"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, March 21, 2013

"My Name Is Cong?!"- Chapter 5



Malam ini sekejap pun tak bisa kupejamkan mata, pikiran demi pikiran mengenai Camelia menggangguku setiap saat. Mengetahui betapa dekatnya kami malam ini, dengan cuaca yang begini dingin.. ahh.. Sial!! Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apakah dia sudah tertidur? Akankah dia tahu bila aku mengendap-ngendap masuk ke kamarnya? Tapi bagaimana bila dia berteriak? Dan seluruh penghuni rumah hingga tetangga di sebelah rumah mendengar? Lalu menangkap basah aku..sebagai penyelundup dalam kamar Camelia? Huh!! Aku bisa dihajar masa, bukan pemandangan yang menarik bila mereka menghajar wajahku sampai bonyok.


Dengan gelisah aku coba untuk tidur diatas ranjang, tapi sangat sulit. Sesekali aku keluar kamar untuk menghisap rokokku, untuk mengusir gairah yang tiba-tiba muncul, aku mengingat kembali kapan terakhir aku menyentuh wanita? Hm.. sudah hampir enam bulan lamanya aku tak menyentuh seorang wanitapun, nampaknya inilah alasan mengapa aku bisa seperti orang gila berada di dekat Camelia. Mungkin bila aku melampiskan gairah yang salah ini pada wanita lain, kemudian aku bisa meredam gairahku padanya, atau bahkan mungkin aku tak akan memiliki perasaan aneh ini lagi setiap saat berada di dekatnya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Di sudut rumah aku duduk di atas kursi goyang yang telah ada di rumah ini sejak sepuluh tahun lalu, kursi goyang yang rencananya ingin kubelikan untuk nenek, namun beliau telah pergi meninggalkan kami sebelum aku sanggup membelikannya sesuatu. Ahh.. Bagaimana caraku untuk membalas semua jasa-jasamu, Nek? Andai saat ini kau masih hidup.. Akan kuboyong dirimu ke kota dan memberikanmu kehidupan yang lebih baik dari apa yang telah kita jalani dulu.

Kehidupan yang kurang menguntungkan saat kanak-kanak hingga kami remaja memacu semangatku untuk memperbaiki taraf hidup kami menjadi lebih baik. Dengan segala prestasi yang kudapat, mencari pekerjaan bukanlah perkara sulit. Semua rumah sakit terkenal berlomba-lomba untuk menawarkan gaji tertinggi untukku, posisi terbaik, singkatnya uang bukanlah tujuan utamaku lagi.

Aku ingin membangun usahaku sendiri, sebuah rumah sakit bertaraf internasional, di akui dunia. Belajar lebih giat lagi untuk mendalami spesialisasiku, mendapat gelar Doktor, dan mungkin gelar Profesor suatu saat nanti, meskipun aku tidak tertarik untuk mengajar di universitas.

Bukankah namaku akan semakin panjang bila mendapatkan gelar profesor? Hah.. Coba seperti apakah namaku nanti bila kudapatkan gelar itu.. Hm.. Prof. DR. dr. William Andreas Renatha, SpJp. Sp.Pd. ahh.. aku rasa gelar-gelar itu terlalu berat bila harus kutekuni satu persatu. Kepalaku bisa botak habis dan tak akan ada yang mau menikahiku setelah usiaku yang ke empat puluh, seperti rencanaku sebelumnya.

Menikah di usia ku yang ke empat puluh, hm.. sembilan tahun lagi. Aku berharap sembilan tahun lagi hidupku sudah sukses, mapan dan tak perlu bersusah-susah seperti sekarang ini. Menghabiskan waktu hanya untuk membangun usahaku, mungkin setelah rumah sakit ini berhasil, aku akan membuka usaha lainnya, apotik mungkin? Bekerjasama dengan pabrik obat dan rekanan rumah sakit lain, aku rasa tak akan sulit untuk membuat beberapa apotik besar di kota ini dan kota-kota disekitarnya.

Aku juga bisa membuka beberapa POM bensin, keuntungan dari POM bensin sangat besar bila aku mampu mengurus manajemennya dengan baik, hm.. setelah itu mungkin rumah makan, hotel, swalayan, pusat oleh-oleh, aku rasa untuk yang terakhir ini bisa kukerjakan saat ini juga, mumpung pariwisata sedang dalam masa terbaiknya. Hm.. Aku akan berbicara dengan pak Eko setelah kembali dari sini, beberapa rencana itu bisa mulai kukerjakan awal tahun depan kurasa.

Lamunanku dipecahkan oleh suara derap langkak kaki seseorang dihalaman, sekilas aku menangkap sosok Camelia dalam keremangan malam. Camelia kah itu? Apa yang dia lakukan malam-malam begini di luar rumah? Ahh.. dia pergi ke kamar mandi? Hm.. Menarik..

Jiwa usilku kembali terusik demi melihat kesempatan untuk menggoda gadis ini, saat dia kembali dari kamar mandi, dia akan terkejut melihatku berdiri sedang menunggunya di depan pintu. Benar saja, bisa kurasakan dia terkejut dan sedikit ketakutan, mungkin dia berpikir akan bertemu dengan hantu diluar sini. Sudah pukul satu pagi lebih, meskipun tak satupun ada kulihat hantu bergentayangan di luar rumah, hanya sesosok bidadari yang kesasar keluar dari kamar mandi dengan wajah pucatnya.

Dia melangkah menghampiriku, aku rasa Camelia sudah mempersiapkan diri untuk konfrontasi denganku, terlihat dari ekspresi wajahnya yang kaku. Tak ada senyum disana, wajahnya sangar dan cemberut. Dia sungguh tak menyukai kehadiranku, yang membuatku semakin ingin membuatnya suka.

Dalam remang lampu rumah, bisa kulihat lekuk tubuh Camelia dalam balutan gaun tidurnya, astaga.. darahku berdesir seketika menyadari apa yang ada di dalam gaun tipis itu. Jantungku berdebar kencang, tenggorokanku tercekat, nafasku tertahan. Aku rasa gadis ini tak akan pernah tahu bagaimana pengaruhnya pada diriku, karena dengan polos dia mencoba mendorong tubuhku agar menyingkir dari depan pintu masuk rumah.

Sentuhan tangannya pada tubuhku hanya semakin menguatkan bara api gairah dalam dadaku, dia memintaku minggir dengan susah payah, mendorong lenganku namun dia tak berhasil. Aku bersikeras tak akan berpindah dari sini sebelum mendapatkan sesuatu darinya.

“Kenapa terburu-buru? Kita nikmati udara malam diluar” aku bahkan tak dapat mengenali suaraku lagi. Sial.. gairah sudah meracuni otakku dengan sangat.

“Tidak lucu, dan aku sudah mengantuk” jawabnya kesal. Kupicingkan mataku, mencoba memikirkan alasan mengapa dia harus bersamaku diluar sini. Karena tubuhnya yang tak berhenti mencoba untuk mendorongku, kutarik lengannya hingga tubuhnya terkunci antara jendela kaca dengan tubuhku, rasanya sangat memuaskan bisa menguasai tubuh mungil ini dalam penjara tubuhku.

Aku bisa mencium wangi tubuh gadis ini, wangi yang memabukkan penciumanku. Ahh.. Camelia.. kau.. benarkah kau hanya seorang gadis biasa? Mengapa kau mempengaruhiku sedemikian rupa hingga aku tak bisa membedakan lagi mana yang benar dan mana yang tak semestinya kulakukan?

“Kenapa sih kau begitu membenciku atau kakakku, Neng? Camelia..?” aku tak ingin kau membenciku Camelia.. Aku ingin kau menyukaiku.. Aku ingin kau menginginkanku, sebesar aku menginginkanmu saat ini.

“Kau sungguh tidak tahu? Bukankah sudah kukatakan berkali-kali. Karena kalian itu adalah perusak rumah tangga orang lain. Kalian bersekongkol untuk menipu ayahku dan ingin menguasai hartanya. Kalian licik, rendahan. Manusia-manusia hina menjijikan yang menggunakan kebaikan orang lain dan menipunya!!” akhirnya dia mengeluarkan seluruh isi hatinya, mengeluarkan kebencian yang dipendamnya sejak pertemuan pertama kami.

Jadi menurutnya aku dan Lili adalah orang-orang yang berusaha menjebak ayahnya? Oh, Tuhan.. Mengapa gadis ini memiliki pikiran negatif seperti ini? Apa saja yang telah dia alami sehingga tidak bisa melihat kebaikan dalam diri orang lain? Semoga dia berubah, rasa dendam hanya akan memperburuk hatinya, gadis cantik ini.. Aku tak ingin dia terjerumus dalam hidup yang salah.

“Sudah semua?” tanyaku dingin. Aku berusaha menjaga nada bicaraku meskipun sesungguhnya aku tak tahu apa yang kurasakan setelah mengetahui betapa dalam kebenciannya pada kami. Mungkin aku harus melupakan apa yang baru saja aku dengar, bukankah itu tidak benar? Aku ataupun kakakku tak pernah sekalipun melakukan apa yang dia tuduhkan pada kami. Aku.. yah.. aku rasa aku memiliki kekayaan yang lebih dari cukup untuk menghidupi kami tanpa harus mengemis pada orang lain, atau pada ayahnya.

“Kalau sudah, sekarang giliranku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menciummu” kataku sebelum memaksakan ciuman lagi pada bibirnya. Bukannya aku senang memaksa gadis ini, namun dia selalu melawan pada awalnya, kedua tangannya kupiting dibelakang tubuhnya, kakinya kujepit agar dia tak dapat melukaiku, gadis ini seringkih kuda, dia bisa menerjang dari arah yang tak kuantisipasi, bila tak awas maka aku akan menyesal.

Kucium bibirnya dengan rakus, malam ini.. ciuman ini akan kusimpan sampai kami pergi dari sini. Karena mungkin kami tak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama, aku harus ke Jakarta untuk membereskan masalah-masalah yang masih tertinggal. Aku memutuskan untuk memulai hidupku di kota itu, kota dimana aku membangun usahaku, kota dimana gadis ini tinggal, karena aku bertekad untuk merubahnya, aku bertekad untuk menjadikannya milikku, hanya milikku.

“Kau.. Bila kau berani berkata-kata buruk lagi tentang kakakku, maka.. kau akan menyesal, Camelia..” lalu kutinggalkan dia begitu saja di depan pintu, bila lebih lama lagi.. dia akan menyadari betapa tumbukan dalam celanaku telah menusuk dengan kejam. Untungnya dia adalah gadis polos.. dia tak tahu perbedaannya. Syukurlah..

Setelah sibuk seharian dengan persiapan pernikahan, akhirnya hari yang ditunggu tiba. Semua tamu undangan telah datang dan acara segera dimulai. Dengan bantuan kerabat dekat dan orang-orang yang telah aku kontak untuk mengurusi upacara ini, hingga sore urutan acara bisa dilaksanakan tanpa ada rintangan berarti. Seharian aku tak dapat mengawasi seseorang yang paling ingin kuawasi, kami hanya berpapasan sesekali saat aku masih sibuk mengurus persediaan makanan dan perlengkapan acara.

Terkadang ingin kutarik tubuhnya masuk ke dalam salah satu kamar dan menciuminya habis-habisan, gadis ini membuatku ketagihan dengan dirinya. Ahh.. memandangnya dari jauh saja membuat hatiku hampa, aku ingin berada di dekatnya, menggenggam tangannya seperti biasa, mencium bibirnya bila ada kesempatan.

Ahh... Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Huh.. Tak mungkin cinta datang secepat ini, kan? Lalu apa arti rasa posesif yang kumiliki ini? Mengapa aku begitu menginginkannya untuk diriku? Aku bahkan bisa membayangkan dirinya berada dalam rumahku, diriku sedang duduk santai di sofa, sementara dia, Camelia.. sedang menyusui anak kami. Ahh.. pikiranku semakin aneh dan tak karuan. Aku terlalu lama kesepian pastinya.

Saat pesta telah usai, kami membereskan segenap dekorasi dan sampah-sampah sehingga esok kami bisa pulang dengan meninggalkan rumah dalam keadaan bersih lagi. Hanya tinggal sehari kami bisa disini, aku bahkan belum menunjukkan daerah-daerah di dekat sini pada Camelia. Karena kesibukanku mengurus pernikahan kakakku, Camelia hanya menghabiskan waktunya dengan anak-anak tetangga. Dia akan bermain kelereng dengan mereka, kadang bermain lompat karet, ahh.. dia sangat senang bersama anak-anak. Mungkin dari sana lah aku mendapat imajinasi liar mengenai diriku dan dirinya dan seorang bayi.

Aku berdiri di depan pintu kamar Camelia, mengetuk pintunya dan masuk tanpa disuruh, aku ingin melihatnya, ingin merasakan bagaimana suasana kamar yang dia tiduri. Ahh.. bahkan wangi kamar ini dipenuhi oleh wangi tubuhnya, wangi yang begitu kukenal, wangi bunga-bungaan liar yang segar, cocok untuknya, gadis ini adalah gadis liar, dengan mulut lancang yang indah.

Camelia terlihat kurang senang dengan keberadaanku dalam kamarnya, ah.. aku tak perduli, aku hanya ingin melihatmu, seharian aku hanya melihatmu dari jauh, sekarang.. aku ingin lebih dari itu. Kau sudah seperti bahan bakar untukku Camelia... tahukah kau itu? Kau adalah bensin hidupku.

“Besok kau mau ikut ke air terjun? Hari terakhir disini tak ada salahnya bersenang-senang sedikit” aku ingin mengajaknya melihat pemandangan dimana aku dibesarkan, saat kanak-kanak, saat orang tuaku masih hidup, kami biasa mandi bersama disana, menghabiskan pagi hingga siang dibawah air terjun yang jatuh dari ketinggian lima ratus meter di atas bukit. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido


Dia ingin menolaknya, namun aku berhasil membujuknya dengan alasan yang paling tak mungkin ditolaknya. Aku memang licik dalam mencari alasan, aku ahlinya dalam berbohong.. hanya pada gadis ini kebohongan itu tak akan menyakitinya. Dia akan bersyukur karena bisa menghabiskan hari terakhirnya dalam lingkungan alami seperti di desaku ini.  


26 comments:

  1. hehehehe kasian liam , ketemu si neng yg msh polos tp guallllakkkkkk

    ReplyDelete
  2. oh kang mas liam ngibritnya ke jakarta?? Kasihan si eneng d tinggal, jdi d ambil ama si edo deh. Thank u mbak shin *lope*

    ReplyDelete
  3. Uwaaaah Liaaaam
    Mau cowok kaya Liaaammm
    Waaaa
    Makasih mb shiiin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata Neng "ambil gih, gak perlu cowok mesum gt" hauhauauhahu

      Delete
  4. Cuci otak liam pake deterjen biar ga mesum lagi he.he, Trims mb shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha.. ntr pinternya ilang jg donk sist? jd oon nanti ihihihii

      Delete
  5. Ampun liam otaknya ga jauh2 dr neng...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl gak jauh2 dr dirimu kan bahaya sist

      Delete
  6. Thanks mba Shin... Mau lagi dong chapter nya...

    ReplyDelete
  7. liam emang mesuum.


    makash mb shin

    ReplyDelete
  8. Makasih mba shin..ditunggu next chapternya :D

    ReplyDelete
  9. •⌣˚Ʈ♓ªƞƘ ♧ ƔoƱ˚⌣•‎​ ciin :*
    Hahaa tnyta ya liam diam2 km nakal jg, krn neng galak makanya liam terngiang2 mulu :D

    ReplyDelete
  10. Wahhh ditunggu mba shin liam nya.

    ReplyDelete
  11. wah..liam dah ngebet bangetttt...hihihihiiiiiii

    ReplyDelete
  12. liam oh liam....otak pinter mu ne brbanding lurus dgn ciuman aj Melulu...ckck

    ReplyDelete
  13. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  14. Lanjut lgi dong shin... Tmbah byk Ɣªήğ dposting tmbah pensarn sma Liam. Heheh.

    ReplyDelete
  15. si Liam akal bulusnya banyak banget, selalu cari kesempatan dalam kesempitan. dia yg mancing neng buat marah2 tapi dengan pedenya ngasih hukuman ciuman. kan yang harus dihukum itu dia, tapi pinter banget ngelesnya dan buat neng tak berkutik hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya hukuman buat si liam ya nyium neng ihhiihihihhi

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.