"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, March 27, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 15



Selama seminggu setelah penolakan Camelia, aku tak berdaya, tubuhku akhirnya menyerah. Karena pola makan yang tak teratur, jadwal minum obat yang tak pernah kutepati dan lelahnya otakku berpikir, akhirnya aku terbaring lemah di atas ranjang pasien. Selang infus terpaksa menjadi penambah aliran nutrisi untuk tubuhku selama dua hari lebih. Empat hari menginap di ruang VVIP rumah sakitku dengan istirahat total.. hanya itu yang kuperlukan untuk mengembalikan kondisi tubuhku, setidaknya setengah dari sebelumnya. Aku tak memberitahukan Lili mengenai keadaanku, kami toh jarang bertemu, dia akan memborbardirku dengan pertanyaan yang tak perlu bila dia mengetahui aku opname.

Setelah hampir satu bulan menelantarkan pasien-pasienku, akhirnya dengan susah payah aku berusaha menumbuhkan kembali semangatku, setidaknya semangat kerjaku. Aku belum menyerah dengan Camelia, tidak semudah itu aku menyerah, aku hanya sedikit..terguncang.. ya, terguncang. Mungkin aku adalah laki-laki ternaif di dunia, seorang gadis telah menolakku mentah-mentah meskipun aku tahu dia menginginkanku, yah.. menginginkan tubuhku, meski hanya tubuhku..

http://myowndramastory.blogspot.com

Pelan-pelan akan ku atur lagi strategiku untuk mendapatkannya. Dengan Edo, laki-laki berengsek itu, minimal aku masih memiliki waktu beberapa tahun untuk merebut Camelia, sebelum gadis ini lulus dari kuliahnya. Karena setelah dia lulus, bisa saja Edo langsung menikahinya. Arghh.. pikiran mengenai Camelia yang menikahi Edo saja sudah sanggup membuat hypertensiku kambuh, aku bahkan tak tahu bila memiliki penyakit ini bila tidak karena opname kemarin. Rupanya aku harus lebih rajin mengecek kondisi kesehatan tubuhku.

Siang ini adalah siang yang sama seperti biasanya kulalui di rumah sakit ini. Visite pasien ditemani dokter dan perawat yang juga ikut menjelaskan kondisi pasien pada keluarganya, juga kami bisa saling berdiskusi mengenai cara penanganan terbaik untuk kasus penyakit tertentu, baik kasus pasien yang memerlukan operasi ataupun tidak.

Aku tak bermimpi apapun semalam, bahkan aku tak bisa tidur bagaimana mungkin aku bisa bermimpi? Mataku tak sanggup terpejam, setiap saat memikirkan gadis itu, memikirkan mengapa dia menolakku, mengapa ahh.. menyedihkan. Tapi alangkah kagetnya aku ketika menemukan Camelia sedang berada dalam antrian tunggu untuk diperiksa oleh general prakter dokter umum di rumah sakitku.

Sejenak memang aku terpengaruh dengan keberadaannya, namun ketika mata Camelia melihatku, dengan susah payah kucoba untuk menyembunyikan perasaanku, dengan dingin kulewati gadis ini tanpa merasa perlu untuk menyapanya. Oh, Tuhan.. hanya Engkau yang tahu betapa inginnya aku menghabiskan waktu dengan Camelia. Hanya dia satu-satunya wanita yang kuinginkan didunia ini.

Berada dalam kantorku, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Aku sungguh penasaran mengapa Camelia memeriksakan diri ke dokter. Siapakah yang sakit? Camelia? Atau temannya yang kulihat duduk disampingnya?

Namun bila menilik dari wajahnya, aku rasa Camelia lah yang sakit. Ahh.. Sayangku.. Apakah kau sakit juga sepertiku? Apakah kau merindukanku hingga tubuhmu menolak untuk hidup karenanya? Karena itulah yang terjadi pada tubuhku. Tubuh berengsek ini begitu merindukanmu, merindukanmu dalam pelukanku, dalam hatiku.

Kuyakinkan perawat yang menemani praktek dokter Raka, dokter umum yang bertugas pada general praktek sore ini agar menghubungiku bila dokter Raka telah selesai dengan pekerjaannya. Dengan langkah secepat kilat kudatangi kantor dokter berusia tiga puluh lima tahun itu. Memasang wajah paling diplomatis yang kumiliki dan berbasa basi ringan sebelum melancarkan maksud keinginanku untuk mencarinya.

“Aku ingin tahu sakit apa pasien yang bernama Camelia Surbakti? Dia tadi diperiksa di ruanganmu kurasa, dokter..” tanyaku, tepatnya aku memerintahkannya untuk menjawab pertanyaanku.

Dokter Raka tersenyum simpul padaku, menceramahiku mengenai kode etik pekerjaannya. Dia tak akan membeberkan rahasia medis pasiennya pada orang lain, meski itu juga adalah sesama rekan dokter, karena apa yang menjadi hasil test kesehatan Camelia berada dalam area off limit, yang semakin membuat dahiku berkerut.

“Apakah aku harus memakai kedudukanku untuk membuatmu berbicara, dokter Raka? Aku rasa aku mampu untuk itu, dan sebelum kau merasa tak enak dengan keputusanmu, aku bisa menyakinkanmu bahwa apapun yang terjadi pada Camelia.. Akulah penyebabnya. Dan aku perlu tahu apa yang terjadi pada calon istriku..” kataku dingin.

Sejenak dokter Raka terlihat terkesiap, dia mungkin tak menyangka akan mendapatiku berkata seperti itu padanya. Namun sedetik kemudian dia tersenyum, dia seharusnya tahu aku tak akan berbohong padanya, sering kutekankan, kejujuran adalah kunci kau dipercaya oleh pasienmu, bahkan oleh rekan-rekan kerjamu.

“Bila anda berkata seperti itu, dokter. Maka saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Kalau begitu, anda bisa membaca sendiri hasil tes pemeriksaan calon istri anda” lalu dokter Raka menyodorkan sebuah kertas putih yang diambilnya dari tumpukan file yang berada di dalam arsip pemeriksaan untuk hari ini. Dia pun tersenyum sebelum meninggalkanku seorang diri dalam ruangannya.

O’ ye Almighty God. Dipujilah namamu, tak cukup banyak kuagungkan namamu karena menjadi penyelamat hidupku. Karena kini kau memberikan sebuah harapan baru bagiku, bagi hubungan kami. Terima kasih.. dan air mataku menitik hingga terjatuh di atas kertas hasil pemeriksaan Camelia. Oh, Tuhan.. Aku akan menjadi seorang ayah.. Camelia.. dia memang benar mengandung anakku..

Mengetahui kabar ini, seolah semua bebanku terangkat sudah dari bahuku. Kini aku bisa bernafas dengan lebih lega.. Ahh.. Aku tak pernah sebahagia ini bisa menghamili seseorang!! Akhirnya ada jalan untukku..

Tunggulah ayah, anakku. Ayah akan memperjuangkanmu hingga tetes darah terakhir ayah. Ayah akan merebut ibumu kembali, kita akan bersatu, kau akan menjadi anak ayah, seorang Renatha.

Camelia.. Tunggulah aku..

Sepulang dari praktek yang sengaja kututup lebih awal, kuparkirkan mobilku beberapa puluh meter dari halaman parkir kos Camelia. Dari sana masih bisa kulihat pintu kamar kosnya yang terbuka, pukul dua belas malam dan dia belum juga tidur. Kulihat juga teman wanitanya dan laki-laki tak tahu diri itu duduk disana.

“Ahh.. kapan kalian akan pergi? Sial!!” aku ingin sekali menerobos masuk kesana. Tapi aku takut Camelia akan mengusirku. Bukan begini caraku agar dia menerimaku, aku akan memuluskan langkahku di belakang sebelum melancarkan serangan dari depan. Dan seranganku tidak bisa kulancarkan bila laki-laki sialan itu masih ada di dekat Camelia.

“Bagaimana caranya mengusir bocah tengik itu?!” ketusku gusar.

Aku merasa seperti pecundang duduk di dalam mobilku, memandang kosong ke arah kamar kos Camelia yang bahkan tak bisa kulihat. Dia pasti sedang berbaring sakit sekarang. Ahh... Camelia.. Maafkan aku karena membuatmu seperti ini.. bukan.. aku tak meminta maaf karena menghamilimu, demi Tuhan aku bersyukur kau hamil, tak pernah selega ini rasanya mengetahui kau hamil.

Setelah bertemu dengan ayahmu besok, aku akan langsung menemui ibumu. Aku rasa ibumu lebih bisa berpikiran terbuka daripada ayahmu.. Mungkin ibumu bisa membujukmu untuk memberikan aku kesempatan. Setidaknya.. itulah rencana cadanganku, agar kau tak menikahi laki-laki sialan itu. Aku tak akan membiarkan laki-laki lain dipanggil ayah oleh darah dagingku sendiri!

Akhirnya lampu kamarmu pun padam, temanmu dan laki-laki tengik itu akhirnya pergi. Dan aku masih duduk disini, jalanan mulai sepi, anjing-anjing mulai melolong, membuat bulu tengkuk ku merinding. Dan ini adalah rokok terakhir yang tersisa untuk kuhisap, padahal aku masih ingin berada disini. Memandangi pintu kamarmu dari jauh, tak yakin bila aku mendekat kau akan menerimaku. Penolakanmu masih mengguncang keberanianku. Ahh..

Tanpa rokok ditangan akupun tertidur karena kelelahan. Aku menunggumu diluar, ketika terbangun sinar matahari mulai mengintip di langit. Kulihat kau membuka pintu kamarmu, membuka jendela dan menerima masuk udara pagi yang mengirimkan hawa sejuk ke dalam paru-paru. Wajahmu pucat dan lemas, bisa kulihat wajahmu sama kacaunya seperti wajahku. Tahukah kau, bahwa kita sama-sama membohongi diri sendiri, Camelia?

Aku tahu.. Meski tak seratus persen yakin.. bahwa kau memiliki perasaan yang sama untukku. Kau.. mencintaiku kan, Camelia? Kau cinta aku, kan? Bila tidak, kau tak akan sehancur itu sekarang. Ah.. mungkin hanya perasaanku..? Camelia mungkin hanya kesakitan karena pengaruh kehamilannya? Kehamilannya.. Anakku.. http://myowndramastory.blogspot.com


Kuhela nafasku, sungguh berat rasanya meninggalkanmu disini seperti ini. Tunggu sebentar lagi, sayang.. Bila rencana cadanganku pun tak berhasil.. maka bersiap-siaplah di datangi gubernur, karena aku akan meminta bantuannya untuk melamarmu. Jangan menertawakanku.. bahkan menteri pun akan kumintai tolong untuk melamarmu.. karena mereka berhutang nyawa padaku. Mereka harus membalasnya dengan memberikanku sebuah nyawa.. hanya satu nyawa.. dirimulah nyawaku. 


16 comments:

  1. tada....akhirnya nongol lagi...
    cemumun liam, tetap berjuang yah gkgkgkgkgk

    makasih mba shin dah sempetin post pagi"

    met hari raya mbak :)

    ReplyDelete
  2. waduh santai mas... Cinta mu pasti terblas kok kkkk

    ReplyDelete
  3. bissa juga.... makasi mba shin....

    ReplyDelete
  4. Sik asik..pertama x.,;-) komen dolo br bc, qiqiqi
    Tq mba Shin..:-D

    ReplyDelete
  5. Ah yaamppuuun , Liam so sweet banget sih
    Mau donk mb shin, Liam nya satu yak
    Bungkus
    Hahaha
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  6. hmm,,,sakit gegara Cinta bikin org kayak Zombie trnyata,,,

    ReplyDelete
  7. asik ada chapter lagi udah 2 hari aku g buka blog ini kak cz modem nya lelet banget huhuh
    gomawo kak

    ReplyDelete
  8. Sesuatu banget mb Shin baca chapter ini bikin mood Q yg drop jd naik, thanks mb Shin *muaach*

    ReplyDelete
  9. ciayooo william ^^

    thanks shinnn
    menanti CAH jua :P

    ReplyDelete
  10. ah ya ampun liam...
    u r so sweet..<3<3({}):*
    brjuanglah utk ankmu n org yg kau cintai...
    smangat!!!

    mkasih mbak shin syg..:*

    ReplyDelete
  11. liam.. otak mu seksi itu terbukti dari caramu memikirkan aku.. eh eneng. hhahaha.
    lian ternyata kena virus cinta jga mesti dirawat drumah sakit.. :D hmm.. siapapun yang bisa baca pikiran liam pasti bakalan meleleh terus iri sama neng... >,<

    ReplyDelete
  12. Semangat Liam .... Aku kasih Dukungan dari sini.....

    Makasih mbak shin :)

    ReplyDelete
  13. Mau ma liam....Hέhèhêέ...=D =)) =D =D
    Makasih mba shin

    ReplyDelete
  14. Segitu parahkah bila drimu jatuh cinta pd neng liam......???ckckck
    virus ap yg di sebar si neng,hingga kau jd lemah sprti itu....
    Mgkn jika kau terkena virus cinta q,drimu akan hancur,coz virus cinta q lbh dahsyat dan mematikan,hahaha*ketawa iblis*
    halaaaa......gk nyambung mbak...hihihi
    lope u mbak shin....:D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.