"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, March 26, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 14



Dua minggu dalam kondisi terburuk hidupku, akhirnya kakiku bergerak sendiri ke depan pintu kamar kos Camelia. Tanganku mengetuk pintu kamar itu meskipun kepalaku menolak dan memerintahkan tubuhku agar segera angkat kaki dan pergi jauh-jauh dari sini. Tidak, tubuhku ingin bertemu dengan Camelia, hatiku merindukannya, kewarasanku ingin mendengar penjelasan wanita ini, semenyakitkan apapun itu, aku harus bisa menerimanya.

Kuketuk pelan pintu kamar Camelia, dia membukanya dengan bingung, mungkin Camelia tidak berharap akan bertemu dengan seseorang hari ini. Demi melihat wajahnya yang begitu kurindukan, semangatku terangkat sedikit. Dengan terpaksa Camelia mengizinkanku masuk ke dalam kamar kosnya.


Mataku menatap nyalang dalam kamar kecil itu, mencari jejak laki-laki berengsek itu, mungkin saja dia pernah menginap di sini dan meninggalkan sesuatu yang menjadi miliknya saat menginap. Hatiku merasa sedikit lega karena tak satupun ada benda yang mencurigakan terlihat. Camelia kemudian memintaku untuk duduk, tapi aku tak bisa. Bila duduk, semua keberanianku akan menciut, nyaliku akan hilang dan tak akan ada suara yang keluar dari mulutku.

Aku bahkan tak berani menatap mata Camelia, aku takut dalam mata itu aku akan mendapatkan jawaban yang tak kuinginkan. Aku.. yang biasanya begitu penuh dengan percaya diri, kini merasa bagai amatiran yang tak memiliki secuil keberanian di depan wanita yang kucintai, wanita yang kuingat adalah milikku!! Bisakah dia tetap menjadi milikku?? http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“Mau apa kamu kesini?” tanyanya kesal.

Camelia.. bila sekarang kau menunjukkan kekesalanmu padaku, bukan kegembiraan yang kudapatkan, tapi kesedihan yang mendalam. Aku sedang berduka karena cintaku padamu.

Lidahku kelu, sulit rasanya mengungkapkan isi hatiku saat ini. Aku merasa sungguh hina hingga sampai hati memikirkan pertanyaan yang sudah menguasai kepalaku sejak dua minggu yang lalu, sejak statemen laki-laki berengsek itu menghancurkan kehidupanku. Camelia rupanya sudah tak sabar lagi dengan kebisuanku, dengan ketus dia mencoba untuk mengusirku..

“Bila tidak ada yang ingin kamu katakan lebih baik kamu pergi saja dari sini” katanya lagi.

Camelia.. please becareful with my heart.. Cinta adalah hal baru dan rapuh bagiku, pun aku tak akan menyerah untuk merebutmu, tidak sampai jari tanganmu memakai cincin pemberian laki-laki lain.

Lidahku semakin kelu, hanya suara tergagap yang mampu kukeluarkan, rupanya aku menderita syndrome panik dan tak percaya diri akut, hanya dalam keadaan seperti ini, hanya saat berada di depan gadis ini.

“Aku.. Apa benar dia.. Maksudku.. Ah.. tidak. Maksudku.. Dia..” ahh.. bodohnya aku. Ini hanya akan semakin membuat emosi Camelia.

“Maksudmu apa? Aku tidak punya waktu seharian untuk mendengarmu berbicara tak jelas seperti ini didepanku” dia semakin kesal padaku. Bahkan pada saat seperti inipun aku masih saja membuat Camelia kesal. Aku memang payah.

Kuhembuskan nafasku dengan berat, menyatukan tekadku dan menanyakan pertanyaan itu. “Apa benar kau mengandung anak laki-laki itu?” tanyaku.

Bukan jawaban yang kuinginkan namun bukan pula yang kubenci. Camelia menamparku dengan telak, kepalaku yang telah pusing menjadi semakin pusing dan mataku berkunang-kunang. Kupejamkan mataku dan mengetatkan rahangku, bila tidak tubuhku akan terjatuh dalam kamar ini, aku tak ingin membuat Camelia panik. Aku hanya akan mempermalukan diriku bila Camelia mengetahui betapa lemahnya sesungguhnya aku bila berhubungan dengan cinta dan perasaan.

Kuperbaiki letak kacamata yang miring, menerima dengan lapang dada semua makian kekesalan Camelia padaku. Aku pantas menerimanya, pertanyaanku sungguh merendahkan arti gadis didepanku ini.

“Kamu kira cewek apa aku, hah? Apa kamu punya hak bertanya seperti itu padaku? Setelah kamu tidak ada kabar, setelah apa yang terjadi?? Aku tidak meminta tanggung  jawabmu!! Dan aku tidak hamil!! Puas??! Jadi kamu tidak perlu bertanggung jawab apa-apa! Lupakan saja yang apa telah terjadi, anggap tidak terjadi apa-apa. Kamu bisa kembali pada pacarmu dan aku bisa kembali pada hidupku. Aku menyesal telah mengenalmu!!” jawab Camelia berapi-api, bisa kulihat mata Camelia berkaca-kaca saat mengungkapkan perasaannya.

Aku sungguh terguncang mendengar jawaban Camelia, bukan itu yang ingin kudengar, aku tak ingin Camelia membahas masalah pertanggung jawaban, demi Tuhan tanpa dia hamilpun aku ingin bertanggung jawab padanya, karena aku mencintainya, karena aku mencintaimu, Camelia!!

“Bagaimana kau bisa memintaku melupakan apa yang telah terjadi, Camelia? Bagaimana kau bisa mengatakan itu tidak ada apa-apa?? Bagiku itu adalah segalanya, kau kira aku meniduri setiap wanita yang aku temui? Kau kira aku tertarik padamu dan menidurimu tanpa alasan?? Aku tidak menidurimu!! Berengsek!! Aku benci kata itu!! Kita bercinta, Lia!!! Demi Tuhan aku tak akan menidurimu bila aku tidak memiliki perasaan itu padamu!! Dan hentikan tentang pacarku yang selalu kau jadikan alasan. Aku tidak punya pacar!! Kau kira laki-laki apa aku ini? Aku bukan ayahmu, jangan samakan aku dengan ayahmu! Banyak hal yang harus kita bicarakan, dan kita tidak akan melakukannya disini. Ikut aku!!” sakit rasanya hatiku mengucapkan kata-kata ini. Lebih baik aku mati daripada kau memintaku untuk melupakanmu.. Aku tak mungkin bisa melupakanmu, Camelia.

Kutarik tangan Camelia dan mendudukkannya di atas kursi samping kursiku, dia tak akan berani kabur karena aku telah mengancamnya. Aku sangat marah.. Aku tersinggung, aku kecewa.. Tapi Camelia juga berhak merasakan hal yang sama karena perbuatanku.. Ahh..

Mobil melaju dengan kencang membelah kemacetan jalan raya, hampir setiap sepuluh meter kubunyikan klakson agar kendaraan di depanku memberi jalan. Aku benar-benar emosi dan jangan salahkan aku bila aku menabrak kalian!!

“Kamu akan membuat kita berdua mati, hentikan!! Turunkan aku disini!! Ini penculikan!!” Camelia menggangguku pada saat yang tidak tepat, aku tak ingin mengancamnya, sial! Itu adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan, tapi sekarang keadaannya lain, kepalaku gelap oleh amarah.

“Hentikan.. Bila kau tidak berhenti, kau akan menyesal Lia..” desisku marah.

Sesampainya dirumah, kutarik lagi tubuh Camelia hingga kami berada dalam kamarku. Kududukkan dia di atas ranjang dengan sedikit kasar, pikiranku kalut. Semua menjadi begitu berantakan sekarang. Kulemparkan kacamataku begitu saja, kutopang kepalaku saat duduk disamping Camelia, sama-sama di sisi ranjang.

“Berengsek!! Kenapa semua harus berakhir seperti ini??!! Arghh!!!” teriakku frustasi, ya aku benar-benar frustasi. Amarah dua minggu ini semakin menyiksaku.

Camelia duduk diam dengan ketakutan disampingku, sedikit kekhawatiran tersirat diwajahnya untukku. Ahh Camelia.. Andai keadaannya berbeda..

“Seharusnya aku tidak pergi ke Amerika!! Andai saja.. Argh!! Sial!!” yah.. seharusnya aku tak ke Amerika.. Seharusnya aku tak menerima gelar doktor kehormatan itu,  maka aku tak akan kehilanganmu dan semua salah paham ini tak akan terjadi!

Aku seperti orang gila berjalan mondar-mandir di depan Camelia tanpa sanggup mengatakan sesuatu. Nafasku seperti tarikan mesin mobil rusak meskipun aku tahu paru-paruku tak serusak itu. Setelah tak ada lagi yang bisa kukerjakan, akupun kembali duduk disamping Camelia yang sedang menundukkan wajahnya. Dengan pelan kubisikkan isi hatiku, isi hati yang telah kupendam berbulan-bulan sejak pertama mengenalnya. Ahh.. Camelia.. andai kau tahu lebih awal.. akankah cintaku bersambut?

“Aku mencintaimu, Camelia. Aku bersungguh-sungguh. Kau mungkin tidak percaya karena selama ini aku hanya mengganggumu dan membuatmu membenciku. Apa yang harus aku lakukan? Tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku? Bahwa apa yang terjadi waktu lalu di kamar ini adalah segalanya bagiku. Aku tidak pernah membawa wanita kesini selain dirimu, hanya rekan kerja dan keluarga yang biasa mampir kesini. Selebihnya tak ada, aku tidak biasa mengundang siapa-siapa kesini. Bahkan rumah ini.. Rumah ini baru saja kutempati setahun yang lalu setelah aku pindah ke kota ini. Bahkan aku mengenal ayahmu baru setahun yang lalu, aku tidak tahu menahu tentang kehidupan keluargamu, tentang konflik keluargamu. Kakakku mengabariku dia ingin menikah di kota ini, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan meninggalkan pekerjaanku di ibukota hanya agar bisa dekat dengan kakakku. Aku membangun usahaku disini, Lia. Membangun dari nol, rekan-rekan kerjaku kuundang kesini untuk mengembangkan usahaku bersama. Aku memutuskan tak akan membangun sebuah hubungan setidaknya hingga usahaku berkembang dan sukses, tapi kau datang.. Seluruh duniaku jungkir balik. Apa yang aku percayai sebelumnya berubah total. Aku menjadi posesif padamu, aku ingin menjadikanmu milikku. Aku selalu mengganggumu meskipun aku tahu kau membenciku setengah mati. Aku selalu memaksamu, bahkan mungkin.. mungkin setengah dari diriku sengaja mengajakmu kesini karena aku ingin mendapatkanmu. Mengetahui kau begitu benci padaku, aku kehabisan akal untuk membuatmu menyukaiku, aku.. aku belum siap untuk membina sebuah hubungan tapi.. aku ingin memilikimu, Camelia.. Aku tak bisa melihatmu dengan pria lain, apalagi mendengar laki-laki itu telah menyentuhmu hatiku mendidih. Pikiranku kalut, aku.. aku yang biasa berpikir jernih bahkan menghadapi hal seperti inipun tak bisa berkutik..” bisikku menyerah.

Kunyalakan sebatang rokok dan menghirupnya dengan gugup disamping jendela yang telah kubuka. Tanganku gemetar, aku sungguh tak bisa mengontrol emosiku saat ini. Aku terbuka dan terluka.

“Aku mencintaimu, Camelia.. Aku ingin memilikimu..” bisikku pelan, setengah berharap dia akan mendengarnya.

Rokok hampir habis ditangan, lalu kubuang. Disamping Camelia kuambil lagi tempatku.

“Aku tahu kau sangat membenciku, mungkin perasaanku ini hanya perasaan sepihak. Ironis kan? Aku kira aku bisa bertahan tanpa cinta, setidaknya hingga usiaku empat puluh tahun, hingga aku berhasil menetapkan diriku sebagai laki-laki sukses. Tapi saat aku baru saja memulai usahaku, kau datang dan tak mau pergi dari hatiku. Aku memang tidak bisa merangkai kata, Lia.. Aku tidak pernah memiliki hubungan romantis atau pacaran yang bertahan lebih lama dari jumlah semester yang kau masuki di kampus. Aku hanya berhubungan dengan wanita-wanita yang bersedia berhubungan tanpa status denganku. Aku tak pernah merasa posesif pada mereka, bahkan ketika mereka bersama laki-laki lain aku tak perduli. Tapi denganmu, tidak serta merta membuatku menafikkan kenyataan kalau kau bersama laki-laki itu. Aku tidak rela. Aku hanya ingin kau untukku seorang” karena beginilah aku.. Milikku adalah milikku seorang, tak akan kubiarkan orang lain memilikimu jua, Camelia. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Setelah mengetahui segala omongan laki-laki itu bohong, hatiku sedikit lega, namun kelegaan sesaat ini tak mampu menahan gempuran kekecewaan dan sakit hati yang akan kurasakan berikutnya.. ketika Camelia menolak perasaanku.. dengan menyakitkan..


Ahh.. pernahkah kukatakan bila nyawaku ada ditangan gadis ini? Bila belum.. maka sekarang kukatakan, Camelia telah mencabut nyawaku dengan penolakannya.  



25 comments:

  1. Replies
    1. yeay berhasil hahaha.... baru baca setengah....
      ntar baca lagi mbak...
      makasih ya...muach muach....

      semoga hilang pegal-pegalnya ;)

      Delete
    2. wah, skrg rebutan pertamax ni?? mau hadiah?? wkwkwk :kiss di pipi aja ya: ihihi

      makasi sista :D

      Delete
  2. kasian liam..
    sabar y..

    makash mb shin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 eka.. btw wa ku eror lg :( hiks... gk bs ngobrul deh arghh...

      Delete
  3. Hiks hiks, trharu.. Liam, u're so sweet.. :-D

    ReplyDelete
  4. Hiks...sabar ya Liam
    Cini aku peyuk
    Hihihihi
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  5. Don't give up babe... :)
    Aduh... M Shin si sweet chapter yg ini <3

    ReplyDelete
  6. thor, aku ngefans banget ama blog ini. boleh saya berguru ke author ga? cara ngebuuat blog jadi menarik :) hehehe.. thank thor.. best for you

    ReplyDelete
    Replies
    1. tengkyu sist kl ngefans :D

      haha berguru apa?? berguru itu ke ibu guru, bapak guru.. kl berguru ke aku ntr dapetnya cuma ilmu mesum-mesum aja. kasian ntr otakmu rusak duluan kecemar ama otakku :eh ngomong apa ya kita?: :D

      blog menarik apa sih? isinya? fitur2nya? readernya? pelayanannya?

      membuat 1 blog itu yang penting pembuatnya/authornya enjoy dengan apa yang dia buat.

      kalau kamu enjoy dengan blogmu, meski gak ada yang baca, kamu udah puas kok.

      aku rasa, dengan ejoy, kamu akan mengundang orang lain yang memiliki "selera yang sama" denganmu untuk ikut "enjoy" juga dengan duniamu.

      blogku jauh dari kata bagus, masih banyaaaakkkk blog-blog milik orang lain yang jauhhhhhh lebih bagus dan menarik serta bermanfaat. sering2 lah blog walking, liat2 fitur mereka, contek, aplikasikan dan jangan bosan untuk berubah.

      kalau bosan dengan tampilan yang sama, ganti.. begitu juga seterusnya. dan yang terutama, blog itu harus konsisten, up to date dengan post2 baru. itu kalau kamu pengen bikin blogmu menjadi tempat singgah orang2 yang sama secara berkesinambungan. dan tentunya ramah dan rendah diri, meski sesekali boleh lah angot dikit.. author juga manusia, kan? ahahhaa...

      dan yang terutama, tentukan topik blogmu, apakah mengenai dunia tertentu atau campur aduk. :)

      intinya sih konsisten dan selalu mau belajar :wah, kok jadi panjang ya?? jadi malu padahal aku ya gak bisa apa2 jua: abaikan saja.. :)

      Delete
    2. ralat : rendah hati bukan rendah diri :hak hak hak hak..: gini dah kl kepala lagi nyut2 jawab komen.. maafken..

      Delete
  7. liam yg sabar yah....trms mba shin

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. masih may :( males ngurusin. biar dah..

      Delete
  9. Chapter yg mengharukan Liam patah hati hiks. mksh mb Shin;-)

    ReplyDelete
  10. makassiih cyiin,,,

    Si Liam skali ngomong P x L x T = rumus Volume Balok,, :p :D

    ReplyDelete
  11. chapter ini dalemmm bgt nih mbak Shin :)

    ReplyDelete
  12. chapter yg ini bikin galau dan nyesek deh mba shin. lihat liam yang begitu tak berdaya seperti itu hanya karena seorang neng bikin terharu jg. ternyata dokter juga manusia biasa. bisa hancur lebur hanya karena sebuah cinta hehe :P

    btw liam belom resmi jadi pacar aja udah posesif gitu, apalagi klo si neng jadi istrinya. mungkin tiap cowok ngelirik neng matanya bakal dilecer sama liam kali ya :)

    liam..liam...besar banget si cinta mu sama si neng. bikin ngiri aku aja wkwkwk :D

    makasih mba shin :*

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.