"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, March 29, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 19



Kami sedang menikmati santap pagi di sebuah rumah makan langgananku. Biasanya bila menjamu rekan dokter atau profesor dari luar pulau, aku akan membawa mereka ke rumah makan ini. Makanannya lengkap, dari pilihan makanan Indonesia hingga Continental breakfast, seperti yang bisa dinikmati di hotel-hotel.

Camelia sedang menikmati buburnya di meja dan aku memilihkan buah-buahan dan roti manis untuknya. Segelas cocktail buah sebagai makanan pencuci mulut juga kusendokkan untuknya. Camelia harus mulai mengatur pola makannya agar tak kekurangan nutrisi untuk dirinya dan bayi kami. Ahh.. hatiku selalu penuh saat menyebut anak kami, rasanya semangatku telah diperbaharui. Penderitaan sebulan ini tak berarti, karena dalam sehari semuanya telah berganti dengan kebahagiaan.


“Jangan disisakan, kau perlu semua vitamin dan gizi untuk tubuhmu dan anak kita. Aku akan meminta dokter Umar memberikan vitamin-vitamin dan suplemen yang kau perlukan selama masa hamil mudamu, agar kau bisa melewatinya tanpa terlalu banyak keluhan. Aku ingin kau tinggal bersamaku, Lia, agar aku bisa melihatmu, bisa menjagamu, aku tak akan membiarkan kau kembali ke kosmu lagi. Kau bisa mengajak ibumu ke rumah bila kita sudah mendapat restunya, tapi untuk sementara aku ingin kau tinggal bersamaku, nanti sore seorang pengurus rumah tangga akan datang, jadi kau tidak perlu bekerja keras dirumah. Dan kau juga harus mengikuti semua petunjuk-petunjukku tadi, jangan banyak bergerak, jangan mengangkat beban berat, jangan..” kata-kataku belum selesai ketika Camelia dengan gemas memotong ucapanku.

http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

“Iya pak dokter... Aku tahu.. Kamu tak usah mengulanginya puluhan kali. Kamu terlalu khawatir, aku baik-baik saja. Aku rasa tubuhku sudah baikan sejak..” ujarnya berhenti tepat ketika aku mulai menangkap maksud perkataannya. Dahiku berkerut memikirkan bila Camelia sedang bercanda denganku, hal yang baru.. Ah.. mungkin karena dia mulai merasa nyaman berada di dekatku maka Camelia mulai bisa melemparkan humor yang bisa kami tertawai.

“Sejak apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti. Pipi calon istriku ini merona merah, dia terjebak dengan leluconnya sendiri, dan bila aku tahu wajahnya akan seperti ini setiap dia merona merah, maka aku rasa aku akan sangat senang untuk menggodanya seperti ini setiap saat.

“Tak usah dipikirkan, lupakan saja bila kamu tidak mengerti” jawabnya sebal. Haha.. Camelia.. mengapa kau sudah menyerah?? Ahh.. Rasanya aku harus mengajarimu bagaimana caranya membuat lelucon dan bertahan dengan leluconmu meskipun orang-orang tidak menertawakannya.

“Ayo minumlah jusmu” kataku setelah mencuri sebuah ciuman pada pipi Camelia. Dia tentu tak menyadari mengapa aku melakukannya, lalu pipinya semakin merah dan panas. Dia menunduk malu dengan senyumnya.

Setelah makan pagi kami, aku membawa mobil menuju rumah Camelia untuk bertemu dengan ibunya. Nampak mobil-mobil ramai di luar tembok rumahnya. Bisa kukenali mobil koh Franz disana dan mobil lain yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada apa dirumah ini?

Kugenggam tangan Camelia sebelum kami turun dari mobil, kuyakinkan dia bahwa kami akan menjalaninya bersama. Kuyakinkan dia bahwa aku tak akan pernah meninggalkannya apapun keputusan ibunya dan diapun meyakinkanku bahwa tak ada yang akan mampu memisahkan kami lagi.

Kami pun bergandengan tangan menuju rumah Camelia dengan berjalan kaki. Di teras rumah Camelia begitu gelisah menyadari rumahnya ramai dan melihat kakaknya disana, kakak perempuannya yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Liam.. Ada apa ya? Hatiku jadi tidak enak begini. Apakah mami baik-baik saja? Aku harus melihat mami..” tanyanya khawatir. Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi, semoga bukan hal buruk.

Aku bisa melihat wajah Camelia pucat, saat ini dia pasti sedang memikirkan hal-hal negatif terlihat dari tubuhnya yang gemetar ketakutan. Camelia lalu melepaskan tanganku dan berlari masuk ke rumahnya menemui kakak perempuannya yang sedang membuka-buka kotak kue di meja teras.

“Lia.. Tunggu, hati-hati, jangan berlari” teriakku khawatir melihat Camelia berlari dengan panik. Dia bisa membahayakan dirinya dan janin dalam tubuhnya.

Kutemukan Camelia sedang bertanya pada kakaknya apa yang sedang terjadi, air mata mengaburkan pandangannya. Sebentar lagi air mata itu pasti jatuh mengalir di pipi Camelia.

“Kak.. Mana mami? Mami tak apa-apa, kan? Mami tidak kenapa-kenapa, kan?” tanyanya terisak.

Kuelus bahu Camelia, memberitahunya bahwa aku ada disampingnya, aku akan selalu ada untuknya. “Camelia, tenanglah. Biarkan kakakmu menjawabnya dulu” bujukku.

Mereka berpelukan, dengan tangis haru kakak perempuan Camelia membimbing kami untuk masuk ke dalam kamar dimana ibu mereka berada. “Mami tidak apa-apa, Neng. Mami menunggumu di kamarnya, ayo sana..” katanya.

Di dalam kamar itu kulihat calon ibu mertuaku sedang berbicara dengan koh Franz dan Rio, kakak laki-laki Camelia. Mereka kemudian keluar demi melihat kedatangan kami, koh Franz menepuk bahuku, membuatku bingung namun secercah kelegaan merayap dalam dadaku. Mungkinkah koh Franz sudah menerimaku??

Camelia langsung memeluk ibunya ketika kami hanya bertiga dalam kamar ini. Tangisnya meledak menggerung-gerung dalam pelukan hangat ibunya. Mataku ikut berkaca-kaca melihat adegan di depan mataku ini, mengingatkanku pada ibuku yang telah tiada.

“Mami.. maafkan Neng ya, mi.. Neng bodoh.. Neng cuma mikirin diri Neng sendiri, tidak memikirkan mami, padahal mami adalah orang yang paling menyayangi Neng. Neng salah, mi. Tolong maafin Neng, mi..” isak tangis Camelia pada ibunya.

“Neng.. Anak mami paling cantik.. Mami gak marah kok sama Neng. Mami terharu, Neng adalah anak mami yang paling berani, paling baik, paling perhatian sama maminya. Mami minta maaf gak menyadari perasaan Neng selama ini, mami minta maaf karena telah memberikan keluarga yang tidak sempurna untuk Neng dan kakak-kakak Neng, mami cuma bisa mendoakan Neng nanti bisa hidup bahagia bareng nak Liam dan cucu-cucu mami nanti, ya? Mami mencintai anak mami, Camelia Neng Surbakti.. Anak mami palingggg baik..” jawab ibunya. Mereka saling melepas rindu dan mengeluarkan seluruh isi hati. Aku rasa saatnya tepat untuk berbicara mengenai maksud kedatangan kami kesini. Dari yang kulihat, nampaknya koh Franz telah mengatakannya pada ibu Camelia.

Camelia meminta maaf pada ibunya, denga tangis masih terisak Camelia berkata sesenggukan. “Enggak, mi. Mami adalah mami yang paling sempurna di dunia. Mami adalah jagoanku, teladanku, aku mencintai mami lebih dari apapun, aku gak akan pernah ninggalin mami, aku pengen jaga mami sampai mami tua. Aku pengen jadi anak berbakti, mi. Selama ini aku cuman nyusahin mami, aku belum pernah bahagiain mami, aku anak durhaka, mi. Saat mami butuh, aku malah dengan segala alasanku mencoba menghindari permintaan mami. Aku janji, setelah ini aku akan patuh sama mami, mami mau maafin aku kan, mi?”

Bisa kulihat bagaimana besarnya kasih sayang ibunya pada Camelia. Wanita tua ini mengelus lembut rambut anaknya, mengusap pipinya yang basah oleh air mata dan tetap mampu memberikan kata-kata bijak tanpa pandang bulu.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Neng. Kalian mendapat restu mami, jangan khawatirkan hal lain, kebahagiaan anak mami adalah yang utama. Mami sudah tidak sabar untuk menimang cucu mami” kata calon mertuaku. Bisa kukatakan harapanku membuncah tinggi di langit. Lalu calon mertuaku memanggilku..

“Kemari nak Liam” katanya memanggilku.

“Iya, tante” jawabku sopan. Aku sangat mengagumi sekaligus menghormati cara pandang ibu dari Camelia. Dengan hormat aku berlutut dibawah ranjang disamping Camelia. Calon mertuaku ini sudah mulai kuanggap bagai ibu kandungku sendiri.

“Panggil aku mami ya mulai sekarang, kamu harus jadi suami yang baik. Jangan sekali-sekali menyakiti hati Neng, apalagi mengkhianati dia. Suatu rumah tangga pasti akan memiliki banyak rintangan dan tantangan di masa depan, sebagai laki-laki, suami, orang yang lebih kuat, kamu dituntut untuk bisa berpikir lebih bijaksana dan matang. Kamu harus menjadi teladan dan contoh yang baik bagi Neng nanti, dari sana lah nanti Neng akan mengikutimu sebagai kepala keluarga. Namun bila suatu saat nanti kamu merasa rintangan yang kalian hadapi begitu sulit, bicarakanlah dari hati ke hati, tanpa emosi, bila memang tidak ada jalan keluar, hendaknya kalian berpikir kembali dan mengingat alasan pertama mengapa kalian menikah, ya? Mami hanya ingin kalian bahagia sampai kalian tua nanti, jangan mengulangi kisah mami, meski hidup tidak bisa di prediksi, sedikit tidak jadilah manusia yang berakhlak mulia, jangan pernah berpikiran negatif apalagi fitnah tanpa alasan. Saling percaya, saling jujur, terutama saling menghormati. Mudah-mudahan dengan bekal itu kalian bisa semakin sayang dan dapat menjalani biduk rumah tangga kalian dengan lebih optimis. Menikah tidak selalu susah, tidak selalu senang, ada susah dan senang. Karena ada susah maka kalian tahu apa itu senang dan sebaliknya. Ya..? mami memberi restu mami pada kalian, kalian tidak usah khawatir.. Mami ingin yang terbaik buat anak mami, Neng. Dan bersamamu, mami yakin Neng akan bahagia, Neng berada di tangan yang tepat. Tolong jaga anak mami ya, Liam” air mataku hampir menetes di pipi mendengar wejangan dan petuah-petuah hidup darinya. Aku sungguh merindukan sosok seorang ibu..dan wanita ini memiliki semuanya. Aku ingin memeluknya seandainya aku tak merasa cukup segan karena kami belum mengenal sedekat itu. mungkin nanti.. Ketika hubungan kami lebih dekat, aku akan meminta sebuah pelukan darinya, tidak.. bukan hanya sebuah, tapi berkali-kali. Karena wanita ini begitu baik..

“Terima kasih banyak, mi.. Karena sudah mempercayakan Neng padaku. Aku akan berusaha menjadi teladan yang baik dan bisa dia banggakan, aku akan menjaganya seperti aku menjaga hatiku, aku akan menghormatinya sebagaimana aku ingin dihormati. Mohon doa restunya selalu untuk hubungan kami, mi” jawabku tulus. Kuciumi punggung tangan calon ibu mertuaku, memohon restu darinya untuk hubungan kami kelak, semoga dilancarkan, semoga dimuluskan.

Restu dari “mami” telah kami dapatkan, aku masih ragu dengan koh Franz, tapi melihat sikapnya yang ramah padaku tadi..seharusnya aku memiliki kemungkinan telah direstui, kan?

Camelia dipanggil ayahnya ketika aku berbincang-bincang dengan Rio dan om Irwan, begitulah Camelia memanggil suami dari kakaknya. Laki-laki ini memang bukan pria muda lagi, aku menaksir usianya dua kali lipat usia Melinda, kakak perempuan Camelia. Tapi demikian bisa kulihat sorot wajah laki-laki ini, dia adalah laki-laki dermawan dan wajahnya dipenuhi senyum hangat seorang laki-laki baik-baik. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Kami pun berbincang-bincang kesana-kemari. Mataku masih mengawasi Camelia yang sedang berbincang-bincang dengan ayahnya. Hatiku was-was, aku penasaran dengana apa yang sedang dan akan dikatakan koh Franz mengenai masa laluku pada Camelia. Namun lima belas menit kemudian kekhawatiranku tak terbukti, Camelia dan ayahnya bahkan berpelukan. Kurasa masalah di antara mereka telah diselesaikan. Aku turut berbahagia karenanya.  


15 comments:

  1. thanks mbk cin.....*kisss pertamax ngk ya :)?

    ReplyDelete
  2. Fiuuuhh, akhirnya d restui
    Akhirnya eke bisa komeng tepat wktu
    Xixixixi

    ReplyDelete
  3. hhi santai bang udah dapet restu kok :D

    ReplyDelete
  4. thx cinnnn
    liam ga terasa mau abis yaa Shin :)

    ReplyDelete
  5. Asyik...asyik... restu dah dikantongin
    jangan disia~siain ya Cong!!!!!!????
    Thanks mba Shin
    kecup basah....
    mmmmuaaaaaccchhhhhhhh

    ReplyDelete
  6. Akupun ikut bahagia :D

    Makasih cinTa :)

    ReplyDelete
  7. Bahagia liat mereka bs berdamai dg masa lalu, trims mb Shin;-)

    ReplyDelete
  8. Akhirnya, tinggal konflik terakhir.
    Makasi mba shin

    ReplyDelete
  9. Liam, kalo masih segan ama Mami, biar aku aja yg meluk gimana? Cincai lah.....wkwkwkwk

    ReplyDelete
  10. tuh liam nasehat mertua didengerin ya. jaga neng sama anak kalian. tetap selalu jaga cinta dan kesetian kamu buat neng. oke

    makasih mba shin :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.