"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, March 21, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 6



Hari ini aku terbangun dengan semangat penuh, aku akan pergi ke sungai bersama anak-anak tetangga dan Camelia, anggaplah ini sebagai kencan pertama kami, walau dia akan menolak hal itu mentah-mentah. Hah.. pukul enam tepat kubangunkan dia dengan sebuah kecupan di pipi, dia tak terbangun juga.. ahh.. yah.. mungkin kurang keras? Haha lebih baik aku tidak bermain dengan keberuntunganku, aku tak ingin dia berteriak dan menamparku lagi.


Akhirnya dia terbangun juga setelah kugoyang-goyangkan kakinya, tanpa perlawanan dia mengikutiku berjalan dengan terhuyung-huyung. Dia masih terkantuk-kantuk saat kami tiba di sungai. Dengan sengaja kulempar tubuhnya ke dalam air yang mengalir, benar saja dia langsung berteriak kesal padaku. Melempari tubuhku dengan air dan kami semua basah kuyup. Anak-anak kecil itupun ikut bergabung, pagi yang cukup menyenangkan disini. Air sungai begitu segar, aku rasa tetap aman meski tanpa sengaja air ini terminum olehku, aku tak akan takut sakit perut karenanya. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Kuperhatikan Camelia begitu senang bisa menghabiskan waktu dengan anak-anak ini, dia bermain dengan riang seolah tak ada beban dalam hatinya. Ya, seharusnya seperti itu, nikmati masa mudamu, karena suatu saat nanti saat semua masalah hidup menerpamu, kau tak akan bisa bersenang-senang seperti ini lagi. Haahh.. semakin tua usiamu maka semakin besarlah tanggung jawabmu, bekerja bukan hanya untuk mencari penghasilan, atau bahkan mencari sesuatu untuk dikerjakan, tapi bekerja juga adalah belajar untuk bertanggung jawab.

Bila seseorang telah memutuskan untuk membuat suatu komitmen dalam hidupnya, baik itu pekerjaan atau hidup berumah tangga, maka dia harus mencurahkan segenap hatinya pada hal itu. Lalu berusaha bekerja dengan baik menjalankan tanggung jawabnya, maka niscaya semua pekerjaan akan selesai dengan  baik. Itulah yang selalu kulakukan dalam setiap pekerjaanku, bahkan kini.. aku rasa aku telah berkomitmen untuk membuat gadis ini menjadi milikku.

Apakah aku harus meminta izin dulu pada koh Franz? Aku tak tahu bila dia akan menerimaku atau tidak, koh Franz tahu mengenai masa laluku, dan dia tidak merasa perlu tahu lebih banyak lagi tentang diriku yang sebenarnya. Dulu memang aku tak perduli dengan pandangan kakak iparku ini terhadap hidupku, namun ketika semua telah berbeda, ketika satu-satunya cara agar aku bisa berhubungan dengan Camelia selain membuatnya jatuh cinta padaku adalah memohon restu dari kedua orang tuanya. Terutama dari ayahnya..

“Fiuhh.. Itu adalah pekerjaan yang sangat berat pastinya” keluhku lemah.

Camelia menghampiriku, apakah dia sudah mau kembali ke rumah? Hari memang sudah agak siang, mungkin sudah pukul sembilan pagi sekarang.

“Om Liam, tiupin donk ban pelampungku” Rudi anak tetanggaku memintaku meniupkan pelampungnya tepat ketika Camelia berdiri disampingku, dia terlihat tertarik dengan apa yang sedang kulakukan. Aku hanya bisa tersenyum menyambut kehadirannya, ya aku senang dia mengambil inisiatif untuk mendekatiku, meskipun aku tahu apapun yang akan dia katakan bukanlah apa yang ingin kudengar.

“Kacamatamu mana?” kudengar dia bertanya padaku. Aku masih sibuk dengan ban pelampung dimulutku.

“Pecah” sambil lalu kujawab pertanyaannya. Dia terlihat sedikit kaget, hah.. rasain..

“Rusak? Ka..karena waktu itu?” tanyanya lagi.

Ah.. aku sudah terlanjur sering berbohong padanya, aku rasa sedikit kebohongan lagi tak akan membuatku masuk neraka, kan?

Kutatap wajahnya, berusaha memberikan wajah paling serius yang pernah kumiliki, bila perlu aku akan memasang wajah sangar agar dia ketakutan setengah mati. Kuberikan ban pelampung pada si Rudi lalu dia pergi ke arah teman-temannya untuk bermain air lagi.

“Kau kira karena apa? Tentu saja karena waktu itu. Kau harus bertanggung jawab. Semula aku berencana memberitahumu nanti di atas pesawat, tapi mumpung sekarang kau bertanya, maka.. kau harus menggantinya” jawabku seperti rentenir penagih hutang.

Dia tak ingin membahasnya, sambil berlalu dari sini dia mencoba kabur dariku. Eit.. tunggu dulu, mau kemana cantik? Tak akan kubiarkan kau pergi begitu saja setelah menghampiri sarang harimau, harimau ini ingin memberikan sebuah hadiah untukmu.

“Jangan coba-coba menciumku lagi” katanya galak. Aku pun tertawa terbahak-bahak, aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Sebenarnya aku belum berniat untuk menciumnya sekarang, tidak saat masih ada anak-anak ini disini..

Oh, ya sudah.. Kalau begitu rasanya ini waktu yang tepat untuk mengirim anak-anak ini pulang kerumah mereka sebelum melancarkan keinginanku.

“Tidak, aku tidak akan menciummu. Tidak disaat anak-anak ini masih disini” senyum licik kusunggingkan di bibir, agar dia mengerti bahwa aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku.

“Hei semuanya, sudah siang. Pulang duluan sana, nanti orang tua kalian marah” anak-anak itu langsung berhambur dengan riang saat kuperintahkan untuk pulang ke rumah mereka. Kini kami hanya berduaan, dan debar jantungku mulai mengencang menyadari tempat ini hanya milik kami berdua.

“Dan.. kini kita hanya berdua, maka aku akan menciummu” namun reaksinya sungguh membuatku geli, dia menutupi bibirnya dengan tangan, ah.. gerakan yang salah cantik.. tidakkah kau tahu lehermu begitu terbuka dan dengan mudah untuk kucium?

Ahh.. Camelia.. mengapa kau begitu rapuh saat berada dalam pelukanku? Aku tahu kau menginginkanku juga, namun tak kusangka akan semudah ini untuk membuatmu menyerah dalam pelukanku. Katakanlah aku laki-laki berengsek, dengan licik kubuat kau seperti ini. Aku berharap kau tak semudah ini jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain, kau hanya boleh seperti ini saat bersamaku saja.

Kuciumi leher Camelia dengan lembut, meresapi segala rasa tubuh gadis ini, tak lama tangannya telah jatuh pasrah disamping tubuhnya, bibirku kini menguasai bibir merah itu, bibir hangat yang telah terbuka untukku. Kureguk bibir manis yang telah kurindukan, mencium dengan mesra bibir itu, ahh.. rasanya seperti ciuman cinta pertama, begitu meledak-ledak perasaan dalam hatiku, jantung kami telah berpacu bagai pacuan kuda, bisa kulihat mata Camelia tertunduk sayu melihatku, pipinya merona merah tak dapat berkata-kata.

Gadis ini.. dia pasrah padaku. Oh, Tuhan.. bila kami tak berada di ruangan terbuka ini.. aku tak tahu apa saja yang bisa kulakukan terhadapnya. Semoga kami tak pernah berada dalam keadaan yang kuinginkan itu, karena bajingan dalam tubuhku tak akan membiarkan gadis ini berlalu begitu saja dari cengkeramanku. Ahh..

Dengan senyum miris kugenggam tangan Camelia dan menggandeng tangannya, kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Biarlah momen ini menjadi milik kami berdua, momen dimana hatiku telah tertaut pada gadis ini. Biarlah kubereskan semua masalahku sebelum mempersiapkan gadis ini untuk masuk ke dalam hidupku, banyak yang harus kubereskan.. banyak yang harus kulakukan sebelum bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Biarlah kali ini akan kulihat kemana cinta membawaku. Mungkin aku sudah terlalu lama hidup tanpa cinta dan aku bosan karenanya.

~~~~~

Sekembalinya dari desa, aku langsung bergegas menyiapkan kembali barang-barang yang akan kubawa ke Jakarta, cukup lama aku harus berada disana, dua minggu, entah waktu itu akan cukup untuk membereskan semuanya. Masih ada beberapa barang yang harus ku ambil dari rumahku di Jakarta, memerintahkan orang untuk mengirimnya kesini dan menjual rumah itu. Ahh.. haruskah rumah itu kujual? Bagaimana bila suatu hari aku ingin kembali ke sana?

Tapi bila tak kujual.. wanita-wanita itu akan selalu kembali kesana, bila suatu saat nanti aku telah menikah.. bagaimana bila mereka datang dan mengganggu kehidupan rumah tanggaku? Aku tak akan menginginkan hal itu menjadi masalah di masa depan, ahh.. memang harus kujual saja kalau begini.

Lalu mobil.. mengambil surat pindah domisili, mengurus surat-surat lain.. Ahh.. semoga dua minggu cukup. Belum lagi bertemu dengan wanita-wanita itu.. Fiuh.. aku sampai lupa berapa wanita yang harus kutemui untuk membereskan masa laluku. Dua? Tiga? Atau lima? Lidya, Arnetta, Corry, er.. Cezka dan satu lagi si wanita liar yang akan sangat susah untuk menerimanya.. Audrey..

Itulah nama-nama wanita yang memiliki hubungan lebih dari sekedar teman denganku, wanita-wanita ini datang silih berganti seperti menggunakan pakaian bagiku. Terkadang aku menggunakan kemeja putih polos, atau kemeja garis, kemudian kemeja kotak-kotak, warna biru langit atau bahkan baju kaos sekalipun. Mereka mewarnai hidupku di Jakarta selama lima belas tahun aku disana, sejak Clara mengkhianatiku dan meninggalkanku. Merekalah tempat aku membuang segala frustasi dan sakit hatiku pada wanita. Ahh.. wanita bisa sangat menghancurkan bila mereka ingin.

Clara, aku mengenal wanita itu ketika usiaku enam belas tahun, ketika aku masih sibuk berkutat dengan study-ku di kampus, hampir sepanjang hari kuhabiskan dengan belajar. Clara, dia lebih tua dua tahun dariku, saat itu dia baru saja lulus dari SMU, anak orang kaya. Awalnya kami bertemu di sebuah restoran cepat saji, aku sedang berkumpul dengan teman-temanku, teman-teman kuliah yang usianya delapan hingga sepuluh tahun lebih tua dariku.

Clara duduk di samping kursi kami, berbicara dengan teman-temannya, berbisik-bisik entah apa yang mereka obrolkan. Dari dulu aku adalah orang yang selalu melakukan apa yang ingin kulakukan, meski bukan orang kaya, tak membuatku susah bergaul dengan siapa saja. Awalnya Clara memang tak memandangku, tapi setelah satu bulan yang diawali iseng, akhirnya kami berpacaran. Aku memang tak berencana memiliki pacar dengan usia lebih tua dariku, tapi dialah cinta pertamaku, wanita pertamaku yang akan selalu kuingat sampai kapanpun.

Clara selalu mendukung semua kegiatan kampusku, berkumpul bersama teman-temanku, namun tak sekalipun aku pernah berkumpul dengan teman-temannya. Saat itu dia sedang kuliah semester satu fakultas ekonomi di salah satu universitas swasta bonafid di ibukota, harus kuakui, Clara bukanlah mahasiswa yang brillian, dia biasa saja, err.. mungkin dia lebih mudah menghafal nama-nama pemain film bule daripada deskripsi istilah-istilah ekonomi yang dipelajarinya di kampus.

Enam bulan kami berpacaran, kami sudah melakukan lebih dari sekedar berciuman, harus kuakui, aku memang bukan pemuda lugu yang pura-pura tak mengetahui apa-apa mengenai organ reproduksi manusia, justru itulah bagian dalam pelajaran kedokteran yang paling serius kupelajari saat di bangku kuliah. Aku meneliti bagaimana cara sperma masuk ke dalam ovum dan membuahi sel telur hingga terjadilah fetus. Aku tahu kapan saat yang tepat untuk berhubungan intim tanpa harus khawatir membuat pasanganku hamil, aku tahu cara pencegahan agar pasanganku tidak hamil, aku bahkan tahu dimana posisi G-spot!! Seserius itulah aku mempelajarinya!

Empat tahun lamanya kami memiliki hubungan yang kukira mesra dan baik, tak kusangka Clara akan mengkhianatiku dibelakang punggungku. Saat itu adalah ketika aku sedang sibuk menjadi dokter koas di rumah sakit, hampir setiap hari lembur dan kami jarang bertemu. Tapi aku tak tahu sejak kapan Clara bermain api dibelakangku, jujur memang aku tak punya banyak waktu untuknya. Itulah kendalaku, waktu.. Waktu adalah benda yang mahal untukku. Bila ingin masa depanku lebih baik aku harus mengorbankan kehidupanku, namun tak kusangka Clara akan berbuat seperti itu, dan sialnya dia melakukannya dengan laki-laki yang dia kenalkan sebagai sepupunya padaku. 

Aku tak pernah curiga saat memergoki mereka sedang berduaan di cafe bila aku dan teman-temanku sedang makan siang sepulang dari rumah sakit, aku bahkan tak curiga saat handphonenya berisi sms sayang dari laki-laki itu. Ahh.. mungkin aku terlalu mempercayainya, aku memang terlalu mudah mempercayai orang lain.

Terakhir kudengar dia telah menikah dengan laki-laki lain, seorang dokter muda yang berusia sebaya dengannya, entah sudah berapa kali dia menikah dan bercerai lagi. Kudengar juga dari teman-temanku Clara masih sering menanyakanku sejak kami berpisah. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Aku memang tidak tinggal di tempat kos yang sama seperti saat kami masih berpacaran, setelah mendapat pekerjaan di rumah sakit, aku mendapatkan sebuah mess dokter yang cukup mewah dan strategis, dekat dengan rumah sakit. Aku juga hampir bisa melupakannya dengan melampiaskan semua kekesalan dan sakit hatiku pada wanita-wanita yang datang atau dikenalkan padaku oleh teman-temanku.


Tak satupun dari mereka kutawarkan hubungan permanen, kukatakan langsung maksudku, banyak yang kabur dan menolak namun tak sedikit yang tinggal dan bersedia menjadi partner in sex-ku. Hanya itulah arti wanita-wanita itu bagiku, teman penghangat ranjang dan pelampiasan frustasiku yang selalu menumpuk. 


24 comments:

  1. Yah liam ganti cewek kayak ganti pakaian aja gara 2 patah hati, trims mb Shin;-)

    ReplyDelete
  2. Setelah melanglang buana, membelah cakrawala dan melintasi khatulistiwa, akhirnya cinta Liam berlabuh juga sama Neng.
    *berasa syahroni*

    Thanks Mba Shin :*

    ReplyDelete
  3. Akhirya bisa baca juga, makasi mba shin

    ReplyDelete
  4. Hadeuh... liam sesuatu bgt sih, ditunggu lg ya mba shin liam nya makasih.... gak pernah bosen deh bacanya

    ReplyDelete
  5. ternyata liam pernah diselingkuhi jg ya
    ukh g nyangka ahhahahaa
    tp karakter liam keren banget gomawo kak

    ReplyDelete
  6. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin
    Cm jd pajangan aj tu cwe2,ckckckck

    ReplyDelete
  7. si piktor mulai beraksi...
    wkwkwkkwk
    thx mbak shin...

    ReplyDelete
  8. mba shin.....mnta lgi dnk.liam oh liam....

    ReplyDelete
  9. mba shin.....mnta lgi dnk.liam oh liam....

    ReplyDelete
  10. Liam... Liam... Ckckckck bad boy ?! ;)
    Tq M Shin ;*

    ReplyDelete
  11. ahhhhh william dikau ini terlalu yaaa. haha
    mbak shin nambah yah si cong nya, yah yah yahh. ehehehehehe

    thx mbak shin

    ReplyDelete
  12. Ya ampun mbak shinnn... Liam itu bnrnya cowo idaman amat ya... Setia gt ! Uwahhh *kyaaa kyaaaa*

    ReplyDelete
  13. Hahaha setelah ber-playboy ria, Liam takluk nya sam si Neng
    Hihihi
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  14. Wow!!! 16 thn udh hilang keperjakaanny!x_x
    Pntesan deh si neng lsg lmes pas liam godain..--
    Bad boy..=D
    Tpi stia bgt..<3<3

    ReplyDelete
  15. ga sabar sis nunggu kelanjutannya..

    ReplyDelete
  16. thanks ya dear...nice story........

    ReplyDelete
  17. oh clara toh biang keladi yang merusak liam jadi playboy cap buaya. ck ck ck

    pantesan akhirnya liam ahli banget menggoda cewek sudah belajar sejak kecil gitu. asem manis segala jenis percintaan udah dikuasi gitu, nga heran banyak yg bertekuk lutut.

    tp liam keren udah jd koas umur 20th,jenius bgt ya.nga heran diusia 30an udah sukses.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.