"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 30, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 20



Meski tanpa Camelia, aku membicarakan rencana pernikahanku dengan keluarga besar Camelia. Tak lama lagi kami akan menikah, aku bahkan sudah menyiapkan apa-apa saja yang ingin aku sediakan pada saat hari pernikahan kami. Teman-teman dari Jakarta dengan senang membantuku. Mereka memberi selamat dan antusias ingin menghadiri upacara pernikahanku. Mereka tak percaya aku melepaskan masa lajangku di usiaku yang ke tiga puluh dua, ketika dulu aku sesumbar tidak akan menikah sebelum usiaku yang ke empat puluh. Mereka penasaran seperti apa gadis yang berhasil memikat hatiku.

Karena tuntutan pekerjaan yang semakin membuatku kewalahan, aku hampir tak bisa mengantar Camelia kemana-mana, sedangkan dia membutuhkan untuk keluar rumah meski sekedar berbelanja kebutuhan rumah tangga. Aku tidak mengizinkan Camelia untuk bepergian dengan sepeda motornya. Sebuah goncangan kecil pada tubuhnya bisa membuat janin dalam rahimnya keguguran dan aku tak menginginkan hal itu, aku tahu janin itu adalah segalanya bagi kami.


Aku pun membelikan sebuah mobil sedan Toyota Camry warna putih untuk Camelia dan seorang sopir yang dikenalkan rekan dokter di rumah sakit. Pak Ian nama sopir itu, dia bertugas mengantarkan Camelia kemanapun dia ingin pergi, sesekali kami akan keluar berdua bila aku mendapat hari libur, yang sayangnya hampir mustahil.

Jadwalku sungguh padat bulan ini, aku harus melatih penggantiku sebelum mengurangi tanggung jawabku di pos-pos yang kurang fital. Aku tak mungkin mengundurkan diri begitu saja tanpa melatih penggantiku. Pekerjaanku berhubungan dengan nyawa manusia dan aku tak boleh melepaskan tanggung jawabku begitu saja meskipun tidak diwajibkan untukku melatih mereka lagi.

http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Bila aku berhasil mengatur ulang jadwal dan kegiatanku, setidaknya aku akan memiliki lebih banyak waktu bersama Camelia. Waktu.. aku memang selalu kekurangan waktu. Aku tak ingin kejadian yang sama terulang lagi pada hubunganku dengan Camelia seperti saat Clara menjadi pacarku. Tidak.. Aku tidak ingin Camelia merasa kesepian. Tunggulah beberapa minggu lagi, Camelia.. dan aku akan lega, sedikit lebih lega dan memiliki lebih banyak waktu bersamamu dan anak kita.

Camelia sungguh telaten melayaniku. Masakan tangannya begitu nikmat, aku tak akan pernah bosan memakan masakannya. Seperti malam ini, dia memasakkan daging ayam goreng bumbu merah dan cah kangkung untukku. Sayur kangkungnya terasa segar dan racikan bumbunya terasa pas. Ayam yang kukira pedas ternyata manis dan enak dilidah. Dia juga membuat suir-suir daging untukku yang bisa kumakan kapanpun aku ingin karena makanan ini tidak mudah basi. Dia melayaniku dengan baik.. dimanapun itu..

Di atas ranjang.. ah.. sejak hari pertama Camelia mulai melewati malam bersamaku di atas ranjangku.. kami tak pernah berhenti melakukan hubungan layaknya suami istri meskipun kami belum pantas melakukannya. Namun bukan Liam namaku bila tak bisa merayu calon istriku di atas ranjang. Aku bisa melupakan segala frustasi pekerjaan hanya dengan melihat wajah puas Camelia dibawahku, terkadang di atasku, atau sambil berdiri, dan beberapa gaya lain yang sedang gencarnya kami coba. Saat perut Camelia telah membusung kami perlu berhati-hati dalam memilih gaya yang akan kami pakai agar tidak membahayakan anak kami.

Namun malam ini, setelah makan malam dan kami berdua masuk dalam selimut, rasanya tenagaku habis terkuras seluruhnya. Bahkan hanya untuk mencium mesra bibir Camelia aku sudah tak sanggup. Memikirkan ereksiku akan berdiri hanya dengan mencium Camelia lalu aku akan pingsan karena kelelahan. Hah.. sungguh tak ingin kulakukan. Aku tak ingin Camelia beranggapan aku lemah di atas ranjang.

Samar kudengar Camelia memanggil namaku, lampu telah dipadamkan namun lampu kecil di meja disamping ranjang Camelia masih menyala, cukup untuk menerangi wajah kami.

“Liam...” panggilnya pelan.

“Hm.. Ada apa, sayang?” tanyaku sambil memiringkan tubuhku. Aku ingin menguap untuk yang kesekian kalinya, tapi Camelia ingin berbicara padaku, dan kesadaranku mulai menipis, namun tanganku masih saja sanggup bermain-main diatas tubuh Camelia.. Ahh.. kepalaku memang tak selalu sinkron dengan tubuhku.

“Err.. aku ingin menanyakan hal penting padamu. Sangat penting sehingga tak bisa dibatalkan atau ditangguhkan. Tapi kamu harus jawab dengan jujur dan tidak boleh marah, ok?” tanyanya.

Aku menjengitkan dahiku, berusaha untuk menangkap pertanyaan Camelia. Kugoyangkan kepalaku, aku hampir saja tertidur.

“Aku dengar dari papa.. Alasan mengapa papa menolakmu dulu.. Apakah kamu tahu mengapa papa menolakmu?” lanjutnya. Kini kurasa system syarafku mulai hampir tak berfungsi. Mataku terpejam sebelah, sedang sebelahnya lagi masih mencoba dengan keras, berusaha untuk mendengarkan pertanyaan Camelia yang sudah tak mampu kucerna dengan baik.

“Jadi kata papa.. Kamu dulu itu suka kumpul kebo? Jadi kamu tinggal dengan wanita yang bukan istrimu.. dan melakukan.. itu..” lanjutnya.

“Teruskan...” kataku. Aku merasa sedang mendengar laporan dari dokter bawahanku mengenai kondisi terbaru pasien di kamar VVIP. Namun kemudian kulihat Camelia sedang berbicara di depanku. Aku sungguh payah.

“Kamu belum jawab pertanyaanku” katanya marah. Aku tak habis pikir mengapa Camelia marah, aku bingung pertanyaan mana yang  kulewatkan. Mata ini sungguh mengganggu dengan kantuknya. Aku harus mendengarkan pertanyaan Camelia dengan seksama, bila tidak dia akan membunuhku!!

“Itu sudah dulu, sudah lama, aku tidak melakukannya lagi bila kau khawatir” kataku. Camelia bertanya mengenai hubunganku dengan mantan-mantanku, kan? Mantan pasangan seksku, kan?

“Kalau tidak ada lagi, aku mau tidur” kataku dengan agak keras, lebih keras dari yang kumaksudkan.

Lalu kepalaku meleng, aku tertidur kelelahan. Baterai tubuhku sudah habis.. akupun tertidur hingga esok pagi, panik, karena tak menemukan Camelia disampingku, atau di dapur, diruang tamu, di kebun tempat dia biasa menghirup udara pagi. Bahkan aku mencari keluar rumah disekeliling kompleks, hasilnya sama. Camelia tak ada dimana-mana!! Sial!! Kemana dia?? Kau dimana, Camelia??

Papa dan mami telah kuhubungi tapi mereka tak tahu menahu, mereka menjadi panik dan khawatir. Mami menanyakan bila kami bertengkar, aku katakan bahwa aku tertidur saat kami sedang berbincang dengan serius. Lalu koh Franz mengancam akan membunuhku bila terjadi apa-apa dengan Camelia. Ahh.. Camelia.. kau dimana sekarang? Mengapa kau menghilang bagai hantu? Apakah yang sempat aku katakan semalam, Camelia?? Apakah aku mengatakan sesuatu yang membuatmu marah? Sesuatu yang membuatmu meninggalkanku?? Argghh!!

Dengan terpaksa merendahkan harga diriku, kutelephon bocah tengik yang menjadi rivalku itu. Aku berharap dia memberikan jawaban sesungguhnya meskipun kami masih saling membenci, namun jawabannya tidak, dia tidak tahu. Bahkan temannya pun telah kutanyakan, tak ada yang tahu dimana Camelia berada!!

Tanganku hampir memencet tombo dial, aku telah kehabisan akal sehingga aku ingin meminta bantuan kepolisian untuk mencarinya. Lalu bik Rosi datang dengan kabar yang kuinginkan. Camelia ada di kamar ruang tamu!! Tempat yang tak pernah terpikir olehku!!

Pukul sepuluh siang, aku duduk di sisi ranjang. Mengelus lembut rambutnya, mata Camelia yang bengkak dan basah oleh tangis. Tangis yang disebabkan olehku.

“Maafkan aku, Camelia. Apapun yang aku katakan semalam, yang telah menyakitimu.. Aku minta maaf” bisikku ditelinganya.

Kucium bibir Camelia sebelum meninggalkannya dirumah bersama bik Rosi dan pak Ian. Sesekali aku menelphone kerumah dan dijawab oleh bik Rosi, aku menanyakan keadaannya. Camelia masih tidur ketika aku menyelesaikan operasi pasien terakhirku. Dengan terburu-buru kukebut mobilku menuju rumah, aku ingin segera memperjelas masalahku dengan Camelia. Aku tak ingin sebuah kesalah pahaman lagi mengoyak hubungan kami yang bahkan belum berjalan satu bulan ini.

Ketika mobilku masuk ke area rumah, aku terkejut dan menginjak rem mobilku dalam-dalam. Dari dalam rumah, mobil sedan yang ditumpangi Camelia hendak keluar. Tak akan kubiarkan kau pergi, Camelia. Bila kau pergi sekarang, semuanya akan sia-sia, kau akan semakin membenciku tanpa memberikanku kesempatan untuk menjelaskan posisiku.

Kubanting pintu mobilku dengan marah, aku tahu Camelia sengaja melakukannya. Dia sengaja menghadang mobilku, dia sengaja mengunci pintu mobilnya dan tak ingin bertemu denganku.

“Apa yang kau lakukan? Buka pintu sialan itu?!” teriakku marah. Aku sungguh kesal dengan perbuatan kekanak-kanakannya.

Aku sungguh terkejut saat Camelia memutuskan keluar dari pintu sampingnya dan berusaha lari keluar dari rumah. Dengan panik kukejar dirinya sembari meneriakkan kata-kata untuk mencegahnya lari.

“Lia!! Mau kemana kau?? Kembali!!” tapi dia tak menggubrisnya. Aku tahu Camelia sedang menangis sekarang, dia dengan emosinya yang labil selain karena pengaruh kandungan, karena kesalah pahaman semalam, Camelia akan membahayakan nyawanya karena dia berlari tanpa melihat sekelilingnya.

Jantungku berdetak dengan kencang dan hampir saja copot dari tempatnya ketika melihat tubuh Camelia hampir ditabrak truk yang mengebut. Tepat setelah kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku truk itu membunyikan klaksonnya dengan keras. Ahh.. Camelia.. Kau membuatku hampir mati ketakutan!! Jangan lakukan hal ini lagi.. bukankah sudah sering kukatakan, kau adalah nyawaku!!

“Maafkan aku, aku salah” bisikku dirambutnya, aku tahu kata maaf saja tak akan mampu meluluhkan hati Camelia saat ini. Namun demikian kugiring tubuh calon istriku ini dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah. Kami harus berbicara dengan kepala jernih.

Kududukkan dia di atas ranjang, melepaskan pakaian hangatnya dan sepatunya. Aku tak ingin Camelia lari lagi dariku. “Camelia.. Sayangku..” kataku padanya. Namun dia tak tersenyum, Camelia masih sangat marah padaku.

Kuhela nafasku berat, tak akan mudah..

Karena tak ada jawaban dari Camelia, akupun melanjutkan maksudku. Aku harap dia mengerti, karena bagiku ini sama menyakitkan dengan apa yang dia rasakan saat ini.

“Maafkan aku, semalam.. Aku benar-benar kelelahan, aku bahkan tak dapat mencerna apa yang kau tanyakan, aku terkantuk-kantuk hingga menjawab asal. Aku bahkan sudah lupa jawaban apa yang telah aku berikan padamu, Lia.. Tadi pagi saat tidak menemukanmu disampingku, aku panik... Aku mencarimu kemana-mana, menanyakan bik Rosi dan pak Ian, mereka sama sekali tidak tahu menahu. Aku bahkan menelphone papa dan mami, temanmu Neli, bahkan membuang harga diriku dengan menelphone Edo. Aku hampir menelphone kantor polisi bila bik Rosi tidak memberitahuku bahwa kau berada di kamar tamu. Mengapa aku tak berpikir kesana?? Ahh.. aku terlalu khawatir kau meninggalkanku karena jawaban yang kuberikan semalam. Sudah pukul sepuluh saat aku menemukanmu berbaring lelap, matamu bengkak karena menangis semalaman. Aku ingin berada disana saat kau bangun, tapi.. Ada pasien yang harus kuoperasi hari ini, bila tidak.. kau tahu kemungkinan hidupnya tipis.. dan aku bersyukur operasinya lancar dan berhasil. Meski aku harus mengemudikan mobilku seperti orang kesetanan untuk mencapai rumah. Dan melihatmu hendak pergi, bahkan menghindariku, aku begitu takut dan sedih, Lia. Tolong jangan tinggalkan aku, aku akan berubah. Aku tahu aku memiliki sedikit waktu bersamamu, aku minta maaf, aku sedang mencoba melepaskan beberapa posku, saat ini aku masih melatih penggantiku.. sehingga aku harus berada di rumah sakit lebih lama. Tapi aku janji, setelah kita menikah, tak akan seperti ini lagi. Aku akan memiliki cukup waktu untukmu. Aku juga hanya akan mengambil praktek empat hari seminggu, sisanya akan aku habiskan bersamamu, bersama istriku. Maafkan aku, Lia. Aku bersalah...” bisikku padanya. Aku rasa aku sudah menjadi laki-laki cengeng karena cinta. Karena kini air mata telah membasahi pipiku. Aku tak pernah tahu aku akan pernah menangis karena cinta, bersama Clara sebelumnya, aku tak pernah menangis ketika dia mengkhianatiku, hanya kemarahan yang kumiliki saat itu. Namun bersama Camelia, wanita ini mampu meremukkan hatiku hingga berkeping-keping. Aku.. takut kehilangannya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido


Kami kemudian berpelukan dalam tangis, tubuh kami berbaring bersisian di atas ranjang. Kujelaskan seluruh masa laluku padanya, aku tak ingin menyembunyikan apapun. Dan ketika semua telah kuceritakan, hatiku terasa lega. Camelia bahkan menghapus air mata dipipiku dan aku tersenyum karenanya. Aku tak akan pernah malu lagi mengeluarkan air mataku di depan wanita yang kucintai ini.. Camelia.. 


25 comments:

  1. jangan terus2an nangis juga dong bang nanti ikutan sedih nih :D

    makacih mba shin MUAAAAAAAAAAh

    ReplyDelete
  2. Thanks mba shin
    mo lg dong.....!!!?????

    ReplyDelete
  3. Thanks mba shin
    mo lg dong.....!!!?????

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau apan?? ahhaha.. ni cong tinggal 1 aja, tamat dah. gak pake epilogue ;)

      Delete
  4. trims mba...mau say gudbye dah ma cong ne

    ReplyDelete
  5. Cuusss kita bacah dlu
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba ciinn

    ReplyDelete
  6. Ikutan nimbrung .... Komen apa ya ...? Hehehe

    ReplyDelete
  7. Ternyata Liam nangisan yak hihihi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehee... ya namanya juga manusia :D. sekuat apapun dia di mata dunia, kl udah cinta ya sama aja.. termehek..mehek...

      Delete
  8. cup cup cup...
    jgn nangis Liam badai pasti berlalu...
    mbak shin aku padamu to be continue dah...

    *jarang comment signal ilang mulu >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. tangkep sinyal nya sist,jadiin sandera, jgn dilepas hahahaha

      Delete
  9. Yang lucu pas liam tidur diajak ngomong, keinget diri sendiri. Hehehehehehe

    Liam, cup sayang. Sini aku hapus air matamu.
    Mbak shin, kecup basah.

    ReplyDelete
  10. I love too Liam
    I love u more M Shin :*
    Hihihi...

    ReplyDelete
  11. Ternyata cinta bisa menyentuh dasar hati'a liam hihihihi
    Liam kuikhlaskan kau dengan neng #plak :)

    ‎​-•--•-τ̲̣̣̥н̲̣̣̣̥a̶̲̥̅̊N̤̥̈̊к̲̣̣̥ ({}) y̶̲̥̅̊O̲̣̣̥u̶̲̥̅̊ -•--•- mba shin :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhaha mantan istri berbicara... ciehh...

      Delete
  12. thanks mbk shin.....*peyukkk akhirnya bisa komeng juga :)

    ReplyDelete
  13. mbak.. ini yang adegan neng nangis itu d skip ya? >,<

    ReplyDelete
  14. ye liam nangis. aku kira dia cowok tangguh yg nga bisa nangis. ternyata takluk juga kalo neng pergi ninggalin dia.

    *ambil camera foto liam dengan mata sembab dan hidung meler krn ingus
    wkwkwk :D

    makasih mba shin :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.