"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 23, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 10



Satu jam kemudian dokter Ardian menjemput istrinya di rumahku, dia tak nampak terkejut menyadari akulah penelphone yang memberitahukannya mengenai keberadaan istrinya dirumahku, rupanya dia telah mengetahui masa lalu Clara dan diriku, aku tiba-tiba merasa menjadi seorang yang bodoh di depannya. Laki-laki ini, dia masih mampu menikahi Clara meskipun tahu hati istrinya bukanlah untuknya, aku.. tak mungkin bisa seperti itu. Fiuhh..

Aku tak tahu apakah Clara masih akan menghubungiku di masa depan, kami tak berbicara lagi setelah itu, dia masih menangis terisak saat masuk ke dalam mobil suaminya, sementara sopir pribadi mereka membawa mobil yang ditabrakan oleh Clara pergi dari rumahku, rumah yang akhirnya kupasang untuk dijual. Tak lama lagi rumah itu seharusnya sudah laku, sudah banyak orang yang bertanya dan semuanya telah kuserahkan pada asistenku disana.


Kini aku kembali dengan aktifitas monotonku, meskipun aku sudah tak lupa untuk mampir ke swalayan, membeli persediaan rumahku untuk satu bulan ke depan. Sungguh tak ada hal istimewa yang terjadi beberapa hari belakangan ini, aku mulai bosan dan terkantuk-kantuk dalam kantorku, masih dua jam lagi sebelum operasi kedua dimulai, hari ini ada empat operasi dan semangatku mulai hilang. Ahh.. Aku ingin bertemu dengan Lili, ingin bertukar pikiran dengannya. Lili dan koh Franz baru saja pulang dari bulan madunya tak lama setelah kepulanganku dari Jakarta. Lili tahu mengenai hubunganku dengan Clara, mungkin..dia bisa memberikan sedikit saran untukku. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Belum lama aku berada dalam rumah koh Franz, yang sudah bersikap seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya di antara kami, bel pintu berbunyi, karena Lili sedang sibuk mencuci piring, maka akulah yang berdiri membukakan pintu untuk tamu itu. Aku sungguh tak menyangka akan melihat Camelia datang bertamu kerumah ini, dan seorang laki-laki muda berjalan di belakangnya, dari pandangan matanya aku tahu, laki-laki ini bukan sekedar teman bermain bagi Camelia. Tatapan mata itu bukanlah tatapan mata seorang teman, sial, apakah mereka berpacaran??

Camelia memperkenalkan laki-laki itu sebagai Edo, pacarnya. Sial! Benar saja dugaanku, dahiku berkerut, sebulan saja aku tak ada disini dan Camelia telah memiliki seorang pacar? Hatiku mendidih mendengarnya, nampaknya aku harus bergerak lebih cepat, masak dikalahkan oleh anak kecil?

Sedikit banyak aku tahu bahwa laki-laki ini adalah teman satu kampus Camelia, lebih tepatnya kakak kelasnya, nampaknya mereka sering bertemu dan laki-laki sial ini telah mendahuluiku, dan koh Franz terlihat senang dengan anak kecil ini yang dengan sombong mengaku dirinya adalah pacar Camelia. Shhh!!

Saat dia pergi ke toilet, kugunakan kesempatan ini untuk menghampiri Camelia, berani-beraninya dia berpacaran tanpa sepengetahuanku.

“Nampaknya kau cukup bersenang-senang dengan pacar barumu” kataku sembari berjongkok disampingnya, dia sedang sibuk memilih oleh-oleh yang dibelikan ayahnya untuknya.

“Bukan urusanmu” dengan kesal dia memutar tubuhnya menghindariku.

“Itu urusanku! Bukankah sudah kukatakan kalau kau itu milikku?” desisku ditelinganya. Aku sudah mengatakannya berkali-kali, kau adalah milikku, milikku, dan tak akan kubiarkan siapapun memilikimu selain aku.

“Huh? Jangan bercanda. Jangan ganggu aku, kembali saja pada pacarmu itu. Kita sama-sama sudah punya pacar jadi jangan ganggu aku lagi” balasnya semakin ketus. Kupicingkan mataku, dasar wanita, senang sekali berasumsi. Lalu sudut mataku menangkap si Edo keluar dari toilet, aku harus mundur sekarang.

“Kita masih punya urusan yang harus diselesaikan. Kita akan berbicara lagi nanti” kataku sebelum bangkit meninggalkannya.

Setelah membereskan barang-barang yang akan dibawanya, Camelia dan Edo berpamitan pada ayahnya dan Lili, sebelum dia sempat masuk ke dalam mobilnya, sengaja kupanggil dia dengan sebuah tipuan licikku. Aku sangat ingin bisa berduaan dengannya, aku ingin bertanya mengapa dia harus berpacaran dengan laki-laki itu, tidakkah ada laki-laki lain yang lebih pantas untuk kuajak bersaing?

Kutarik tubuh Camelia masuk ke dalam sebuah ruangan yang entah ruangan apa ini aku tak tahu, karena hanya ruangan ini yang terdekat dari tempat kami berdiri. Ruangan ini pengap namun aku tak perduli, aku tak ingin koh Franz mengetahui perbuatanku pada Camelia, dia bisa menggantung leherku bila dia tahu.

“Mau apalagi sih kamu? Aku akan berteriak kalau kamu berani macam-macam?” ancaman gadis kecil ini cukup menciutkan nyaliku, dengan cepat kubekap mulutnya agar tak berteriak.

“Bukankah sudah kubilang, aku masih memiliki urusan yang harus kubereskan bersamamu?” bisikku di depan wajahnya, wajah kami begitu dekat, aku dapat melihat matanya yang menantangku, sedikitpun tak ada ekspresi ketakutan disana, inilah yang membuat gairahku bangkit tanpa terkendali, keinginan untuk menakhlukan gadis ini.

Kulepaskan bekapan tanganku, kini kugantikan dengan bibirku yang menguasai bibirnya dengan penuh. Ah.. Camelia.. dia membalas ciumanku, kami berpagutan dengan dalam. Rasanya begitu indah, kami melupakan dimana kami berada saat ini, yang terpikir dalam otak hanyalah bagaimana kami bisa menikmati momen kebersamaan kami ini. Hampir dua bulan lamanya aku tak mengecap bibir ini, saat kurasakan lagi, letupan gairah dalam tubuhku bernyanyi merindukan lebih, meminta lebih banyak dari sekedar ciuman. Aku terlalu sering menciuminya, sial.. kini ciuman tak cukup lagi.

Tanpa kusadari, tanganku telah menelusup dibalik pakaian Camelia, mengelus punggung telanjangnya, kulitnya yang halus kini teraba oleh tanganku, diproses oleh otakku, semakin menambah gairah kelelakianku. Ciuman kami semakin panas, bisa kurasakan tangan Camelia meraba-raba tubuhku, ah.. dia juga menginginkannya, Camelia juga menginginkanku, kami saling menginginkan, tapi tetap ini salah. Sungguh hina bila aku melakukan hal itu disini, dia akan sangat membenciku bila kutelanjangi dirinya disini.

Syukurlah seseorang memanggil dari luar, aku tak tahu itu suara siapa, aku tak sanggup mencernanya, pikiranku berkabut dipenuhi gairah, hanya sebuah tamparan yang dapat membuatku tersadar dari gairahku saat ini. Namun, suara isak tangis Camelia yang mendorong tubuhku hingga membentur dinding dibelakangku ternyata mampu membawaku kembali berpijak diatas kakiku. Sial!! Apa yang telah aku lakukan?? Aku benar-benar bajingan!!

Saat kutoleh ke luar pagar rumah, mobil yang membawa Camelia telah menghilang dengan menyisakan suara menderu yang kencang. Ahh.. Camelia.. Maafkan aku.. Tapi aku tak menyesalinya, aku.. memang licik, aku memang bajingan, karena aku akan melakukan apapun agar kau menjadi milikku.

Seminggu ini hari-hariku dipenuhi dengan jadwal seminar dan kunjungan dari dokter rekanan dari pulau Jawa dan luar negeri, bahkan hari sabtu pun hingga siang masih harus berhadapan dengan beberapa kepala cabang pabrik obat yang hendak melakukan kerja sama jangka panjang dengan rumah sakitku, memang bila kerja sama kami ini menemui kata sepakat, banyak sekali keuntungan yang bisa kami dapatkan, selain pasokan obat yang tak tersendat, harga obat pun bisa kami sesuaikan dengan harga standar yang diizinkan pemerintah, setidaknya untuk pasien kelas menengah ke bawah obat-obat ini masih bisa dijangkau.

Dan malam ini kubiarkan mereka mentraktirku makan di sebuah rumah makan yang terkenal di kota ini, bukan rumah makan mewah tapi makanannya salah satu terbaik disini. Dan tebak siapa yang kutemukan disini.. Camelia tersayang..

“Neng?” panggilku dengan senang. Namun dahiku berkerut demi melihat air mata menitik di sudut mata Camelia.

Akupun mengambil tempat disamping Camelia, sedang kedua orang dari pabrik obat itu duduk di seberang kami menyantap makanan mereka. Kuperhatikan Camelia belum juga menyentuh makanannya, apakah ada yang mengganggu pikirannya?

“Ndak makan? Kenapa dilihatin aja?” tanyaku kemudian.

“Gak apa-apa” jawabnya kesal. Akupun manggut-manggut mengerti, bahwa dia sedang tak ingin diganggu.. hah.. gadis mungil.. itu adalah undangan untukku, bahwa kau ingin diganggu.

Karena terlalu senang mendapati Camelia ternyata juga makan malam disini, aku sampai melupakan minumanku. Namun aku sungguh terkejut, saat melihat laki-laki yang kukira pacar Camelia baru saja berdiri dan dibelakangnya seorang wanita lain mengikuti. Ini malam minggu kan? Semestinya laki-laki itu bersama dengan Camelia, kan? Lalu mengapa dia justru pergi dengan perempuan lain? Dan disini.. Camelia sedang menangis? Menangiskah dia saat pertama kumelihatnya disini? Ahh.. misteri ini semakin menarik saja.

Dengan sengaja kupanggil laki-laki itu, apakah dia tahu bahwa dia telah ketahuan? Siapa namanya? Edo? Mungkin Ego? Hah..

“Edo??” panggilku padanya. Dia menoleh padaku, senyum masih tersungging disana, namun saat kusadari dia sedang melihat Camelia yang juga ada di dekatku, seketika senyum itu menghilang, tergantikan dengan wajah muram, semuram mendung diluar sana.

“Kenapa duduk jauh-jauhan? Kalian sudah putus?” ahh.. aku memang licik, meskipun kalian belum putus, sekalian saja putus malam ini. Dengan begitu, aku akan mengambil jalanku untuk memiliki Camelia.

Nampaknya Edo tak mampu menjawab pertanyaanku, dia hendak mengatakan sesuatu namun tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. apakah karena tertangkap basah lalu seseorang bisa langsung berubah menjadi pendiam seperti ini? Oh, well.. aku tak akan pernah tertangkap basah seperti ini, semoga saja tidak.

“Yah, sayang sekali. Aku kira kalian akan bertahan lama, kasihan si Eneng. Ya, sudahlah. Silahkan lanjutkan urusan kalian, aku tak ingin mengganggu, malam ini Neng biar aku yang menemani” kulanjutkan saja permainanku untuk memisahkan mereka, aku tahu laki-laki di depanku ini sangat ingin untuk menghajarku, haha.. ayo.. bila kau ingin unjuk kebolehan bertinjumu denganku, aku tak akan segan, aku tak akan menahan tenagaku meskipun kau hanyalah bocah kecil dihadapanku.

Lalu mereka pun pergi dari hadapan kami, ya Edo dan pacar barunya. Setelah membayar tagihan makan kami, pegawai dari pabrik obat itupun mengundurkan diri, nampaknya mereka cukup mengerti dengan suasana yang baru saja terjadi, mereka tahu.. ini adalah kesempatanku untuk mendekati Camelia, mungkin aku bisa membujuknya untuk melupakan Edo.

“Jadi.. Kau kosong malam ini?” tanyaku sembari merebahkan tubuhku di punggung kursi. Fiuhh.. tak ada jawaban dari gadis ini.. hm..

“Bagaimana kalau kau jadi pacarku, Neng?” langsung saja kulemparkan pertanyaanku, aku tak ingin berbelit-belit dengan perasaanku, sungguh ini akan menghemat banyak waktu. Karena apapun jawabannya, aku tak akan membiarkan Camelia lolos dengan mudah malam ini.

“Memangnya aku cewek apaan? Seenaknya kamu ngomong gitu!” bentaknya marah. Hoho.. easy girl..

“Lho, kok marah? Aku kan hanya bertanya, siapa tahu karena kau kesepian, kau mau menerima tawaranku. Aku tak akan menawarkan hal ini dua kali”

“Aku tidak kesepian, aku tidak perlu kamu temani. Aku pulang!” setelah memberikan jawabannya, Camelia berdiri dengan kasar, dia ingin pergi namun kutangkap tangannya, sudah kukatakan, dia tak akan lolos dengan mudah malam ini.

Kuputar tubuhku hingga menghadap wajahnya, aku ingin memastikan dia melihat wajahku saat aku berkata, karena aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku. Dengan senyuman terbaik kukatakan padanya, dia telah menipu dirinya.

“Ya, kau kesepian. Pasti kau baru saja mengetahui pacarmu menduakanmu, karena reaksimu sungguh terlihat. Kau menangis, kan? Kenapa harus menangis demi laki-laki seperti itu? Masih banyak laki-laki baik di muka bumi, aku contohnya” jawablah aku bila kau merasa aku salah, Camelia..

“Gombal!! Kau itu bajingan, laki-laki berengsek, busuk, mesum, hidung belang, mata keranjang..” oh..tidak manis.. Kau boleh mengata-ngatai ku bila kita sedang berduaan, tapi tidak disini. Tanganku dengan sigap menutup mulut nakal itu, mulut yang telah lama tak kukecup.. ahh.. aku merindukannya.

“Ssttt.. Kau akan merusak reputasiku bila meneruskan makianmu. Aku tidak keberatan kau mengataiku, tapi tidak disini. Bila kita hanya berdua.. Aku senang mendengar makianmu, membuatku bergairah” bisikku pelan, hanya agar terdengar olehnya.

“Jadi? Bagaimana? Terserah maumu, kau bisa menggunakanku untuk membalas dendam sakit hatimu pada Edo dan wanita itu, aku tidak keberatan kau menggunakanku” kulepaskan bekapan tanganku dari mulutnya, itupun dengan terpaksa. Dia tak mungkin bisa menjawabku dengan mulut tertutup, kan?

 “Tapi kamu sudah punya pacar, aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang lain” tukasnya kesal.

Ahh.. Camelia.. haruskah kau kuberitahu yang sebenarnya? Namun nampaknya akan sangat menarik bila kau tak tahu hal sebenarnya, karena dengan demikian aku masih bisa selalu menggodamu, kan? Sungguh menarik membuatmu cemburu.. itupun bila kau bisa cemburu terhadapku. Tapi aku sedih kau mengira aku adalah laki-laki seperti itu, Camelia.. Aku adalah laki-laki paling setia di muka bumi ini.. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“Yah.. Kan hanya kita berdua yang tahu. Kan cuma untuk bersandiwara di depan Edo, kan? Keluarga kita tidak usah tahu, papamu bisa membunuhku bila dia tahu aku berpacaran dengan anak gadisnya” kataku sedih. Aku masih belum bisa mendapatkan jalan keluar untuk mendekati koh Franz..

Dia memang tak menjawabku, namun dengan diamnya, aku tahu Camelia tak menolakku. Yes!!! Selangkah telah berhasil.. kini tinggal pendekatan gaya Liam.. Atau gaya anak muda? Oh, well.. aku bukan anak muda lagi, aku bahkan lupa bagaimana cara anak muda berpacaran.. err.. haruskah kubelikan dia bunga? Boneka? Hadiah-hadiah? Ahh.. sungguh picisan.  


40 comments:

  1. Liam mulai beraksi.

    Thanks Mba Shin :*

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. sama2 :D eh. bb ku dah habis masa langganan ya. mgkn gak bakal aktif untuk beberapa lama. lg lemas.. eh males...

      Delete
  3. liam ne......bner2 licik cik cik... mba shin nmbh 1lg dnk mlam ne

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D ndak.. lusa aja.. belum ngetik jugaan iiihih

      Delete
  4. Hihihihi
    Si Liam inih, licik banget
    Hahaha
    Tapi sukaaa
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  5. ahhh dasar bang liam licik amat bang hha

    ReplyDelete
  6. Stategi yg bagus Liam he.he semua sah dalam cinta & perang *plak*, thanks mb Shin;-)

    ReplyDelete
  7. akhrnya bz buka blog..

    liam emang licik.
    sang penakhluk licik yg menawan..

    ReplyDelete
  8. Semangat Liam....
    aku mendukungmu...
    hehehe..
    thanks mba Shin

    ReplyDelete
  9. Wkwkwkwk... Si licik Liam... Ayo kita balikan ❤
    Tq M Shin 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah cukup ngambeknya?? kirain masih ngambek, br mau suruh Liam jemput ihihiihiih

      Delete
  10. mksi mba shin.. ,
    ayo liam lnjutkan prjuangan mu..
    g' apa2 kq licik2 dikit... ,

    mba shin nmbah lgi dunk mlam ini..

    ReplyDelete
  11. Hahaha,,liee emg licik tpi lucu

    happy weekend kk shin (**)_---

    ReplyDelete
  12. Replies
    1. makasi may :D. km jg ya cepet sembuh :)

      Delete
  13. Ih kesel dah ngetik panjang tapi ga kepost comment-nya
    ya sudahlah.
    Makasi mba ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha ayo sist,, jgn menyerahhhhh :lagunya de nasib:

      Delete
  14. mbak shin, kl msh ada stok kayak liam, aku mau dong soalnya aku type malu2 kucing tapi mau, kyaknya cocok deh sama aku he..he.. Thanks yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaahhaahahhaaha er... baru Liam aja deh perasaan yg tingkat PD nya ketinggian ahahhahaa

      Delete
  15. kak shin kpan ada postingan baru? tiap hari aq buka blogny tp blm dpt pencerahan.. humm..
    aq setia menunggu karyamu.. segeralah kmbali.. ^^,

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg dimana? hyden? hahaha.. no komeng..

      Delete
  16. liam mesum jail licik banget dah, neng baru putus gerak cepat dengan tipu muslihat yg jahil tembak ditempat sampai neng tak berkutik.

    liam perayu ulung sejati wkwkwk :P

    makasih ya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha harus itu kl gak mau kalah lol... iohihihi sama2 sist :D

      Delete
  17. sist, cerita ini, biar dibaca berulang-ulang jg ngga akan bosen ^^ alur cerita/kalimat yg disajikan ringan dan menarik untuk dibaca. cerita favorit nambah satu lagi ^^ terus berkarya sist, selalu setia menunggu kelanjutan ceritanya dn pastinya karya-karyanya yg lain. salam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi banyak sista, pujianmu sungguh berarti bagiku huahaa :lebay: ihihih sip sip tengkyu so mat ya ;:)

      Delete
  18. Ah mbak Shiiinnnn .... Aku baru Bisa baca ....kemaren ndak sempet ...

    Tengkyu ya cinTa ... Luph YU :))

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.