"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, March 20, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 2



Meskipun tidak sesuai harapan pertama, tapi akhirnya keluarga koh Franz ada yang mewakilkan untuk datang ke acara pernikahan Lili nanti, dan orang itu tak lain adalah si gadis bermulut lancang nan kurang ajar ini. Aku tertarik untuk tahu apalagi yang bisa dilakukan oleh mulut itu selain mengeluarkan kata-kata kasar yang pasti sengaja di lakukannya untuk menyakiti papanya.

Hahh.. Hidup berumah tangga itu memang pelik, banyak sekali perasaan yang harus dipenuhi, aku tak yakin bila aku sendiri menjadi pelakunya aku akan mampu membagi perhatian dan waktuku antara pekerjaan dan keluarga. Keluarga adalah hidupku, tapi pekerjaan adalah nafasku. Bagaimana aku bisa memilih satu diantara dua itu? Tak mungkin, kan?


Kami berempat, aku, koh Franz, Lili dan si Neng duduk dalam mobil milik koh Franz yang kukemudikan, sesekali kulihat si Neng memandangiku, apakah dia tertarik padaku? Namun sunggingan senyum sinisnya padaku dan ketidak perduliannya membuatku semakin penasaran pada gadis ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Dengan penampilanku seperti ini jangan katakan dia hanya menganggapku sebagai sopir ayahnya? Hah!!

Dan benar saja, dia memandangiku bingung ketika kami masuk ke dalam sebuah restoran Chinese food yang nampaknya adalah restoran favoritnya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido Dia sungguh tidak sopan dengan matanya, apakah dia memandang remeh orang lain? Hal baru untuk kuteliti mengenai dirinya, aku benar-benar tak ingin terjerumus dalam permainan seorang wanita materialistik.

Koh Franz menyadari kekakuan diantara kami, dia lalu mengenalkanku pada putrinya.

“Oh ya, kalian belum kenal kan? Neng, kenalkan ini Liam, adiknya Lili”

Kusadari raut wajah si Neng yang berubah, dia terlihat cukup terguncang. Tapi aku tak tahu, terguncang antara menyadari aku bukanlah sopir seperti yang dikiranya atau karena aku adalah adik calon ibu barunya?

Aku bisa melihat bagaimana dia menatap tak senang pada Lili sejak dirumah mereka tadi sore. Namun demikian, demi menghormati calon kakak iparku, kusodorkan juga tanganku untuknya. Dan sialnya, gadis nakal ini mengacuhkanku. Shit!! Untungnya rasa malu bukanlah milikku, aku tak pernah merasa malu dengan perbuatanku. Mungkin karena rasa percaya diriku yang terlalu tinggi. Meski sedikit kecewa, namun kubiarkan saja gadis ini lewat dengan angkuh disampingku menuju tempat duduknya.

“Neng” dengusnya padaku. Dia sungguh tak rela berkenalan denganku, oh yah.. Kalau begitu kau telah membuka pintu peperangan denganku, cantik.. Kita lihat saja nanti siapa yang akan berdiri angkuh paling belakang.

Kami tak banyak bicara saat makan malam itu, bisa kuperhatikan wajahnya yang berubah menjadi sedih demi melihat Lili dan ayahnya bercengkerama. Ah.. Mungkin saja dengan sejarah koh Franz yang sering berselingkuh melukai hati gadis ini, dia nampak belum mampu menerima ayahnya bersama dengan wanita lain. Dia seharusnya sudah menerima hal itu, bukankah orang tuanya sudah bercerai? Dia harus melanjutkan hidupnya, agar orang lain disekitarnya bisa melanjutkan hidupnya. Atau mungkin masalah mereka lebih pelik dari sekedar yang terlihat dipermukaan, aku tak akan pernah tahu.

Dia berdiri dan berpamitan hendak ke toilet, aku tahu.. dia ingin mencari tempat untuk menangis. Kulihat matanya berkaca-kaca, aku ikut sedih. Namun, sedikit kekhawatiran muncul dalam benakku, akankah dia cukup memiliki nyali untuk menghalangi hubungan ayahnya dengan Lili? Karena dari apa yang kulihat, dia tidak pernah tersenyum sekalipun pada Lili, apakah dia membenci Lili?

Tsk.. Haruskah aku ikut campur dalam masalah ini? Ahh.. aku rasa waktuku telah habis untuk mengurusi pekerjaanku, aku tak tahu bila aku perlu memaksakan diri untuk mengurusi hal ini. Tapi mengapa pikiran untuk berdekatan dengan gadis ini sungguh menggodaku? Sial, aku memang menginginkan dia.

Lima menit sudah dia belum juga kembali, kutunggu hingga semenit, dua menit, belum datang juga. Aku gelisah dalam dudukku sementara koh Franz dan Lili masih sibuk dengan obrolan mereka. Ahh.. beginikah orang yang sedang dimabuk asmara? Aku tak akan pernah tahu, kan?

Akhirnya kuputuskan untuk memanggil gadis ini, hanya untuk memeriksa agar dia tidak melakukan hal yang menggemparkan di dalam toilet itu. Kumasuki toilet wanita, er.. bukan karena aku terbiasa masuk ke toilet khusus untuk wanita, hanya saja memang kebetulan sepi dan aku ingin segera menemuinya. Kuperhatikan hanya satu kamar yang terisi, ini pasti dia.

Kuketuk pelan pintu toilet yang terisi itu, benar saja, dengan suara terisak dia membalas ketukanku.

“Toiletnya lagi ada yang makek, yang disebelah aja, kosong” jawabnya ketus.

Hah.. dasar wanita, kenapa selalu tak pernah ada jawaban lembut darimu? Aku heran bagaimana orang tuamu mengajarimu bertata krama.

Dia meminta waktu lima menit lagi ketika kukatakan ayahnya mencarinya, kami akan segera pulang tentunya. Maka kutunggu saja dia di depan pintu toiletnya, kupicingkan mata demi melihat wajahnya yang kacau, dengan hidung bengkak, mata merah dan sembab. Bibirnya pun.. ah... bibirnya bengkak oleh tangisannya. Selain tangisan, aku tahu cara lain untuk membuat bibir itu bengkak..

Kutanyakan mengapa dia menangis, aku ingin menyelesaikan semuanya sekarang, bila tidak aku tak akan sanggup berdiri lebih lama lagi disini tanpa melirik bibirnya itu dan berbuat hal yang akan membuatku menyesal dikemudian hari.

Namun jawabannya benar-benar tak kuduga. Kukira dia telah mengeluarkan kekesalannya pada kami, rupanya semua itu belum seberapa. Rentetan sumpah serapah yang dikeluarkan bibir indah itu benar-benar tak sesuai dengan penampilannya. Gadis ini sungguh kurang ajar!! Mulut tak sopan itu harus segera dihukum!!

Kutarik tubuhnya mendekat, agar dapat kulihat lebih jelas mata wanita kurang ajar ini yang begitu tak sopan mengeluarkan sumpah serapah tentang orang yang lebih tua darinya. Dia benar-benar keterlaluan..

“Cabut kata-katamu sebelum aku menyeretmu keluar dari sini!” ya, aku mengancamnya, mengancam anak kecil yang mungkin semestinya tak kulakukan. Aku merasa seperti seorang laki-laki mesum karena merasa bergairah hanya dengan kedekatan kami. Sshh...

“Tidak! Aku tidak akan pernah mencabut kata-kataku. Kalian memang busuk, licik dan bereng..uppffhh!!” ha.. berhasil! Dia tak berbicara lagi, kan?

Sudahlah.. kau banyak bicara!! Mulutmu tidak pantas mengeluarkan kata-kata itu, mungkin nanti kau akan berterima kasih karena aku menghalangimu untuk mengeluarkan kata-kata kasar lain yang akan kau sesali nanti.

Rencana awal yang hanya agar dia terdiam nampaknya berubah menjadi suatu hal..lain.. Kusadari debar jantungku mulai mengencang karena ciumanku pada bibirnya, pada bibir bengkak hangat ini. Ah.. Aku hampir lupa bagaimana rasanya berciuman, bukan.. maksudku berciuman tanpa nafsu yang menjijikkan.

Sebelumnya aku hanya mencium wanita-wanita yang kutiduri murni karena nafsu birahi, hanya agar mereka terangsang dan aku bisa segera melakukan apa yang kuinginkan pada tubuh mereka. Tapi dengan gadis ini.. bukan nafsu yang muncul dalam hatiku, yah.. ya nafsu juga.. tapi bukan nafsu seperti yang aku kira. Aku ingin memilikinya, namun bukan hanya untuk sesaat. Aku tahu aku akan menginginkan untuk mencicipi bibir ini lagi, aku akan merindukan rasa bibir ini di atas bibirku. Rasanya begitu lembut, basah..manis.. ahh.. tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Kupagut bibir lancang itu dengan segenap hatiku, namun demikian tak kubiarkan tubuhku kehilangan kontrol karena gairah yang mulai meletup-letup dalam tubuhku. Hatiku sedikit geli menyadari dia membalas ciumanku, mungkin aku adalah pencium ulung, ha? Aku bisa merasakan tubuhnya meleleh dalam pelukanku. Ah, tapi ini tak boleh kubiarkan berlangsung lama. Hukuman untuknya cukup sampai disini.. untuk sementara.

“Bila aku mendengar mulutmu itu berkata-kata kasar mengenai kakakku lagi, lain kali bukan cuma bibirmu yang akan aku hukum” kuangkat bibirku dan langsung menjatuhkan peringatan ini padanya.

Meskipun aku akan senang bila dia menghinaku lagi, karena dengan demikian aku bisa menciumnya lagi sesuka hatiku. Yah, itu adalah aturan tak tertulisku untuknya. Aturan bahwa bila dia menghinaku atau Lili lagi.. Aku tak akan segan-segan untuk menciumnya.. atau lebih dari itu? Ahh.. Aku tak tahu..

Setelah mengantarkan koh Franz dan Lili ke kediaman mereka, koh Franz memintaku untuk mengantarkan si Neng Camelia ini kerumahnya. Sudah pukul sembilan malam sekarang, malam minggu.. dengan langit cerah.. bulan purnama bersinar terang. Ahh.. malam yang sangat cocok untuk sebuah kencan kilat. Mungkin dengan gadis disampingku ini? Walaupun sedari tadi wajahnya merengut dan cemberut.

Entah apa yang dilihatnya di luar jendela mobil, hanya deretan toko-toko dan kendaraan bermotor yang lalu lalang. Apakah lebih menarik pemandangan itu daripada aku? Aku rasa aku cukup tampan, tubuhku cukup atletis meskipun aku jarang berolahraga, berjalan mengitari kompleks rumah sakit selama sepuluh jam dan berkeliling mengunjungi pasien merupakan olahraga tersendiri untukku. Penampilan? Aku bukanlah laki-laki kumal, dekil atau berbau badan menyengat seperti kebanyakan laki-laki yang tak memperhatikan penampilan tubuh mereka. Profesi sebagai dokter mengharuskanku mengutamakan penampilanku, bersih, rapi, bersih dan bersih.


Bahkan cambang, kumis ataupun rambut aneh yang mungkin tumbuh tak pernah kupelihara. Rambutku setiap bulannya ditata oleh salon yang terampil, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido pakaianku buatan taylor berkelas, dry cleaning laundry, ehm.. apalagi yang kurang kusebutkan? Singkatnya.. Penampilanku sempurna, untuk seorang dokter, entah untuk seorang laki-laki penggoda. Aku bukan tipe laki-laki penggoda, aku laki-laki penakhluk. 


25 comments:

  1. pertamaxxx....
    aswk ad chptr2,komen lok bru bca. trms mba... smngt yah nulisx...

    ReplyDelete
  2. Liam itu makhluk angkuh ya :o pede na terlalu tinggi #nohope

    ReplyDelete
  3. Uwaaaah
    Ternyata Liam ngegemesin yah
    Hihihihi
    Ayo serang terus si Neng, Liam
    Hahaha
    Makasih mb shin :*

    ReplyDelete
  4. akhiiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrnya... M Shin... kog berasa sedikit sih... ???
    hehehe...

    ReplyDelete
  5. yaelah abang liam malah bernarsis2 ria. Iya deh abang emang cakep

    sayang udah tua hhe *piss

    ReplyDelete
  6. liam oh liam...
    chapter selanjutnya yg dipantai itu kan yah?
    yg buka bukaan
    #senyum mesum

    ReplyDelete
  7. Narsis bgt si Liam. Tau rasaa ntar klepek2 ma si Eneng.

    ReplyDelete
  8. mbak aku new reader, salam kenal yaa *ulurin tangan*, cerita2 nya kereennn

    ReplyDelete
  9. terhibur bngt mbak shin, bisa ketawa & senyum 2 sendiri;-)

    ReplyDelete
  10. penakhluk...??

    gak cuma takhluk Neng meleleh sama Liam *LoL

    ReplyDelete
  11. akh liam narsis gila hahaha
    gomawo kak dan cepet sembuh heheh

    ReplyDelete
  12. Thanks Mba Shin.
    Ditunggu lanjutan nya :*

    ReplyDelete
  13. akh abang liam, dirimu membuat dunia si eneng jdi jungkir balik... Hehehe
    Thank u mbak shin *lope*

    ReplyDelete
  14. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  15. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  16. Mbak Shin, kamsia....

    _sautsautan

    ReplyDelete
  17. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  18. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  19. cie cie cie liam.
    makasih mb shin

    ReplyDelete
  20. kamsia shin :)

    sisi pov Liam lucuu
    sukaa <3

    ReplyDelete
  21. Hahaha liam liam ....:D

    Makasih Mak shin :))

    ReplyDelete
  22. liam mau juga dong di taklukan.....wakakaka thanks mbk shin :)

    ReplyDelete
  23. Suka bgt ma last sentence.. "Gw bukan lelaki penggoda, gw lelaki penakluk." liaaaaam aku padamuuuhh

    ReplyDelete
  24. liam pede nya kebangetan dah sumpah .....

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.