasih bnyk yah mbak..:D.. pdahal wkt blg 1 bln ga ad postingan sdih bgt ak.. hihihi

      Delete
  16. thanks shin...ditunggu chapter berikutnya ^^

    ReplyDelete
  17. aduh tetap mempesona walaupun kelakuannya gak banget...
    tenang akang liam, itu cuma luarnya aja kok, dalam sama juga...wkwkkwkk*gk kok dalamnya baik
    aku selalu merindukanmu akang liam.....*jeritan hati amanda

    ReplyDelete
  18. liam liam pake dinilai segala neng nya.


    makash mb shin

    ReplyDelete
  19. Dah baca lupa komen,,,, #tepok jidat liam

    5 dari 10 mmmm tpi cinta kan, syg kan?? Liam2 ngasih penilaian tapi klepek2 juga, aku ampe diceraikan (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Mba shin º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º Ɣª crta'a....

    ReplyDelete
  20. lia sma ma aku... ,
    ska kleksi kca mta.. nda bnyak yg udah rsak... ,
    jgn2 mnus ku sma liam jga sama.. ,
    liam kya nya kta jdoh deh... ,

    liam shrusnya kamu liat futu ku dlu...
    djmin nilainya ngak jauh bda ma "neng" *ngareppp

    ReplyDelete
  21. Jadi tau jeritan hati Liam selama ini XD

    _sautsautan

    ReplyDelete
  22. trms mba shin....tmbh lg dnk.hehe

    ReplyDelete
  23. Wuaaahhh gak nyangka liam... tambah mba shin. Mksih....

    ReplyDelete
  24. trms mba shin....tmbh lg dnk.hehe

    ReplyDelete
  25. MBA SHIIIIIN....
    I HEART YOOOOOO...
    *treak pake toa masjid*

    ReplyDelete
  26. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  27. Si cong gula aja sampe lupa dibeli>.< Semoga cincin nikah kita gak lupa dibeli ya cong:') #halah

    ReplyDelete
  28. Ah baru sempat baca...Tq mba shin

    ReplyDelete
  29. Sehari berapa kali buka2 ngarep ada postingan
    Taraaaa yeayyyy
    Cong datang juga
    Makasoooyyyy mbaa shinnn

    *mey

    ReplyDelete
  30. wahhh shin supriseee so hepi
    sudut pandang cong kodokk yeahh *-* thx shin

    ReplyDelete
  31. liammm pilih aku aja mendingan .nilai ku 10 melebihi si cong ;D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.