"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, March 27, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 16



Lili menyapa kedatanganku dirumah koh Franz, kakakku ini sedang menyapu halaman. Sejak menjadi istri koh Franz Lili berhenti dari pekerjaannya, dia fokus hanya menjadi ibu rumah tangga. Aku tak tahu bila ini yang paling diinginkannya, kakakku ini memang agak misterius mengenai hatinya.

“Koh Franz ada?” tanyaku pada Lili.


Dia menghentikan kegiatannya menyapu, menatapku penuh makna, mengamati wajahku yang kusut dan kurang bergairah. Mata Lili seolah menembus ke dalam hatiku, mencari tahu apa masalah hatiku. Tapi dia tersenyum, dia tak ingin menanyakanku. Ah.. dia memang selalu begitu, tak pernah memaksaku. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“Ada, dia baru saja pulang. Mungkin sedang nonton tivi sekarang” jawabnya.

Akupun mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu kulihat koh Franz sedang membaca koran dengan tivi masih menyala. Dia mengernyitkan dahinya ketika melihat kedatanganku.

“Eh, Liam. Baru datang? Gak kerja?” tanyanya masih sambil membaca koran ditangan.

“Iya, koh. Ini lagi jam istirahat” jawabku menghampirinya.

Tanpa dipersilahkan, aku duduk di kursi di sebelah koh Franz duduk, aku tak perlu meminta izinnya, sejak awal Lili dan koh Franz berpacaran, kami sudah akrab seperti ini. Yah.. setidaknya untuk masalah seperti ini, kami masih akrab..

Koh Franz melipat koran ditangannya dan menaruh koran itu di atas meja, mematikan televisi dan melepaskan kacamata bacanya sebelum menatap mataku dengan penuh tanda tanya. Alisnya mengerut curiga dengan maksud kedatanganku.

“Mau bilang apa? Langsung saja tak usah basa-basi” perintahnya padaku.

Aku menghela nafasku dengan berat, sudah kali ke empat kini aku mendatangi koh Franz, belum satupun berhasil. Meskipun aku telah berlutut dibawah kakinya, koh Franz tetap sekeras karang. Kenapa dia sekeras itu aku tak habis pikir, apakah hanya dia yang bisa berubah dan menikahi Lili?

Kadang keegoisan menguasai hatiku dan ingin menggunakan alasan itu untuk pembenaranku memiliki Camelia, namun alasan itu sungguh murahan. Aku tak ingin membangun hubunganku dengan Camelia di atas kebencian keluarganya padaku.

“Aku ingin mendapat izinmu untuk menikahi Camelia, koh” jawabku pelan sembari menutup mataku. Aku tahu sebuah tamparan akan mendarat di pipiku, seperti biasa. Dan benar saja, rasanya sungguh panas dan menyakitkan. Aku bisa merasakan bekas luka retak dihidungku kembali berdenyut menyakitkan terkena sebagian tamparan tangan koh Franz.

Koh Franz bangkit dari duduknya, berjalan mondar mandir di depanku. Wajahnya terlihat sangar dan bibirnya berkedut-kedut menahan amarah. Apakah sebesar itu dosaku hingga tak boleh memiliki anakmu, koh??

“Ini lagi, ini lagi??? Kan gw sudah bilang, lu tinggalin anak gw. Apa sih yang gak jelas dari itu, Liam? Lu itu orang berpendidikan, susah amat ya bagi lu ngelaksanain kata-kata gw? Kenapa gak sekalian aja lu tinggal di Amerika waktu lalu? Bukannya balik lagi kesini gangguin anak gw. Lu kan tahu lu itu adik ipar gw, apa kata orang kalau gw ngasiin anak gw ke elu, Liam. Nyahok lu ya jadi orang. Gak bakal gw ngasiin lu nikah sama Neng. Kecuali lu hamilin dia, tapi itupun gak mungkin, gw gak bakal ngasi lu deketin anak gw lagi. Paham lu, Liam? Mending lu pergi aja dah dari kota ini, balik ke ibukota, bukannya karir lu bagus disana. Gak usah jadi dokter disini, disini duitnya kecil, lu bakal nyesel trus lu nyalahin Neng kalau kalian menikah karena dia menghalangi karir lu. Lu tahu Neng gak mungkin ninggalin kota ini selama orang tuanya masih hidup. Dasar lu ya, orang tak tahu malu”

Mungkin wajahku kini sudah semerah kepiting rebus menahan amarah, emosi sudah di ubun-ubun dan siap untuk diledakkan. Aku sudah tak perduli meskipun dia adalah ayah Camelia, ayah wanita yang kucintai, calon mertua yang seharusnya kuhormati!!

“Hentikan, Pa!” tubuhku tegang demi mendengar suara Camelia menggelegar marah, pada ayahnya. Sejak kapan dia disini?? Apa yang dia lakukan disini??

“Neng, ngapain kamu disana? Kamu dengar semuanya??” kudengar koh Franz panik melihat kedatangan Camelia. Aku tak tahu harus khawatir mereka akan bertengkar atau senang demi melihat Camelia datang kesini, sungguh aku bingung.

Kulihat Camelia mengamati wajahku, wajahnya sedih. Oh, Camelia.. Hatiku ikut sedih melihatmu seperti ini. Mataku kemudian turun..memandang pada perut Camelia yang belum mengalami perubahan berarti.. belum..

“Ya, aku dengar semuanya. Aku dengar bagaimana egoisnya papa!! Teganya papa lakuin ini ke Neng. Kurang bagaimana lagi papa nyakitin hati Neng, pa? Kurang bagaimana lagi papa ngehancurin hati, Neng? Gak cukup yang papa lakuin selama ini? Papa udah ngancurin keluarga kita, sekarang papa juga mau ngehancurin hidupku??” jawab Camelia pada ayahnya. Aku menahan nafasku mendengar dia begitu berani menentang ayahnya. Kulihat wajah koh Franz terguncang, dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari anaknya.

“Kamu bilang apa, Neng? Papa ngancurin hidupmu? Justru kalau kamu menikah sama si Liam berengsek ini, dia yang bakal ngancurin hidupmu. Papa bisa ngenalin kamu sama laki-laki lain yang bisa bahagiain kamu, Neng. Gak usah sama Liam ini” sanggah koh Franz, dia benar-benar tidak mengerti dengan hati anaknya.

Aku diam menyaksikan kedua ayah-anak ini bertengkar di dekatku. Sungguh tak pantas bila aku menengahi mereka, pun aku tak berhak untuk melakukannya.

“Enggak, aku hanya ingin Liam. Aku sudah menikah sama Liam, pa. Papa gak bisa ngehalangin lagi. Kami sudah resmi menikah, minggu depan surat kawin kami sudah keluar dari catatan sipil. Aku sudah gede pa, gak perlu tanda tangan papa untuk ngerestuin pernikahan kami. Aku mau menikah dengan siapapun bukan urusan papa. Papa gak berhak ngelarang aku setelah papa melepaskan hak papa menjadi teladan bagiku. Papa semestinya mengaca, selama ini papa itu bukan teladan yang baik. Papa mestinya bersyukur aku tidak berubah menjadi perempuan berengsek karena keluargaku broken home. Banyak anak-anak lain bunuh diri pa, atau konsumsi narkoba, jadi lonte, karena orang tuanya berengsek. Papa ngerti itu? Papa tahu bagaimana orang tua seperti papa ngehancurin masa depan anak-anaknya?? Kalau papa masih punya hati, papa gak akan ngehalangin hubunganku dengan Liam!!” jawab Camelia. Ouch.. Well said.. baby.. Aku ingin bertepuk tangan untukmu. That’s my woman..

Tapi aku tidak ingat pernah pergi ke catatan sipil untuk menandatangani surat pernikahan kami.. Apakah kini Camelia berbohong pada ayahnya? Oh, Camelia.. kau.. sungguh aku tak mampu berkata-kata melihat keberanianmu.

Tanpa kuduga, Camelia menarik tanganku melewati ayahnya. Meninggalkan koh Franz termangu memikirkan kata-kata anaknya. Aku merasa iba padanya dan merasa bersalah.. Tapi kuturuti langkah Camelia sebelum dia berhenti sebelum keluar dari pintu rumah.

“Oh ya, lagi tujuh bulan papa harus siap-siap nerima cucu baru dariku dan Liam. Aku pergi” ujarnya.

Mataku membelalak tak percaya, aku rasa untuk beberapa detik aku menahan nafasku. Aku sungguh tak menyangka Camelia akan mengakui hal itu. Pikiranku berkecamuk.. pikiranku berharap.. oh, Tuhan.. jangan biarkan aku memiliki harapan palsu.. Bila Camelia begitu yakin untuk membeberkan tentang anak kami.. Apakah.. apakah itu berarti dia telah siap untuk menikah denganku?? Ahh.. Aku harap demikian.. Aku harap demikian...

Aku mengendarai mobilku dalam diam, kepalaku dipenuhi pikiran mengenai apa yang akan aku katakan pada Camelia. Aku benar-benar tak menyangka keadaan akan bisa berbalik seperti ini. Aku benar-benar beruntung...

Akhirnya kami sampai dirumahku. Setelah memarkir mobil dihalaman, aku turun dan menjemput Camelia.. Ahh.. hatiku sungguh berbunga-bunga sekarang.. Aku rasa aku bisa tersenyum lebar saat ini. Aku sungguh tak perduli dengan perkataan orang lain, selama Camelia bersamaku, apapun akan kuhadapi.

Kubantu Camelia duduk di atas sofa ruang tamu rumahku, kupandangi perut dan wajahnya berulang-ulang. Dadaku penuh sesak dengan perasaan sukacita, aku rasa sebentar lagi hatiku akan meledak bila tak segera kuungkapkan betapa bahagianya aku saat ini.

“Camelia.. Terima kasih.. Terima kasih untuk segalanya, untuk semuanya. Aku tak menyangka kau akan datang dan berkata seperti itu pada ayahmu.. Apakah kau tidak menyesali semuanya? Maksudku.. Kata ayahmu, aku tak cukup baik untukmu, aku tahu aku memang tak sempurna, aku mencoba menjadi lebih baik, Lia. Kali ini aku tak akan membiarkanmu berjuang sendiri, kita akan berjuang bersama. Aku akan membuat ayahmu merestui kita, ibumu juga. Apalagi.. Kita akan segera punya bayi..”

Ku elus lembut perut Camelia.. menyentuh anakku yang sedang berkembang di dalam rahimnya.. anakku.. anak kami.. mataku berkaca-kaca karena haru.. Sudahkah aku mengucap syukur pada-NYA?

“Aku kira kau mengatakan bahwa...” lanjutku.. Aku tak tahu bila dia sengaja mengatakan kalau dia tidak hamil sebelumnya.. atau apakah karena dia belum tahu?

“Lupakan.. Yang terpenting saat ini kamu sudah tahu, kan?” Camelia bertanya balik padaku. Ya.. Itu bukan hal penting.. kini yang terpenting aku sudah tahu.. dan kau sudah tahu kalau aku tahu, Camelia..

“Ya.. Aku tahu.. Saat melihatmu di rumah sakit aku bingung apa yang kau lakukan disana, Camelia. Kutanyakan dokter yang memeriksamu, namun karena sumpah jabatan dia bersikeras tidak mau memberitahuku.. Sampai kukatakan bahwa aku adalah suamimu.. Awalnya dia tak percaya, tapi sungguh bodoh bila dia tidak mempercayaiku, aku bisa memecatnya bila aku mau” membuatku tertawa kecil mengingat ancaman kecilku pada dokter Raka.

Tapi lalu Camelia melepaskan genggaman tanganku. Dia marah!! http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“A..ada apa, Lia? Apakah ada kata-kataku yang salah?” tanyaku khawatir.


“Kamu tahu, tapi kamu tidak berusaha mencariku?? Kamu memang laki-laki bajingan, hidung belang, mata keranjang, busuk, mesum, aku membencimu!” oh, Camelia.. jadi ini yang membuatmu marah.. Ah sayang.. kau sungguh menggemaskan..  


23 comments:

  1. horeeee pertamax
    biasanya ketinggalan trs
    thx Shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah tumben nih dpt pertamax., mimpi apa semalem? ihhiihhi

      Delete
  2. Menggemaskan ktny.. Hihihi

    I love your style Camelia..=))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cmaelia Style nih ceritanya skrg? ihihihih

      Delete
  3. gak tau napa I just wanna say mbak shin U're ROCK.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks. masak aku dibilang batu? T_____T

      Delete
  4. kak shin makasi atas ceritanya yg luar biasa.. tiap hari aku selalu menunggu ceritamu.. :* mùάçĥº°ºmùάçĥº°ºmùάçĥ :* ketcup2 bacah kak shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. wad?? Kecap?? cap ABC apa Bango sist??? ^^>

      Delete
  5. diawal sih sdh eh pas terakhir yg liam bilang 'ahh sayang kau sungguh menggemaskan' langsung ketawa2 hha

    ReplyDelete
  6. Ahh liam kau sungguh menggemaskan hahahaha XD

    ReplyDelete
  7. akh liam ternyata usahanya buat ngeyakinin bokapnya lia gigih juga
    KEREn
    makasih kak

    ReplyDelete
  8. Uwoooh liam ini sweet dengan caranya sendiri
    Hihihi
    Suka deh sama kamu hahaha
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  9. Ooowwww mbak shin....cerita mu yg ini wlo dibaca berulang2 ttp gk ngebosenin,se2kali cerita yg indo romance gini seru jg,good job mbak...
    Mg mbak dpt ilham tuk bwt cerita yg beginian.
    Sukron mbak......*salam sayang dari q sllu utkmu mbak shin q.....muaaacchhh*

    ReplyDelete
  10. Lom ngantuk, aku baca ah....

    Hahaha , makasih mbak shin :))

    ReplyDelete
  11. Ah.. Liam minta ijin sma Koh Franz jgn dkt2 kn bsa bkelit klo dtampar lgi. Liam.. Liam kasian Πγª calon istri sma mertua sma2 hoby nampar. Heheh.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.